31 Juli 2016

Tips Merawat Kecantikan Secara Alami

Tampil cantik dengan kulit yang sehat pastilah menjadi impian semua orang, terutama kaum perempuan dan remaja putri. Secara sosial, tampil cantik juga menjadi tuntutan dalam berbagai aktivitas. Pergi ke sekolah harus cantik. Pergi ke kampus harus cantik. Apalagi ke tempat kerja, penampilan menarik menjadi persyaratan mutlak, terutama bidang pekerjaan yang mengharuskan berinteraksi dengan banyak orang.


Untuk urusan kecantikan ini, kita kadang merinding karena biayanya sangat mahal. Bayangkan, misalnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan seseorang jika harus mengurus kecantikan ke salon. Padahal, jika sedikit telaten dan disiplin, biaya untuk tampil cantik sangat murah. Cobalah lakukan beberapa tips di bawah ini agar Anda selalu tampil cantik.

1. Terapi Air Putih

Para ahli kesehatan menyatakan bahwa minum air putih sedikitnya 8 gelas sehari akan membantu Anda memperoleh jasmani yang sehat. Itu sebenarnya bukan hanya pendapat ahli. Para leluhur kita sejak zaman dulu juga percaya bahwa air sangat mujarab untuk kelangsungan hidup yang sehat. Mereka bahkan tidak mengenal air putih yang dimasak atau dijerang. Banyak suku-suku di masa lalu bersengaja mencari mata air murni yang mengalir muncul dari kedalaman tanah atau muncrat  batu-batu pegunungan, sehingga airnya sangat higenis bisa langsung diminum tanpa terlebih dahulu dimasak.

Namun karena berbagai faktor yang disebabkan modernisasi, air putih kini mutlak dimasak. Intinya, minumlah air putih sebanyak-banyaknya setiap hari. Coba terapkan: sebelum tidur minum air putih segelas. Saat bangun juga langsung minum air putih segelas. Lakukan ini secara konsisten dan berkesinambungan, maka kulit Anda akan tampak segar dan bercahaya.

2. Terapi Advokad

Mungkin Anda merasa bahwa kulit wajah Anda kering dan kesat ketika disentuh. Atau terkadang muncul lapisan-lapisan tipis seolah-olah terkelupas. Coba ambil buah advokad. Kupas dan ambil daging buahnya, taruh ke dalam mangkuk atau gelas yang bersih. Lumatkan daging buah advokad itu sampai halus. Jangan dicampur dengan air. Setelah itu, oleskan secara merata ke wajah Anda. Biarkan beberapa lama sampai kering, lalu bilas dengan air bersih. Lakukan setiap hari, mudah-mudahan wajah Anda tidak lagi kering.

3. Pelangsing Badan

Jika Anda merasa tubuh Anda kurang ideal karena kegemukan sehingga mengganggu penampilan, ambil buah atau rimpang kunci pepet secukupnya. Dengan komposisi 100 gram untuk 10 gelas air, rebus kira-kira 20 menit. Agar zat yang terkandung dalam kunci pepet larut dengan air rebusan, ada baiknya rimpangnya terlebih dahulu diiris-iris atau dipecah setengah lumat. Setelah air rebusan dingin, minum tiga kali sehari masing-masing satu gelas.

4. Jagung manis

Agar wajah terhindar dari plek-plek hitam atau bercak-bercak yang tidak diinginkan, buat ramuan alami dengan jagung manis yang masih muda. Caranya sangat gampang. Parut jagung tersebut, lalu peras untuk mengambil airnya. Saring seperlunya. Lalu oleskan ke seluruh wajahnya Anda. Lakukan setiap hari menjelang tidur. ***
Bagikan:

Kisah Adam Malik Kecil, Jualan Kue Demi Film Koboi

Masa kolonial tahun 1926, Kota Pematangsiantar sudah tergolong maju. Jalan-jalan protokol sudah diaspal. Listrik dan air ledeng sudah tersedia di rumah orang kaya dan pusat-pusat pertokoan. Truk sudah mulai banyak menggantikan kereta lembu mengangkut teh. Dan, sudah ada bioskop.


Suatu hari di tahun itu, bioskop di tengah kota sedang memutar film koboi berjudul Tom Mix. Setelah saya telusuri, Tom Mix ternyata Mega Bintang. Nama lengkapnya Thomas Edwin Mix, lahir 6 Januari 1880 dan meninggal 12 Oktober 1940. Sepanjang hidupnya, aktor film Amerika membintangi 291 film antara 1909 dan 1935. Dia adalah megabintang Hollywood peletak dasar genre film koboi.

Yusuf Malik tergoda dan sangat berhasrat menonton film itu. Ia kemudian mengajak adiknya, Adam Malik, untuk menonton film itu. Tapi darimana uang beli karcis? Yusuf sengaja memanas-manasi Adam yang memang dikenal cerdik dan selalu punya akal.

Perbincangan tentang hasrat menonton film koboi itu berlangsung ketika mereka dan rekan-rekan berjalan kaki pulang dari sekolah di Holland Indische School (HIS). Sesampai di rumah, Yusuf masih menggoda Adam dan memberi isyarat agar mencuri uang di toko. Maka, sehabis makan siang, keduanya berusaha masuk toko, tapi ternyata ayahnya sedang sibuk di situ dan melihat kedatangan mereka. Dan, keduanya segera hambur dan lari menjauhi toko. Mereka pergi mandi-mandi ke Sungai Bah Bolon dan bertemu teman-teman sebaya.

Di Sungai Bah Bolon itu, salah seorang teman mereka tidak ikut mandi-mandi. Ketika teman mereka bertanya tentang Parto, Yusuf  menjelaskan bahwa Parto sedang sakit. Yusuf tahu karena Parto juga anak buah ibunya, yang setiap hari menjajakan kue-kue buatan ibunya. Pikiran Adam langsung bekerja. Ia pulang dan mengambil kue-kue buatan ibunya itu, lalu menjajakannya di jalan-jalan dan lapangan sepak bola. Jadilah Adam penjaja kue dadakan. Ketika ada orang bertanya kenapa ia menjajakan kue, Adam menjawab karena Parto sedang sakit.

Setelah dagangan itu habis separoh, Adam memghitung uangnya. Sudah cukup beli karcis untuk 4 orang. Untuk dia dan abangnya, dua lagi untuk teman mereka bernama Matun dan Usman. Dan terwujudlah mimpi mereka menonton Tom Mix dengan kuda putihnya yang gagah dan lincah. Meski untuk itu Adam menyerahkan dirinya dihukum ayah: disebat dengan sapu lidi.

Potongan kisah itu saya baca di buku Si Bung dari Siantar, sebuah novel anak-anal karangan Syahwil. Syahwil menyusun novel ini berdasarkan hasil serangkaian wawancara dan rekaman yang dilakukan Upi Tuti Sundari Azmi dengan Adam Malik. Novel yang dibuat atas persetujuan Adam Malik itu diterbitkan Fa. Aries Lima, Jakarta (1978).

Sebagaimana halnya novel anak-anak, buku ini diselarsakan dengan logika anak-anak, sehingga tidak berjarak dan bisa dinikmati. Maka, dalam buku ini kita bisa 'menonton' Adam Malik kecil dengan karakternya yang khas: nakal dan gemar main-main. Dan dari perilaku itu, kecerdasan seorang anak sudah terlihat sejak dini, sebagaimana tergambar dalam diri Adam memecahkan masalah.

Pada suatu hari yang lain, Yusuf mengajak Adam lomba lari dari suatu tempat ke gardu kereta api. Taruhannya adalah kertas rokok, mungkin semacam kartu mainan anak-anak sekarang. Kartu itu digunakan sebagai alat bermain dengan anak-anak lain. Kertas rokok milik Yusuf waktu itu memang sedang kosong, dan ia tahu punya adiknya masih banyak. Dan ia tahu adiknya tak mungkin mengalahkannya. Tapi pikiran Adam langsung bekerja. Ia setujui tawaran abangnya. Siapa menang akan mendapatkan 5 kertas rokok.

Hiyaakk! Aba-aba disuarakan Adam. Mereka lari. Yusuf di depan. Saat berada di tikungan, Adam berbelok, mengambil jalan pintas. Sebelumnya ia sudah membayangkan ada jalan pintas yang lebih dekat menuju gardu meski medannya agak sulit. Saat berlari itu, Yusuf malah sesekali menoleh ke belakang dan mengurangi laju lari sembari menunggu adiknya. Dan ketika gardu sudah dekat, Yusuf terkejut sudah melihat Adam sudah berada di gardu, bergabung bersama anak-anak lain. Lokasi gardu itu memang lazim digunakan anak-anak sebagai tempat bermain.

Buku ini juga mengisahkan bahwa anak-anak masa itu suka melakukan permainan lomba lari di atas rel kereta api. siapa paling lama bertahan dan tidak terpeleset keluar rel, dialah pemenangnya. Suatu kali, Adam berjanji dengan Parto bertemu di rel. Tapi bukan untuk lomba, melainkan memberikan hadiah kepada Parto.

Lama sekali Adam memunggu Parto di rel itu, tapi tak kunjung datang. Setelah ia bosan dan mulai jengkel, tiba-tiba dari arah semak-semak sebutir batu kerikil dilemparkan kepadanya. Dan entah kenapa, ia langsung menduga bahwa itu adalah ulah Parto yang sengaja mempermainkannya. Dengan otaknya yang cerdik, dia langsung balas dendam. Katanya: "Wah, ada setan di siang bolong. Tapi aku tak takut setan. Kalau setan melemparku dengan batu kecil, aku akan membalasnya dengan batu besar. Pasti kena. Aku jago permainan gundu, sekarang bidikanku akan tepat mengenai kepala setan."

Lalu ia membungkuk mengambil batu besar untuk dilempar. Dan benar saja, saat itu juga Parto muncul dari arah semak-semak dan berkata, "Setannya menyerah. Jangan dilempar."

Tapi Adam pura-pura tak peduli. Ia malah berkata, "Mana ada setan yang mengaku. Akan kulemparkan batu ini, biar tahu rasa dia..."

"Aku bukan setan, Adam. Aku Parto."

Lalu Adam tertawa-tawa. Dua sahabat itu kemudian berpelukan. Ternyata, Parto sudah melihat Adam dari jauh, tapi agak ragu karena tubuhnya sangat gemuk. Dan di sinilah drama mengharukan itu terjadi. Adam kemudian membuka bajunya. Tapi setelah dibuka, masih ada satu baju lagi di dalam. Ia mamakai baju rangkap. Dan itulah yang menyebabkan ia kelihatan gemuk.

"Kenapa? Apakah kau sakit?" tanya Parto.

"Tidak, baju ini hadiah untukmu. Karena kau sudah pandai menulis dan membaca," ujar Adam.

Singkat kisah, Adam memberikan hadiah baju itu kepada Parto karena Parto sudah pandai menulis. Parto memang anak miskin, ayahnya hanya kuli kontrak, sehingga tidak mampu memgirimnya ke sekolah. Dan Adamlah yang mengajarinya menulis. Adam pula yang memberinya 5 buah buku tulis untuk Parto selama belajar.

Sampai di sini, saya berhenti berhenti membaca novel ini. Saya nikmati sejenak rasa haru. Dan demikianlah perlahan-lahan saya memahami bahwa sejak kecil, Adam Malik memang sudah jadi tokoh yang patut diteladani. Dan kita tahu, kelak ia jadi wartawan handal asal Siantar dan mendirikan kantor berita Antara, dan terakhir menjadi Wakil Presiden RI. Baiklah, horas buat rakyat Siantar. ***
Bagikan:

Obat Tradisional Menyembuhkan Borok Bernanah


Borok bernanah sering terjadi pada anak-anak. Itu karena anak-anak susah dikontrol dan tidak mengerti bahaya. Akibat lasak, misalnya, anak-anak bisa cedera. Lalu diobati. Belum lagi lukanya sembuh, kadang terluka lagi. Akhirnya terinfeksi dan bernanah.

Daun Sirih.
Sering juga terjadi, luka anak sudah hampir sembuh, tapi dalam proses menuju kesembuhan itu seringkali ditandai rasa gatal. Tanpa sadar si anak menggaruk, baik ketika jaga ataupun saat tidur. Tak jarang luka itu kembali berdarah. Bukannya sembuh, tapi malah bernanah.

Yang paling mengerikan, ketika anak terserang cacar air. Akibat rasa gatal, ia menggaruk-garuk bekas cacar itu tanpa sadar saat tidur dan akhirnya berdarah. Bekas-bekas cacar itu bisa bernanah. Jika sudah begini, pusing mencari obatnya.

Berdasarkan anjuran orang-orang tua, berbagai tips pengobatan dapat dilakukan tapi sembuhnya sangat lambat. Akhirnya, ditemukan obat tradisional mujarab. Berikut resep dan penggunaannya.

1. Kunyit

Ambil kira-kira 200 gram kunyit. Sebaiknya pilih kunyit yang rimpangnya berukuran besar agar mudah diparut. Cuci bersih terlebih dahulu. Lalu parut. Peras lumatan kunyit tersebut. Ambil airnya. Simpan di dalam botol kecil atau wadah yang bisa ditutup. Oleskanlah air perasan kunyit itu ke seluruh borok yang bernanah. Lakukan sekali dua jam secara rutin.

Untuk mempermudah pengolesan, Anda bisa ambil bulu ayam sehelai. Pakailah bulu ayam itu sebagai alat untuk mengoles. Hal ini bertujuan agar praktis dan terhindar dari bakteri atau virus yang mungkin melekat pada tangan. Hal itu juga berguna agar tangan Anda tidak berwarna kekuningan. Sebab getak kunyit yang melekat di kulit agak susah dibersihkan.

2. Sirih dan Belerang

Obat tradisional lainnya adalah sirih dan belerang (sulfur). Ambil 3 helai daun sirih, 50 gram belerang. Rebus kedua bahan itu secara bersamaan dalam 2 gelas air. Setelah mendidih, dinginkan. Oleskan air rebusan itu ke bagian tubuh yang bernanah.

Lakukan setiap jam (sekali sejam). Jika borok anak berada di sekitar telapak kaki atau tangan, cukup rendamkan kaki atau tangan anak di dalam air rebusan tersebut. Jika dilakukan dengan disiplin, mudah-mudahan dalam waktu seminggu, borok bernanah akan sembuh. Demikianlah cara alami mengobati borok dan luka bernanah. Semoga bermanfaat. ***

TONTON VIDEONYA


Bagikan:

30 Juli 2016

Becak Siantar, Riwayatmu Dulu, Kini dan Nanti


Suatu petang di awal Maret 2016, saya terkejut ketika melintas di sebuah pangkalan becak. Dari lima unit becak yang parkir di situ, tiga diantaranya sudah menggunakan sepedamotor buatan Jepang. Sudah lama saya tidak peduli lagi pada Becak Siantar ini (karena tak mampu beli, hehe), tapi sejak itu saya curahkan lagi perhatian mengamati becak-becak itu, baik yang melintas di jalanan maupun yang mangkal. Saya tertegun, ternyata sudah banyak becak itu yang tidak lagi menggunakan mesin BSA.


Saya terkenang peristiwa 2006. RE Siahaan, walikota Siantar ketika itu, berkolaborasi dengan segelintir anggota DPRD yang culas, berencana 'menggudangkan' becak Siantar sebagai barang bersejarah, sehingga nantinya tidak lagi digunakan sebagai moda transportasi komersil. Sebagai gantinya, Becak Siantar akan menggunakan sepedamotor pabrikan. Tapi sebelum digodok menjadi sebuah peraturan, informasi itu bocor.

Sebagai jurnalis, ketika itu saya turut 'berjuang' agar rencana itu tak terwujud. Bersama jurnalis lain, kami banyak menulis aspirasi penolakan terhadap wacana itu. Sayangnya, tulisan-tulisan itu lenyap seluruhnya, barangkali senasib dengan becak-becak itu. Dan singkat kisah, publik menang ketika itu. Becak Siantar bisa beroperasi seperti sedia kala.

Tapi, pergantian Becak Siantar dari BSA ke sepedamotor buatan Jepang, kini pelan-pelan terjadi seperti perang gerilya, senyap, tanpa wacana, dan tak tersadari. Pengalaman selalu jadi guru terbaik, kata sebuah adagium. 'Keributan' 10 tahun lalu itu mungkin dijadikan pelajaran oleh 'para pemain'. Sama halnya dengan korupsi, semakin banyak modus-modus korupsi terbongkar, semakin canggih dan gigih pula para pelaku mencari strategi baru.

Sesungguhnya, saya sudah curiga sejak lama. Kira-kira dua tahun lalu, Becak Siantar milik tetangga saya tiba-tiba 'hilang'. Saya tidak lagi mendengar suara dentuman mesin becak setiap pagi dan malam, ketika ia pergi dan pulang kerja. Setelah saya amati, ternyata becak tetangga itu sudah berganti dan kini tercantol pada sepedamotor buatan Jepang. Becak BSA itu sudah dijual. Hasil penjualan digunakan membeli sepedamotor baru. Sisanya tentulah dipergunakan untuk biaya lain-lain. Sebab siapapun tahu, saat ini harga becak BSA sangat tinggi, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Pertanyaannya, kalau semakin banyak pemilik becak BSA menjual becaknya dan menggantinya dengan sepedamotor baru, kemana perginya becak-becak BSA itu? Siapa pembelinya? Siapa yang mengawasinya? Bagaimana sikap pemerintah kota? Pertanyaan inilah muasal kecurigaan saya. Apakah benar ada upaya pelestarian seperti didengung-dengungkan itu?

Sebagaimana kita tahu, nilai sejarah BSA ini layak dijunjung sebagai kenangan yang menakjubkan atas perjalanan kota bekas keresidenan ini. The Birmingham Small Arms Company (BSA), demikian dikisahkan kepada kita, adalah perusahaan penyuplai persenjataan tentara Inggris selama Perang Crimean (1853- 1856). Periode setelah perang, BSA terus mengembangkan produknya dan menjadi pemasok kendaraan militer untuk tentara Inggris. Pada masa itu, mereka memproduksi 126.000 sepeda motor tipe M20 berkapasitas mesin 500 cc. Sepedamotor buatan tahun 1941 inilah yang ikut dibawa pasukan sekutu ke Pematangsiantar.

Setelah kepergian sekutu, ratusan sepedamotor BSA di Siantar ditinggalkan terbengkalai, termasuk milik tentara Inggris. Para pengusaha perkebunan Belanda dan Eropa sebagian memberikan sepedamotor itu secara cuma-cuma kepada warga pribumi. Masa itu tahun 1950-an, sepedamotor BSA konon terbiarkan seperti barang rongsokan, tidak terpakai. Lalu muncul kesadaran warga untuk memberdayakannya sebagai mesin penarik becak. Tak hanya BSA, sepedamotor tua lain seperti Norton, Triumph, dan BMW juga dimanfaatkan ketika itu. Tapi hanya BSA yang cocok dan efisien mengarungi topografi Siantar yang berbukit-bukit, lolos dari seleksi alam.

Setelah para pionir Becak Siantar berhasil meningkatkan daya guna sepedamotor BSA, banyak orang kemudian mencarinya dan memburunya ke berbagai daerah, sebab harganya sangat murah. Prinsip ekonomi berlaku di sini, BSA bisa diperoleh dengan murah, tapi sangat berguna dijadikan mata pencaharian. Konon, orang-orang Siantar mencari BSA ini hingga ke Medan, Asahan, Deli Serdang, Rantau Prapat bahkan ke Riau. Dari Pulau Jawa, motor ini diangkut dengan Kapal Tampomas II. Pencarian makin gencar ke pulau-pulau lain. Hasilnya, kurang lebih 2.000 unit becak BSA sudah berada di Siantar pada periode 80-an hingga 90-an.

Sejak itu, Siantar terkenal sebagai gudangnya sepedamotor BSA, menjadi legenda. Akhirnya, banyak kolektor berburu BSA ke kota ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, bahkan dari negara asalnya: Birmingham. Gelombang aksi jual-beli inipun berlangsung dasyat, sehingga dalam rentang waktu 10 tahun sejak 1990, jumlah becak BSA di Siantar kembali ciut tajam. Konon tahun 2000-an sudah turun lagi ke angka 600-an unit. Siapa tak tergoda dengan uang? Ancaman kepunahan itulah kemudian yang mendorong para pecinta Becak BSA berupaya melestarikan becak-becak itu. Maka wajar, ketika RE Siahaan berwacana mengganti BSA dengan Win, resistensi sangat kuat karena kondisinya memang sudah 'gawat'.

Ibarat satwa liar yang dilindungi, Becak Siantar makin bernilai tinggi, makin langka, makin seksi, dan makin menggairahkan sebagai lahan bisnis bagi para pengkhianat. Sekarang, becak-becak ini makin tersingkir dari jalanan Siantar, tergusur oleh kian marak dan menjamurnya becak-becak bermesin buatan Jepang mutakhir.

Tiba-tiba, saya tertegun. Imajinasi saya merayap sendu. Orang-orang yang belum pernah menaiki Becak Siantar bermesin BSA, segeralah ajak keluarga, naik becak ke tempat-tempat wisata, sebab kelak becak ini mungkin tak bisa kita saksikan lagi.***
Bagikan:

29 Juli 2016

Tentang Lagu Batak, Kenangan dan Kedai Tuak


Nyanyian itu sayup-sayup, merayap dari jauh, mengayun-ayunkan jiwa, kian lama terdengar kian dekat. Dan akhirnya, muncul kesadaran bahwa pagi telah tiba. Waktunya untuk bangun.

Lagu Antar Didokkon yang dilantunkan Eddy Silitonga, atau lagu yang menguras perasaan itu: Andung-andung ni Anak Siampudan, selalu mengalun di masa kanak yang jauh itu. Ada juga lagu Bunga Na Bontar dan Atik yang dikumandangkan Bunthora Situmorang dan Jhonny Manurung. Lagu-lagu itu, setiap pagi yang berulang, seperti bertugas membangunkan saya dari tidur.

Memang begitu kebiasaan ayah. Setiap ia bangun sekira pukul 05.00 subuh, ia langsung menghidupkan tape-recorder. Meski tidak pernah saya tanya, tapi agaknya ayah menyukai Eddy Silitonga dan Bunthora. Sementara ibu, dengan kadar apa adanya, sesekali mendengarkan Lamser Girsang atau Sarudin Saragih.

Saya kemudian mengenal Charles Simbolon, Rita Butar-butar, Nainggolan Sisters, Trio Maduma dan....! Sepertinya hanya itu, ditambah sedikit lagu Simalungun milik Sarudin Saragih, dan satu lagi penyanyi yang saya lupa namanya, bermarga Sitopu.

Pengenalan saya pada musik populer hanya terbatas pada nama-nama tersebut di atas. Tentu, lebih awal lagi, ada kidung-kidung gerejawi, yang dalam prakteknya tak pernah saya dengarkan bersentuhan dengan musik. Sebab nyanyian itu hanya dikumandangkan dengan vokal. Tak ada organ atau keyboard pengiring di gereja ketika itu. Sungguh desa yang miskin.

Maka, di alam nyata, saya tak mengenal alat musik apapun. Kecuali gitar, itupun hanya terdengar dari kedai ketika anak-anak muda nyanyi ramai-ramai sambil minum tuak. Pesawat TV waktu itu hanya ada satu unit, milik orang kaya desa sekaligus pemilik kedai. Di kedai itulah warga desa ramai-ramai menonton, itupun ketika aki terisi. Jika aki kosong, desa gelap gulita. Saya tak pernah bisa menikmati TV hitam putih itu. Ayah-ibu saya sangat tegas dalam hal ini. Tak seorangpun dari kami bisa keluar rumah jika malam.

Tentang kedai tuak, saya ingat bahwa suasananya berlangsung sangat nyaman dan menggembirakan. Tuak hanya penghangat badan dan penggembira jiwa. Pada masa lalu, jarang kita temukan orang-orang bertengkar di kedai tuak.

Ketika ayah berhasil membeli tape-recorder itu, dunia seolah meledak di rumah kami. Kegembiraan merasuk begitu tinggi. Sepanjang hari hari tape itu nyala, hingga kadang-kadang baterainya cepat aus. Ini sekaligus jadi kenangan lucu. Sebab ketika baterai aus, lagu-lagu seperti layu, mendayu-dayu, penyanyinya seperti mengigau, lucu, kacau dan mengerikan.

Begitulah setiap pagi yang berulang, tape-recorder itu membangunkan saya dari tidur. Saya paling terkesan pada Andung ni Anak Siampudan dan Atik, karena keduanya sama-sama berkisah tentang tradisi merantau. Saya tahu, kelak saya akan merantau.

Benarlah demikian. Untuk melanjutkan pendidikan ke SMP, desa harus ditinggalkan dan mulai bergaul secara sosial di ibukota kecamatan. Maka pengenalan akan warna-warna musik juga kian beragam, termasuk dangdut yang entah kenapa, hingga saat ini, tidak bisa saya nikmati. Belakangan, saya malah cepat akrab dengan Beethoven, Mozart, Tchaikovsky, Bach dan lain-lain, yang membuat saya dituduh sinting oleh rekan-rekan segenerasi. Sebab Slank, Boomerang, Guns N Roses, Scorpion dll adalah identitas anak-anak muda ketika itu.

Dan pada rentang itu, lagu-lagu Batak terlupa untuk alasan-alasan tertentu yang tak masuk akal. Dan entah kenapa, saya tak menyukai Charles Simbolon dan Joel Simorangkir, yang sepertinya berlomba-lomba memiliki suara tinggi dan melengking.

Ketika usia makin uzur, minat akan musik Batak kembali menggoda. Musik-musik instrumentalia yang dimainkan hanya dengan kecapi dan seruling, tiba-tiba menjadi kesukaan yang berlebihan. Sepertinya, minat pada musik juga memiliki pengembaraan tersendiri sebelum kembali ke muasal, seirama dengan aliran darah.

Dan agaknya, musik Batak lamban berkembang. Beberapa generasi selalu dihadapkan pada penyanyi itu-itu juga dengan warna musik yang itu-itu juga. Barulah kehadiran Vicky Sianipar menawarkan nuansa baru dan kini terus berkembang. Di Kota Pematangsiantar, misalnya, muncul genre musik aneh, perpaduan rap dan musik tradisi. Siantar Rap Foundation, begitu anak-anak muda itu menamai diri. Nama-nama lain seperti Retta Sitorus, munculnya Hermann Delago Manik, membuat warna musik Batak kian hidup. Di ranah Simalungun, siapa tidak kenal Damma Silalahi yang melancarkan kritik sosial lewat lagu-lagunya?

Untuk alasan tertentu, saya tetap menyimpan kekaguman emosional pada Eddy Silitonga dan Bunthora. Mungkin, ini bentuk kultus sederhana pada ayah, yang kini sudah renta. Kadang-kadang, saya bangga menyaksikan perjalanan dinamika musik Batak, juga sesekali sedih. Syair-syair lagu Batak kini tidak lagi sekuat dulu. Tema-temanya juga mulai melabrak norma dan kemapanan budaya.

Betapa terkejutnya kita mendengar lagu Gumis ni Huting yang dipopulerkan Jhon Eliaman Saragih. Atau, betapa sedapnya lagu Holong Na So Tarputik itu, tapi sesungguhnya menggambarkan keretakan budaya. Anak-anak muda tentu akrab dengan istilah berondong dan daun muda. Boasa dang tibu hian hutanda ho, boasa...? Apakah kau punya berondong atau daun muda? Sukakmulah...! (Panda MT Siallagan)
Bagikan:

Cara Tradisional Mengobati Sariawan

Mulut merupakan salah satu organ tubuh paling vital dan memiliki multifungsi, terutama untuk makan, minum, dan bicara. Oleh karena itu, mulut memerlukan perawatan ekstra agar tidak terserang penyakit, seperti halnya sariawan.

Fakta menunjukkan bahwa sariawan merupakan penyakit yang paling sering dialami banyak orang selain sakit gigi. Sariawan merupakan penyakit akibat serangan jamur. Sesuai keterangan para ahli, nama jamurnya adalah candida albicans. Penyakit ini tidak berdampak akut terhadap kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan, tapi sangat mengganggu karena terkait erat dengan fungsi mulut tadi.

Sariawan diawali dengan gejala khas di beberapa bagian mulut, yaitu munculnya luka kecil berwarna putih. Bisa di lidah, atau di dinding mulut (pipi bagian dalam), atau bisa juga muncul di bibir bagian dalam. Luka ini menyebabkan rasa sakit ketika menelan. Bicara juga menjadi tidak nyaman, sebab mulut akan terasa sakit ketika luka itu tergesek oleh bagian mulut yang lain.

Mengapa bisa terserang sariawan? Banyak faktor yang bisa menyebabkan peningkatan jumlah jamur candida albicans di dalam mulut, yang kemudian menyerang bagian-bagian mulut. Jumlah jamur ini meningkat karena beberapa hal, misalnya kebersihan mulut yang buruk (jarang sikat gigi atau tidak pernah kumur-kumur usai makan).

Sistem kekebalan tubuh yang menurun juga bisa menjadi penyebab merajalelanya jamur ini. Pemakaian gigi palsu bisa punya andil, juga pemakaian antibiotik yang tidak tepat.

Umumnya, sariawan diobati dengan obat-obatan anti jamur dalam beragam bentuk. Tapi kita tidak akan membahas obat-obat kimia itu di sini. Cara mengatasi sariawan yang akan disuguhkan adalah obat-obatan yang bersumber dari alam. Cara membuat resep dan penggunaannya juga sangat gampang dan sederhana. Silahkan disimak! 

1. Ramuan Asam jawa

Sebagaimana diketahui dan kebenarannya sudah diuji para ilmuwan, asam jawa mengandung banyak zat dan unsur kimiawi yang berguna untuk mengobati berbagai penyakit. Untuk mengobati sariawan, bagian yang digunakan adalah buah dan kulit kayu atau batangnya. Cukup ambil buah asam,  campur dengan air secukupnya, lalu kumur-kumur. Sementara untuk kulit, sebelumnya harus dijemur dulu sampai kering, lalu dihaluskan hingga berbentuk bubuk. Sama dengan perlakuan untuk buah tadi, bubuk kulit kayu asam dicampur dengan air, lalu dikumur-kumur. 

2. Ramuan daun jinten

Generasi baru mungkin tak banyak lagi yang mengenal tumbuhan ini. Tapi namanya tetap populer sebab ada produk pabrikan yang dinamai minyak jinten. Tapi di apotek hidup atau kebun obat-obatan milik rumah sakit, tumbuhan ini masih bisa ditemui. Ambil beberapa helai daun jinten. Cuci bersih dengan air matang. Lalu kunyahlah perlahan-lahan sebagai mana nenek moyang kita dahulu memakan sirih. Telan air sarinya yang muncul di mulut. Buang ampasnya. Lakukan hal ini setidaknya dua kali sehari agar sariawan Anda sembuh. 

3. Ramuan jambu biji

Buah yang satu ini tergolong populer, sebab di pasar gampang ditemukan, juga kerap menjadi salah satu menu yang ditawarkan penjual buah jalanan. Di kafe-kafe, jus jambu ini juga gampang diperoleh. Namun untuk mengobati sariawan, kita tidak menggunakan buahnya, melainkan daun dan kulit batangnya. Siapkan kira-kira 20 helai daun jambu biji yang segar, juga kulit batangnya kira-kira sebesar 1 jari. Lalu rebuslah kedua bahan itu dalam 1000 ml air sampai mendidih. Setelah dingin, saring air rebusan itu dan minumlah dua kali sehari masing-masing 1 gelas. 

4. Ramuan kembang merak

Rebus daun kembang merak kira-kira 50 gram dalam 5 gelas air. Setelah mendidih, dinginkan. Berkumurlah dengan air rebusan itu. 

5. Ramuan mengkudu

Mengkudu yang aroma tak sedap ini memang layak diacungi jempol. Manfaatnya luar bisa dan hampir seluruh penyakit bisa diobatinya. Untuk sariawan, silahkan Anda parut 1 buah mengkudu yang telah matang. Lalu campur hasil parutan itu dengan airmatang, cukup dua sendok. Lalu peras dengan sepotong kain. Setelah itu, air hasil perasan itu dicampur dengan madu murni. Lalu minum. Itu untuk sekali konsumsi. Sebaiknya lakukan hal ini 3 kali sehari. ***
Bagikan:

28 Juli 2016

90 Wartawan Indonesia Tidak Kompeten

Sebuah pertanyaan mungkin sulit dijawab, berapa banyakkah jumlah wartawan saat ini di Indonesia? Belasan ribu, puluhan ribu atau mungkin sudah ratusan ribu? Jika diambil angka kasar, misalkan di setiap provinsi terdapat 1.000 wartawan, maka sudah terdapat paling tidak 35.000 wartawan. Jika begitu, hampir 100 persen wartawan di Indonesia tidak kompeten. Wah...

Itulah konsekuensi sebuah peraturan. Jika peraturan tidak dipatuhi, maka si pelanggar otomatis dianggap buruk, jelek, bandal, dan sejumlah penyebutan lain yang jauh dari makna 'baik'. Dan akibat peraturan ini, ribuan bahkan mungkin puluhan ribu wartawan di Indonesia menjadi jelek, tidak standar, atau tidak kompeten sesuai istilah dalam peraturan itu.

Memang demikian adanya. Sejak Peraturan Dewan Pers tentang Standar Kompetensi Wartawan ditetapkan tahun 2010, hingga artikel ini ditulis (19 Maret 2016), baru 8.672 orang wartawan Indonesia yang sudah mendapat sertifikasi kompetensi (sesuai data yang dilansir dewanpers.or.id). Padahal, peraturan itu dengan tegas menyatakan: Wartawan yang belum mengikuti uji kompetensi dinilai belum memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi.

Sementara, data 35.000 itu masih berpeluang bertambah. Bisa dilacak, data di bagian kehumasan pemerintah gubernur, pemerintah kabupaten/kota, jumlah wartawan unit bisa mencapai 100 orang. Belum lagi unit-unit lain seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan, wartawan ekonomi, wartawan entertaint, wartawan digital (online), dan lain sebagainya, bisa-bisa jumlah wartawan Indonesia sudah mencapai ratusan ribu.

Dengan perkiraan angka kasar itu, maka selama kurang lebih 6 tahun, hanya sekian persen wartawan yang berhasil dikompetenkan (disertifikasi). Ini salah siapa? Dewan Pers, Organisasi Pers, Perusahaan Pers, atau salah wartawan itu sendiri? Sebab peraturan itu juga menyatakan begini: Selambat-lambatnya dua tahun sejak diberlakukannya Standar Kompetensi Wartawan ini, perusahaan pers dan organisasi wartawan yang telah dinyatakan lulus verifikasi oleh Dewan Pers sebagai lembaga penguji Standar Kompetensi Wartawan harus menentukan jenjang kompetensi para wartawan di perusahaan atau organisasinya.

Nah, sekarang sudah 6 tahun, tapi hasilnya belum sesuai harapan. Saya ambil contoh di dua wilayah: Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. Dengan perhitungan kasar, jumlah wartawan di wilayah ini bisa mencapai 300 orang, tapi yang sudah mendapat sertifikasi atau ikut Ujian Kompetensi mungkin belum sampai 10 persen.

Tentu saja banyak faktor yang menjadi penyebab. Antara lain: perusahaan pers belum sepenuhnya manjalankan peraturan ini, organisasi pers tidak serius mendorong dan memfasilitasi anggotanya mengikuti ujian kompetensi, atau wartawan itu sendiri tidak mau tahu urusan standar kompetensi ini. Alasan yang lebih global, barangkali: seluruh stakeholder pers tidak serius menyosialisasikan program ini.

Sebenarnya, jika dicermati secara seksama, wartawan adalah pihak yang paling berkepentingan mengikuti uji kompetensi. Sebab, sebelum ia dinyatakan lulus oleh lembaga penguji dan belum memperoleh sertifikat dari dewan pers, maka selama-lamanya ia masih 'dianggap' sebagai wartawan abal-abal alias tidak kompeten. Betapapun hebatnya seorang wartawan, betapapun ia punya skill dan integritas yang mumpuni, ketiadaan 'surat sakti' dari Dewan Pers akan membuatnya 'tak profesional'.

Sebab, hanya tokoh pers yang sudah diakui dan berusia lebih 50 tahun yang bisa ditetapkan Dewan Pers sebagai wartawan kompeten tanpa harus mengikuti ujian. Hemat saya, di sinilah letak kelemahan peraturan ini. Dewan Pers seolah-olah hanya 'menunggu' wartawan, organisasi pers, dan perusahaan pers datang menawarkan diri untuk uji kompetensi. Mestinya, agar adil, Dewan Pers juga harus jemput bola memantau kinerja dan integritas para wartawan, yang dengan sendirinya bisa mereka tetapkan sebagai wartawan kompeten sesuai jenjangnya: apakah wartawan muda, wartawan madya, atau wartawan utama.

Sebab kita tahu, ada banyak wartawan berkualitas dan penuh integritas, misalnya para wartawan pemenang anugerah-anugerah jurnalistik itu, apakah kompetensi mereka masih diragukan? Mudah-mudahan ke depan akan muncul pemikiran baru terkait ihwal ini. Tapi intinya, jika tidak ingin 'dilecehkan' sebagai wartawan tak kompeten, wartawan sebaiknya getol menuntut organisasi atau perusahaan pers tempatnya bernaung untuk 'menyekolahkannya' jadi wartawan kompeten.

Dan bagi perusahaan pers sendiri, memiliki atau memperkerjakan wartawan yang belum kompeten akan berdampak pada status perusahaan pers itu sendiri. Sebab, sejalan dengan pemberlakukan Standar Kompetensi Wartawan, telah diberlakukan pula Standar Perusahaan Pers. Maka jangan heran, banyak suratkabar-suratkabar besar dan terkemuka ternyata BELUM MEMENUHI STANDAR PERUSAHAAN PERS. Itu antara lain terjadi karena sebagian besar wartawannya tidak/belum kompeten atau tidak memenuhi standar kompetensi wartawan.

Pertanyaannya, apakah Dewan Pers juga proaktif 'menasehati' atau memberi peringatan kepada perusahaan pers yang BELUM STANDAR itu? Entahlah! Dan agak menyedihkan memang, biaya untuk uji kompetensi wartawan ini tergolong mahal, terutama bagi banyak wartawan yang belum memperoleh gaji dari perusahaan pers tempatnya bernaung. Kadang-kadang, kita heran, kenapa mereka bisa hidup? Saya pikir, pada konteks inilah UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik tampil sebagai 'mahluk lemah' yang tiada bertenaga. ***
Bagikan:

Obat Tradisional Mengatasi Sakit Jantung

Artikel ini tidak akan membahas apa yang dimaksud dengan penyakit jantung, apa gejalanya, dan bagaimana cara mengantisipasi atau mengobatinya secara medis. Artikel-artikel semacam itu sudah banyak dan tentu saja dokterlah yang paling kompeten untuk menuliskan hal itu.


Langsung saja, saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana mengobati sakit jantung secara tradisional. Ibu saya divonis mengidap jantung koroner. Dan lebih 4 tahun sejak divonis itu, ada kecenderungan beliau tampak makin sehat. Berikut ini ramuan tradisionalnya:

Siapkan bahan-bahannya:

1. 1 kg jahe merah (usahakan jahe yang baru dipanen agar kadar airnya tinggi)
2. 1 kg bawang putih
3. 1 kg asam lemon
4. 1 kg apel hijau
5. 620 ml madu asli (1 botol bir besar)
6. Periuk tanah


Seperti ini cara membuatnya:

- Cuci  jahe merah agar bersih dari kotoran dan sisa-sisa tanah yang melekat pada permukaannya. Tumbuk hingga sehalus mungkin. Setelah halus, peras airnya. Proses pemerasan bisa dilakukan menggunakan kain bersih. Masukkan air perasannya ke periuk tanah yang sudah bersih dan siap pakai.
- Kupas bawang putih dan apel hijau . Lakukan hal yang sama terhadap bawang putih dan apel hijau tersebut. Kumpulkan air perasannya ke periuk bersama air jahe merah.
- Kupas asam lemon, peras juga airnya. Dan satukan dengan yang lain.
- Agar ampas bahan-bahan itu tidak terbuang sia-sia, campur dengan 200 ml air, tumbuk lagi secara bersamaan atau bisa diblender. Kemudian peras lagi. Satukan semuanya. Aduk hingga rata. Lalu rebus hingga mendidih. Setelah mendidih, biarkan proses perebusan tetap berlangsung hingga volumenya berkurang sekitar 200 ml air.
- Setelah itu dinginkan, lalu campur dengan madu asli. Aduk hingga rata. Lalu masukkan ke dalam botol agar lebih awet dan praktis.
- Minum satu sendok teh setiap pagi dan sore hari. Namun, jadwal minum ini bisa juga dilakukan jika penyakit jantung Anda terasa kambuh dan berdenyut.

Demikian, semoga bermanfaat. ***
Bagikan:

Citizen Journalism, Warga Bikin Berita

Mungkin Anda pernah mendengar di sebuah radio, terjadi percakapan antara penyiar dengan seorang warga melalui sambungan telepon. Warga itu melaporkan bahwa di Jalan A terjadi kemacetan akibat kecelakaan lalu-lintas baru saja terjadi di kawasan itu.


Si Penyiar biasanya bertanya lebih lanjut tentang situasi di lapangan, dan si penelepon menjelaskan seluruh informasi sesuai dengan pengamatannya. Akhir cerita, baik si penelepon maupun si penyiar menyarankan pengendara atau masyarakat agar sebaiknya menghindari jalur itu agar terhindar adri jebakan macet.

Atau, pada kesempatan lain, Anda mungkin pernah membaca rubrik interaktif di sebuah surat kabar. Rubrik itu berisi pesan pendek (sms) warga dari berbagai tempat, memberitahu berbagai informasi tentang kondisi pelayanan dan fasilitas publik. Misalnya, di daerah B jalan rusak parah, perlu diperbaiki. Di daerah C, praktek judi togel marak, diharap penegak hukum melakukan penertiban. Di daerah D, tiang listrik tumbang, parit sumbat, drainase penuh tumpukan sampah, dll. Seluruh informasi itu disampaikan dan dimuat di surat kabar dengan harapan agar bisa segera ditanggulangi pihak berwenang.

Atau, siapapun Anda dan dari kalangan manapun berasal, saat ini pastilah sangat familiar dengan smartphone. Dan hampir setiap hari bersentuhan dengan media sosial. Dan hampir setiap hari pula Anda bisa membaca atau mengetahui informasi yang dituliskan rekan-rekan lain melalui status maupun postingan-postingan yang sifatnya informatif. Bahkan Anda sendiri turut melakukannya.

Jika terjadi bencana, para pemilik akun medsos akan ramai-ramai menuliskan peristiwa itu sehingga seperti spiral, langsung meliuk-liuk ke segala penjuru. Jika terjadi peristiwa heboh, informasi awal seringkali muncul terlebih dahulu melalui status-status medsos, lalu tak lama kemudian muncullah informasi lebih lengkap melalui berita di media-media internet, yang ditulis atau dilaporkan jurnalis profesional.

Penjelasan di atas kiranya dapat memudahkan kita untuk memahami apa yang disebut dengan citizen journalism atau jurnalisme warga. Jurnalisme warga adalah partisipasi masyarakat (warga) dalam hal pengumpulan,  analisis dan penyampaian sebuah peristiwa atau informasi menjadi sebuah berita.

Seperti kita ketahui, peralatan-peralatam canggih seperti kamera digital, video handphone, sekarang ini sangat memungkinkan siapapun bisa menulis atau membuat berita dan mendistribusikannya secara cepat melalui media internet. Produk (karya) jurnalisme warga yang dapat dikenali pada saat ini antara lain partisipsi pemirsa seperti komentar dalam berita online, foto atau video. Intinya, jurnalisme warga dapatlah dipahami sebagai bentuk media untuk warga, oleh warga dan dari warga.

Sekedar diketahui, jurnalisme warga mulai berkembang luas di Indonesia ketika terjadi Tsunami Aceh tahun 2004. Waktu itu, gambar-gambar atau tayangan video bencana dasyat itu justru berasal dari warga, bukan dari jurnalis profesional. Laporan-laporan langsung sesaat setelah terjadi bencana, justru didapat dari warga yang bisa dihubungi media.

Sejak itu, jurnalisme warga makin populer. Jika terjadi bencana, media segera mencari warga yang bisa dihubungi di lokasi, atau media langsung menyiapkan line telepon agar warga yang ingin memberi laporan bisa menghubungi nomor telepon itu.

Lalu, dalam perkembangannya kemudian, muncul berbagai situs yang khusus menyiarkan jurnalisme karya warga, bukan karya jurnalis profesional. Dan sejalan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, jurnalisme warga menemukan substansinya yang pas pada medsos. Maka, ribuan bahkan jutaan pemilik akun bisa langsung menjadi 'jurnalis-jurnalis' yang melaporkan berbagai peristiwa dari daerah masing-masing.

Maka, di era digital ini, siapa saja bisa menjadi jurnalis. Zaman dulu, persoalan utama penyampaian informasi kepada masyarakat adalah keterbatasan media. Hanya ada surat kabar, radio dan televisi, sehingga sumber informasi juga terbatas dari wartawan-wartawan media itu. Kini media penyampai informasi sudah sangat beragam dan aksesnya juga sangat mudah dan murah.

Namun, perlu diingat bahwa informasi harus benar, tidak boleh bohong, tidak boleh dikarang-karang, tidak boleh mengandung fitnah, tidak boleh menuduh. Sebab informasi yang tidak benar akan akan menyesatkan masyarakat, dan itulah sesungguhnya inti dari jurnalisme konvensional. Nah, silahkan Anda belajar jadi jurnalis atau wartawan digital. ***
Bagikan:

Obat Tradisional Sakit Pinggang Anak

Orangtua sering kewalahan menghadapi anak-anak, terutama anak berusia 4-10 tahun. Sebab, pada rentang usia ini anak-anak seolah tak kenal lelah. Mereka hanya tahu bermain dan bermain. Bahkan tak jarang berlari-lari, melompat-lompat, memanjat, dan lain-lain yang bisa membahayakan.


Akibatnya, anak sering mengalami sakit pinggang. Jika anak sakit pinggang, tidurnya menjadi tidak nyenyak. Sepanjang malam ia gelisah dan cengeng. Orangtua sering kebingungan karena tidak tahu apa penyebabnya. Sebab, sakit pinggang memang tidak sama seperti demam atau flu yang bisa terdeteksi dengan mudah. Jika buah hati Anda tidak bisa tidur nyenyak, gelisah, uring-uringan bahkan meringis, besar kemungkinan ia mengalami sakit pinggang.

Untuk mengatasinya, Anda cukup mengambil beberapa biji  buah kemiri, lalu bakar hingga gosong. Setelah gosong, lumatkan dengan cara menggosok-gosok ke permukaan piring kaleng atau wadah lain. Dengan cara itu, buah kemiri yang gosong akan tersisa menjadi minyak kental berwarna hitam.

Selanjutnya, oleskan minyak kemiri itu ke pinggang anak dan perutnya. Mudah-mudahan buah hati Anda akan tenang. Penggunaan obat ini memang kurang nyaman karena warnanya yang hitam. Tapi manfaatnya sangat baik dan jauh lebih baik dari minyak oles buatan pabrikan.

Selain itu, minyak kemiri dipercaya punya khasiat menyuburkan dan menumbuhkan rambut botak pada bayi, melebatkan kumis, jenggot, alis, dan jambang, dan lain-lain. Selamat mencoba! ***
Bagikan:

Koran Tutup, Koran Terbit

Ancaman era digital terhadap keberlangsungan hidup surat kabar tampak kian nyata. Awal tahun 2016 kita menerima kabar sedih tentang tutupnya sebuah koran legendaris di Indonesia, Sinar Harapan, lalu kabar mengejutkan datang lagi dari Inggris. Koran ternama di negara itu, The Independent dan mingguan Independent on Sunday, telah dinyatakan tutup atau berhenti terbit.

 

Evgeny Lebedev, sang pemilik koran, mengumumkan sendiri penutupan kedua koran itu. Edisi terakhir kedua media cetak itu terbit pada 20 dan 26 Maret 2016 lalu. Meski begitu, The Independent yang sudah 30 tahun, akan tetap hadir dalam bentuk online independent.co.uk, sebagai wujud proses transisi. Saat ditutup, penjualan koran itu turun drastis dari angka 420 ribu eksemplar menjadi hanya 10 persen dari total penjualan.

"Jurnalisme telah berubah di luar apa yang dibayangkan. Kami harus berubah mengikuti perubahan zaman," ujar Evgeny Lebedey, akhir Maret 2016. The Independent merupakan media cetak yang didirikan oleh tiga mantan wartawan pada 1986, yang digawangi Andreas Whittam Smith. Koran itu menjadi terkenal karena enak dilihat dengan penekanan keunggulan pada kualitas foto.

Halaman depan edisi terakhir koran memuat cerita eksklusif tentang koneksi Inggris dalam komplotan untuk membunuh mantan Raja Arab Saudi. Ada pula gambar mencolok dari penumpang kereta yang dievakuasi selama operasi antiteror di Brussels, Belgia.

Imbas penutupan itu, sekitar 150 orang akan kehilangan pekerjaan. “Saya menyesali ini, tetapi dapat mengkonfirmasi bahwa semua orang pada kontrak kerja jangka menangah dan jangka panjang akan menerima gaji dua minggu, tergantung kondisi, untuk setiap yang bekerja setahun ditambah sesuai periodenya,” lanjut Lebedev.

Menurut informasi, perusahaan koran cetak itu dijual ke grup Johnston Press dengan nilai penjualan 24 juta poundsterling atau kurang lebih Rp500 miliar.

Sementara, salah satu penerbit suratkabar terbesar di Inggris melakukan langkah sebaliknya. Perusahaan itu malah akan meluncurkan harian nasional baru yang akan mulai dijual ketika koran besar lainnya berhenti dicetak.

Trinity Mirror, penerbit tabloid Daily Mirror dan Sunday Mirror, mengumumkan akan menerbitkan harian bernama The New Day dengan pendekatan semangat dan optimistis, dan netral secara politik. Pengumuman itu disampaikan beberapa hari setelah pemilik suratkabar The Independent, Evgeny Lebedev, mengatakan akan mengakhiri koran cetak itu bulan depan dan menggantinya dengan media online.

"The New Day akan aktif di media sosial, namun tidak akan memiliki website," kata Simon Fox, kepala eksekutif Trinity Mirror.

Dia mengakui bahwa jumlah pembeli suratkabar telah turun, namun menegaskan industri cetak masih jauh dari selesai. "Lebih dari 1 juta orang telah berhenti membeli suratkabar dalam dua tahun terakhir, tapi kami yakin sangat banyak dari mereka yang bisa dibujuk kembali dengan produk yang tepat," ujarnya.

"Menggairahkan kembali penerbitan cetak adalah bagian mendasar dari strategi kami yang paralel dengan transformasi digital, dan seharusnya tak perlu harus memilih antara dua itu, suratkabar bisa hidup di abad digital jika dirancang untuk menawarkan sesuatu yang berbeda."

Salah satu editor koran baru ini, Alison Phillips, mengatakan The New Day dikembangkan atas dasar pendapat pelanggan dan merupakan suratkabar pertama yang dirancang untuk gaya hidup masyarakat modern. The New Day akan menjadi suratkabar yang sepenuhnya baru, bukan versi ringan atau berbagi konten dengan Daily Mirror. (int/*)
Bagikan:

27 Juli 2016

Internet Vs Koran, Siapa Menang?

Siapa yang tak kenal Sinar Harapan? Pada dekade 70-an hingga 80-an, koran ini meneguhkan diri sebagai salah satu media besar dan sangat berpengaruh di Indonesia, mengekor KOMPAS dan majalah TEMPO. Distribusinya juga tergolong baik, hampir merata ke berbagai kota di Indonesia.


Rentang waktu 2005 hingga 2008, saya masih bisa menemukan koran ini di Kota Pematangsiantar. Meski tiba sore hari, saya masih kerap membelinya meski tidak rutin. Tapi kini, Sinar Harapan sudah tiada. Ketika pertama kali menerima pesan berantai lewat BlackBerry Mesanger sekitar Oktober 2015 berisi pemberitahuan bahwa Sinar Harapan akan berhenti terbit sejak Januari 2016, saya tertegun. Dan sedih. Saya ingat sebuah nama: Sihar Ramses Simatupang, sastrawan muda Batak, redaktur sekaligus penjaga halaman budaya di suratkabar itu.

Koran-koran lain seperti Media Indonesia, Suara Pembaruan dan Republika, kini juga tak bisa lagi saya temukan di kota berhawa sejuk ini. Satu-satunya koran nasional yang masih hadir adalah KOMPAS. Suara Merdeka yang terbit di Semarang, Pikiran Rakyat di Jogyakarta, Koran Tempo yang tergolong masih baru, seingat saya, memang tidak pernah terdistribusi ke kota ini meskipun namanya amat dikenal.

Secara emosional, saya mencintai koran-koran legendaris itu sebab saya kerap mengirimkan tulisan ke meja redaksinya dan beberapa pernah mereka terbitkan. Hingga periode 2000-an, koran-koran inilah 'juri' atau 'nabi' yang menabalkan status kepenulisan atau kesastrawanan seseorang. Tapi sejak kemunculan dunia saiber, yang kemudian diikuti histeria blog dan jejaring sosial, ribuan sastrawan bermunculan dan melakukan perlawanan terhadap apa yang mereka sebut 'sastra koran' itu.

Tapi saya tidak hendak membahas itu. Bahwa Sinar Harapan sudah tutup, langsung atau tidak, saya percaya merupakan dampak dari era internet atau media digital. Bagaimanapun, internet telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses  informasi dalam jumlah dan variasi yang tak terbatas, sehingga mengurangi kebutuhan akan media cetak. Akibatnya, tiras media cetak terus mengalami penurunan. Penurunan tiras berbanding lurus dengan penurunan pendapatan iklan dan itu adalah jalur berbahaya menuju krisis finansial.

Dan faktanya, dari hari ke hari, penggunaan internet kian masif bahkan hingga ke pelosok. Kenyataan itu diikuti dengan menggilanya media-media online. Program periklanan Google AdSense turut memancing menjamurnya media-media online, yang bisa dikelola dan dikembangkan oleh satu atau dua orang. Tentu saja dengan harapan bisa jadi penerbit (publisher) bagi AdSense.

Sebaliknya, perusahaan-perusahaan, baik besar maupun kecil, yang awalnya beriklan di media cetak untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya, kini mulai lari ke Adsense. Mengapa? Sebab pembiayaan dan efektifitasnya lebih terukur. Betapa dasyatnya AdSense ini, sampai-sampai jual-beli tanah kaplingan pun masuk ke sana.

Dan menarik merenungkan, bukan hanya Sinar Harapan yang gulung tikar, tapi beberapa media lain juga sudah bertumbangan. Koran Tempo, misalnya, kini hanya terbit 6 hari, Minggu diliburkan. Hal yang sama terjadi pada Indopos. Koran-koran kecil di berbagai daerah sudah banyak menerapkan strategi ini untuk mengurangi produksi. Sebab memang, koran edisi Minggu sulit laku dan sering kembali sebagai kerugian.

Tahun 2014, Harian Jurnal Nasional atau Jurnas sudah terlebih dahulu 'wafat'. Media ini berubah menjadi media online. Sebagian besar karyawan diberhentikan karena tidak sanggup lagi bertahan di tengah gempuran media digital.

Koran berbahasa Ingris, Jakarta Globe, yang terbit pertama kali tahun 2008, berhenti cetak karena ongkos produksi makin tinggi sementara jumlah pembaca terus susut dihantam internet. Kini Jakarta Globe hanya bisa berjuang dengan versi daring.

Media lain seperti Harian Bola,  kini berubah jadi media mingguan dengan nama Bola Sabtu. Media-media lain yang tergabung dalam grup Kompas Gramedia, ternyata telah banyak juga yang tutup, seperti Majalah Fortune, Chip dan Jeep.

Bukan hanya di Indonesia, malapetaka perusahaan pers ini juga terjadi di Amerika. Media cetak di negara ini hancur oleh media online, bahkan The New York Times pun  mengakui kehebatan media online. Media cetak ini mengakui oplahnya turun drastis. Untuk bertahan hidup, perusahaan ini menyewakan sebagian ruang di gedung kantor pusatnya di New York untuk membantu biaya operasional.

Sejumlah media legendaris di Amerika kini beralih ke online murni, seperti Tribune Co, Majalah Newsweek, Majalah Reader’s Digest, Rocky Mountain News, bahkan suratkabar terkemuka di Amerika, The Washington Post, harus dijual karena masalah finansial.

Lalu, berapa lama lagikah? Koran barangkali tidak akan mati, tapi alangkah beratnya jalan di depan. Generasi baru, mungkin saja pembaca berita yang rajin, tapi mereka tak kenal lagi media cetak. Smartphone atau gadget atau apapun istilahnya, setiap saat sudah mengantarkan berita ke hadapan kita. Bahkan menguntit kita hingga ke toilet. Alangkah resahnya...! ***
Bagikan:

Obat Alami Sakit Gigi

Pedangdut Indonesia yang terkenal, Meggi Z, membuat perbandingan antara sakit hati dengan sakit gigi. Katanya: daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini. Meski seolah-olah sakit hati lebih sakit dibanding sakit gigi, sesungguhnya lirik lagu itu justru menegaskan bahwa sakit gigi memang teramat sakit. Sakit hati itu subjektif dan maya. Sakit gigi itu objektif dan nyata. Begitulah, sakit gigi sudah sejak zaman dulu menjadi momok menakutkan bagi setiap orang.

Banyak faktor yang menjadi penyebab orang menderita sakit gigi. Namun hal itu tak akan dibahas di sini. Sebab tidak ada sesiapapun di muka bumi ini yang ingin sakit giginya. Setiap orang pasti berupaya agar tidak terserang sakit gigi. Namun demikian, adakalanya sakit ini muncul karena alasan-alasan yang tidak terdeteksi. Satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah berobat.

Silahkan Anda pergi ke dokter untuk mendapatkan obat sakit gigi yang dasar bersumber dari diagnosa dan ilmu kedokteran. Tapi ada baiknya Anda coba cara-cara tradisional berikut ini:

1. Jika sakit gigi Anda disebabkan oleh kondisi geraham yang sudah busuk dan berlobang, atau gusi bernanah, maka sebaiknya gigi tersebut dicabut. Coba Anda cari bunga widuri. Ambil akar atau batangnya, lakukan sesuatu seperti mengiris atau menumbuk agar getahnya keluar. Setelah mendapatkan getahnya, masukkan kira-kira 3 tetes ke gigi yang berlubang. Namun hindari agar gigi yang sehat tidak kena. Lakukan ini berkali-kali, semoga sakit gigi Anda sembuh.

2. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, kunyit juga memiliki khasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Sakit gigi akibat peradangan gusi, bisa diobati dengan kunyit. Ambil rimpang kunyit kira-kira seukuran ibu jari, bersihkan, lalu lumatkan dengan cara diiris-iris atau ditumbuk. Setelah itu, ambil gambir kurang lebih seukuran kunyit tadi. Rebus kedua bahan itu dalam 400 ml air atau sekitar 2 gelas. Rebus hingga airnya tinggal separuh atau 1 gelas. Setelah dingin, gunakan rebusan itu untuk kumur-kumur, antara 4-5 kali. Silahkan anda sesuaikan interval waktunya.

3. Jika sulit mendapatkan widuri, obat sakit gigi lain yang bisa diramu adalah terung kuning. Di beberapa daerah, terung ini dinamai terung bulat, terung pipih atau terung lonjong. Ketika masih muda, warna hijau seperti terung biasa. Tapi setelah tua, warnanya kekuning-kuningan, bentuknya bulat menyerupai tomat. Tapi ada juga yang pipih bahkan ada yang menyerupai jeruk. Untuk campuran resepnya, ambil daun sirih dan buah pinang. Bersihkan ketiga bahan itu, lalu tumbuk hingga halus. Setelah itu, tempelkan lumatan ramuan itu ke gigi yang sakit.

4. Tumbuhan atau bunga tapak kuda juga bagus untuk obat sakit gigi. Jika tidak bisa diperoleh langsung dari alam, tumbuhan ini bisa dibeli di toko rempah-rempah dalam wujud yang sudah dikeringkan. Untuk kebutuhan satu hari, ambil 150 gram akar tapak kuda kering, cuci bersih, lalu rebus dengan 1 liter air. Biarkan mendidih hingga airnya hanya tinggal 3 gelas. Dinginkan. Minum satu gelas dengan dosis 3 kali sehari.

5. Jika gusi Anda perih dan bernanah, ambil bunga landak. Yang digunakan adalah daunnya. Ambil beberapa helai daunnya yang masih segar, tumbuk halus. Setelah itu peras untuk mendapatkan airnya. Gunakan cairan ini untuk mengoles bagian gigi yang sakit.

Sekian beberapa tips mengobati sakit gigi secara tradisional. Semoga Anda tidak sakit hati lagi, eh...semoga tidak sakit gigi lagi. Selamat mencoba! ***
Bagikan:

Obat Tradisional Mengatasi Mimisan


Meskipun tergolong penyakit umum dan tidak berbahaya, mimisan kerap membuat orangtua khawatir dan panik karena berkaitan dengan darah. Siapa yang tak ngeri melihat darah? Oleh karena itu, setiap orangtua sebaiknya tenang dan bijak ketika menghadapi anak yang mimisan.


Alam kita telah menyediakan tumbuh-tumbuhan yang bisa mengobati mimisan dan siapapun bisa membuat resepnya. Berikut beberapa cara mengobati mimisan secara tradisional.

1. Minum rebusan akar ilalang

Ambil akar alang-alang dari huma atau lahan-lahan kosong di sekitar Anda. Setelah dibersihkan, tumbuk dan peras untuk mendapatkan airnya. Kemudian minumlah air rebusan itu 1 gelas sehari. Selain cara di atas, agar lebih praktis, daun alang-alang juga bisa direbus dengan perbandingkan 10 gram akar alang-alang untuk 1 gelas air. Misalnya, rebus 60 gram akar alang-alang, potong-potong lalu rebus dalam 6 gelas air. Biarkan mendidih hingga airnya tinggal setengah atau sekitar 2,5 gelas. Lalu dinginkan. Setelah itu minum satu gelas setiap haus.

2. Minum air daun sendok

Ambil kurang lebih 20 gram daun sendok yang masih segar, lalu tumbuk hingga halus. Setelah itu seduh atau campur dengan satu gelas air panas. Dinginkan. Lalu minum sekaligus.

3. Menyumbat hidung dengan daun sirih

Ambil beberapa helai daun sirih yang agak muda. Bersihkan. Karena daun muda masih lunak, cukup remas-remas agar getahnya keluar. Setelah itu gulung sesuai dengan bentuk yang dibutuhkan, lalu tempelkan untuk menyumbat hidung anak yang mimisan.

 

Itulah tiga cara yang kiranya dapat kita dilakukan untuk mengobati mimisan. Namun demikian, selain mengobati mimisan, tiga tumbuhan di atas juga memiliki manfaat untuk mengobati penyakit-penyakit lain dengan cara dan penggunaan yang berbeda. Akar alang-alang, misalnya, bisa juga digunakan untuk menurunkan panas dan menghentikan pendarahan.

Sirih, sebagaimana sudah diketahui umum, bisa dimanfaatkan untuk menambah ketahanan gigi dan kebersihan mulut. Dengan rajin mengunyah sirih, itu akan membuat gigi kuat dan tidak keropos. Sirih juga bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan bau badan. Cukup tumbuk daun sirih, lalu oleskan ke ketiak, dijamin bau Anda akan hilang. ***
Bagikan:

Standar Kompetensi Wartawan

Wartawan adalah sebuah profesi. Oleh karena ia profesi, maka harus dijalankan secara profesional. Sama seperti profesi lainnya, wartawan juga memiliki standar kompetensi. Dan untuk mencapai kompetensi itu, wartawan harus mengikuti uji kompetensi.


Untuk mengetahui lebih jelas standar kompetensi itu, berikut disajikan Peraturan Dewan Pers tentang hal itu. Peraturan ini saya catat ulang dari buku berjudul Pedoman Uji Kompetensi Wartawan, Penerapan Standar Kompetensi Wartwan, yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Dr. Soetomo atas dukungan Yayasan Tifa.

PERATURAN DEWAN PERS Nomor 1/Peraturan-DP/II/2010 Tentang STANDAR KOMPETENSI WARTAWAN

DEWAN PERS,

Menimbang:

a. Bahwa diperlukan standar untuk dapat menilai profesionalitas wartawan;
b. Bahwa belum terdapat standar kompetensi wartawan yang dapat digunakan oleh masyarakat pers;

c. Bahwa hasil rumusan Hari Pers Nasional tahun 2007 antara lain mendesak agar Dewan Pers segera memfasilitas perumusan standar kompetensi wartawan;

d. Bahwa demi kelancaran tugas dan fungsi Dewan Pers dan untuk memenuhi permintaan perusahaan pers, organisasi wartawan dan masyarakat pers maka Dewan Pers mengeluarkan Peraturan tentang Standar Kompetensi Wartawan.

Mengingat:
1. Pasal 15 ayat (2) huruf F Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers;2. Keputusan Presiden Nomor 7/M Tahun 2007 tanggal 9 Februari 2007, tentang Keanggotaan Dewan Pers periode tahun 2006-2009;
3. Peraturan Dewan Pers Nomor 3/Peraturan-DP/III/2008 tentang Standar Organisasi Perusahaan Pers;
4. Peraturan Dewan Pers Nomor 7/Peraturan-DP/III/2008 tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 04/SK-DP/III/2006 tentang Standar Organisasi Wartawan;
5. Pertemuan pengesahan Standar Kompetensi Wartawan yang dihadiri oleh organisasi pers, perusahaan pers organisasi wartawan, dan masyarakat pers serta Dewan Pers pada hari Selasa, 26 Januari 2010, di Jakarta;
6. Keputusan Sidang Pleno Dewan Pers pada hari Selasa tanggal 2 Februari 2010 di Jakarta.

MEMUTUSKAN

Menetapkan: Peraturan Dewan Pers tentang Standar Kompetensi Wartawan.

Pertama: Mengesahkan Standar Kompetensi Wartawan sebagaimana terlampir.Kedua: Peraturan Dewan Pers ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 2 Februari 2010

Ketua Dewan Pers,
ttd
Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA

Bagian I

Pendahuluan

A. Umum

Menjadi wartawan merupakan hak asasi seluruh warga negara. Tidak ada ketentuan yang membatasi hak seseorang untuk menjadi wartawan. Pekerjaan wartawan sendiri sangat berhubungan dengan kepentingan publik karena wartawan adalah bidan sejarah, pengawal kebenaran dan keadilan, pemuka pendapat, pelindung hak-hak pribadi masyarakat, musuh penjahat kemanusiaan seperti koruptor dan politisi busuk.

Oleh karena itu, dalam melaksanakan tugasnya wartawan harus memiliki standar kompentensi yang memadai dan disepakati oleh masyarakat pers. Standar kompetensi ini menjadi alat ukur profesionalitas wartawan.

Standar kompetensi wartawan (SKW) diperlukan untuk melindungi kepentingan publik dan hak pribadi masyarakat. Standar ini juga untuk menjaga kehormatan pekerjaan wartawan dan bukan untuk membatasi hak asasi warga negara menjadi wartawan.

Kompetensi wartawan pertama-pertama berkaitan dengan kemampuan intelektual dan pengetahuan umum. Di dalam kompetensi wartawan melekat pemahaman tentang pentingnya kemerdekaan berkomunikasi, berbangsa, dan bernegara yang demokratis.

Kompetensi wartawan meliputi kemampuan memahami etika dan hukum pers, konsepsi berita, penyusunan dan penyuntingan berita, serta bahasa. Dalam hal yang terakhir ini juga menyangkut kemahiran melakukannya, seperti juga kemampuan yang bersifat teknis sebagai wartawan profesional, yaitu mencari, memperoleh, menyimpan, memiliki, mengolah, serta membuat dan menyiarkan berita.

Untuk mencapai standar kompetensi, seorang wartawan harus mengikuti uji kompetensi yang dilakukan oleh lembaga yang telah diverifikasi Dewan Pers, yaitu perusahaan pers, organisasi wartawan, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan jurnalistik. Wartawan yang belum mengikuti uji kompetensi dinilai belum memiliki kompetensi sesuai standar kompetensi ini.

B. Pengertian

Standar adalah patokan baku yang menjadi pegangan ukuran dan dasar. Standar juga berarti model bagi karakter unggulan.

Kompetensi adalah kemampuan tertentu yang menggambarkan tingkatan khusus menyangkut kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan.

Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik berupa mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik, maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran lainnya.

Kompetensi wartawan adalah kemampuan wartawan untuk memahami, menguasai, dan menegakkan profesi jurnalistik atau kewartawanan serta kewenangan untuk menentukan (memutuskan) sesuatu di bidang kewartawanan. Hal itu menyangkut kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan.

Standar kompetensi wartawan adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan/keahlian, dan sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas kewartawanan.

C. Tujuan Standar Kompetensi Wartawan

1. Meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan.
2. Menjadi acuan sistem evaluasi kinerja wartawan oleh perusahaan pers.
3. Menegakkan kemerdekaan pers berdasarkan kepentingan publik.
4. Menjaga harkat dan martabat kewartawanan sebagai profesi khusus penghasil karya intelektual.
5. Menghindarkan penyalahgunaan profesi wartawan.
6. Menempatkan wartawan pada kedudukan strategis dalam industri pers.

D. Model dan Kategori Kompetensi

Dalam rumusan kompetensi wartawan ini digunakan model dan kategori kompetensi, yaitu:

- Kesadaran (awareness): mencakup kesadaran tentang etika dan hukum,   kepekaan jurnalistik, serta pentingnya jejaring dan lobi.
- Pengetahuan (knowledge): mencakup teori dan prinsip jurnalistik, pengetahuan   umum, dan pengetahuan khusus
- Keterampilan (skills): mencakup kegiatan 6M (mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi), serta melakukan riset/investigasi, analisis/prediksi, serta menggunakan alat dan teknologi informasi.

Kompetensi wartawan yang dirumuskan ini merupakan hal-hal mendasar yang harus dipahami, dimiliki, dan dikuasai oleh seorang wartawan. Kompetensi wartawan Indonesia yang dibutuhkan saat ini adalah sebagai berikut:

1. Kesadaran (awareness)

Dalam melaksanakan pekerjaannya wartawan dituntut menyadari norma-norma etika dan ketentuan hukum. Garis besar kompetensi kesadaran wartawan yang diperlukan bagi peningkatan kinerja dan profesionalisme wartawan adalah:

1.1 Kesadaran Etika dan Hukum

Kesadaran akan etika sangat penting dalam profesi kewartawanan, sehingga setiap langkah wartawan, termasuk dalam mengambil keputusan untuk menulis atau menyiarkan masalah atau peristiwa, akan selalu dilandasi pertimbangan yang matang. Kesadaran etika juga akan memudahkan wartawan dalam mengetahui dan menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan seperti melakukan plagiat atau menerima imbalan. Dengan kesadaran ini wartawan pun akan tepat dalam menentukan kelayakan berita atau menjaga kerahasiaan sumber.

Kurangnya kesadaran pada etika dapat berakibat serius berupa ketiadaan petunjuk moral, sesuatu yang dengan tegas mengarahkan dan memandu pada nilai-nilai dan prinsip yang harus dipegang. Kekurangan kesadaran juga dapat menyebabkan wartawan gagal dalam melaksanakan fungsinya.

Wartawan yang menyiarkan informasi tanpa arah berarti gagal menjalankan perannya untuk menyebarkan kebenaran suatu masalah dan peristiwa. Tanpa kemampuan menerapkan etika, wartawan rentan terhadap kesalahan dan dapat memunculkan persoalan yang berakibat tersiarnya informasi yang tidak akurat dan bias, menyentuh privasi, atau tidak menghargai sumber berita. Pada akhirnya hal itu menyebabkan kerja jurnalistik yang buruk.

Untuk menghindari hal–hal di atas wartawan wajib:

a. Memiliki integritas, tegas dalam prinsip, dan kuat dalam nilai. Dalam melaksanakan misinya wartawan harus beretika, memiliki tekad untuk berpegang pada standar jurnalistik yang tinggi, dan memiliki tanggung jawab.

b. Melayani kepentingan publik, mengingatkan yang berkuasa agar bertanggung jawab, dan menyuarakan yang tak bersuara agar didengar pendapatnya.

c. Berani dalam keyakinan, independen, mempertanyakan otoritas, dan menghargai perbedaan.

Wartawan harus terus meningkatkan kompetensi etikanya, karena wartawan yang terus melakukan hal itu akan lebih siap dalam menghadapi situasi yang pelik. Untuk meningkatkan kompetensi etika, wartawan perlu mendalami Kode Etik Jurnalistik dan kode etik organisasi wartawan masing-masing.

Sebagai pelengkap pemahaman etika, wartawan dituntut untuk memahami dan sadar ketentuan hukum yang terkait dengan kerja jurnalistik. Pemahaman tentang hal ini pun perlu terus ditingkatkan. Wartawan wajib menyerap dan memahami Undang-Undang Pers, menjaga kehormatan, dan melindungi hak-haknya.

Wartawan juga perlu tahu hal-hal mengenai penghinaan, pelanggaran terhadap privasi, dan berbagai ketentuan dengan narasumber (seperti off the record, sumber-sumber yang tak mau disebut namanya/confidential sources).

Kompetensi hukum menuntut penghargaan pada hukum, batas-batas hukum, dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan berani untuk memenuhi kepentingan publik dan menjaga demokrasi.

1.2 Kepekaan Jurnalistik

Kepekaan jurnalistik adalah naluri dan sikap diri wartawan dalam memahami, menangkap, dan mengungkap informasi tertentu yang bisa dikembangkan menjadi suatu karya jurnalistik.

1.3 Jejaring dan Lobi

Wartawan yang dalam tugasnya mengemban kebebasan pers sebesar-besarnya untuk  kepentingan rakyat harus sadar, kenal, dan memerlukan jejaring dan lobi yang seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya, sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya, akurat, terkini, dan komprehensif serta mendukung pelaksanaan profesi wartawan. Hal-hal di atas dapat dilakukan dengan:

a. Membangun jejaring dengan narasumber;
b. Membina relasi;
c. Memanfaatkan akses;
d. Menambah dan memperbarui basis data relasi;
e. Menjaga sikap profesional dan integritas sebagai wartawan.

2. Pengetahuan (knowledge)

Wartawan dituntut untuk memiliki teori dan prinsip jurnalistik, pengetahuan umum, serta pengetahuan khusus. Wartawan juga perlu mengetahui berbagai perkembangan informasi mutakhir bidangnya.

2.1 Pengetahuan umum

Pengetahuan umum mencakup pengetahuan umum dasar  tentang berbagai masalah seperti sosial, budaya, politik, hukum, sejarah, dan ekonomi. Wartawan dituntut untuk terus menambah pengetahuan agar mampu mengikuti dinamika sosial dan kemudian menyajikan informasi yang bermanfaat bagi khalayak.

2.2 Pengetahuan khusus

Pengetahuan khusus mencakup pengetahuan yang berkaitan dengan bidang liputan. Pengetahuan ini diperlukan agar liputan dan karya jurnalistik spesifik seorang wartawan lebih bermutu.

2.3 Pengetahuan teori dan prinsip jurnalistik

Pengetahuan teori dan prinsip jurnalistik mencakup pengetahuan tentang teori dan prinsip jurnalistik dan komunikasi. Memahami teori jurnalistik dan komunikasi penting bagi wartawan dalam menjalankan profesinya.

3. Keterampilan (skills)

Wartawan mutlak menguasai keterampilan jurnalistik seperti teknik menulis, teknik mewawancara, dan teknik menyunting. Selain itu, wartawan juga harus mampu melakukan riset, investigasi, analisis, dan penentuan arah pemberitaan serta terampil menggunakan alat kerjanya termasuk teknologi informasi.

3.1. Keterampilan peliputan (enam M). Keterampilan peliputan mencakup keterampilan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Format dan gaya peliputan terkait dengan medium dan khalayaknya.

3.2. Keterampilan menggunakan alat dan teknologi informasi.Keterampilan menggunakan alat mencakup keterampilan menggunakan semua peralatan termasuk teknologi informasi yang dibutuhkan untuk menunjang profesinya.

3.3. Keterampilan riset dan investigasi. Keterampilan riset dan investigasi mencakup kemampuan menggunakan sumber-sumber referensi dan data yang tersedia; serta keterampilan melacak dan memverifikasi informasi dari berbagai sumber.

3.4. Keterampilan analisis dan arah pemberitaan.Keterampilan analisis dan penentuan arah pemberitaan mencakup kemampuan mengumpulkan, membaca, dan menyaring fakta dan data kemudian mencari hubungan berbagai fakta dan data tersebut. Pada akhirnya wartawan dapat memberikan penilaian atau arah perkembangan dari suatu berita.

E. Kompetensi Kunci

Kompetensi kunci merupakan kemampuan yang harus dimiliki wartawan untuk mencapai kinerja yang dipersyaratkan dalam pelaksanaan tugas pada unit kompetensi tertentu. Kompetensi kunci terdiri dari 11 (sebelas) kategori kemampuan, yaitu:

1. Memahami dan menaati etika jurnalistik;
2. Mengidentifikasi masalah terkait yang memiliki nilai berita;
3. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi;
4. Menguasai bahasa;
5. Mengumpulkan dan menganalisis informasi (fakta dan data) dan informasi bahan berita;
6. Menyajikan berita;
7. Menyunting berita;
8. Merancang rubrik atau kanal halaman pemberitaan dan atau slot program pemberitaan;
9. Manajemen redaksi;
10. Menentukan kebijakan dan arah pemberitaan;
11. Menggunakan peralatan teknologi pemberitaan.

F. Lembaga Penguji Kompetensi

Lembaga yang dapat melaksanakan uji kompetensi wartawan adalah:
1. Perguruan tinggi yang memiliki program studi komunikasi/jurnalistik,
2. Lembaga pendidikan kewartawanan,
3. Perusahaan pers, dan
4. Organisasi wartawan.
Lembaga tersebut harus memenuhi kriteria Dewan Pers.

G. Ujian Kompetensi

1. Peserta yang dapat menjalani uji kompetensi adalah wartawan.
2. Wartawan yang belum berhasil dalam uji kompetensi dapat mengulang pada kesempatan ujian berikutnya di lembaga-lembaga penguji kompetensi.
3. Sengketa antarlembaga penguji atas hasil uji kompetensi wartawan, diselesaikan dan diputuskan oleh Dewan Pers.
4. Setelah menjalani jenjang kompetensi wartawan muda sekurang-kurangnya tiga tahun, yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi wartawan madya.
5. Setelah menjalani jenjang kompetensi wartawan madya sekurang-kurangnya dua tahun, yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi wartawan utama.
6. Sertifikat kompetensi berlaku sepanjang pemegang sertifikat tetap menjalankan tugas jurnalistik.
7. Wartawan pemegang sertifikat kompetensi yang tidak menjalankan tugas jurnalistik minimal selama dua tahun berturut-turut, jika akan kembali menjalankan tugas jurnalistik, diakui berada di jenjang kompetensi terakhir.
8. Hasil uji kompetensi ialah kompeten atau belum kompeten.
9. Perangkat uji kompetensi terdapat di Bagian III Standar Kompetensi Wartawan ini dan wajib digunakan oleh lembaga penguji saat melakukan uji kompetensi terhadap wartawan.
10. Soal ujian kompetensi disiapkan oleh lembaga penguji dengan mengacu ke perangkat uji kompetensi.
11. Wartawan dinilai kompeten jika memperoleh hasil minimal 70 dari skala penilaian 10–100.

H. Lembaga Sertifikasi Profesi

Lembaga penguji menentukan kelulusan wartawan dalam uji kompetensi dan Dewan Pers mengesahkan kelulusan uji kompetensi tersebut.

1. Pemimpin Redaksi

Pemimpin redaksi menempati posisi strategis dalam perusahaan pers dan dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap tingkat profesionalitas pers. Oleh karena itu, pemimpin redaksi haruslah yang telah berada dalam jenjang kompetensi wartawan utama dan memiliki pengalaman yang memadai. Kendati demikian, tidak boleh ada ketentuan yang bersifat diskriminatif dan melawan pertumbuhan alamiah yang menghalangi seseorang menjadi pemimpin redaksi.

Wartawan yang dapat menjadi pemimpin redaksi ialah mereka yang telah memiliki kompetensi wartawan utama dan pengalaman kerja sebagai wartawan minimal 5 (lima) tahun.

J. Penanggung Jawab

Sesuai dengan UU Pers, yang dimaksud dengan penanggung jawab adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi. Dalam posisi itu penanggung jawab dianggap bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses dan hasil produksi serta konsekuensi hukum perusahaannya. Oleh karena itu, penanggung jawab harus memiliki pengalaman dan kompetensi wartawan setara pemimpin redaksi.

K. Tokoh Pers

Tokoh-tokoh pers nasional yang reputasi dan karyanya sudah diakui oleh masyarakat pers dan telah berusia 50 tahun saat standar kompetensi wartawan ini diberlakukan dapat ditetapkan telah memiliki kompetensi wartawan. Penetapan ini dilakukan oleh Dewan Pers.

L. Lain-lain

Selambat-lambatnya dua tahun sejak diberlakukannya Standar Kompetensi Wartawan ini, perusahaan pers dan organisasi wartawan yang telah dinyatakan lulus verifikasi oleh Dewan Pers sebagai lembaga penguji Standar Kompetensi Wartawan harus menentukan jenjang kompetensi para wartawan di perusahaan atau organisasinya.

Perubahan Standar Kompetensi Wartawan dilakukan oleh masyarakat pers dan difasilitasi oleh Dewan Pers. ***
Bagikan:

26 Juli 2016

Terbelenggu Seks dan Sadisme

Keruntuhan rezim Orde Baru turut dirayakan secara gempita oleh dunia pers di Indonesia. Kebebasan pers berdengung riuh seperti kerumunan tawon yang hambur dari sarang. Ratusan bahkan ribuan media cetak bermunculan di berbagai kota di Indonesia secara tak terkendali, menciptakan euforia total.

Dan sejak itu, publik Indonesia berkenalan dengan media-media abujahal yang sensasional, sadis, sarat seks dan pornografi. Media-media semacam itu kemudian dikenal sebagai koran kriminal atau koran kuning. Tak hanya koran, majalah-majalah dewasa yang  kontennya melulu mengeksploitasi tubuh perempuan, juga membludak dan terdistribusi secara bebas. Tak mau ketinggalan, sejumlah program berbau seksual juga bermunculan di televisi.

Selain tema seks dan pornografi, berita bernuansa sadisme seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, aksi main hakim sendiri, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), juga menjadi 'barang mahal' yang diburu para jurnalis untuk disodorkan kepada publik. Judul-judul berita itu juga disajikan secara kasar dan terkadang membuat kuduk merinding ketika membacanya.

Dan memang, 'barang mahal' itu selalu laris manis. Maka tak heran, koran-koran kuning telah pula menjadi sejarah tersendiri dalam dinamika persuratkabaran Indonesia dalam hal tiras. Sebuah koran kriminal yang terbit di ibu kota provinsi, misalnya, bisa mencapai oplah puluhan bahkan ratusan ribu eksemplar. Ini di luar akal sehat dan mustahil bisa dicapai koran-koran putih. Alangkah dasyatnya berita cabul itu.

Tapi kini, koran-koran kuning itu perlahan-lahan mulai bertumbangan dan barangkali akan lenyap satu per satu di masa yang tak terlalu jauh. Dan akhir riwayat itu tentu saja disebabkan beberapa faktor. Pertama, terjadi pergeseran kesadaran, selera dan kebutuhan publik atas informasi yang bermanfaat dan berkualitas, sehingga berita-berita cabul ditinggalkan secara perlahan. Dan agaknya, sebagaimana hakikat euforia, sensasi juga tak akan bertahan lama.

Kedua, bisa saja karakter pembaca tidak berubah, tapi berpindah saluran ke media digital. Keunggulan karakteristik media digital tentu saja menyebabkan koran-koran kuning itu gampang digusur dan tersungkur. Sebab, koran hanya bisa menyajikan teks dan gambar, sementara media digital bisa menyajikannya sekaligus dengan video, rekaman, bahkan interaktif melalui plugin media sosial. Berita sensasional yang disajikan lengkap dengan video, tentu saja lebih 'menggairahkan' disimak ketimbang dibaca hanya dalam bentuk teks dan gambar.

Dan agaknya, kecenderungan paling masuk akal adalah faktor kedua. Meski sejumlah koran kuning mulai sekarat karena kehilangan tiras, media-media online justru menjamur secara masif. Bukan hanya situs berita, tapi situs-situs media cetak versi online turut pula mengikuti arus sensasional, gelombang seksualitas, pornografi dan sadisme. Dan begitulah faktanya, media online yang rajin menayangkan berita-berita sensasional berbau seks akan cepat memperoleh hits yang tinggi, sebuah tujuan yang memang ingin dicapai untuk merebut kue iklan.

Kondisi ini tentu saja sisi negatif media digital. Sisi positif dan keunggulan media dan jurnalisme digital akan diketengahkan pada artikel lain. Pertanyaannya adalah: apakah kondisi ini akan berlangsung selama-lamanya tanpa kontrol dari pihak-pihak berwenang? Padahal, Dewan Pers telah membuat peraturan agar media online mematuhi Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers Nomor 40 tahun 1999.

Kita khawatir, berita-berita itu akan mengubah standar dan pandangan masyarakat mengenai hal-hal yang bertentangan dengan norma dan hukum yang ada. Sebab, sebagaimana hakikat bahasa, semakin sering diungkapkan, ia semakin verbal dan kehilangan makna. Sebagai contoh, dulu mendengar kata 'selingkuh' saja kita rasanya masih sungkan dan malu, tapi kini kata itu sudah verbal dan sangat biasa. Kata-kata lain seperti 'dibunuh', 'diperkosa', 'dibakar hidup-hidup', dulu masih sangat mengerikan didengar, tapi karena kita terbiasa membaca kata-kata itu dalam judul berita, ia menjadi biasa.

Respon dan asosiasi pikiran juga semakin biasa memandang dan menanggapi peristiwa-peristiwa cabul dan sadis. Seorang anak membacok ayah, misalnya, terasa menjadi hal biasa. Istri selingkuh dan pergi bersama pria lain, juga terdengar biasa. Padahal, peristiwa itu adalah tragedi sosial mengerikan jika dihayati dengan hati nurani. Korupsi juga menjadi hal biasa karena setiap hari muncul dan tayang di televisi. Hukum tak mampu mengobatinya. Menurut saya, pada titik inilah berita semacam itu bekerja merusak moral dan adab manusia. Kita terbelenggu seks, sadisme, sensasi dan pornografi. Entahlah...!
Bagikan:

Bunga-bunga Berkhasiat Obat

Mari sejenak mengenang seorang dokter dari Leiden, negeri Belanda. Namanya Dr. Allamand. Siapakah Dr Allamand? Cari tahu sendiri. Hehe. Yang pasti, nama dokter ini telah abadi selama-lamanya, terutama ketika kita bicara tentang bunga Alamanda.
Ya, bunga alamanda, tanaman golongan semak-semak itu, dinamai dengan nama dokter itu. Tanaman hias ini banyak diminati karena bunganya berparas cantik. Ia penghias yang anggun dan dikagumi karena sangat cocok jadi pagar hidup. Membudidayakannya juga tidak terlalu sulit. Dengan stek, cangkok, atau menanam bijinya secara langsung, ia akan tumbuh menemani hidup kita. Dia bukan tanaman cengeng yang membutuhkan perawatan ekstra. Terimakasih kepada Dr. Allamand yang telah mengabadikan tanaman ini, sehingga kita bisa mengenalnya hingga saat ini.

Dan ternyata, bunga ini tak hanya diandalkan karena keindahannya. Ia juga sangat berguna bagi kesehatan. Sejumlah orang bercerita, akar dan daun alamanda bisa direbus, lalu diminum untuk mengobati sakit perut. Masyarakat tertentu di Jawa dan Sumatera, menggunakan air rebusan bunga alamanda sebagai obat. Uap dari rebusan alamanda dihirup saja dalam-dalam, batuk mudah-mudahan sembuh. Sesederhana itukah?

Ya, obat-obat dari alam memang sederhana. Dan tentu kita tak memerlukan biaya besar meraciknya. Jika pekarangan Anda sedikit lapang, tanamlah bunga alamanda, terutama pada bagian sudut atau sekitar pagar.

Lagu Kenangan

Siapa yang tidak terharu mendengarkan lagu God Bless berjudul Rumah Kita? Lagu yang sangat teduh, kuat mengesankan kenyataan betapa desa memang menyuguhkan kehidupan indah. Jika dihayati, lagu ini meresapkan syukur yang murni. Dan di lagu itu, bunga bakung ikut tumbuh, menguarkan aroma aroma damai.

Dan bagi Anda yang suka suasana senja, bunga ini sebaiknya dicintai, sebab itulah uniknya:  bunga umumnya mekar di pagi hari, tapi bakung mekar pada sore hari. Sebuah suasana lagi terjanjikan: mendengar lagu sambil menikmati bunga dan matahari tenggelam. Bunga bakung juga berkhasiat untuk kesehatan. Para ahli sudah meneliti bahwa bunga bakung mengandung banyak zat yang bisa mengobati luka memar, sakit gigi dan sakit pinggang.

Untuk mengobati luka memar, daun bakung cukup diolesi minyak kelapa, lalu dipanggang hingga layu. Setelah layu dan lunak, tempelkan ke bagian tubuh atau kulit yang terluka. Sementara untuk sakit gigi, akar bunga bakung ditumbuk sampai halus setelah dicuci bersih. Lalu dioleskan atau dibalurkan pada bagian gigi yang sakit.

Sementara untuk obat sakit pinggang, ambil akar dan daun bakung, sama banyaknya. Misalnya 20 gram akar, 20 gram daun, dan ditambah jahe merah 20 gram. Bahan-bahan itu digiling dan dioleskan pada bagian pinggang. Jika hal ini dilakukan secara rutin, mudah-mudahan sakit Anda akan sembuh.

Sepatu Kenangan

Saya ingat persis, masa kanak-kanak saya penuh dengan bunga-bunga. Salah satu bunga yang tak mungkin lepas dari kenangan adalah kembang sepatu. Dulu, di halaman rumah kami yang gubuk itu, bunga ini tumbuh subur dan 'terkesan' liar.

Menurut sejarahnya, bunga ini berasal dari negeri Tiongkok. Ketika orang-orang Eropa datang ke Asia Timur, mereka menemukan bunga ini. Warnanya yang merah muda dan putih sungguh mempesona. Ada juga yang berwarna kuning. Dari Tiongkok, tanaman ini menyebar ke berbagai penjuru.

Di desa, bunga ini turut menegakkan kearifan lokal. Ia ditanam sebagai pembatas tanah, penjaga kesemestian hak sesama penduduk desa. Tentu, sekaligus berfungsi sebagai penghias halaman dan kebun-kebun di pekarangan. Untuk kesehatan, jangan diragukan. Orang-orang Melayu di masa lampau menggunakan bunga ini sebagai obat penawar racun. Bunga cukup diseduh dalam air panas, lalu diminum.

Untuk anak-anak yang demam, akar bunga kembang sepatu bisa jadi obat. Setelah dicuci bersih, ditumbuk hingga halus, dan direbus dalam air mendidih selama 30 menit, kemudian air rebusan itu diminum setelah disaring. Bunga kembang sepatu juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati batuk dan sariawan, bunganya cukup direbus lalu diminum. Masih sangat banyak kegunaan bunga ini, termasuk obat sakit kepala. Daunnya direbus kira-kira setengah jam, sangat berkasiat meredakan sakit kepala Anda. ***
Bagikan:

25 Juli 2016

Memahami Makna Sapangambei


Oleh: Panda MT Siallagan

Semakin panjang alasan untuk tidak percaya lagi pada ‘yang transedental’. Kematian seyogianya dipahami  sebagai tanda atau jalan menempuh makna itu. Tapi agaknya, kita kian kehilangan arah terhadap ruang-ruang kontemplatif.


Hari-hari ini, kita semakin banyak menyaksikan kisah-kisah pembunuhan sadis yang selalu menyedot perhatian publik. Bagi sebagian orang, kasus-kasus itu melelahkan dan memedihkan. Bagi sebagian yang lain, itu menakutkan. Dan media, demi kepentingan bisnis, sah-sah saja mengeksploitasi segala yang mungkin tersirat dalam peristiwa sambil bertaruh secara profesional dengan kaidah-kaidah jurnalistik.

Kini terbersit tanya, mengapa pembunuhan sadis bisa terjadi hanya karena motif sederhana? Sudah begitu tak berhargakah kehidupan dan masa depan? Tapi kita tak hendak bicara tentang itu. Jika polisi ingin menyederhanakan kasus agar tugas mereka segera tuntas, atau ingin menutup kemungkinan keterlibatan pihak lain yang perlu ‘diamankan’, itu bukan urusan kita.

Substansi dukungan kita terhadap seluruh kinerja penegak hukum adalah pengusutan tuntas terhadap seluruh kasus, termasuk kasus pidana lain yang juga melukai hati rakyat, semisal korupsi. Sekali lagi, kita sampaikan dukungan penuh kepada penegak hukum, sekaligus kita tunggu konsistensi, integritas dan profesionalitas mereka.

Begitulah, di dunia yang tersaput kegelapan dan kemurungan ini, peristiwa demi peristiwa akan terus berlangsung. Dan segalanya mendesak diselesaikan. Dan terhadap semua hal, kepada kita telah dikabarkan sejak lama betapa pentingnya teamwork. Jalan sukses selalu terhidang lebih lapang pada rumus itu. Pada titik ini, saya teringat kata sapangambei, satu kata dari bahasa Simalungun.

Saya tak bisa menjelaskan makna kata ini secara etimologis. Tapi secara harafiah, kata ini dapat dimaknai sebagai teamwork, seiring-sejalan, seide-seperasaan, atau istilah lain yang mengacu pada makna itu. Sebab bahasa daerah selalu tak luput dari nilai-nilai filosofis. Sapangambei mengandung nilai budaya dan adat, bukan hanya seiring sejalan, tapi sekaligus menyimpan kebenaran yang khas dan mendasar: jujur dan tulus.

Maka segala rekayasa dan manipulasi, meski untuk tujuan bersama, terlebih ingin mengaburkan kebenaran, saya pikir tak termasuk dalam konteks makna ini. Maka, dalam konteks kerja sektor apapun, sapangambei mutlak diperlukan. Barangkali, bahasa keren dari sapangambei yang kerap kita dengar dan lontarkan adalah sinergi.

Maka untuk mengusut dan membongkar kasus-kasus, misalnya, polisi harus bersinergi dengan berbagai pihak. Pendapat atau asumsi warga tak selalu lahir sebagai asumsi negatif. Sebaliknya, asumsi negatif bisa menjelma kekuatan positif jika ditanggapi dengan jernih dan cerdas.

Sejalan dengan itu, kita kemudian bertanya, kenapa pemerintah bisa berubah wujud jadi Tuan yang harus dihormati dan dilayani? Substansi kepemimpinan sesungguhnya terletak pada pemahaman dan kesediaan melayani rakyat. Dan semua kita memahami itu. Semua kita telah lama diajarkan tentang hal itu. Dan sapangambei bisa menjadi jalan atau jembatan bagi seluruh pihak menuju tujuan bersama. Bupati bukan penguasa, demikian juga walikota.

Tapi kemudian sapangambei berakhir menjadi sebatas kompromi dan negoisasi terbatas antara pemilik akses dengan penguasa. Model ini sesungguhnya melukai, tapi banyak pihak memilihnya jadi jalan tengah demi pembenaran terhadap situasi yang tak lagi terselamatkan. Sapangambei menjalankan urusan atau negoisasi yang entah kapan bisa diakhiri. Dan kita tahu: semua itu tak akan berakhir sebelum korupsi dan pengkhianatan berakhir.

Akan tetapi, yang murni dan yang najis memang menyimpan pesona masing-masing. Dan kita kerap menyerah pada zaman dan situasi di mana kita hidup dan berkarya. Kita tahu kebenaran kerap tersisihkan, tapi kita kerap sapangambei, berkomplot mengamini segala yang tercemar di hadapan adat dan Tuhan, bahkan kerap menumpuk kebatilan atas nama adat dan Tuhan.

Barangkali kita harus kembali menjenguk diri. Jika Anda pernah merampok, jangan menghakimi maling kecil. Jika Anda diminta berdoa, jangan berjoget atau menari. Sudah terlalu panjang alasan untuk tidak percaya pada yang transendental. Rasa kecewa yang tiada akhir akan menjerumuskan kita pada kemarahan yang kemudian mendidik kita jadi manusia kompromis.

Baiklah, saya akhiri goresan ini dengan sedikit ngawur. Sebab barangkali, ngawur adalah salah satu cara mempertahankan hidup dari kekalahan dan ketidakmampuan. Tapi jika terus menerus bicara ngawur, kita akan kehilangan arah. Dan makna sapangambei akan kian jauh, jauh dan terus menjauh. Dan barangkali, hanya kata-kata dan laku bijak yang mampu mengantarkan kita pada tempat yang ditinggikan dan dimuliakan. ***

Bagikan: