20 Desember 2015

Pacar Rembulan


Cerpen Panda MT Siallagan
Ilustrasi.
Karena setiap ingatan menyakitkan, maka panggil aku Rembulan, kataku malam ini. Angin terasa nyaman, dihangati sinar bulan. Dedaunan pohon beringin menawarkan kesejukan yang lain ke dalam hati kita.

"Mengapa?"

Ah, kau seperti belum pernah bepergian. Usia sudah sesenja ini, belum cukup memberi artikah banyak peristiwa? Ingat-ingatlah semua kepedihan, hatimu pasti sakit. Ingat-ingat juga segala kebahagiaan, hatimu juga pasti sakit. Begitulah, kekasih, hal-hal yang hilang pasti menyakitkan. Tentu, ada ingatan yang indah, baik pedih maupun bahagia. Maka, panggil aku Rembulan.

"Mengapa?"

Aduh, kau belum paham juga. Ingatkah kau pacar pertamamu? Ketika pertama kali kaukecup bibirnya, tangannya yang lembut menampar pipimu, iya kan? Dan kau pasti bahagia ketika mengenangnya, menatap rembulan pada malam yang dingin, bermanja-manja dengan lengang. Begitulah, dengan egoisme dan kelicikan usia remaja, kau mungkin pernah merayunya dengan berkata bahwa dialah satu-satunya perempuan yang kaucintai. Dialah perempuan yang membuatmu masuk ke tahap dewasa awal, sebab berpisah dengannya membuatmu berpikir tentang kematian. "Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku akan bunuh diri jika kau meninggalkanku."

Nyatanya, ketika lengan kecil pacarmu itu merangkul pinggang lelaki lain, kau hanya mengumpat, melupakannya, lalu senyum-senyum sendiri mengenangnya, sambil memandang rembulan. Mungkin sambil merayakan kemenangan karena kau baru saja mendapatkan kekasih yang lebih cantik. Tak ada luka sebenar dalam hidup ini. Tak ada bahagia sebenar sepanjang perjalanan ini. Dan tentang cinta, kepada kita telah selalu dikisahkan: Once upon a time , hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai tapi harus berpisah karena perang. Tetapi, sepasang kekasih itu selalu bertemu pada bulan purnama. Yah, selalu wajah mereka saling bicara di wajah bulan....

"Itu bukan dahulu kala," kau menyela. "Kisah itu ada di depanmu, di halaman rumah kita."

Ah, lagi-lagi kau seperti belum pernah bepergian. Sejarah, sayangku, bukan peristiwa yang berjalan lurus. Ia seperti hatimu. Meskipun banyak hal kauyakini telah usai, adakalanya hati akan membawamu mengunjungi banyak peristiwa. Ketika wajah kota muram oleh gerimis, kau menemui lagi pacar keduamu di tepian sungai. Kalian duduk dengan kaki berselonjor ke dalam air. Sayangku, katamu dengan suara renyah, bagaimana kalau tiba-tiba kedua kakimu berubah jadi ekor ikan, dan kau menjelma putri duyung? Kekasihmu menyahut: ‘Aku akan bersusur di sepanjang sungai, mencari pangeran-pangeran ikan. Aku akan bercinta dengan mereka sepuas hatiku. Sebab mereka pasti lebih tampan daripada kau.' Merasa kalah, kau bangkit secara mendadak, berlari dan berteriak dengan keras: Awas, ada buaya... ada buaya. Kekasihmu ketakutan, lalu mengejarmu. Setelah itu kau tertawa. Kekasihmu jatuh ke pelukmu dengan tubuh gemetar, lemas karena sandiwara kecilmu.

Hati juga akan membawamu ke suatu masa di mana segala sesuatu masih tampak sempurna. Gubuk kecil tempat bapa dan ibu merawatmu. Kali kecil berair jernih. Sawah dan ladang hijau. Hutan-hutan yang ditumbuhi pohon-pohon tegak. Gunung dan perbukitan yang mengokohkan jiwa. Kicau burung dan kokok ayam yang membangunkanmu pada pagi hari. Jalanan berbatu yang kaulintasi setiap pulang-pergi sekolah. Juga kau kecil yang suka usil pada teman-teman perempuanmu. Pernah, kan, kau menjambak rambut gadis tercantik di kelasmu?
"Ah, kau mengigau. Aku tak pernah memiliki semua itu. Aku tumbuh dan besar di sebuah bandar," katamu.

Oleh sebab itu, panggil aku Rembulan, kataku. Malam ini semakin dingin, bulan mulai lenyap disapu awan, bintang-bintang menyisih entah kemana. Tapi percakapan kita masih hangat, seperti tak akan terusir oleh apapun.

"Mengapa?"

Ah, kau membuatku gemas. Ingin kucakar hatimu yang tak juga mengerti. Tidak tahukah kau makna setiap kenangan? Aku pernah melihat bulan rebah di sepanjang pantai. Kadang ia menari-nari digoyang ombak. Agak jauh di utara, sedikit menjorok ke arah laut, kapal-kapal mengonggok. Tiang pelabuhan bercerita tentang sunyi sejarah. Peluit-peluit kapal meruncing seperti ingatan yang menusuk. Kapten dan anak buah kapal berbondong-bondong menuju restoran-restoran murah, tentu dengan harapan bisa melingkarkan tangan di pinggang pelacur-pelacur pelabuhan. Ah, bagian ini membuatku sedih. Kau mirip seperti anak buah kapal bertubuh kecil. Ya, kau mirip seperti lelaki berkulit hitam dan berbulu itu, warna kalian mirip seperti malam. Wajah kalian seperti kegelapan kota yang terbakar. Di atas pasir, dialah lelaki yang mengajariku cinta, juga kehidupan.

"Kau bersetubuh dengannya?"

Cinta dan kehidupan tidak melulu lahir dari persetubuhan. Kau tahu, lumut-lumut yang menghijau di dinding kapal dan dermaga itu tak tumbuh dari persetubuhan. Kau, ah, bukan, tapi lelaki itu. Lelaki itu menjadikanku adik. Meski tubuhku mungkin berkali-kali menyulut birahi di hatinya, tapi ia tak pernah tega mengecapnya. Dan aku salah telah mencintainya dengan membabibuta. Ketika kuutarakan debarku, ia mengelak dan pergi untuk tak kembali. Kau seperti adikku, katanya. Ada apa dengan adikmu? Aku bertanya. Tapi ia terus saja mengayun langkah. Tetapi, dari teman-temannya sesama anak buah kapal aku tahu bahwa adiknya meninggal di sebuah kerusuhan. Padahal, dia sudah berkorban menghentikan kuliahnya demi mencari biaya untuk sekolah adiknya. Pada awal-awal pertemuan kami, ia pernah bercanda dengan berkata bahwa ia seorang aktivis yang lari dari kampus. Jika aku bertahan, mereka pasti sudah menculik dan menghabisi nyawaku. Itu artinya kita tidak akan bertemu, katanya.

Lama sesudahnya, barulah aku berpikir bahwa kalimat ‘kita tidak akan bertemu' adalah ungkapan syukur dari seorang lelaki yang beruntung menemukan sosok adiknya dalam diri orang lain, bukan rasa syukur karena bertemu dengan lawan jenis yang membuatnya jatuh cinta, sebagaimana perasaanku padanya. So, once upon a time, sesuatu pernah hancur. Seperti sejarah, peristiwa-peristiwa akan berulang. Kemiskinan, bencana, kesewenang-wenangan penguasa, perang, teror, semua akan berulang. Pikiranku kacau, kekasih, sebab selalu lelaki itu kuanggap sebagai kau. Oleh sebab itu panggil aku Rembulan.

"Tapi aku cemburu cahaya hatimu masih tetap untuk lelaki itu."

Jangan munafik. Pacar ketigamu membuatmu hampir lumpuh. Ingat kau bagaimana ia selalu mengirimimu puisi-puisi. Tapi kau tak pernah belajar memahami puisi. Ia juga mengepak doa-doanya dalam surat cinta. Mestinya kau sudah lebih pandai merawat waktu. Tapi apa? Kau bahkan mengutuk pagi, menyumpahi siang, memaki malam sebab saban waktu perempuan itu mengoceh tentang puisi. Kau tidak butuh itu. Kau hanya butuh tubuhnya, kau hanya ingin bermain-main dengan gelombang birahi di tubuhnya. Apa kau kira gelombang laut yang membuncah-buncah di sepanjang pantai selalu bisa menjadi isyarat cinta dan kehidupan yang dasyat? Tidak sayangku, tidak. Mestinya kaubaca puisi-puisi itu, rekaman kehidupan itu.

Di situlah kematian saudara-saudaramu terkisahkan, ibumu yang tak sudah-sudah meminum air mata sendiri. Juga adik-adikmu yang telanjang, berlari-lari mengejar keriangan di sepanjang pantai. Coba jawab aku, mengapa kau tak belajar memahami puisi-puisi itu? Kau malah meninggalkannya, mabuk-mabukan dengan pacar keempatmu. Pacar keempatmu lalu meninggalkanmu, sebab pelacur tak butuh cinta. Dan seperti keangkuhan seorang penakluk, kau terus saja memburu perempuan. Tapi aku tahu hatimu tak pernah lepas dari perempuan itu, penyair itu, pendoa itu. Sebab sesungguhnya, perempuan seperti itulah yang bisa menyelamatkan lelaki bajingan seperti kau. Tapi, seperti kau tahu, tak ada perempuan baik seperti dia yang mau mencelakakan diri demi lelaki seperti kau. Maka, kekasihku, bersyukurlah kau atas cintaku.

"Bersyukur? Aku harus bersyukur untuk pelacur seperti kau?"

Ah, kau barangkali memang belum pernah bepergian. Kau tidak tahu lukaku. Kau tidak punya apa-apa selain kedunguan. Oleh sebab itu, panggil aku Rembulan.

"Mengapa?"

Uhh... tak adakah tanya selain itu, kekasihku? Sini, kecup keningku, biar kuceritakan. Lihat, kita sedang duduk di bawah pohon beringin ini. Dan sisa gedung terbakar di sebelah sana adalah saksi betapa sudah banyak orang yang singgah dan mengomeli hidup di bawah pohon ini. Dan sekiranya pohon ini bisa bercerita, buku setebal jumlah jam usiamu tak akan mampu menampungnya. Dan ini yang terpenting: Kau lihat sinar bulan itu, kekasihku, tumpah ke bumi dalam bentuk utuh, tapi menjadi berserpih ketika terbentur pada benda-benda. Lihat, setelah membentur daun-daun beringin ini, cahaya itu berserak serupa remahan, remahan cahaya. Begitulah perjalanan. Ada yang selalu rontok, pecah, hancur dan bersisa jadi remahan-remahan peristiwa dalam ingatan. Sebab itu setiap ingatan pasti menyakitkan. Tentu, ada ingatan yang indah, betapapun peristiwa teramat sakit.

"Lalu, mengapa aku harus memanggilmu Rembulan?"

Kau belum paham juga. Sudahlah, aku pergi.

"Ke mana?"

"Meninggalkanmu?"

"Kenapa?

"Karena kau tak paham kata-kataku."

"Pergilah!"

Lalu kosong. Kulintasi sepi yang menusuk-nusuk tubuhku malam ini. Kuayun langkah dengan airmata bercucuran di pipi. Benarkah kau menyuruhku pergi. Benar, kan, kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Kau mestinya memanggilku, merengkuh tubuhku dan memintaku menjelaskan lagi kenapa kau harus memanggilku Rembulan. Kau mestinya merayuku agar aku tidak pergi. Apakah karena aku pelacur? Ah, aku bukan pelacur. Aku hanya diperlakukan seperti pelacur. Kau memang tak pernah sungguh-sungguh mencintaiku.

"Sayang, jangan pergi. Aku sungguh mencintaimu."

Kau menyusulku? Ketika aku membalikkan badan, kau langsung mendekapku. "Aku mencintaimu, Rembulan."

Kau memanggilku Rembulan?

Kau tersenyum, mengangguk.

Jika begitu, aku harus pergi.

"Kenapa?"

Karena kau sudah memanggilku Rembulan.

"Lho?"

Karena setiap ingatan pasti menyakitkan. Karena remahan-remahan cahaya bulan selalu seperti sejarah. Berserpih. Berpuing. Ayahku mati. Ibuku mati. Saudara-saudaraku mati. Kau mati. Teman-temanku mati. Tapi perang tak usai-usai. Bencana tak hendak sudah. Bom tetap saja meledak. Biarkan aku pergi. Dan tahukah kau, sayangku, setiap kali aku datang ke tempat ini menemuimu, pemuda-pemuda berndal di simpang sana selalu berbisik satu sama lain, "Lihat, perempuan gila itu datang lagi ke pokok beringin."

Padahal aku hanya ingin menatap rembulan. Ingat, kan, di tempat ini dulu kau berkata bahwa wajahku mirip bulan. Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau datang menghajar pemuda-pemuda dan berkata kepada mereka, "Dia Rembulanku." Kau seharusnya membunuh mereka, karena pemuda-pemuda berandal seperti merekalah yang menjarah, membakar dan memperkosaku. Maka biarkan aku pergi.

"Kenapa?"

"!!!"***

Pekanbaru, Januari 2005

Bagikan: