Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

06 November 2019

Lirik Lagu Jolma Biasa dan Artinya - Arghado Trio


Jolma Biasa

Voc: Arghado Trio
Cipt: Erwin Sihite

Arghado Trio.
Husadari do dirikku na humurang
Sian na hea na gabe mantanmi
Di rupa nang di arta jolma biasa do au
Holonghi do na hupangasahon lao pasonanghon ho

(Aku sadar diriku penuh kekurangan
Dibanding semua yang pernah jadi mantanmu
Dari sisi tampang dan harta, aku orang biasa
Hanya cinta yang kuandalkan untuk membahagiakanmu)

Na hea pe ho kecewa di masa lalu
Ubatanhu ma i rap holonghu
Serius au ito cinta hian do au tu ho
Holonghi tung marapi purun dang tarobatan be

(Jika kau pernah kecewa di masa lalu
Akan kuobati dengan cintaku
Serius, aku sungguh mencintaimu
Cintaku sungguh membara, tak terobati lagi)

Dang di au be marmeam-meam
Dang di au be marsandiwara
Dang di au be di paralangan
Molo rade do roham asa tapudun padan ito

(Aku tak mau lagi main-main
Aku tak mau lagi bersandiwara
Aku tak mau lagi ragu-ragu
Kalau hatimu siap mari kita ikat janji)

Tapukka ma lembaran baru talupahon masa lalu
Unang be sai ingoti sude
Di akka na hea mambahen kecewa di rohatta
Tamaafhon ma sian ias ni rohatta
Asa tulus parpadananta on

(Kita buka lembaran baru kita lupakan masa lalu
Jangan lagi semua diingat
Segala yang pernah membuat hati kecewa
Kita maafkan dengan tulus
Agar janji kita ikhlas)

***

Bagikan:

18 Mei 2019

Lirik Lagu Tangiang ni Dainang dan Artinya


Tangiang Ni Dainang
(Doa Ibu)

Victor Hutabarat

Vokal: Victor Hutabarat
Ciptaan: Tagor Tampubolon

Tangiang ni dainang i
Na parorot tondinghi
Manang didia pe au
Manang didia pe au
Tontong diramoti

(Doa ibu
Selalu merawat jiwaku
Dimana pun aku berada
Dimana pun aku berada
Senantiasa disertai)

Nang sipata salah au
Tartuttuk au di langkahi
Diboan ho di tagiangmu
Diboan ho di tagiangmu
Inanghu na burju

(Walau terkadang aku melakukan kesalahan
Terbentur dalam perjalanan
Engkau bawa dalam doamu
Engkau bawa dalam doamu
Wahai ibuku yang baik)

Reff:

Hudai na tonggi di parngoluan on
Upa ni lojami humonghop gellengmon

Mauliate ma inang
Di sude pambahenanmi
Penggeng saur matua
Penggeng saur matua
Paihut-ihut hami

(Kunikmati hal-hal indah dalam hidup ini
Buah lelahmu memperjuangkan anakmu ini

Terimakasih ibu
Atas segala pengorbananmu
Semoga sehat hingga uzur
Semoga sehat hingga uzur
Mengiringi kami)

***
Bagikan:

15 April 2019

Lirik Lagu Ikkon Songon Dia dan Artinya - Maria Fitri R. Togatorop


Ingkon Songon Dia
(Harus Bagaimana)

Maria Fitri R Togatorop
Vocal: Maria Fitri R. Togatorop
Ciptaan: Yamin Panjaitan

Ingkon songon dia do au
Patuduhon holonghi tu ho
Ingkon songon dia do au
Asa sonang roham
Boasa hasian
Tinggalhononmu nimmu au ito
Marsak do au, marsak do au alani ho

(Harus bagaimana aku
Menunjukkan cintaku padamu
Harus bagaimana aku
Agar kau bahagia
Kenapa sayang
Katamu akan kau tinggalkan aku
Aku resah, aku resah karenamu)

Tung na so tarsuhat ito
Bagasni Tao Toba i
Nang pe langeanmu ito
Bagas tutu doi
Tarsongoni do ito
Holongni rohanghi tu ho
Bagas tutu, bagas tutu holonghi tu ho

(Tidak bisa terukur
Dalamnya Danau Toba
Meski kau renangi
Itu terlalu dalam
Seperti itulah sayang
Cintaku padamu
Sungguh dalam, sungguh dalam cintaku padamu)

Reff:

Pulut ni rohami ito
Lao manadinghon au
Dang rongkap hita nimmu do
Lao pasidinghon au
Pangidoanhu ito
Unang pasombu au hasian
Dang sanggup au ito
Molo dao sian lambungmi
Dang sanggup au da hasian
Molo tadinghononmu au

(Sungguh tega hatimu
Pergi meninggalkanku
Katamu kita tidak berjodoh
untuk menyingkirkanku
Aku minta padamu
Jangan kau biarkan aku
Aku tidak sanggup
jauh dari sisimu
Aku tak sanggup sayang
Jika kau meninggalkanku)

Sarihon au ito
Di holong na hulehon i
Dang sanggup au da hasian
Molo marsirang sian ho

(Pedulilah kau sayang
pada cinta yang kuberikan itu
Aku tak sanggup sayang
Jika berpisah denganmu)

***
Bagikan:

20 Februari 2019

26 Agustus 2018

Sempat Pulang ke Kisaran, Hamsad Rangkuti Drop di Medan


Hamsad Rangkuti saat trerbaring di RS Sembiring jalan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Sastrawan kenamaan itu Tidak lagi bisa beraktivitas.  Ia store berat, bahkan bicarapun tidak mampu lagi.

PANDA MT SIALLAGAN, DELI SERDANG

Nurwindasari mendekatkan diri ke wajah sang suami, Hamsad Rangkuti. Mencium keningnya. Mencoba membisikkan sesuatu. Tapi, tak ada respons.

Hamsad saat dirawat di RS Sembiring Deliserdang, Juni 2016.
Hamsad yang sebelumnya sempat mengorok, berusaha menggeliat, dan membuka mata kembali tertidur.

"Kemarin sempat diikat karena berusaha melepas jarum infus, sampai darah berceceran,’’ kata Nurwindasari sembari menata selimut yang menutupi badan cerpenis berusia 73 tahun itu.

Sejak 13 Juni 2016 sastrawan besar Indonesia tersebut dirawat di Rumah Sakit Sembiring, Deli Tua, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dia harus dilarikan ke rumah sakit setelah muntah dan pingsan, tak lama seusai menikmati teh manis dan sepotong roti.

Sejak itu, Hamsad yang sebelum kejadian tersebut kondisi kesehatannya memang telah merosot tak siuman lagi. Beberapa hari dirawat di ruang ICU (intensive care unit), lalu dipindahkan ke ruang rawat inap. Itu dilakukan setelah kondisi cerpenis dan novelis tersebut agak membaik meski belum sadar diri.

’’Kami ke sini karena bapak sudah lama bilang kangen kampung halaman,’’ kata Nurwindasari kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group) yang menjenguk Jumat (24/6/16).

Hamsad yang lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943, adalah penulis yang menelurkan banyak karya besar dan kerap dianugerahi penghargaan.

Kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot (2003), misalnya, terpilih sebagai pemenang kategori prosa Khatulistiwa Literary Award (kini Kusala Sastra Khatulistiwa) 2003. Pada 2008, dia juga mendapatkan SEA Write Award, penghargaan bergengsi untuk para penulis di kawasan Asia Tenggara dari Kerajaan Thailand.

Hamsad juga memenangi sayembara penulisan cerita anak terbaik dalam rangka 75 Tahun Balai Pustaka pada 2001 lewat karyanya, Umur Panjang untuk Tuan Joyokoroyo.

Secara keseluruhan, karya-karya sastrawan yang dikenal humoris itu kerap mengisahkan orang-orang kebanyakan dengan gaya realis yang khas.

Kekocakannya juga tampak dalam salah satu cerpennya yang paling terkenal yang juga termaktub di Bibir dalam Pispot: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?.

Tapi, jejak kebesaran Hamsad itu sama sekali tak terlihat di Ruang J 17 Lantai 13 RS Sembiring tersebut. Ruangan 2,5 x 4 meter itu terasa sangat sempit. Sebab, ruangan tersisa digunakan sebagai tempat menggelar tikar tempat tidur oleh Nurwindasari dan putra keduanya yang turut mendampingi, Girindra Rangkuti.

”Hamsad itu baik hati dan sangat suka menolong teman. Saya turut berdoa semoga dia cepat sembuh,” kata kolega Hamsad, Budi Darma, saat dihubungi Jawa Pos secara terpisah.

Hamsad dan istri yang sehari-hari berdomisili di Depok, Jawa Barat, itu tiba di Sumut tiga bulan lalu. Kota pertama yang dituju adalah Tanjungbalai. Kota pelabuhan itu merupakan kota tempat Hamsad menjalani masa-masa SMP.

Sebuah peristiwa mengharukan terjadi di sana. Saat diajak sang istri berjalan-jalan ke pantai di atas kursi roda, Hamsad menangis saat menatap perahu-perahu yang berlayar dan sandar di pelabuhan tersebut.

”Saya ingat main-main di situ sama Martin,” ujar pria bernama asli Hasyim Rangkuti itu kepada istrinya sembari menangis. Martin yang dia maksud adalah Martin Aleida, juga sastrawan kenamaan Indonesia yang masih produktif menulis cerpen sampai kini.

Selama berada di Tanjungbalai, mereka menumpang di rumah sanak saudara. Lalu, bergerak lagi ke Kisaran, Asahan. Tapi, di Kisaran, tak ada lagi pusat perbelanjaan berlantai dua tempat Hamsad memulai pengembaraan imajinasinya sebagai anak muda cikal pengarang.

Setelah hampir dua bulan berada di dua kota masa kecil itu, mereka kembali ke Medan.

”Sopir bus di sini baik-baik, masih mau bantu Bapak meski pakai kursi roda. Kalau di Jakarta, waduh...” kata Nurwindasari.

Di Medan, yang sangat ingin dikunjungi Hamsad adalah Taman Sri Deli. Dulu tempat tersebut menyerupai taman kota. Sering menjadi lokasi kongko seniman setempat.

Taman itu kini telah dipugar dan berubah dari bentuknya yang asli. Tapi masih tetap memiliki fungsi sebagai taman rekreasi, di mana pengunjung bisa bersantai dengan memandang air mancur.

Belum sempat rencana itu terwujud, Hamsad jatuh sakit. ”Saya sedih sekali, belum sempat membawa Bapak ke sana. Medan itu sebenarnya tempat beliau transit sebelum ke Jakarta, menjalani takdir sebagai penulis,” kata Nurwindasari.

Hamsad mendarat di Jakarta pada 1964 bersama rombongan delegasi pengarang Sumut yang mengikuti Konferensi Karyawan Pengarang Seluruh Indonesia. Penulis Sampah Bulan Desember itu termasuk penanda tangan Manifesto Kebudayaan yang intinya menentang upaya menjadikan politik sebagai panglima.

Menghabiskan masa kecil dan remaja di Kisaran dan Tanjungbalai, cerpen pertama Hamsad bertajuk Sebuah Nyanyian di Rambung Tua dimuat di sebuah koran di Medan. Diva Press, sebuah penerbit di Jogjakarta, juga menerbitkan lagi novelnya, Ketika Lampu Berwarna Merah, pada Mei lalu.

Hamsad dikenal akrab dengan berbagai kalangan, termasuk generasi yang jauh di bawahnya. Sastrawan muda Sunlie Thomas Alexander masih mengingat betapa kocaknya Hamsad saat diundang ke Bangka dalam rangka Temu Sastrawan Indonesia II pada 2009.

”Itu terakhir saya ketemu langsung dengan beliau. Kebetulan, saya ketua panitia waktu itu,” kata Sunlie, yang tengah berada di Taiwan, kepada Jawa Pos melalui Facebook Messenger.

Selama acara itu, kenang Sunlie, Hamsad bercengkerama riang dengan para pengarang muda. ”Bagi saya, dia seorang cerpenis Indonesia yang luar biasa. Cerpen-cerpen realis konvensional beliau sulit ditandingi,” katanya.

Kondisi kesehatan Hamsad mulai drop sekitar setahun setelah menerima SEA Write Award. Pemicunya, tutur Nur, lahan berukuran 5x12 meter yang dia klaim sebagai miliknya diambil alih secara sepihak oleh Pemerintah Kota Depok.

Di tanah yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Hamsad itu, Pemerintah Kota Depok lantas membangun tempat pembuangan sampah. Nur menuturkan, dirinya dan Hamsad sudah berusaha keras melakukan perlawanan. Tapi gagal.

”Kami malah dituduh melawan pemerintah. Melawan bagaimana? Kami hanya inginkan kebenaran. Bapak ini dipakai pemerintah ke mana-mana, tapi sekarang diperlakukan begitu,” katanya.

Sejak itulah Hamsad yang sangat terpukul mulai sakit-sakitan. Dia dan Nurwindasari tak betah lagi tinggal di rumah yang dibangun dengan jerih payah sebagai seorang pengarang. ”Bau menyengat, penuh belatung, tikus, kecoak, gimana hidup seperti itu?” katanya.

Sejak itu pula Hamsad dan istri memilih lebih sering bepergian dan tinggal bersama keluarga yang satu ke keluarga lain. Tapi, setiap pulang ke rumah, sampah-sampah itu kembali menghantui.

Sampai kemudian Hamsad berulang-ulang menyuarakan kerinduannya untuk pulang ke kampung halaman.

Niat itu memang akhirnya kesampaian. Sayang, Hamsad kembali jatuh sakit di tanah yang dirindukannya tersebut. Saat keinginan ke Taman Sri Deli belum tertuntaskan.

Sunlie pun berharap Hamsad lekas pulih. ”Semestinya seorang sastrawan besar seperti beliau mendapatkan perhatian pemerintah. Tapi, toh kita tahu seperti apa posisi sastra di Indonesia,” ujar Sunlie.

Nurwindasari mengatakan belum punya niat atau rencana untuk pindah maupun menetap di Medan. Semuanya bergantung sang suami. Bahkan, jadwal kepulangan mereka ke Jakarta pun awalnya juga bergantung Hamsad.

”Kalau dia bilang pulang ke Jakarta, kami pulang,” ujarnya sembari kembali memandang wajah sang suami tercinta di pembaringan. (tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos dan sejumlah media jejaringnya) ***

Bagikan:

02 November 2017

RIP! Raja Sulim Batak Poster Sihotang, Kini Telah Tiada


SolupL - Musisi Batak Poster Sihotang, yang sangat dikenal dengan albumnya seruling maut, telah meninggal dunia pada Kamis (2/11/17). Kepergian si Raja Seruling Batak ini diinformasikan ratusan netizen di facebook. Dari informasi ini, diketahui almarhum sempat dirawat di RS Tugu Tanjungpriok.
Poster Sihotang.
Akun Facebook Willy Wahyu Sihotang menuliskan:

Berita Dukacita.... 
Telah berpulang ke rumah Bapa di surga,, Abang kami,, saudara kami terkasih , salah satu komposer besar lagu2 Batak.,, Si Raja Seruling.. Abang POSTER SIHOTANG ,,,,
Kepergianmu begitu menyesakkan hati kami abangku,, semua serba tiba2,,, kita masih sering bertemu diacara Arisan Sihotang Jakarta Utara dan Acara2 Sihotang SEJABODETABEK,, sehat dan bugar.. rasanya tdk percaya dengan kepergianmu ini.... 
Tapi Tuhan lebih berhak.. Dia lebih menginginkan Abang kami Poster Sihotang kembali kepangkuanNya.. kami hanya bisa meratap abang.. semua harus kami ikhlaskan.. semoga Kakak dan semua anak2 dirmg kuat dan sabar menerima kenyataan ini...
Selamat jalan Abangku.. berbahagialah Engkau di sisi Bapa Sang Pencipta.. 
#sekedar informasi.. Jenazah sementara ini masih di RS BPP TUGU PELABUHAN, Jakarta Utara.

Sementara Waren Sihotang menulis: Toppunai bapa par monding mon.POSTHER SIHOTANG (Trio Relasi)?????????? nga di tinggal hon ho be hami...tu keluarga nang akka dongan..on ma boa2 ku tuhamu ate..dangadong tikki manelepon.


Vica Sihotang Coit menulis:  Telah dipanggil Bapa disurga musisi sang RAJA SERULING batak,.. Bpk. POSTER SIHOTANG , saat ini masih di RS tugu Tanjung Priok... Untuk teman2 boleh diberitahukan kepada teman2 lainnya... Saya baru dapat kabar dari keluarga beliau. Mauliate.''

Poster Sitohang juga menjadi personel Trio Relasi, piawai meniup seruling dan memainkan senar kecapi. Album instrumentalia suling dan kecapinya sangat membekas di hati pencinta musik Batak. (berbagai sumber/int)


Bagikan:

24 Oktober 2017

Benny Panjaitan Sang Legendaris 'Panbers' Meninggal Dunia


 
 SolupL - Musisi legendaris Benny Pandjaitan dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (24/10/17). Hal itu dibenarkan oleh anak Benny, Roesland saat dihubungi wartawan, Selasa pagi. "Benar meninggal jam 09.50 WIB karena sakit stroke sudah lama. Ini saya sedang on the way ke rumah duka," ujar Roesland.

Benny Panjaitan.
Sebelumnya, pesan berantai lebih dulu menyebar di kalangan wartawan. Pesan tersebut menyebutkan bahwa Benny Pandjaitan telah meninggal dunia.

"Om benny panjaitan barusan meninggal dunia. Alamat duka: Jalan Prof DR Hamka Komplek Panbers (Taman Asri) no 14, Ciledug Larangan," tulis pesan tersebut.

Benny sempat dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (22/10/2017) kemarin. Namun hal itu disangkal putranya.

Benny Panjaitan dikenal sebagai anggota Panjaitan Bersaudara (Panbers), satu nama kelompok pemusik yang merupakan singkatan dari Pandjaitan Bersaudara.

Kelompok musik ini didirikan pada 1969 di Surabaya, terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs JMM Pandjaitan SH (alm) dengan Bosani SO Sitompul. Mereka adalah Hans Panjaitan pada lead guitar, Benny Panjaitan sebagai vokalis dan rhythm guitar, Doan Panjaitan pada bas dan keyboard, serta Asido Panjaitan pada drum.

Dalam perkembangannya formasi band ini berubah dan bertambah sejak tahun 1990-an dengan kehadiran Maxi Pandelaki sebagai bassist, Hans Noya sebagai lead guitar, dan Hendri Lamiri pada biola. (berbagaisumber/int)
Bagikan:

04 Agustus 2017

Siantarman Diantara 128 Km Medan, 50 Km Danau Toba


SolupL - Sekelompok anak-anak muda akan menggelar festival seni di Kota Pematangsiantar, Siantarman Arts Festival (SAF). Kegiatan itu mengambil tema ‘128 Km Medan, 50 KM Danau Toba’, akan diselenggarakan Agustus mendatang di Kampus Universitas Nommensen.

Acara Pra Even SAF di Cafe Braga.
Berbagai komunitas bergabung melaksanakan Siantarman Arts Festival (SAF) untuk memberikan ruang bagi kawula muda Siantar mengekspresikan kemampuan di bidang seni dan budaya.

Ketua Panitia Siantarman Arts Festival Andi Damanik mengatakan, sejak dahulu Kota Siantar terkenal sebagai gudang generasi bertalenta di bidang seni baik vokal maupun permainan alat musik tradisional dan modern. Acara yang akan digelar 4-5 Agustus tersebut khusus untuk pelajar menguji kemampuan di bidang seni foto, vokal solo, peragaan busana, menggambar dan mewarnai.

“Sebelum puncak acara, dilaksanakan kegiatan pra event sebagai media promosi ke seluruh masyarakat. Minggu lalu dilaksanakan di DL Cafe dan semalam Rabu (19/7) di Braga Café,” kata Adi Damanik.

Dijelaskan Adi, dalam acara yang dihadiri ratusan masyarakat Siantar tersebut, hadir dan berpartisipasi Identitiy Band, Punxgoaran, Superheroes, Maju Jaya Band, Yuni Panjaitan, Rika dan Standup Comedy Siantar serta Siantar Sketcher.

Sementara Manajer Program Siantarman Arts Festival Tumpak Winmark Hutabarat menjelaskan, acara SAF ini didukung berbagai komunitas yang ada di Siantar, baik teater, musik, tari dan seni rupa.

“Acara ini juga bertujuan untuk mengisi ruang kreatif kawula muda yang minim di Siantar. Mendekatkan seni dan budaya serta pengetahuan kepada kawula muda dan masyarakat, lewat pagelaran dan lomba bertajuk seni dan budaya,”katanya.

Siantarman Arts Festival diharapkan menjadi ruang baru bagi seluruh komunitas untuk mengembangkan dan mementaskan bakat serta kapasitas. SAF juga diharapkan bisa menjadi acara rutin setiap tahun, seperti Oktober Festival di Jerman, Java Jazz Festival dan festival tahunan yang tenar lainnya.

Wilmark mengatakan, tema 128 Km Medan, 50 Km Danau Toba, melambangkan posisi strategis Siantar menyambut gemerlap pariwisata Danau Toba setelah ditangani Badan Otorita Danau Toba. Siantar harus bisa mempersiapkan dirinya dengan sejumlah pengembangan ruang seni budaya untuk bisa dilirik menjadi tujuan wisata.

Jika tidak, Siantar hanya akan menjadi perlintasan. Jadi lewat kegiatan ini, Siantar bisa berbenah diri, menambah ruang kreatif, sehingga orang akan datang untuk melihatnya. Potensi kota Siantar adalah wisata heritage.

“Kami undang partisipasi seluruh anak muda dan masyarakat agar hadir di acara puncak. Sebab, Siantar adalah kotaku, kotamu dan kota kita. Mari kita isi kota ini dengan ruang seni, budaya dan kreativitas,”pungkasnya. (SL/rel)
 
Bagikan:

03 Agustus 2017

Karya Sastra Negara-negara ASEAN Dipamerkan di Kota Tua


SolupL - Festival sastra negara-negar ASEAN atau The 4th ASEAN Literary Festival (ALF) diselenggarakan di kawasan Kota Tua Jakarta, mulai Kamis (3/8/17) hari ini hingga 6 Agustus 2017. Festival ini merupakan ajang untuk menyatukan masyarakat ASEAN melalui sastra.

Kota Tua Jakarta.
Festival yang dilaksanakan sejak 2014 ini, menjadikan budaya dan sastra sebagai unsur penting keberlangsungan ASEAN dan telah mendeklarasikan dirinya menjadi komunitas. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan 50 tahun ASEAN.

Direktur Program ALF Oki Madesari mengutarakan, festival ini pun menjadi wadah untuk memperkenalkan pencapaian dan produk sastra penulis ASEAN ke tingkat global, serta usaha-usaha dalam meningkatkan kecintaan membaca di kalangan anak muda dan anak-anak Indonesia, dan kawasan ASEAN di era media sosial.

Penyelenggaraan AFL tahun ini digelar di Kawasan Kota Tua Jakarta, guna mengangkat potensi wisata Kota Tua, mengingat banyak di tempat ini merupakan kawasan dengan gedung-gedung tua bersejarah Indonesia. Kota Tua dinilai merupakan lokasi yang sangat tepat untuk mendiskusikan dan memamerkan literatur berbagai budaya.

Kepala Bidang Nilai Seni Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jakarta, Supriyatin, mengatakan penyelangaraan AFL di Kota Tua secara tidak langsung akan memperkenalkan potensi budaya Jakarta, sekaligus pariwisata nusantara. Ajang ini diperkirakan akan mendatangkan banyak masyarakat ASEAN.

Kegiatan ini akan menghadirkan penulus-penulis dan jurnalis yang berpengaruh dan kritis di Asia Tenggara dengan berbagai tema diskusi, dan kuliah umum mulai dari demokrasi, radikalisme, persekusi, feminisme, kebebasan berkespresi hingga penistaan agama. Selain itu, akan ada Jambore Nasional Sastra yang akan diikuti oleh 500 pelajar dari tingkat SD hingga SMA tiap harinya.

Selain itu digelar Asean Food Festival, yang akan diikuti oleh kedutaan-kedutaan di Asia Tenggara. Mereka akan menampilkan makanan khas dari masing-masing negara, hingga festival budaya panji. Kegiatan ini akan dibuka mulai besok malam pada pukul 19.00 WIB di halaman depan Museum Fatahilah. (bbs/int)

Bagikan:

09 Juli 2017

Sastrawan Sumbar Raih SEA Write Award 2017 di Thailand


SolupL - Rusli Marzuki Saria (RMS) menerima banyak panggilan telepon dan pesan singkat pada Senin (3/7) malam yang mengonfirmasi bahwa benarkah RMS terpilih sebagai  penerima South East Asean (SEA) Write Award 2017. Di antara orang-orang yang bertanya, ada pula yang meragukan kabar bahwa RMS menjadi penerima anugrah sastra dari Kerajaan Thailand itu karena pada 1997, RMS juga dikabarkan menerima SEA Write Award, tetapi ternyata hanya masuk nominasi.

Papa Rusli
RMS menceritakan hal itu kepada Haluan di rumahnya, Jalan Bangka No. 13, Wisma Warta, Ulak Karang, Padang, Selasa (4/7). Ia membenarkan bahwa ia dinyatakan sebagai penerima SEA Write Award 2017.

“Sebenarnya saya mengetahui bahwa saya ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award pada 7 Juni. Pemberitahuan itu saya terima melalui email dari Badan Bahasa. Bahkan, sehari sebelumnya, sudah ada teman yang mengabarkan informasi itu kepada saya melalui SMS. Namun, saya belum memberi tahu siapa pun karena nanti pasti akan ribut-ribut. Pada Senin (3/7), saya mengirim SMS kepada Dasril Ahmad untuk memberi tahu soal itu karena dia saya rekomendasikan sebagai narasumber yang akan diwawancarai Badan Bahasa pada 7 Juli ini,” ujar penyair yang kini berusia 81 tahun itu.

Setelah mendapatkan informasi dari RMS, Dasril Ahmad, dosen Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta (UBH), memberitahukan informasi tersebut kepada publik melalui status Facebook-nya pada Senin malam.

RMS mengatakan, dalam surel yang diterimanya, ia dinyatakan meraih SEA Write Award atas buku puisinya One by One Line by Line (Kabarita, 2014). Ia mengirim buku itu ke Badan Bahasa tidak lama setelah diterbitkan. Namun, ia tidak mengirimkan buku itu dengan maksud dimasukkan sebagai nomine penerima SEA Write Award, tetapi hanya sebagai dokumentasi untuk Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya tidak menyangka mendapatkan SEA Write Award pada tahun ini. Dulu, pada tahun 1997, buku puisi saya Sembilu Darah, masuk nominasi penerima penghargaan itu. Namun, buku puisi saya hanya nomor tiga sehingga hanya menerima penghargaan dari Pusat Bahasa. Pada tahun itu, Seno Gumira Ajidarma ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award. Dari tahun 1997 hingga 2017, berarti sudah dua puluh tahun saya menunggu penghargaan itu,” tutur pria Kamang, Kabupaten Agam, 26 Februari 1937 itu.

Sebelum berangkat ke Bankok, Thailand, pada Oktober 2017 untuk menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand, RMS akan diwawancarai oleh tim dari Badan Bahasa pada 7 Juli ini. RMS menyebutkan, selain mewawancarai RMS, Badan Bahasa juga akan meminta komentar dari orang yang mengenal puisi-puisi RMS selama ini. RMS lalu merekomendasikan Dasril Ahmad dan Yusrizal KW kepada Badan Bahasa untuk diwawancarai.

“Saya merekomendasikan Dasril karena skripsinya tentang saya, dan Yusrizal KW karena buku One by One Line by Line diterbitkan Kabarita, penerbit miliknya,” ucap anggota DPRD Padang periode 1985-1991 itu.

RMS menambahkan, buku One by One Line by Line (sendiri-sendiri, sebaris-sebaris), berisi 90 puisi pilihannya sejak 1960-2010, dan 4 esai.

Anggota Staf Subbidang Penghargaan, Badan Bahasa, Luh Anik Mayani, melalui keterangan tertulisnya kepada Haluan, mengatakan, sastrawan Indonesia yang ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award adalah sastrawan yang pernah menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa. Akan tetapi, tidak semua sastrawan yang memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa secara otomatis ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award karena masih ada kriteria lain yang harus dipenuhi.

Ia membeberkan, ada beberapa kriteria seseorang ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award, antara lain, pernah menerima senghargaan sastra dari Badan Bahasa; menghasilkan karya secara konsisten dalam kurun waktu lima tahun terakhir; memiliki karya yang berdampak dan tersebar luas, baik berskala nasional maupun internasional; memiliki karya yang menonjolkan ciri khas keindonesiaan yang dapat dibanggakan di dunia internasional; dan memiliki karya yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban dan perdamaian dunia; danberperan aktif dalam pengembangan dan pembinaan sastra Indonesia, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

“Pak Rusli Marzuki Saria tercatat sebagai penerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) pada tahun 1997 melalui karyanya yang berjudul Sembilu Darah (1995). Beliau ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award karena beliau masih berkarya secara konsisten dan masih menghasilkan karya baru dalam lima tahun terakhir,” tuturnya.

Sementara itu, sastrawan lain yang terpilih sebagai penerima penghargaan sastra dari Badan Bahasa pada tahun ini adalah A. Mustofa Bisri (kumpulan puisi), Sungging Raga (kumpulan cerpen), dan M. Ibrahim Ilyas (naskah drama). Nama terakhir yang disebutkan adalah sastrawan yang sehari-hari beraktivitas di Padang.

RMS adalah sastrawan Sumatra Barat keempat yang menerima SEA Write Award. Sastrawan Sumbar pertama yang meraih penghargaan itu adalah A. A Navis pada 1992 atas buku Bertanya Kerbau pada Pedati, kemudian Wisran Hadi pada 2000 atas naskah drama Cindua Mato, dan Gus TF Sakai pada 2004 atas buku kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta.

Sementara itu, Dasril Ahmad mengatakan, ia menulis skripsi tentang puisi-puisi RMS saat kuliah pada Jurusan Sastra Indonesia di UBH pada 1986. Judul skripnya adalah "Pengaruh Kaba Minangkabau terhadap Puisi-Puisi Rusli Marzuki Saria".

Menurutnya, puisi-puisi RMS adalah puisi sederhana. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kerinduan, keresahan, napas keagamaan, dan kritik sosial. Beberapa nilai dalam puisi itu ditemukan adanya pengaruh dari kaba Minangkabau. Di samping itu, puisi-puisi RMS adalah puisi lirik-romantik-puisi yang berisi curahan perasaan.

“Puisi-puisi RMS adalah jenis puisi yang bertolak dari nilai-nilai budaya Minangkabau, yakni sastra lisan kaba. Struktur puisi-puisi RMS mempunyai persamaan dengan struktur kaba, yakni dari segi plot, latar, dan penokohan. Karena itu, puisi RMS patut dibaca dan diteliti lebih dalam sebagai upaya menggali, membina, dan mengembangkan budaya Minangkabau,” ucapnya.

Yusrizal KW, mengatakan, ia menerbitkan One by One Line by Line karena buku itu merupakan kumpulan puisi terbaik RMS yang dipilih oleh penyairnya sendiri sepanjang karier kepenyairannya. Karena itu, orang-orang yang tidak memiliki semua buku-buku RMS, bisa melihat puisi-puisi RMS pada buku tersebut.

“Kabarita hanya menerbitkan buku-buku berkualitas. Pada 2014, salah satu buku puisi yang diterbitkan Kabarita, yakni Odong-Odong Fort De Kock karya Deddy Arsya, meraih penghargaan buku puisi terbaik Tempo. Menurut kami, puisi-puisi Papa Rusli juga pantas kami terbitkan karena Papa memiliki orininalitas diksi dalam puisinya. Kabarita menerbitkan buku One by One Line by Line juga sebagai penghargaan kepada Papa dalam dunia kepenyairannya. Kami bangga Kabarita menjadi jembatan karya papa kepada pembaca,” tutur pendiri rumah baca Tanah Ombak.

Selain sebagai sastrawan, RMS merupakan wartawan di Padang. Ia menjadi wartawan Haluan pada 1969—1999. Di Haluan, ia mengelola rubrik Budaya, yakni Budaya Minggu Ini yang terbit tiap selasa, dan Remaja Minggu Ini yang terbit tiap Minggu. Dari tangannya di rubrik Budaya Haluan “lahir” banyak penulis yang berasal dari Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan daerah lainnya. (holy adib/harianhaluan.com) 
Bagikan:

02 Juli 2017

Pesona Puitis Bukit Simarjarunjung: Pohon Cinta, Desis Angin, dan Kopi


Belakangan ini, Dolok Simarjarunjung mendadak tenar. Sebab sejumlah foto sempat viral di media sosial: tentang rumah pohon atau rumah cinta. Rumah yang dicantolkan ke batang pohon pinus, dengan lansekap Danau Toba terhampar luas sebagai latar. Alangkah indah!

Rumah Pohon Bukit Simarjarunjung
Sebenarnya, ia tak tepat dikatakan rumah. Konsep 'rumah pohon' agaknya lahir dari inspirasi dangau berbentuk rumah panggung yang lazim ditemukan di areal persawahan desa-desa lama. Di sebagian desa, rumah semacam itu dinamai passa-passa. Gunanya: sarana berlindung bagi pemilik sawah dari cuaca ketika menjaga burung. Dari passa-passa ini lazim pula dibentang tali panjang untuk menggerakkan orang-orangan pengusir burung. Passa-passa ini kerap didesain di sebuah pohon yang berfungsi sekaligus sebagai tiang atau penyanggah.

Demikianlah 'rumah cinta' di Bukit Simarjarunjung itu. Kreatif. Bersandar pada sumber daya yang disediakan alam, yang selama ini belum tersentuh. Saat menaiki 'rumah cinta' ini, saya terkenang pada Ruma Bolon, rumah adat Batak. Ada tangga pada bagian depan untuk naik, dan kepala harus disurukkan untuk naik ke lantai. Hmm...!

Pada sore Sabtu 1 Juli 2017 itu, lokasi wisata yang diberi nama Bukit Indah Simarjarunjung (BIS), ini ramai disesaki pengunjung. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara, sehingga untuk naik dan berfoto ke rumah pohon itu harus antre berjam-jam. Duduk di bawah pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, angin mendesis kencang dari hamparan danau yang tenang, dingin tapi sejuk. Syahdu.

Iseng-iseng saya memesan segelas kopi yang disiapkan pengelola. Jujur: citarasa kopinya sedap. Saya jadi mahfum, sepanjang jalan menuju Tigaras, ladang-ladang kopi terbentang di sisi kiri-kanan jalan. Nikmat segelas kopi itu menguap jadi rasa syukur, sebab alangkah mengecewakan andai tersuguh kopi tak bercita-rasa di daerah penghasil kopi semacam itu. Harga juga sedap, cuma Rp5.000 per gelas.

Untuk naik dan berfoto di rumah pohon juga tergolong murah, Rp5.000 per orang. Biaya foto Rp10.000 untuk 5 kali jepret, atau Rp20.000 untuk 10 jepret. Fotografernya sudah tersedia, inilah agaknya salah satu cara pengelola untuk menghasilkan uang dari objek wisata itu.

Selain 'pohon cinta', sarana lain yang bisa dinikmati adalah ayunan yang juga dicantolkan ke pohon pinus. Pengunjung bisa sepuasnya berayun-ayun dengan menghadap langsung ke lembah terjal dan hamparan danau. Tak semua orang bernyali menikmati ayunan ini. 

Lesehan untuk bersantai juga tersedia, semacam joglo-joglo dengan aneka makanan yang masih terbatas. Dalam hal ini, perlu kiranya pengelola menyediakan menu-menu khas, atau kuliner tradisional untuk meneguhkan kekayaan budaya di daerah itu. Atau mungkin, perlu panggung atau ruang khusus untuk menggelar pertunjukan budaya. Sehingga sarana hiburan lebih variatif, tidak sebatas berfoto ria lalu pulang. 

"Ini prospeknya bagus, tapi harus dikelola secara profesional. Harus ditata sesuai standar pariwisata modern tanpa meninggalkan kearifan lokal," kata Hanna Panjaitan, istri saya, yang tampak kedinginan diterpa angin danau.

Rumah Pohon Simarjarunjung
Inilah persoalaannya. Standar keamanan lokasi itu masih jauh dari harapan. Sarana pembatas sepanjang tepi bukit ke lembah curam masih terbuat dari pagar kayu alakadarnya. Rasa was-was akan menghantui terlebih ketika anak-anak balita bermain bebas dan berlari-lari. 

Bukit Indah Simarjarunjung, Kecamatan Dolok Pardamean, Simalungun, betapapun telah menyajikan kesejukan sederhana. Dengan jarak tak lebih 40 kilometer dari Kota Pematangsiantar, lokasi itu bisa ditempuh dengan dua jalur: via Sidamanik, kota perkebunan yang murung. Atau via Simpang Raya, melewati desa-desa tua seperti Sipoldas, Simantin Tolu, Sibuntuon dan berujung di Sipintu Angin. 

Demikianlah, di Dolok Simarjarunjung yang dingin, pohon-pohon pinus menjulang tinggi, angin mendesis menyibak kulit, dan kopi menawarkan kehangatan yang tepat. Jauh di lembah sana, Pantai Tigaras menawarkan godaan air danau. Danau Toba yang terberkati. (Panda MT Siallagan)
Bagikan:

13 Juni 2017

Seniman dan Sastrawan Tolak Hak Angket KPK


SolupL - Sejumlah seniman dan sastrawan Indonesia yang juga pegiat anti-korupsi menyatakan tekadnya untuk menolak penggunaan hak angket KPK oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka menolak hak angket tersebut karena dinilai akan menghancurkan bangsa.

Ilustrasi.
Kegiatan yang dinamai 'Maklumat Budaya Tolak Angket KPK' itu diinisiasi Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns alias Sys NS dan Harry Tjahjono. Ada juga nama Arswendo Atmowiloto.

Mereka menggalang dukungan melalui pesan berantai di WhatsApp Grup dan jejaring media sosial. "Kami Rakyat Indonesia, yang tidak mewakilkan diri, dengan ini menyatakan penolakan Hak Angket DPR RI atas KPK. Karena kami memilih tetap waras!" begitu bunyi kalimat pembuka pesan berantai tersebut yang dikutip detikcom, Minggu (11/6/2017).

Menurut Sys NS, Pansus angket KPK sengaja dibuat oleh DPR untuk melemahkan lembaga anti-rasuah tersebut. Rakyat tak boleh diam dan harus mengambil langkah untuk membatalkan niatan sejumlah politikus di DPR itu.

"Gerakan yang mau dibuat oleh DPR adalah proses penghancuran bangsa. Sementara KPK dan pemerintah tengah membangun dan giat melakukan pemberantasan korupsi, ini ada upaya pelemahan KPK oleh DPR," kata Sys saat berbincang Minggu (11/6/2017).

"Rakyat sebagai silent majority tak boleh silent harus ada perlawanan untuk menghantam DPR agar membatalkan niatan yang mengkerdilkan independensi KPK," tambah Sys.

Saat sejumlan seniman dan artis telah menyatakan dukungan atas kegiatan ini. Selain Sys NS, Harry Tjahjono dan Arswendo Atmowiloto ada juga Butet Kartaredjasa.

Butet mengakui mendukung kegiatan 'Maklumat Budaya Tolak Angket KPK'. "Saya ikut karena memang ini panggilan hati nurani," kata Butet saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (11/6).

Berbagai grup media sosial di berbagai kota masih terus mengedarkan daftar pendukung penolakan hak angket KPK ini. (dtk/ns/int)
Bagikan:

12 Mei 2017

Sastra adalah Ibu Kandung Indonesia


SOPO - Sastra adalah bidang penting dalam kehidupan Indonesia yang saat ini harus dikembangkan dengan baik untuk tujuan revolusi mental. Sebab sastra adalah ibu kandung yang melahirkan bangsa Indonesia.
Ilustrasi.
 Hal itu dikatakan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan daerah Dr. James Modouw di Aula Balai Bahasa Papua, Kamis (27/4/17), pada seminar sehari dengan tema Merawat Kebinekaan Melalui Sastra. Seminar itu diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Bahasa Papua.

James Modouw mengatakan, sastra adalah ibu dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena menurutnya sastra hadir sebelum negara ini terbentuk.

“Sastra ini ibarat ibu kandung dan Indonesia adalah anak kandungnya. Sastra adalah satu kekayaan budaya kita di Indonesia yang sangat baik dan penting pada era saat ini, untuk dijadikan bahan yang harus dikembangkan menjadi agenda pemerintah dalam melakukan revolusi mental,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua ini menambahkan, sastra sendiri selain menjadi alat untuk mengembangan literasi juga sebagai alat untuk mengembangkan karakter.

“Sastra adalah dasar kapasitas atau mutu manusia dalam kehidupan ke depan yang membentuk seseorang menjadi kreatif dan mempunyai kemampuan berpikir kritis yang tinggi. Untuk itu, kegiatan ini sangat baik untuk digali dan perdalam agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang merasa memiliki. Selain itu potensi masyarakat yang kaya harus kita kembangkan,” ujarnya.

Terkait perkembangan sastra di Papua, Modouw menambahkan, sastra di Papua sangat kaya, namun demikian banyak pemilik kekayaan pusaka budaya merasa bahwa hal tersebut adalah barang lapuk yang tidak penting dibicarakan dan diperdebatkan.

“Saya berharap dengan seminar ini, kesadaran tersebut kita buka dan bisa dijelaskan bahwa pusaka budaya bukan barang lapuk, tetapi mengandung nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan di dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Kepala Balai Bahasa Papua, Toha Machsum menambahkan perkembangan sastra di Papua belum menggembirakan, untuk itu pihaknya mencoba mengembalikan orang pada kebebasan pluralisme adalah karya sastra multikulturalisme di dunia pendidikan.

“Ini yang akan didiskusikan secara singkat beberapa hal yang bisa dilakukan melalui sastra multibudaya yang diharapkan akan memperlihatkan dan menyadarkan para siswa bahwa E Pluribus Unum itu memang alamiah dan alami," katanya. (bbs/int)
Bagikan:

01 Mei 2017

Indonesia Bangsa yang Rugi karena Tak Punya Minat Baca


SolupL - Taufiq Ismail mengaku miris dengan menurunnya tingkat literasi pelajar Indonesia dewasa ini. Taufiq bercerita, saat ia masih muda, siswa SMA sederajat diwajibkan menamatkan 25 judul buku dan membuat 108 karangan selama tiga tahun masa sekolah.

Taufiq Ismail dan Arif.
Hal itu disampaikan sastrawan legendaris itu pada acara Cangkrungan Multidisipliner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Gazebo Forum yang digelar di area gazebo perpustakaan pusat UMM, Sabtu (29/4/17).

Taufiq Ismail mengeluarkan ‘unek-uneknya’ tentang dunia literasi sastra. Menurutnya, Indonesia sudah separuh abad menderita akibat miskin membaca. “Paradigma baru yang berkembang sekarang mengarahkan pelajar lebih banyak gandrung pada media sosial. Kebijakan terbaru, siswa SD diwajibkan menamatkan 3 judul buku sastra selama masa sekolah, SMP 6 judul buku, dan SMA 15 judul buku. Tapi nyatanya, ini jauh dari tercapai, bahkan 0 buku yang dibaca siswa. Ini menyedihkan sekali,” ujarnya.

Padahal, katanya, melalui sastra manusia tak hanya menuliskan untaian kata-kata, tapi juga pengungkapan isi pikiran. Pikiran akan terbarukan dengan menulis dan membaca karya sastra, puisi misalnya. Puisi sarat akan nilai-nilai moral, intelegensi, dan estetika. Puisi masuk dalam tiap ruang kehidupan. “Definisi, sejarah, dan teori sastra itu bukan yang utama, tapi minat membaca dan nilai yang didapatnya,” tukas Taufiq.

“Bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang rugi karena mengalami penurunan yang jauh dalam hal literasi sastra. Pelajar mesti mengembalikan hal ini melalui transformasi literasi. Mulailah membaca dan menulis sastra. Melalui kebiasaan menulis buku harian, ini akan memupuk semangat menulis. Membaca, membaca, membaca. Mengarang, mengarang, mengarang,” pesan Taufiq pada para pelajar.

Narasumber lain, Dr Arif Budi Wurianto mengisahkan tentang Kartini yang dipingit pada zamannya. Kakak kandung Kartini, Sosrokartono miris melihat adiknya tak bisa mengenyam pendidikan seperti dirinya akibat terbelenggu budaya yang mengimani bahwa perempuan harus dipingit sampai menikah.

“Tubuhmu boleh dipingit, tapi yang bebas adalah pikiranmu. Bebaskan pikiranmu dengan membaca,” pesan Sosrokartono pada Kartini disampaikan Arif Budi di hadapan ratusan siswa SMA se-Malang Raya dan mahasiswa yang hadir.

Sastra di mata Arif yang juga kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) adalah sebuah gejala kebudayaan. Berbicara budaya berarti berbicara nilai humanisme dan pengharkatan manusia. Melalui aktivitas membaca dan menulis sastra, manusia akan terhalau untuk menjadi insan bermartabat.  Menulis sastra adalah peluang mengekspresikan diri tanpa tekanan. (bbs/int)
Bagikan:

28 April 2017

Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi


Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Februari, 1943


Itulah salah sajak Chairil Anwar yang sangat legendari dan bertenaga. Kini, Chairil banyak diperbincangkan sejalan dengan rencana pengusulan namanya menjadi pahlawan nasional. Wacana itu terus bergulir dan mendapat sambutan cukup kuat dari publik.

Nukilan sajak Chairil di acara Parade Puisi Chairil.
Sepanjang Jumat (28/4/2017), ratusan pengagum Chairil Award dari kota dan kabupaten di Sumbar, Riau hingga Sumut, memadati halaman rumah gadang sang pujangga itu, di Parik Dalam, Nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumbar Mereka berkumpul, untuk menyukseskan Parade Puisi Chairil yang dihelat Forum Inisiator Chairil Anwar Menuju Pahlawan Nasional.

Wakil Ketua Forum Inisiator Iyut Fitra menyebut, Parade Puisi ini dimulai dengan kegiatan diskusi publik dengan tajuk "Chairil Anwar di Antara Pemuda Pergerakan Kemerdekaan". “Diskusi itu menampilkan pembicara  Yudilfan Habib dengan moderator Nasrul Azwar alias Mak Naih,” kata Iyut Fitra seperti dilansir Republika.co.id, Jumat (28/4/17).

Acara dibuka secara resmi  Bupati Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Irfendi Arbi. Kegiatan ini diawali dengan musik tradisi gugus II Taeh Baruah dengan judul "Mandapek".

Selain diisi dengan penampilan dan pembacaan puisi oleh sederet budayawan, sastrawan serta utusan komunitas sastra di Sumatera Barat, acara juga menampilkan puisi pelajar di Limapuluh Kota. "Sampai Jumat malam, ada kegiatan penampilan puisi, pemutaran film dokumenter dan sirompak Taeh," ujar Iyut Fitra.

Karya-karya puisinya selalu menggelorakan perlawanan atau pun pemberontakan dalam bentuk karya sastra. Mungkin dipengaruhi oleh suasana perjuangan ketika itu, puisi-puisi Chairil Anwar seolah menginspirasi banyak orang untuk melawan penjajah.

Dia dikenal sebagai pelopor sastra angkatan 45 dan sekaligus sastra modern. Pengetahuannya yang luas atas banyak bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, dan Jerman membuat karyanya tersebar luas. Karyanya pun terus dikenang dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan hingga sekarang puisi-puisinya yang khas terus diminati.

Seperti salah satu karya puisinya Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi, Chairil Anwar pun seolah benar-benar hidup sampai sekarang dan entah benar sampai seribu tahun ke depan.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun. Dia dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis.

Puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau.

Ia masih punya pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.Sebagai anak tunggal, orangtuanya selalu memanjakannya.

Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orangtuanya. Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda.

Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.

Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orangtuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) di mana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahi Chairil dan ibunya.

Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.

Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia. Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. (berbagai sumber/int)

BACA JUGA: Chairil Anwar Diusulkan jadi Pahlawan Nasional
Bagikan:

25 April 2017

Cinta Ajip Rosidi-Nani Wijaya akan Hadir dalam Bentuk Karya Sastra


SolupL - Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di area Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, menjadi saksi bisu pernikahan tokoh penting sastra Indonesia Ajip Rosidi dan aktris senior Nani Wijaya pada Minggu (16/4/17) lalu.

Ajip menikah dengan Nani Wijaya
Kedua keluarga dan kerabat dekat mereka pun turut hadir menyaksikan pernikahan usia senja pasangan Ajip Rosidi dan Nani Wijaya. Prosesi pernikahan yang berlangsung selama satu jam ini berjalan lancar.

"Saya tidak akan memberikan batasan kepada istri saya untuk terus beraktivitas sesuai profesinya sebagai aktor. Tapi, saya tetap akan mengingatkan untuk memperhatikan keluarga," ucap Ajip Rosidi usai menjalani prosesi akad nikah.

Keduanya memutuskan menikah di Masjid Sang Cipta Rasa karena masjid tersebut memiliki sejarah penting dalam perkembangan Cirebon. Selain itu, keduanya merupakan warga asli kawasan timur Jawa Barat.

Ajip Rosidi berasal dari Kabupaten Majalengka, sedangkan Nani Wijaya dari Cirebon. Bahkan, lanjut Ajip, kisah pernikahan mereka yang berada di usia senja tersebut akan dibukukan dalam karya sastra Ajip Rosidi.

Setelah resmi menikah, keduanya saling melempar pujian. Ajip mengakui Nani Wijaya sebagai perempuan yang cantik dan istimewa. Begitu juga Nani yang menilai Ajip merupakan suami yang baik dan istimewa. "Kami berharap pernikahan kami langgeng sampai akhir hidup kami," Ajip berdoa.

Pernikahan mereka pun disaksikan langsung oleh Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadingrat. Sultan mengatakan, pernikahan Ajip Rosidi dan Nani Wijaya ini menjadi momen yang penting untuk Cirebon dan sekitarnya.

"Ini sebagai contoh saja bagi yang muda khususnya diambil kisahnya yang kakek nenek saja masih saling menyayangi ingin hidup bersama apalagi yang muda," ujar Arief.

Dari pernikahan usia senja ini, Arief mengambil hikmah jika kasih sayang, kebersamaan, rasa saling berbagi itu sepanjang waktu dan selalu ada dalam benak manusia seutuhnya.

Sebelum keduanya menikah, Arief mengatakan keluarga dari Ajip Rosidi maupun Nani Wijaya sering berkunjung ke Keraton Kasepuhan. Tanpa diketahui media, mereka sering berbincang dan diskusi soal tanah perkembangan kelahirannya di pantura ini.

"Mereka memang sudah dekat dengan kami lama sekali dan kita kaget dong kok sudah sepuh jadi menikah. Ya, karena selama ini, mereka masing-masing enggak pernah bareng," dia mengungkapkan.

Arief pun mengaku pernikahan keduanya terbilang unik. Karena sosok Nani Wijaya sibuk dengan dunia akting dan seni peran, sedangkan Ajip Rosidi sosok yang sibuk dengan menulis.

"Rumahnya Pak Ajip Rosidi saja pilihnya di tengah sawah agar bisa fokus nulis. Kami doakan semoga langgeng dan bahagia selamanya," Sultan Arief mendoakan. (berbagaisumber/int)
Bagikan:

12 April 2017

Aktris Cantik Maudy Ayunda Ketagihan Baca Puisi

 
Maudy Ayund.

SolupL - Aktris cantik Maudy Ayunda membacakan salah satu surat Kartini dalam Panggung Para Perempuan Kartini dengan penuh penghayatan pada Selasa (11/4/17) di Museum Bank Indonesia, Jakarta.

Maudy mengatakan, ia memang ketagihan membacakan puisi dan karya sastra lainnya. "Saya memang ketagihan membacakan puisi, kutipan ataupun surat karena sedikit mengingatkan saya pada dunia teater. Soalnya dulu saya suka banget main teater musikal yang sekarang sudah jarang banget," katanya.

Pelantun lagu Untuk Apa ini juga mengaku sudah beberapa kali tampil membacakan puisi dan karya sastra lain, salah satunya dengan tema Kemerdekaan pada tahun lalu yang juga digelar oleh Media Tempo.

Menurutnya, menjadi salah satu pengisi acara seperti ini termasuk caranya untuk memperingati hari Kartini.

"Kalau misalnya tidak ada undangan acara seperti ini, ya saya memperingati hari Kartini dengan membaca karya-karya atau kutipan Kartini yang banyak dan inspiratif banget," tutup lulusan Universitas Oxford ini. (bbs/int)
Bagikan:

10 April 2017

Chairil Anwar Diusulkan jadi Pahlawan Nasional


SolupL - Forum Inisiator Pengusulan Chairil Anwar menjadi Pahlawan Nasional yang terdiri dari sejumlah wartawan dan budayawan, menggelar rapat di Sarikayo Kopi, Payakumbuh, Sumbar, Sabtu (8/4/17). Mereka menggagas sekaligus mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk sang pujangga Chairil Anwar.

Tembok bertulis penggalan Chairil Anwar. [Foto: Inernet)
Ketua Forum Inisiator Pengusulan Chairil Anwar menjadi Pahlawan Nasional, Gus TF  Sakai,  mengatakan, Chairil Anwar sudah sangat pantas diberi gelar pahlawan nasional. Hal itu karena lewat karya-karyanya, sastra menjadi bukti sebagai alat perjuangan.

"Kemudian, Chairil punya hubungan erat dengan pejuang sekelas Sutan Syahrir, Sukarni dan Khairul Saleh," tutur Gus TF dalam rilisnya kepada media, Minggu (9/4/17).

Selain Gus TF, sastrawan dan budayawan lain yang tergabung dalam forum adalah Khairul Jasmi (peraih Press Card Number One/pemimpin redaksi Harian Singgalang), Iyut Fitra, Yulfian Azrial, Yudilfan Habib, Rayfoster WM, Muhammad Bayu Vesky dan Yusra Maiza, Fajar Rillah Vesky, Adri Sandra, Nasrul Azwar, Dr Yusril serta Ade Suhendra.

Penyair Iyut Fitra menambahkan, dalam waktu dekat, Forum ini berencana menggelar serangkaian kegiatan dalam mewujudkan gelar pahlawan nasional untuk Chairil Anwar. "Kita akan segera laporkan hasil pertemuan ini secara berjenjang. Bupati Limapuluh Kota juga ikut mensupport," ujarnya.

Selain menggandeng Pemkab Limapuluh Kota, Forum nantinya akan meneruskan hasil rekomendasi Pemkab kepada Gubernur Sumbar untuk kemudian diusulkan ke Pemerintah Pusat, melalui Kementerian Sosial RI.

Adapun susunan pengurus dan anggota Forum Inisiator yakni, Ketua Gus TF Sakai, Wakil Ketua Iyut Fitra, Sekretaris Yulfian Azrial, Wakil Sekretaris Rayfoster WM dan Bendahara Yusra Maiza.

Sementara itu, wartawan senior Khairul Jasmi menyebut, wacana gelar pahlawan untuk Chairil Anwar bukanlah muluk-muluk. "Kita serius soal ini," kata KJ, sapaan akrab Khairul Jasmi.

Setali tiga uang, Yulfian Azrial menyebut, jika WR Supratman dinobatkan sebagai pahlawan nasional lewat lagu Indonesia Raya, maka Chairil Anwar juga berjuang lewat karya-karya puisinya yang monumental.

Selain itu, karya puisi Chairil Anwar, menurut Rayfoster WM, banyak menjadi bahan diskusi di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi sebagai karya sastra yang menggugah nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun. Ia dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" yang diambil dari karyanya yang berjudul Aku. Dia seorang penyair terkemuka Indonesia dan diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh HB Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, dll. (bbs/int)

Simak video kisah hidup Chairil Anwar di bawah ini:


 
Bagikan:

28 Maret 2017

HPI 2017, Lomba Buku Puisi Berhadiah Rp50 Juta Kembali Digelar


SolupL - Untuk menyemarakkan perayaan Hari Puisi Indonesia Tahun 2017, YAYASAN HARI PUISI INDONESIA kembali SAYEMBARA BUKU PUISI ANUGERAH HARI PUISI 2017. Berikut persyaratannya:

- Terbuka bagi para penyair Indonesia yang tinggal di dalam dan di luar negeri.
- Mengumpulkan kumpulan buku puisi terbitan terbaru, Oktober 2016 s/d 10 September 2017.
- Memiliki ISBN dan melampirkan bukti tanda bukti terdaftar.
- Boleh mengirimkan lebih dari satu judul buku kumpulan puisi, masing-masing judul sebanyak 5 (lima) eksemplar.
- Buku tersebut belum pernah mendapat penghargaan sastra dari lembaga manapun.
- Dikirimkan ke Yayasan Hari Puisi dengan alamat PDS HB Jassin, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330, dengan menyertakan alamat lengkap alamat lengkap & telepon peserta. Paling lambat diterima panitia tanggal 20 September 2017.
- Dewan juri akan memilih 1 (satu) buku kumpulan puisi terbaik dan dan 5 (lima) buku puisi pilihan.
- Buku Kumpulan Puisi Terbaik mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 50.000.000,- dan 5 (lima) Buku Puisi Pilihan, masing-masing Rp. 10.000.000,- beserta trofi dan piagam penghargaan dari Yayasan Hari Puisi.
- Hadiah pemenang diserahkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia pada 4 Oktober 2017 di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Informasi: 0817 9883 592 (Ariany Isnamurti), 0813 11197048 (Nel ), +62 8528 999 4003 (Mustafa Ismail)

Dewan Juri:
Abdul Hadi WM
Sutardji Calzoum Bachri
Maman S. Mahayana


Selain sayembara buku puisi di atas, Yayasan Hari Puisi Indonesia juga akan menyelenggarakan PENERBITAN BUKU APA DAN SIAPA PENYAIR INDONESIA. Penyusunan buku ini akan dilakukan secara ‘teliti dan hati-hati’ dengan pertimbangan sebagai berikut:

- Punya buku puisi tunggal yang diterbitkan secara nasional dan memiliki ISBN.
- Puisi-puisinya dimuat dalam sejumlah buku antologi bersama yang diseleksi atau dikuratori oleh salah seorang penyair nasional Indonesia yang dipublikasikan secara nasional.
- Puisi-puisinya pernah dimuat sejumlah surat kabar atau majalah nasional.
- Puisi-puisinya pernah menjadi bahan penelitian dan tercatat dalam sejumlah buku ilmiah.
- Pertimbangan lain akan diuraikan dalam bentuk pertanggungjawaban Tim Penyusun.
- Mengirim biodata lengkap (tidak lebih dari 600 kata) yang disusun dalam bentuk esai dan lampirkan foto ‘santai’ terbaru ke e-mail: bukupenyair@gmail.com cc ke rliamsipku@gmail.com (deadline minggu kedua September 2017).

Buku ini akan diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia pada 4 Oktober 2017 di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Informasi: 082111239665 (Maman S Mahayana), 0813832244788 (Sihar Ramses Simatupang), 082332932276 (Sofyan RH. Zaid).

Maman S. Mahayana (Editor)
Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Hasan Aspahani, Rida K Liamsi, dan Sutardji Calzoum Bachri (Kurator)


Kontributor: 
Amin Wangsitalaja (Samarinda), Anwar Putra Bayu (Palembang), Badaruddin Amir (Barru), D. Kemalawati dan Helmi Has (Aceh), Dino Umahuk (Ternate), Doddy Ahmad Fawzi (Bandung), Fakhrunnas MA Jabbar dan Kunni Marohanti (Riau), Goenawan Monoharto dan Aslan Abidin (Makassar), Gunoto Sapari (Semarang), Hasta Indrayana (Yogyakarta), Isbedy Stiawan (Lampung), Iverdixon Tinungki (Manado), Iyut Fitra (Padang), Jamal T Suryanata dan Zulfaisal Putra (Banjarmasin), Kurniawan Junaedhie (Jakarta), Nurel Javissyarqi (Lamongan), Ramayani Riance (Jambi), Ramon Damora (Batam), Syaifuddin Gani (Kendari), Tauheed Supratman (Madura), Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Tri Astoto Kodarie (Pare-pare), Wayan Sunarta (Bali), Suyadi San (Medan) dan lain-lain. (rel)

Bagikan:

04 Maret 2017

Tansiswo Siagian dan Grup Tortor Sangombas Raih Hadiah Rancage 2017


SolupL - Hadiah sastera Rancagé 2017  kembali diumumkan. Untuk karya dalam Bahasa Batak diberikan kepada Tansiswo Siagian untuk karyanya yang berjudul “Sonduk Hela” berupa kumpulan 10 cerpen terbitan SPT Jakarta tahun 2016. Untuk Hadiah  Sastera Rancagé 2017  bidang  jasa dalam sastra Batak diberikan kepada Grup Tortor Sangombas.

Sementara, pengarang yang juga dikenal sebagai wartawan senior Aan Amilia dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Sastera Rancagé 2017 melalui karyanyaa yang berjudul “Di Antara Tilu  Jaman”.  Karya berupa kumpulan cerpen ini berhasil mengalahkan dua karya sastra lain yang berbahasa Sunda yaitu kumpulan sajak berjudul “Lengkah” karya Ari Andriansyah dan  kumpulan cerpen berjudul “Jeruk” karya Lugiena De.

Ketua Yayasan Kebudayaan Rancagé Rahmat Taufik Hidayat mengatakan, karya Aam dinilai juri sebagai karya yang menggambarkan Jaman sebagai pelaku utamanya, bukanlah tokoh yang tragis tetapi tokoh yang berhasil mencari jalan keluar dari persoalan hidup yang dihadapinya. Seperti  dikisahkan tentang pasangan suami isteri dalam cerpen berjudul “Kupat keur Lebaran” (Ketupat untuk  Lebaran).  Kedua pasangan suami isteri ini  masih  dapat  berkumpul  bersama dengan tetangga yang sama-sama  hidup hanya berdua, walaupun anak cucunya tidak dapat berkumpul saat lebaran karena kesibukannya masing-masing.  Atau dalam kisah lain tentang seorang bapak yang memilih  kampret putih murah pemberian si bungsu yang  hidupnya  paspasan daripada  memakai  kampret  bagus  dan mahal hadiah dari anak sulung dan yang  tengah karena si bungsu lebih  hormat tilawat kepada orang tua daripada  kedua  kakaknya.

Menurut Rahmat, Aam Amilia sudah menulis karya sastera berbahasa Sunda lebih dari  setengah abad.  Karya-karyanya berupa cerpen maupun roman. Pada waktu muda Aam banyak  menulis cerita tentang tokoh-tokoh  remaja atau  kehidupan kaum  remaja tetapi  sekarang  dia banyak  menulis tentang  kehidupan  orang-orang  yang sudah tua. Untuk karyanya ini, Aam akan mendapatkan uang sebesar Rp 5 juta dan piagam penghargaan dari Yayasan Kebudayaan Rancagé.

Selain untuk karya, Yayasan Kebudayaan Rancagé juga memberikan hadiah untuk jasa.  Hadiah Rancagé Sastera Sunda untuk  jasa tahun ini diberikan kepada Komunitas “Ngejah” Sukawangi,  Singajaya, Kabupaten Garut,  Jawa  Barat. Komunitas  ini merupakan wadah kegiatan  literasi yang dibangun dan dihidupkan oleh sejumlah anak  muda yang kelihatan hasilnya serta  mendapat sambutan dari pemerintah maupun masyarakat  luas.

Komunitas  Ngejah didirikan  tanggal 15 Juli 2010. Bertujuan untuk memajukan kampung halaman baik dari sisi pendidikan, kebudayaan, keagamaan, perekonomian dan sendi  kehidupan lainnya.

Awalnya kegiatan Komunitas Ngejah berupa diskusi, khususnya  mengenai  buku atau  bidang tulis-menulis.  Kemudian kegiatannya meluas, terutama  dalam  bidang  literasi  atau kegiatan membaca  dan menulis. Kegiatan komunitas ini  dibagi  menjadi  beberapa  bidang,  yaitu peningkatan budaya baca tulis, literasi  media, pelestarian seni budaya, ekonomi mandiri dan pelestarian lingkungan hidup.

Komunitas ini telah berhasil memperkenalkan buku, baik yang dalam bahasa Indonesia maupun yang dalam bahasa Sunda kepada orang-orang yang tinggal di kampung. Aktif mendirikan perpustakaan dan  mendatangkan instruktur untuk membimbing  anak-anak membaca  dan  menggemari  buku dan bacaaan. Kepada Presiden Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah yang sehari-hari disebut Opik, akan diberikan Hadiah  Sastera  Rancagé 2017 untuk jasa dalam  Sastra Sunda  berupa  piagam  dan uang Rp 5 juta.

Hadiah Sastera Rancagé 2017 juga diberikan kepada pengarang berbahasa daerah Jawa, Bali, Lampung, Batak, dan Banjar. Untuk karya sastra berbahasa Jawa diberikan kepada Moh. Syaiful untuk karyanya yang berjudul “Agul-agul Belambangan” (terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi, 2016). Sedangkan Hadiah Sastera Rancage 2017  jasa dalam sastra Jawa diberikan kepada H. Abdullah Purwodarsono.

Hadiah Sastera Rancagé 2017 untuk  karya  dalam sastra Bali diberikan kepada Dewa Ayu Carma Citrawati untuk Kumpulan cerpen berjudul “Kutang Sayang Gemel Madui”. Untuk Hadiah Sastera Rancagé 2017 bidang jasa dalam sastra Bali diberikan kepada I Putu Supartika.

Hadiah Sastera Rancagé untuk karya dalam sastra Lampung tahun 2017 diberikan kepada Udo Z. Karzi untuk karyanya yang berjudul “Negarabatin” terbitan Pustaka LaBRAK, Lampung. Sedangkan untuk bidang jasa sastra Lampung tidak ada pemenang.

Khusus tahun ini Yayasan Kebudayaan Rancagé juga memberikan piagam penghargaan terhadap karya yang bukan buku, melainkan ccerita  pendek  yang  dimuat dalam buku kumpulan bersama. Penghargaan khusus ini diberikan kepada Ir. H. Soekirman Ompu Abimanyu, Bupati Serdang-Bedagai, seorang Jawa yang menulis karya berbahasa daerah Batak.

Hadiah  Sastera  Rancagé 2017 untuk karya dalam sastera  Banjar  diberikan kepada Jamal T Suryanata dengan karyanya yang berjudul “Pembatangan” berupa kisah roman. Untuk sastera bahasa Lampung tidak ada hadiah untuk bidang jasa.

Hadiah  “Samsoedi”  diberikan kepada Darpan untuk karyanya yang berjudul “Nala”. Nala mengisahkan tentang  anak perempuan  yang hidup berdua dengan  ibunya yang membuat  kueh untuk  dijual  di  warung.  Nala cerdas, dapat menyelesaikan ulangan  matematika  dalam  10 menit. Suka menolong  kawan, misalnya karena sepatunya  rusak,  atau menolong tunanetra yang  hendak menyeberangi  jalan. Apa yang dialami oleh Nala dalam buku  itu lebih  merupakan sketsa  kehidupan anak  sekolah baik  di sekolah, di rumah ataupun  di  tempat  lain.

Pembina Yayasang Kebudayaan Kebudayaan Rancagé, Ajip Rosidi meminta maaf karena untuk pertama kalinya pada tahun yang ke-28 ini  keputusan  Hadiah Sastera Rancagé yang biasanya disiarkan pada tanggal 31 Januari, sekarang diumumkan terlambat kurang lebih satu bulan. Hal itu disebabkan karena Ajip Rosidi sakit. Masalah lain yang menyebabkan pengambilan keputusan ini terlambat karena dalam tahun 2016 ini banyak sekali buku dalam bahasa-bahasa daerah yang terbit. Bukan hanya dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Batak, melainkan juga dalam bahasa-bahasa daerah yang sebelumnya tidak pernah disediakan Hadiah Rancagé. (bbs/int)
Bagikan: