31 Agustus 2016

Syair-syair Panda MT Siallagan


Silsilah

Duduklah, kata pohon
Sungai menghilir, menjejak dingin
Di sini embun menoreh akar,
melubangi batu. Antara sakit dan lupa,
Hutan berkicau, sayap burung jatuh
Daun-daun merabuk, jiwa mabuk
Jangan tidur, seru licin lumut
Tapi mimpi lanjur menjulur,
mengejar sungai ke laut
Hening, menunggu membatu

Pematangsiantar, Juni 2009



Tragedi

Terharu mendengar siul burung hantu. Lagu yang turun dari dinding gunung, menyambut gang dan lorong kota di jantungku, juga usia yang terpanggul. “Sejauh apa jiwamu membaca luka, Tuan?”

Nadi mendenyut. Malam retak ditiup sedih, tak lagi butuh bunyi. Siul burung hantu menguak kenangan dan harapan yang aus dicakar batu jalanan. Mimpi telah hancur di jantung bapak, terlontar bersama batuk, dahak dan darah.

Beku aku di genangan itu. Gubuk bambu masih tabah memikat sungai. Sungai yang memeluk batu dan mengirim nafas hutan ke mulut muara. Tapi aku hanya haus pada debur, tak kuat memeluk laut. Gelombang dan mulut kota-kota nyala amat tajam.

Bergetar disayat dingin. Begini selalu, pulang tanpa pucuk, bagai dulu pergi tanpa akar. Menggenapi ziarah, kuibadahi muram batu di tebing ngarai. Kupahat kekalahan pada lumut, tapi doa bagai lendir. Alangkah hambar, gambar tuhan di masa lalu cuma lereng gersang. Bukit dan lembah di tanah ari-ari ini menyambutku sekeji mata mambang.

Dalam auman nyeri, kucumbu bau tanah dan kelat tuak, masa lampau busuk kian dalam dekap. Kedai dan lagu-lagu, memecah resah. Malam hambur teramat jauh. Sejauh airmata ibu, tak henti mengukur jantungku. Aku mabuk, meski ini bukan ziarah terakhir.

Pematangsiantar, Agustus 2009

Andung Perjalanan

Puan, sudah rampung maut menukangi terminal
dalam kepakaku. Serupa bus, waktu berhenti
di situ, menurunkan penumpang penuh wajahmu,
untuk kemudian pergi lagi menjudikan muasal

Oh, kesepian yang amat perih untuk ditonton
Kulihat pipit menyanyikan sawah dan ladang
masa kanakku dalam nafas orang-orang,
melengking senada lagu dangdut
yang tersangkut di tembok-tembok kota
Orang-orang itu, dengan luka kampung
dalam tasnya, melangkah ke lapo-lapo terminal
yang beku, sekedar ingin menenggak kecut
dan asam takdir.

Tapi tak ada tuak dan ikan arsik di sini
hanya uap kopi yang beradu dengan kartu judi
lelaki-lelaki kuli. Inilah kedatangan
yang senantiasa disambut hampa, tapi
kepergian nama-nama memang pahit.

Lihat, bus yang parkir dalam kepalaku
mulai penuh lagi, kulihat sosok perempuan tua
kehabisan kursi, seolah menunda kepergian
adalah belati yang diacungkan bapak
ketika kau memilihku.

Hingga akhirnya kau rutuki susu, roti dan keju
Kau maki bapak yang membangun dirimu
dengan kekayaan. Andai aku sepertimu,
membangun diri dalam perjalanan dengan ubi rebus
dan nasi jagung, katamu ketika waktu berangkat
Ya, andai kita lahir dari luka yang sama

Maka kulihat sesosok perempuan menghanyutkan diri
dalam darah sesosok lelaki, sementara aku
hanya bisa membatu, beku di ujung riwayat
yang buntu dipenggal maut
Terminal itu, kini lengang lagi.
Bus telah berangkat, kulihat sesosok perempuan
melambaikan tangan serupa mabuk jarum jam
mendaki luka di dinding yang menangis
memeluk foto bapak-ibu, juga gubuk reot
di bebukitan itu. Sunyi dan ringkih, bukan?
seringkih sosok perempuan yang berkelana
menyusuri serpihan muasal sesosok lelaki
yang pergi dari desa.
Dan aku masih selalu berdiam diri, membiarkan
maut menukangi terminal dalam kepalaku

Sebuah bus lagi tiba, Puan
Bus yang membawa peristiwa penuh wajahmu
Dan kudengar orang-orang memanggilku
dengan suaramu

"Ayo pergi,
jangan tidur dalam waktu yang berhenti!"

Pekanbaru, 2005

Bagikan:

30 Agustus 2016

Kisah Parmahan, Meniup Seruling di Punggung Kerbau


Oleh Panda MT Siallagan

Sekarang sudah sulit menemukan kerbau di desa-desa. Pemanfaatan tenaga hewan itu untuk mengelola lahan pertanian memang sudah tersingkir sedemikian sempurna oleh hadirnya teknologi modern bernama traktor yang sangat praktis, efisien dan efektif.

Ilustrasi. Foto/Internet
Takdir modernisme mungkin memang begitu. Kita dimudahkan di satu ruang, tapi di ruang lain, kita merasa banyak kehilangan. Kenangan-kenangan terhapus secara lembut tanpa pernah disertai daya penolakan. Tapi pada jiwa yang lelah dan sunyi, kita kadang merasa trenyuh menyadari bahwa ada banyak hal yang tak mungkin kembali.

Sungguh, sekarang sudah sulit menemukan kerbau di desa-desa. Di sejumlah tempat, generasi baru yang lahir tahun 2010-an, bahkan mungkin takkan lagi bisa menyaksikan wujud kerbau di kelak hari, apalagi menyentuh dan bersahabat dengannya.

Saya terkenang masa kanak yang jauh, masa yang penuh keakraban dengan kerbau. Kita tahu, kerbau memunculkan banyak tradisi indah pada kehidupan lampau. Membajak sawah, misalnya, akan selalu terkenang keriuhannya. Si pembajak sawah yang berada di belakang kerbau menarik luku, sungguh pemandangan indah, meski terbersit juga rasa sakit ketika kerbau dicambuk manakala lamban atau malas bergerak.

Dan saya akrab dengan suara-suara lantang mengarahkan kerbau, "Housss...etah...husss, eta...!" Itu suara pembajak memerintah kerbau menarik bajak. "Siamun.....siamun....! Birrrang...birrrrang!" Itu teriakan pembajak mengarahkan kerbau ke kanan atau ke kiri. Dalam bahasa Batak, siamun artinya  kanan,  hambirang artinya kiri. Dalam aktivitas membajak, hambirang lebih sering diteriakkan 'birrrrang' untuk memudahkan pelafalan.

Aktivitas membajak ini berlangsung pada pagi dan berakhir menjelang tengah hari. Selanjutnya, kerbau dihantarkan ke areal penuh rerumputan, biasanya di dekat areal persawahan atau daerah yang tersedia air. Setelah kerbau berhasil mengumpulkan banyak rumput di salah satu kantong perutnya, dia harus istirahat di kubangan berair sambil mengeluarkan lagi rumput-rumput itu, mengunyah hingga lumat, lalu ditelan.

Di sinilah pentingnya peran pengangon (parmahan). Bentuk kata kerja parmahan adalah marmahan (mengangon). Dalam melaksanakan tugasnya, parmahan akan menggiring kerbau ke tempat-tempat yang penuh rerumputan. Setelah kenyang, kerbau dituntun untuk minum ke tempat yang tersedia air, dan dibiarkan mengaso.

Saat mengangon ini, tak jarang kerbau dibawa ke tempat yang sangat jauh di pinggiran desa. Lazim juga para pengangon bergerombol ke suatu padang membawa kerbau angonan masing-masing. Sambil mengangon, saat kerbau ditambatkan merumput atau sedang mengaso, anak-anak itu lazim pula melakukan berbagai aktivitas, misalnya mencari buah senduduk matang, lalu memakannya. Atau menguras saluran air atau ngarai-ngarai kecil mencari ikan, memancing, nengambil buah-buah alam dan lain-lain. Dulu, di mana ada air, di situ peluang ikan beragam spesies hampir selalu ada. Alam masih menawarkan banyak makanan dan buah-buahan.

Lalu, ketika senja tiba, para parmahan itu pulang. Mereka akan menunggang kerbau masing-masing. Hasil tangkapan ikan, jika ada, akan digantungkan di leher atau di tanduk kerbau. Dan, selalu ada anak yang mahir meniup seruling dengan bakat alam. Dan akan terdengarlah lantunan seruling bertalu-talu dari tiupan anak di punggung kerbau. Sungguh lengkingan seruling yang syahdu, mewarnai senja, menemani orang-orang pulang dari ladang.

Demikianlah kisah itu tertinggal jadi kenangan yang indah. Dan bagaimanapun, sebuah kisah lain tentang kerbau terkait juga dengan status sosial masyarakat Batak. Para pemilik kerbau selalu memiliki status sosial yang lebih tinggi. Mereka adalah kalangan atas desa. Dan parmahan, umumnya, adalah anak-anak dari kelompok kurang mampu yang diberi upah sebagai pengangon. Memang tak seluruhnya. Ada juga anak-anak itu marmahan kerbau milik ayahnya. Dan adakalanya, bunyi seruling yang mendayu menggigit jiwa itu lahir tiupan seorang anak miskin, yang sangat paham memaknai pedih dan sunyi hati.

Dan uniknya, di desa kami misalnya, status sosial soal kerbau tak selalu utuh sebagai satuan ekor. Artinya, orang tak hanya dinilai dari jumlah kerbau miliknya. Sudah pasti orang yang memiliki kerbau satu ekor, dua ekor, tiga ekor dan seterusnya, adalah orang berada. Tapi orang yang memiliki seperempat atau setengah kerbau juga sudah memiliki status dan kebanggaan tersendiri.

Bagaimana maksudnya memiliki seperempat kerbau? Inilah uniknya. Satu kerbau bisa dimiliku 2, 3 atau 4 orang. Satuan ukuran pembagiannya adalah paha kerbau, yang dalam bahasa Batak disebut hae. Jadi, seekor kerbau dinilai dengan 4 paha (4 hae). Seseorang bisa memiliki 1 hae kerbau (sahae/sakkae), sedangkan sisanya milik orang lain.

Dan, saya ingat dengan jelas, ketika saya anak-anak, ayah saya pernah punya prestasi memiliki 2 hae kerbau. Demikianlah...! ***
Bagikan:

Ragam Jajanan Khas dari Tanah Batak


Indonesia terdiri dari beragam etnis dan sub etnis. Dan keberagaman suku itu praktis melahirkan keberagaman adat istiadat dan budaya pula. Salah satu wujud kebudayaan adalah kuliner. Ya, kuliner adalah kebudayaan. Tata boga atau seni dapur suku-suku telah melahirkan karakter kuliner nusantara yang beragam.
Mi Gomak.
Seperti halnya suku lain, suku Batak juga memiliki ragam kuliner yang tak kalah lezat dan penuh cita rasa. Dalam artikel ini, akan diperkenalkan secara khusus kuliner ringan (jajanan) yang khas dari Tanah Batak.

1. Mi Gomak

Mi Gomak adalah makanan terkenal di wilayah Tapanuli. Wujudnya menyerupai mi lidi. Dan adakalanya, mi lidi itu juga disebut mi gomak ketika disajikan di Tanah Batak. Mengapa disebut mi gomak?

Banyak versi tentang penamaan ini. Ada yang mengatakan, mi ini disebut mi gomak karena proses penyajiannya dilakukan dengan cara digomak-gomak (diaduk, dijumput, dan digenggam pakai tangan). Meski saat ini praktek penyajiannya tidak lagi pakai tangan tapi sudah pakai sendok, tapi namanya tetap mi gomak.

Mi gomak ini kerap juga disebut spagheti Batak karena mirip dengan spagheti Italia. Yang pasti, mi direbus terlebih dahulu dan dibiarkan terpisah. Di sisi lain, tersaji kuah dan sambala. Nah, ketika akan dikonsumsi, mi disajikan sesuai porsi yang diinginkan, lalu dicampur dengan kuah dan sambal. Kuah dan sambal itu terkadang dicampur dengan andaliman, sungguh rasa yang unik dan khas.

2. Ombus-ombus
Ombus-ombus
Ombusombus merupakan jajanan khas Batak dari Siborongborong, Tapanuli Utara. Ombusombus terbuat dari tepung beras dan di bagian tengah ditaruh gula merah dan dibungkus dengan daun pisang. Mengapa disebut ombus-ombus? Ini belum terlalu jelas. Hanya saja, konon makanan ini akan sangat nikmat bila dimakan dalam kondisi panas-panas, sehingga ketika orang memakannnya, ia harus sambil menghembus-hembus. Ombus dalam Bahasa Batak artinya hembus.

Makanan ini sudah sangat membudaya dalam kehidupan orang Batak. setiap ada acara pesta adat atau seremoni yang melibatkan orang banyak, lampet atau ombus-ombus tetap menjadi hidangan pilihan di sela-sela acara. Dan, alangkah sedapnya jika disajikan berbarengan dengan kopi atau teh.

3. Lampet

Lampet (dilafalkan lappet) merupakan makanan ringan yang terbuat dari tepung beras, kelapa, gula merah (aren). Lappet sering disajikan pada kegiatan-kegiatan pesta adat, maupun perayaan-perayaan lainnya.

4. Pohul-pohul

Sebenarnya, lappet sama dengan pohul-pohul, hanya saja bentuknya berbeda. Lappet biasanya dimasak dalam kemasan daun pisang dan bentuknya seperti kerucut atau limas. Sedangkan pohul-pohul berbentuk kepalan tangan. Artinya, kepalan tangan itulah cetakannya. Memang, “pohul-pohul” jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesi, artinya adalah kepalan tangan.

5. Tipa-tipa

Tipa-tipa ini merupakan makanan ringan (cemilan) yang bahan utamanya adalah padi setengah tua. Padi terlebih dahulu direndam kira-kira dua hari, lalu dikeringkan. Setelah itu, padi muda tersebut disangrai hingga matang. Dalam keadaan panas, padi tersbut kemudian ditumbuk dengan alu hingga berasnya menjadi pipih dan terlepas antara kulit dengan isi. Setelah itu ditampi untuk memisahkan beras dari kulitnya. Tipa-tipa siap disantap.

6. Kacang Sihobuk

Merupakan jajanan khas Batak dari Desa Sihobuk, Tarutung, Tapanuli Utara. Nama Sihobuk kini sudah jadi merk dagang yang diambil dari nama desa asal produksinya. Sebenarnya, Sihobuk tidak berbeda dengan kacang lain, namun kacang tersebut telah dipilih untuk dijual. Kacang Sihobuk kini sudah menjadi oleh-oleh khas, bahkan sangat terkenal hingga ke luar negeri. Kacang sihobuk (tanpa dikuliti) digonseng (disangrai) di kuali besar menggunakan pasir.

7. Sasagun

Makanan ini dibuat dari tepung beras yang digongseng dengan kelapa dan dicampur dengan gula merah/aren. Soal rasa bisa dicampur dengan nenas atau durian, kacang atau sesuai dengan selera.

8. Itak Gurgur
Itak Gurgur
Itak gurgur dibuat dengan bahan yang sama dengan lampet, yaitu beras yang dihaluskan secara tradisional yang disebut itak. Rasa yang dihasilkan juga hampir sama dengan lampet: manis dan gurih.

Namun cara membuat itak gurgur berbeda dengan cara membuat lampet. Itak gurgur dibuat dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan mengadon itak, kelapa muda yang telah diparut, gula pasir, dan sedikit air panas. Setelah dicampur sampai rata, kemudian adonan dicetak secara manual dengan tangan sendiri. Sudah, begitu saja. Itak Gurgur siap dihidangkan.

9. Dolung-dolung

Dolungdolung adalah sejenis lampet berbentuk bulat makanan tradisional Batak dari tepung beras yang dibungkus khas dengan daun bambu. Pada prinsipnya dolung dolung mirip dengan jajanan Ombus-Ombus dari daerah soposurung, baik bentuk, tampilan, rasa persis hampir mirip.

Yang membedakan dolung-dolung dibungkus daun kelapa dan ombus tidak mengunakan daun kelapa. Makanan dan jajanan seperti ini cukup populer hampir disemua daerah Batak. Sayang semakin hari para penjualnya semakin langka ditemukan. (berbagai sumber/int)


Bagikan:

29 Agustus 2016

Demoralisasi di Lingkungan Intelektual


Membaca judul tulisan ini barangkali akan segera muncul beragam interpretasi dalam dalam pemikiran kita sebagai respons terhadap kalimat yang sekaligus jadi premis. Salah satu pertanyaan yang mungkin relevan untuk diajukan, mungkinkah di lingkungan intelektual bisa terjadi patologi sosial gawat semacam itu? Paradigma yang bagaimana yang dikembangkan memandang persoalannya, sehingga muncul terminologi menakutkan tersebut?

Ilustrasi.
Tulisan ini akan mencoba menjabarkan dengan cara menyoroti fenomena-fenomena aktual dan mutakhir di lingkungan akademis Unri yang belakangan dilihat cukup meresahkan.

Simak misalnya laporan khusus yang diangkat Bahana Mahasiswa edisi Juli 2002 tentang adanya sinyalemen beberapa dosen yang memakai gelar imitasi. Kasus tersebut bukan hanya mencoreng wajah dunia akademis yang dikenal dengan intelek. Tapi juga memunculkan gugatan yang kurang lebih sama sebagai penghinaan terhadap kaum intelektual. Dari perpspektif moral, kasus ini bisa dipandang sebagai bentuk dekadensi akhlak yang menjangkiti sebagian akademisi kita. Hampir bisa dipastikan bahwa motivasi oknum-oknum yang memilih jalan pintas tapi memalukan itu adalah semata-mata untuk kepentingan pribadi yang tidak rasional. Mereka praktis abai terhadap tanggung jawab sebagai pedadog, baik tanggungjawab moral maupun tanggungjawab profesi.

Gelar itu sejatinya didapat dari kerja keras, dedikasi pengabdian, dan sumbangan ilmu yang dapat memajukan peradaban masyarakat. Pendidikan bukan aktivitas yang money oriented. Mentang-mentang punya duit, lalu beli gelar yang ujung-ujungnya digunakan sebagai sarana kemudahan cari duit.

Parahnya, fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan dosen. Para mahasiswa juga tampaknya turut terjangkiti. Tidak sedikit mahasiswa untuk meraih gelar sarjananya, tidak benar-benar melakukan penelitian. Banyak skripsi yang datanya fiktif. Kondisi ini didukung oleh menjamurnya penyedia jasa pembuat skripsi dengan memungut biaya sejumlah tertentu. Dengan bahasa yang lebih ofensis boleh dikatakan bahwa banyak sarjana itu yang tidak pantas jadi sarjana. Mereka miskin ilmu. Miskin apresiasi. Kurang memiliki sensivitas terhadap budaya akademis. Padahal, konsensus yang disepakati bersama perihal kaum intelektual adalah berilmu, berakal, berbudaya, punya personalitas dan karakteristik yang fokus pada kemajuan. Ketiadaan akan hal inilah yang saya coba rumuskan sebagai demoraslisasi di lingkungan intelektual.

Jika dikaji lebih jauh dan diungkap lebih jujur, masih panjang deretan yang menjadi indikasi adanya demorasliasi di lingkungan akademis kita. Bukan hanya di Unri, tapi di seluruh pendidikan tinggi di Indonesia sinyalemen itu pasti ada. Masalahnya narkoba, misalnya. Hampir tidak bisa disangkal bahwa kualitas dan kuantitas pengguna barang-barang laknat itu sangat tinggi persentasenya. Bahkan media massa pernah melansir berita tentang tertangkapnya pengedar narkoba berstatus mahasiswa.

Hal yang tak kalah miris, ada kecenderungan gaya premanisme yang diterapkan para mahasiswa baik di lingkungan organisasi maupun dalam aktivitas keseharian. Menyadur apa yang ditulis Suka Hardjana di harian KOMPAS (1/9/2012), banyak orang yang bangga bila disebut beringas dan buas. Padahal beringas dan buas itu secara etimologi digunakan orang-orang zaman dahulu untuk menggambarkan keliaran binatang seperti singa, harimau dan binatang-binatang buas lainnya. Ini berarti banyak orang yang bangga disamakan binatang. Sikap beringas dan buas itu sadar atau tidak cenderung diekspresikan sebagai upaya menunjukkan superioritas yang keliru.

Dalam konteks keorganisasian hal tersebut sering terlihat dalam bentuk-bentuk perdebatan dan adu argumentasi yang terkadang sampai menghujat. Padahal, saling menyerang itu merupakan salah satu tanda merosotnya moral, atau makin terpinggirkannya etika prilaku dalam aktivitas keseharian kita.

Tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan organisasi tertentu, ada organisasi mahasiswa yang membuat pertandingan domino. Saya kira ini sangat bertentang dengan predikat kita sebagai mahasiswa. Bukankah lebih baik, jika dibuat program lomba pidato bertema kondisi aktual yang terjadi di sekitar kita? Program semacam ini selain bermanfaat untuk mengembangkan diri, juga sangat baik dijadikan momen untuk belajar mempertanggungjawabkan julukan kita sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.

Lalu apa sebenarnya moral itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia secara eksplisit dijabarkan bahwa moral adalah ajaran tentang baik-buruk, akhlak, budi pekerti, susila, keadaan mental yang membuat seseorang bersemangat, bergairah dan berdisiplin. Moral inilah yang menjadi refleksi bagi seseorang untuk menentukan apakah ia berperilaku baik atau tidak. Sopan atau tidak. Kebaikan perilaku, ketidaksopanan dan miskin budi pekerti inilah yang sebenarnya disebut demoralisasi.

Pertanyaannya, adakah ukuran baku yang secara tepat mendeskrispsikan dikotomi antara yang amoral dan bermoral? Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, dalam bukunya berjudul Genealogi Moral menjabarkan bahwa tindakan-tindakan moral yang sebenarnya ditujukan untuk daya guna.

Dikotomi baik dan buruk tidak lagi dimaknai dari esensi dan substansinya, tapi sudah dipolitisir. Baik untuk kelompok yang satu belum tentu baik untuk kelompok yang lain, dan sebaliknya.

Orang-orang yang merasa superior, lebih pintar, lebih kuat, sering mengklaim konsep baik baginya, dan buruk adalah untuk orang-orang yang dianggapnya bodoh dan lemah.


Organisasi kemahasiswaan nampaknya perlu lagi disoroti untuk menjelaskan hal ini. Kita banyak memiliki organisasi yang berbasis banyak ideologi. Para aktivis atau pelaku organisasi itu secara faktual sering menganut ideologi organisasinya dengan fanatisme berlebihan, sehingga forum diskusi dan kosolidasi antar organisasi yang berbeda ideologi, cenderung tidak pernah ada. Banyak ada sinyalemen permusuhan antara organisasi yang satu dengan organisasi lainnya. Fenomena ini kurang lebih sering melanda organisasi berbasis religius. Konsekuensinya, muncul klaim: kami benar (baik), mereka salah (buruk).

Primordialisme, sukuisme dan paham-paham kedaerahan ternyata masih sangat kuat kuat mengikat kita. Para mahasiswa masih sering menyebut ukuran baik dan buruk berdasarkan suku, daerah dan agama masing-masing. Dengan demikian, sikap hormat dan penghargaan terhadap pihak lain di luar dirinya sering terabaikan. Ada pandangan-pandangan sinis, kurang respek, bahkan kecenderungan melecehkan pihak lain di luar primordialnya. Inilah bentuk laten demoralisasi paling berbahaya dan sulit dicari akar masalah dan solusinya.

Penjabaran di atas kiranya cukup menggambarkan betapa demoralisasi sangat kompleks cakupannya. Bentuk eksplisit dan implisitnya sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Maka, kita harus menumbuhkan kesadaran terhadap bahaya-bahaya demoralisasi itu. Jika tidak, kita tidak akan pernah tumbuh jadi intelektual sejati.

Beberapa solusi yang bisa disikapi adalah sebagai berikut. Pertama, menanamkan kesadaran dalam diri bahwa kita adalah subjek paling bertanggungjawab terhadap stagnasi moral dan mandeknya dekadensi peradaban. kedua, mengesampingkn subjektivisme pemikiran dan absolutisme gagasan, yang sering menyeret sikap dan karakter kita tumbuh menjadi manusia yang kurang toleran.

Terakhir, menumbuhkan kehidupan spritual yang bebas dan intervensi sekteranisme dan fanatisme sesuai dengan agama masing-masing. Sehingga, nilai-nilai spritual itu bisa kita terjemahkan dalam berbagai konteks dengan tetap berpijak pada kebenaran. ***

* Artikel lawas saat belajar menulis, terbit di Surat Kabar Kampus (SKK) BAHANA MAHASISWA Universitas Riau (Unri), Edisi Agustus-September 2002.
Bagikan:

28 Agustus 2016

Kisah Senduduk, Anggur Kenangan Masa Kanak-kanak


Tebu dan anggur barangkali tumbuh dari gengsi kaum borjuis. Maka tebu selalu menggoreskan luka sejarah. Ia selalu tumbuh jadi komoditas politik. Sebab darinya gula tersarikan. Gula, hmm...! Gula senyawa dengan anggur. Atau wine. Kau hanya bisa mengenalnya dengan kantong tebal.

Senduduk.
Tapi tokoh kita dalam kisah ini tak akan bicara tentang tebu dan anggur yang mahal itu. Anak-anak dalam kisah ini barangkali cuma jujur menerima berkah alam. Dan saya, sebagai pengenang, mencoba mengibaratkannya.

Anggur itu adalah senduduk. Ketika lahan-lahan di pedesaan belum diberangus traktor, tumbuhan rumpai ini masih berkuasa dan menghampar luas. Anak-anak di desa mengenalnya dengan baik. Mengapa? Karena buahnya yang berwarna ungu itu memang lezat, manis dan empuk.

Begitulah anak-anak itu, sepulang sekolah, atau sepulang membantu ayah ibu di ladang, menyuruk ke 'hutan senduduk' dan memetik buah-buah yang matang. Dan, nyam...nyam....! Setelah itu, mulut mereka jadi ungu. Adakalanya mereka tertawa dan saling unjuk gigi. Gigi berwarna ungu. Seperti mabuk. Seperti berpesta. Merayakan anggur yang tidak dikenal zaman.

Ritual itu hampir dilakukan setiap saat, setiap kali anak-anak itu memiliki kesempatan bermain. Tentu, permainan-permainan lain juga diakrabi, misalnya mandi-mandi di sungai, atau memanjat pohon kelapa, menjatuhkan buah-buahnya yang muda, untuk dicecap air dan lendirnya. Itu nikmat. Tetapi, senduduk menyuguhkan sebuah kisah mengharukan.

Di hutan senduduk itu pernah kami saksikan seorang anak terisak-isak. Ia tidur-tiduran beralaskan ilalang, dan tampak sedang dilanda kesedihan. Ia teman kami yang baik, dan itu terkejut. Ketika kami tanya, dia mengatakan bahwa ibunya telah murka dan menyebat kakinya teramat pedih, hanya karena ia lalai, tak mengambil air dari pancuran. Ia lari, lalu berteduh mendamaikan jiwanya yang hancur. Umur 8 tahun. Tapi hatinya bisa amat sensitif dan mengatakan tak akan kembali ke rumah. Ia ingin tinggal di hutan senduduk itu, karena memang bagian bawahnya teduh. Jika lapar, ia bilang, ia akan makan senduduk.

Lama kami membujuknya, hingga akhirnya, menjelang malam, ia bersedia pulang. Dan ibunya, seperti yang ia khawatirkan akan murka, ternyata benar. Kami juga kena getah: pergi kalian, dasar anak-anak bandal. Orangtua mati-matian di ladang, kalian main-main saja. Dengan mental ciut, kami menjauh perlahan-lahan. Kami tidak tahu apa yang terjadi malam itu, tapi esoknya, teman kami yang baik itu tidak muncul di sekolah. Juga hari-hari selanjutnya. Ia hanya sempat mengenal angka dan huruf. Dan kelak, kawan ini mati muda entah karena apa, tak lama setelah pulang dari rantau.

Dan senduduk selalu mengingatkan kami pada kawan itu. Tapi kini senduduk tidak lagi ditemukan di desa itu. Entah bagaimana semua itu raib dengan sempurna. Dan demikianlah anak-anak generasi baru, kelak mungkin hanya mengenal tumbuhan ini dari cerita ke cerita, jikapun dikisahkan, atau dikaji untuk keperluan ilmiah. Itulah anggur kami. Anggur masa kecil yang membuat haru.

Dan kisah lain yang sangat menyentuh, yang selama-lamanya akan mengendap dalam ingatan adalah kisah tentang tebu. Tebu yang manis. Tebu yang juga tragis. Desa kami memang tak akrab dengan tebu. Ia tidak pernah jadi komoditi yang bersengaja dibudidayakan untuk penghidupan. Ia hanya hadir sporadis, sebagai tanaman penghias di pekarangan rumah, hanya beberapa rumpun, untuk konsumsi keluarga ketika cuaca sangat panas. Tapi kejahatan tercipta dari situ. Sebab, anak-anak yang orangtuanya tidak punya tebu, sesekali belajar mencuri jika ingin menikmati manisnya tebu, manisnya kehidupan. Singkat kisah, beberapa dari anak-anak itu pernah disebat karena mencuri tebu.

Sejak itu, tebu menjadi mimpi yang menyakitkan. Dan anak-anak itu mengobati luka itu pada ilalang. Pada akar ilalang. Di lahan-lahan yang ditraktor, mereka keluyuran mencari-cari akar ilalang, dikumpul, lalu dikunyah. Manis. Serupa tebu. Jika ayah-ibu mencangkul di ladang, maka akar ilalang saluran kesenangan, melampiaskan hasrat makan tebu. Betapa menakjubkannya kisah itu. Dan kelak, tebu memang bukan milik orang-orang miskin. Gula tetap mahal. Politik senantiasa ikut memainkannya. Tapi, kemanakah anak-anak kini bisa mencari akar ilalang yang manis-manis seperti ketika itu? Entahlah...! (Panda MT Siallagan)***
Bagikan:

Mike Mohede, Harga Rokok dan Olimpiade


Sebulan terakhir, Indonesia diguncang tiga peristiwa sedih, sensasional dan penuh mimpi: Mike Mohede, wacana harga rokok, dan Olimpiade 2016.

Ilustrasi.
Meninggalnya Michael Prabawa Mohede atau akrab disapa Mike Mohede, terasa sangat mengejutkan. Paling tidak, ada dua hal yang menyebabkan kematian penyanyi penuh talenta yang dicintai publik itu menjadi topik trending. Pertama, usianya masih sangat muda, ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 32 tahun, pada Minggu 31 Juli 2016 yang kelabu itu. Kedua, Mike meninggal pada saat tidur, tidak dalam kondisi sedang sakit.

Maka, riuh pulalah pertanyaan dan pernyataan, Mike korban serangan jantung. Dan pembahasan tentang penyakit jantung pun riuh pula lewat artikel-artikel di medsos dan media-media digital. Ringkasnya, kematian jantung mendadak memang bisa terjadi pada orang berusia muda.

Menurut sejumlah referensi, ada beberapa penyebab kematian mendadak pada orang usia muda, antara lain penebalan otot jantung (hypertrophic cardiomyopathy), kelainan arteri koroner dan peradangan di dalam jantung (long QT syndrom). Intinya, semua penyebab ini menyebabkan penyumbatan yang mengakibatkan jantung gagal memompa darah.

Memang, penyakit jantung disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Sayangnya, banyak orang tak sadar memiliki masalah jantung hingga muncul serangan. Sebab gejalanya sering kali tidak muncul sehingga banyak orang tak sadar ada masalah pada jantungnya.

Mengapa orang bisa terkena penyakit jantung? Para ahli mengatakan, masalah jantung bisa disebabkan oleh kelainan bawaan, genetik, dan gaya hidup yang tidak sehat.

Dan, risiko yang dapat meningkatkan penyakit jantung antara lain merokok, minum alkohol, berat badan berlebih atau obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol, stres, penyumbatan aliran pernapasan, hingga kurang aktif bergerak.

Nyata disebutkan, rokok menjadi salah satu faktor risiko. Nah, tidakkah sebaiknya kita berterimakasih atas wacana pemerintah menaikkan harga rokok hingga Rp50 ribu per bungkus?

Kita tahu, wacana itu sangat heboh, penuh pro dan kontra, bahkan mendapatkan pembahasan lebih dari porsi yang kita duga. Wajar, sebab jumlah perokok aktif di Indonesia sangat tinggi. Orang yang menggantungkan hidupnya dari rokok, mulai dari pengusaha, distributor, pedagang, buruh pabrik, petani tembakau dll, juga sangat besar jumlahnya, sehingga isu kenaikan harga rokok pun melambung tinggi. Pembahasan menyebar sesuai konteks kehidupan masing-masing, tak terkecuali perokok.

Perokok berat yang bisa menghabiskan 3-4 bungkus sehari, tentulah merinding dan ngeri membayangkan harga itu. Mereka juga pasti ngeri membayangkan upaya apa yang akan dilakukan agar bisa berhenti merokok? Apakah harus mengasosiasikan diri sebagai orang yang sudah terkena gejala serangan jantung?

Sebab, sebuah sumber sangat jelas mengutip Anhari Achadi bahwa tujuan dari wacana kenaikan cukai rokok hingga dua kali lipat atau menjadi Rp50 ribu per bungkus, bertujuan untuk menyelamatkan generasi muda dari berbagai macam penyakit.

Anhari menyebutkan, banyak penyakit yang disebabkan oleh rokok, seperti diabetes, serangan jantung, impotensi dan lainnya yang menyebabkan generasi muda ke depannya tidak lagi produktif dan tidak sehat.

"Merokok menyebabkan terganggunya kesehatan, saya ingin mengingatkan tujuan bukan saat ini, tetapi masa yang akan datang. Kalau tidak, kita akan memiliki generasi yang sakit-sakitan, kita tidak memiliki penduduk yang produktif dan berkualitas, kita ingin generasi ke depan sehat, produktif dan bisa berperan pada pembangunan bangsa," ujar Anhari dalam acara Polemik Radio Sindo Trijaya Network di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu 27 Agustus 2016.

Soal dalih dan motif ekonomi nasional, biarlah tuan-tuan di kabinet itu yang membahasnya. Pertanyaannya, apakah generasi muda Indonesia tidak produktif karena memang disebabkan rokok? Apakah merosotnya prestasi atlet-atlet kita di ajang-ajang internasional juga berkaitan dengan rokok? Apakah produktivitas generasi muda bisa semena-mena dikukur dengan budaya rokok dan merokok?

Entahlah! Yang pasti, perolehan medali kontingen kita di Olimpiade 2016 sungguh jauh dari harapan. Dan pada sejumlah atlet, rokok memang kenyataan yang menyakitkan. Saya banyak tahu anak-anak berusia muda yang bercita-cita jadi atlet, tekun latihan, mimpi sangat tinggi, tapi setiap kali selesai bertanding atau latihan, mereka langsung mencari rokok. Bahkan pemain sepakbola lokal konon ada yang merokok di ruang ganti. Bagaimana mau berprestasi?

Baiklah, mari bertekad: SELAMATKAN JANTUNG MASING-MASING, selamatkan Indonesia. (Panda MT Siallagan) ***
Bagikan:

27 Agustus 2016

Lingkaran Luka


Cerpen Panda MT Siallagan

Rumah mungil berdinding gedek itu dikelilingi beberapa jenis pohon seperti kemiri, jambu air, rambutan, kakao, dan rumpun-rumpun pisang. Agak jauh ke belakang, membentang lahan luas yang sebagian dikelola dan sebagian lagi terbiar. Pada lahan yang dikelola itu, tumbuh beragam tanaman seperti jagung, cabe, ubi dan kacang-kacangan. Tanaman-tanaman itu tampak subur dan berwarna hijau, seperti berkisah tentang kecekatan pemiliknya bercocok tanam. Dan pada lahan yang terbiar itu, melebat beragam rumput dan semak-semak. Sesungguhnyalah ada sejarah luka yang meruap dari rumah, pohon, rumput dan semak–semak itu.

Ilustrasi.
“Masih kaukenangkah kampung itu?” Suara itu menggelegar, menyusupkan segala getar ke dalam dada saya.

”Masih. Saya masih mengenang segalanya. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan luka,” kata saya sambil menutup mata. Saya tidak sanggup menatap sosok asing bermata tajam dan bersuara berat itu. Saya juga tidak paham mengapa ia bisa berada di dalam kamar saya pada malam ini, pada saat hujan menderas. Berkali-kali saya mencubit lengan untuk memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. Dan benar, saya tidak sedang bermimpi. Saya tadi terbangun oleh petir yang menggetar, seolah-olah sebuah martil raksasa telah dihantukkan ke dinding rumah saya. Dan pada saat terbangun itulah saya menemukan sosok itu sudah berada di kamar saya, duduk di salah satu sudut.

”Tapi, siapakah Anda, Tuan?”

”Saya adalah ingatanmu. Maknailah!”

Bedebah! Keangkuhan sosok asing itu membuat saya sangat marah. Tapi, sekejap kemudian, amarah saya reda karena rumah mungil dan kampung itu muncul lagi dalam penglihatan saya. Atapnya penuh dengan daun-daun gugur, seperti telah terjadi angin topan. Di sisi kiri rumah itu, terdapat sebuah kandang yang dirancang dari batang-batang bambu dan di dalamnya hidup banyak ayam. Pada saat saya saksikan, ayam-ayam itu sedang berhamburan dari kandangnya. Jantan-jantannya berkokok, induk-induknya bersegera mencakar-cakar tanah, mencari makanan, dan anak mereka terciap-ciap. Lalu, seorang anak kecil tiba-tiba keluar dari rumah mungil itu, menenteng jagung pipil dan nasi basi, melemparkannya ke halaman. Maka berebutlah ayam-ayam itu menyantap sarapan pagi yang disuguhkan tuannya kepada mereka. Saya kaget. Apakah saat ini hari memang sudah pagi? Dan kekagetan itu makin menggila ketika saya mengamati anak kecil yang memberi makan ayam-ayam itu. Ia mirip seperti saya ketika kanak-kanak.

”Masih lekatkah peristiwa itu dalam ingatanmu?” Sosok itu bertanya lagi, dengan suara yang lebih menggelegar, memporak-porandakan kesadaran saya. Saya mulai merasa takut.

”Masih. Saya masih mengingatnya, Tuan. Tapi, tolong jangan kepung saya dengan luka,” kata saya sambil berusaha melirik jam dinding: pukul 03.13 WIB. Astaga, hari ternyata masih sangat dini. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar suara katak bersahut-sahutan dan saling memburu dengan gemuruh hujan yang menetes-netes dari genteng. Angin menderu, dan kudengar daun-daun pepohonan saling bergesek, seperti mempersembahkan tarian gaib pada malam. Saya makin tidak paham dengan apa yang terjadi. Saya cubit lagi lengan saya, sakit. Saya benar-benar tidak sedang bermimpi. Tapi, siapa dan untuk apa sosok keparat ini hadir di kamar saya? Apakah ia seorang perampok yang ingin menghabisi nyawa saya tapi terlebih dahulu mempermainkan saya dengan tindakan-tindakan aneh? Tapi, apa yang ia inginkan di rumah saya yang jorok dan melompong ini? Tak ada apa-apa di rumah ini selain kesunyian. Dan, apapun resikonya, saya putuskan menghajarnya. Tapi, ketika saya hendak bangkit dan mendaratkan tendangan di perutnya, ia berkata, “Saya bukan maling”.

Saya tersentak. Saya gemetar. Tubuh dan seluruh tulang-tulang saya terasa panas. Saya menggigil.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka,” suara saya bergetar.

”Saya tidak melukai Anda. Tapi saya adalah luka Anda sendiri. Hayatilah!”

Maka penglihatan saya akan rumah mungil dan kampung itu melintas lagi. Sekarang, seorang wanita separuh baya keluar dari pintu belakang, membawa sapu lidi. Wanita itu lalu menyapu halaman, mengumpulkan daun-daun gugur. Dan ketika wanita itu membakar sampah dan daun-daun gugur pada sore harinya, saya melihat bukan asap yang membubung, tapi semacam kesedihan. Saya mencium bukan uap asap yang meruap, tapi semacam kenangan. Lalu, serpih-serpih kehilangan menguap ke angkasa dan mencoreti langit dengan segala yang habis, terbakar oleh waktu.

”Masih kau ingatkah wanita itu?” sosok asing itu bertanya lagi.

”Tidak.”

”Masih kauingatkah wanita itu?” suara sosok asing itu mengerang marah, seperti tahu bahwa saya sedang berbohong. Saya gemetar, semakin ciut didera rasa takut.

”Ya,” kata saya akhirnya, “Dia bekas ibu saya.” Pada saat itu, saya tiba-tiba merasa sangat sakit, seolah-olah telah ditikamkan ratusan pisau ke sekujur tubuh saya. Dan, rasa sakit itu semakin menggila ketika sosok asing itu mencambuki tubuh saya.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

”Saya tidak melukaimu. Saya hanya ingin menyelamatkan hidupmu dari kutukan.”

Lalu seorang lelaki kurus berkulit legam keluar dari rumah mungil itu. Ia menghampiri istrinya dan berkata, “Tak guna kau bersihkan halaman ini, Istriku. Biarkanlah kesedihan dan kenangan itu berserakan. Tak guna kau membakarnya, sebab masa lalu yang membubung itu akan membuat nafasmu semakin sesak.”

Pada saat itu, lelaki kecil yang memberi makan ayam-ayam itu datang menghampiri suami-istri itu. “Ayah, Ibu, ayam-ayam itu sudah kenyang disuapi tanganku. Mereka mengucap syukur dan berdoa untuk kesehatan Ayah dan Ibu.”

”Kata-katamu beracun benar, Anakku. Kelak, bukan hanya doa binatang yang kau sampaikan menghina orang tuamu. Tapi kau mungkin akan membunuh ayahmu dengan kebuasan binatang.”

”Tidak. Aku tidak mungkin membunuh ayah…”

Penglihatan saya tiba-tiba dibuyarkan oleh sosok asing itu. “Sekarang, kau bahkan tak merasa bersalah setelah bertahun-tahun membunuh ayahmu. Kau juga membiarkan ibumu menderita dalam kesepiannya,” katanya.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

***

HUBUNGAN saya dengan ayah berlangsung seperti sebuah tragedi kebohongan. Saya, anak yang selalu dididik menjadi orang soleh, selalu menangkap kejahatan dan kebusukan justru hadir dalam setiap prilaku ayah, orang yang selalu memberi saya berbagai nasehat. Sejak kecil, mungkin sejak saya ingat saya ada, ayah selalu bercerita pada saya. “Nak, kita hidup di sebuah negeri yang makmur. Negeri yang memberi banyak kemungkinan berbahagia kepada banyak orang. Kelak, jika kau sudah besar, akan kau lihat negerimu ini sesak diserbu para pemburu. Kau juga akan sadar betapa tak jelas batas antara pemburu dan buruan. Pemburu-pemburu itu, anakku, muncul dengan wajah anjing, babi, dan binatang-binatang aneh lainnya. Dan kita adalah buruan itu, manusia-manusia tak berdaya. Jadi, anakku, kau harus bisa jadi lelaki kuat, agar kelak pemburu-pemburu itu bisa kauusir dari tanah kita. Dan ingat, mintalah kekuatan itu dari Allah. Tidak akan terberkati hidupmu jika kau tidak menghadapkan wajahmu kepada-Nya.”

Tapi, suatu malam, kebanggaan saya pada ayah runtuh. Saya selalu ingat peristiwa itu, sebuah peristiwa yang membuat saya terjebak pada perbatasan antara takut dan rasa marah. Semuanya bermula ketika seseorang mengetuk pintu rumah kami. Malam itu, ibu saya sudah tidur. Dan saya yakin, ayah pasti menduga bahwa saya juga sedang lelap memeluk mimpi. Setelah ayah membukakan pintu, saya kemudian mendengar percakapan serius berlangsung antara ayah dan tamu itu. Dari percakapan mereka yang lamat, saya tahu bahwa ayah, bersama tamu itu, sedang berencana merampok tanah seseorang dengan cara yang mungkin hanya mereka berdua yang tahu. Saya memang masih kecil, tapi karena ayah selalu menasehatkan kepada saya bahwa tindakan mencuri dan merampok adalah najis di mata Allah, saya tahu ayah saya telah melanggar sendiri nasehat-nasehatnya. Saya marah, geram, dan ingin sekali menampar ayah. Dan kemarahan itulah kemudian yang mendorong saya mengintip dari lubang kunci untuk mencari tahu siapa gerangan tamu itu.

Astaga, tamu itu ternyata kepala desa. Kemarahan saya makin tinggi. Selama ini, warga di kampung kami selalu menghormati kepala desa itu sebagai orang yang baik, agung dan bertanggungjawab terhadap warganya. Dan, tiba-tiba saja wajah kepala desa itu saya lihat seperti anjing, dan wajah ayah mirip babi. Saya benar-benar menonton percakapan rahasia yang berlangsung antara dua binatang.

Pada hari-hari selanjutnya, saya tidak tahu bagaimana kehidupan kami berubah. Rumah kami yang terbuat dari bambu dan beratap rumbia itu berubah menjadi rumah cantik. Ayah membelikan saya  sebuah sepeda. Ibu saya, wanita molek itu, makin molek karena baju-bajunya makin bagus. Ada kalung emas melingkar di lehernya. Dan pada jari manis dan tangannya, melingkar cincin dan gelang-gelang berkilauan.

”Lihat, Nak, Allah telah memberi berkat yang luar biasa kepada kita. Maka, kau harus lebih taat beribadah, dan teruslah menjadi anak yang tidak tercela di hadapan pencipta. Semua ini berkat doamu, Nak.”

Pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP. Saya tidak mengiyakan nasehat ayah, tapi tidak juga membantah. Tapi, karena sebelumnya saya selalu antusias mendengarkan nasehatnya, ayah dengan segera mengetahui bahwa saya tidak lagi menyimak nasehatnya.

Ayah marah. “Kau sudah mulai menantang ayahmu. Tahukah kau apa hukuman bagi seorang anak yang membantah orang tua?”

Seminggu kemudian, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, saya dikirim ke kota. Supaya saya makin pintar, kata ayah. Supaya saya tahu bahwa tata krama terhadap orang tua harus tetap dijalankan. Dan sejak itu, saya tidak pernah pulang kampung kecuali pada saat saya datang dengan diam-diam ke desa itu dan membunuh ayah saya tanpa seorangpun yang tahu. Saya tidak tahu kenapa saya begitu tega melakukan hal itu. Sebelumnya, saya ketahui melalui televisi bahwa kampung saya selalu disesaki kabut asap yang bersumber dari hutan yang terbakar. Pada kesempatan lain, saya dengar bahwa anak-anak di kampung kami banyak yang mati kelaparan dan sebagian lagi tersiksa didera penyakit. Saya dengar juga bahwa sungai-sungai tidak lagi mengalirkan air, tapi racun. Lalu saya surati ibu saya. Saya tanyakan kepada ibu apa-apa saja yang telah diperbuat ayah sehingga malapetaka itu bisa terjadi. Ibu menceritakan dalam suratnya bahwa ayah melakukannya bersama orang-orang yang dulu dikecamnya sebagai pemburu. Sekarang ayahmu juga tidak sayang lagi kepada ibu. Dia sekarang sudah sering membawa pelacur ke rumah kita, baik laki-laki maupun perempuan, para pemabuk dan orang-orang aneh yang selalu membuat rumah dan kampung kita jadi gaduh. Ibu sedih, Nak. Ayahmu tidak bisa lagi saya nasehati. Ia makin sering menampar ibu. Kalau bisa pulanglah, ibu rindu padamu, kata ibu mengakhiri suratnya. Lalu, saya pulang, membunuh ayah saya. Setelah itu, saya kembali lagi ke kota, mengembara seperti sedia kala.

Setahun setelah kematian ayah, saya pulang menjenguk ibu. Saya temukan ibu sedang sakit. Tubuhnya kurus sekali. Saya sedih. Saya menangis. Tapi, dengan suara lantang, ibu saya meradang. “Pergi kau, anak jahanam. Ketika ayahmu meninggal, kau tidak pulang. Sekarang, setelah kuketahui bahwa kaulah pembunuh suamiku, kau datang. Meskipun orang-orang tidak tahu bahwa kaulah pembunuh itu, tapi Tuhan selalu memberitahu hal itu setiap malam, lewat mimpi-mimpiku. Sekarang, pergilah untuk selamanya. Kau bukan anakku lagi.”

Saya pergi, dan tidak pernah berusaha untuk pulang. Meski begitu, ingatan saya akan kampung halaman selalu membuat saya tersiksa. Tersiksa karena ingatan yang berkelebat itu justru bercerita tentang masa-masa ketika keluarga kami masih miskin, ketika setiap pagi saya harus bangun lebih awal, memberi ayam-ayam makan, lalu pergi ke sekolah. Masa ketika ibu masih rajin menyapu halaman dan memunguti buah kemiri dari bawah pohonnya. Masa ketika ayah sering mengeluh tapi tetap semangat menjalani pekerjaannya sebagai petani. Masa sebelum perampok dan pemburu itu tiba di desa kami dan akhirnya mengajari ayah saya jadi pemburu, perampok dan penjahat yang menyiksa sendiri kaumnya. Masa penuh cinta yang sampai saat ini tak sanggup saya lupakan. Dan, ingatan itu adalah rangkuman. Rangkuman peristiwa yang dimulai dari suatu kehidupan yang murni, merangsek, dan sampai pada kehidupan suatu puak yang terampas, terhempas.

***

DI luar, hujan masih terus menderu. Angin bertiup kencang. Malam menjelang pagi hari ini terasa sangat berisik, seperti sebuah isyarat betapa gaduh hidup yang telah saya pilih. Betapa durhaka dan terkutuk sikap yang telah saya ambil sebagai manusia. Saya kenang lagi masa kecil itu, tanaman-tamaman yang mengelilingi rumah itu, ladang itu, semak-semak itu, ibu-ayah saya, juga orang–orang kampung yang tak pernah bebas dari penjara kemiskinan. Saya kenang lagi pantun-pantun yang selalu didendangkan ibu ketika saya masih kecil. Saya kenang lagi malam-malam di mana ayah saya mengajari saya menggambar perahu. “Nak, coba lukis Lancang Kuning,” kata ayah. Tapi, ketika gambar yang menurut saya sangat cantik itu saya tunjukkan, ayah berkomentar, “Belum sempurna, Nak. Kau lupa membuat motifnya. Itik Pulang Petang-nya mana, Akar Pakis-nya mana?”

Saya kenang segalanya. Saya tiba-tiba menangis. Saya belum pernah sesedih ini. Dan, saya rindu sekali bertemu ayah. Saya ingin pulang menjenguk ibu. Saya berdoa. Inilah untuk pertama kalinya saya teringat kepada Allah setelah melupakan-Nya berpuluh-puluh tahun. Saya sujud.

Dan, tiba-tiba tubuh saya dicambuk. Wajah saya ditampar. Bedebah, siapakah yang berani berbuat kurang ajar seperti ini kepada saya dan di rumah saya?

”Saya, sayalah yang mencambuk tubuhmu,” suara sosok asing itu menggelegar, “Selama ini, saya sudah mendatangi kamu berkali-kali, tapi pintu rumahmu selalu tertutup buat kelembutan. Sudah saya panggil kamu dengan bahasa paling halus, tapi telingamu selalu terkunci. Sekarang saya datang dengan cara yang kamu inginkan. Sekarang saya ingatkan lagi kepadamu: sejahat apapun sesamamu, jangan hakimi. Dan kamu, kamu telah membunuh ayahmu karena kesalahannya. Apa kamu pikir dengan membunuhnya tanahmu akan luhur lagi, puakmu akan berjaya lagi. Sudah saya ajarkan kepadamu segala pengertian dan kasih sayang, tapi kamu tidak mendengarnya. Sudah saya ajarkan kepada kamu bahwa ibu adalah Tuhan di dunia kecil bernama rumah, tapi kamu siksa ibumu sedemikian rupa. Sekarang saya telah datang dengan cara yang kamu inginkan. Rasakanlah!” kata sosok asing itu sambil mecambuki lagi tubuh saya, lebih keras dan lebih cepat. Saya mengerang, menjerit, memohon-mohon ampun kepada sosok asing itu.

”Tuan, tolong jangan kepung saya dengan luka.”

Tapi cambukan itu terus berlanjut. Saya ambruk. Dan segalanya menjadi lindap. ***

Pekanbaru, Agustus 2004

* Cerpen ini meraih Juara II Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun 2004

Bagikan:

Ragam Makanan Khas Batak, Khas Andaliman


Batak sebagai salah satu etnis besar di Indonesia, kaya dengan ragam budaya dan adat istiadat. Di bidang kuliner, Batak juga memiliki ragam makanan tradisional dengan cita rasa yang khas. Wajar jika masakan Batak melegenda dan diminati banyak orang. Kuliner Batak identik dengan bumbu pedas dan dicampur dengan bumbu khas bernama Andaliman. Berikut diantaranya disarikan berikut ini:

Na Niura. Foto/Int
 1. Naniura

Bahan utama masakan ini adalah ikan. Dulu ikan Batak, tapi sekarang lebih banyak digunakan ikan mas. Konon, masakan ini dulu adalah makanan khusus para raja, namun karena rasanya enak, semua orang Batak ingin menyantap dan membuatnya.

Naniura disajikan sebagai lauk pauk. Cara membuatnya tidak dimasak, direbus, digoreng atau menggunakan api. Na niura adalah ikan yang tidak dimasak. Ikan mentah diramu dengan bumbu lengkap, dan bumbu-bumbu itulah yang berperan membuat ikan terasa seperti matang, sehingga cita rasanya sangat tinggi.

2. Naniarsik (na niarsik)


Ikan arsik atau sering juga dilafalkan naniarsik, merupakan salah satu masakan khas yang sang populer dari wilayah Tapanuli. Masakan ini dikenal pula sebagai ikan mas bumbu kuning. Ikan mas adalah bahan utama. Dalam proses memasak, ikan ini dimasak utuh, hanya empedu yang dibuang. Sisik juga tidak dibuang.

Na Niarsik. Foto/Int
Bumbu ikan arsik sangat khas, mengandung beberapa bumbu andalan khas seperti andaliman dan asam cikala (buah kecombrang), lengkuas dan serai, kunyit, jahe, cabe rawit, sedikit kemiri, bawang putih dan bawang merah.  Bumbu-bumbu itu digiling sehalus mungkin. Lalu ikan mas dimasak (direbus) dalam kuali hingga mengering. Lazim pula di atas ikan tambahi sayuran hijau seperti buncir, daun ubi, kacang panjang, batang kincung muda, dll.

3. Napinadar

Bahan utama napinadar adalah ayam kampung. Ini merupakan masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada pesta adat tertentu. Mengerjakan resep makanan ini sedikit rumit, butuh waktu dan kesabaran. Inti dari masakan ini adalah gota (semacam saos) yang terbuat dari darah ayam itu sendiri yang dimasak dan dicampur dengan bumbu.

Untuk membuat napinadar, ayam terlebih dahulu dipanggang. Setelah dilumuri dengan gota. Adapun gota itu sudah dicampur dengan bumbu andaliman dan bumbu-bumbu lain dan juga dimasak.

5. Natinombur

Natinombur sangat populer dan khas dari Tapanuli. Hidangan yang menggunakan ikan mujahir ini diolah dengan cara dibakar dan disajikan dengan sambal kuah, hampir mirip dengan lele penyet atau pecel lele. Saat ini, untuk bahan utama makanan natinombur tidak lagi hanya ikan mujahir. Ikan lele juga sudah sangat banyak digunakan, bahkan ikan mas.

6. Sambal Tuktuk

Sambal Tuktuk adalah makanan berupa sambal atau semacam saos. Bahan-bahan untuk membuat sambal tuktuk tidak berbeda dengan bahan sambal-sambal lain, namun sambal ini berbeda karena ditambahi dengan andaliman. Kadang-kadang, sambal tuktuk dicampur dengan ikan-kecil yang sudah dikeringkan. Bisa juga dengan ikan teri tawar.

7. Daun Ubi Tumbuk

Daun ubi adalah sayur singkong yang dimasak dengan santan. Bedanya dari sayur yang lain, yang khas batak ini daunnya ditumbuk halus, lalu dimasak dengan bunga kecombrang. Ada kalanya dicampur dengan rimbang muda, atau ikan teri medan yang khas.

8. Dali ni Horbo

Dali ni Horbo. Foto/Int
Dali atau dali ni Horbo atau adalah air susu kerbau yang diolah secara tradisional. Makanan ini bisa dimakan mentah dan bisa juga dimasak dengan dengan ramuan bumbu.

9. Lain-lain

Selain itu, tentu masih banyak makanan khas Batak yang dapat dinikmati sebagai kekayaan kuliner nusantara. Makanan dari label non halal, misalnya, sangat populer saksang. Saksang adalah masakan khas Batak dari daging babi (atau daging anjing) yang dicincang dan dimasak dengan menggunakan darah dan santan.

Rempah-rempah bumbu andalan adalah jeruk purut, daun salam, ketumbar, bawang merah, bawang putih, cabai, merica, serai, jahe, lengkuas, kunyit dan andaliman. Saksang menjadi makanan wajib dalam adat pernikahan Batak. Selain itu, masih ada babi panggang dan tanggo-tanggo. ***
Bagikan:

26 Agustus 2016

Ketika Anak Petani Berdoa


Puisi-puisi Panda MT Siallagan


Ketika Anak Petani Berdoa

Ketika anak petani itu berdoa, ia tahu lidah dan perutnya telah lama jadi tua, setua daging ikan yang senantiasa menyemai surga di celah dan cabang duri-duri: sisa nikmat yang memerangkap cecap jadi dusta dan lupa.

Itulah sunyi batu-batu dicumbu arus, atau sepi sungai dibungkam telapak kaki anak petani itu, saat lengannya melemparkan mata kail. Sangat tabah ia memain-mainkan senyum tuhan di ujung benang dan joran, sedalam angin memasuki rumpun bambu, membalut patahan batang dan akar.

Angin berkesiur dingin, tapi anak petani tanpa celana itu disesah gerah, sebab ia harus pulang memenuhi janji pada kuali dan bumbu-bumbu yang menunggu, sebab ia tahu lidah dan perutnya telah lama jadi tua, bahkan lebih tua dari jenggot bapak dan kulit keriput emak, yang tak jua pandai menyiasati belacan dan cabe giling, sementara cinta habis disedot ladang dan batang-batang ubi.

Anak petani itu kesepian tapi terus berdoa dan bernyanyi tentang tungku, mungkin ia dengar ikan-ikan meminta api. Dan ya, ketika akhirnya joran bergetar berkali-kali bagai bentur petir dari dasar sungai, ia tahu tahu Tuhan telah menelan mata kailnya, maka ia akhiri doa dengan tulus. “Amin,” ujarnya, berterimakasih pada sungai.

Kisaran, Juni 2009 

Kembara

Duri ikan mas di piring kaleng, tumpukan belulang anjing di meja kayu, menjerit tentang daging yang hilang. Maka kita tahu kedai itu sudah lenyap dihisap malam. Pesta hanya ampas bual, sisa kecut sendawa para pemabuk. Bau mencekik udara, mengirim dingin dan murka ke lubang nafas kita. Mimpi betapa pahit, tidur senantiasa kecut.

Tapi terdengar dengkur pemabuk itu menggetar, merampas siul katak dan lagu jangkrik di parit lubuk. Maka kita sampailah di lorong mimpi penyair melolong kasur lapuk. Entah berguru dosa pada siapa, ia menggulung ulos dan bernyanyi menyeret-nyeret bulan, saatnya menenun sajak, saatnya menjahit sajak, sebab lama kematian minta ditunggang.

Lalu sunyi saling menggonggong dengan anjing, mengirim kutuk gondang dari jurang-jurang jauh. Petani tua merinding dan menepi di mulut kedai, mengelak ludah dan tulah bibir datu-datu. Duri dan tulang belulang di meja kayu memerangkap mata dan jantung lelaki itu ke dalam tuak. Ia menyeret liur menjalari sepi kampung, merengkuh sedih paling rampung.

Kemana para pemabuk itu, tuan? Ia merangkak, mencari surga di sepanjang dengkur mulutnya, menerangi lumpur di liang busuk parit desa. Ia menenun sajak di lorong tidur dan menjadì tahu: tak hanya daging yang hilang, lengang telah lama jua membunuh jantung. 

Pematangsiantar, 2010

Silobosar
: St S Siallagan

Kisah si anak mematahkan rahang kota-kota, lepas jadi kawanan burung. Seperti mimpi kanak dulu, riak danau pantai Tigaras terbang menjelma bintang-bintang, mengukur tahun-tahun sakit parumu.

Tapi tak mati kita dikubur awan, tak bersayap aku menjenguk lembah dan kelam ladang. Seperti dulu dibalut lumpur, aku pulang tak lagi menumpang truk dan goni pupuk, botol-botol pestisida, kardus-kardus mi instan, plastik gula dan tepung.

Dan suatu ketika, di koran bekas pembungkus ikan asin entah dari laut mana, namaku menghardik mata dan jantungmu. Bapa, ikan mujahir itu kurindu terkisah, tapi alangkah jauh.

Maka kau pahami betapa ajaib usia terbang. Kaulah yang mahir menunggang sayap itu melintasi derita, sekekal Simanindo yang landai, sesunyi batukmu menggali lembah sejarah di Simalungun.

Kelak, kudekap kenangan di makammu: nasi jagung atau ubi rebus, hasrat yang tak terhapus pada derita. Sejauh luka menggali doa, hentak batukmu menghitung duri dan batu jalanan dari tepi pancuran hingga lorong kota-kota. Dahakmu, kuibadahi seperti ombak memukul perahu, seperti peluh ibu menggambar Tuhan di gubuk lapuk itu.

Dan aroma sambal belacan masih menari di sini. Di dada ini. Seperti keringat ibu, lidah dan perut masih mahir menguras liur dan air mata, melayarkan jiwa. Lalu di mana-mana aku seperti menunggang badai. Kukenal laut di puncak lukamu.

Tapi laut mana? Sebab di sampan tak mengayuh si pendahulu pulang, mengisahkan taman dan api terjanjikan. Takdir ke sana lebih jauh ketimbang kenangan. Aku tak akan tersesat, meski sangat sepi rahim ibu memuntahkan takdir di lembah diammu.

Padamu, aku selalu perantau.

Pematangsiantar, 2009
Bagikan:

Lalu, Baju Setengah Jadi Itu Mereka Sebut Yukensi


Sehelai tikar anyaman pandan digelar di bawah pohon rambutan. Sekelompok perempuan merumpi atau markombur di atasnya dengan beragam polah: ada yang tidur-tiduran, duduk berselonjor kaki, atau telentang menghadap langit. Sejuk dan teduh. Angin desa yang berhembus dari bebukitan, terasa lembut melengkapkan segalanya.

Ilustrasi.
Itulah salah satu model gosip kaum perempuan desa yang saya kenang di masa kanak yang murni. Dan biasanya, itu terjadi pada hari Minggu atau hari libur lainnya, sebab pada hari biasa mereka sibuk menguras peluh, mengurus ladang. Hal-hal yang meluncur sebagai topik diskusi biasanya  berpusar pada harga sembako, biaya produksi, harga jual komoditi, atau sekadar berbincang tentang anak-anak yang merantau dan menuntut ilmu di kota.

Kini pemandangan semacam itu sudah sulit ditemukan: televisi sudah masuk desa, kaum ibu mulai paham infotainment bahkan mulai candu pada sinetron. Perlahan-lahan, mereka mulai jarang berkumpul. Dan pohon-pohon di pekarangan rumah mulai terlupa. Sejak itu, satu sama lain mulai merasa terasing dan semakin mudah saling curiga.

Gaya hidup kota, denyut modernitas atau laku postmodern, mulai merangsek sebagaimana dihasratkan kapitalisme. Dan suami-suami yang tadinya lekat pada sahaja warung kopi, mulai tergiur merambah hutan, menjual batang batang kayu, atau manghabisi liukan rotan di hutan-hutan yang hijau dan basah. Bertahun-tahun kemudian, kita terkejut merasakan cuaca dan iklim yang tadinya sejuk, kini mendera kita dengan hawa panas.

Produsen kulkas merambah dan terus memperluas pasar, juga kipas angin. Mesin pendingin udara atau AC, ikut ambil bagian bersamaan dengan datangnya kabel dan tiang listrik. Kaum ibu desa, mau tidak mau, harus belajar lagi mengenakan pakaian ‘setengah jadi’ akibat cuaca panas. ‘Pakaian setengah jadi’ itu mereka sebut yukensi. Hmmm....

Begitulah pembangunan, industrialisasi dan modernisasi menunjukkan wajahnya. Dan kini, kaum intelektual kota ikut pula cari makan atau berbisnis dengan rekayasa isu global warming. Tentu, perempuan ikut jadi isu mahal, bias jender terus digugat, feminisme terus diproduksi sebagai wacana. Maka jangan heran, lipstik masuk desa kini berperan besar melenyapkan tradisi makan sirih di kalangan perempuan desa. Betapa kacaunya!

Imajinasi saya begitu saja bergerak mencomot pohon dan perempuan. Kita telah begitu banyak belajar dari kedua hal ini. Seseorang yang kehilangan jati diri, baik dari tujuan, norma dan adat istiadat, kerap diistilahkan sebagai kehilangan akar. Seseorang yang jatuh atau sengaja dijatuhkan dengan pelbagai trik fitnah, kerap membentengi diri dengan pepatah, “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus." Lalu, sebuah petuah akan selalu lekat di ingatan, “jika kau ingin ditinggikan, lentur dan lembutlah seperti pucuk pohon, jangan serupa batang yang keras dan kaku.”

Kita tahu, setiap ibu yang pernah menganut petuah itu, akan menanamkan juga nilai-nilai itu pada anak-anaknya, pada generasi baru yang diharap bisa menegakkan marwah keluarga. Seberapa panjangkah pusaran hidup ini? Pada akhirnya, tentang kematian atau kebenaran, kita diingatkan bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Sampai di sini, kita patut merenung, jangan-jangan seluruh persoalan hidup sesungguhnya sudah selesai ketika kita berhasil mencintai pohon dan perempuan. Bah!

Demikian memang, pohon menawarkan kepada kita kelembutan yang tiada habis, tapi ia juga menyimpan bahaya. Negara hampir tak pernah tenang karena pohon. Kita tentu ingat bagaimana ribuan petani terusir dan terampas kehidupannya karena pohon, dituding melakukan illegal loging atau merambah hutan. Mereka tercerai berai, lalu meneruskan hidup yang selanjutnya tak pernah kita saksikan lagi. Setelah mereka ditangkap, dipenjara, lalu bebas lagi, kita tak pernah bertanya, ke mana mereka pergi setelah itu? Kita hanya tahu, meski mungkin tak pernah menyadari, bagi mereka hidup terus berjalan dan bagaimana mereka menyiasati derita, negara tak pernah peduli.

Para perempuan yang suaminya ditangkap itu, betapa ngilu: mereka harus tampil sebagai pahlawan membela darah dan marwah keluarga. Dan, keteguhan dan kehancuran berada di tangan para perempuan ini. Dan politik jeli melihat peluang dari sisi ini. Iblis juga sangat cermat mempelajari rumus ini. Maka pelacuran kian menggila dengan bermacam kedok, penjahat-penjahat berdasi kerap memperalat perempuan memuluskan ambisi atau menghancurkan lawan. Dan kita hampir terkecoh, perempuan-perempuan yang diidentifikasi sebagai pahlawan seringkali hanya bentuk paling lembut dari kejahatan kapitalisme.

Dan ajaibnya, perempuan cantik atau artis yang sekilas bicara tentang lingkungan, selalu lebih terkenal ketimbang kaum agamawan dan guru-guru yang menyerahkan hidupnya menjaga desa dan lingkungan terpencil. Begitulah, kota-kota kian gersang. Dan kenyataan itu merongrong keteguhan dan kepekaan kita sebagai manusia, sebab kita juga mulai ikut menghabisi pohon-pohon demi hedonisme yang ditularkan kapitalisme. Tapi kita tahu, Negara tak pernah menjadi gemilang hanya karena kesedihan dan kesepian sekelompok jiwa yang terbatas. (Panda MT Siallagan)***

Bagikan:

Apa Kabar Kritik(us) Sastra?


Jika kita mengamati perkembangan kesusasteraan Indonesia mutakhir, kita barangkali akan segera bersepakat bahwa inilah era dimana kesusasteraan mengalami kebangkitan yang luar biasa baik genre puisi, cerpen dan novel. Berkunjunglah ke toko-toko buku, di situ akan segera tampak begitu membeludaknya buku-buku sastra dari ketiga jenis itu, baik yang ditulis oleh pengarang yang sudah solid berada di 'menara gading kesusasteraan' maupun dari pengarang-pengarang muda yang tergolong masih segar dalam blantika sastra kita.

Kliping surat kabar.
Di samping itu, menjamurnya penerbitan koran, majalah, tabbloid dan jurnal-jurnal, dengan sendirinya telah pula mempertegas bahwa kesusasteraan kita benar-benar ramai, pikuk, dan berpawai di lebuh raya keberaksaraan. Hal itu terjadi karena hampir seluruh koran memiliki ruang khusus memuat karya-karya sastra seperti puisi dan cerpen, dan biasanya tampil pada edisi Minggu. Dan, tak sedikit majalah ataupun tabloid yang juga menyediakan ruang untuk cerpen sekalipun mereka bukan majalah atau tabloid sastra. Kesemarakan kreatif itu juga ditambah dengan munculnya banyak karya-karya asing yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Maka, semakin sempurnalah hiruk-pikuk sastra kita.

Memang, sempat muncul perdebatan mengenai klasifikasi sastra ditinjau dari medium yang menerbitkannya. Ada upaya memberi penggolongan Sastra Koran untuk karya-karya yang terbit di media koran, dan Sastra Buku untuk karya-karya yang diterbitkan dalam bentuk buku. Penggolongan semacam itu memang terasa tidak terlalu bermanfaat karena sering kali karya-karya yang diterbitkan dalam bentuk buku itu kebanyakan sudah terlebih dahulu terbit di koran kecuali sebagian novel yang memang langsung terbit dalam bentuk buku. Dikatakan sebagian karena ada juga novel yang terlebih dahulu terbit sebagai cerita bersambung berbagai koran. Maka, perdebatan tentang sastra koran dan sastra buku agaknya tak perlu lagilah diperpanjang, karena toh substansi isi dan kualitas sastrawi karya-karya itu boleh dikatakan cenderung setara. Itu hanya persoalan bentuk. Seperti tanah liat, dibentuk dalam bentuk apapun, ia tetaplah tanah liat.

Semaraknya eksperimentasi kerja kreatif itu tentu saja menghasilkan khasanah yang sangat kaya baik itu tema, gaya tutur, teknik penulisan maupun muatan kulturalnya. Eksplorasi tradisi lokal/etnik, misalnya, telah membawa kekayaan bagi tradisi kepenulisan kita dan hal itu seringkali tampil sebagai tindakan pemberontakan, keluar dari tradisi kepenulisan konvensional. Dalam kawasan genre puisi, misalnya, ada Saut Situmorang, Oka Rusmini, Marhalim Zaini (untuk menyebut beberapa nama) yang telah sukses memasukkabn warna lokal dalam puisi-puisi mereka.

Demikian juga halnya akan cerpen, dengan munculnya Raudal Tanjung Banua, Satmoko Budi Santoso, Puthut EA, Triyanto Triwikromo, kita akan segera sadar dan tersentak bahwa konvensi tradisi kepenulisan kita sudah berubah. Saat ini yang muncul adalah kreativitas serba liar, eksploratif, inovatif dan tak mudah menduga hal apalagikah yang muncul di masa-masa mendatang.

Sementara dalam genre novel, munculnya Ayu Utami dan Dewi 'Dee" Lestari telah pula menyebabkan munculnya novelis-novelis baru seperti Fira Basuki, Nukila Amal, dan yang teranyar adalah Dewi Sartika. Meskipun tampak adanya saling mempengaruhi dalam hal motivasi menulis, mungkin supaya terkenal dan diakui cerdas, tapi karya-karya mereka tetaplah pekerjaan yang pantas diperhitungkan dan telah mendapat pengakuan dengan segala kelemahan dan kekuatannya.

Sayang sekali, Riau cenderung sepi dari munculnya pengarang-pengarang muda yang pantas diperhitungkan. Setelah BM Syamsudin, Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Sutardi Calzoum Bachri, Hasan Junus yang kemudian diikuti Edruslan Pee Amanriza, Fachrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, praktis tidak ada lagi sastrawan dari Riau yang pantas diperhitungkan secara nasional kecuali Marhalim Zaini. Ada memang sosok-sosok harapan dan potensial seperti Hary B Ko'riun, Murparsaulian, Gde Agung Lontar, Olly Rinson, tapi mereka belum terlalu memukau secara nasional. Di kalangan yang lebih muda, ada M. Badri, Sobirin Zaini, Binoto H Balian dan mereka-mereka ini harus lebih giat lagi menelurkan karya-karya yang baik jika ingin eksis.

Namun demikian, fenomena membeludaknya karya-karya sastra ini tidak diikuti oleh berkembangnya dunia kritik secara bersamaan. Padahal, kegairahan bersastra ini sudah terbukti mampu memunculkan publik pembaca, meramaikan dunia penerbitan dan perbukuan, menstinulus munculnya wacana dan diskusi-diskusi sastra, memunculkan komunitas-komunitas sastra yang lahir dari omong-omong dan kongkouw-kongkouw antara para seniman (sayang dalam hal ini Riau juga ketinggalan), tetapi mengapa kritik sastra justru sepi?

Kalaupun tidak ingin dikatakan sepi, setidaknya kita masih sangat sulit menemukan adanya kritik yang memadai untuk menganalisis, menginterpretasi dan mengevaluasi karya-karya yang subur itu. Apa yang selama ini kita saksikan tidak lebih dari esei atau apresiasi-apresiasi yang seringkali dimaksudkan untuk mengangkat-angkat nama pengarang tertentu, dangkal dan cenderung ditulis untuk gagah-gagahan retorika sehingga apa yang menjadi aspek kritik, orientasi karya yang dikritik, metode kritik, sering tidak benar-benar mengemuka.

Untuk mengenal permasalahan kritik sastra lebih lanjut, perlu kiranya dikemukakan guna kritik sastra. Setidaknya, guna kritik sastra dapat digolong menjadi tiga, yaitu: pertama, untuk perkembangan ilmu sastra itu sendiri. Kedua, untuk perkembangan kesusasteraan, dan ketiga dalah untuk penerangan kepada masyarakat umum yang menginginkan penjelasan tentang karya-karya sastra. Kegunaan pertama, kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Kegunaan kedua, kritik sastra membantu perkembangan kesusasteraan suatu bangsa dengan menjelaskan karya sastra mengenai baik buruknya karya sastra dan menunjukkan daerah-daerah jangkauan persoalan karya sastra. Dengan demikian, para sastrawan dapat mengambil manfaat dari kritik sastra, maka mereka dapat memperkembangkan penulisan karya-karya sastra mereka yang kemudian mengakibatkan perkembangan dunia kesusasteraan. Kegunaan ketiga, kritik sastra menguraikan karya sastra. Dengan demikian, masyarakat umum dapat mengambil kritik sastra ini bagi pemahaman terhadap karya sastra (Pradopo, 1988: 17-23).

Tetapi, di tengah situasi dimana sastra telah berkembang, dan masyarakat sudah cenderung tertarik dengan sastra yang dibuktikan dengan munculnya publik pembaca yang luas, masih diperlukan lagikah kritik sastra? Barangkali pendapat seperti ini boleh juga dianggap sebagai sesuatu yang benar, sebab permasalahan apalagikah yang harus dikritik jika sastra itu sendiri sudah berkembang, sudah berhasil memberikan keuntungan ekonomis kepada para pengarang dan perusahaan-perusahaan penerbitan?

Namun, jika kita bersepakat dengan opini semacam itu, apakah hal itu tidak justru membuat para akademisi sastra malas menulis kritik dan enak-enak saja duduk menonton kesusasteraan berjalan sendiri tanpa kehadiran mereka? Bagaimanapun, kritik sastra tetap diperlukan. Dan pihak yang paling bertanggungjawab terhadap keberlangsungan dan mutu kritik sastra adalah mahasiwa dan para akademisi sastra, juga lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bahasa dan sastra seperti fakultas sastra dan balai bahasa. Apakah harus para sastrawan juga yang turun ke jalan untuk menyelamatkan kritik sastra dari kematian?

Para sastrawan telah berbuat, sekarang izinkan kami menyapa, "Apa kabar kritik(us) sastra?" (Panda MT Siallagan)*** 

* Artikel ini terbit di Riau Pos, 11 Juli 2004
 
Bagikan:

25 Agustus 2016

Kisah Sanggar, Tinittip Baen Huru-huruan


Oleh Panda MT Siallagan

Ada satu jenis rumputan liar yang sangat terkenal dan akrab dalam kehidupan masyarakat Batak. Mereka menamainya sanggar. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di tepi jalanan desa, dan hingga saat ini masih mudah ditemukan.

Sanggar atau riang-riang.
Sesungguhnya, tumbuhan ini sangat tidak bersahabat. Daun atau pelepahnya tajam dan bisa menyayat tangan atau tubuh jika tergesek. Terlebih bunga dan malai (bulir) biji-bijinya, terasa sangat gatal jika terkena ke bagian tubuh. Begitupun, tumbuhan ini sangat akrab deengan budaya Batak.

Sebuah lagu terkenal berjudul Tinitip Sanggar, misalnya, sangat populer di kalangan masyarakat Batak, terutama generasi muda dalam konteks pergaulan. Demikian lirik lagu itu:

Natinitip sanggar ito da
Lao bahen huru-huruan da
Jolo sinukkun marga
Asa binoto ito da partuturan da


Lirik lagu itu kental dengan nuansa pantun atau umpasa. Dua larik pertama merupakan sampiran, dan dua larik terakhir merupakan isi. Jika diterjemahkan secara bebas, kira-kiranya maknanya seperti ini:

Potong dulu sanggar
Membuat sangkar burung
Tanya dulu marga
Agar tahu pertalian


Ini menjadi pesan bagi generasi muda bahwa pergaulan harus terlebih dahulu mengedepankan perkenalan, saling mengetahui marga masing-masing, dengan demikian tahu memposisikan diri dalam langkah selanjutnya. Sama seperti membuat sangkar burung, harus terlebih dahulu sanggar dipotong-potong sebagai bahan.

Sesungguhnya, sangat banyak lagu Batak menggunakan frasa tinitip sanggar ini. Maestro opera Batak Tilhang Gultom juga pernah menciptakan sebuah lagu yang menggunakan frasa tinitip sanggar.

Saya kadang sangat gembira setiap kali melihat rumpun-rumpun sanggar ini masih banyak berada di tepi-tepi jalan. Ingatan masa kanak-kanak bangkit. Bagi kami anak-anak desa, sanggar adalah pertaruhan kreativitas. Masih nyata di ingatan, saya bersama teman-teman sebaya masih mahir membuat huru-huruan (sangkar burung) dari batang-batang sanggar ini.

Batangnya memang lunak, berbuluh dan berbuku (punya ruas seperti tebu), bagian dalamnya menyerupai gabus. Batang rumput itulah dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan, dilubangi sesuai kebutuhan, kemudian dirangkai atau dibuhul dengan lidi.

Bentuk sangkar yang tercipta bisa bermacam-macam. Bisa berbentuk alakadarnya, bisa menyerupai rumah adat, dan biasanya dibuat pintu yang bisa naik turun. Huru-huruan memang bukan sekedar tempat burung, tapi sekaligus berfungsi sebagai alat jerat.

Dengan memasukkan burung pipit ke dalam sebagai umpan pemanggil, pintu sangkar didesain terbuka. Begitu burung-burung pipit lain datang dan masuk, maka burung tersebut akan menyentuh semacam 'kunci', dan pintu tertutup. Pipit yang datang akan terjebak. Alangkah bangga dan riang jika kita berhasil mendapatkan banyak burung. Saya selalu terharu mengenang kisah itu.

Adakalanya saya rindu menyaksikan kreativitas anak-anak serupa itu, yang sungguh bersahabat dengan alam. Tapi zaman terus berubah, hal-hal indah di masa lalu semakin banyak yang hilang.

Selain kreativitas itu, sanggar juga menyisakan kenakalan, sebagaimana lazimnya kegemaran anak bermain dan terkadang usil. Bulir-bulir sanggar yang gatal itu, kadang digunakan sebagai alat untuk saling mengusili. Misalnya, seorang anak sengaja memetik dan mengumpulkan biji-biji sanggar, lalu digenggam diam-diam. Ketika seorang teman lalai, biji-biji itu dimasukkan melalui kerah baju di leher, masuklah biji-biji itu ke badan. Dan si teman yang jadi korban itu merasa gatal pada sekujur badan. Dan si anak usil akan tertawa-tawa.

Tapi demikianlah, meski sanggar sangat populer di kalangan masyarakat Batak, tak banyak yang tahu, apa sesungguhnya bahasa Indonesia tumbuhan ini. Setelah saya telusuri, ternyata namanya rumput pimping atau riang-riang. Pimping atau rumput riang-riang, nama latinnya themeda gigantea, sejenis rumput mirip gelagah, anggota dari suku padi-padian. Tumbuhan ini menyebar luas bukan hanya di Indonesia, tapi juga terdapat di wilayah Indocina hingga Pasifik.

Belakangan, rumput ini juga banyak digunakan sebagai obat alami penurun demam. Untuk obat demam ini, konon yang digunakan adalah tunasnya atau sanggar yang baru tumbuh. Setelah dibersihkan, tunas itu direbus, lalu airnya diminum pagi dan sore hingga penyakit demam itu sembuh.

Sumber lain menyebutkan, batang-batang sanggar itu sangat baik digunakan sebagai bahan pembuat kertas. Hanya saja, karena jumlahnya terbatas, kapitalis kemudian memggunduli hutan untuk memproduksi kertas, lalu diganti dengan eukaliptus. Baiklah, lupakan kapitalisme itu, mari bernyanyi:

Natinitip sanggar da
Lao bahen huru huruan da
Jolo sinukkun marga
Asa binoto ito da partuturan da 


***
Bagikan:

Pedoman Pemberitaan Media Online


Barangkali, banyak pengelola media online yang tidak pernah membaca peraturan Dewan Pers tentang pedoman pemberitaan media online atau media siber. Bahkan, kebanyakan wartawan media online, jangankan membaca peraturan dimaksud, mengetahuinya saja tidak. Dan tentu saja: sangat banyak media online yang belum mencantumkan pedoman tersebut di medianya.

Ilustrasi
Ini mestinya menjadi keresahan bersama. Bukan hanya pengelola atau wartawan media online, wartawan bahkan pimpinan di media cetak pun masih banyak yang tak pernah membaca Kode Etik Jurnalistik dan Undang-undang Pers. Hal ini terutama terjadi pada banyak suratkabar-surat kabar lokal.

Sebagai wujud tanggungjawab terhadap pembangunan kualitas pers kita, berikut kami sajikan peraturan pers tentang pedoman pemberitaan media siber. Hemat kami, semakin tinggi intensitas penyebaran pedoman ini, akan semakin banyak pihak menjalankan amanah yang terkandung di dalamnya, dan semakin besar pula harapan kita atas terwujudnya kehidupan pers yang sehat dan bermartabat.

PERATURAN DEWAN PERS
Nomor 1/Peraturan-DP/III/2012 Tentang
PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER

Kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers.

Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk itu Dewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusun Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut:

1. Ruang Lingkup

a. Media Siber adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers.

b. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content) adalah segala isi yang dibuat dan atau dipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain.

2. Verifikasi dan Keberimbangan Berita


a. Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.
b. Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.
c. Ketentuan dalam butir (a) di atas dikecualikan, dengan syarat:

1) Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak;
2) Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten;
3) Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau tidak dapat diwawancarai;
4) Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya. Penjelasan dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan menggunakan huruf miring.

d. Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib meneruskan upaya verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran (update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.

3. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)

a. Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan Pengguna yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.
b. Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan dan melakukan proses log-in terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk Isi Buatan Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.
c. Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:

1) Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;
2) Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;
3) Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
d. Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi Buatan Pengguna yang bertentangan dengan butir (c).
e. Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir (c). Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yang dengan mudah dapat diakses pengguna.
f. Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkin secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima.
g. Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b), (c), dan (f) tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggar ketentuan pada butir (c).
h. Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan bila tidak mengambil tindakan koreksi setelah batas waktu sebagaimana tersebut pada butir (f).

4. Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab
a. Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.
b. Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.
c. Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.
d. Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:

1) Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media siber yang berada di bawah otoritas teknisnya;
2) Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh media siber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu;
3) Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan koreksi atas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang tidak dikoreksinya itu.
e. Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).

5. Pencabutan Berita

a. Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers.
b. Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut.
c. Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan kepada publik.

6. Iklan


a. Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.
b. Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib mencantumkan keterangan 'advertorial', 'iklan', 'ads', 'sponsored', atau kata lain yang menjelaskan bahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.

7. Hak Cipta

Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Pencantuman Pedoman

Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianya secara terang dan jelas.

9. Sengketa

Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.

(Pedoman ini ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di Jakarta, 3 Februari 2012).
(Sumber: dewanpers.or.id)

 
Bagikan:

Selamat Jalan Eddy Silitonga, Sang Legendaris!


Musisi senior tanah air kelahiran Pematangsiantar, Eddy Silitonga, meninggal dunia Kamis 25 Agustus 2016 dini hari di RS Fatmawaty, Jakarta Selatan. Kabar duka awalnya datang dari salah seorang penyanyi dan aktor senior Sandro Tobing, yang disampaikan kepada kalangan awak media.

Eddy Silitonga. Foto/Int
"Telah berpulang ke Rumah Bapak di Surga sang legendaris penyanyi pop Indonesia, Eddy Silitonga pada jam 00.05 WIB di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan," demikian Sandro Tobing.

Kabar duka tersebut dibenarkan oleh salah satu anak Eddy Silitonga bernama Marco. "Iya benar, Bapak meninggal dunia di RS Fatmawati Jakarta Selatan," kata Marco saat dihubungi awak media.

Marco menjelaskan, saat sudah dalam kondisi koma akibat stroke, mereka sebenarnya sudah pasrah. Meski kemudian asa untuk kesembuhan sang bapak muncul saat sudah mulai siuman dari koma. Namun rupanya Eddy Silitonga tak lagi bisa bertahan. Penyanyi yang populer di era 1970-an itu akhirnya berpulang untuk selamanya.

Marco Silitonga mengungkapkan, ayah itu menghembuskan napasnya yang terakhir saat tim dokter melakukan tindakan medis dengan mengeluarkan racun.

Marco mengungkapkan, sebelum dinyatakan koma akibat stroke, Eddy Silitonga tidak ingin ditinggalkan. Marco kerap diminta untuk menemani sang ayah lantaran tidak mau sendirian. "Ya, bapak selalu minta temenin saya. Kita cuma cerita-cerita, ngobrol-ngobrol dulu bapak bagaimana," ujar Marco.

Eddy Silitonga lahir di Pematangsiantar, 17 November 1950. Dia adalah seorang penyanyi. Dikenal dengan suaranya yang tinggi dan melengking, Eddy merupakan anak ke empat dari 11 anak Gustaf Silitonga dan Theresia Siahaan. Di puncak ketenarannya ia menyanyikan lagu Biarlah Sendiri ciptaan pengarang dan penyanyi senior Rinto Harahap pada tahun 1976.

Pada tahun 1967 Eddy Silitonga meraih Juara 1 Penyanyi Seriosa Sumatera Utara. Selain itu ia juga meraih Juara Pop Singer di Medan. Ia meraih juara ke-4 Festival Lagu Popular yang digelar di Taman Ismail Marzuki Jakarta, dengan lagu Biarlah sendiri. Eddy Silitonga meraih juara pertama pria Lomba Lagu Minang pada tahun 1983.

Tiga tahun berkuliah di Institut Teknologi Mapua di Filipina dan membentuk group sendiri "Eddy's Group" pada puncak kejayaannya 1976-1979. Selamat jalan, Sang Legendaris! (berbagaisumber/int)
Bagikan: