Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

08 April 2019

Lirik Lagu Sandiwara (Manis di Bibir) dan Artinya - Lamser Girsang


Sandiwara

Vocal: Lamser Girsang
Ciptaan: Lamser Girsang

Lamser Girsang

Ham do da botou
Ham do manghatahon
Na lang sirang hita nadua
Anggo lang sinirang ni hamatean
Nai do nimmu anggi, nai do nimmu

(Kau kekasih
Kau yang berkata
Kita berdua takkan berpisah
Kalau tidak dipisahkan kematian
Seperti itu katamu, adikku, seperti itu)


Hape ni da botou
Na lang huarap in
Hutangar ma baritamu
Na dob misir do hape ham
Bani na legan anakni na bayak in

(Tapi ternyata
Di luar dugaanku
Kudengar kabar tentangmu
Kau telah pergi
Bersama lelaki lain anak orang kaya)

Reff:

Sandiwara do haganupan hape
Mase, mase ma ham sonin
Na lang huarapin na laho songon in
Lungun, lungun pambahenanmin

(Ternyata semua cuma sandiwara
Mengapa, mengapa engkau begitu?
Sungguh tak kuduga harus seperti ini
Sedih, sungguh sedih perlakkuanmu)

Lajamu do hasihor
Bulungmu manrantinghon
Hatamu do masihol
Hape uhurmu manadinghon
Manis di bibir do hape ganupan in

(Lajamu buah kencur
Daunmu penuh reranting
Katamu kau rindu
Tapi hatimu meninggalkan
Semua ternyata manis di bibir)
***
Bagikan:

06 Desember 2017

Na Niarsik


Cerpen Panda MT Siallagan

Untuk pertama kali, aku pergi ke pasar untuk belanja. Benar-benar untuk belanja. Aku ingin membeli sekilo ikan mas, juga bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, jahe, kunyit, lengkuas, asam glugur, andaliman, kemiri dan lain-lain. Apakah ini aneh karena aku seorang lelaki yang tergolong muda dan masih lajang?

Mungkin dalam masyarakat tertentu, ada pandangan yang menganggap tindakan seperti ini sangat memalukan jika dilakukan seorang lelaki. Untunglah aku tinggal di kota, sehingga hal ini tidak menjadi perhatian benar bagi orang-orang. Entah kenapa memang, aku tiba-tiba ingin sekali menikmati na niarsik, masakan tradisional yang kukenal sejak masa kanak-kanak.

Screenshoot sampul buku.
Dulu, ibuku seringkali membuat masakan itu pada hari-hari tertentu. Jika aku mendapat ranking di kelas, ibu akan memasaknya sebagai hadiah atas prestasiku. Pada masa itu, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang morat-marit, makanan semacam ini tergolong mewah. Meski begitu, paling tidak dalam momen-momen tertentu, ibuku tak pernah absen menghidangkan masakan itu bagi kami sekeluarga. Ketika ibu meramu bumbu, aku seringkali mengamati, sebab itu aku hapal benar komposisi bumbu dan cara memasaknya.

Ketika pagi ini aku terbangun, dan teringat masakan itu, aku langsung bergegas ke pasar. Sambil belanja, air liurku sudah mulai mendesak ingin keluar, terbayang kenikmatannya yang luar biasa.

Tak kuhiraukan orang-orang yang melayangkan pandangan aneh terhadapku. Aku terus saja berbelanja, berbaur dengan ibu-ibu dan gadis-gadis yang juga berbelanja. Setelah semua bahan yang kubutuhkan lengkap, aku pergi ke kios penggilingan untuk menggiling bumbu-bumbu itu dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Aku tak perlu lagi repot menggilingnya. Cukup membersihkan ikan mas dan memotong-motongnya dengan ukuran yang kuinginkan.

Ketika aku hendak pulang dan keluar dari gerbang pasar, aku bertemu Maulina, perempuan sedesaku. Aku sangat kaget, dan merasa malu. Apa jadinya jika kelak ia bercerita pada orang kampung bahwa aku belanja seperti ibu-ibu. Hal ini bisa menghancurkan integritasku. Sayang sekali, aku tak sempat mengelak karena ia buru-buru menyapa.

"Hei, apa kabar? Lama tidak ketemu," katanya sambil menyalamiku.

"Baik," kataku, "Kau sendiri bagaimana?"

"Yah, seperti kau lihat, aku sehat-sehat saja, meski mungkin agak kurus. Benar kan?"

Saat itulah aku sadar bahwa Maulina agak kurus, wajahnya sedikit pucat, kusam, tidak lagi secantik dulu. Secara bersamaan, pikiranku berangsur-angsur pulih, tidak lagi panik, sehingga aku sudah bisa bertanya.

"Kenapa ada di kota ini. Mana suamimu?"

Mendengar pertanyaanku, eskpresi wajahnya tiba-tiba berubah, sedih. Lama dia tidak menjawab pertanyaanku sampai kemudian airmata mengalir di pipinya.

"Ada apa?" tanyaku.

"Tidak apa-apa. Oh ya, kau belanja? Belanja apa?"

Aku kembali kikuk, tapi berusaha bersikap wajar. "Aku tiba-tiba ingin sekali menikmati na niarsik. Aku terpaksa belanja dan ingin memasaknya untuk diriku sendiri."

"Istrimu mana?"

"Aku belum menikah."

"Oya? Kalau kau tidak keberatan, biarlah aku memasaknya untukmu. Aku juga baru saja selesai belanja. Kali ini kau ikut ke rumahku. Kau makan siang dan makan malam di sana saja. Aku sudah tinggal di kota ini. Sekalian kangen-kangenan, aku ingin bercerita banyak kepadamu. Lagi pula, sudah sangat lama kita tidak bertemu."

"Apa suamimu tidak akan marah?"

"Gampang, bisa diatur."

***

Setelah berbincang sekitar satu jam, aku pamit dari rumahnya.

"Begini saja," kataku, "Ada sedikit pekerjaaan yang harus kurampungkan hari ini. Jadi, aku pulang dulu. Nanti pada waktu makan siang, aku datang kemari. Bagaimana?"

"Baiklah kalau begitu. Lagi pula, kalau kita ngobrol terus, kapan waktuku memasak," katanya sambil tertawa.

Keluar dari rumahnya, aku berpikir kenapa aku menuruti tawarannya. Mestinya aku menolak ketika dia menawarkan diri untuk memasak na niarsik itu untukku. Kupikir, ada rahasia dari ingatan yang tiba-tiba berderap ketika tadi aku bertemu dia dan itu membuat otakku tidak bisa berpikir.

Dulu, ketika aku dan Maulina masih kecil, pernah sesuatu yang mengerikan terjadi pada keluarga kami. Waktu itu, adik Maulina paling bungsu terserang malaria. Untuk membawanya berobat ke puskesmas, dibutuhkan uang tak sedikit. Simpanan mereka tidak mencukupi. Ibu Maulina datang meminjam uang kepada ayah dan ibuku. Ayah dan ibu mengabulkannya. Adik Maulina dibawa berobat dan akhirnya sembuh.

Selang beberapa bulan, ibu pergi menagih utang itu dan terjadilah peristiwa mengerikan itu. Ayah Maulina, entah mabuk atau kerasukan setan, tiba-tiba menghardik ibuku.

"Hei, apa kau tak punya perasaan? Apa kau tak berperikemanusiaan? Anak-anak kami sudah nyaris tak makan, tapi kau masih tega menagih utang ke kami."

"Bukan begitu, Pak Uli. Kami juga susah. Kami butuh uang itu untuk beli pupuk. Kalau tidak, tanaman jagung kami bisa kerdil dan..."

"Diam! Sekarang pergi kau dari rumahku, atau kuhabisi nyawamu?"

Ayah Maulina setengah berlari pergi ke arah dapur. Ketika kembali, tangannya sudah mengacung-acungkan golok. Ia berteriak-teriak lantang memaki ibuku. Ibu Maulina berusaha menenangkan suaminya tapi tak digubris.

Menyadari situasi yang penuh kegilaan itu, ibuku melarikan diri dari rumah mereka. Sesampainya di rumah, Ibu menceritakan peristiwa itu kepada ayahku dengan terisak-isak. Kontan saja ayahku naik pitam.

"Mungkin harus di tangankulah ajal bedebah itu," kata ayahku sambil mengambil parang.

"Mau kau apakan parang itu," tanya ibu.

"Akan kucincang tubuh anjing itu."

"Jangan," kata ibuku, masih terisak. "Jangan kau lakukan itu. Lebih baik aku bunuh diri kalau kau melakukan itu. Ayo, langkahi mayatku," ibuku merampas parang itu dan meletakkannya di lehernya.

"Kalau kau masih degil, biar kupotong leherku ini."

Setelah ketegangan itu agak reda, ibu berkata, "Kekerasan tak membuat kita jadi lebih kuat. Tahankanlah setiap luka yang ditorehkan orang-orang dalam hidupmu, di situlah letak martabatmu. Kalian laki-laki, apa yang tak bisa kalian lakukan dengan kekuatan kalian? Kita hidup bukan untuk mempertontonkan kekerasan. Aku tahu perbuatannya itu menyakitkan, memalukan bagi kau sebagai suamiku. Tapi cukuplah, mulai saat ini, anggaplah keluarga itu tidak ada lagi dalam kehidupan kita."

Kepada kami, anak-anaknya, ibu berkata, "Kalian jangan sekalipun berteman dengan anak-anaknya. Cari teman yang lain. Ibu tahu ini salah, tapi kalian juga harus tahu betapa sakit perlakuan ayahnya."

Karena di sekolah dasar aku sekelas dengan Maulina, nasehat ibu tak bisa kuturuti. Aku tetap bersahabat dengannya, juga adik-adiknya. Aku bersyukur ibuku tidak pernah menyinggung persahabatan itu apalagi melarangnya. Sejak itulah aku merasa kagum pada ibu. Aku kemudian menyadari, di balik sikapnya yang cerewet, di hati ibu tersimpan kebijaksanaan dan kasih sayang yang melimpah.

Selepas SD, aku dan Maulina masuk ke SLTP yang sama. Juga duduk di kelas yang sama. Ada satu hal yang rasanya sangat indah untuk diingat mengenai persahabatanku dengan Maulina. Mungkin, karena perselisihan yang terjadi antara orangtua, aku dan dia selalu berusaha untuk tidak saling melukai. Bahkan ada keinginan pada masing-masing kami untuk saling membantu. Ketika aku misalnya lalai atau tidak sanggup mengerjakan PR, Maulina selalu bersedia membantuku. Sebaliknya, jika ia bertemu soal-soal rumit yang kebetulan aku mengerti, dengan senang hati aku membantunya. Pola persahabatan seperti itu akhirnya mengantarkan kami pada siswa yang selalu juara di kelas. Sesekali, kami juga makan bersama di kantin.

Ingatan paling mendebarkan dari semua itu, ketika suatu hari aku berkelahi dengan anak nakal di kelas kami. Dengan telak, aku menghajar anak itu hingga babak belur. Sepulang sekolah, anak itu, bersama teman-temannya, memukuliku beramai-ramai hingga darah mengucur dari mulut dan pelipisku pecah. Melihat peristiwa itu, Maulina histeris, menangis dan membopongku ke P3K sekolah setelah terlebih dahulu melap selekeh darah di wajahku dengan sapu tangannya. Aku merasakan betapa lembut usapan tangannya. Sejak itulah aku merasakan sesuatu yang lain pada Maulina. Kupikir, aku telah jatuh hati padanya. Waktu itu, kami sudah duduk di bangku kelas 3 SLTP.

Ketika SMU, kami berpisah. Dia melanjutkan studinya di kota yang sangat jauh. Kami masih tetap berhubungan melalui surat. Melalui surat jugalah kuungkapkan perasaanku. Dan aku sangat bahagia ketika dia mengatakan hal yang sama. Suatu hari, kami sepakat menceritakan hubungan kami kepada orangtua masing-masing dengan harapan mereka bisa berdamai, dan memberi restu kepada kami. Tapi harapan kami pecah. Orangtua kami bersikeras melarang hubungan itu.

Tak lama, aku mendengar kabar, Maulina dipaksa menikah dengan seorang nahkoda kapal, putra kenalan ayahnya. Dia tidak menamatkan SMU-nya. Dia langsung diboyong suaminya ke Batam. Sejak itu, kami kami tidak pernah lagi saling berkirim kabar. Alangkah aneh perjalanan hidup. Bertemu dengannya hari ini, sungguh pengalaman yang amat ganjil sekaligus menggetarkan.

***

Ketika siang itu aku tiba di rumahnya, makanan sudah terhidang. Kami makan bersama-sama. Kukatakan, masakannya enak, kurang lebih sama seperti apa yang selalu dibuat ibuku ketika aku masih kecil. Dia tersenyum. Setelah selesai makan, aku bertanya tentang suaminya. Dia tidak menjawab, bahkan tiba-tiba ia menangis. Aduh, airmata itu adalah airmata yang sama, ketika ia menangis dan mengusap wajahku yang berselekeh darah dengan sapu tangan.

"Kenapa, berceritalah padaku!" kataku.

Setelah agak lama membisu, ia akhirnya mampu bercerita. "Suamiku pergi meninggalkanku. Aku tak bahagia bersamanya. Kau tahu, sebagai nahkoda, ia jarang berada di rumah. Kadang dalam tiga bulan, ia pulang hanya sekali. Itupun kalau kapalnya kebetulan singgah di Batam. Pada awal pernikahan kami, aku masih bisa maklum. Waktu itu, ia masih perhatian. Ia masih berusaha menelepon aku saat kapalnya singgah di pelabuhan tertentu. Aku sampai hapal kalimat-kalimatnya: 'halo sayang, aku di Malaysia', 'apa kabar, manis? Aku lagi di Philipina', 'cantikku, aku di Singapura'. Kau tentu bisa membayangkan betapa indahnya hal itu. Tapi itu tak berlangsung lama," katanya sembari menghela nafas, lalu melanjutkan ceritanya.

"Setelah setahun usia pernikahan kami, ia tak pernah lagi memberiku kabar dalam setiap pelayaran. Pertengkaran-pertengkaran menyakitkan mulai terjadi. Terakhir, ia pulang bersama seorang perempuan. Di hadapan perempuan itu juga aku minta cerai dan itulah yang diinginkannya. Setelah urusan perceraian itu selesai melalui proses pengadilan, aku mendapat pembagian harta, lalu pindah ke kota ini. Aku tidak lagi memiliki harapan apa-apa. Aku memilih kota ini karena kutahu kau tinggal di sini. Ini kedengarannya berlebihan, tapi sudahlah. Aku sudah bahagia bisa bertemu kau. Sekarang giliranmu, ceritalah padaku. Kenapa kau belum menikah?"

Sungguh, aku tidak bisa bicara. Aku sedih sekali. Entah bagaimana awalnya, kami tiba-tiba sudah berpelukan.

"Aku mencintaimu," kataku.

Kurasakan tubuhnya sangat bergetar. Kehangatan menjalar hingga ke ubun-ubun. Ingin kukatakan, sejak ia pergi, aku tak pernah mampu mencintai wanita lain. Tapi hal itu tak terlontar dari bibirku, aku justru bertanya, "Patutkah kita menyalahkan masalalu orangtua dalam hal ini?"

"Tidak," katanya, "Orangtua kita tak bersalah dalam hal ini. Aku yakin mereka sudah cukup menderita dengan derita kita. Meski ini menyakitkan, setidaknya kita tahu bahwa amarah, dendam, dan kesalahan, adalah ancaman terhadap semua masa depan."

Pekanbaru, Desember 2004

Cerpen ini pertama kali dimuat di harian Analisa dan dibukukan dalam rangka ulang tahun ke-34 surat kabar itu, Medan 2005.


Bagikan:

23 November 2017

Pengusir Kegelapan


Cerpen Panda MT Siallagan

Suatu pagi di awal Oktober, saat menyapu halaman, istriku terkejut menemukan sepotong bambu terpancang dekat pohon jambu. Di lubang bagian atas, terselip potongan lilin sisa pembakaran. Sisa cairan lemak parafin yang kembali membeku, melekat serupa gumpalan-gumpalan salju di sekeliling permukaan batang bambu, sungguh indah!

Ilustrasi.
Tapi saat istriku bertanya, dan aku berkata tidak tahu apa-apa soal lilin itu, ia bergidik. Ia sepertinya ngeri membayangkan sebuah pelita bersinar di halaman rumah, sementara kami tertidur pulas. “Ini pasti ulah korban pembuangan itu,” kata istriku.

Korban pembuangan itu? Yah, seorang lelaki tua, sudah berbilang berada di kota kami. Ia muncul suatu petang yang berhujan di bulan Juli. Saat cuaca meruap buruk dan awan hitam berarak rambang di angkasa, ia hadir bersama hujan. Kaki kurusnya berayun pelan menyagang tubuh kuyup. Punggungnya tampak berat ditimpa tas ransel kusut berbahan parasut. Rambutnya memutih, agak panjang, rebah dilindas hujan, menutupi telinga dan tengkuknya. Orang-orang mahfum: ia korban pembuangan.

Seperti korban-korban sebelumnya, tak ada hal istimewa dalam diri lelaki itu. Jika kemudian ia menjadi buah bibir, itu karena sepanjang senja ia mondar-mandir di jalanan kota, membiarkan telapak kakinya beradu dengan genangan air, seolah sedang mencari mimpi. Ketika petir menggelegar menjelang malam dan listrik mendadak padam, ia singgah di sebuah kedai kopi seolah takut pada petir, tapi sesungguhnya tidak. Sebab tidak ada lagi ledakan apapun yang mampu membuatnya gentar. Ia duduk di salah satu kursi dan memesan kopi. Seorang pelayan gegas meladeninya, sementara pelayan lain tampak menyalakan lampu teplok yang kaca bagian atasnya menghitam. Pastilah lampu itu sering dinyalakan dengan sumbu terlalu panjang.

“Apakah listrik sering padam?” tiba-tiba, kepada pelayan yang mengantar kopi, lelaki itu bertanya.

“Cukup sering, terutama pada musim hujan,” jawab si pelayan.

“Jika begitu, coba lihat ini.”

Pelayan itu mengernyitkan dahi, lalu melempar urusan itu kepada sang majikan. Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal, beranjak malas menghampiri lelaki kita. “Apa itu? Oh, kau jualan?” tanyanya.

“Aku menjual lilin,” kata lelaki itu sembari membuka tas. Pemilik kedai membeli lilinnya beberapa bungkus. Setelah menerima uang, lelaki itu kembali diam sambil menyeruput kopinya sedikit demi sedikit. Ia pandangi hujan yang berpercikan di badan jalan. Ia tak peduli sebagian pengunjung berbisik-bisik tentangnya. Ia larut dalam dingin, seolah mencari keriangan dalam suara hujan. Menurut pengunjung kedai bermulut usil, mata lelaki itu tak berkedip selama memandangi malam, seolah di kejauhan ia sedang menatap seorang perempuan telanjang di bawah hujan.

Setelah kopi tandas dari gelasnya, lelaki itu pergi, tapi mulut-mulut usil tak berhenti mendulang gosip, dosa dan dusta. Di ujung sebuah gang, cerita lain muncul ketika si tua itu berhenti di depan sebuah rumah gulita karena mendengar suara orang sedang bercakap. Ia mendekat dan mengetuk pintu dengan siku jari tengah yang mengeras. Ketika seorang lelaki tambun penuh cambang membuka pintu, ia berkata, “Belilah lilinku, mengusir kegelapan.”

Pemilik rumah menyambut ramah dan berkata bahwa ia dan istrinya terpaksa bicara dalam gelap karena tak ada lampu teplok, satu sama lain menolak pergi menerobos hujan untuk membeli lilin. Lelaki pemilik rumah memberi uang lebih sebab ia telah menyelamatkan keluarga itu dari kegelapan sebuah negara.

“Terima kasih, wahai, pengusir kegelapan,” kata lelaki brewok.

“Terima kasih, wahai, pendamba cahaya,” sahut tokoh kita.

***

Tuhan gemar melakukan hal-hal aneh, kata seorang pengunjung kedai berhati bijak. Begitulah kekuasaan disebar, agar setiap hamba mengingat nabi setengah gila atau tokoh yang dianggap gila tapi berhati nabi. Lelaki tua penjual lilin itu (akhirnya diketahui bernama Somba), tersebab keanehannya, menjadi populer di kota kami, bahkan ada yang menyebutnya nabi. Kenapa? Sebab dengan arogansi model kaum borjuis kota, suatu hari, putra pemilik pabrik penggilingan padi kesetanan mengendarai sepedamotor dan terhempas di aspal, tubuhnya terseret sejauh 20 meter hingga kepalanya pecah. Darah berceceran dan ia mati ditimpa harta dengan leher gosong dibakar knalpot. Banyak warga berduyun-duyun ke lokasi, tapi hanya Somba yang berani mengangkat tubuh korban dari jepitan sepeda motor, memperbaiki letak kaki dan tangan yang patah, lalu membujurkan jenazah di halaman rumah seorang warga. Ia lalu menatap orang-orang dengan mata marah, berkata, “Tugas kita bukan menyelamatkan dia, sebab Tuhan telah memanggilnya. Tapi kita tak bisa membiarkan jasadnya terkapar seperti babi busuk. Maaf kalau aku lancang, sekarang kita tunggu polisi mengurusnya.”

Orang-orang tercengang. Maka dusta tentang Somba beredar sejak itu. Pemilik kedai mengaku, setelah lilin dinyalakan, ketenangan mengalir di kedainya. Dua lelaki yang bertengkar soal utang piutang, mendadak tersenyum dan bicara baik-baik. Seorang perwira polisi, si pengutang ulung, datang melunasi utang seraya minta maaf telah menghambat aliran modal pemilik kedai. Para penganggur mulai bicara soal jenis usaha yang memungkinkan digarap. Tukang becak bersiul merdu karena pemerintah setempat meninjau ulang peraturan tentang retribusi yang dinilai memberatkan. Suara-suara itu bergaung di kedai. Lelaki itu datang seperti malaikat.

Di tempat berbeda, lelaki brewok bercerita kepada tetangga. Malam itu rumahnya tampak sangat terang dan hangat, padahal ia hanya menyalakan dua batang lilin. Tak hanya itu, dia dan istrinya yang biasa bertengkar, malam itu merasa seperti sedang pacaran dan saling memeluk, bercumbu dan berakhir di ranjang. Tapi orang-orang tolol kemudian menganggap lilin Somba adalah lilin pembawa berkah. Maka berbondong-bondonglah warga membeli lilin. Tapi tak ada cerita indah seperti dikabarkan pemilik kedai dan lelaki brewok. Sesungguhnya, yang terjadi adalah, pemilik kedai menangis malam itu, terharu menyaksikan perjuangan lelaki itu. Cahaya muncul menerangi hati dan pikirannya, sehingga ia menjadi ramah kepada pengunjung kedai, menagih piutang dengan suara lembut, tidak lagi bicara kasar seperti sediakala. Sementara lelaki brewok, sesungguhnya, juga trenyuh memikirkan lelaki itu. Dia berkata pada istrinya bahwa kehidupan mereka sesungguhnya sangat indah, anak-anak sudah sukses dan setiap bulan mengirimi mereka uang, sementara Somba harus menggigil menahan dingin menjajakan lilin. Mereka menyadari bahwa tak ada yang perlu dipertengkarkan. Maka siapapun tahu, ketika hati dibungkus damai, hubungan suami istri yang beku akan cair seperti hati sepasang remaja yang mabuk dilanda cinta.
Sesungguhnya, benarkah Somba korban pembuangan?

“Aku tak yakin,” kata pemilik kedai.

“Dia sangat bersahaja,” ujar lelaki brewok.

“Aku juga merasa aneh. Malam itu tidak ada suara truk. Selama bertahun-tahun, setiap truk muncul, aku selalu tahu. Sebelum truk memasuki kota, aku selalu bermimpi mendengar deru badai, seolah-olah truk itu muncul dari kepalaku,” kata Mangumbang, lelaki tua bekas tentara yang hidup sendiri di sebuah gubuk tak jauh dari pasar ikan.

Warga kota kami memang sudah terbiasa dengan kejadian serupa. Selama beberapa dekade, pada malam-malam tertentu, sebuah truk muncul membawa orang-orang dan menurunkannya di tanah lapang dekat pasar ikan. Dari tanah lapang itulah penumpang truk menyebar lalu berkeliaran ke sudut-sudut kota. Orang-orang itulah yang kemudian menjadi bahan olok-olokan bagi anak-anak nakal bahkan tak jarang dilempari batu seperti hukuman yang diberikan kepada perempuan sundal di abad-abad jauh. Begitulah, pertanyaan mengapa banyak orang gila berkeliaran di kota itu, akhirnya terjawab, ketika seorang pemabuk terkapar di tanah lapang itu sepulang dari lapo. Suatu dini hari, ia mengaku menyaksikan sebuah truk muncul dan menurunkan beberapa orang gila.  Sejak itu, bergantian warga melakukan pengintaian dan keterangan si tukang mabuk ternyata benar.

Warga kota kami tentu marah. Kami menduga, pembuangan itu dilakukan dinas sosial kota atau rumah sakit jiwa yang over kapasitas. Maka rencana penawanan terhadap truk dan supir dirancang. Tapi sesuatu yang gaib terjadi pada malam ketika supir truk hendak ditawan. Semua orang yang ikut dalam rencana itu, ciut nyalinya dan tidak berani mendekati truk. Bahkan ketika beberapa orang gila diturunkan, mereka menyingkir dan bersembunyi di balik kios-kios pasar. Dari balik dinding kios, mereka hanya mengintip dan menyaksikan orang-orang gila itu berjalan dan menyebar dengan cara-cara aneh ke pusat kota, sementara truk beranjak pelan meninggalkan kota tanpa hambatan. Orang-orang mendengar deru mesin truk seperti auman binatang aneh. Kejadian serupa terjadi beberapa kali, hingga warga memutuskan tak lagi peduli. Kota kami lalu berubah jadi sasaran jurnalis dan berita-berita bermunculan: Di Parit Kota Namora Tuah, Mrs X Ditemukan Membusuk; Tulang-belulang Ditemukan di Namora Tuah; Lagi, Dua Mayat Membusuk di Halaman Kantor Pamong Praja Namora Tuah, dll.

Ihwal truk dan mayat-mayat itu, seorang nenek tua berumur 80-an tahun berkata, “Masa lalu seperti terulang, saat truk mengangkut suami-suami dan anak-anak muda terpelajar. Mereka tak pernah kembali, tapi mayat-mayat dikirimi ke kota ini. Mampuslah! Kita harus usir kegelapan ini.”

***

Aku dan istriku memutuskan melaporkan kejadian yang kami alami kepada pihak berwajib. Fakta bahwa saudagar lilin itu telah membawa keanehan di seluruh kota, juga temuan sepotong bambu dan lilin di halaman rumah kami, pertanda situasi mulai tak kondusif. Jika hal itu dibiarkan berlangsung, sesama warga akan saling mencurigai dan isu santet bisa saja berhembus. Kami berencana mengusulkan agar lelaki itu diusir. Saat asyik mendiskusikan itu, terdengar ketukan di pintu. Istriku beranjak dan...lelaki tua itu! Lelaki tua itu tersenyum menawarkan lilin.

“Untuk apa?” tanyaku dingin.

“Mengusir kegelapan,” jawabnya.

“Di situ,” katanya menunjuk titik di mana potongan bambu terpancang, “Di situlah ibuku dulu menancapkan obor setiap malam setelah ayah dibawa. Di situ tubuh ayah diikat, diangkat, lalu dilemparkan ke dalam truk. Di tanah itu ibuku meraung-raung dan bergulingan saat ayah dibawa. Di situ berdiam kegelapan!”

Pematangsiantar, 2013-2017

Bagikan:

04 November 2017

Pensil Ompung

PENSIL OMPUNG
Cerpen Panda MT Siallagan

"Ibu, ceritakanlah kepadaku tentang kenyataan!" kata anakku suatu malam. Hatiku terasa retak. Kenyataan, kata sendu penuh kepasrahan ini, bagiku selalu terdengar seperti bunyi ledakan. Ledakan yang menggetarkan seisi jiwa.

“Aku bosan mendengar dongeng tentang kancil, kupu-kupu, kunang-kunang, burung-burung ajaib, bunga-bunga, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Aku mau cerita tentang kenyataan,” berkata lagi anakku sembari aku menata hati yang menyerpih.

Ilustrasi.
“Kenyataan?” sebuah tanya mengulur waktu. Aku butuh berpikir, kenyataan seperti apakah yang diinginkan Nia Dong kukisahkan padanya? Aku belum siap jika kenyataan yang ia inginkan adalah cerita tentang ayahnya. Aku belum mampu menjadi ibu yang jujur jika ia bertanya mengapa tak punya ayah, seperti kerap ia tanyakan belakangan.

“Tentang apa?”

“Pokoknya kenyataan.”

Baiklah. Ini tentang lelaki tua. Simak baik-baik, sebab pangkal cerita agak semak. Bayangkan terlebih dahulu sebuah sekolah. Sebab lelaki tua itu selalu muncul di kompleks sekolah setiap pagi. Di hadapannya, ada meja lipat tempat pisau dan batu gosok tergeletak. Ia selalu tiba di sekolah itu pagi-pagi sekali, menunaikan tugas sebagai tukang raut pensil. Ketika anak-anak itu tersedot ke dalam ruangan mematuhi bunyi lonceng, ia menikmati kesendiriannya sambil membaca.

Lalu, pada siang hari, saat anak-anak hambur dari ruangan menikmati kebebasan yang disuarakan lonceng, lelaki tua itu juga bersiap pulang. Ia mengemasi barang-barangnya ke dalam tas: batu gosok, pisau, meja lipat, kotak kayu dan buku, lalu beranjak pelan meninggalkan kompleks sekolah, merayap di jalanan yang dibakar terik.  Anak-anak itu sesekali melambai dari bus, “Oppung, duluan ya! Hati-hati ya, Oppung.” Ia balas lambaian itu, riang penuh senyum.

Ia selalu berjalan kaki, tak pernah datang dan pulang menumpang opelet. Berjalan kaki, seperti tersirat dari ayunan langkahnya, agaknya ia pilih sebagai alat menikmati irama kesepian yang merambat. Adakah sesungguhnya cercah esok yang masih diidam dan diyakininya? Sudah terlalu tua ia bercita-cita. Tapi memang, selalu ada harapan dalam setiap hal yang rapuh. Lihatlah, ada sahaja di peci yang dikenakannya, di dalam kemeja lusuhnya. Sepasang kaki kurus beralas sandal jepit masih kuat menapaki aspal, lalu tas ransel yang menggandul naik-turun di punggung yang membungkuk, seolah bicara tentang pasang surut perjalanan hidupnya.

“Ibu, aku tak mengerti. Kenapa ceritanya membingungkan?”

“Nak, tidak seperti cerita kancil dan buaya, tidak seperti hikayat Danau Toba, yang gampang dimengerti dan mudah dicerna, kenyataan memang sulit dipahami.”

“Baiklah, teruskanlah, Ibu!”

Nama lelaki tua itu Ompung Pensil. Selama kehadirannya yang mengesankan, Ompung Pensil adalah korban ketidakpedulian. Tidak seorang pun tahu dari mana ia muncul di pagi hari dan ke mana ia pergi, atau pulang, setelah meninggalkan sekolah pada siang hari. Tidak seorang pun ingin tahu siapa ia, apakah ia punya keluarga, apakah ia seseorang yang menderita atau bahagia, atau mengapa ia muncul di kompleks sekolah itu menjadi tukang raut pensil. Tapi, bagi sebagian anak-anak, ia adalah kekasih jiwa, sebagaimana ia juga menerima anak-anak itu jadi pusat kebahagiaanya. Jika ia sedih, anak-anak itulah yang bertanya mengapa matanya dikepung murung. Maka ia selalu bahagia meraut pensil anak-anak itu. Ia juga meraut jiwa. Jiwa yang tumpul ditabrak zaman. Jiwa yang ronyok dilindas waktu.

Sungguh, tidak ada yang tahu siapa nama lelaki itu. Ia mungkin memang tak penting dikenal, atau dipedulikan, sama seperti tidak pentingnya profesi yang ia pilih: tukang raut pensil. Anak-anak senang memanggilnya Ompung Pensil, sebab ia senang bicara tentang pensil. Pensil, katanya, selalu butuh penajaman, maka ia diraut. Tak perlu disesali kayu pembalut karbon yang terbuang saat diraut, sebab bagian yang berguna adalah inti, yang diraut menjadi mata pensil. Pensil adalah alat memahami rasa sakit, sebab ia selalu diraut. Maka anak-anak itu pun mulai paham, setiap orang harus pandai memahami rasa sakit, bahkan ada masanya harus habis demi catatan dan gambar-gambar. Bukankah hidup adalah buaian catatan dan sergaman gambar-gambar?

Ia sangat bangga jadi tukang raut pensil. Sesekali ia memang menggerutu, saat bicara tentang pensil rias pemalsu garis alis dan bibir, alat ketololan perempuan kini, tapi ia segera sadar dan gegas menyingkirkan topik genit itu dari pendengaran anak-anak. Ia tidak ingin anak-anak jatuh cinta pada pensil palsu. Jika sudah begini, ia mendadak jadi orang yang muluk-muluk, menginginkan anak-anak itu belajar cinta dari pensil, ingin anak-anak itu menyelamatkan masa depan dengan pensil. Maka mudah dipahami mengapa ia senang anak-anak itu memanggilnya Ompung Pensil.

Sampai di sini, aku lihat Nia Dong sudah lelap. Aku tatap matanya memejam dalam damai. Sudah sangat lama aku tak menatapnya selekat malam itu. Sepi merayap. Aku sedih. Anakku yang baik, usianya kini sebelas tahun, dan selama itu aku disaput rasa sakit mendampingi pertumbuhan dan perkembangannya. Aku lupa sejak kapan aku mulai mendongeng mengantar tidurnya. Juga, aku tak ingin mengingat sejak kapan ia mulai bertanya tentang ayahnya. Apakah ia punya ayah? Aku tahu, selamanya pertanyaan ini akan menggayut berat di pundaknya, juga di pundakku. Tapi, pada saatnya nanti, akan kukisahkan luka itu. Luka yang seperti dongeng: kekasihku hilang saat aku hamil, mungkin diculik, dan tak pernah kembali sejak kerusuhan itu. Ayahnya, calon mertuaku, kehilangan diri sejak kejadian itu. Kini, aku remuk dalam dunia tanpa siapa-siapa. Hanya Nia Dong satu-satunya milikku. Tapi, ya, tentang Mursal, calon suamiku itu, tentang ayahnya, tentang aku yang terbuang dari keluarga demi Nia Dong, suatu saat harus kukisahkan.

Untuk menghibur diri, izinkanlah kulanjutkan cerita tentang Ompung Pensil, sebagaimana aku akan mengisahkan cerita ini secara berulang kepada Nia Dong selama beberapa malam, sebab ia memintanya dengan alasan  belum paham. Begitulah, tidak ada seorang pun yang tahu sejak kapan Ompung Pensil muncul di sekolah itu. Dan barangkali, kehadirannya tidak akan pernah disadari para guru, orangtua dana anak-anak lain, jika seandainya Motu, siswa kelas empat, tidak merautkan pensil kepadanya, suatu hari pada jam istirahat sekolah. Tapi...

“Siapa itu, Motu?” Bu Lidya, wali kelas, bertanya penuh curiga.

“Tukang raut pensil, Ibu.”

“Hati-hati. Banyak penculik anak berkeliaran.”

“Iya, Ibu!”

Tapi anak-anak itu tak peduli. Sebaliknya, terdorong oleh kasih yang memancar lembut dari mata dan cara tangannya meraut pensil, Ompung Pensil meraih ketenaran di sekolah itu.  Begitu jam istirahat, anak-anak akan berdatangan memintanya meraut pensil. Anak-anak itu senang pensil hasil rautan Ompung Pensil, katanya indah dan cantik. Betapa tidak, lelaki tua itu meraut pensil bukan dengan alat raut buatan pabrik, tapi  dengan pisau kecil berwarna putih. Pisau yang berkilat-kilat memantulkan cahaya dan tampak sangat berbahaya. Siapa pun tahu, pisau itu sangat tajam, sebab selalu diasah Ompung Pensil dengan batu gosok. Ia tidak mau meraut pensil dengan pisau majal. Maka lihatlah, rautan pada ujung pensil itu tampak seperti motif bunga matahari, rapi dan berseni, tidak menggerucut polos seperti hasil rautan buatan pabrik. Ada keajaiban kreativitas di situ.

Tentu tidak ada yang gratis. Lelaki tua itu memungut biaya seratus rupiah untuk sekali raut. Tapi, kelak akan kau tahu, sesungguhnya bukan pecahan receh itu yang diinginkan Ompung Pensil. Ia mengutip biaya itu agar anak-anak belajar menghargai kerja orang lain, sesederhana apa pun bentuknya. Demikianlah ia juga menunjukkan penghargaan terhadap kepedulian dan semangat anak-anak itu. Ia sesekali bertanya tentang PR dan nilai ulangan harian, lalu memberi rautan gratis bagi anak yang memperoleh nilai delapan ke atas. Ia dicibir gila, tapi ia makin semangat meraut pensil. Ia meraut pensil seolah-olah mencari sesuatu yang hilang, mungkin kebahagiaan.

Baiklah, sekarang kukatakan, aku tahu cerita tentang Ompung Pensil karena di sekolah itulah dulu Mursal sekolah, calon suamiku yang hilang, atau mungkin diculik atau dibunuh. Sering aku berharap menemukan jejak masa kecilnya, sehingga kerap berkunjung ke sekolah itu, menemui guru-gurunya yang sudah tua sekedar mencari tahu seperti apa ia ketika kecil. Di sanalah aku bertemu Ompung Pensil. Dan itulah alasan mengapa aku mengirimkan Nia Dong ke sekolah itu. Dan kelak, selama beberapa waktu, kisah tentang Ompung Pensil mulai merasuki hati anakku. Lamunan dan mimpi mulai mendayu sekacau sepi, menggayuti instink dan nuraninya. Selama beberapa waktu, setiap bangun pagi, Nia Dong mulai senang bercerita bahwa tidurnya berlangsung damai, sebab ia bertemu Ompung Pensil.

Suatu kali ia mengatakan bahwa Ompung Pensil berubah menjadi pendeta, tapi tidak berkotbah di gereja, melainkan mengembara dari kota ke kota, bicara tentang harapan kepada anak-anak gelandangan. Di pagi hari yang lain, ia berkata bahwa Ompung Pensil adalah pengembara suci, yang punya kelembutan tanpa batas hingga tak tega membunuh seekor nyamuk. Dan suatu pagi, hatiku terasa retak. Nia Dong menyakini mimpinya: Ompung Pensil adalah bekas tentara, lalu selamanya menderita mengenang desingan-desingan peluru dan muncratan darah. Bagaimana kebenaran itu muncul ke dalam pikiran Nia Dong? Empat puluh tiga tahun lalu, sebagaimana kutahu kemudian, Ompung Pensil lari dari tugas ketentaraan, tak tega menggorok leher “orang-orang yang terlibat”.

Demikianlah, beberapa hari sebelum meninggal, Ompung Pensil diusir dari sekolah itu. “Dahulu kala, ada seoarang anak bernama Budi, hidup di negeri yang sedang dilanda perang. Budi dilarang berteman dengan orang asing. Tapi, ia membantah nasihat. Akhirnya Budi diculik. Lehernya digorok. Krek. Tewas !” kata guru-guru mengingatkan anak-anak. Tapi, Ibu, negeri ini tidak sedang perang.

Dan para ibu menyebar penyakit: “Duh, honey, nggak takut ya diserang TBC. Si tua bangka itu batuk-batuk. Lihat, pakaiannya jorok dan bau tikus. Mama nggak mau kamu sakit, sayang. Mulai besok papa yang meraut pensilmuya, duhh…!” Tapi, Mama, ompung itu selalu wangi.

Sejak itu, anak-anak itu tidak lagi bisa menyaksikan Ompung Pensil mengasah pisau, meraut pensil dan bicara tentang pensil demi pensil. Pensil adalah...

Cerita kembali terhenti pada suatu malam yang hujan. Nia Dong menyela dan bertanya, “Bu, kapan kita menemui Ompung Pensil. Aku ingin ompung itu bicara padaku, bicara tentang pensil. Aku sekolah di sana saja!”

Aku menangis, “Nak, andai ayahmu tak hilang, kisah tentang Ompung Pensil tidak akan pernah ada. Ompung Pensil sudah meninggal. Calon kakekmu!”

Pematangsiantar, 4 Juli 2008

* Cerpen ini pertama kali dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Desember 2009, hal. 56-58

Bagikan:

08 April 2017

Sinamot, Sebuah Ujung Kisah


Oleh Panda MT Siallagan

Akhirnya, gelisah itu berujung. Pukul 06.00 WIB, kabar itu tiba. Getar ponsel seperti sengat listrik di kepala. Dadaku sesak, sekaligus lega. Dengan hati kosong, kukemas pakaian ke dalam tas. Hanya beberapa potong. Lalu berlari kecil ke kamar mandi mengambil sikat dan pasta gigi. Memungut ponsel dari atas meja. Memakai sepatu. Keluar dari rumah. Memanggil taksi. Berangkat pukul 09.00 WIB dari Bandara Hang Nadim Batam. Tiba di Polonia Medan pukul 10.00 WIB. Menyewa taksi. Pukul 13.00 WIB akan tiba di desa.

Ilustrasi.
Belum begitu lama sebenarnya. Masih empat bulan. Tapi aku tahu peristiwa itu telah menghabiskan seluruh kebahagiaan dan harapan bapak. Semua berawal dari sebuah Minggu pagi yang berhujan di bulan Maret. Aku pulang disambut hangat. Seekor ayam dipotong. Ngobrol usai makan. Dan aku disuguhi sejarah pedih perjalanan keluarga, yang harus kupedomani. Ibu, adakah sejarah orang desa menyerlah bagai cahaya. Semua menderita, bukan?

Tiba-tiba, “Sudah Maret. Juli kan rencana kalian? Bagaimana kabarnya? Harus disiapkan matang-matang. Bapak dan ibu memang tak ada uang, tapi akan berusaha untuk itu. Cari pinjaman sana sini kan masih bisa. Tak mundur lagi kan?” tanya ibu.

Ibu sepertinya tak siap mendengar kalau rencana itu gagal, seperti telah terjadi berkali-kali hanya karena ketiadaan biaya. Bapak diam, terbatuk untuk sisa sakit paru yang dideritanya sekian lama. Bapak sendiri telah bersusah payah dengan segala tenaga, tapi hasil dari kebun kakao tersedot untuk biaya perobatan yang tak sedikit selama beberapa tahun terakhir.

"Ibu, sepertinya kita harus bersabar lagi,” kataku.

“Maksudmu. Apa kau membawa kabar buruk lagi?” Bapak yang bertanya.

“Bapak, mungkin belum rezeki. Orangtuanya gagal memahami kita. Mereka minta sinamot Rp 50 Juta. Jadi untuk sementara aku berencana ke Batam. Banyak teman yang bisa membantu memberikan pekerjaan lebih layak di sana. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama, bisa kukumpul-kumpul biaya untuk itu. Bapak setuju?”

Bapak diam. Tertunduk. Tangannya agak gemetar meraih gelas berisi jamu di hadapannya. Di sampingnya, ibu menatapku dengan mata kosong, juga meraih gelas berisi air putih hangat, meneguknya dengan tenang. “Ya sudah, tak usah kau sedih karenanya,” berat suara ibu.

“Orang kecil itu memang susah. Dia ini yang tak tahu diri. Kau pikir gampang cari istri anak orang kaya. Coba kalau dulu kau mau dengan pariban-mu itu,” Bapak mengarahkan telunjuknya ke pelipisku.

Perdebatan malam itu berakhir. Ibu beranjak ke kamar. Sebelum tidur, ditembangkannya dua judul kidung jemaat yang sudah dihapalnya. Aku tahu dia sedih dan menangis. Bapak membaca di ruang tengah, sesekali terbatuk. Aku merenung di dapur. Meneteskan airmata. Sudah lama aku tak pernah menangis. Malam itu kesedihan benar-benar tidak tertanggung.

Tiga hari kemudian, aku berangkat. Bapak agak kaku, tapi ibu melepas kepergian itu dengan sesunggukan. Setua itu mereka harus menderita untuk ketidakpastian hidupku. Dan perempuan yang selama 7 tahun mengaku mencintaiku, selalu yakin dengan semua ukuran dan standar hidup yang ditentukannya. Dia membiarkanku pergi tanpa bertanya dan tidak berkata apa-apa tentang rencana pernikahan yang gagal karena angka. “Pergilah, semoga kau bisa,” katanya.

Tertikam duri rasa jantungku mendengar ucapan itu. Sama sakitnya ketika dia jatuh cinta pada rekan kerjanya dan bercerita betapa hebat laki-laki itu. Wajah bersih. Mobil bagus. Gaji besar. Lalu memvonis aku sebagai laki-laki bodoh dan pemalas.

Kini aku berada di dalam taksi yang meluncur cepat. Hampir menetes juga airmata. Tapi kutahan, kuraih bungkus rokok dan aku merokok setelah minta ijin dari supir taksi. Kuisap rokok sambil geleng-geleng kepala.

“Gelisah kayaknya, Bang. Apa buru-buru, biar kita tambahi kecepatan,” kata si Supir taksi.

“Oh tidak. Santai saja. Aku juga perlu menata hati. Aku sesak. Bapakku meninggal subuh tadi.”

“Oh maaf…”

“Tak apa. Semua orang akan kehilangan,” kataku.

Taksi menderu. Angin berhembus kencang dari kaca yang sedikit terbuka. Aku dan supir taksi diam hingga akhirnya aku tiba di desa. Tapi diam itu pecah ketika tangis ibu dan saudara-saudara yang lain meledak sebaik aku tiba. Jenazah ayah terbujur dengan tenang. Kuhidupkan rokok sekedar menenangkan hati yang berkecamuk.

Teringat aku pada Aida. Aku tak tahu apakah dia bersedih dengan kepergian bapak. Tapi kuputuskan tak memberitahu. Setelah pemakaman berakhir, aku cukup menemuinya dan mengatakan bahwa bapak sudah pergi dan tak ada lagi hal yang harus direncanakan secara buru-buru.

Dia mungkin akan tercekat dan memohon maaf untuk beberapa hal. Tapi kukatakan aku sudah lelah bersedih. Kutinggalkan dia dan kukatakan aku tidak akan kembali. Aku sangat sedih dan tiba-tiba tak ingat apa-apa lagi. Ketika siuman, pemakaman sudah berakhir. Kudengar orang bicara samar-samar.

“Gara-gara sinamot, tak ditunggunya lagi anaknya itu. Manalah memang dia sanggup membayar 50 juta.”

Aku diam mendengar perkataan itu. Tapi aku terkejut saat kulihat Aida ada dalam rombongan keluarga sepulang dari pemakaman. Aku makin sedih. Aku sesungguhnya mencintainya. Mungkin juga dia. ***

Pematangsiantar, 2006

Bagikan:

27 November 2016

Cerpen: Tabir Monalisa


Oleh: Panda MT Siallagan

Sebenarnya, ia tak pandai berbasa-basi, apalagi menyemir sepatu. Tapi demi bisa masuk ke ruangan Tuan Maranggir, ia mempelajari dua hal itu dengan semangat dan hasrat yang menggetarkan. Dan pagi yang cerah itu, ia tiba lebih awal di areal pabrik.

"Selamat pagi, Tuan. Cerah sekali, seperti wajah Tuan. Menyenangkan!" ujarnya ketika Tuan Maranggir tiba dan turun dari mobil. Sapaan itu terdengar penuh percaya diri, tapi hatinya sebenarnya rontok dan ia menanggungkan rasa malu.

Tuan Maranggir tersenyum dan menyerahkan tasnya kepada pria kecil berkulit legam itu. Ia gembira. Ditangkapnya tas itu dengan sikap hormat, lalu mengikuti langkah Tuan Maranggir. Hatinya riang, harapannya akan terkabul masuk ke ruangan Tuan Maranggir.

Setiba di depan pintu, jantungnya berdegup, terlebih ketika Tuan Maranggir merogoh anak kunci dari saku celana, memasukkannya ke lubang kunci. Dan…! Klek. Pintu terbuka, terdengar sedikit bunyi riut. Tapi tiba-tiba Tuan Maranggir membalikkan badan dan mengambil tasnya dari tangan Ultop.

"Selamat bekerja, Ultop," ujar Tuan Maranggir.

Secepat kilat Ultop merogoh dan mengeluarkan plastik dari saku celana, dan menunjukkan isinya: minyak semir dan kuas.

"Sudah saya siapkan, Tuan. Saya akan membersihkan sepatu Tuan, saya bikin semengkilat mungkin. "

Ilustrasi.
Saat mengatakan itu, matanya mencuri pandang ke ruangan. Ia tidak lagi melihat lukisan itu. Yang terpampang di dinding justru poster pemain bola terkenal: Luiz Figo.

"Hebat. Tapi sepatu saya bersih,” ujar Tuan Maranggir.

Lelaki ceking itu kaget, dan pada waktu bersamaan, pintu ditutup.

"Drama pagi ini agak keji," gumamnya dalam hati, sambil berjalan merindukan hujan.

Peristiwa berhujan itu belum genap sebulan, saat Tuan Maranggir pulang dari suatu acara di kantor kecamatan. Hari itu supirnya tak bekerja karena istrinya melahirkan anak keenam. Jadilah Tuan Maranggir menyetir sendiri. Ultop yang saat itu duduk-duduk di areal parkir menunggu hujan reda, seperti mendapat durian runtuh ketika Tuan Maranggir memanggil dan mengajaknya ke ruangannya. Tapi takdir tetaplah takdir. Tuan Maranggir ternyata menyuruh Ultop membersihkan sepatunya. Hanya ada sedikit butiran pasir dan lelehan air bercampur tanah di sekeliling sol sepatu itu. Begitupun, Ultop merasa bangga bisa masuk ke kantor Tuan Maranggir, orang kaya di kota kecamatan itu, pemilik beberapa pabrik penggilingan padi. Tapi ia jarang mengunjungi pabrik yang lain, ia lebih betah berkantor di pabrik satu ini. Konon, pabrik inilah mata pencaharian mendiang ayahnya. Sepeninggal ayahnya, di tangan Tuan Maranggir, pabrik warisan itu beranak-pinak.

Tak ada percakapan selama Ultop membersihkan sepatu. Barulah setelah selesai, Tuan Maranggir memintanya duduk di sofa, sementara Tuan Maranggir duduk di kursinya sambil bersandar dan sesekali berputar-putar. Ultop gugup. Tangannya dilipat dan diletak di antara kedua pahanya. Sikap tubuhnya selalu membungkuk. Tak sulit baginya menerapkan tatakrama semacam ini, sebab sudah terbiasa jadi orang kecil, bahkan menggelandang.

“Sudah berapa lama kamu jadi tukang potong rumput?” tanya Tuan Maranggir.

“Delapan tahun, Bapak. Sejak saya menikah. Anak saya dua. Saya harus belanjai mereka dengan penuh tanggungjawab,” ujarnya.

“Istrimu tidak bekerja?” tanya Tuan Maranggir.

“Sesekali, Bapak, kalau ada permintaan, mencuci pakaian di rumah orang-orang berada.”

“Oh, begitu.”

“Iya, Bapak.”

“Jangan panggil Bapak. Panggil Tuan saja. Haha.”

“Iya, Tuan.”

“Baik, hujan sepertinya sudah reda. Terimakasih, ya,” ujar Tuan Maranggir.

Ultop paham dan langsung bangkit. Ketika beranjak dari sofa menuju pintu, saat itulah matanya terjebak pada gambar yang menempel di dinding ruangan itu. Gambar perempuan cantik. Ultop terpaku pada gambar itu dan sesuatu menjalar keji di jantungnya. Mata wanita itu menancap ke matanya, seolah tersenyum, seolah mengabarkan sesuatu.

“Itu lukisan Monalisa,” ujar Tuan Maranggir. Ultop kembali sadar ke dunia nyata. Dan benar, ia membaca di bagian bawah lukisan itu, ada tulisan kecil: Monalisa.

“Maaf, Tuan, saya terkesima, gambarnya bagus. Permisi, Tuan,” ujar Ultop.

“Eh, tunggu,” ujar Tuan Maranggir menghampirinya, dan memasukkan amplop ke saku bajunya.

“Aduh, terimakasih banyak, Tuan. Terimakasih,” katanya.

Ketika melangkah dari ruangan itu, ia hanya memikirkan gambar wanita ajaib itu.

Dan kini, ketika melangkah meninggalkan ruangan itu, ia merasa kecewa tak bertemu wanita pujaannya. Ia berjalan gontai menuju kedai kopidekat pabrik. Ketika kopi terhidang, ia menyeruputnya, lalu menyalakan rokok. Saat itulah ia sadar: bahwa dengan cara halus, Tuan Maranggir telah menolaknya masuk ke ruangan itu. Dan kesadaran itu bercabang lagi, apakah Tuan Maranggir berpikir bahwa ia datang demi uang? Hatinya kacau. Ia ingat, isi amplop yang diberikan Tuan Maranggir cukup besar dan cukup belanja dua minggu. Dan istrinya berkata seperti tokoh agama: Tuhan selalu punya cara unik membantu umatnya.

Tapi kini, Ultop panas hati. Jiwanya terbakar. Ia seruput lagi kopinya. Sekilas ditatapnya dua anak muda bermain catur dengan tangan menopang wajah, diam membisu, seperti pecatur ulung. Dan pikirannya terus melayang pada gambar wanita cantik yang telah tiada di ruangan Tuan Maranggir, dan ia merasa harga dirinya ambruk. Amarahnya kian berkobar.

Lukisan wanita itu memang telah merusak ketenangan hidupnya. Malam setelah peristiwa itu, dia tidak bisa tidur. Wajah wanita itu lama-lama seperti ia kenal, seperti pernah ditemuinya di suatu tempat, di suatu waktu. Malam berikutnya, ia mulai yakin bahwa wanita itu memang ia kenal, meski hati tetap bertanya, siapa Monalisa? Kenapa Tuan Maranggir menggantinya dengan gambar pemain bola?

Puncaknya, suatu malam, ketika istri dan anak-anaknya sudah pulas, ia duduk-duduk di teras rumahnya. Tiba-tiba perempuan mirip Monalisa datang, duduk di sampingnya. Ia melirik kalau-kalau istrinya terbangun, tapi suasana senyap belaka. Lalu perempuan mirip Monalisa itu mencoba memeluknya. Ia melompat dihentak rasa takut. Ia lihat wanita itu seperti ibunya. “Astaga,” katanya sambil bangkit, menjauh dari ibunya. Tapi tiada siapa-siapa di teras itu.

Malam itu ia menyusun siasat agar bisa masuk ke ruangan Tuan Maranggir, melihat lagi gambar wanita itu, yang membuat hidupnya remuk dalam bayang-bayang mistik. Mendadak ia benci kepada pria itu. Ia berkhayal menampar orang kaya itu.

“Bangsat. Curang kau. Kau yang curang, kurang ajar.”

Khayalannya terganggu oleh keributan. Dua anak muda pecatur  ulung tadi nyaris adu jotos dan ia melihat papan catur dan buah-buahnya sudah berserak. Pemilik kedai mengusir mereka. Ia juga beranjak dari kedai. Ia ingin pulang, menghapus  bayang-bayang buruk yang mengacau jiwanya.

Tapi entah bagaimana, langkah kakinya tidak menuju rumah. Ia justru berada di depan ruangan Tuan Maranggir. Ia mengetuk pintu, tak ada sahutan. Ia ulangi. Dua kali. Tiga kali. Dan pada ketukan kelima, pintu dibuka. Tuan Maranggir terkejut. Dan kian terkejut ketika Ultop memberondongnya dengan pertanyaan tajam.

“Kau sembunyikan di mana ibuku?”

“Ibumu? Saya tidak paham kata kau. Tinggalkan tempat ini, atau kuseret kau ke Pengadilan!”

“Tak perlu, aku yang akan mengantar diriku ke Pengadilan,” ujarnya.

Sigap tangannya mengambil parang dari tas kerja, lalu mengayunnya berkali-kali secara membabi-buta. Setelah itu, ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya ingat, darah muncrat kemana-mana.

***

Ketika aku mengunjungi Ultop di penjara, ia menyebarkan ancaman yang sama. “Untuk apa kau bertanya-tanya, mau kupenggal kepalamu?” katanya.

“Aku ada di pihakmu,” sahutku.

"Tak perlu,” katanya.

Pelayan kantin penjara datang membawa kopi dan tiga bungkus rokok. Aku bernegoisasi agak lama dengan kepala Lapas untuk meluluskan urusan ini. Hingga pelayan berlalu, kami masih saling diam. Kusorong satu gelas kopi dan dua bungkus rokok itu ke arahnya.  Satu gelas lain untukku. Kuseruput kopi, dan menyalakan rokok. Ia melakukan hal yang sama. Dan tiba-tiba, dengan mata basah, ia bicara.

“Tak ada lagi yang perlu kuceritakan, semua sudah kalian tulis,” katanya.

Ia diam dan mengisap rokoknya. “Apa lagi yang kau inginkan? Kau wartawan, tentu mudah bagimu meramu cerita di luar sana. Aku sudah damai di sini.”

“Aku ingin tahu tentang ibumu.”

Ultop bangkit dan berdiri berkacak pinggang. Tubuhnya gemetar. Giginya gemeretak, menudingku. “Kau!!!” katanya dengan suara menggeram.
Aku diam, mencoba tenang. Tak lama kemudian, ia menangis, lalu duduk lagi dengan nafas tersengal. Aku membiarkan situasi itu mengalir apa adanya. Kutatap matanya. Pedih.

Kupahami kisahnya. Dari warga, aku tahu pria ini tak memiliki ayah. Ibunya pulang dari Malaysia dan membawanya dalam usia dua tahun. Saat ia duduk di kelas dua sekolah dasar, ibunya bunuh diri. Sejak itu, ia hilang ingatan dan keluyuran di sekotah kampung. Lalu seperti dongeng, suatu hari Ultop bertemu dengan Irna ketika keluyuran di pasar. Konon, ketika melihat Irna, ia tiba-tiba waras dan kembali normal. Dan ajaibnya, Irna bersedia jadi istrinya.

Kulihat Ultop masih sesunggukan. Maka kuputuskan mengakhiri wawancara. Aku bangkit dan pamit padanya. “Maafkan aku,” kataku.

“Tak ada yang perlu dimaafkan,” katanya terbata, “Gambar wanita di ruangan itu membangkitkan kenanganku. Ia memperkosa ibuku, ibuku yang cantik dan bunuh diri.”

Dadaku sesak. Entah bagaimana, aku memeluknya. Dia memelukku. Kami sama-sama menangis. ***

Pematangsiantar, 2016

Panda MT Siallagan, menulis puisi dan prosa. Kini tinggal dan bekerja di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

* Cerpen ini dimuat di Media Indonesia, Edisi Minggu 27 November 2016

Bagikan:

16 September 2016

Gadis Kecil yang Melukis Luka


Cerpen Panda MT Siallagan

Setelah dua hari Felis tidak pulang, barangkali terdorong oleh rasa sayang yang dalam terhadapnya, aku dan Bibi Maryanka terpuruk dalam kepanikan yang hebat. Kami mencarinya kemana-mana, bertanya kepada tetangga, anak-anak, juga kepada orang-orang yang sekedar lewat di depan rumah kami. Tapi, tiada seorangpun di antara mereka yang tahu di mana Felis berada.

Ilustrasi.

Bibi Maryanka menangis. "Dia pasti sudah dicuri orang. Atau, jangan-jangan dia terlalu asyik bermain di jalan, lalu mati digilas truk. Oh, Tuhan, tolonglah. Tolonglah kucingku yang manis," katanya tersedu-sedu. Aku ikut larut terseret pilu.

Hingga malam tiba, Bibi Maryanka terus saja bersedih dan dari mulutnya berdentingan igauan-igauan nyeri. Ketabahannya sebagai seorang perempuan longsor. Tumpas.

Di kamar, aku juga merenung dengan hati yang tersayat, meski mungkin tak sesedih bibi. Felis, kekasih kami yang manis itu, sungguh memang merupakan kucing yang baik. Dia tidak pernah mencuri ikan, tidak pernah kencing di lantai, dan tidak pernah mengeong-ngeong mengganggu tidur kami pada malam hari. Dia mempunyai bulu berwarna belang, mata berkilauan yang tajam, dan wajah yang imut. Dan semua itu benar-benar membuat kami sangat cinta padanya.

Tetapi, ada kalanya dia sangat manja dan merengek-rengek ketika lapar, tapi dia sangat patuh pada aturan. Jika kami makan, dia akan menggolekkan tubuhnya di atas lantai dan menunggu sampai kami selesai makan. Dia benar-benar tahu bahwa gilirannya makan adalah setelah kami selesai makan.

Begitulah. Setelah makan, dia akan pergi entah kemana. Bermain-main. Lalu pulang pada waktu-waktu tertentu, bermain sejenak bersama kami, lalu tidur di tempat yang selalu berbeda.

Sekarang, bayangkanlah jika Felis adalah seorang anak. Betapa bahagiannya dia. Hidup baginya hanya untuk bermain-main, merengek jika lapar, makan, tidur di sembarang tempat tanpa ada aturan, lalu bangun tanpa harus gosok gigi dan mandi. Alangkah indah hidup jika aku bisa seperti itu.

Tapi, aku mungkin sudah ditakdirkan untuk hidup dalam kesedihan-kesedihan. Tinggal bersama bibi yang kehidupan ekonominya tak memadai, membuat aku harus gesit mencuci piring, menyapu rumah, menyetrika, membersihkan pekarangan, dan memanfaatkan sebaik mungkin waktu belajar yang hanya tinggal sedikit.

Dan, jika seandainya aku menghilang, sedihkah Bibi Maryanka? Akankah dia panik mencari dan bertanya ke sana kemari tentang keberadaanku? Diserbu pertanyaan seperti itu, aku bangkit dari tempat tidur, keluar dari kamar, dan bertanya pada Bibi Maryanka yang masih bersedih.

"Sesayang apa Bibi pada Felis?"

"Seperti sayangku padamu, Nak."

"Jika aku yang hilang atau tewas digilas truk, akan menangiskah Bibi?"

"Nak, Bibi sayang kamu," katanya, lalu meringkus aku dalam dekapannya yang hangat. Sedu sedan mengalir dari bibirnya yang gemetar. Aku tiba-tiba teringat pada Bunda.

"Bi, mengapa bunda tidak baik seperti Bibi?"

"Jangan berkata seperti itu, Nak. Bundamu juga baik, sama seperti Bibi."

Tapi, aku tidak lagi mempercayai kata-kata Bibi. Aku tahu bundaku sangat jahat. Aku sebenarnya ingin agar Bibi Maryanka jujur menceritakan apa yang telah terjadi, agar aku tak dihantui rasa takut. Dan inilah makna 'bunda yang baik' yang menari-nari di pikiranku sejak itu: bunda yang baik adalah bunda yang tidak membiarkan putrinya hidup bersama orang lain; bunda yang baik adalah bunda yang bersedih jika kucing hilang, bukan justru menghilang melukai banyak orang.

Malam itu, seluruh poster perempuan cantik kuturunkan dari dinding kamarku. Selama ini aku membayangkan poster-poster itu adalah wajah bunda, agar dendamku padanya tidak semakin menggila. Entah mengapa memang, setiap kali melihat poster-poster perempuan anggun itu, aku selalu terbebas dari amarah, benci dan dendam. Tapi kini, aku ingin membiarkan dendamku pada bunda menyala.

Maka, kubayangkan wajah bunda seperti tikus, jelek, bermata liar dan nyalang, hidungnya nyaris rata dengan mulutnya, ada misai panjang di atas bibirnya, dan ekor yang menjijikkan bertengger pada bokongnya. Aha, bunda seperti tikus. Oh tidak, dia wanita yang jahat, keras, suka menggonggong. Ya, bunda juga seperti anjing. Bunda memang anjing. Aku benci kedua binatang itu. Aku benci pada bunda.

Malam itu, aku berharap semoga Felis sedang berburu tikus, mencabik-cabik tubuhnya hingga berserpih, lalu menelannya hingga ludes. Tapi bagaimana jika Felis sedang terjebak dalam terkaman anjing gila yang mematikan? Aku tiba-tiba menangis, dan rindu sekali pada Felis. Aku benci Bunda, juga lelaki itu.

*****

Ketika Felis, kucing kami yang manis dan imut itu menghilang, Ulinya tiba-tiba bertanya lagi tentang bundanya. Seperti biasa, aku berbohong mengatakan bahwa bundanya sangat baik. Tapi aku melihat kecurigaan yang ganas memancar dari matanya. Aku merasa kecurigaan itu seolah menyerangku sebagai balasan atas kebohongan yang kulakukan terhadapnya.

Sejak itu, Ulinya menjadi senang melukis. Menggambar, tepatnya. Dan dia selalu bangga menunjukkan gambar-gambarnya kepadaku.

"Bibi," katanya suatu kali, "Baguskah gambarku ini?" sambil menunjukkan sebuah gambar kepala yang di sisinya tertancap beberapa paku. Aku ngeri, dan nyaris muntah manyaksikan gambar itu. Jika pada awalnya gambar yang dibuatnya masih terbatas pada objek-objek umum seperti bunga, matahari, laut, gunung, sungai dan perabotan-perabotan rumah, maka gambar kepala itu merupakan awal dari gambar-gambar 'setan' yang ditunjukkannya padaku hampir rutin setiap minggu.

Dan inilah beberapa gambar yang pernah ditunjukkannya: seekor gajah menginjak seorang perempuan tepat pada bagian kelaminnya; sebuah wajah dengan mata tercungkil dan mata itu diikat dengan benang merah, tergantung di telinga yang berselekeh darah; tubuh seorang perempuan yang ditusuk dengan lembing dari bagian dubur hingga leher, persis seperti ikan yang ditusuk dan dipanggang di atas perapian.

Dan ini gambar yang membuatku hampir pingsan: seorang anak menyayat payudara ibunya, membakarnya, lalu melahapnya seperti menyantap hamburger. Mulut si anak berlumuran darah, tapi dari bibirnya tersunggging senyum yang lebar, matanya memancarkan cahaya kepuasan. Di bawah lukisan itu, tertulis kalimat pendek: MARI MAKAN DAGING.

Sungguh, aku tidak pernah tahu darimana kegilaan melukis itu diperolehnya, dan aku harus menanggungkan rasa takut yang hebat atas semua itu. Aku ingin sekali melarangnya mambuat gambar-gambar mengerikan seperti itu, tapi aku tidak berani. Aku tidak ingin melukainya dengan mengatakan bahwa lukisan itu sangat tidak baik. Maka kubiarkan dia terus melukis, gila dan bermain-main dengan dunianya yang kejam.

Suatu kali, ayahnya datang menjenguknya. Seperti kepadaku, Ulinya juga menunjukkan gambar-gambar itu kepada ayahnya. Meski terluka, ayahnya memuji Ulinya dengan mengatakan bahwa lukisan itu sangat bagus. Lalu, setelah bercanda dan merasa puas bercengkerama dengan putrinya, ayahnya pamit, dan hanya menitipkan sedikit uang kepadaku. "Dik, jaga anak gadisku ya! Kebahagiaan dan penderitaannya kuserahkan padamu."

Aku sedih. Bang Burju kian hari kian tak karuan hidupnya. Aku terus berdoa kepada Tuhan semoga Bang Burju tabah, begitu juga denganku. Dan biarlah hanya Tuhan yang punya hak memberi hukuman kepada istrinya yang lari bersama lelaki biadab itu.

*****

"Apa yang terlintas di benakmu ketika kau membuat gambar-gambar itu?" Bibi Maryanka bertanya suatu kali.

Sesungguhnya aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu dengan jujur, tapi kesedihan selalu membungkam mulutku. Aku justru terjebak dalam pertanyaan lain dalam hatiku, mengapa bibi tidak marah pada bunda? Mengapa bibi membiarkan bunda pergi begitu saja? Apakah bibi takut pada bunda?

"Bibi, baikkah bundaku?" tanpa kusadari pertanyaan itu meluncur lagi dari mulutku.

"Mengapa kamu selalu bertanya tentang bunda, Nak? Kau rindu padanya?"

"Lalu aku harus bertanya apa, Bibi? Baiklah, aku bertanya tentang ayah saja, ayah baikkah?"

"Ayahmu bukan hanya baik, Nak. Dia seperti Tuhan. Hatinya seperti malaikat. Ketika bibi dan ayahmu masih kecil, dia selalu melindungi bibi. Ayahmu itu pintar, dan selalu membuat kakek dan nenek bangga. Maka bersikaplah seperti ayah dan bunda. Mereka adalah orang-orang baik."

"Bibi bohong."

"Tidak."

"Bohong."

Aku berlari ke kamar, menumpaskan tangis ke dalam bantal. Tapi aku sedikit lega ketika bibi menyusulku ke kamar dan terperangah melihat dua buah gambarku yang baru. Satu tentang gambar kucing yang mencakar-cakar payudara perempuan berwajah tikus, di bawahnya kutulis: Felis Mengamuk pada Bunda.

Gambar satunya lagi adalah tentang kucing yang tubuhnya terpotong-potong, di bawahnya tertulis: Bunda Menjagal Felis. Agak lama Bibi Maryanka menatap kedua gambar itu, lalu berbalik arah sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Di ruang lain, kudengar tangis bibi lamat-lamat, mendengung, menyebarkan kesedihan sepanjang malam itu.

*****

Sering terkenang olehku masa kanak-kanak yang damai bersama Bang Burju. Hingga kini, masa itu selalu melekat dalam ingatan sebagai masa paling damai, paling membahagiakan. Meski ayah dan ibu hanyalah petani miskin dan sehari-hari selalu berkutat di ladang dan sawah, aku dan Bang Burju selalu bahagia. Tidak pernah sekalipun terjadi percekcokan menyakitkan di dalam keluarga kami. Bang Burju cukup tahu cara membahagiakan orangtua.

Sejak masih duduk di sekolah dasar, Bang Burju selalu mengayomiku dengan sifatnya yang perasa, lembut, penyayang tapi bisa menjadi sangat garang manakala orang lain berbuat curang. Bang Burju adalah orang cerdas dan selalu mendapat ranking di kelasnya. Beda dengan aku yang tergolong lamban menangkap mata pelajaran. Dia juga seorang pekerja keras. Maka jika kelak dalam usia dewasanya ia bisa menjadi orang sukses, aku selalu percaya bahwa apa yang diperolehnya adalah berkat dari Tuhan atas kebaikan-kebaikan dan kerja kerasnya.

Tidak ada yang salah dalam hal pernikahan, toh semua manusia pada akhirnya memang sebaiknya menikah. Tapi ketika Bang Burju menikah dengan seorang perempuan cantik dan menor, aku merasa sedikit tidak rela karena hanya dialah satu-satunya milikku setelah ayah dan ibu meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Pada saat menikah itu, Bang Burju sudah bekerja sebagai Asisten Tanaman di sebuah perkebunan. Namun dengan alasan tidak biasa hidup di tengah-tengah perkebunan, istrinya tidak bersedia menyertainya tinggal di lokasi perkebunan. Bang Burju akhirnya membeli sebuah rumah di kota dan di rumah itulah istrinya tinggal, sedangkan Bang Burju tinggal di rumah dinas kebun dan pulang setiap akhir pekan.

Tak lama kemudian, aku juga menikah. Atas saran Bang Burju, aku dan suamiku tinggal berdekatan dengan rumah mereka, sehingga bisa saling membantu satu sama lain jika suatu waktu ada kesulitan. Aku sendiri, atas saran suamiku, memilih berhenti bekerja karena gajinya sebagai pegawai bank sudah lebih dari cukup untuk kehidupan kami.

Begitulah. Hubungan antara keluargaku dengan keluarga Bang Burju berlangsung sebagaimana diharapkan. Segalanya berjalan dengan baik. Ketika Bertha melahirkan Ulinya, aku benar-benar mencurahkan seluruh waktu dan tenaga membantu persalinan hingga merawat bayinya, dengan harapan: semoga aku dan suami juga segera dapat momongan.

Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi. Bertha kabur bersama lelaki biadab itu. Itulah mula segala kehancuran dalam keluarga kami.

*****

Sebuah lorong sempit. Hari menjelang maghrib. Aku berjalan di lorong itu dengan tas mengganduldi punggung. Dan, tiba-tiba seorang manusia berkepala anjing menghadangku, menyeringai dan mencoba menerkam tubuhku dengan kuku-kukunya yang sangat tajam. Sadar akan situasi itu, aku melarikan diri. Tapi belum sempat kupacu langkah, mahluk-mahluk lain yang lebih mengerikan bermunculan. Aku ketakutan, menggigil dan mulai menangis.

Mahluk-mahluk itu kian mendekat, ketakutanku memuncak dan kurasakan celana dalamku basah. Aku terbangun. Seprei dan kasur sudah basah. Aku bangkit dengan maksud berganti pakaian. Mimpi itu sungguh sial. Dan makin sial karena bunda tak kutemukan di ranjangnya. Lalu aku keluar dari kamar, dan inilah yang terjadi:

Bunda telanjang dan terengah-engah ditindih seorang lelaki. Mulut mereka saling menguyah. Aku tersenyum karena menduga lelaki itu adalah ayah yang pulang dari perkebunan. Tapi menyadari rambut lelaki itu keriting, aku mulai bergetar. Itu bukan ayah. Dengan hati-hati, aku balik ke kamar dan mencoba mengintip dari lubang kunci. Dan jelas kusaksikan, lelaki itu adalah paman, suami Bibi Maryanka. Aku ambruk, dan sejenak tak ingat apa-apa. 

***** 

"Bibi," kata Ulinya padaku suatu pagi, "Mengapa Bibi tidak membunuh bunda? Mengapa Bibi membiarkan bunda kabur bersama paman?"

Bagai tersengat listrik aku mendengar tanya itu. Seketika Ulinya menangis dan meraung-raung seperti kerasukan. Aku menghampirinya, mendekapnya erat, dan kubisikkan di telinganya, "Nak, dendam tak ada guna. Berdoalah kepada Tuhan. Semoga ayahmu sehat, semoga bibi kuat. Hanya Tuhan yang bisa memberi kebahagiaan pada kita. Hanya Tuhan yang bisa menghukum manusia. Serahkan padaNya."

Kurasakan pelukan Ulinya sangat erat di dadaku. Kami sama-sama menangis. ***

Pekanbaru, Maret 2003

# Cerpen ini dimuat pertama kali di Riau Pos, 13 Juni 2004

Bagikan:

27 Agustus 2016

Lingkaran Luka


Cerpen Panda MT Siallagan

Rumah mungil berdinding gedek itu dikelilingi beberapa jenis pohon seperti kemiri, jambu air, rambutan, kakao, dan rumpun-rumpun pisang. Agak jauh ke belakang, membentang lahan luas yang sebagian dikelola dan sebagian lagi terbiar. Pada lahan yang dikelola itu, tumbuh beragam tanaman seperti jagung, cabe, ubi dan kacang-kacangan. Tanaman-tanaman itu tampak subur dan berwarna hijau, seperti berkisah tentang kecekatan pemiliknya bercocok tanam. Dan pada lahan yang terbiar itu, melebat beragam rumput dan semak-semak. Sesungguhnyalah ada sejarah luka yang meruap dari rumah, pohon, rumput dan semak–semak itu.

Ilustrasi.
“Masih kaukenangkah kampung itu?” Suara itu menggelegar, menyusupkan segala getar ke dalam dada saya.

”Masih. Saya masih mengenang segalanya. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan luka,” kata saya sambil menutup mata. Saya tidak sanggup menatap sosok asing bermata tajam dan bersuara berat itu. Saya juga tidak paham mengapa ia bisa berada di dalam kamar saya pada malam ini, pada saat hujan menderas. Berkali-kali saya mencubit lengan untuk memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. Dan benar, saya tidak sedang bermimpi. Saya tadi terbangun oleh petir yang menggetar, seolah-olah sebuah martil raksasa telah dihantukkan ke dinding rumah saya. Dan pada saat terbangun itulah saya menemukan sosok itu sudah berada di kamar saya, duduk di salah satu sudut.

”Tapi, siapakah Anda, Tuan?”

”Saya adalah ingatanmu. Maknailah!”

Bedebah! Keangkuhan sosok asing itu membuat saya sangat marah. Tapi, sekejap kemudian, amarah saya reda karena rumah mungil dan kampung itu muncul lagi dalam penglihatan saya. Atapnya penuh dengan daun-daun gugur, seperti telah terjadi angin topan. Di sisi kiri rumah itu, terdapat sebuah kandang yang dirancang dari batang-batang bambu dan di dalamnya hidup banyak ayam. Pada saat saya saksikan, ayam-ayam itu sedang berhamburan dari kandangnya. Jantan-jantannya berkokok, induk-induknya bersegera mencakar-cakar tanah, mencari makanan, dan anak mereka terciap-ciap. Lalu, seorang anak kecil tiba-tiba keluar dari rumah mungil itu, menenteng jagung pipil dan nasi basi, melemparkannya ke halaman. Maka berebutlah ayam-ayam itu menyantap sarapan pagi yang disuguhkan tuannya kepada mereka. Saya kaget. Apakah saat ini hari memang sudah pagi? Dan kekagetan itu makin menggila ketika saya mengamati anak kecil yang memberi makan ayam-ayam itu. Ia mirip seperti saya ketika kanak-kanak.

”Masih lekatkah peristiwa itu dalam ingatanmu?” Sosok itu bertanya lagi, dengan suara yang lebih menggelegar, memporak-porandakan kesadaran saya. Saya mulai merasa takut.

”Masih. Saya masih mengingatnya, Tuan. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan luka,” kata saya sambil berusaha melirik jam dinding: pukul 03.13 WIB. Astaga, hari ternyata masih sangat dini. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar suara katak bersahut-sahutan dan saling memburu dengan gemuruh hujan yang menetes-netes dari genteng. Angin menderu, dan kudengar daun-daun pepohonan saling bergesek, seperti mempersembahkan tarian gaib pada malam. Saya makin tidak paham dengan apa yang terjadi. Saya cubit lagi lengan saya, sakit. Saya benar-benar tidak sedang bermimpi. Tapi, siapa dan untuk apa sosok keparat ini hadir di kamar saya? Apakah ia seorang perampok yang ingin menghabisi nyawa saya tapi terlebih dahulu mempermainkan saya dengan tindakan-tindakan aneh? Tapi, apa yang ia inginkan di rumah saya yang jorok dan melompong ini? Tak ada apa-apa di rumah ini selain kesunyian. Dan, apapun resikonya, saya putuskan menghajarnya. Tapi, ketika saya hendak bangkit dan mendaratkan tendangan di perutnya, ia berkata, “Saya bukan maling”.

Saya tersentak. Saya gemetar. Tubuh dan seluruh tulang-tulang saya terasa panas. Saya menggigil.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka,” suara saya bergetar.

”Saya tidak melukai Anda. Tapi saya adalah luka Anda sendiri. Hayatilah!”

Maka penglihatan saya akan rumah mungil dan kampung itu melintas lagi. Sekarang, seorang wanita separuh baya keluar dari pintu belakang, membawa sapu lidi. Wanita itu lalu menyapu halaman, mengumpulkan daun-daun gugur. Dan ketika wanita itu membakar sampah dan daun-daun gugur pada sore harinya, saya melihat bukan asap yang membubung, tapi semacam kesedihan. Saya mencium bukan uap asap yang meruap, tapi semacam kenangan. Lalu, serpih-serpih kehilangan menguap ke angkasa dan mencoreti langit dengan segala yang habis, terbakar oleh waktu.

”Masih kau ingatkah wanita itu?” sosok asing itu bertanya lagi.

”Tidak.”

”Masih kauingatkah wanita itu?” suara sosok asing itu mengerang marah, seperti tahu bahwa saya sedang berbohong. Saya gemetar, semakin ciut didera rasa takut.

”Ya,” kata saya akhirnya, “Dia bekas ibu saya.” Pada saat itu, saya tiba-tiba merasa sangat sakit, seolah-olah telah ditikamkan ratusan pisau ke sekujur tubuh saya. Dan, rasa sakit itu semakin menggila ketika sosok asing itu mencambuki tubuh saya.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

”Saya tidak melukaimu. Saya hanya ingin menyelamatkan hidupmu dari kutukan.”

Lalu seorang lelaki kurus berkulit legam keluar dari rumah mungil itu. Ia menghampiri istrinya dan berkata, “Tak guna kau bersihkan halaman ini, Istriku. Biarkanlah kesedihan dan kenangan itu berserakan. Tak guna kau membakarnya, sebab masa lalu yang membubung itu akan membuat nafasmu semakin sesak.”

Pada saat itu, lelaki kecil yang memberi makan ayam-ayam itu datang menghampiri suami-istri itu. “Ayah, Ibu, ayam-ayam itu sudah kenyang disuapi tanganku. Mereka mengucap syukur dan berdoa untuk kesehatan Ayah dan Ibu.”

”Kata-katamu beracun benar, Anakku. Kelak, bukan hanya doa binatang yang kau sampaikan menghina orang tuamu. Tapi kau mungkin akan membunuh ayahmu dengan kebuasan binatang.”

”Tidak. Aku tidak mungkin membunuh ayah…”

Penglihatan saya tiba-tiba dibuyarkan oleh sosok asing itu. “Sekarang, kau bahkan tak merasa bersalah setelah bertahun-tahun membunuh ayahmu. Kau juga membiarkan ibumu menderita dalam kesepiannya,” katanya.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

***

HUBUNGAN saya dengan ayah berlangsung seperti sebuah tragedi kebohongan. Saya, anak yang selalu dididik menjadi orang soleh, selalu menangkap kejahatan dan kebusukan justru hadir dalam setiap prilaku ayah, orang yang selalu memberi saya berbagai nasehat. Sejak kecil, mungkin sejak saya ingat saya ada, ayah selalu bercerita pada saya. “Nak, kita hidup di sebuah negeri yang makmur. Negeri yang memberi banyak kemungkinan berbahagia kepada banyak orang. Kelak, jika kau sudah besar, akan kau lihat negerimu ini sesak diserbu para pemburu. Kau juga akan sadar betapa tak jelas batas antara pemburu dan buruan. Pemburu-pemburu itu, anakku, muncul dengan wajah anjing, babi, dan binatang-binatang aneh lainnya. Dan kita adalah buruan itu, manusia-manusia tak berdaya. Jadi, anakku, kau harus bisa jadi lelaki kuat, agar kelak pemburu-pemburu itu bisa kauusir dari tanah kita. Dan ingat, mintalah kekuatan itu dari Allah. Tidak akan terberkati hidupmu jika kau tidak menghadapkan wajahmu kepada-Nya.”

Tapi, suatu malam, kebanggaan saya pada ayah runtuh. Saya selalu ingat peristiwa itu, sebuah peristiwa yang membuat saya terjebak pada perbatasan antara takut dan rasa marah. Semuanya bermula ketika seseorang mengetuk pintu rumah kami. Malam itu, ibu saya sudah tidur. Dan saya yakin, ayah pasti menduga bahwa saya juga sedang lelap memeluk mimpi. Setelah ayah membukakan pintu, saya kemudian mendengar percakapan serius berlangsung antara ayah dan tamu itu. Dari percakapan mereka yang lamat, saya tahu bahwa ayah, bersama tamu itu, sedang berencana merampok tanah seseorang dengan cara yang mungkin hanya mereka berdua yang tahu. Saya memang masih kecil, tapi karena ayah selalu menasehatkan kepada saya bahwa tindakan mencuri dan merampok adalah najis di mata Allah, saya tahu ayah saya telah melanggar sendiri nasehat-nasehatnya. Saya marah, geram, dan ingin sekali menampar ayah. Dan kemarahan itulah kemudian yang mendorong saya mengintip dari lubang kunci untuk mencari tahu siapa gerangan tamu itu.

Astaga, tamu itu ternyata kepala desa. Kemarahan saya makin tinggi. Selama ini, warga di kampung kami selalu menghormati kepala desa itu sebagai orang yang baik, agung dan bertanggungjawab terhadap warganya. Dan, tiba-tiba saja wajah kepala desa itu saya lihat seperti anjing, dan wajah ayah mirip babi. Saya benar-benar menonton percakapan rahasia yang berlangsung antara dua binatang.

Pada hari-hari selanjutnya, saya tidak tahu bagaimana kehidupan kami berubah. Rumah kami yang terbuat dari bambu dan beratap rumbia itu berubah menjadi rumah cantik. Ayah membelikan saya  sebuah sepeda. Ibu saya, wanita molek itu, makin molek karena baju-bajunya makin bagus. Ada kalung emas melingkar di lehernya. Dan pada jari manis dan tangannya, melingkar cincin dan gelang-gelang berkilauan.

”Lihat, Nak, Allah telah memberi berkat yang luar biasa kepada kita. Maka, kau harus lebih taat beribadah, dan teruslah menjadi anak yang tidak tercela di hadapan pencipta. Semua ini berkat doamu, Nak.”

Pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP. Saya tidak mengiyakan nasehat ayah, tapi tidak juga membantah. Tapi, karena sebelumnya saya selalu antusias mendengarkan nasehatnya, ayah dengan segera mengetahui bahwa saya tidak lagi menyimak nasehatnya.

Ayah marah. “Kau sudah mulai menantang ayahmu. Tahukah kau apa hukuman bagi seorang anak yang membantah orang tua?”

Seminggu kemudian, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, saya dikirim ke kota. Supaya saya makin pintar, kata ayah. Supaya saya tahu bahwa tata krama terhadap orang tua harus tetap dijalankan. Dan sejak itu, saya tidak pernah pulang kampung kecuali pada saat saya datang dengan diam-diam ke desa itu dan membunuh ayah saya tanpa seorangpun yang tahu. Saya tidak tahu kenapa saya begitu tega melakukan hal itu. Sebelumnya, saya ketahui melalui televisi bahwa kampung saya selalu disesaki kabut asap yang bersumber dari hutan yang terbakar. Pada kesempatan lain, saya dengar bahwa anak-anak di kampung kami banyak yang mati kelaparan dan sebagian lagi tersiksa didera penyakit. Saya dengar juga bahwa sungai-sungai tidak lagi mengalirkan air, tapi racun. Lalu saya surati ibu saya. Saya tanyakan kepada ibu apa-apa saja yang telah diperbuat ayah sehingga malapetaka itu bisa terjadi. Ibu menceritakan dalam suratnya bahwa ayah melakukannya bersama orang-orang yang dulu dikecamnya sebagai pemburu. Sekarang ayahmu juga tidak sayang lagi kepada ibu. Dia sekarang sudah sering membawa pelacur ke rumah kita, baik laki-laki maupun perempuan, para pemabuk dan orang-orang aneh yang selalu membuat rumah dan kampung kita jadi gaduh. Ibu sedih, Nak. Ayahmu tidak bisa lagi saya nasehati. Ia makin sering menampar ibu. Kalau bisa pulanglah, ibu rindu padamu, kata ibu mengakhiri suratnya. Lalu, saya pulang, membunuh ayah saya. Setelah itu, saya kembali lagi ke kota, mengembara seperti sedia kala.

Setahun setelah kematian ayah, saya pulang menjenguk ibu. Saya temukan ibu sedang sakit. Tubuhnya kurus sekali. Saya sedih. Saya menangis. Tapi, dengan suara lantang, ibu saya meradang. “Pergi kau, anak jahanam. Ketika ayahmu meninggal, kau tidak pulang. Sekarang, setelah kuketahui bahwa kaulah pembunuh suamiku, kau datang. Meskipun orang-orang tidak tahu bahwa kaulah pembunuh itu, tapi Tuhan selalu memberitahu hal itu setiap malam, lewat mimpi-mimpiku. Sekarang, pergilah untuk selamanya. Kau bukan anakku lagi.”

Saya pergi, dan tidak pernah berusaha untuk pulang. Meski begitu, ingatan saya akan kampung halaman selalu membuat saya tersiksa. Tersiksa karena ingatan yang berkelebat itu justru bercerita tentang masa-masa ketika keluarga kami masih miskin, ketika setiap pagi saya harus bangun lebih awal, memberi ayam-ayam makan, lalu pergi ke sekolah. Masa ketika ibu masih rajin menyapu halaman dan memunguti buah kemiri dari bawah pohonnya. Masa ketika ayah sering mengeluh tapi tetap semangat menjalani pekerjaannya sebagai petani. Masa sebelum perampok dan pemburu itu tiba di desa kami dan akhirnya mengajari ayah saya jadi pemburu, perampok dan penjahat yang menyiksa sendiri kaumnya. Masa penuh cinta yang sampai saat ini tak sanggup saya lupakan. Dan, ingatan itu adalah rangkuman. Rangkuman peristiwa yang dimulai dari suatu kehidupan yang murni, merangsek, dan sampai pada kehidupan suatu puak yang terampas, terhempas.

***

DI luar, hujan masih terus menderu. Angin bertiup kencang. Malam menjelang pagi hari ini terasa sangat berisik, seperti sebuah isyarat betapa gaduh hidup yang telah saya pilih. Betapa durhaka dan terkutuk sikap yang telah saya ambil sebagai manusia. Saya kenang lagi masa kecil itu, tanaman-tamaman yang mengelilingi rumah itu, ladang itu, semak-semak itu, ibu-ayah saya, juga orang–orang kampung yang tak pernah bebas dari penjara kemiskinan. Saya kenang lagi pantun-pantun yang selalu didendangkan ibu ketika saya masih kecil. Saya kenang lagi malam-malam di mana ayah saya mengajari saya menggambar perahu. “Nak, coba lukis Lancang Kuning,” kata ayah. Tapi, ketika gambar yang menurut saya sangat cantik itu saya tunjukkan, ayah berkomentar, “Belum sempurna, Nak. Kau lupa membuat motifnya. Itik Pulang Petang-nya mana, Akar Pakis-nya mana?”

Saya kenang segalanya. Saya tiba-tiba menangis. Saya belum pernah sesedih ini. Dan, saya rindu sekali bertemu ayah. Saya ingin pulang menjenguk ibu. Saya berdoa. Inilah untuk pertama kalinya saya teringat kepada Allah setelah melupakan-Nya berpuluh-puluh tahun. Saya sujud.

Dan, tiba-tiba tubuh saya dicambuk. Wajah saya ditampar. Bedebah, siapakah yang berani berbuat kurang ajar seperti ini kepada saya dan di rumah saya?

”Saya, sayalah yang mencambuk tubuhmu,” suara sosok asing itu menggelegar, “Selama ini, saya sudah mendatangi kamu berkali-kali, tapi pintu rumahmu selalu tertutup buat kelembutan. Sudah saya panggil kamu dengan bahasa paling halus, tapi telingamu selalu terkunci. Sekarang saya datang dengan cara yang kamu inginkan. Sekarang saya ingatkan lagi kepadamu: sejahat apapun sesamamu, jangan hakimi. Dan kamu, kamu telah membunuh ayahmu karena kesalahannya. Apa kamu pikir dengan membunuhnya tanahmu akan luhur lagi, puakmu akan berjaya lagi. Sudah saya ajarkan kepadamu segala pengertian dan kasih sayang, tapi kamu tidak mendengarnya. Sudah saya ajarkan kepada kamu bahwa ibu adalah Tuhan di dunia kecil bernama rumah, tapi kamu siksa ibumu sedemikian rupa. Sekarang saya telah datang dengan cara yang kamu inginkan. Rasakanlah!” kata sosok asing itu sambil mecambuki lagi tubuh saya, lebih keras dan lebih cepat. Saya mengerang, menjerit, memohon-mohon ampun kepada sosok asing itu.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

Tapi cambukan itu terus berlanjut. Saya ambruk. Dan segalanya menjadi lindap. ***

Pekanbaru, Agustus 2004

* Cerpen ini meraih Juara II Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun 2004

Bagikan:

21 Agustus 2016

Pulang


Cerpen Panda MT Siallagan

Malam ketika wahyu itu mendekat, dia memutuskan tidur lebih awal. Ia pamit kepada istrinya, menyingkir dari lapo yang masih riuh dipenuhi bual hampa para peminum tuak. Ia berjalan gontai menuju kamar di bagian belakang lapo yang hanya dipisahkan selasar pendek. Begitu masuk kamar, ia hempaskan tubuhnya di ranjang kayu berlapis kasur kapuk, rebahan, dan mencoba menenteramkan hatinya yang galau. Ia melirik jam dinding, masih pukul duapuluh satu lewat beberapa menit, berarti masih ada sekitar delapan jam.


Ia mencoba memejamkan mata, tapi ia tahu rasa kantuk justru menjauh. Suara-suara lantang dari mulut peminum tuak, merambat dari ruang depan, seperti turut mengusir kantuk dari kepalanya. Sesungguhnya, ia memang tidak mengantuk. Dia hanya lelah, ingin rebahan sembari mencoba mengingat-ingat kapan persisnya ia mulai meyakini wahyu itu. Tapi ia tidak ingat. Ia hanya selalu yakin, suatu saat dia akan pergi menemui seseorang tepat pada hari dan jam yang ia pikirkan.

Lalu, ia mulai berpikir mengapa malam itu ia tiba-tiba ingin minum tuak, sehingga batuknya kambuh dan perutnya melilit-lilit. Ia tidak sedang menghadapi suatu persoalan, tapi ia ingin sekali membakar dadanya dengan alkohol, agar ia mampu melupakan kesedihan. Tetapi, ia juga tidak tahu apakah ia benar-benar sedang bersedih atau justru riang. Istrinya mengingatkan dengan keras agar ia jangan minum, sebab jauh lebih baik tuak yang diteguknya pindah ke perut pelanggan,  lebih mendatangkan untung. Tapi ia tidak peduli. Ia ingin waktu yang ia pikirkan segera tiba, lalu pergi menemui seseorang itu.

Tetapi, di atas ranjang, dia mulai bertanya-tanya, siapa sesungguhnya orang yang akan ditemuinya itu? Mengapa keanehan itu merasuki pikiran dan begitu kuat diyakininya? Apakah karena ia mabuk? Apakah ia mulai tidak waras? Tidak, ia tidak mabuk, ia yakin ia masih waras, dan ia memang sudah sejak lama ingin menemui seseorang itu. Tapi di manakah dia akan menemui seseorang itu? Adakah petunjuk yang akan menuntunnya menuju sebuah tempat di mana seseorang itu menunggunya? Sedemikian gilakah aku? Ia mulai merasa tidak tenang.

Untunglah, saat ia dikepung kekalutan itu, sayup-sayup ia dengar istrinya menutup pintu dan jendela lapo. Tuak tentu sudah tandas dan semua parmitu berarti telah pulang. Tiba-tiba ia merasa aneh lagi. Jika sebelumnya ia tidak pernah berpikir ke mana parmitu pergi setelah mabuk, malam itu ia mulai memikirkannya. Beberapa mungkin pulang ke rumah, lalu membentak-bentak istrinya karena terlambat membuka pintu atau menghidangkan makanan. Sebagian berkeliaran di jalanan, berteriak-teriak menganggarkan dada. Dan sisanya mungkin pergi ke rumah-rumah bordil, bermesum ria dengan lonte kelas kuli. Ia mulai merasa bersalah.

“Belum tidur, Bang?” suara istrinya saat masuk kamar.

Ia tidak menjawab. Ia memang ingin mengatakan sesuatu kepada istrinya, tapi ia ragu. Ia tidak ingin istrinya sedih. Tiba-tiba ia rindu sesuatu, tapi ia tidak tahu apakah sesuatu itu sebuah tempat di masa lalu atau sebuah cita-cita yang gagal diraih. Ia tahu, sudah sangat lama pikirannya tidak pernah cengeng serupa itu, sudah sangat lama ia berhenti berhasrat dan bermanja dengan angan-angan. Tapi ia juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Saat istrinya turun ke ranjang, merebahkan tubuh di sisinya, dan bergayut manja di lengannya, dia akhirnya bicara sambil terbatuk-batuk.

“Sayangku, besok subuh aku harus pergi.”

“Ke mana?”

“Menemui seseorang.”

Istrinya diam. Sesungguhnya ia ingin istrinya bertanya siapa seseorang yang akan ditemuinya. Tapi ia mahfum, selama mereka hidup bersama, ia selalu mengajari istrinya tidak campur urusan lelaki. Ia melarang istrinya banyak bertanya tentang hal-hal yang dilakukannya. Maka wajar, hingga malam itu, istrinya tidak pernah tahu siapa sesungguhnya lelaki yang dianggapnya suaminya itu.

“Besok subuh kalau kau sedang lelap, aku mungkin tidak akan pamit,” katanya.

Lagi-lagi istrinya diam. Sebab sudah sering begitu. Jangankan subuh, suaminya bahkan kerap pergi tengah malam atau dinihari jika tiba-tiba ponselnya berdering. Dan istrinya tidak pernah peduli, sebab beberapa hari kemudian, suaminya pasti pulang dengan selamat, membawa uang untuk bekal kehidupan mereka. Tapi malam itu, ia sungguh berharap istrinya peduli, terlebih setelah beberapa tahun terakhir, hal seperti itu tidak pernah terjadi lagi. Sudah tiga tahun, tepatnya, ia tidak pernah lagi pergi, sejak mereka membuka lapo tuak dan hidup dari untung dagang yang tak seberapa. Ia ingin istrinya bertanya kenapa dan untuk apa dia pergi. Tapi ia tidak mendapatkan pertanyaan itu. Beberapa menit kemudian, ia lihat istrinya sudah mendengkur.

Malam itu ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus bergerak, memikirkan satu hal ke hal lain, mengingat satu kenangan ke kenangan lain, tapi ia tidak bisa menyimpulkan hal penting apa yang dapat ia petik dari kekacauan jiwa yang berlangsung sepanjang malam itu. Ia benar-benar gelisah. Untunglah subuh tiba, ia lirik jam menunjuk pukul 05.00 WIB.

“Sudah waktunya,” ia bergumam sembari mengecup kening dan bibir istrinya, lalu beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar, membuka pintu secara perlahan, lalu pergi tanpa mandi dan cuci muka apalagi sikat gigi. Ia juga tidak membawa sepotong pakaianpun sebagaimana biasa ia lakukan setiap kali pergi.


Begitu keluar dari rumah, ia berjalan menyusuri gang menuju jalan besar di mana dia bisa menyetop angkutan. Suasana masih sepi. Angin subuh terasa sangat dingin. Dari dapur beberapa rumah, ia mendengar gelas dan piring-piring berdenting, juga suara berisik penggorengan. Dari tempat-tempat yang jauh, kokok ayam bersahut sambung menyambung, sesekali anjing menggonggong di ujung gang.

Setelah berjalan beberapa menit, ia tiba di persimpangan jalan besar. Ia berdiri sejenak menunggu angkutan, tapi tak ada satupun yang melintas. Ia heran kenapa sepagi itu opelet belum muncul. Ia sedikit jengkel, sebab dia ingin segera bertemu seseorang itu. Ia lalu mendekat ke sebuah warung di mana tukang ojek biasa mangkal. Ia menepuk pundak seorang tukang ojek yang tertidur telungkup memeluk tanki sepedamotornya. Lelaki paruh baya itu terkejut.

“Tolong antar aku,” katanya sembari menyebut alamat.

Lalu, sepedamotor meluncur dengan tenang menembus subuh. Tiba-tiba ia merasa sangat riang, mencoba mengingat kapan pertama kali ia naik sepedamotor. Ia ingat, saat itu ia masih sangat kecil, saat harga jahe melambung tinggi. Satu hektare kebun jahe ayahnya tembus. Tapi, keadaan baik itu hanya berlangsung sekejap, musim tanam berikutnya penyakit menyerang, dua hektare jahe milik ayahnya membusuk saat akan panen dan menyebarkan aroma tahi di sekeliling ladang. Penyuluh pertanian tak berkutik, ayah tumpur, sepedamotor kembali dijual. Ayah lalu banting stir jadi bandar togel, tapi tiba-tiba ditangkap dan dipenjarakan. Juga tak berapa lama, bapak meninggal di penjara. Ia sedih mengenang itu dan tiba-tiba ingin pulang.

Lalu, tanpa pikir panjang, ia menawarkan sejumlah harga kepada tukang ojek agar bersedia mengantarnya ke kampung. Tukang ojek setuju. Jarak antara desa dan kota kecil di mana ia tinggal, memang hanya 70 kilometer. Ia mendadak tidak peduli pada tujuannya menemui seseorang, ia benar-benar ingin pulang, ingin ziarah ke kuburun bapak, juga ibu yang juga segera meninggal menyusul ayah. Ia tahu ibu tak tahan menderita didera sepi. Ia ingin minta maaf kepada bapak dan ibu.

Sepedamotor terus meluncur. Setelah melewati pinggiran kota, mereka masuk ke tanah-tanah kosong penuh semak, lalu melintasi areal perkebunan kelapa sawit. Saat menatap keteraturan barisan pohon-pohon sawit, ia sedih dan menyesal mengingat semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Ia ingat istrinya yang mungkin masih lelap di ranjang. Ia sedih telah membohongi perempuan cantik itu selama bertahun-tahun. Ia sering meninggalkan perempuan itu tengah malam dengan berbagai alasan, tapi sesungguhnya, bersama komplotannya, ia pergi mencuri buah sawit. Dan ia bersyukur, sepanjang karir memalukan itu, ia tidak pernah tertangkap. Ia ingin menceritakan kehebatannya kepada tukang ojek, tapi keinginan itu segera menguap, sebab mereka mulai memasuki perkampungan kecil. Hari mulai terang. Satu dua angkutan desa mulai melintas. Ia merasa perutnya keroncongan. Tapi ketika ia ingin mengajak tukang ojek singgah untuk sarapan dan minum kopi di salahsatu warung, ia ingat lagi kampung halaman, ingin cepat-cepat tiba di sana, maka niat minum kopi dibatalkannya.

Setelah satu jam sepedamotor meluncur, mereka masuk ke jalanan berbatu. Kenangan masa kanak-kanaknya bersinar. Ia ingat, dulu jalanan itu penuh lumpur. Ia harus jalan kaki sepanjang lima kilometer jika kebetulan diajak ayah ke kota. Truk pengangkut hasil pertanian warga sering terperosok selama berhari-hari. Jika truk kebetulan terperosok tak jauh dari rumah mereka, ia kerap menonton, bahagia melihat roda truk berputar-putar di dalam lumpur. Ia bahagia mendengar mesin meraung-raung. Ia bahagia melihat supir dan kernet bus mencongkel-congkel lumpur, memecah batu-batu cadas, lalu memasukkan pecahan-pecahan batu itu bersama sekam ke lubang lumpur agar roda menggigit. Ia bahagia mengenang masa itu.

Kini ia mulai masuk ke jalanan yang menanjak. Mesin sepedamotor mulai meraung-raung. Di kejauhan, bukit-bukit mulai tampak membentang. Hari benar-benar sudah terang. Ia yakin, sebelum pukul tujuh, ia sudah tiba di desa. Ia tatap ladang-ladang jagung yang menghampar di sisi kiri dan kanan jalan. Ia tatap sawah yang menguning di kejauhan. Lalu ia teringat, sewaktu kecil, ia sering meniup seruling ketika menjaga burung, kerap dibayar mengangon kerbau oleh orang kaya desa, dan ia senang bisa menunggang kerbau sambil bernyanyi menyongsong senja dan berebut tempat dengan burung-burung gagak. Ia kini seperti tenggelam dan kembali larut dalam pusaran kenangan itu.

Akhirnya ia tiba di desa. Tapi ia heran, tukang ojek yang disewanya dari kota, mendadak pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya. Ia memandang sekeliling, tapi tukang ojek itu benar-benar telah pergi. Ia merinding. Ia ingat seorang temannya pernah bercerita dijemput kakeknya dengan mobil, lalu membawanya ziarah ke kuburan nenek. Kakek membantah kejadian itu, tapi temannya bersikeras telah pergi ziarah bersama kakek ke makam neneknya. Apakah ia mengalami hal yang sama? Ia mencubit lengannya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dan sakit. Ia berpikir, mungkin tukang ojek itu pergi mencari sarapan. Dan ia tidak resah, sebab ia masih bisa menemui tukang ojek itu di pangkalan di persimpangan menuju rumahnya, jika seandainya ia pergi dan lupa meminta tarif seperti disepakati.

“Pulang, Bang?” tanya penghuni rumah peninggalan bapak.

“Iya, mau ziarah.”

Tak ingin ia berbasa-basi. Ia segera ke ladang di belakang rumah di mana bapak dan ibunya dikuburkan. Di makam bapak dan ibunya, ia menangis. Tapi ia tidak tahu untuk apa dia menangis, sebab sesungguhnya ia sedang bahagia dapat bertemu lagi dengan bapak dan ibu, meski tanpa istri dan anak-anak. Anak-anak? Barangkali itulah yang membuatnya menangis. Sepuluh tahun hidup bersama Mauly, istrinya itu, dia belum mendapatkan momongan. Ia bersimpuh di bawah nisan, tapi ia tidak meminta restu agar ia diberi anak, sebab ia tahu segalanya telah terlambat. Dan ia tahu, bapak dan ibu masih marah kepadanya dan tidak akan pernah setuju ia hidup bersama Mauly.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan. Ia telah kehilangan ayah dan ibu ketika usianya 12 tahun. Setelah itu, dia selalu hidup dari satu tempat ke tempat lain. Ia tidak pernah berpikir jadi pengembara, tapi ia telah hidup jadi pengembara. Ia ingat, ia pertama kali tiba di sebuah kota pelabuhan. Ia bekerja sebagai kuli  bongkar muat kapal, lalu sesekali melaut bersama nelayan yang diakrabinya. Ia senang bermain-main dengan gelombang, makan ikan mentah jika kelaparan di tengah laut. Malam hari, bersama kuli-kuli pelabuhan, ia tenggelam dalam mesum warung remang-remang, mabuk menenggak alkohol, diajari onani oleh kuli-kuli berumur, digoda pelacur-pelacur pelabuhan dan dijanjikan gratis jika ia mau bersetubuh. Ia diperolok-olok secara maksiat, dan selama beberapa waktu, ia bergetar hebat merenungkan kegilaan yang mendadak muncul dalam kehidupannya. Hingga suatu malam, ketika dendam dan getar menyulut liar, ia tak tahan. Ia menyeret seorang pelacur ke baraknya. Ia setubuhi perempuan itu dalam bauran hasrat dan rasa takut yang berlangsung getir. Ia ingat perempuan itu tertawa-tawa, tapi ia tidak patah arang menuntaskan dendam. Ia ingat, pelacur itu akhirnya terkapar dan malam-malam berikutnya adalah milik mereka.

Ia kemudian bosan, dan pergi meninggalkan bandar. Ia masuk ke kota besar dan mulai terpukau pada keramaian. Ia senang tidur di emper toko-toko, mampir di warung-warung kopi pada siang hari. Awalnya jadi tukang semir, lalu nakal lagi setelah berkenalan dengan pelacur jalanan di tengah malam-malam buta. Ia bekerja siang hari, lalu membuang hasil peluh bersama perempuan-perempuan yang ia sukai. Bertahun-tahun ia hidup dalam kekacauan itu. Lalu, ia mulai bercita-cita. Ia ingin jadi lelaki tampan, punya rumah, mobil dan bisa melakukan apapun ia inginkan. Ia ingat kampung, tapi entah kenapa, ia tidak suka tinggal di desa. Ia sama sekali tidak tertarik jadi petani. Ia lalu pulang kampung. Ia sewakan rumah dan tanah peninggalan orangtuanya. Uangnya ia bawa ke kota. Ia ingin berusaha. Tapi pertarungan tak semudah ia duga. Ia kalah.

Dan, kini ia bersimpuh di makam orangtuanya, dan tiba-tiba merasa malu untuk semua hal yang telah ia lakukan. Ia menangis dan berkata, sesungguhnya ia ingin mengunjungi seseorang, tapi entah kenapa ia malah pulang ke desa. Ia terisak, memohon ampun pada bapak dan ibu, minta restu agar ia diizinkan menemui seseorang itu. Ia mengatakan, seseorang yang ingin ditemuinya itu bukanlah orang jahat, yang kembali akan menyeretnya ke dalam kegelapan. Setelah bertemu seseorang itu, dia berjanji akan pulang, merawat makam bapak dan ibu, dan selamanya akan tinggal di desa. Ia akan mengajak  Mauly, memperkenalkan perempuan seksi itu sebagai istrinya kepada seluruh warga desa.

Tapi ia ragu, apakah Mauly bersedia hidup di desa? Ya, ya, ia akan menjelaskan bahwa hidup di desa jauh lebih tenang. Ia akan membujuk istrinya agar mereka menjual saja rumah dan lapo, lalu membangun kehidupan yang baru di desa. Setiap pagi mereka akan bangun ditingkahi kokok ayam dan kicauan burung-burung. Di kejauhan akan terdengar lenguhan kerbau, berangkat ke ladang dengan hati dan jiwa bersih, sarapan di saung beratap ilalang, lalu bekerja di ladang sembari menikmati hembusan angin yang turun dari bebukitan. Sore hari sepulang kerja, mandi di pancuran, lalu malam hari bercengkerama sebelum tidur, mendengar bunyi jangkrik-jangkrik. Pada hari-hari tertentu, meraka pergi memancing ke sungai di tepi kampung, tertawa riang ketika ikan jurung tersangkut di mata kail, mengelepar-gelepar ketika joran ditarik. Ai, indah sekali hidup di desa. Ia tidak perlu lagi pusing menghadapi celoteh para peminum tuak, juga tak perlu cemburu ketika duda-duda jalang menatap genit bokong Mauly, dan tak perlu marah menghadapi pria-pria pengangguran yang mampu menenggak tuak hingga belasan gelas, tapi selalu meninggalkan utang. Di desa, segalanya akan berlangsung tenang. Dan ia yakin, penyakit paru-paru yang dideritanya selama dua tahun terakhir, akan sembuh disiram angin segar desa. Ia tahu, istrinya sudah sangat menderita mendengar batuknya setiap malam, lelah mencari empedu kambing setiap hari di pusat pasar, bahkan sesekali mengeluarkan uang banyak membeli liur walet. Ia mendadak punya harapan, di desa sakitnya akan sembuh.

Sekali lagi ia bersimpuh di makam orangtuanya. Ia kembali terisak, lalu beranjak gontai meninggalkan makam. Sebelum kembali ke kota, ia ingin menemui penghuni rumah peninggalan bapak dan ibunya, menegaskan kembali bahwa dalam waktu dekat ia dan istrinya akan kembali ke desa, dan memohon agar rumah itu segera dikosongkan. Tapi ia mengurungkan niat itu. Ia merasa, hal yang sama tak perlu disampaikan secara berulang dan bahwa hal itu sudah dibicarakan beberapa waktu lalu, ia kira sudah cukup.

Matahari mulai meninggi. Ia merasa lapar, tapi ia bertahan. Ia ingin mengejar angkutan menuju kota, sebab seperti biasa, hanya ada satu angkutan umum yang berangkat dari desa itu setiap hari, berangkat pukul 10.00 WIB. Ia tidak ingin ketinggalan, maka ia mempercepat langkah menuju sebuah simpang, sekira satu kilometer di hilir desa. Di simpang itulah biasanya angkutan menunggu penumpang, sebab sulit naik ke desa karena kondisi jalannya sangat buruk. Dan saat berjalan itu, dia kembali terbatuk-batuk, perutnya terasa melilit. Ia keringatan.

Maka, selama di bus, ia memilih tidur. Tapi ia tidak benar-benar tidur. Ia kembali mengingat setiap peristiwa yang pernah dilaluinya. Ia seperti kembali melihat dirinya bekerja di pelabuhan, bertengkar dengan kuli-kuli berumur yang kerap memperdaya dan menilap upahnya. Semua itu seperti kembali dikunjunginya, juga ketika ia mengembara dari kota ke kota, hidup sebagai tukang semir, pengemis, buruh bongkar muat di toko-toko orang Tionghoa, lalu terjebak di lingkungan kumuh bersama anak-anak jalanan, cekikan bersama pelacur-pelacur kelas teri yang gagal masuk bar dan kafe karena kalah cantik. Ia terkenang pada semuanya. Dan membuatnya lelah. Dan membuatnya sunyi. Tapi ia tetap berusaha tidur.

Ia mungkin bermimpi, sebab kesuraman demi kesuraman terus berlanjut memenuhi ingatan dan benaknya. Ia nyaman ketika bayangan kejahatannya melintas. Ia ingat bagaimana ia bertemu Ordo, preman terminal yang kemudian mengajarinya merampok. Ia melakukan aksi pertama di sebuah mesim ATM. Ia memakai topeng karet  yang warnanya persis seperti kulit. Ordo yang merancang semua itu untuk kemudahan aksinya. Ia berhasil menodong nasabah di pintu ATM sebuah bank dan membawa lari uang tak lebih dari tiga juta pada aksi pertamanya dan itu membuatnya sangat bahagia. Ia tidak ingin mengingat semua itu, tapi segalanya seperti dipaksa hadir dalam mimpinya. Ia ingat, setelah itu hidupnya berkalang kejahatan. Bersama komplotannya, ia pernah merampok toko emas, merampok truk ekpedisi barang-barang elektronik, menyikat gaji karyawan kebun, menipu pejabat dengan kekuatan hipnotis, hingga memanen sawit perkebunan negara pada malam hari. Dia kemudian berpoya-poya dari bar ke bar. Bercinta dengan banyak perempuan-perempuan yang ia sukai hingga akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Mauly, istrinya itu. Ia ingat suatu hari, ketika ia jatuh sakit dan muntah darah, perempuan itulah yang membawanya ke rumah kontrakannya yang sempit, merawatnya hingga sembuh, lalu mereka menikah menurut cara mereka. Ia menganggap Mauly istrinya, Mauly mengganggap ia suaminya. Begitu saja, dan sejak itu mereka hidup serumah.

Bus terus melaju dan mulai memasuki wilayah kota. Ia mulai tak nyaman dengan mimpi-mimpinya. Ia berpikir, mungkin tidak benar ia tidur dan tidak benar ia bermimpi, sebab masa lalu itu benar-benar nyata berlintasan dalam kepalanya. Tapi ia tidak ingin memikirkannya. Ia kembali menyandarkan lehernya di bantalan kursi bus yang mengeras. Ia menghayal, setibanya di rumah, ia akan makan lahap, sebab istrinya mungkin sudah menyiapkan makanan lezat menyambut kedatangannya. Tapi ia sadar, hal itu tidak mungkin, sebab ia tidak mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan pulang hari itu juga. Ia sedikit kecewa tidak meninggalkan pesan kepada istrinya. Dan makin kecewa bahwa sesungguhnya ia pergi untuk menemui seseorang, tapi ia belum menemuinya. Sesungguhnya, selama dalam dalam perjalanan, dia sudah tahu siapa seseorang yang akan ditemuinya itu. Dan seseorang itu sangat ia kenal. Seseorang itulah yang telah membuatnya berubah dan pergi meninggalkan dunia kejahatan. Seseorang itulah yang senantiasa membuatnya penuh harapan dan bertahan hidup bersama Mauly yang mandul. Seseorang itulah yang mengajarinya mencintai Mauly secara kekal.

Baiklah, bus sudah tiba di kota. Ia turun di persimpangan itu. Sejenak dia mencari tukang ojek yang pagi tadi mengantarnya ke desa. Ia ingin membayar tarif sebagaimana mereka sepakati. Ia yakin, tukang ojek itu sudah pusing memikirkan ketololannya. Tapi ia tidak menemukan tukang ojek itu. Mungkin sedang mengantar penumpang, pikirnya.

Ia kemudian memutuskan pulang ke rumah, sebab sore nanti ia masih bisa datang ke simpang itu dan menunggu tukang ojek tolol itu sembari minum kopi. Tapi sejenak ia ragu, apakah yang harus dikatakannya pada istrinya? Ya, ya, jika istrinya bertanya apakah dia sudah bertemu dengan seseorang itu, dia akan menjawab belum. Dia akan berkata bahwa seseorang itu adalah orang baik, sehingga dia ingin mengajak istrinya untuk ikut bersamanya. Dia akan berkata bahwa Mauly harus mendampinginya menemui seseorang itu. Sebab aku mencintaimu, sayangku, kita harus pergi bareng menemui orang itu, dia akan berkata demikian. Hatinya sangat riang memikirkan adegan romantis itu.

Tapi berapa meter menjelang rumah, mendadak tubuhnya gemetar. Jantungnya berdenyut cepat. Nafasnya menderu dasyat. Ia melihat banyak orang berada di rumahnya. Sayup-sayup ia mendengar tangisan menguar dari dalam rumah. Ia panik, ada apa dengan Mauly? Apakah Mauly meninggal? Ia berlari, tapi begitu tiba di halaman rumah, langkahnya terhenti, sebab ia mendengar, raungan itu adalah raungan Mauly, tangisan itu adalah tangisan Mauly. Ia lega, sekaligus sedih. Ia dengar dalam tangisnya Mauly menyeru-nyeru namanya. Pandangannya mendadak gelap. Dia merasa seperti tidur dalam lindap, sementara raungan Mauly terus menggema: Kau bilang kita akan ke desa. Kau bilang di desa sakitmu akan sembuh. Kenapa kau pergi, kenapa, kenapa, kenapa...?

Ia tak ingin menjawab pertanyaan istrinya. Ia tatap jasadnya sejenak, lalu pergi menemui seseorang itu.

Pematangsiantar, Juni 2008

* Cerpen ini pertama kali dimuat di Majalah Sastra Horison, Edisi November 2008

Bagikan: