Tampilkan postingan dengan label ESEI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESEI. Tampilkan semua postingan

05 Maret 2023

Lirik Lagu Ho Ma Donganhu dan Artinya - Flora Hasugian

Ho Ma Donganhu

Cipt: Robert Marbun
Artis: Flora Hasugian
Prod: Parulian Music Official

Flora Hasugian

Holongni rohanghi
Nungnga hulehon di ho
Holan di ho hasian
Holan di ho pariban

(Cinta kasihku
Sudah kuberikan untukmu
Hanya untukmu sayang
Hanya untukmu kekasih)

Ihuthononhu ho
Manang tu dia ho lao
Sai di lambungmu ma au
Sai dongananhu ma ho

(Aku akan mengikutimu
Ke mana pun kau pergi
Aku akan selalu di sampingmu
Akan selalu mendampingimu)

Manang alogo, manang ambolas
Suruhonhu do i da ito raphon ho
Manang rais pe, manang tungkis pe
Jururonhu do i da ito raphon ho

(Walaupun angin, walaupun badai
Aku kuterobos bersamamu
Walaupun terjal, walaupun curam
Akan kulalui bersamamu)

Ho ma donganhu
Ingkon ho hasian
Ho di lambunghu
Asa pos rohanghi

(Kaulah temanku
Harus kau, sayang
Kau di sisiku
Agar hatiku tenang)

#musik

Ho...ooo....
Ihuthononhu ho
Manang tu dia ho lao
Sai di lambungmu ma au
Sai dongananhu ma ho

Manang alogo, manang ambolas
Suruhonhu do i da ito raphon ho
Manang rais pe, manang tungkis pe
Jururonhu do i da ito raphon ho

Ho ma donganhu
Ingkon ho hasian
Ho di lambunghu
Asa pos rohanghi

Ho ma donganhu
Ingkon ho hasian
Ho di lambunghu
Asa pos rohanghi
Asa pos rohanghi

*****

Bagikan:

11 September 2022

Lirik Lagu Arta Tading-tadingan - Trio Santana


Arta Tading-tadingan

Cipt: Sadar Siahaan
Vocal: Trio Santana
Prod: Moments Mo-15 Record

Trio Santana

Uju di ngolu ni damang 
Nang dainang i
Sonang jala dame do 
Hami pinoparmon
Marsiamin-aminan 
Songon lampak ni gaol
Marsitungkol-tungkolan 
Songon suhat ni robean

Dung marujung ngolu 
Da mang parsinuan i
Mandapothon da inang i 
Tu siharoburan i
Gabe sopot so marama 
So marina hami on
I do gabe bingkas 
Singkam mabarbar i

Hape so mahiang dope among 
Tano tinambormi
Songon sillam manoro da inang 
Di hos ni ari i
Tumpu disoro deba amonge
Holong ni roha i

Ai nungnga tubu parbadaan 
Di pinoparmon
Marbonsir sian arta 
Tading-tadinganmi
Na gabe hamamago 
Di na marsarurut i
Na gabe pargulutan 
Di sude pinomparmi

#musik

Dung marujung ngolu 
Da mang parsinuan i
Mandapothon da inang i 
Tu siharoburan i
Gabe sopot so marama 
So marina hami on
I do gabe bingkas 
Singkam mabarbar i

Hape so mahiang dope among 
Tano tinambormi
Songon sillam manoro da inang 
Di hos ni ari i
Tumpu disoro deba amonge
Holong ni roha i

Ai nungnga tubu parbadaan 
Di pinoparmon
Marbonsir sian arta 
Tading-tadinganmi
Na gabe hamamago 
Di na marsarurut i
Na gabe pargulutan 
Di sude pinomparmi

Na gabe hamamago 
Di na marsarurut i
Na gabe pargulutan 
Di sude pinomparmi

*****

Bagikan:

06 Juni 2020

Sastra Sebagai Fenomena Budaya

Oleh: Thompson Hs

Budaya dalam perkembangannya mengalami pengertian yang berbeda-beda. Awalnya hanya diartikan sebagai akal budi dengan bentuk-bentuknya yang dapat dilihat dalam kebiasaan, adat-istiadat, dan tradisi. Semua bentuk budaya didasarkan kepada manusia yang memiliki akal budi itu. Manusia menjadi subjek dalam budaya. Melalui akal budi, manusia mengembangkan budaya yang dimilikinya hingga mampu diwariskan. Dalam satu umpasa atau bentuk pantun dalam masyarakat Batak Toba, hal pewarisan itu disampaikan dengan:/ompunta naparjolo/martungkothon sialagundi/napinungka ni naparjolo/siihuthon ni naparpudi/(leluhur kita memakai tongkat kayu sialagundi, yang dirintis para pendahulu diteruskan generasi baru).

Ilustrasi.
Bentuk pantun di atas merupakan amanah, meskipun bentuk amanah itu masih abstrak. Apa saja yang diwariskan leluhur untuk diteruskan oleh generasi baru? Nah, di sini kita mulai ditantang untuk mengenal bentuk-bentuk budaya yang pernah dirintis leluhur kita. Atau bentuk-bentuk budaya yang dimaksud berada dalam diri dan lingkungan yang kita hidupi. Dalam kehidupan sehari-hari saat ini kita memakai pakaian yang pantas dianggap berbudaya. Sedangkan dahulu leluhur kita hampir tidak mengenalnya, kecuali melalui daun-daun dan hasil tenunan manual untuk menutupi tubuh mereka dari serangan cuaca yang dingin.

Mereka menyelesaikan tahap berpindah-pindah (nomaden) dengan mendirikan gubuk atau rumah tradisional, sekaligus untuk menghindari serangan hewan buas dan musuh. Atau dengan sekian lama harus tinggal di gua-gua dengan menemukan percikan api dari batu-batu, sehingga memori itu diwujudkan kemudian sebagai makam. Ritual pemakaman ke tempat-tempat tertentu menjadi bagian dari budaya. Malahan dengan aktifnya akal budi manusia, ritual pemakaman tidak selalu sederhana dan disesuaikan dengan status seseorang sewaktu meninggal.

Kembali saya ambil contoh dari masyarakat Batak Toba atas tingkatan seseorang sewaktu meninggal. Ini hanya contoh kecil; antara sarimatua dan saurmatua. Seseorang yang meninggal dalam keadaan sarimatua maksudnya masih punya beban dengan putra atau putri yang belum menikah. Sehingga dalam proses ritual atau upacara adatnya dipastikan aturan-aturan yang berlaku, seperti penyediaan hewan tertentu untuk bayar adat. Hewan tertentu itu paling tinggi misalnya sebatas lembu. Tidak bisa kerbau karena belum saurmatua atau tanpa tanggungan lagi. untuk status saurmatua juga perlakuan lebih terkadang dilakukan. Sebelum meninggal, untuk seseorang yang sudah saurmatua dapat dilakukan tanda adatnya dengan pesta sulang-sulang hariapan. Semua pihak yang terkait secara adat sudah mengerti maksudnya dengan pesta itu. Secara bergiliran semua pihak menyuguhkan makanan kepada situa sebelum meninggal dan semua keturunannya dianggap pada saat itu sudah membayar adat kematian. Pada seseorang yang saurmatua sewaktu meninggal, tangis dapat menjadi hiburan dan tawa, apalagi diekspresikan dengan andung (senandung pilu) yang bercerita tentang kehidupan situa, yang dulu dilakukan seseorang secara khusus atau kerabat terdekat yang ahli bersenandung.

Dari lahir sampai mati manusia diwarnai oleh bentuk-bentuk budaya dan perubahannya karena interaksi dengan budaya lain. Malahan ada kalanya bentuk-bentuk budaya tertentu menjadi punah karena lebih dipengaruhi atau dijajah budaya yang asing sebelumnya. Kasus keterpengaruhan dan keterjajahan budaya itu bisa menimbulkan budaya perang. Budaya perang melahirkan senjata-senjata dan benteng pertahanan. Teknologi perang dikembangkan karena antar budaya dianggap akan selalu memusnahkan dan memilih menjadi pemenang. Seiring dengan waktu dan banyaknya korban, budaya damai dapat muncul dan membentuk aturan-aturan baru ketika melaksanakan perang.

Dulu dalam masyarakat Batak Toba juga demikian. Ada aturan perang. Kepada pihak yang sudah dianggap musuh dilakukan dialog satu dua kali. Kalau tidak ada kesepahaman ketiga kalinya dilakukan tanda dengan manutung longit (membakar daging untuk tanda bersama memerangi musuh). Kemudian mengirimkan pulas atau pernyataan perang. Sisa yang kalah dengan banyak korban dapat dijadikan hatoban atau budak. Namun pada masa tertentu perbudakan dihapuskan karena itu tidak sesuai dengan transformasi budaya yang baru seperti dalihan natolu.

Budaya dalam sastra dapat menjadi objek dan ekspresi pengarangnya. Sebagai objek, pengarang dapat mengangkat persoalan budaya sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Seorang pengarang seperti Ahmad Tohari melakukan hal itu melalui novel Triloginya (Ronggeng Dukuh Paruk – 1982, Lintang Kemukus Dini Hari – 1985, Jentera Bianglala – 1986) dengan mengangkat dunia ronggeng dan seorang tokoh penarinya bernama Srintil.

Ronggeng dikenal dengan sebutan lain dengan tayub, adalah bentuk tari tradisional Jawa yang gerak-geriknya dapat mengundang rasa sensual. Ini seperti Jaipongan di Sunda. Umar Kayam dengan novel “Para Priyayi” (1992) mengangkat kehidupan keluarga priyayi yang berbeda dan punya persoalan khusus dalam strata masyarakat Jawa yang feodal. Jauh sebelum kedua pengarang itu, Nur Sutan Iskanda juga pernah menggarap Bali dalam novel “Djangir Bali” (1956). Namun menurut Prof. A.A Teeuw, gambaran Bali dalam novel ini masih belum detail. Pengetahuan pengarang atas budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya sastra akan diuji oleh pembacanya.

Pada masa zaman Balai Pustaka para pembaca sastra merupakan para intelektual pra-kemerdekaan Indonesia. Baru pada masa Pujangga Baru bacaan sastra menyebar kepada masyarakat hingga memengaruhi munculnya roman-roman yang menggambarkan situasi sosial dengan warna-warni budayanya.

Gambaran budaya yang diangkat dalam sastra tetap menjadi bahan perhatian para pengarang. Formulasi budaya itu sendiri dimanfaatkan oleh para perintis modern Indonesia seperti Muhamad Yamin, Sanusi Pane, Armin Pane, Amir Hamzah, sampai kepada Sitor Situmorang. Mereka semua dalam puisi-puisinya menggunakan pola pantun dan syair. Ingat misalnya dengan salah satu puisi Sitor Situmorang.

LAGU GADIS ITALI
Buat Silvana Maccari

Kerling Danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di Teluk Napoli

Kerling Danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari

Kerling Danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati

Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur

(dari: Dalam Sajak, Pustaka Jaya 1955)

Melalui contoh-contoh di atas, sastra sebagai fenomena budaya tergantung kepada pengetahuan pengarangnya. Pasti masih banyak lagi karya sastra menggambarkan keadaan budaya, yang pada tahun 1990-an dikenal sebagai lokalitas dalam sastra. Lokalitas itu bukan sekedar warna lokal yang ditunjukkan melalui judul-judul dan ungkapan-ungkapan bahasa daerah. Lokalitas dimaksudkan bukan untuk satu tujuan rindu pengarangnya.

Di Sumatera Utara ada beberapa pengarang sempat memberikan perhatiannya atas warna lokal itu. Misalnya bisa kita lihat melalui judul-judul yang ditawarkan: “Ompungku Parturi” Supri Harahap (2005), Na Ni Arsik” Pandapotan MT Siallagan (2005), “Purpursage” Harta Pinem (2006), dan “Ucok dan Pak Bintang” Sri RM (2006).

Dalam buku “Sampan Zulaiha” (2011), kumpulan cerpen Hasan Al Banna terekam perhatian besar pada warna lokal. Sampai salah satu dari 14 judul dalam buku itu mengangkat kehidupan pemain Opera Batak terdahulu. Judul cerpen itu adalah Ceracau Ompu Gabe. Cerpen itu pernah dimuat di Harian Kompas, 30 Desember 2007, lima tahun setelah program revitalisasi Opera Batak dimulai kembali. Cerpen terkait Opera Batak pernah juga dibuat oleh Idris Pasaribu dan dimuat suatu waktu di Harian Analisa. Idris Pasaribu juga mengangkat warna lokal dengan novel “Pincalang” dan “Mangalua”.

Perhatian para pengarang itu atas budaya dapat merupakan bentuk pelestarian, meskipun kesannya hanya berlatar warna lokal dan ternyata ingin menggambarkan situasi sosial yang terkait dengan budaya itu. Lucya Chriz dengan novel pertamanya yang berjudul “Amang Parsinuan” (2011) sempat ingin diangkat menjadi sebuah filem. Namun warna lokal dalam sastra mungkin tidak selamanya menjadi semakin menarik diangkat ke media seni yang lain seperti filem. Malahan dapat membukakan pengetahuan sang pengarang sesungguhnya bukan untuk membuat karya sastra yang “ melestarikan” budaya itu.

Budaya dalam teknis yang paling baru dikenal melalui terminologi ‘tradisi lisan’. Ada banyak potensi budaya yang diwariskan secara lisan diteliti ulang kembali manfaatnya. Sastra lisan seperti mitos, legenda, dan berbagai cerita lisan rakyat juga tercakup sebagai bagian dari tradisi lisan. Yang penting sistem pewarisannya dilakukan secara lisan dalam beberapa generasi atau turun-temurun. Secara objektif harus ada penelitian-penelitian untuk mengangkat kembali tradisi lisan kita untuk sastra tulis.

Pluralisme budaya saat ini membedakan budaya terdahulu melalui tradisi lisan. Dari hitungan masa, sebuah subjek budaya dianggap sebagai tradisi lisan kalau sistem pewarisannya sudah berlangsung sampai tiga generasi atau mencapai 100 tahun. Sastra sebagai fenomena budaya bertanggung jawab dalam pelestarian itu. Tidak ada masalah bagi para pengarang kalau berada di dalam atau di luar subjek budaya itu. Kalau berada di dalam anggaplah itu sebagai jalan pulang.

Seperti yang dilakukan Saut Poltak Tambunan atas terbitan beberapa buku sastra berbahasa Batak Toba (Mandera Na Metmet – 2012, Situmoing Manggorga Ari Sogot – 2013, dan lain-lain). Bahasa sebagai unsur budaya sekaligus sudah dilestarikan dengan terbitan-terbitan itu. Pada 2013 lalu juga terbit sebuah novel berbahasa Mandailing dengan judul Mangirurut (Mhd. Bakhsan Parinduri, Deli Grafika Medan, 308 halaman).

Saya ingin menutup tulisan ini dengan satu judul puisi yang sumber penciptaannya saya ambil dari tradisi lisan “belajar mengucapkan /R/”.

MARSIAJAR MANDOK [r]

ihuthon majo nahudok on:
runsur urur tu rura, disarat-sarat
babi rere tu bara
...
rere nisi riris narara, riritma
boru ni nahea mamora
...
niraprap ringkorang sap mudar, orai horbo
mangarembe di ambar
...
rimbe-rimbe di rimbo, babiat
panoro lam rarat di joro
...
boras dirondam tu itak gurgur, rap
horas jolma dohot hoda manimur
...
ulahi majo sude nahudok ondeng:
...
...
toema nunga malo ho mandok [r]
nunga habis [r] holan tu ho
...
eh, unang pola ulahi naparpudi on
nunga sidung parsiajaranmu!

(Pematangsiantar, 2011)


DAFTAR BACAAN
1. Al Banna, Hasan, 2011, Kumpulan Cerpen “Sampan Zulaiha”, Depok: Koekoesan
2. Alisjahbana, S. Takdir, 1977, “Perjuangan Tanggung Jawab Dalam Kesusastraan”, Jakarta: Pustaka Jaya
3. Andangjaya, Hartoyo, 1982, “Pola-pola Pantun dalam Persajakan Indonesia Modern” (dalam “Sejumlah Masalah Sastra” Satyagraha Hurip, Ed.): Jakarta: Sinar Harapan
4. Basuki Ks, Sunaryo, 2009, Kumpulan Tulisan “dari Wisata Bahasa hingga Sastra Selangkangan”, Bali: Pustaka Larasan
5. Esten, Mursal Prof. Dr., 1999, “Desentralisasi Kebudayaan”, Bandung: Penerbit Angkasa
6. Heraty, Toety, Dr., 1984, “Aku Dalam Budaya”, Jakarta: Pustaka Jaya
7. Kasijanto & Sapardi Djoko Damono(Ed.), 1981, “Tifa Budaya”, Jakarta: Leppenas
8. Moedjanto G, MA dkk, 1992, “Tantangan Kemanusiaan Universal” Yogyakarta, Kanisius
9. Moriyama, Mikihiro, 2005, “Semangat Baru – Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesusastraan Sunda Abad ke-19”, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
10. PSN IX dan Persi 1997, 1997, Kumpulan Makalah “ Panorama Sastra Nusantara”, Jakarta: Balai Pustaka
11. Ray, Asha dkk, 2006, Kumpulan Cerpen Sulawesi Selatan “Setapak Salirang”, Yogyakarta: Insist Press
12. Siregar, H. Ahmad Samin & Harun Al Rasyid, 2001, kumpulan Makalah “Sastra dan Masalah Pluralisme Budaya”, Medan: USU Press
13. Sutrisno, Sulastin, Dr, dkk, 1985, “Bahasa – Sastra – Budaya”, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
14. Teuuw, A. Prof. Dr., 1942, Pokok dan Tokoh”, Jakarta: PT Pembangunansa.

****

Catt: Artikel ini dikutip dari akun Facebook milik Thomspson Hs.
Bagikan:

13 April 2019

Lirik Lagu Boan Ma Au dan Artinya - Dorman Manik


Boan Ma Au
(Bawalah Aku)

Dorman Manik
Vocal: Dorman Manik
Ciptaan: Tagor Tampubolon

Ai holan ho di rohanghi
Ai holan ho di nipikki
Dang boi huporso i
Holonghi tu ho

(Hanya kau di hatiku
Hanya kau di mimpiku
Tak bisa kubantah itu
Cintaku huntukmu)

Digoit ho do rohanghi
Digalmit ho do hurungmi
Dang tarlupahon au
Burjuni rohami

(Kau sentuh hatiku
Kau usap dagumu
Tak bisa kulupakan
Budi baikmu)

Reff:

Boan ma au tu lomomi
Rahut ma au di roham
Dang boi tarsirang au
Sian ho da hasian

(Bawalah aku kemana kau suka
Rengkuh aku di hatimu
Aku tak bisa terpisahkan
darimu, kekasih)

Unang buni be baen ito
Hatahon ma di roham
Hita nadua sahundulan
Rap sonang

(Jangan lagi sembunyikan
Katakan di hatimu
Kita duduk bersama
Sama-sama bahagia)

Digoit ho do rohanghi
Digalmit ho do hurummi
Dang tarlupahon au
Burjuni rohami

(Kau sentuh hatiku
Kau usap dagumu
Tak bisa kulupakan
Budi baikmu)

Kembali ke Reff

Bagikan:

31 Desember 2016

Tahun Baru yang Terbuat dari Tuak


Terbuat dari apakah Tahun Baru? Tanya seorang pemabuk kepada seorang penyair? Penyair menjawab: terbuat dari hatimu. Si Pemabuk merasa linglung. Tapi samar-samar, ia saksikan lampu teplok beterbangan ke udara. Ia tatap langit penuh cahaya.

Ilustrasi.

Dan saya terhenyak dan merasa bahagia membayangkan adegan antara pemabuk dan penyair itu. Tapi hidup bukan imajinasi, saya tinggalkan mereka dan mencoba menghayati waktu.

Tanggal 1 Januari 2017 kebetulan jatuh pada hari Minggu. Adakah diantara kita pernah bertanya, Minggu itu sesungguhnya apa? Artinya apa? Berasal dari bahasa apa? Kenapa rentang 7 hari disebut seminggu, atau 14 hari dua minggu, dan sebulan 4 minggu?

Tiba-tiba saya merasa seperti seorang pemabuk yang meracau tentang hal-hal tak berguna. Tapi syukurlah saya sekaligus merasa seperti seorang penyair yang bicara ngaur tapi penuh makna.

Dan ternyata, Minggu adalah hari pertama dalam satu pekan. Kata 'minggu' berasal bahasa Portugis, yaitu Domingo. Dalam bahasa Latin disebut Dominicus, yang artinya 'hari Tuhan kita'.

Konon, dulu sekali hingga abad 18, dalam bahasa Melayu lama, Minggu diucapkan dengan Dominggu. Lalu sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini berubah ejaannya menjadi Minggu. Sejak itu, Minggu terus mengalami perkembangan makna.

Kata minggu (dengan huruf 'm' kecil) dimaknai menjadi pekan, satuan waktu yang terdiri dari tujuh hari. Hari Minggu merupakan bagian akhir dari minggu.

Sebagian golongan menyebut Minggu dengan Ahad, berasal dari bahasa Arab. Memang masih jarang terdengar kata seahad, dua ahad, tiga ahad dan seterusnya. Yang lazim kita dengar adalah seminggu, dua minggu, tiga minggu dan seterusnya.

Apa hubungan racauanmu ini dengan Tahun Baru? Tiba-tiba saya dengar pemabuk itu bertanya, dan saya gugup: betul juga, apa hubungannya? Tapi saya coba tenang, dan menjawab pemabuk itu dengan lembut, seolah-olah saya adalah seorang penyair. Saya katakan padanya: tidak ada, kebetulan saja 1 Januari 2017 jatuh pada hari Minggu.

Pemabuk itu diam. Dan saya kembali memahami kenyataan. Kini saya bertanya pada diri sendiri. Kenapa disebut Tahun Baru? Dan kenapa tak ada istilah tahun lama? Apakah tahun lama sama dengan tahun lalu?

Kenapa pukul 00.01 disebut tahun baru, kenapa pukul 23.59 yang hanya berjarak satu menit tiba-tiba jadi tahun lama? Sebegitu cepatkah waktu aus? Sebegitu cepatkah waktu menjadi buruk? Betulkah ada tahun baru? Terbuat dari apakah Tahun Baru?

Tiba-tiba penyair itu menghampiri saya, dan bertanya: "Apakah kau sedang mabuk?"

"Tidak! Kebetulan saja saya tadi minum tuak," jawab saya.

"Nah, itulah jawaban atas pertanyaanmu yang ngaur itu. Tahun Baru terbuat dari tuak. Dan kau sedang mabuk," kata Penyair itu.

Saya tersinggung. Lalu saya berondong Penyair itu dengan rentetan pertanyaan: kenapa terompet-terompet itu berbunyi? Kenapa kembang api berkesiur seperti anak-anak cahaya? Kenapa mercon dan petasan itu meledak-ledak seperti anak-anak api yang melompat-lompat? Kenapa orang berbondong-bondong membeli benda-benda baru demi tahun baru? Kenapa orang menghambur-hamburkan uang dan waktu untuk pesta ini? Kenapa semua orang sangat ribut dan riuh? Kenapa mereka tak peduli terhadap orang-orang sakit? Saya yang mabuk atau mereka? Ayo jawab, saya yang mabuk atau mereka?

Penyair itu terkejut dan tercengang, lalu berkata: "Jika begitu, ayolah menyeberang. Kita songsong tahun baru. Di sana nanti aku akan memperkenalkan kau sebagai penyair dan aku akan minum tuak dan berlajar jadi pemabuk."

Lalu di samping kami, sebuah cahaya melesat ke arah langit, meledak menjadi bunga-bunga. Orang-orang berteriak penuh kegembiraan. Mereka bersalam-salaman. Dan saya makin linglung, bertanya dalam hati, sudah berapa lamakah saya tak pernah memaafkan? Sudah berapa lama?

Tak ada sahutan. Dan saya makin linglung, bertanya dalam linglung: sudah berapa lamakah saya lupa hari Minggu? Entahlah. Tapi pemabuk dan penyair itu berada di hatiku, sama-sama berbisik: "Tuhan menyayangimu."

Saya terharu dan kembali pada kenyataan. Saya coba menyapa orang-orang: Selamat Hari Minggu. SELAMAT TAHUN BARU. (Panda MT Siallagan)
Bagikan:

07 Desember 2016

Kemerdekaan: Meraut Bambu dengan Airmata


Oleh: Aiyuni Salis Utami Tanjung

Kita semua tahu, merdeka adalah kebebasan hak meraih kendali penuh atas seluruhwilayah. Kisah perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia yang digadangkan dengan senjatanya “Bambu runcing”, masih mengisahkan cerita pedih di masa kini. Meskipun yang dilihat oleh masyarakat Indonesia bahwa negeri ini sudah merdeka.

Ilustrasi.
Karya-karya sastra salah satunya puisi, masih banyak yang mengisahkan kepedihan akan jajahan. Salah satunya puisi Panda MT Siallagan yang berjudul “Setelah Bambu Meruncing Lagi Diraut Airmata”. Berikut bait pertama: a/ setelah bambu-bambu itu meruncing lagi diraut airmata, kami menunggal tanah-tanah yang telah terbakar di dalam jantung kami. kami tanami harapan-harapan, dan membesar jadi pohon-pohon di sepanjang usia kami…”

Indonesia berjuang sangat lama dengan senjata “Bambu runcing” mengharapkan kebebasan meski hanya dalam mimpi. Tapi kesan semangat juang dan pantang menyerah terus mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan hanyalah perintah semata. Seolah-olah negeri ini memang merdeka. Apakah demikian? Sampai sekarang pun yang paling utama adalah penguasa dan dikuasai.

Pengungkapan puisi Panda MT Siallagan dalam bait ke-dua: b/ setelah pada bambu dan pohon-pohon yang terbakar itu kami kibarkan bendera, kampung kami memancarkan warna merah dan putih. kami takjub, dan berpawai merayakan kemenangan itu. tapi kami tiba-tiba tersentak. kami ternyata sedang berjalan di atas genangan darah, tulang-tulang  saudara kami berserakan di halaman. kami ternyata tidak sedang mengibarkan bendera untuk memugar hutan, tapi melukis tanah dengan darah. dan menyusun serakan tulang-tulang jadi jalan raya”.

Seperti menggambarkan kemenangan sementara. Seperti halnya tercatat dalam sejarah (sumber: https://id.m.wikipedia.org, Konferensi Malino-Terbentuknya “Negara” Baru), pada bulan Juli 1946 terjadi suatu krisis dalam pemerintahan Indonesia, keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang telah menguasai sebelah Timur Nusantara. Di bawah Dr. Van Mook, organisasi-organisasi di seluruh Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian; Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Timur Raya. Latar belakang konferensi ini dalam rangka SEAC setelah Perang Dunia II, Australia menyerahkan kembali Indonesia Timur kepada Belanda (NICA) pada 15 Juli 1946.

Bait kedua seperti mengisahkan sebuah penyesalan, menang dalam perang tapi masih jadi budak di bawah perintah federasi Belanda. Semua orang tentu harus menikmati haknya dengan berusaha dan berdoa. Tapi pada masa penjajahan dulu (Belanda-Jepang), kematian adalah harga mati dari merdeka. Segala janji kebahagiaan pada masa itu sangat mudah dikhianati dan kembali menderita. Dalam bait ketiga pun bermakna demikian; c/ lalu kami berjalan di atasnya, mencoba membunuh ketakutan dengan ketajaman doa-doa. kami jelajahi jalan-jalan menuju kebebasan. tapi kami tersesat…”

Penulis sangat apik mendeskripsikan kewajaran fisik manusia, maksudnya setelah bekerja keras tentu akan mengalami kelelahan dan tentunya membutuhkan istirahat. Perjalanan panjang tentang perjuangan pun sama yang tercantum pada bait ke-empat: d/ akhirnya kami putuskan untuk rehat, lelap memeluk duka sendiri, tidur di kamar yang kami tukangi dengan airmata kami sendiri. dan di dalam mimpi kami, anak-anak bernyanyi: indonesia raya...merdeka...merdeka…"

Berakhir memasuki dunia mimpi sambil menghayati, memahami, memaknai kemerdekaan masa kini dengan masa lampau. Mendeskripsikan perjuangan yang lelah dan tertidur lalu bermimpi sambil menghayati nada-nada lagu kebangsaan dalam bait ke-lima: e/ kami menghayati nadanya dengan jiwa yang berdarah, dan menjadi kian tak paham memaknai kemerdekaan".

Penulisan puisi yang sangat kental dengan narasi dan deskripsi waktu sangat baik. Menggambarkan perasaan akan jajahan masa lalu. Membacanya seperti memutar film dokumentasi nasional tentang peperangan dengan senjata bambu runcing. Perincian puisi yang sangat apik membuat orang merasa bernostalgia akan sejarah kelam Indonesia.

Dalam khasanah sastra, kita perlu menggali sejarah sebagai bukti nyata yang relevan dalam dunia kepenulisan. Bukan hanya menulis tentang apa yang dirasa. Mengingat masalalu adalah kunci sukses sebuah karya sastra dalam hal menyadarkan akan masa-masa kelam yang mungkin akan punah ditelan zaman. Tapi sastra mendokumentasikan perjalanan sejarah. Apalagi perjuangaan Indonesia untuk merdeka.

Puisi karya Panda MT Siallagan, merupakan puisi-puisi yang mengkisahkan betapa pedihnya perjuangan di masa lalu, dan masih bisa dirasakan di masa sekarang. Bahkan pada masa sekarang, puisi ini memiliki makna tak paham dengan kemerdekaan yang berlangsung. Apakah negeri ini memang merdeka sungguhan. Atau masih saja ada kata “penjajah” di dalamnya dengan konteks berbeda (baca: penguasa)? Ataukah memang benar bahwa arti kemerdekaan adalah meraut bambu dengan airmata?

Segala kata-kata yang ditulis dalam puisi tentunya banyak memiliki makna dengan persepsi yang berbeda serta analisisnya. Semoga, analisis ini mendekati kebenaran tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sumber puisi: https://solup.blogspot.co.id 

Catt: Artikel ini dimuat di Solup Literal atas seizin penulisnya.
Bagikan:

26 Agustus 2016

Apa Kabar Kritik(us) Sastra?


Jika kita mengamati perkembangan kesusasteraan Indonesia mutakhir, kita barangkali akan segera bersepakat bahwa inilah era dimana kesusasteraan mengalami kebangkitan yang luar biasa baik genre puisi, cerpen dan novel. Berkunjunglah ke toko-toko buku, di situ akan segera tampak begitu membeludaknya buku-buku sastra dari ketiga jenis itu, baik yang ditulis oleh pengarang yang sudah solid berada di 'menara gading kesusasteraan' maupun dari pengarang-pengarang muda yang tergolong masih segar dalam blantika sastra kita.

Kliping surat kabar.
Di samping itu, menjamurnya penerbitan koran, majalah, tabbloid dan jurnal-jurnal, dengan sendirinya telah pula mempertegas bahwa kesusasteraan kita benar-benar ramai, pikuk, dan berpawai di lebuh raya keberaksaraan. Hal itu terjadi karena hampir seluruh koran memiliki ruang khusus memuat karya-karya sastra seperti puisi dan cerpen, dan biasanya tampil pada edisi Minggu. Dan, tak sedikit majalah ataupun tabloid yang juga menyediakan ruang untuk cerpen sekalipun mereka bukan majalah atau tabloid sastra. Kesemarakan kreatif itu juga ditambah dengan munculnya banyak karya-karya asing yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Maka, semakin sempurnalah hiruk-pikuk sastra kita.

Memang, sempat muncul perdebatan mengenai klasifikasi sastra ditinjau dari medium yang menerbitkannya. Ada upaya memberi penggolongan Sastra Koran untuk karya-karya yang terbit di media koran, dan Sastra Buku untuk karya-karya yang diterbitkan dalam bentuk buku. Penggolongan semacam itu memang terasa tidak terlalu bermanfaat karena sering kali karya-karya yang diterbitkan dalam bentuk buku itu kebanyakan sudah terlebih dahulu terbit di koran kecuali sebagian novel yang memang langsung terbit dalam bentuk buku. Dikatakan sebagian karena ada juga novel yang terlebih dahulu terbit sebagai cerita bersambung berbagai koran. Maka, perdebatan tentang sastra koran dan sastra buku agaknya tak perlu lagilah diperpanjang, karena toh substansi isi dan kualitas sastrawi karya-karya itu boleh dikatakan cenderung setara. Itu hanya persoalan bentuk. Seperti tanah liat, dibentuk dalam bentuk apapun, ia tetaplah tanah liat.

Semaraknya eksperimentasi kerja kreatif itu tentu saja menghasilkan khasanah yang sangat kaya baik itu tema, gaya tutur, teknik penulisan maupun muatan kulturalnya. Eksplorasi tradisi lokal/etnik, misalnya, telah membawa kekayaan bagi tradisi kepenulisan kita dan hal itu seringkali tampil sebagai tindakan pemberontakan, keluar dari tradisi kepenulisan konvensional. Dalam kawasan genre puisi, misalnya, ada Saut Situmorang, Oka Rusmini, Marhalim Zaini (untuk menyebut beberapa nama) yang telah sukses memasukkabn warna lokal dalam puisi-puisi mereka.

Demikian juga halnya akan cerpen, dengan munculnya Raudal Tanjung Banua, Satmoko Budi Santoso, Puthut EA, Triyanto Triwikromo, kita akan segera sadar dan tersentak bahwa konvensi tradisi kepenulisan kita sudah berubah. Saat ini yang muncul adalah kreativitas serba liar, eksploratif, inovatif dan tak mudah menduga hal apalagikah yang muncul di masa-masa mendatang.

Sementara dalam genre novel, munculnya Ayu Utami dan Dewi 'Dee" Lestari telah pula menyebabkan munculnya novelis-novelis baru seperti Fira Basuki, Nukila Amal, dan yang teranyar adalah Dewi Sartika. Meskipun tampak adanya saling mempengaruhi dalam hal motivasi menulis, mungkin supaya terkenal dan diakui cerdas, tapi karya-karya mereka tetaplah pekerjaan yang pantas diperhitungkan dan telah mendapat pengakuan dengan segala kelemahan dan kekuatannya.

Sayang sekali, Riau cenderung sepi dari munculnya pengarang-pengarang muda yang pantas diperhitungkan. Setelah BM Syamsudin, Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Sutardi Calzoum Bachri, Hasan Junus yang kemudian diikuti Edruslan Pee Amanriza, Fachrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, praktis tidak ada lagi sastrawan dari Riau yang pantas diperhitungkan secara nasional kecuali Marhalim Zaini. Ada memang sosok-sosok harapan dan potensial seperti Hary B Ko'riun, Murparsaulian, Gde Agung Lontar, Olly Rinson, tapi mereka belum terlalu memukau secara nasional. Di kalangan yang lebih muda, ada M. Badri, Sobirin Zaini, Binoto H Balian dan mereka-mereka ini harus lebih giat lagi menelurkan karya-karya yang baik jika ingin eksis.

Namun demikian, fenomena membeludaknya karya-karya sastra ini tidak diikuti oleh berkembangnya dunia kritik secara bersamaan. Padahal, kegairahan bersastra ini sudah terbukti mampu memunculkan publik pembaca, meramaikan dunia penerbitan dan perbukuan, menstinulus munculnya wacana dan diskusi-diskusi sastra, memunculkan komunitas-komunitas sastra yang lahir dari omong-omong dan kongkouw-kongkouw antara para seniman (sayang dalam hal ini Riau juga ketinggalan), tetapi mengapa kritik sastra justru sepi?

Kalaupun tidak ingin dikatakan sepi, setidaknya kita masih sangat sulit menemukan adanya kritik yang memadai untuk menganalisis, menginterpretasi dan mengevaluasi karya-karya yang subur itu. Apa yang selama ini kita saksikan tidak lebih dari esei atau apresiasi-apresiasi yang seringkali dimaksudkan untuk mengangkat-angkat nama pengarang tertentu, dangkal dan cenderung ditulis untuk gagah-gagahan retorika sehingga apa yang menjadi aspek kritik, orientasi karya yang dikritik, metode kritik, sering tidak benar-benar mengemuka.

Untuk mengenal permasalahan kritik sastra lebih lanjut, perlu kiranya dikemukakan guna kritik sastra. Setidaknya, guna kritik sastra dapat digolong menjadi tiga, yaitu: pertama, untuk perkembangan ilmu sastra itu sendiri. Kedua, untuk perkembangan kesusasteraan, dan ketiga dalah untuk penerangan kepada masyarakat umum yang menginginkan penjelasan tentang karya-karya sastra. Kegunaan pertama, kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Kegunaan kedua, kritik sastra membantu perkembangan kesusasteraan suatu bangsa dengan menjelaskan karya sastra mengenai baik buruknya karya sastra dan menunjukkan daerah-daerah jangkauan persoalan karya sastra. Dengan demikian, para sastrawan dapat mengambil manfaat dari kritik sastra, maka mereka dapat memperkembangkan penulisan karya-karya sastra mereka yang kemudian mengakibatkan perkembangan dunia kesusasteraan. Kegunaan ketiga, kritik sastra menguraikan karya sastra. Dengan demikian, masyarakat umum dapat mengambil kritik sastra ini bagi pemahaman terhadap karya sastra (Pradopo, 1988: 17-23).

Tetapi, di tengah situasi dimana sastra telah berkembang, dan masyarakat sudah cenderung tertarik dengan sastra yang dibuktikan dengan munculnya publik pembaca yang luas, masih diperlukan lagikah kritik sastra? Barangkali pendapat seperti ini boleh juga dianggap sebagai sesuatu yang benar, sebab permasalahan apalagikah yang harus dikritik jika sastra itu sendiri sudah berkembang, sudah berhasil memberikan keuntungan ekonomis kepada para pengarang dan perusahaan-perusahaan penerbitan?

Namun, jika kita bersepakat dengan opini semacam itu, apakah hal itu tidak justru membuat para akademisi sastra malas menulis kritik dan enak-enak saja duduk menonton kesusasteraan berjalan sendiri tanpa kehadiran mereka? Bagaimanapun, kritik sastra tetap diperlukan. Dan pihak yang paling bertanggungjawab terhadap keberlangsungan dan mutu kritik sastra adalah mahasiwa dan para akademisi sastra, juga lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bahasa dan sastra seperti fakultas sastra dan balai bahasa. Apakah harus para sastrawan juga yang turun ke jalan untuk menyelamatkan kritik sastra dari kematian?

Para sastrawan telah berbuat, sekarang izinkan kami menyapa, "Apa kabar kritik(us) sastra?" (Panda MT Siallagan)*** 

* Artikel ini terbit di Riau Pos, 11 Juli 2004
 
Bagikan:

19 Agustus 2016

Siantar Kayak Kerumunan Tawon

Keknya, mantap juga kalok awak cerita tentang Siantar dengan bahasa Siantar? Bah, apapula itu? Mana ada Bahasa Siantar? Iyalah, maksudku Bahasa Indonesia, tapi pakek cakap Siantar.


Tapi cocoknya cerita apa ya? Bingung pula awak. O iya, soal lalu-lintas ajalah. Aku bingung cemananya sebetulnya para pejabat Siantar ini mengurusi kota kita ini. Co' bayangkan, semua lampu merah mati di kota ini, ngeri awak kalo lewat di lampu merah itu. Berhenti awak, salah. Maju awak, salah juga. Kacaulah pokoknya. Entah apa gunanya Dinas Perhubungan itu. Bikin geram aja.

Serius dulu kita bah, dari tahun 2012 sampek 2016 masalah lampu merah ini ga pernah bisa diselesaikan dengan tuntas. Jadi jahat awak kadang-kadang, awak doakan maunya kenak tabraklah sesekali pejabat atau keluarganya pas lewat di lampu merah, biar tahu rasa. Kan ga payah sebenarnya ngurus itu. Anggarkan aja. Bagusi yang rusak-rusak itu. Atau sekalian ganti baru semua biar paten. Tapi janganlah pula dikorupsi. Pingin kali awak liat Siantar ini bagus, tapi cemanalah, asik mikirkan diri sendiri semua.

Tapi betullah, sistim transportasi di Siantar ini makin lama makin memuakkan. Udah gitu, ga ada pula yang mau berpikir soal tata kotanya. Amburadul semua. Co' sesekali kalian amati Siantar ini pagi-pagi, yang ngerian. Pas anak-anak pergi sekolah, maccam kota tak bermartabat kutengok ini. Anak sekolah itu datang dari mana-mana, pergi kemana-mana, kekgitu kulihat.

Ecek-eceknya gini, ada yang dari Simpang dua berlomba-lomba ke kota. Ada dari Perumnas Batu 6, dari Tajungpinggir, dari Jalan Medan, semua bergerak ke arah ke kota. Kalok cuma gitu, sebetulnya ga masalah. Ini yang sebaliknya terjadi pula. Yang dari kota sebagian sekolah ke Jalan Asahan, sebagian ke jalan Medan, sebagian lagi ke Simpang 2, begitu seterusnya.

Di dalam kota pun gitu. Yang tinggal di Tomuan, sekolah ke Marihat. Orang Marihat, sekolah ke Siantar Utara. Orang Jalan Merdeka, sekolah ke Jalan Sutomo. Orang Jalan Sutomo, sekolah ke Jalan Merdeka. Orang Perluasan, sekolah ke Jalan Kartini, warga Jalan Kartini sekolah pula ke Parluasan. Kekgitulah, berputar-putar semua, kayak tawon keluar dari sarang. Kacau kalo pagi, pas pulangsekolah juga gitu. Entah cemanalah hidup tenang di Siantar ini. Belum lagi kalok pekerja dan PNS pergi da pulang kerja, makin ngerilah.Belum lagi kalok kita tengok lalu-lintas di pajak-pajak, ah pusinglah.

Kalok udah gini, co' lah klen pikirkan, mau kekmana lagi bentuk kota kita ini 5, 10, 20 atau 50 tahun lagi? Ga terbayangkankulah. Tapi iyalah, mana ada yang peduli, 50 tahun lagi kan pejabat-pejabat itu udah ga ada lagi. Mungkin dipikirnya, anak-anak dan cucunyapun bila perlu ga usah lagi tinggal di kota ini. Jadi untuk apa dipikirkan, ia kan?

Tapi bukan mau sok pintar, sebuah kota berbudaya kan semestinya udah dipikirkan jauh-jauh hari tentang desainnya. Kota-kota cantik di Eropa itu bukan bentukan zaman sekarang, tapi didesain dari jaman dulu, tentu disesuaikan juga dengan perkembangan zaman, jadi ga asal bangun sana-sini. Mereka itu betul-betul berpedoman pada tata ruang dengan segala kemungkinan-kemungkinannya, makanya pembangunan tertata. Kan udah ada ilmu planologi, yang kekgitu gampang sebetulnya diurus. Pejabat-pejabat Siantar ini ngerti ga ya planologi?

Ah, awakpun ga tahu juganya, cuma awak masih maulah dikit-dikit belajar, baca-baca, biar jangan nampak kali bodohnya. Ini udah bodoh, ga mau baca pula, ya rusaklah. Sebetulnya kota Siantar ini udah mantaplah dari sisi perencanaan. Co' tengok, di depan balaikota, ada alun-alun, yang kita bilang Taman Bunga itu. Kalok diibaratkan Balai Kota itu istana raja, maka Taman Bunga itulah alun-alun tempat rakyat berkumpul menikmati kejayaannya. Atau kalok raja ingin merayakan suatu pesta, diundang lah masyarakat makan, ya di alun-alun itu, kalok ga, ya di ruang terbuka lain yang juga udah disiapkan, itulah tanah lapang itu.

Tapi udahlah, capek ngomel terus. Ada pula nanti yang bilang, makan kau sejarah kau tuh. Ga penting. Memang ga penting. Pandangan dan sikap orang kan tergantung kualitas martabatnya juga. Sebetulnya, kalok ingin Siantar ini maju, pejabat dan rakyatnya sudah harus berubah, belajar menjadi pribadi-pribadi bermental bangsawan. Boleh tukang becak, boleh pedagang, boleh PNS, boleh tentara, boleh wartawan, boleh jadi apa aja. Tapi janganlah bermental budak. Dipanasi sikit, demo. Diprovokasi sikit, berontak. Tapi iyalah, pejabat-pejabatnya juga suka didemo. Biar terkenal. Hehe...! Biar aja korupsi, yang penting terkenal. Hehe, sialnya udah korupsi, ga kaya juga. Kalok pun nampak agak kaya sikit, sombongnya minta ampun. Kelakuan anak-anaknya maccam keledai yang merasa jadi singa.

Okelah, gitu ajalah dulu kato kali ini. Makin banyak awak nanti cakap, makin banyak yang tersinggung, dibakar pula nanti rumah awak. Tapi mudah-mudahanlah suatu saat nanti, lahir pemimpin yang betul-betul kuat dan punyaintegritas. Kalok ga, kota ini pasti tenggelam dalam kekacauan, dan itu neraka. Awak udah berkali-kali bilang, neraka bukan awang-awang, tapi ledakan jumlah penduduk, yang otomatis menimbulkan persoalan-persoalan sosial baru, yang akan meledakkan semua aspek moralitas. Begitulah...! ***
Bagikan:

24 Juli 2016

Jenis-jenis Sastra Batak Toba


SolupL - Salah satu tonggak kebudayaan suatu bangsa adalah sastra. Dan sastra suatu bangsa tidak lahir begitu saja, melainkan melalui proses panjang dan bersumber dari peleburan sastra-sastra lokal. Sastra Indonesia, misalnya, terbentuk dari sastra-sastra nusantara, sehingga muncul gaya ucap yang beragam.

Salah satu jenis ulos Toba. 
Batak, salah satu puak kultural di Indonesia, juga memiliki sastra yang oleh sastrawan-sastrawan telah banyak dieksplorasi. Pada Sitor Situmorang, misalnya, mitos dan kisah-kisah lisan Batak banyak berperan mendukung sejarah kesastrawanannya.

Sebagaimana diketahui, sastra berasal dari bahasa sanskerta, yaitu kata shastra. Secara harafiah dapat diartikan sebagai teks yang mengandung hikmah atau pedoman. Menurut sejumlah ahli, sastra adalah bahasa ungkap yang imajinatif atas berbagai sisi kehidupan manusia.

Secara sederhana, sastra adalah karya lisan atau tulisan yang orisinal, indah dan memiliki arti. Di zaman modern, karya sastra yang dikenal luas adalah novel, cerita pendek (cerpen), syair, pantun, naksah drama, lukisan aksara (kaligrafi). Tapi di masa yang lebih tua, ada tradisi lisan berupa cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng.

Dalam khasanah kebudayaan Batak, kita mengenal beragam karya sastra yaitu umpama, umpasa, torsa-torsa (turi-turian), andung-andung, jagar-jagar ni hata, dan hata pangganti. Batak dalam konteks tulisan ini adalah Batak Toba. Tentu, dalam kebudayaan sub-sub Batak lain seperti Karo, Simalungun, Mandailing dan Pakpak, juga terdapat bentuk-bentuk kesusasteraan, yang pada genre tertentu sering memiliki pertalian atau persamaan.

1. Umpasa dan Umpama

Sekilas, umpama atau umpasa tampak sama. Tapi sesungguhnya, ada perbedaan mendasar soal isi dan substansi. Umpasa bisa dikatakan menyerupai pantun dalam kebudayan melayu. Umpasa inilah yang banyak digunakan raja-raja parhata (protokoler atau MC, bahasa kerennya) dalam setiap acara-acara adat Batak.

Sedangkan umpama, meskipun sering juga digunakan dalam acara-acara adat, tapi dalam keseharian ia bisa berdiri sendiri sebagai perumpamaan atau semacam 'qoetes', semacam petuah, semacam pedoman, semacam kata-kata bijak. Contoh: ganjang pe ni dungdung ni tangan, ganjangan dope nidungdung ni roha (jauh jangkauan tangan, tapi lebih jauh jangkauan jiwa).

2. Torsa-torsa atau Turi-turian

Torsa-torsa atau turi-turian dapat dikatakan sebagai cerita, legenda, atau barita-barita yang dikenal dalam kebudayaan Batak. Turi-turian ini juga beragam. Ada yang bernilai historis (terkait kesejarahan), ada yang berbentuk mitos atau mite (misalnya cerita tentang Mulajadi Na Bolon).

Ada juga yang berbau mistik (misalnya cerita Batu Hobon dan Sigale-gale), ada yang bersifat dongeng (misalnya asal mula terjadinya Danau Toba), dan ada juga kisah-kisah indah penghibur jiwa (misalnya kisah romantis Si Tapi Mombang Haomason).

3. Andung-andung

Andung-andung adalah ratapan atau tangisan yang dinyanyikan ketika seseorang meninggal. Jadi tidak hanya tangisan biasa. Dulu, ketika kecil, saya masih sempat menikmati andung-andung ini. Andung-andung ini berisi kisah-kisah tentang mendiang yang disampaikan dengan bahasa disertai kisah-kisah indah. Di dalam andung-andung, kadang tercakup juga umpama, umpasa, kata-kata ibarat dan ajaran-ajaran.

4. Jagar Hata

Jagar hata adalah bentuk sapaan atau ujaran hormat yang ditujukan orang, benda, atau hal-hal lain dalam konteks kegiatan adat. Misalnya, kaum bapak disebut amanta raja, kaum ibu disebut inanta soripada, sirih disebut napuran sirumata bulung, ikan disebut dekke sitio-tio dan lain-lain.

5. Hata Pangganti

Salah satu keunggulan sastra batak adalah hata pangganti (kata pengganti), semacam frasa atau peribahasa. Dan saya kira, Bahasa Indonesia tak akan pernah bisa menggambarkan secara tepat frasa-fraaa ini. Misalnya, si gotil monis untuk menyatakan orang pelit, si gaor dodak untuk menyebut orang yang suka berkelahi, na marsangkot bulung untuk menyatakan orang miskin, na juang di langit untuk menyatakan orang/tokoh terkenal.

Coba bayangkan, bagaimana mengganti peribahasa-peribahasa itu ke dalam Bahasa Indonesia? Apakah penjumput menir, pengaduk dedak, berpakaian daun, petarung di langit? Entahlah. Dan sesungguhnya, kekayaan sastra Batak tiada tandingan sesungguhnya, hanya saja generasi baru tak lagi peduli.

Demikianlah, semoga bermanfaat, kurang lebihnya mohon maaf, bisa didiskusikan, seperti kata pepatah, asa horus na lobi, asa gok na longa. Horas jala gabe! (Panda MT Siallagan) ***
Bagikan:

22 Mei 2016

Kenapa Puisi, Mengapa Penyair?

Oleh Panda MT Siallagan

Sebagaimana galibnya, anak berusia 8 tahun itu bertanya, apakah syair sama dengan puisi dan sajak atau sanjak? Tanpa memperhitungkan resiko, sang ibu menjawab: sama.


Lalu rasa panik mulai melilit ketika bocah bermata puisi itu menggulirkan lagi pertanyaan sebagaimana galibnya curiosity anak-anak, yang lincah dan imajinatif. Punca masalahnya adalah pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, kata guru: puisi adalah kata-kata yang indah. Puisi sama dengan sajak. Dan penulis puisi atau sajak disebut penyair.

"Kenapa?" tanya si anak. Sebab pelajar tugas dan pekerjaannya belajar. Pedagang berdagang. Tukang becak menarik becak. Pencuri mencuri. Pembuat kursi, meskipun tidak pengursi, tapi masih berkerabat secara diksi, yaitu tukang kursi. Dan si anak menggugat:

Kenapa penulis puisi dan sajak disebut penyair? Saya berpura-pura menyibukkan diri, pura-pura serius mengerjakan tugas genting, agar pertanyaan itu tidak dilemparkan kepada saya. Tapi diam-diam, saya memikirkannya. Kenapa tidak pemuisi? Kenapa tidak penyajak? Sebaliknya, kenapa disebut penyair, sementara hasil gubahan mereka disebut puisi atau sajak? Kenapa tidak syair saja agar 'malapetaka' ini tidak muncul?

Lamat-lamat, saya dengar si ibu berkata, "Kelak, di sekolah yang lebih tinggi, engkau akan memperlajarinya." Si anak sepertinya berterima. Saya lega. Untuk sementara selamat dari 'marabahaya'. Tapi dalam hati, saya bergumul: di sekolah manakah hal itu kelak akan dipelajarinya?

Para penyair, yang sehari-hari berkutat dengan bahasa dan kata-kata, bahkan mungkin membangun 'kerajaan' dan 'politik kekuasaan' dengan bahasa dan kata-kata, sepertinya juga tak pernah peduli dengan situasi itu. Mereka menulis puisi dan sajak, lalu disebut dan menyebut diri sebagai penyair. Dan saya kembali pada nostalgia zaman dulu, alangkah baiknya disebut pengarang saja. Persoalan selesai. Apapun genre karangannya, ia pengarang.

Pada suatu masa, segelintir penyair Indonesia pernah menyebut diri sebagai perajin puisi. Seingat saya, Binhad Nurrohmat dan Satmoko Budi Santoso pada masa produktifnya pernah sekali-duakali menyebut diri sebagai perajin puisi bahkan peternak huruf. Tentu, itu dicantumkan dalam biografi singkatnya di surat kabar.

Barangkali, untuk menghindari resiko semacam inilah hal itu dulu mereka lakukan. Segelintir penyair muda ada juga melakukan hal yang sama, meski istilahnya berbeda-beda. Tapi fenomena itu kemudian redup. Barangkali, gengsi dan martabat kata 'penyair' sudah terlanjur kokoh dan orang-orang berebut mendapat gelar itu.

Mari kita bayangkan lelucon ini: Pemuisi Afrizal Malna, Penyajak Joko Pinurbo, Pesanjak Goenawan Mohamad, atau sekaligus kita tahbiskan: Pemantera Sutardji Calzoum Bachri, Peliris Jamal D. Rahman, sebagaimana kita jamak menyebut Cerpenis Danarto, Novelis Ayu Utami atau Kritikus Faruk HT dan Eseis Maman S Mahayana. Salahkah?

Kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga tidak bisa jadi alat yang memadai menjawab pertanyaan itu. Untuk lema puisi, memang disebutkan bahwa salah satu arti puisi adalah sajak, bahkan lengkap dengan jenis-jenisnya dan saling mendukung satu sama lain. Puisi bebas, misalnya, disebut artinya: puisi yang tidak terikat rima, matra, jumlah larik dan jumlah kata. Mengacu pada pengertian ini, maka puisi-puisi Indonesia mutakhir dapatlah disebut puisi bebas. Dan anehnya, puisi mbeling disebutkan artinya: sajak ringan atau sajak main-main, kenapa tidak puisi ringan atau puisi main-main?

Sementara, lema syair diartikan sebagai puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri terdiri atas empat larik yang berakhir dengan bunyi yang sama. Jika mengacu pada arti ini, maka para penyair Indonesia mutakhir  tak layak disebut penyair, sebab mereka tidak menulis syair, melainkan menulis puisi atau sajak. Tapi rupanya KBBI menyelamatkan para penyair. Arti kedua lema syair adalah: sajak; puisi.

Selanjutnya, arti lain lema sajak dijelaskan begini: gubahan sastra yang berbentuk puisi. Pengertian ini bias, seolah-olah sajak bukan puisi, tapi gubahan sastra berbentuk puisi. Artinya, prosa yang dibentuk-bentuk menyerupai puisi, bisa disebut sajak. Hal ini didukung pengertian kedua: bentuk karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris teratur dan terikat. Jika mengacu pada pengertian ini, maka puisi-puisi Joko Pinurbo atau Afrizal Malna, terkesan kiranya sebagai sajak, tepatnya prosa sajak, yang memang puitis.

Demikianlah, catatan ini tidak bermaksud menyoal baik dan buruknya dunia perpuisian atau persajakan kita, sebab ia telah tegak dengan babak-babak sejarahnya, meski dunia persyairan sangat jarang disebut. Tetapi, siapakah yang bertanggungjawab menjelaskan pertanyaan bocah itu? Apakah kita harus menjelaskannya sebagaimana tertulis dalam KBBI itu?

Dan dari seluruh lema itu, hanya pada lema syair ada kata benda 'profesi', yaitu penyair (pengarang syair), sementara dalam lema puisi dan sajak, tidak ada pemuisi atau penyajak, tapi kita menyebut karya penyair sebagai PUISI dan SAJAK. Imajinasi anak-anak kadang terlalu murni, dan kita bisa pandir menghadapinya. Maukah Afrizal Malna menyebut diri sebagai penyajak? Atau bersediakah Sapardi dan Jokpin dan yang lain-lain disebut pemuisi? Entahlah...! ***
Bagikan:

15 Mei 2016

Bicara pada Tong Sampah

Oleh: Panda MT Siallagan

Suatu ketika, seorang lelaki bertubuh ceking dan berkulit legam, duduk bersila di trotoar sebuah kota. Di hadapannya, terletak sebuah tong sampah yang kosong, sebab petugas baru saja membersihkannya dan mengangkut sampah dari tong itu.


Dan ternyata, di sanalah letak persoalannya. Pria ceking tanpa baju itu sedang mengomel kepada tong sampah,  katanya: "Tidak kau tunggu aku. Aku kan sudah janji datang. Mereka sudah kaya, tapi kau berikan juga semua pada mereka."

Orang-orang, warga kota yang beradab itu, yang menonton drama ajaib itu, hampir memiliki komentar seragam: dasar orang gila. Dan saya sepakat: takdir telah menelantarkan pria itu sebagai manusia bebas, tapi terkungkung dililit penyakitnya, yang oleh kita disebut sakit jiwa.

Tapi saya punya nurani yang lain. Kepada pemilik toko saya coba bertanya. Dan inilah kisahnya: hampir setiap hari pria itu datang ke depan tokonya, mengais-ngais tong sampah itu, lalu menelan seluruh sisa-sisa makanan yang ditemukannya. Rasa hormat patut kita sampaikan kepada pemilik toko, sebab ia sesekali memasukkan makanan bersih ke dalam tong itu, terutama pada jam-jam menjelang pria itu biasa datang. Tapi hari itu, entah bagaimana, pria itu terlambat dan petugas mendahuluinya.

Saat ia tiba, tong sampah sudah bersih. Pria itu menjerit. Menangis keras. Mengundang perhatian orang banyak yang segera berkerumun menontonnya. Tak lama kemudian, ia duduk bersila, persis menghadap tong sampah itu dan mengajaknya bicara. Benar-benar bicara. Bicara pada tong sampah. Dan ajaibnya, kewarasanmu sebagaimana manusia tak akan berarti dihadapkan padanya. Sebab, seperti dikisahkan pemilik toko, pria ini justru tidak mau makan kalau diberi. Ia hanya makan dari tong sampah itu. Dan hanya tong sampah itu. Tong sampah yang lain juga tidak disambanginya. Bagaimana kita harus menjelaskan ini?

Ketika saya mulai tergila-gila pada puisi dan mulai mencoba-coba menulis puisi, kebingungan yang sama juga mengepung kesadaran saya. Bagaimana bunga bisa tumbuh di atas batu? Dan bunga yang tumbuh di atas batu itu musnah terbakar, yang membakar bukan api, tapi sepi. (Bunga, Sajak Sitor Situmorang) Waktu itu, saya hanya menggumam dalam hati, "Gila kau, Sitor!"

Bahwa tong sampah menjelma sosok manusia yang diajak bicara, bahwa sepi bisa membakar bunga di atas batu, sungguh kegilaan yang sama, lahir dari imajinasi yang tidak normal, demikian renungan saya di kemudian hari setelah sungguh-sungguh belajar menulis puisi dan menjadikannya 'ibadah' yang lain. Saya katakan ibadah, sebab sesungguhnya doa juga tak akan pernah tuntas saya pahami, mengapa kita bicara dan meminta kepada sosok agung tak berwujud itu? Itulah kesepian saya paling mendasar.

Seringkali, dalam kehidupan ini, kita mengenal batu, kayu, besi, logam, dan bahkan kita hidup dalam penyertaan dan lindungannya: menjadi dinding rumah, menjadi pintu, menjadi jerejak jendela, menjadi kursi, menjadi kerangka ranjang, tapi kenapa kita tidak pernah sungguh-sungguh menganggap mereka ada. Yang peka pada benda-benda, suatu kali mungkin akan mengusap-usap dinding rumahnya, mengelus-elus sandaran kursinya dan berkata: terimakasih perabot-perabotku, terimakasih panciku, terimakasih pintuku, terimakasih dindingku. Maka, kita yang mendengar ucapan itu mungkin akan berkata: sudah gila kawan itu.

Tapi ketika ramai-ramai orang memburu batu akik, mengelus-elusnya, membangga-banggakannya, memuji-mujinya bahkan merawatnya, membeli minyak zaitun tempatnya berendam agar katanya hidup, mengapa kita tidak merasa gila? Mengapa kita tidak menyebut mereka gila karena seluruh cinta dan perhatiannya beralih ke batu akik? Sungguh, bagi saya, itu suatu masa yang menakjubkan tentang bagaimana orang secara massal terjebak dalam berhala, dan saya sebagai penonton, merasa bahagia dengan berhala saya, yaitu puisi-puisi yang berseliweran karenanya.

Saya tak menyukai teori-teori tentang puisi. Juga tak tertarik memikirkan apa guna puisi  bagi kehidupan, terlebih ketika puisi dipaksa-paksa mengurusi politik dan urusan-urusan Negara yang mumet itu. Mungkin selama-lamanya, saya tak menyukainya. Tapi saya gemar dan bahagia hidup bersama puisi. Membayangkan batu pecah, lalu dari dalamnya muncul merpati. Merpati pertapa. Mungkin dialah burung hulambujati itu.

Saya suka membayangkan air jadi api. Dengan demikian, fungsi air tidak lagi menghanyutkan, tapi membakar. Siapa bisa membantah, banjir yang melumat sebuah kota adalah api abadi di hati para korbannya? Saya gemar membayangkan air danau sebagai ular-ular siluman yang berhimpun dalam kutukan lembah. Dan bagaimana semua itu bisa terwujud? Saya ternyata bersalah juga, turut jua menzolimi puisi. Menggunakan puisi sebagai alat membahasakan kegilaan-kegilaan itu.

Seringkali memang, kita menjauh dari benda-benda yang sesungguhnya sangat akrab dengan kita. Saya menduga, pria gila itu telah mengadakan perjanjian dengan tong sampah agar saling setia satu sama lain, maka itu ia tidak mau berpaling. Pengkhianatan mungkin paling memungkinkan hadir tersebab hilangnya kepekaan dan ketidakpedulian, karena bebalnya perasaan kita terhadap benda-benda, yang padanya kita menumpangkan hidup, hasrat dan mimpi-mimpi.

Belakangan ini, sebuah pergolakan bathin sangat intens menggoda saya: bahwa kebohongan bisa saja menjulangkan engkau sejaya matahari, tapi ketahuilah, buah-buah busuk akan berjatuhan menguburmu, dan dengan demikian, engkaulah kebusukan itu, sementara matahari sesungguhnya tak pernah engkau kenal. Apakah itu puisi? Entahlah.

Tapi nyatanya, saya semakin kesulitan menemukan puisi, baik untuk saya tulis maupun untuk saya baca. Kadang-kadang, puisi-puisi yang berhamburan setiap hari itu hanya terasa sebagai teks-teks hampa, seperti es batu yang dingin, tapi kemudian berlalu mengkhianati dua hal: air dan suhu. Kepada keduanya, kita adalah prajurit durhaka di ruang global warming ini.

Barangkali, kita perlu belajar berbicara lagi dengan benda-benda, dengan cuaca, dengan jampi-jampi, dengan alam raya, dengan junjungan buih segalanya itu: jiwa. ***

Sumber: Sumut Pos, 15 Mei 2015
Bagikan:

24 April 2016

Balasan Surat Kartini

Oleh Panda MT Siallagan

Sampai kini, masih mengendap tiada jawab perihal kontroversi surat-surat Kartini. Di manakah naskah asli surat Kartini itu? Keturunan JH Abendanon juga sangat sulit ditemukan sehingga banyak pihak meragukan kebenaran surat-surat itu. Ada dugaan, JH Abendanon melakukan rekayasa surat-surat Kartini untuk kepentingan politik etis Hinda Belanda.

Dugaan itu muncul karena surat-surat Kartini memang diterbitkan pada saat pemerintahan Belanda menjalankan politik etis. Ketika itu, JH Abendanon termasuk pendukung politik etis yang tengah menjabat Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda.


Di masa kemerdekaan, penetapan tanggal lahir Kartini sebagai hari besar dan penobatannya sebagai Pahlawan Nasional, juga menuai perdebatan, sebab kebijakan itu dianggap pilih kasih. Nyata memang, Indonesia memiliki wanita-wanita hebat lain melebihi Kartini, sebutlah Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain.

Apakah Kartini mengenal Cut Nyak Dien seperti ia mengenal Estelle 'Stella' Zeehandelaar yang dituding sebagai agen feminisme Barat itu? Mengapa Kartini tidak menulis surat kepada perempuan-perempuan pejuang nusantara pada masa itu? Kenapa ia tidak berkirim surat kepada pribumi-pribumi terpelajar seperti Abdul Rivai, yang sepertinya memang dikaguminya itu?

Atau jangan-jangan, banyak juga surat yang dikirimkan Kartini kepada sesamanya terpelajar di Nusantara ketika itu, tapi tak mendapat perhatian dan terbuang begitu saja sehingga sejarah menganggapnya tidak pernah ada? Entahlah.

Menggenapi seluruh perdebatan yang tiada berjawab itu, imajinasi tergoda lagi bertanya, berapa banyak sesungguhnya sahabat pena Kartini? Kalau mengacu buku Habis Gelap Terbitlah Terang, setidaknya ada 8 nama tercatat yang kepada mereka Kartini kerap mengirimkan surat-surat. Lalu, berapa banyak (pucuk) surat telah dikirimkan Kartini kepada para sahabatnya itu? Sampai kini, tiada yang tahu. Jika surat-surat Kartini itu berbalas, lalu di manakah balasan surat-surat itu dan apa isinya?

Ketimbang memikirkan di mana naskah asli surat-surat Kartini, lebih dekat rasanya berkhayal dan bermimpi tentang balasan surat-surat itu, sebab naskah-nashkah itu tentulah berada di Jepara atau di Rembang. Sungguh, saya sangat ingin membaca surat Nona Zeehandelaar, yang kepadanya Kartini bicara meluap-luap dan sangat bebas mengemukakan pikiran-pikirannya. Saya ingin membaca surat Nyonya Ovink-Soer, yang kepadanya Kartini bicara nyaman, santun dan memanggil nyonya Belanda itu sebagai Ibu. Saya ingin membaca surat-surat Abendanon. Di mana saya bisa mencarinya? Atau jangan-jangan surat-surat Kartini itu tidak pernah mendapat balas?

Tapi jika kita membaca surat-surat Kartini yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang karangan Armin Pane (Terbitan Kedua tahun 1938), kita dapat membaca beberapa kutipan berikut:

- Stella, terimakasihku sangatlah besarnya, karena baik pendapatanmu (pendapat, red), tentang kami orang Jawa… (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 18 Agustus 1899)

- Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau yang serupa itu…  (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 18 Agustus 1899).

- Engkau menghibur hatiku, terimakasih, Stella. Berharaplah aku, katamu itu menjadi benar kiranya… (Surat kepada Nona Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

- Tuan Van Kol ada mengirimkan kepada kami sebagian daripada surat istrinya… (Surat kepada Nyonya Ovink-Soer, Oktober 1900)

- Segala yang Nyonya tuliskan itu, sudah pernah kupikirkan dan kurasakan, kutanggungkan… (Surat kepada Nyonya Abendanon, 29 November 1901).

- Benarlah kata Nyonya itu. Adikku berangkat, kehilangan besar bagi kami...(Surat kepada Nyonya de Booij, 21 Maret 1902).

Dari beberapa nukilan itu, nyatalah kiranya bahwa sebagian surat-surat Kartini itu mendapat balasan dari para sahabat yang disuratinya. Armin Pane dalam buku tersebut juga menegaskan hal yang sama dalam Kata Pembimbing, katanya: "Sudah kita terangkan waktu dia sudah di 'bui', kerapkalilah menerima surat-surat dan banyaklah dia berkirim surat, semuanya dengan orang Belanda. Surat-surat itulah yang memperkuat imannya dan surat-surat itulah tempat dia mencurahkan cita-cita, penanggungan, perjuangannya itu."

Andai balasan-balasan surat itu bisa kita baca, akan nyatanyalah sebenarnya apa-apa saja yang dibicarakan orang-orang Belanda itu kepada Kartini, sehingga ia tumbuh menjadi gadis cemerlang, yang pikiran-pikirannya melampui zamannya, yang jika dikait-hubungkan dengan usia, rasanya ia sudah seperti feminis kawakan dalam memercikkan beragam gagasan.

Lalu kita tahu, Kartini menulis surat terakhirnya kepada Nyonya Abendanon dari Rembang pada tanggal 7 September 1904. Enam hari kemudian, 13 September 1904, Kartini melahirkan anak laki-lakinya dan wafat pada pada tanggal 17 September, meninggalkan bayi yang masih berusia 4 hari. Surat-suratnya kemudian diterbitkan dalam buku pada tahun 1911 di Belanda, atau 7 tahun kemudian setelah Kartini tiada, bahkan buku itu baru tiba dalam Bahasa Melayu 17 tahun kemudian (tahun 1922).

Tentu, segala hal bisa saja terjadi selama 7 tahun atau 17 tahun, termasuk mengenyahkan surat-surat orang Belanda itu, sehingga kita hanya mengenal surat-surat Kartini itu, mengenal pemikiran-pemikirannya, tanpa tahu bagaimana gagasan-gagasan itu dipantik atau disulut. Entahlah. Jiwa memang terasa mengharu-biru membaca surat-surat Kartini itu, bahkan dalam posisi kritis dan objektif, haru-biru lain pun menggema: surat-surat itu seperti monolog pertapa yang meminta penyelamatan kepada Tuhannya, si Belanda, si Eropa atau si Politik Etis itu.

Tapi, semoga kiranya referensi sayalah yang kering atau belum mendapatkannya. Tentu  sangat menyenangkan andai ada pemilik referensi yang menyimpan surat-surat balasan itu dan menyiarkannya kepada generasi kini. Sebab kita tahu, korespondensi adalah peristiwa surat-menyurat, ada si penyurat dan ada si pembalas surat, ada surat dan ada balasan. Entahlah…! ***

Sumber: Sumut Pos 24 April 2016
Bagikan:

17 April 2016

Allen, Medsos, Moloch

Oleh Panda MT Siallagan



Andai Allen Ginsberg hidup di sini dan kini, puisi seperti apakah kiranya tercipta untuk Sonya Depari dan ayahnya itu? Ia mungkin akan menulis sajak panjang penuh gelombang dan seruan kemanusiaan. Dan saya bayangkan ia menghujat media sosial (medsos) yang begitu keji mengirim kematian ke ruang jiwa Sonya yang rentan. Hei Medsos, anak revolusi teknologi, kaukah Moloch yang buas, cahaya pemanggil kematian itu?

Sebagaimana Allen ‘menggampar’ revolusi industri sebagai biang kehampaan jiwa, ia mungkin berteriak juga tentang medsos yang masif itu, produk revolusi teknologi itu, yang ‘menghancurkan’ banyak sendi dan nilai kehidupan tanpa keberimbangan yang patut atas penghargaan terhadap kemanusiaan. Medos yang dioperasikan penuh sensasi, penyamaran, bual hampa, hipokrisi, kebohongan dan percikan-percikan narsisme maksiat menyerupai racun.

Kita tahu, sebelum tragedi Sonya meliuk-liuk merongrong jiwa, medsos telah pula terlebih dahulu mengobrak-abrik kepekaan nurani publik dengan hujatan-hujatan mengerikan tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Kini wacana LGBT sudah senyap, Sonya juga hening dalam derita. Tak ada yang bertanggungjawab. Tak ada yang merasa bersalah.

Dan kita was-was menanti, Medsos barangkali akan kembali menerjang mangsa-mangsa lain dalam perang yang timpang. Saya membayangkan: ketika LGBT diserang, kaum itu merunduk seperti gerombolan anak-anak di depan serdadu bersepatu lars dan senjata lengkap, pun ketika Sonya dihujat, dia adalah anak belia yang panik dibantun rasa takut atas berondongan bom dari berbagai penjuru. Dan ayahnya pergi untuk selama-lamanya. Betapa pedihnya.

Penyair mestinya marah dan berteriak: "Go f*** yourself with your atom bomb," seperti Allen berkecam dalam sajaknya berjudul America. Tapi kita saksikan, penyair tak lagi hadir dalam tragedi itu semacam itu. Atau mungkin hadir, tapi hanya menyair di bilik-bilik sunyi, menangis menerka-nerka retak batinnya. Atau tiada mungkin corong untuk syair serupa itu, atau barangkali syair serupa itu tak lagi punya tempat. Kita, barangkali, telah mati jua ditetak homogenisasi standar kualitas persyairan. Syair-syair protes sosial kian jauh dan menjauh. Ke manakah para pemuja Rendra itu?

Inilah barangkali yang dimaksudkan Allen dengan 'puisi terpisah dari tubuhnya'. Dalam sebuah sesi wawancara dengan Radio Voice of America (VOA), Ginsberg mengatakan hal itu dalam kaitannya dengan revolusi industri, yang telah melahirkan hegemonisasi atas segala hal, termasuk puisi. Orang-orang kemudian menjadi lebih abstrak dan birokratis ketika bicara tentang puisi, terpisah dari situasi-situasi dimana puisi mestinya lahir dan bersuara.

Sesungguhnya, kita kini sedang berhadapan dengan perang sosial yang dikumandangkan teknologi. Batas kalah atau memang, hanya setipis jiwa, kita tinggal memilih. Maka, hujatan-hujatan yang ditanggungkan seseorang akibat teknologi, sama kuatnya dengan solidartias yang bisa menggelegar seperti sebuah ledakan. Ketika terjadi sebuah bencana, misalnya, teks-teks akan segera berhamburan, baik puisi maupun tidak, yang secara substansial menyerukan kebersamaan mengharukan. Telah berulang kita saksikan, bencana bisa membuat orang-orang sedemikian spontan dan produktif dalam hal berbagi rasa. Di sini teknologi hadir sebagai sosok perekat sosial. Sejenak, segala sindiran, kecaman dan keluhan, menjadi musnah. Dan kesadaran kolektif yang menyeruak itu mengingatkan bahwa kita memang mahluk sosial.

Tapi mengapa puisi seolah menjauh? Mengapa Allen Ginsberg?

Penyair besar ini akan selama-lamanya dikenang dengan jiwa sosialnya yang kuat, setia kawan, tak pernah takut menantang kesewenang-wenangan yang menyebabkan penderitaan bagi manusia. Ia mencintai kemanusiaan dengan segala warnanya sebagaimana ia mencintai puisi sepenuh iramanya. Meski untuk itu, ia kadang-kadang menderita, seklaigus menangis untuk kisah-kisah penuh cinta.

Demikianlah Allen, sosok penentang perang Vietnam itu. Sesungguhnya, Allen tak hanya mengutuk atas perang Vietnam, tapi juga mengecam seluruh aksi kekerasan mulai dari kekejaman Nazi, pembantaian kulit hitam oleh Belgia di Kongo, kamp konsentrasi Gulag di Rusia, bahkan kekerasan yang terjadi di Indonesia pada saat penggulingan Soekarno tahun 1965-1966 yang menyebabkan setengah juta jiwa komunis tewas terbantai. Dalam wawancara dengan VOA itu, Ginsberg dengan tegas mengatakan bahwa pembantaian itu berada di balik dukungan America.

Aksi-aksi kekejamanan itu, menurut Allen, sangat mungkin meluas dan membesar karena politik juga kian terpisahkan dari tubuh rakyat yang sebenarnya. "Poetry got separated from the body and politics got separated from real people's body actually. So that it was possible to have vast holocausts like the Nazi concentration camps, or the Belgian slaughter of Blacks in the Congo at the beginning of the 20th century, or the vast concentration camps and Gulags in Russia, or vast massacres that the United States comiited in Central America and elsewhere, as the half-million 'reds' killed with the US-backed overthrow of Sukarno in Indonesia 1965-1966," demikian Allen dalam wawancara itu. (Forum Series Vol.1 American Writing Today).

Bersama Jack Kerouac dan William Burroughs, Allen adalah tokoh gerakan sastra Beat Generation yang mencuat dan berpengaruh luas pada 1950-an. Ia kontroversial dan berperan penting dalam revolusi pemikiran Amerika selama tahun 1960an. Akibat aksi unjuk rasa anti perang di New York, ia ditangkap bersama ratusan demonstran lainnya.

Ketika AS riuh atas penyusunan undang-undang terkait perilaku homoseksual yang dianggap sebagai tindak kejahatan, Allen malah memperkenalkan karyanya berjudul Howl, sebuah puisi tentang keintiman heteroseksual dan homoseksual yang fulgar dan tabu. Howl menyebabkan Ginsberg dikenal sebagai tokoh homoseksualitas yang cabul. Puisi ini sempat dilarang karena menggunakan kata-kata cabul yang dinilai bisa merusak moral masyarakat. Tapi pengadilan memenangkan Ginsberg.

Lahir 3 June 1926 di Newark, New Jersey, Allen anak kedua dari penyair Louis Ginsberg. Salah satu puisi ayahnya yang terkenal adalah “Waterfalls of Stones”. Sastra dan puisi memang sudah karib dengan Allen sejak kanak-kanak sebab ayahnya kerap membacakan padanya puisi-puisi Emily Dickinson, YB Keats, Edgar Alan Poe dan lain-lain. Tentang ayahnya, Allen bicara tentang pentingnya unsur musik dalam puisi. "Dia menulis lirik-lirik tradisional, tapi kau tahu, dia tidak beryanyi," katanya.

Di kelak hari, ia memang intim dengan musik. Puisi-puisinya banyak mempengaruhi kaum budayawan dan musisi. Bob Dylan, musisi Amerika legendaris, kerap mengadopsi gaya puisi Generasi Beat ke dalam gubahan lagu-lagunya. Karena obsesinya pada Ginsberg, John Lennon bahkan mengganti nama band-nya dari ‘Beetles’ menjadi ‘Beatles’, mengacu Beat Generation.

Allen menjalani kehidupan masa kanaknya dengan kondisi ‘kegilaan’ yang menyedihkan karena ibunya, Naomi, mengalami skizofrenia kronis dengan emosi yang kacau. Tahun 1947, Allen menyetujui ibunya menjalani Lobotomi, bedah pemotongan saraf otak. Penderitaan bertahun-tahun berakhir dengan kematian sang ibu. Ratap kesedihan Allen tertulis dalam puisi Kaddish, sajak liris religius sebagai penghormatan untuk ibunya.

Allen terlibat dalam hampir seluruh bidang kesenian. Saat pergi ke London tahun 1965 bersama tokoh-tokoh Beat lain, mereka melakukan pembacaan puisi dan memunculkan Gerakan London Bawah Tanah yang bermarkas di UFO Club. Di situlah band-band besar seperti Pink Floyd dan The Soft Machine muncul. Bob Dylan menganggap Allen Ginsberg sebagai salah satu tokoh sastra yang dia kagumi. Tahun 1965, Allen tampil dalam video Bob Dylan Subterranean Homesick Blues dan tahun 1977 mendapat peran  di film Dylan berjudul 'Renaldo and Clara.' Tahun 1970, ia mendirikan sekolah puisi The Jack Kerouac School of Disembodied Poetics di Trungpa's Naropa Institute in Boulder, Colorado. Tahun 1980 Allen bergabung dengan kelompok punk rock dan muncul di album “Combat Rock” dan tampil bersama dengan mereka di panggung.

Tahun 1972, Allen memperoleh National Book Award untuk bukunya The Fall of America: Selected Gay Poems and Correspondence, sebuah koleksi puisi dan surat-surat antara Ginsberg dan Peter Orlovsky, yang terbit pada 1978. Pada 1984 diterbitkan kumpulan puisinya, Collected Poems 1947-1980, setebal 800 halaman. Ginsberg meninggal karena kanker pada 5 April 1997. ***

(Sumber: Sumut Pos, 17 April 2016)
Bagikan:

13 April 2016

Dan Kau, Brutus?

Oleh Panda MT Siallagan

Segala hal di dunia ini bisa kau beli, kata seorang kawan. Ia mengekspresikan rasa kecewa yang menyakitkan dengan bahasa yang sopan. Tetapi, katanya melanjutkan, kepercayaan tidak bisa kau beli dengan apapun, meskipun nyawa kau pertaruhkan.


Begitulah, banyak hal berlalu dan harus hilang dalam kehidupan. Dan salah satu kehilangan terberat adalah kehilangan kepercayaan. Berat bagi pihak yang mencoba memberi lagi kepercayaan itu, sebab ia akan hidup dibayang-bayangi kekhawatiran. Berat bagi pihak yang tidak lagi dipercaya, seolah-olah tak ada lagi kebenaran dalam hidupnya.

Maka ada kalanya kita putus asa berpikir: mengapa seorang pemimpin yang di pundaknya diletakkan tugas dan kehormatan mengurus hidup warga, bisa dengan mudah mengkhianati amanah? Cikal-bakal budaya bohong dan tindak-tanduk pengkhianatan, mungkin memang berawal dari kelakuan para pemimpin dan kaum elit. Sebab seringkali, panutan bermula dari aspek dan wujud superior. Dan meskipun nilai-nilai proletar sesungguhnya menyimpan kekuatan, ia selalu tertinggal. Sama halnya kearifan lokal, ia dikenang dan dituntut di kemudian waktu, tapi sesungguhnya kita telah terlebih dahulu didera kehilangan yang menghancurkan.

Lalu, di dunia yang gelisah dan penuh curiga, Tuhan di mana? Kita patut mengenang William Shakespeare (1564-1616), seorang penulis, sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, sonata, dan puisi-puisi. Ia menulis antara tahun 1585 dan dan karyanya telah diterjemahkan di hampir semua bahasa di dunia. Karyanya tercatat paling banyak dipentaskan di seluruh dunia.

William Shakespeare mengajarkan kita banyak hal. Beberapa kalimat ciptaannya kekal digunakan hingga saat ini. Apalah arti sebuah nama, misalnya, sangat luas dipakai orang, tapi tak semua orang tahu bahwa kalimat itu berasal dari ungkapan Shakespeare. Dan drama Romeo dan Juliet, menjadi legenda yang tak akan terlupakan di seluruh dunia. Satu drama lain yang sangat terkenal adalah Julius Caesar. Drama ini mengisahkan rencana pembunuhan terhadap Caesar oleh sekelompok tokoh politik di senat Romawi. Dan salah satu pentolan komplotan pembunuhan ini adalah Brutus, Marcus Brutus lengkapnya.

Brutus merupakan sahabat Caesar dan kepadanya urusan pemerintahan dipercayakan. Hal apakah gerangan yang mendasari Brutus merencanakan pembunuhan terhadap sahabatnya dengan tega? Tak lain karena kekuasaan. Ya, komplotan ini mendengar bahwa Caesar akan mengubah sistem pemerintahan Romawi dan Republik menjadi monarki, agar Romawi mutlak di bawah kekuasaannya. Maka demikianlah, Brutus dkk mulai merancang konspirasi pembunuhan terhadap Caesar.

Sebelum pembunuhan, Caesar sesungguhnya sudah diingatkan oleh istrinya, Calpurnia, agar tidak keluar ke senat malam itu. Sebab ia bermimpi patung suaminya memancarkan darah. Tapi Caesar berkata dengan tegak, “Pengecut mati berkali-kali sebelum saatnya. Seorang pemberani hanya merasakan maut satu kali. Dari semua keanehan yang pernah kudengar, hal paling aneh bagiku adalah orang yang ketakutan melihat maut.”

Singkat kisah, para konspirator membuat sebuah petisi yang dibawa Metellus Cimber. Dalam petisi itu, mereka memohon pembebasan saudaranya yang saat itu dibuang karena keasalahan pada Caesar. Tentu saja, Caesar menolak permohonan itu. Tapi dengan berbagai upaya, termasuk sembah sujud, para komplotan merayu Caesar. Tapi Caesar tetap menolak. Pada saat itulah, saat Caesar berpaling membelakangi komplotan, lehernya dihujani tikaman. Ia menoleh Brutus, temannya, ikut menikam lehernya.

Di tengah kondisi sekarat dan tenaga yang masih tersisa, Caesar berkata, “Et Tu, Brutus?" (Dan kau, Brutus?). Sesaat setelah mengucapkan kalimat itu, Caesar mati. Begitulah, sejarah tidak melulu soal kisah-kisah kepahlawanan. Bentangan waktu juga mempertontonkan kepada kita tragedi pengkhianatan demi pengkhianatan. Kita tahu, kabar tewasnya Pemimpin Libya, Moammar Khadafi, berawal dari bocornya rahasia perihal lokasi keberadaannya, yang tak lain dilakukan pasukan dan pengikutnya.

Lantas, manusia jahatkah pengkhianat? Mungkin tidak, sebab bisa saja pengkhianatan lahir dari pengingkaran komitmen, negosiasi dan pengalaman-pengalaman yang mencederai integritas. Setelah Caesar mati, Brutus membuat penjelasan bahwa mereka melakukan pembunuhan itu untuk kepentingan Roma, bukan untuk tujuan mereka sendiri. Brutus membela tindakannya sebagai aksi patriotis untuk orang banyak. Dan memang, pengkhianatan selalu punya alasan yang pasti. Tapi selanjutnya, kepercayaan takkan terbeli lagi. Selama-lamanya. ***
Bagikan:

10 April 2016

Puisi dalam Kardus

Oleh Panda MT Siallagan

Di masa lalu, pengenalan awal manusia terhadap sastra berlangsung dalam disiplin tradisi lisan.  Kisah-kisah, pantun, nyanyian, nasihat, dongeng atau balada, semua disampaikan lewat cerita oleh generasi yang lebih leluhur ke generasi pewaris. Bahkan di zaman modern ketika keberaksaraan sudah keniscayaan, tradisi itu masih bertahan lewat dongeng-dongeng yang dikisahkan ibu pada anak-anaknya.


Sulit membayangkan bagaimana kisah-kisah itu bertahan dan awet secara turun-temurun hanya melalui ingatan. Ketika sastra lisan itu hidup sebagai bagian dari roh kebudayaan suatu masyarakat lama, tak pernah barangkali dongeng-dongeng itu terpikirkan diabadikan dalam teks, sebagaimana kini bisa dinikmati dalam sosok kitab atau buku.

Pun mitos-mitos tentang asal-usul suatu puak, sejatinya mungkin tak pernah diniatkan jadi warisan tulis. Tapi hadirnya ilmu pengetahuan bernama sejarah mengubah takdir mitos-mitos itu jadi benda aksara, yang tergantung pada hegemoni teks yang mewakilinya. Dikatakan ‘tergantung’, sebab adakalanya mereka direproduksi dalam bahasa yang tak pernah bersentuhan dengannya.

Merangsek ke zaman yang lebih tua, kepada kita dikenalkan pula naskah-naskah kuno yang tercatat pada beragam media seperti daun lontar , ukiran atau prasasti pada batu-batu. Sama seperti dongeng, naskah-naskah kuno itu kini bisa dinikmati, dan alangkah takjub membayangkannya: kita bisa memasuki alam ribuan tahun silam hanya melalui teks.

Siapa bisa membayangkan, misalnya, Babad Tanah Jawi hadir dalam kemasan cantik, menyuguhkan kisah tentang asal-usul Tanah Jawa atau silsilah raja-raja Mataram, yang oleh karena kekuatan bahasanya, di dalamnya kita bisa menikmati dua genre sekaligus: prosa dan syair. Siapa bisa membayangkan karya-karya Raja Ali Haji, terutama Gurindam Dua Belas, bisa melegenda dan menyeberang antar benua? Atau, mitologi Si Boru Deak Parujar dalam silsilah Batak, siapa bisa bayangkan kini jadi bacaan nikmat bagi para pengelana budaya?

Atas pertanyaan itu, saya menghayalkan bahwa di masa yang tak kita kenal itu, mungkin terdapat juga beragam dongeng atau naskah lain, tapi tak seluruhnya kekal. Dongeng atau naskah-naskah masalalu yang kita kenal saat ini barangkali adalah mutiara-mutiara terpilih yang oleh nenek moyang dianggap berkualitas dan diwariskan lewat literasi oral. Dan itulah barangkali mengapa dunia perpuisian kita dari zaman ke zaman tak pernah lepas dari Chairil Anwar, atau literasi Inggris Raya tak bisa luput dari Rudyard Kipling, sekedar contoh dari sekian nama dan karya-karya legendaris, yang siapapun tertarik menikmatinya, bisa mendapatkannya kapan dan di mana saja pada era ini.

Saya terharu membaca kisah penyair eksperimental Amerika, Frank O’hara, di buku American Writing Today, Forum Series Vol.1. Buku yang diselenggarakan atas wawancara broadcaster radio Voice of America (VOA) dengan sastrawan-sastrawan negeri itu. Tentang Frank O’hara, VOA mewawancarai Kenneth Koch, yang tak lain adalah teman O’hara di klub New York School of Poetry. Bersama seorang lagi bernama John Ashbery, mereka adalah tiga serangkai penyair Amerika kontemporer yang mendedahkan resah atas goncangan tradisi lama dan arus modernisme.

Ketika Frank O’hara wafat pada tahun 1966, namanya tak terlalu harum sebagai penyair sebab hanya ada sedikit puisinya yang terbit di buletin yang dikelola komunitas mereka, New York School itu. Tapi bertahun-tahun kemudian, tak ada keraguan: O’hara adalah penyair besar Amerika, yang dipuja oleh generasi demi generasi di kelak hari. Sebab ternyata, ia mewariskan banyak puisi bermutu tinggi yang tak pernah diterbitkan semasa hidupnya. Karya-karyanya yang dibukukan setelah ia tiada bahkan memperoleh penghargaan National Book Award. Mengapa O’hara tak begitu peduli dan terkesan sembrono atas karya-karyanya?

“Aku tak tahu. Sampai ia meninggal, aku tak pernah tahu seberapa banyak ia menulis. Ketika dia meninggal, aku dan beberapa teman pergi ke apartemennya dan mendapatkan semua manuskripnya. Kemudian beberapa penyair dan teman-teman membuat katalog atas puisi-puisi itu. Saya takjub menemukan beberapa puisi menunjukkan kualitas yang belum pernah saya saksikan. Frank menyimpan puisi-puisi itu dalam kardus, lengkap dengan tanggal,” ujar Kenneth Koch.

Mengapa O’hara tidak memublikasikan karya-karyanya? Koch mengatakan, untuk satu alasan, tak mudah memang bagi mereka untuk menerbitkan karya pada masa itu hingga ahirnya O’hara meninggal. “Kedua, Frank memiliki standar yang sangat tinggi atas karya-karyanya. Seberapa bagus karyanya menurut padangannya hingga ia meninggal, aku tidak tahu. Kini ia penyair besar,” ujar Koch ketika itu.

Sampai di situ, saya coba menghayati karya-karya O’hara meski tak mudah mencarinya dalam bahasa Indonesia. Salah satu puisinya berjudul Steps, digandrungi anak-anak muda di seluruh dunia. …Oh, Tuhan, alangkah takjub/keluar meninggalkan tempat tidur/dan terlalu banyak minum kopi/dan terlalu banyak merokok/dan sangat mencintaimu…! Demikian bait terakhir puisi itu. Hmm…

Suatu kali yang lain, Orhan Pamuk mengenalkan saya pada empat penulis Turki terkenal, yang sepertinya sengaja dipilihkan Pamuk mewakili berbagai genre: Abdulhak Sinasi Hisar (penulis memoar), Yahya Kemal (penyair), Ahmet Hamdi Tanpinar (novelis), Resat Ekram Kocu (jurnalis-sejarahwan). Keempat penulis melankolis itu, menurut Pamuk, sama-sama terpukau pada kegemilangan kesusasteraan Barat, terutama Perancis. Mereka ingin menulis selayaknya orang Perancis, tapi sekaligus menyadari bahwa mereka tidak mungkin sama seperti penulis-penulis Perancis pujaannya.

“Satu pelajaran yang mereka ambil dari kebudayaan Prancis dan ide-ide Perancis tentang kesusasteran adalah  adalah bahwa tulisan yang hebat harus asli, otentik dan jujur. Hal lain yang mereka pelajari, yang membantu mereka mencapai kejujuran dan keaslian adalah konsep ‘seni untuk seni’ atau ‘puisi murni’,” demikian Pamuk.

Dari karya-karya empat penulis inilah Pamuk antara lain menggali kenangan masa kanak-kanaknya di Istanbul, kota kelahirannya, yang ia sajikan secara mengesankan dalam buku memoarnya. Penyair Yahya Kemal, misalnya, melakukan pencarian atas citra Istanbul “Turki-Usmani” yang murung karena tak ada teladan di antara puing-puing lingkungan miskin kota, yang berserak bersama keprihatinan-keprihatinan sosial akibat ledakan jumlah penduduk kota pada masa itu. Satu hal mengesankan tentang Yahya Kemal, dialah penyair terbesar Istanbul dan paling berpengaruh, tapi sepanjang masa hidupnya menolak untuk menerbitkan satu buku pun.

Demikianlah, sejak tradisi lisan hingga zaman digital yang riuh dengan teks-teks tak terkendali (bahasa medsos), saya tak pernah ragu bahwa karya-karya bermutu akan mengatasi zaman, akan menemui takdirnya sebagai karya agung: menjenguk dan dijenguk dunia. Bahkan, ketika sebuah karya diniatkan pengarang untuk mati bersamanya karena beberapa pertimbangan, barangkali akan ada juga tangan-tangan ajaib menyelamatkan karya itu untuk dipersembahkan pada peradaban.

Saya memahami, gagasan penerbitan karya adalah kesenangan penuh kebanggaan, tapi ia sekaligus mengandung racun, yang tak searah dengan sinar panggilan sunyi itu: tentang mengapa sesungguhnya seseorang mengarang, menjerumuskan diri ke jalan yang membuat ia terasing dalam kehidupan, terasing dalam nilai-nilai kekal yang terkandung dalam goresan dan luahan jiwanya.

(Sumber, Sumut Pos, 10 April 2016)


Bagikan:

18 Maret 2016

Kapan Hari Sastra Nasional?

Oleh Panda MT Siallagan

Dinamika sastra Indonesia pernah menghangat dengan munculnya beberapa istilah penamaan. Ada sastra buku, sastra majalah, sastra koran, sastra saiber, sastra komunitas, sastra facebook dan sastra-sastra lainnya. Bahkan, sempat pula muncul ‘demam’ cerpen mini di jejaring sosial twitter, yang entah kenapa tidak disebut ‘sastra twitter’.

Sebagian istilah-istilah itu sempat pula menyebabkan ‘pertikaian’ serius yang mengarah pada destruksi wacana yang tidak substansial. Misalnya, sejumlah kalangan menilai sastra komunitas tidak lebih bagus dibanding sastra koran. Sastra saiber, juga sempat teraniaya dan dituding sebagai karya gampangan. Sastra koran, oleh sejumlah pihak ia dianggap seolah ‘lebih rendah’ dari sastra buku. Kini, penerbitan buku-buku sastra sudah membludak hingga tak terpetakan, mana wacananya? Senyap.

Demikianlah warna-warna itu terekam menjadi sejarah kesusasteraan kita. Terlepas dari substansinya, kenyataan menunjukkan hingga hari ini karya sastra masih tetap diproduksi dan disebarluaskan melalui medium yang kian beragam, yang menjadikannya tidak lagi relevan untuk dinamai dan dikotak-kotakkan. Era digital telah memungkinkan siapa saja bersastra dan menyebut diri sebagai sastrawan.


Namun, satu hal yang tak terelakkan adalah: sastra koran. Koran masih tetap jadi pilihan utama para penulis untuk menyiarkan karya dan menjadikannya sebagai ‘legalisasi’ proses kebersastraan. Karya sastra yang bisa disebarluaskan secara masif melalui jejaring sosial, misalnya, belum pernah menghasilkan penobatan yang ‘sakral’ terhadap status dan identitas kepenulisan seseorang. Sebaliknya, para penulis masih ‘memburu’ koran sebagai tempat menobatkan diri, lalu memanfaatkan saiber menyebarluaskan karya-karya kreatifnya. Jika karyanya terbit di koran, tak hanya penulis muda, para penulis senior pun akan dengan bangga mempersembahkan drama ini: SHARING KARYA DI JEJARING.

Kisah lain yang juga menarik adalah munculnya penulis-penulis baru yang tak dikenal koran. Mereka lahir dari komunitas-komunitas penulis atau klub-klub baca, berkarya bersama dan menerbitkan buku bersama-sama. Komersialisasi dan distribusinya juga berjalan dengan organisasi yang baik. Bahkan, stempel-stempel bestseller kerap mereka kuasai, terutama untuk genre novel yang memang tidak lagi punya tempat di koran. Sudah sangat sulit menemukan cerita bersambung di surat kabar pada masa ini.

Dan adakalanya, sebagian buku itu merupakan bentuk ‘perlawanan’ pada sastra koran. Maka tertudinglah sastra koran sebagai sastra ‘selera redaktur’. Sebaliknya, tertuding pula karya-karya komunitas itu sebagai karya pop. Tapi kerap, para penulis yang lahir dari ruang itu, pada akhirnya berlabuh jua ke koran dan/atau meneguhkan eksistensi kekaryaannya melalui koran, baik dalam bentuk resensi atau berita-berita bedah buku.

Terlepas dari penamaan, fenomena itu kiranya cukup meneguhkan kenyataan bahwa koran atau surat kabar masih berperan penting dalam perjalanan dan pengembangan kesusasteraan kita. Atau sebaliknya, sastra menjadi ‘sosok sakral’ sebagai pemberi daulat atas martabat sebuah koran, sebagaimana dikatakan Umbu Landu Paranggi bahwa koran tanpa ruang sastra dan budaya adalah koran barbar. Dan itu menjadi sebuah keniscayaan hingga saat ini. Sebab hanya surat-surat kabar mainstreamlah yang tetap setia memberikan ruang pada sastra dan budaya. Sementara koran-koran kuning masih menjauhkan takdirnya dari ‘ruang yang tak menjual’ ini.

Demikianlah sastra dan surat kabar selalu berjalan beriring. Sejarah lahirnya kesusastraan kita juga tidak terlepas dari kemunculan pers, meskipun belum ada jawaban final atas pertanyaan ini: kapan sesungguhnya kesusasteraan Indonesia lahir?

Namun sejumlah cacatan menyebutkan, jauh sebelum kehadiran Balai Pustaka, karya-karya sastra anak negeri berupa seperti cerpen, cerbung dan puisi, telah banyak tersiar di berbagai surat kabar yang terbit di masa kolonial. Dan kenyataan itulah yang mendorong berdirinya Balai Pustaka, yang kemudian memunculkan roman-roman legendaris seperti Layar Terkembang, Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Salah Pilih dan lain-lain. Sekian lama, karya-karya inilah yang terpatri secara mendalam di benak setiap generasi.

Terlepas dari sejumlah pendapat yang mengatakan bahwa Balai Pustaka dihadirkan Belanda untuk ‘membungkam’ persebaran karya sastra koran ketika itu, fakta ini menunjukkan kenyataan bahwa sejarah kesusastraan Indonesia berlangsung intim dengan kemunculan pers. Sejumlah tokoh bangsa, yang dikenal sebagai sastrawan dan budayawan, juga merupakan tokoh pers, seperti Mochtar Lubis, Muhammad Yamin, Hamka, dan Abdul Muis (sekedar menyebut beberapa nama).

Di zaman baru, perjalanan kesusateraan Indonesia terus menggeliat seiring dengan keberadaan media massa. Era tahun 1980-an, misalnya, hampir seluruh media massa memberikan rubik khusus untuk sastra, terlebih pada edisi minggu dan melahirkan sastrawan-sastrawan agung.

Suatu ketika di zaman Orde Baru, sastra bahkan menjadi pintu terakhir bagi ruang kritis, sebagaimana dimaksudkan Seno Gumira Ajidarma dalam judul bukunya yang tersohor: Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Dengan demikian, sastra sesungguhnya memiliki peranan yang sama kuatnya dengan koran. Lalu, mengapa pers bisa berdiri tegak, mengapa sastra seolah tersingkir?

Saya akhiri catatan ini sebagai sebuah kilasan refleksi. Tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional setiap tahun, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ketetapan itu dikuatkan dengan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 5 tahun 1985 yang ditandatangani Presiden ke-2 Soeharto pada 23 Januari 1985. Lalu kapan sastra punya hari nasional? Apa kabar Hari Puisi Indonesia? Apa kabar Hari Sastra Indonesia?** (Pandapotan MT Siallagan)

Sumber: Sumut Pos, 14 Februari 2016
Bagikan: