29 Januari 2017

Mitologi Batak: Langit 7 Lapis dan Para Penghuninya


Sejak zaman kuno, leluhur Batak memercayai adanya kekuasaan besar di luar kemampuan nalar manusia yang menciptakan bumi dan segala isinya. Mereka menyebutnya Mulajadi Nabolon atau Debata Mulajadi atau Ompu Raja Mula-mula atau Ompu Raja Mulajadi. Dia-lah pencipta segala yang ada termasuk manusia dan mahluk-mahluk lainnya.

Ilustrasi.
Keberadaan Yang Maha Kuasa ini dipercaya secara turun temurun dan diwariskan para leluhur dalam bentuk silsilah atau mitologi. Dalam mitologi Batak itu terkisah proses penciptaan alam raya. Konon, Mulajadi Nabolon pertama-pertama menciptakan langit beserta isinya, termasuk bulan dan bintang-bintang. Setelah itu, barulah diciptakan tanah (bumi) dan manusia.

Tapi kali ini, kita hanya mengetengahkan soal penciptaan langit. Menurut mitologi itu, langit diciptakan Mulajadi Nabolon berdasarkan titah atau perkataan. Langit itu terdiri dari 7 lapis, diciptakan sebagai tempat bagi orang yang sudah meninggal, sehingga masing-masing lapis ada penjaga dan penghuninya. Berikut dikisahkan:

1. Langit Pertama

Ini tempat mahluk berperilaku buruk. Sebelum manusia diciptakan, Mulajadi Nabolon sudah menyiapkan tempat ini sebagai tempat bagi orang-orang jahat, yang perbuatannya tidak sesuai dengan kebenaran. Di Langit Pertama ini, Mulajadi Nabolon akan menghukum roh mereka dengan cara membalikkan kenyataan fisik: kaki ke atas, kepala ke bawah. Begitulah posisinya mereka menjalani hidupnya di langit ini hingga selama-lamanya.

2. Langit Kedua

Ini adalah tempat para maling dan perampok. Setiap orang yang pernah mencuri dalam kehidupannya, di Langit Kedua ini akan dihukum dengan cara berdiri sambil memikul barang-barang curiannya, dari awal sampai akhir. Itulah hukuman bagi mereka.

3. Langit Ketiga

Ini adalah tempat bagi orang-orang yang selama hidupnya suka menyebarkan berita bohong. Setelah meninggal, Langit Ketiga menjadi tempat bagi roh mereka. Di sini, Mulajadi Nabolon akan menarik lidah mereka hingga sepanjang 100 depa, dan mereka akan menderita menyeret-nyeret lidah sendiri ketika berjalan dan beraktivitas.

4. Langit Keempat

Ini adalah tempat orang-orang yang bunuh diri. Di tempat ini, roh yang bunuh diri tetap ditawan dengan rantai besi, sehingga tidak bisa kemana-mana. Selain itu, Langit Keempat juga merupakan tempat bagi mereka yang suka ribut karena utang piutang. Roh mereka akan terus ribut. Si pemberi utang akan terus menagih haknya kepada si pengutang. Begitupun si pengutang yang tak melunasi utangnya, akan terus diburu-buru orang yang memberikannya utangan. Sehingga Langit Keempat ini selalu berisik dan ricuh.

5. Langit Kelima

Ini adalah tempat bagi orang-orang baik yang selama hidupnya gemar membantu orang susah dan orang miskin. Di Langit Kelima ini mereka akan hidup bahagia dan mendapatkan pemberian berlimpah-limpah dari Mulajadi Nabolon sebagai imbalan dari kebaikannya semasa hidup.

6. Langit Keenam

Di tempat inilah Mulajadi Nabolon menciptakan takdir manusia. Jika takdirnya kelihatan baik di langit ini, maka baiklah takdir manusia dalam kehidupannya. Jadi sebelum manusia lahir ke bumi (banua tonga), takdirnya telah diciptakan terlebih dahulu. Dan itulah yang akan diterima manusia dalam kehidupannya.

7 Langit Ketujuh

Ini adalah langit terakhir, tempat Mulajadi Nabolon bertahta, sehingga disebut juga langit ni langitan (langit di atas segala langit). Di langit ini jugalah Mulajadi Nabolon menempatkan manusia atau raja-raja berhati mulia, yang dalam hidupnya selalu melakukan kebaikan dan kemaslahatan orang banyak. Demikianlah. Semoga bermanfaat. (Panda MT Siallagan)

* Disadur dari buku Pustaha Batak, Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak, karangan WM Hutagalung, Penerbit Tulus Jaya, 1991
 
Bagikan:

11 Januari 2017

Marjalekkat dan Marsitekka, Permainan Tradisi yang Hilang


Teknologi menghadirkan banyak hal, tapi sekaligus memberangus banyak hal. Kini manusia lintas generasi sangat akrab dengan benda-benda ajaib yang lahir dari rahim teknologi. Ragam alat komunikasi modern seperti smartphone dan gadget, kini sudah jadi mainan semua kelompok usia. Bahkan memenjara.
Ilustrasi marjalengkat.
Saya terkenang permainan masa kanak-kanak yang menggembirakan: marjalengkat (dilafalkan: marjalekkat) dan marsitengka (dilafalkan: marsitekka). Bagi generasi yang lahir tahun 70-an hingga 80-an, dua jenis permainan tradisional ini mungkin masih familiar dan tersimpan sebagai kenangan yang indah. Alangkah menakjubkan kebersamaan yang tercipta karenanya.

Anak-anak generasi kini mungkin tak akan pernah lagi menyaksikan permainan-permainan tradisonal semacam itu, apalagi melakoninya. Mereka sudah punya alat permainan yang canggih. Ragam aplikasi game (permainan) kini tersedia dan dapat dengan mudah dinikmati. Tapi ini menjadi kesedihan yang lain: kemajuan zaman itu telah menyebabkan mereka jadi manusia yang asosial, egois, serba praktis dan hampir-hampir tak memiliki kreativitas.

Tak akan kita saksikan lagi anak-anak di sekitar kita bermain dengan alat tradisional. Bagi sebagian orang tua, itu hanya kenangan. Nilai-nilai sosial dari interaksi anak-anak zaman dulu juga pada akhirnya tidak akan ditemukan lagi saat ini, seperti halnya keriangan dan solidaritas dalam permainan marjalengkat dan marsitekka.

Saya sengaja memilih marjelengkat dan marsitengka untuk mewakili gender. Sebab marjalengkat umumnya permainan untuk anak laki-laki, meski tak jarang ada juga anak perempuan yang mahir memainkannya. Sedangkan marsitengka umumnya adalah permainan untuk anak-anak perempuan.

Marjalengkat adalah permainan dengan dua tongkat yang masing-masing diberi bilah sebagai alas kaki. Permainan ini sering dilakukan sebagai ajang adu ketangkasan untuk meningkatkan kemampuan berlari. Di tanah Batak, tongkat tersebut umumnya terbuat dari batang bambu.

Ketika memainkan permainan ini, si anak naik dan menginjakkan kaki di bilah penahan, sementara tangan berpegangan pada ujung tongkat bagian atas. Kunci keberhasilan dalam permainan ini adalah keseimbangan tubuh. Berat tubuh akan dipikul bilah dan dua tongkat. Orang yang sudah mahir biasanya bisa berlari, bahkan melewati sungai atau berjalan di medan-medan yang sulit.

Sementara marsitengka merupakan permainan yang biasanya dilakukan di sekolah atau di halaman rumah. Permainan ini biasanya dilakukan dua orang. Caranya adalah membuat beberapa kotak persegi empat yang digariskan di tanah dengan menggunakan kayu atau alat gores yang memungkinkan. Untuk lokasi permainan berlantai semen, kotak-kotak bisa digambar dengan kapur.

Dalam permainan ini, ada semcama alat bantu, biasanya batu berbentuk pipih atau uang logam. Batu pipih itu dilemparkan ke salah satu kotak, lalu melompat-lompat di dalam kotak untuk mengambil alat bantu tadi (batu pipih atau uang logam). Selama melompat, kaki tidak boleh mengenai tepi garis kotak tersebut.
Marsitengka (Foto/INT)
Selain marsitengka dan marjalengkat, sebenarnya masih banyak jenis permainan tradisional anak-anak, antara lain Pat ni Gajah. Permainan ini memakai potongan tempurung kelapa yang sudah kering dengan bantuan tali yang diikatkan ke lubang tempurung kelapa serta saling berhubungan. Permainan ini memerlukan kekuatan tenaga yang kuat karena harus berlari di atas kedua tempurung yang diikatkan tadi.

Lalu ada juga marultop  (tembak dari bambu). Permainan ini menggunakan alat yang terbuat dari bambu dan pelurunya terbuat dari biji atau buah pohon atau dari pilinan kertas yang dibasahi. Jenis-jenis permainan lain yang tanpa alat juga masih sangat banyak seperti margala, marsappele-sappele, dll. (Panda MT Siallagan/berbagaisumber/int)
Bagikan: