Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

08 April 2019

06 Desember 2017

Na Niarsik

Cerpen Panda MT Siallagan Untuk pertama kali, aku pergi ke pasar untuk belanja. Benar-benar untuk belanja. Aku ingin membeli sekilo ikan mas, juga bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, jahe, kunyit, lengkuas, asam glugur, andaliman, kemiri dan lain-lain....
Bagikan:

23 November 2017

Pengusir Kegelapan

Cerpen Panda MT Siallagan Suatu pagi di awal Oktober, saat menyapu halaman, istriku terkejut menemukan sepotong bambu terpancang dekat pohon jambu. Di lubang bagian atas, terselip potongan lilin sisa pembakaran. Sisa cairan lemak parafin yang...
Bagikan:

04 November 2017

Pensil Ompung

PENSIL OMPUNG Cerpen Panda MT Siallagan "Ibu, ceritakanlah kepadaku tentang kenyataan!" kata anakku suatu malam. Hatiku terasa retak. Kenyataan, kata sendu penuh kepasrahan ini, bagiku selalu terdengar seperti bunyi ledakan. Ledakan yang menggetarkan...
Bagikan:

08 April 2017

Sinamot, Sebuah Ujung Kisah

Oleh Panda MT Siallagan Akhirnya, gelisah itu berujung. Pukul 06.00 WIB, kabar itu tiba. Getar ponsel seperti sengat listrik di kepala. Dadaku sesak, sekaligus lega. Dengan hati kosong, kukemas pakaian ke dalam tas. Hanya beberapa potong. Lalu berlari...
Bagikan:

27 November 2016

Cerpen: Tabir Monalisa

Oleh: Panda MT Siallagan Sebenarnya, ia tak pandai berbasa-basi, apalagi menyemir sepatu. Tapi demi bisa masuk ke ruangan Tuan Maranggir, ia mempelajari dua hal itu dengan semangat dan hasrat yang menggetarkan. Dan pagi yang cerah itu, ia tiba lebih...
Bagikan:

16 September 2016

27 Agustus 2016

Lingkaran Luka

Cerpen Panda MT Siallagan Rumah mungil berdinding gedek itu dikelilingi beberapa jenis pohon seperti kemiri, jambu air, rambutan, kakao, dan rumpun-rumpun pisang. Agak jauh ke belakang, membentang lahan luas yang sebagian dikelola dan sebagian lagi...
Bagikan:

21 Agustus 2016

Pulang

Cerpen Panda MT Siallagan Malam ketika wahyu itu mendekat, dia memutuskan tidur lebih awal. Ia pamit kepada istrinya, menyingkir dari lapo yang masih riuh dipenuhi bual hampa para peminum tuak. Ia berjalan gontai menuju kamar di bagian belakang lapo...
Bagikan: