Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan

15 April 2019

Lirik Lagu Huhaholongi Do Ho dan Artinya


Huhaholongi do Ho
(Kusayangi Kau)

Bintang Panjaitan
Vocal: Bintang Panjaitan
Ciptaan: Heintje Inuhan

Huhaholongi do ho hasian
Dang alani rupani
Huhaholongi pe ho hasian
Dang alani lagumi
Alai rohanghu mandok hasian
Ho do na laho rongkapni tondinghi

(Aku mencintaimu sayang
Bukan karena tampangmu
Aku mencintaimu sayang
Bukan karena budi baikmu
Tapi hatiku berkata
Kaulah akan jadi jodoh bagi jiwaku)

Saleleng au di ngolukki
Ganjang umurhi
Anggo holonghi hot do tu ho
Holonghhu tu ho dos doi hasian
Ubat di au
Dang tarbahen au be hasian dao sian ho

(Selama dalam dalam hidupku
Sepanjang umurku
Cintaku akan teguh untukmu
Cintaku sama dengan obat bagiku
Aku tak sanggup lagi berpisah denganmu)

Huhaholongi do ho hasian
Dang alani rupani
Huhaholongi pe ho hasian
Dang alani lagumi
Alai nipikku mandok hasian
Ho do na laho rongkapni tondinghi

(Aku mencintaimu sayang
Bukan karena tampangmu
Aku mencintaimu sayang
Bukan karena budi baikmu
Tapi mimpiku berkata
Kaulah akan jadi jodoh bagi jiwaku)

Saleleng au di ngolukki
Ganjang umurhi
Anggo holonghi hot do tu ho
Holonghhu tu ho dos doi hasian
Ubat di au
Dang tarbahen au be hasian dao sian ho

(Selama dalam dalam hidupku
Sepanjang umurku
Cintaku akan teguh untukmu
Cintaku sama dengan obat bagiku
Aku tak sanggup lagi berpisah denganmu)

***

Bagikan:

26 Agustus 2018

Sastrawan Hamsad Rangkuti Berpulang, 2 Tahun Lebih Menderita Stroke


SolupL - Dunia sastra Indonesia kembali berduka. Setelah hampir 3 tahun stroke dan terus dalam perawatan, sastrawan senior Hamsad Rangkuti akhirnya meniggal dunia Minggu (26/8/2018).

Hamsad Rangkuti.
Kabar duka itu disampaikan langsung oleh istri almarhum Nurwindasari kepada admin Solup Literal melalui pesan WA.

"Telah berpulang ke rahmatullah Bang Hamsad Rangkuti Minggu pukul 6.00 pagi 26 Agustus 2018. Mohon doa tulus dan maaf," katanya.

Pada Juni 2016, dalam kondisi sakit, Hamsad Rangkuti didampingi istri sempat pulang ke kampung halamannya di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Tapi ia drop lagi dan harus dirawat selama sebulan lebih di RS Sembiring Delitua.

Hamsad dibawa pulang ke Jakarta dalam kondisi sakit. Sejak itu, sakitnya tak pernah sembuh lagi hingga meninggal dunia. (SolupL/***)

Baca Juga: Sempat Pulang ke Kisaran, Hamsad Rangkuti Drop di Medan

Bagikan:

04 Agustus 2017

Sastrawan Batak Bokor Hutasuhut Tutup Usia


SolupL - Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya, Bokor Hutasuhut. Sastrawan angkatan 50 ini tutup usia pada Jumat dinihari 4 Agustus 2017. Kabar itu disampaikan sastrawan Suyadi San melalui Grup WA Ruang Sastra yang anggotanya terdiri dari ratusan sastrawan Indonesia.

"Innalillahi Wa Innailahi roji'un. Telah meninggal dunia sastrawan Indonesia asal Sumatera Utara Bokor Hutasuhut Jumat dinihari 4 Agustus 2017. Jenazah disemayamkan di rumah duka Gang Mandailing, Medan. Dimakamkan siang ini," demikian Suyadi San mengabarkan, Jumat (4/8/17).

Nama Bokor Hutasuhut tidak setenar Chairil Anwar atau Sitor Situmorang. Tapi ia sangat penting dalam sejarah sastra Indonesia. Ia bernama asli Buchari Hutasuhut, lahir pada 2 Juni 1934 di Balige, Tapanuli Utara (kini menjadi Toba Samosir).

Bokor menjadi salah seorang sastrawan yang turut menandatangani Manifes Kebudayaan bersama Gunawan Mohamad dan Wiratmo Sukito sebagai konseptor yang merupakan bentuk perlawanan 20 seniman Indonesia terhadap Lekra.
Sebagai sastrawan Indonesia angkatan 1950-1960-an, Bokor turut peduli pada kehidupan masyarakat, dan itulah yang menjadi alasan kuat ketika itu untuk ikut menandatangani Manifes Kebudayaan. Apalagi saat itu Lekra menuduh Hamka melakukan plagiat dan rencana pemberangusan buku-buku budaya dan sastra kaum penulis yang digolongkan sebagai pemaklumat Manifes.

Suatu ketika HB. Jassin menulis surat kepada Bokor, meminta pertimbangan Bokor agar dicari jalan keluar lewat kenalan-kenalan politik suaya kaum Manifes tidak terus “dianiaya” oleh lawan-lawan “politik”nya, yakni Lekra yang berlindung di balik Pemimpin Besar Revolus waktu itu. Bokor dan Pram saling serang dalam perang wacana tentang orang revolusioner atau bukan. Bokor memang tak sekedar sastrawan sebab dia juga terlibat dalam politik ideologi.

Bokor Hutasuhut menikah dengan D. Sari Afni Siregar pada 11 Maret 1969 di Sipirok, Tapanuli Selatan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Irma Bulan Hutasuhut (perempuan), Samsul Wahidin Hutasuhut (laki-laki), Tama Alamsyah Hutasuhut (laki-laki), dan Muhammad Layan (laki-laki). Bokor Hutasuhut terlahir dari keluarga Islam, ayahnya bernama H. Abdul Manaf Mangaraja Gende Hutasuhut, seorang mubaliq, dan ibunya bernama Ompuni Arifin Siregar.

Bokor dalam bahasa Batak Toba yang dilafaskan (bokkor) artinya kobokan atau mangkuk tempat mencuci tangan di kala makan. Mangkuk ini berukuran besar. Nama ini diberikan oleh kawan-kawannya waktu sekolah dulu karena anak-anak Batak sulit mengucapkan (Buckhori). Abang-abangnya juga memanggilnya dengan nama bokor karena Bukhori kecil senang minum air dengan mangkuk yang besar dan isinya juga lebih banyak. Nama Bokor tetap dipakainya hingga akhir.

Bokor Hutasuhut menyelesaikan pendidikannya mulai HIS (Holland Inlandse School) setingkat Sekolah Rakyat di Soposurung, Balige tahun 1946. Kemudian, dia menyelesaikan SMP Excelcior di Medan tahun 1953 dan masuk SMA Setia Budi Bagian C (jurusan bahasa dan sastra) di Medan tahun 1954, tetapi tidak sampai tamat hanya kelas satu dan naik kelas dua dia pindah ke SMA Pembaruan Bagian A di Medan.

Saat kelas tiga dia tidak lulus di ujian akhir tahun 1957, karena nilai Bahasa Indonesianya tidak mencukupi standar kelulusan pada waktu itu. Padahal di tahun yang sama cerpennya yang berjudul Datang Malam yang pernah dimuat dalam majalah Kisah terbitan Jakarta No. 1 Tahun V, 1957, dijadikan pemerintah bahan mata ujian akhir Bahasa Indonesia bagi siswa SMA Bagian B-I di seluruh Indonesia.

Setelah meninggalkan bangku SMA tahun 1957, Bokor Hutasuhut bekerja sebagai PNS di Kantor Penerangan Agama Provinsi Sumatera Utara (Kapenapsu). Dengan mempunyai gaji tetap tentu saja dia tidak terlalu pusing memikirkan keuangannya untuk tinggal di Medan hingga waktunya bisa digunakan untuk menulis karya sastra. Dia juga merangkap bekerja sebagai wartawan lepas di beberapa surat kabar di Medan. Di majalah Waktu dan Pelangi, dia mengasuh dan menyelenggarakan Lembar Sastra-Budaya pada tahun 1955-1962.

Kegiatan sastra sangat menyita waktunya hingga dia minta berhenti sebagai PNS. Di tahun 1950-an ini juga Bokor dan teman-temannya mendirikan Gabungan Sastrawan Muda (GSM) di Medan dan membuka cabang di setiap kota dan kabupaten di Sumatera Utara. Dia duduk sebagai Ketua Umum. GSM giat menggelar pertunjukan teater dan kegiatan sastra lain di Sumatera Utara.

Tahun 1962 Bokor hijrah ke Jakarta. Jiwa kesastraannyalah yang mengantarkan langkahnya sampai ke tanah Betawi itu. Ia terlibat aktif dalam organisasi dan kegiatan sastra. Tahun 1962-1967 bekerja di Balai Pustaka. Bahkan, Bokor sempat menjadi sekretaris Yayasan Sastra atau Penerbit Majalah Sastra yang diketuai oleh HB. Jassin hingga majalah ini mengalami kebangkrutan.

Kesastrawanan Bokor bermula sejak dia meninggalkan kampung halaman menuju Medan pada tahun 1952 untuk melanjutkan pendidikannya. Pertama kali menulis sekitar tahun 1953 di Medan pada surat kabar Mimbar Umum Minggu dalam rubrik Syarahan berupa sajak, esei, cerpen, dan reportase budaya. Ini diperjelas dengan keterangan Jakob Sumardjo di Horison (September 2003) yang menyatakan bahwa sastrawan muda yang muncul lewat Kisah tahun 1953, yang berasal dari Batak, hanyalah Bokor.

Nama Bokor Hutasuhut muncul sebagai sastrawan angkatan baru dalam majalah Kisah dengan pengasuh HB. Jassin, Idrus, dan M.Balfas. Majalah Kisah banyak memuat karya sastra Bokor. Rekan-rekan seangkatannya yaitu Trisnoyuwono, A.A. Navis, Muhammad Diponegoro, Ajip Rosidi, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, dan lain-lain. Pada zaman ini kebanyakan sastrawan menulis karya sastra dengan latar belakang daerah asal yang sangat kental, tidak terkecuali Bokor Hutasuhut.

Bokor juga menulis pada majalah Waktu dan Pelangi. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah terbitan Jakarta seperti Konfrontasi, Indonesia, Mimbar Indonesia, Kisah, Cerpen, Siasat, dan Sastra. Di Yogyakarta karya-karya Bokor Hutasuhut terbit dalam majalah Budaya dan Minggu Pagi. Bokor Hutasuhut juga diorbitkan oleh Majalah Cerita bersamaan dengan Budi Darma, sastrawan dari Surabaya.

Karya-karya Bokor Hutasuhut banyak yang menceritakan tentang latar budaya Batak, kehidupan masyarakat Batak sehari-hari, dan pandangan hidup masyarakat Batak. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari tempat tinggal dan silsilah kehidupannya yang memang asli keturunan Batak dan tinggal di wilayah Tapanuli Utara. Tapanuli Utara adalah kabupaten yang suku aslinya adalah Batak Toba dan mayoritas penduduknya beragama Kristen, jadi budaya dan adat-istiadat di sana masih terjaga sebagaimana aslinya. Sedangkan bila di daerah lain atau komunitas masyarakatnya beragama Islam tentu saja adat-istiadat Batak Toba akan disesuaikan dengan ajaran Islam.

Penakluk Ujung Dunia adalah novel karya Bokor Hutasuhut yang dirampungkan tahun 1960 dan diterbitkan pertama kali tahun 1965 dan cetakan kedua tahun 1988 diterbitkan oleh PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta. Dalam novel inilah terbentang pengalaman Bokor di desanya dan bagaimana masyarakatnya menjalani kehidupan. Novel ini merupakan karya sastra modern yang mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Batak Toba menurut penghayatan manusia modern, yaitu Bokor Hutasuhut sebagai pengarangnya. Novel ini banyak mendapat tanggapan dan dikaji oleh ilmuan dan penggiat sastra, di antaranya HB. Jassin, Jacob Sumardjo, Totok Amin Soefiyanto, Shafwan Hadi Umry, Taufik Abriasyah, Saksono Priyanto, Damiri Mahmud, Jonner Sianipar, Darma Lubis, dan M. Yunus Rangkuti. Bokor berterima kasih kepada ayahandanya, HAM Mangaraja Gende Hutasuhut dan Partahi H. Sirait yang turut merangsangsang daya kerja untuk menyelesaikan novelnya ini.

Sebelum Penakluk Ujung Dunia, tahun 1963 telah terbit kumpulam cerpennya yang berjudul Datang Malam yang diterbitkan oleh N.V. Nusantara. Kumpulan cerpen ini berisi tujuh cerpen yang berjudul Bebas, Bayonet, Datang Malam, Djiarah, Bonbon, dan Matahari. Tahun 1965 terbit juga novelnya yang berjudul Tanah Kesayangan. Novel ini diterbitkan PT Pembangunan, Jakarta. Sebenarnya novel ini sudah selesai ditulisnya sekitar tahun 1954. Tahun 1958 sempat disetujui PT Pembangunan untuk diterbitkan tetapi lima tahun menunggu barulah diterbitkan setelah Bokor menulis ulang novel Tanah Kesayangan ini.

Karya-karya:
– Datang Malam (1960), kumpulan cerpen
– Penakluk Ujung Dunia (1964), Novel
– Tanah Kesayangan (1965), Novel
– Pantai Barat (1988), Novel


(berbagai sumber/int)
 
Bagikan:

04 Desember 2016

Mengenang Dewi Sartika, Pelopor Pendidikan Wanita Nusantara


SolupL - Dulu pada masa kemerdekaan, penetapan tanggal lahir Kartini sebagai hari besar dan penobatannya sebagai Pahlawan Nasional, juga menuai perdebatan, sebab kebijakan itu dianggap pilih kasih. Nyata memang, Indonesia memiliki wanita-wanita hebat lain melebihi Kartini, sebutlah Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain.
Ilustrasi.
Apakah Kartini mengenal Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain? Mengapa Mengapa Kartini tidak menulis surat kepada perempuan-perempuan pejuang nusantara pada masa itu? Tapi kita tidak hendak membahas itu.

Kita hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini tanggal 4 Desember adalah ulang tahun Dewi Sartika ke-132. Bangsa Indonesia seolah lupa, tapi Google merayakannya.

Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1966 karena jasa-jasanya memajukan pendidikan pada kaum wanita di Indonesia pada masanya.

Google Indonesia pun memajang doodle yang menggambarkan sosok Dewi Sartika bersama enam gadis kecil. Mereka semua memakai kebaya. Tampak Dewi Sartika sedang mengajar keenam murid perempuan mungil tersebut.

Jika doodle tersebut diklik, langsung muncullah beragam informasi mengenai Dewi Sartika. Ia adalah pahlawan dan inspirasi bagi kaum wanita, seperti sosok Kartini.

Orang tuanya adalah kalangan bangsawan, Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Meski bertentangan dengan adat pada waktu itu, Dewi Sartika sempat mengenyam pendidikan di sekolah yang didirikan Belanda. Ia pun tergerak memajukan kaum wanita.

Pada 16 Januari 1904, dia mendirikan sebuah sekolah untuk kaum perempuan bernama Sekolah Isteri di Bandung. Sekolah tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri.

Sekolah tersebut cepat berkembang dan pada 1912, ada sekitar sembilan Sekolah Kaoetamaan Isteri yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Tahun 1924, sekolah itu berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Dewi Sartika meninggal dunia pada tahun 1947.

Keluarga pun berharap hari lahir Raden Dewi Sartika tiap 4 Desember diperingati secara nasional seperti Raden Ajeng Kartini. Hingga kini peringatan hari lahir pejuang emansipasi wanita itu dirayakan secara lokal di Jawa Barat saja, tempat kelahirannya.

"Beliau (Dewi Sartika) dan Kartini sama-sama perintis emansipasi wanita. Tetapi hanya Kartini yang diperingati secara nasional, sehingga Dewi Sartika kurang dikenal," kata cucu menantu Dewi Sartika Deddy Rukadi di SMP Dewi Sartika, Jalan Kautamaan Istri, Minggu (4/12/16).

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat agar hari lahir sang pahlawan nasional dirayakan oleh segenap bangsa Indonesia masih kurang. "Selama ini kami tidak menunggu pemerintah (pusat), tapi merayakan secara mandiri dengan bantuan Pemkot Bandung dan masyarakat Tatar Sunda," terang Deddy.

Dengan dirayakan secara nasional, kata Deddy, Dewi Sartika sebagai perempuan yang menginginkan kesetaraan pendidikan bagi kaum hawa, bisa dikenal masyarakat luas.

"Bidang pendidikan yang akan kami tonjolkan untuk generasi penerus dari sosok Raden Dewi Sartika yaitu cageur, bageur, pinter, wanter (sehat, baik, pintar, berani)," sebut Deddy.

Kabid Kepemudaan Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Kota Bandung Sony Teguh Prasetya menyebut Dewi Sartika dan Kartini sama-sama pejuang wanita. Untuk itu tidak ada salahnya hari lahir Dewi Sartika juga dirayakan secara nasional.

"Dua pahlawan nasional emansipasi wanita itu Ibu Kartini dan Dewi Sartika. Ini harus menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Harapannya perlu ada hari Dewi Sartika juga nantinya," ungkap Sony. (bbs/int)

Baca Juga: Mengenang Gagasan-gagasan Indah RA Kartini


Bagikan:

28 Agustus 2016

Kisah Senduduk, Anggur Kenangan Masa Kanak-kanak


Tebu dan anggur barangkali tumbuh dari gengsi kaum borjuis. Maka tebu selalu menggoreskan luka sejarah. Ia selalu tumbuh jadi komoditas politik. Sebab darinya gula tersarikan. Gula, hmm...! Gula senyawa dengan anggur. Atau wine. Kau hanya bisa mengenalnya dengan kantong tebal.

Senduduk.
Tapi tokoh kita dalam kisah ini tak akan bicara tentang tebu dan anggur yang mahal itu. Anak-anak dalam kisah ini barangkali cuma jujur menerima berkah alam. Dan saya, sebagai pengenang, mencoba mengibaratkannya.

Anggur itu adalah senduduk. Ketika lahan-lahan di pedesaan belum diberangus traktor, tumbuhan rumpai ini masih berkuasa dan menghampar luas. Anak-anak di desa mengenalnya dengan baik. Mengapa? Karena buahnya yang berwarna ungu itu memang lezat, manis dan empuk.

Begitulah anak-anak itu, sepulang sekolah, atau sepulang membantu ayah ibu di ladang, menyuruk ke 'hutan senduduk' dan memetik buah-buah yang matang. Dan, nyam...nyam....! Setelah itu, mulut mereka jadi ungu. Adakalanya mereka tertawa dan saling unjuk gigi. Gigi berwarna ungu. Seperti mabuk. Seperti berpesta. Merayakan anggur yang tidak dikenal zaman.

Ritual itu hampir dilakukan setiap saat, setiap kali anak-anak itu memiliki kesempatan bermain. Tentu, permainan-permainan lain juga diakrabi, misalnya mandi-mandi di sungai, atau memanjat pohon kelapa, menjatuhkan buah-buahnya yang muda, untuk dicecap air dan lendirnya. Itu nikmat. Tetapi, senduduk menyuguhkan sebuah kisah mengharukan.

Di hutan senduduk itu pernah kami saksikan seorang anak terisak-isak. Ia tidur-tiduran beralaskan ilalang, dan tampak sedang dilanda kesedihan. Ia teman kami yang baik, dan itu terkejut. Ketika kami tanya, dia mengatakan bahwa ibunya telah murka dan menyebat kakinya teramat pedih, hanya karena ia lalai, tak mengambil air dari pancuran. Ia lari, lalu berteduh mendamaikan jiwanya yang hancur. Umur 8 tahun. Tapi hatinya bisa amat sensitif dan mengatakan tak akan kembali ke rumah. Ia ingin tinggal di hutan senduduk itu, karena memang bagian bawahnya teduh. Jika lapar, ia bilang, ia akan makan senduduk.

Lama kami membujuknya, hingga akhirnya, menjelang malam, ia bersedia pulang. Dan ibunya, seperti yang ia khawatirkan akan murka, ternyata benar. Kami juga kena getah: pergi kalian, dasar anak-anak bandal. Orangtua mati-matian di ladang, kalian main-main saja. Dengan mental ciut, kami menjauh perlahan-lahan. Kami tidak tahu apa yang terjadi malam itu, tapi esoknya, teman kami yang baik itu tidak muncul di sekolah. Juga hari-hari selanjutnya. Ia hanya sempat mengenal angka dan huruf. Dan kelak, kawan ini mati muda entah karena apa, tak lama setelah pulang dari rantau.

Dan senduduk selalu mengingatkan kami pada kawan itu. Tapi kini senduduk tidak lagi ditemukan di desa itu. Entah bagaimana semua itu raib dengan sempurna. Dan demikianlah anak-anak generasi baru, kelak mungkin hanya mengenal tumbuhan ini dari cerita ke cerita, jikapun dikisahkan, atau dikaji untuk keperluan ilmiah. Itulah anggur kami. Anggur masa kecil yang membuat haru.

Dan kisah lain yang sangat menyentuh, yang selama-lamanya akan mengendap dalam ingatan adalah kisah tentang tebu. Tebu yang manis. Tebu yang juga tragis. Desa kami memang tak akrab dengan tebu. Ia tidak pernah jadi komoditi yang bersengaja dibudidayakan untuk penghidupan. Ia hanya hadir sporadis, sebagai tanaman penghias di pekarangan rumah, hanya beberapa rumpun, untuk konsumsi keluarga ketika cuaca sangat panas. Tapi kejahatan tercipta dari situ. Sebab, anak-anak yang orangtuanya tidak punya tebu, sesekali belajar mencuri jika ingin menikmati manisnya tebu, manisnya kehidupan. Singkat kisah, beberapa dari anak-anak itu pernah disebat karena mencuri tebu.

Sejak itu, tebu menjadi mimpi yang menyakitkan. Dan anak-anak itu mengobati luka itu pada ilalang. Pada akar ilalang. Di lahan-lahan yang ditraktor, mereka keluyuran mencari-cari akar ilalang, dikumpul, lalu dikunyah. Manis. Serupa tebu. Jika ayah-ibu mencangkul di ladang, maka akar ilalang saluran kesenangan, melampiaskan hasrat makan tebu. Betapa menakjubkannya kisah itu. Dan kelak, tebu memang bukan milik orang-orang miskin. Gula tetap mahal. Politik senantiasa ikut memainkannya. Tapi, kemanakah anak-anak kini bisa mencari akar ilalang yang manis-manis seperti ketika itu? Entahlah...! (Panda MT Siallagan)***
Bagikan:

22 Agustus 2016

Menyedihkan, Unik dan Memalukan

Perkenalan saya dengan teks boleh dibilang menyedihkan, unik bahkan memalukan. Saya ingat mulai bisa membaca ketika duduk di bangku kelas II SD, tapi untuk sekian lama saya tidak bisa mempergunakan keahlian itu untuk membaca buku, sebab memang sulit menjumpai buku ketika itu.


Hingga kini, setiap ingatan itu melintas, saya selalu didera perasaan melankolis, percampuran antara kemarahan dan rasa sakit. Sebab kebanggaan sebagai anak yang baru bisa membaca, runtuh oleh kenyataan pahit sebuah dusun terisolir. Jangankan buku, anak-anak bahkan tidak mengenal listrik, apalagi televisi.

Ketika belanja atau memasarkan hasil tani ke ibukota kecamatan, warga harus melansir barang-barangnya dengan sepeda ontel, bertarung melintasi jalanan licin berlumpur. Seringkali, urusan belanja atau menjual hasil tani ke kota, berlangsung berhari-hari. Jika cuaca bagus, bisa satu hari. Saya ingat, ketika ibu ke kota, kami harus menunggu hingga tengah malam dengan perasaan was-was, sepi, dan terkadang takut. Sebab ayah biasanya pergi menjemput ke sebuah simpang (semacam terminal terakhir) yang bisa dijangkau angkutan. Dari simpang itulah warga berjalan kaki sejauh 5 kilometer memikul barang-barang belanjaan menuju dusun.

Di tengah situasi pedih itulah saya tumbuh dan mulai bercita-cita, tentu saja berawal dari kemampuan membaca. Meski buku adalah barang 'angker', saya tidak lantas kehilangan arah. Tetap saja teks hadir dan menari-nari dalam kepala saya melalui sampah, plastik-plastik, barang-barang bekas, atau  potongan-potongan suratkabar. Seandainya direkam, mungkin saya akan tampak seperti orang gila ketika memungut bungkus jajanan, kaleng roti, botol-botol minuman, atau benda-benda lain.

Lalu saya bacalah teks-teks di situ: roti marie, assorted biscuit, ingredients: ...sugar, milk, butter, salt..dll. Di lain waktu, jajanan anak-anak yang sangat kami kenal, saya ingat teks orong-orong 41 empatpuluh satu. Di kemasan lain, saya temukan tulisan Komposisi: tepung, garam, gula, mentega, dll. Saat itu saya belum memahami arti semua itu. Saya hanya merasa riang dan bangga bisa membaca tulisan-tulisan itu.

Saya tidak ingat berapa lama hal menyedihkan itu berlangsung. Tapi selanjutnya, saya menjadi akrab dengan banyak kata atau kalimat, misalnya tepung tapioka, garam beryodium, khong guan, 100% halal, ajinomoto, viva (bedak ibu), bodrex, entrostop, semoga lekas sembuh, roundup, paracol, theodan, jauhkan dari jangkauan anak-anak, pupuk urea, KCL, pupuk bersubsidi, anti pecah, deluxe (merek gelas), safety matches (pada kotak korek api), swallow, manufactured by, jangan pakai gancu, netto 50 kg, dan masih banyak dan akan sangat panjang jika dideretkan. Semuanya melekat pada benda-benda, sampah, kemasan, atau barang-barang bekas.

Satu-satunya buku berisi teks yang saya kenal adalah bibel, tapi saya tidak bisa sembarangan menyentuhnya karena selalu disimpan di tempat aman, biasanya di atas bufet. Ketika suatu kali saya berhasil membuka kitab itu, saya kebingungan dan tak mampu memahami bahasanya. Bibel itu menggunakan bahasa Batak lama, sangat berbeda dengan bahasa Batak yang kami kenal sehari-hari. Dan barangkali, akibat doktrin sakralitas bibel, saya tidak berani mencurinya meskipun untuk tujuan dibaca.

Di sisi lain, seperti halnya anak-anak lain, saya hanya membawa pensil dan buku tulis ke sekolah. Dan memiliki buku tulis yang agak tebal merupakan suatu kebanggaan ketika itu, sebab anak-anak biasanya hanya punya buku tulis atau buku halus-kasar 12 lembar. Dalam hal ini, saya sedikit beruntung sebab saya kerap memiliki buku tulis 30 atau 50 lembar.

Proses belajar mengajar di kelas berlangsung seperti ini: guru mencatat di papan tulis, murid memindahkan ke buku masing-masing. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan baca bersama. Polanya tetap sama: guru membaca terlebih dahulu di depan, murid mengikuti. Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa kalimat-kalimat itu sangat lucu dan menyedihkan: ini budi, ini wati, ini ibu, ini ayah...!

Untunglah, pelajaran menghitung bisa membebaskan suasana memalukan menjadi agak serius. Tapi celakanya, saya tidak menyukai pelajaran 'mari berhitung', sejak dari awal pengenalannya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Singkat kisah, tahun-tahun awal SD sama sekali tak menjanjikan ketersediaan teks.

Maka, pada masa-masa selanjutnya, saya merasa sangat gembira jika ibu pergi ke kota untuk belanja karena saya bisa menemukan bacaan baru. Sebab biasanya, beberapa belanjaan ibu dibungkus dengan kertas koran.  Saya akan baca kertas-kertas koran itu, meskipun saya tidak memahaminya. Membaca teks berbahasa Indonesia adalah sebuah 'pergumulan' hebat sebab kami tak mengenal bahasa itu.

Hingga suatu kali, ketika duduk di bangku kelas 3, saya tiba-tiba terpesona membaca sebuah syair yang tak utuh pada kertas koran bungkusan belacan. Itu tentang seorang ibu yang meninggal, yang entah bagaimana tiba-tiba sangat meresap ke hati saya. Setelah dewasa, saya yakin puisi itu adalah puisi remaja atau puisi anak-anak, sebab perbendarahaan kata ketika itu masih terbatas, tapi nyatanya saya dapat memahaminya dan merasa tersentuh.

Sejak itu, saya makin suka mencari-cari teks dan mulai gemar mencoret-coret kata di permukaan tanah dengan ranting kayu atau sapu lidi. Kenapa di atas tanah? Sebab mencoret atau menulis di buku adalah 'haram'. Buku tulis mahal dan memang dijatah sedemikian rupa. Ada satu kata kesukaan saya dan sering saya coretkan di permukaan tanah, yaitu: namanamauan. Sampai kini, dan mungkin selama-lamanya, saya tak akan berhasil mencari makna kata itu.

Barulah setelah duduk di bangku kelas 4, buku-buku mulai terhidang di meja kami. Sebuah babak baru dimulai, cahaya baru yang mencerahkan hati. Buku-buku itu adalah buku pelajaran yang ternyata disimpan di kantor guru. Sebelum proses belajar-mengajar dimulai, guru mengambil buku-buku itu dari kantor, dibagikan masing-masing satu buah untuk satu meja. Setelah jam pelajaran usai, buku itu dikumpul dan kembali disimpan di kantor guru.

Sejak itu, saya mulai berdosa dan berubah jadi penjahat. Benar-benar penjahat. Saya bergairah membayangkan buku-buku itu mengonggok di kantor guru. Saya mulai berpikir dan mencari-cari cara untuk mencurinya. Dan tak perlu waktu lama, saya menemukan caranya. Saya ambil tang milik ayah. Saya bawa kursi kecil yang terbuat dari kayu. Saya pergi ke sekolah itu pada petang menjelang malam.

Persis di bawah jendela kantor guru, saya letakkan kursi. Saya naik dan mulai mencungkil bilah logam penjepit kaca nako jendela di kedua sisi. Setelah agak longgar, saya tarik perlahan-lahan kaca itu, saya letakkan di tanah. Saya ulangi hal yang sama hingga 3 atau 4 kaca berhasil saya lepas. Lalu saya masuk ke ruangan itu. Sungguh pengalaman mendebarkan dan menakutkan. Saya begetar hebat menyaksikan buku bertumpuk-tumpuk di lemari yang terbuka. Bukan hanya buku pelajaran, tapi juga buku-buku cerita. Dengan kondisi tubuh berkeringat dingin, saya pasrah terjerumus ke dalam dosa. Saya ambil beberapa buku, lalu keluar dengan lutut gemetar. Saya pasang lagi kaca itu perlahan-lahan. Selesai.

Hingga masuk ke universitas, penyakit mencuri buku itu tidak bisa saya obati. Dan Tuhan maha tahu, saya tak punya keberanian mencuri barang apapun. Tapi untuk mencuri buku, saya adalah si cerdik berdarah dingin.

Demikianlah perjumpaan saya dengan teks. Sebuah perjumpaan yang tragis dan memalukan. Singkat kisah, bacaan-bacan itu perlahan-lahan 'memerintahkan' saya menulis. Dan selanjutnya adalah kesedihan demi kesedihan, sebab cita-cita saya menjadi sastrawan ternyata gagal juga. Dan untuk alasan itulah saya mengisahkan ini sebagai bentuk terimakasih kepada orang-orang sederhana yang menganggap saya penulis. Catatan ini adalah jawaban saya atas pertanyaan mereka: bagaimana sejarahnya kau bisa menulis? (Panda MT Siallagan)***

Bagikan:

18 Agustus 2016

Kisah Marsinah, Pejuang Buruh Tangguh

Saya bayangkan gadis kecil itu mengendarai sepeda dengan keriangan khas anak-anak. Dan, ia bersepeda bukan bermain-main seperti anak-anak zaman kini. Gadis kecil tokoh kita ini bersepeda ke rumah-rumah penduduk di sekitar kampungnya untuk mengambil gabah atau jagung, lalu membawanya ke rumah neneknya.


Ya, sang nenek berprofesi sebagai pedagang-pengumpul gabah dan jagung di desa itu. Dan pekerjaan itu dilakukan Gadis Kecil itu agar bisa mendapat uang jajan dari sang nenek. Oh, tidak. Tidak sekedar ingin mendapatkan uang jajan, tapi ia mengerjakan itu dengan sadar: sebagai bentuk terimakasih kepada sang nenek yang telah merawat dan memeliharanya.

Ya, ketika Gadis Kecil itu berusia 3 tahun, ia ditinggal mati ibunya. Juga seorang kakak dan adik berusia 40 hari. Sungguh, saya bergetar membayangkan 3 anak perempuan hidup tanpa seorang ibu. Bergetar membayangkan tangis bayi berusia 40 hari tanpa perlindungan ibu, bagaimanakah mereka merasakan kepedihan itu? Dan seperti dikisahkan, sang ayah kemudian menikah lagi dengan perempuan lain.

Sejak itulah Gadis Kecil itu tinggal dan hidup bersama neneknya. Ia tumbuh tanpa siraman kasih sayang ibu. Ia tidak bisa bermanja-manja sebagaimana anak-anak seusianya. Tiada tempat mengadu, tiada tempat menumpahkan tangis dan rasa takut. Dia harus mandi sendiri, makan sendiri, dan mencuci baju sendiri. Sungguh, saya bergetar membayangkan kesunyian itu.

Kepadanya patut kita haturkan puji, sebab ia anak yang tahu berterimakasih. Ia dengan sadar membantu nenek menjalankan usahanya agar mereka bisa hidup. Ia tumbuh menjadi gadis tangguh, pemberani, dan tidak cengeng. Dan kesadaran lain membuatnya tumbuh jadi gadis cerdas: suka belajar, suka membaca. Imbalan yang diberi nenek atas jasanya mengangkut gabah dan jagung, sebagian ia pergunakan membeli buku. Ia haus ilmu. Jika tiada bacaan yang dipunyai, ia memungut potongan-potongan koran yang tercecer dimana saja sebagai bahan bacaan.

Dan, ia tumbuh jadi gadis terpelajar: cerdas, ramah, setiakawan, suka membantu orang lain, dan kritis terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nuraninya. Ia gadis yang bertanggungjawab bukan hanya pada hidupnya, tapi juga pada zamannya. Maka ia pemberani, sangat berbeda dengan gadis-gadis seusianya. Ia gemar menonton televisi di rumah tetangga untuk menambah ilmu, lalu pulang malam hari jika sajian televisi usai.

Ketika ia sudah duduk di bangku SMA, kegemaran membaca sejak usia dini itu tetap awet. Ia suka membaca biografi tokoh-tokoh terkenal. Dan ia mengagumi Hamka. Hamka adalah tokoh idolanya.

Tapi takdir memutus mimpi. Gadis cerdas dan pintar itu mengakhiri riwayat perjalanan pendidikannya hanya SMA. Tapi ia sadar, pengetahuan dan wawasan tak hanya diperoleh dari bangku pendidikan. Dan, diapun pamit kepada keluarga, berangkat menuju Surabaya untuk bertarung menantang hidup. Ia meninggalkan desanya yang sunyi: Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Dan di Surabaya, gadis itu menggetarkan dunia, membuat sibuk negara, ketika ia berteriak lantang bersama rekan-rekan buruh memperjuangkan hak dan melawan penindasan. Dan, seperti kita tahu, ia dibunuh secara keji. Sungguh keji. Dan para pelaku adalah petinggi-petinggi perusahaan dimana ia bekerja. Sungguh, saya bergetar membayangkan betapa sunyi ia ketika disekap, dianiaya dan disiksa. Saya bayangkan, dalam keheningan yang menyakitkan itu, dia terkenang pada neneknya, terkenang masa kecil bersepeda mengangkut gabah. Dan ketika tusukan demi tusukan merongrong tubuh dan jiwanya dengan rasa sakit, ia mungkin teringat ibunya, yang telah meninggalkannya di usia tiga tahun. Sungguh, saya bergetar mengenang gadis itu: MARSINAH. Marsinah, sesunyi apakah mimpimu? Andai kau bisa mengisahkan. ***
Bagikan:

13 Agustus 2016

Kisah Antara Peci dan Kacamata

Ia selalu mengenakan peci, sehingga kadang-kadang, saya penasaran: apakah kepalanya botak atau penuh dengan rambut lebat. Dan ia juga selalu memakai kacamata, entah plus atau minus, tapi sangat khas: bentuknya bulat, tangkai agak tebal, dan bertengger serasi di atas hidungnya yang mancung. Lalu, di kedua pipinya, ada lekukan yang agak dalam, pertanda ia sudah tua.


Seperti itulah kesan saya terhadap foto-foto Ki Hajar Dewantara yang diperkenalkan pada saya sejak kanak-kanak, baik melalui buku-buku, atau yang tertempel pada potongan kisah-kisahnya di berbagai surat kabar atau majalah. Dan barangkali, generasi kini dan yang akan datang, masih akan tetap menyaksikan foto yang sama.

Ketika saya dewasa, setiap kali Hari Pendidikan Nasional diperingati, selalu banyak artikel atau atau bahasan mengenai Ki Hajar Dewantara, dan tak jarang fotonya itu juga muncul. Saya gemar mengamatinya. Dan setelah zaman internet merebak, saya usil mencari-cari fotonya di mesin pencarian otomatis, dan saya tersenyum menemukan bahwa: Ki Hajar Dewantara itu sedikit botak pada kepala bagian depan, di atas keningnya.

Tetapi secara keseluruhan, saya kagum. Saya terpesona pada tatapan matanya yang tajam, kuat, dan memiliki sorot yang tegas. Saya temukan api semangat menyala dari situ. Dan saya bayangkan mata itu lebih berapi ketika dia bicara atau berpidato menyampaikan propaganda. Dari lekukan pada wajahnya, saya tangkap sebuah jiwa yang keras dan berkarakter, penuh hasrat, penuh cita-cita. Lalu saya simpulkan secara pribadi: ia pantas jadi bapak bangsa, bapak pendidik. Matanya bersahaja, menyimpan kewibawaan. Kewibawaan?

Ya, kewibawaan. Sejarah meneguhkan kepada kita bahwa tokoh bangsa sejak masa kolonial hingga era sekarang, adalah orang-orang yang penuh wibawa. Saya pikir, kewibawaan itulah kini yang rasanya tak lagi dimiliki bangsa ini lewat tokoh-tokohnya. Terlebih guru atau pendidik. Pada sebagian orang, wibawa mungkin bawaan sejak lahir, tapi bagi kebanyakan, wibawa lahir dari proses panjang perwujudan integritas, termasuk kadar moralnya.

Maka kita heran, jangankan murid, orangtua pun sangat hormat pada guru, pada zaman dulu. Tapi kini, guru hampir-hampir tak lagi punya wibawa bahkan dianggap tak penting oleh masyarakat. Apakah karena guru tidak lagi memiliki ilmu dan moral mumpuni, ataukah memang masyarakat sudah terlalu cerdas sehingga tidak lagi perlu menghargai guru? Entahlah.

Pada konteks inilah barangkali Ki Hajar Dewantara perlu 'dihayati' ulang sebagai panutan. Saya pribadi sangat tertarik membaca kisahnya, yang pada berberapa sumber disebut sebagai wartawan. Dan tentulah ia merupakan wartawan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia pada zamannya. Ia handal menulis, dan gagasan-gagasannya hinggal kini masih abadi.

Semboyan Tut Wuri Handayani, yang terpatri dalam benak kita, adalah semboyan miliknya. Secara lengkap, semboyan itu sesungguhnya berbunyi: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. (di depan guru memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang memberikan dorongan dan arahan).

Dan kita tahu, semboyan itu akan ideal selama-lamanya. Selain sebagai wartawan, Ki Hajar Dewantara lebih dikenal sebagai peletak dasar pendidikan Indonesia. Ia juga politisi ulung yang getol menggugah kesadaran berbangsa ketika itu, dan menjadi motor gerakan kebangkitan organisasi nasionalisme awal yang kita kenal sebagai Boedi Oetomo. Ketika Indische Partij berdiri, ia ikut di dalamnya.

Pria bangsawan yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat ini pernah merasakan pengasingan di Belanda karena vokal memperjuangankan kemerdekaan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Ketika kembali ke Indonesia, ia mendirikan dan membangun sekolah untuk semua kalangan, yaitu Taman Siswa. Meski ia bangsawan, ia peduli pada pendidikan dan masa depan seluruh kaum. Maka tak salah Soekarno mengangkatnya sebagai Menteri Pengajaran Indonesia pertama. Dan atas jasa-jasanya, ia diangkat jadi Pahlawan Nasional dan dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, dan hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei.

Baiklah, saya tak bermaksud mengulang-ulang biografi bapa kita ini, tapi entah kenapa, saya senang mengamati fotonya, yang selalu mengenakan peci, memakai kacamata bulat, entah plus atau minus, tapi sangat khas: bentuknya bulat, tangkai agak tebal, dan bertengger serasi di atas hidungnya yang mancung. Peci dan kacamata yang bagi saya seperti sebuah kisah. Sungguh berwibawa. ***
Bagikan:

31 Juli 2016

Kisah Adam Malik Kecil, Jualan Kue Demi Film Koboi

Masa kolonial tahun 1926, Kota Pematangsiantar sudah tergolong maju. Jalan-jalan protokol sudah diaspal. Listrik dan air ledeng sudah tersedia di rumah orang kaya dan pusat-pusat pertokoan. Truk sudah mulai banyak menggantikan kereta lembu mengangkut teh. Dan, sudah ada bioskop.


Suatu hari di tahun itu, bioskop di tengah kota sedang memutar film koboi berjudul Tom Mix. Setelah saya telusuri, Tom Mix ternyata Mega Bintang. Nama lengkapnya Thomas Edwin Mix, lahir 6 Januari 1880 dan meninggal 12 Oktober 1940. Sepanjang hidupnya, aktor film Amerika membintangi 291 film antara 1909 dan 1935. Dia adalah megabintang Hollywood peletak dasar genre film koboi.

Yusuf Malik tergoda dan sangat berhasrat menonton film itu. Ia kemudian mengajak adiknya, Adam Malik, untuk menonton film itu. Tapi darimana uang beli karcis? Yusuf sengaja memanas-manasi Adam yang memang dikenal cerdik dan selalu punya akal.

Perbincangan tentang hasrat menonton film koboi itu berlangsung ketika mereka dan rekan-rekan berjalan kaki pulang dari sekolah di Holland Indische School (HIS). Sesampai di rumah, Yusuf masih menggoda Adam dan memberi isyarat agar mencuri uang di toko. Maka, sehabis makan siang, keduanya berusaha masuk toko, tapi ternyata ayahnya sedang sibuk di situ dan melihat kedatangan mereka. Dan, keduanya segera hambur dan lari menjauhi toko. Mereka pergi mandi-mandi ke Sungai Bah Bolon dan bertemu teman-teman sebaya.

Di Sungai Bah Bolon itu, salah seorang teman mereka tidak ikut mandi-mandi. Ketika teman mereka bertanya tentang Parto, Yusuf  menjelaskan bahwa Parto sedang sakit. Yusuf tahu karena Parto juga anak buah ibunya, yang setiap hari menjajakan kue-kue buatan ibunya. Pikiran Adam langsung bekerja. Ia pulang dan mengambil kue-kue buatan ibunya itu, lalu menjajakannya di jalan-jalan dan lapangan sepak bola. Jadilah Adam penjaja kue dadakan. Ketika ada orang bertanya kenapa ia menjajakan kue, Adam menjawab karena Parto sedang sakit.

Setelah dagangan itu habis separoh, Adam memghitung uangnya. Sudah cukup beli karcis untuk 4 orang. Untuk dia dan abangnya, dua lagi untuk teman mereka bernama Matun dan Usman. Dan terwujudlah mimpi mereka menonton Tom Mix dengan kuda putihnya yang gagah dan lincah. Meski untuk itu Adam menyerahkan dirinya dihukum ayah: disebat dengan sapu lidi.

Potongan kisah itu saya baca di buku Si Bung dari Siantar, sebuah novel anak-anal karangan Syahwil. Syahwil menyusun novel ini berdasarkan hasil serangkaian wawancara dan rekaman yang dilakukan Upi Tuti Sundari Azmi dengan Adam Malik. Novel yang dibuat atas persetujuan Adam Malik itu diterbitkan Fa. Aries Lima, Jakarta (1978).

Sebagaimana halnya novel anak-anak, buku ini diselarsakan dengan logika anak-anak, sehingga tidak berjarak dan bisa dinikmati. Maka, dalam buku ini kita bisa 'menonton' Adam Malik kecil dengan karakternya yang khas: nakal dan gemar main-main. Dan dari perilaku itu, kecerdasan seorang anak sudah terlihat sejak dini, sebagaimana tergambar dalam diri Adam memecahkan masalah.

Pada suatu hari yang lain, Yusuf mengajak Adam lomba lari dari suatu tempat ke gardu kereta api. Taruhannya adalah kertas rokok, mungkin semacam kartu mainan anak-anak sekarang. Kartu itu digunakan sebagai alat bermain dengan anak-anak lain. Kertas rokok milik Yusuf waktu itu memang sedang kosong, dan ia tahu punya adiknya masih banyak. Dan ia tahu adiknya tak mungkin mengalahkannya. Tapi pikiran Adam langsung bekerja. Ia setujui tawaran abangnya. Siapa menang akan mendapatkan 5 kertas rokok.

Hiyaakk! Aba-aba disuarakan Adam. Mereka lari. Yusuf di depan. Saat berada di tikungan, Adam berbelok, mengambil jalan pintas. Sebelumnya ia sudah membayangkan ada jalan pintas yang lebih dekat menuju gardu meski medannya agak sulit. Saat berlari itu, Yusuf malah sesekali menoleh ke belakang dan mengurangi laju lari sembari menunggu adiknya. Dan ketika gardu sudah dekat, Yusuf terkejut sudah melihat Adam sudah berada di gardu, bergabung bersama anak-anak lain. Lokasi gardu itu memang lazim digunakan anak-anak sebagai tempat bermain.

Buku ini juga mengisahkan bahwa anak-anak masa itu suka melakukan permainan lomba lari di atas rel kereta api. siapa paling lama bertahan dan tidak terpeleset keluar rel, dialah pemenangnya. Suatu kali, Adam berjanji dengan Parto bertemu di rel. Tapi bukan untuk lomba, melainkan memberikan hadiah kepada Parto.

Lama sekali Adam memunggu Parto di rel itu, tapi tak kunjung datang. Setelah ia bosan dan mulai jengkel, tiba-tiba dari arah semak-semak sebutir batu kerikil dilemparkan kepadanya. Dan entah kenapa, ia langsung menduga bahwa itu adalah ulah Parto yang sengaja mempermainkannya. Dengan otaknya yang cerdik, dia langsung balas dendam. Katanya: "Wah, ada setan di siang bolong. Tapi aku tak takut setan. Kalau setan melemparku dengan batu kecil, aku akan membalasnya dengan batu besar. Pasti kena. Aku jago permainan gundu, sekarang bidikanku akan tepat mengenai kepala setan."

Lalu ia membungkuk mengambil batu besar untuk dilempar. Dan benar saja, saat itu juga Parto muncul dari arah semak-semak dan berkata, "Setannya menyerah. Jangan dilempar."

Tapi Adam pura-pura tak peduli. Ia malah berkata, "Mana ada setan yang mengaku. Akan kulemparkan batu ini, biar tahu rasa dia..."

"Aku bukan setan, Adam. Aku Parto."

Lalu Adam tertawa-tawa. Dua sahabat itu kemudian berpelukan. Ternyata, Parto sudah melihat Adam dari jauh, tapi agak ragu karena tubuhnya sangat gemuk. Dan di sinilah drama mengharukan itu terjadi. Adam kemudian membuka bajunya. Tapi setelah dibuka, masih ada satu baju lagi di dalam. Ia mamakai baju rangkap. Dan itulah yang menyebabkan ia kelihatan gemuk.

"Kenapa? Apakah kau sakit?" tanya Parto.

"Tidak, baju ini hadiah untukmu. Karena kau sudah pandai menulis dan membaca," ujar Adam.

Singkat kisah, Adam memberikan hadiah baju itu kepada Parto karena Parto sudah pandai menulis. Parto memang anak miskin, ayahnya hanya kuli kontrak, sehingga tidak mampu memgirimnya ke sekolah. Dan Adamlah yang mengajarinya menulis. Adam pula yang memberinya 5 buah buku tulis untuk Parto selama belajar.

Sampai di sini, saya berhenti berhenti membaca novel ini. Saya nikmati sejenak rasa haru. Dan demikianlah perlahan-lahan saya memahami bahwa sejak kecil, Adam Malik memang sudah jadi tokoh yang patut diteladani. Dan kita tahu, kelak ia jadi wartawan handal asal Siantar dan mendirikan kantor berita Antara, dan terakhir menjadi Wakil Presiden RI. Baiklah, horas buat rakyat Siantar. ***
Bagikan:

15 Juli 2016

Siantar, Sebuah Kenangan Traumatis

Oleh Panda MT Siallagan

Ketika usia saya berkisar 8 tahun, kira-kira pertengahan tahun 1987, saya berkenalan dengan Kota Pematangsiantar (lebih sering disebut Siantar) dalam arti sesungguhnya. Sebelumnya, saya tentu sudah berkali-kali singgah di kota berhawa sejuk ini, bahkan saya lahir di salah satu sudutnya. Tapi saya belum memiliki ingatan apa-apa ketika itu, hingga orangtua hijrah membawa kami ke dusun terpencil yang sunyi.
Suasana lalu-lintas di sekitar Pusar Pasar Horas Kota Pematangsiantar. [Foto/INT]
Tahun 1987 itulah ingatan saya mulai terang-benderang tentang sebuah peristiwa, termasuk tentang perkenalan menyedihkan itu. Ya, perkenalan saya dengan Siantar adalah peritiswa traumatis yang terus menghantui dan sulit saya maafkan. Waktu itu nenek meninggal. Saya ingat, ibu menangis histeris ketika kabar duka itu tiba di desa kami, suatu petang.  Esok harinya, ayah-ibu membawa kami, anak-anaknya yang masih kecil, menjenguk nenek untuk terakhir kali.

Tentang kampung kami yang sunyi, kelak akan saya bingkai dalam kisah tersendiri, juga tentang kampung nenek yang kami tuju itu. Saya ingat, hari masih subuh ketika kami berangkat dari desa, berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju sebuah simpang. Dulu, kampung itu belum bisa digapai angkutan desa (angdes), sehingga warga harus menapaki jalan sempit berlumpur jika ingin ke kota atau bepergian ke daerah lain untuk suatu urusan.

Singkat kisah, kami tiba di ibukota kecamatan, lalu naik angkutan lagi menuju Siantar. Dari Siantar, perjalanan beratus kilometer masih akan ditempuh untuk tiba di kampung nenek. Saat memasuki Terminal Suka Dame, kondektur angdes yang kami tumpangi mengingatkan penumpang agar hati-hati terhadap copet, dan cermat menjaga barang-barang, terutama dompet dan tas. Benar saja, saat angkutan tiba di terminal, segerombolan anak-anak berandal berlomba menghampiri angkutan itu, menanyai kemana tujuan para penumpang yang belum turun. Gerombolan itu bahkan berinisitif mengambil tas atau barang-barang milik penumpang.

Saya ingat dengan jelas, seorang anak muda mengambil tas kami dari atap angdes dan membawanya tanpa bertanya itu milik siapa. Ayah menyadari hal itu dan langsung menegur pemuda itu, "Heh, mau kau bawa kemana tas kami?"

Dengan santai, anak muda jelek berkulit legam itu berkata, "Tidak apa-apa, Pak. Aku bantu membawa. "Bapak mau ke Medan kan?"

"Bukan, kami mau ke S," sahut ayah.

"Sama saja, kuantar ke halte bus tujuan S," jawab pemuda itu.

Entah bagaimana awalnya, saya saksikan ayah sudah 'berkelahi' dengan pemuda itu. Ayah merebut tas kami. Pemuda itu bersikeras membawa tas itu seolah-olah miliknya. Situasi itu membuat saya beku, percampuan antara rasa takut dan amarah. Dalam situasi kalut, ibu turut membantu. Dengan marah, ibu berkata lantang kepada pemuda itu bahwa kami adalah warga Siantar dan bisa saja melakukan sesuatu untuk mengusir dia dari terminal itu. Pemuda itu melunak, menyerahkan tas kepada ayah, lalu perlahan-lahan menjauhi kami.

Persoalan tak berhenti di situ. Ketika kami duduk di ruang tunggu terminal menunggu bus tujuan S, ancaman lain muncul lagi. Saya tetap menamainya anak berandal, si tukang semir, yang meminta dengan cara kasar sepatu ayah untuk disemir. Ayah menolak dengan lembut, tapi si kecil itu tetap ngotot. Saya sebenarnya sudah nyaris menonjok anak itu andai ibu tidak melarang. Menurut ibu, meskipun mereka masih anak-anak dan bertubuh kecil seperti saya, mereka adalah orang-orang jahat yang sudah terbiasa melukai orang. Saya ciut.

Tak lama kemudian, muncul lagi pemuda berbeda, kali ini membawa buku teka-teki silang (TTS), alkitab, kidung jemaat gereja, juga buku-buku berbahasa Batak yang kelak saya tahu berisi silsilah (tarombo). Pemuda itu langsung meletakkan sebuah buku TTS di pangkuan ayah, lalu pergi. Ternyata ia melakukan hal yang sama kepada para calon penumpang bus di ruang tunggu terminal itu. Tak lama kemudian, ia muncul lagi dan bertanya kepada ayah apakah bersedia membeli buku TTS itu. Lagi-lagi ayah menolak. Dan itu berbuntut ricuh. Pemuda itu mengatakan, bukunya sudah kumal karena ayah membolak-balik halamannya, sehingga harus dibeli. Padahal, saya saksikan dengan mata kepala sendiri, ayah tak menyentuh buku itu. Ayah hanya memindahkan buku itu dari pangkuannya ke atas kursi. Pemuda itu ngomel setengah mengancam. Lagi-lagi saya naik pitam, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Adik-adik saya tampak kebingungan atas situasi itu.

Untunglah bus tujuan S tiba, dan kami masuk ke dalam. Pedagang buku yang lain naik ke dalam bus, lagi-lagi menjajakan dagangan kepada para penumpang, tapi tidak terlalu kasar seperti pemuda di ruang tunggu itu. Kelak saya tahu, jika mereka mengancam penumpang, maka kernet dan supir bus akan jadi lawannya. Sampai kini, saya ngeri membayangkan moralitas anak-anak muda itu. Bagaimana mungkin mereka bisa brutal seperti itu, sementara alkitab dan buku kidung gereja mereka bawa untuk dijajakan? Dan, ibu-ibu pedagang kue dan kacang, sama kasar dan beringasnya dengan anak-anak muda itu.

Sungguh, saya stres dan terguncang ketika itu. Ketika saya menginjak remaja dan harus lebih sering menyinggahi Siantar dalam rangka pulang-pergi ke perantauan menuntut ilmu, hal-hal menakutkan dan memalukan itu tetap terjadi. Lebih mengerikan, saya bahkan pernah diancam dengan pisau agar bersedia membeli buku TTS. Di lain waktu, dompet saya dicopet. Tentang ini, saya akan tulis dalam kisah tersendiri.

Sampai sekarang, bahkan untuk selama-lamanya, saya masih ingat wejangan ibu: hati-hati di terminal, mereka adalah preman-preman Siantar yang sesungguhnya tengik, tapi nekat melukai orang lain.

Demikianlah perkenalan saya dengan Siantar, yang selalu memunculkan kemarahan setiap terkenang. Maka, hingga saat ini, saya tidak pernah paham mengapa saya pada akhirnya tinggal dan hidup di kota yang saya benci, yang sejak usia belia sudah menanamkan amarah di dada saya. Sejak masa kanak-kanak itu, saya selalu ingin menghindari. Tapi inilah rahasia perjalanan. Kini saya mulai mencintai Kota Siantar dengan segala dinamikanya.

Dengan sedikit dendam yang masih memercik, saya kadang-kadang bertanya, sudah dimanakah kini anak-anak muda penjahat itu? Mereka tentunya sudah tua, sebagaimana saya kini mulai menginjak usia 40. Barangkali, sebagian dari mereka sudah menyeberang ke alam baka. Entahlah...! ***
Bagikan: