18 Agustus 2026

Antara Altar dan Panggung Sandiwara

Oleh: Panda MT Siallagan

Di tengah gemuruh zaman yang riuh oleh kilau layar dan dahaga pengakuan, kita sebaiknya berhenti sejenak: menatap lekat cermin pelayanan. 

Cermin itu bukan sekadar pantulan rupa, melainkan permukaan bening yang membuka kedok jiwa. Di sana, di antara altar yang kudus dan panggung yang indah, tergelar sebuah pertanyaan abadi: apakah kita sedang menyembah, atau justru sedang mempertontonkan diri? 

Altar adalah ruang sunyi dimana manusia berjumpa dengan Yang tak Terhingga. Di atasnya, kurban dipersembahkan, air mata ditumpahkan, dan hati remuk oleh kesadaran akan kerapuhan. Namun di sisi lain, panggung adalah ruang gemerlap, dimana sorot lampu dan tepuk tangan menciptakan ilusi keabadian. 

Ketika altar menjelma jadi panggung, pelayanan tidak lagi menjadi ibadah, melainkan pertunjukan. Dan di dalam pertunjukan, yang dicari bukan lagi kehendak Tuhan, melainkan pengakuan manusia. 

Kita hidup di era ketika narsisisme spiritual tumbuh subur di bawah jubah pelayanan. Jabatan gerejawi, entah pendeta, penatua, diaken, atau pengurus gereja, sering kali disalahpahami sebagai mahkota kehormatan, bukan salib kehambaan. Padahal, dalam terang filsafat iman, pelayanan sejati adalah jalan penyaliban diri. 

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard,  pernah mengingatkan: menjadi Kristen sejati berarti hidup dalam ketegangan antara panggilan ilahi dan godaan untuk menjadi 'aktor rohani' yang memainkan peran suci di hadapan penonton. 

Ketika pelayan gereja mulai menikmati sorotan dan pujian, sesungguhnya ia sudah berhenti menjadi gembala. Dia sudah jatuh jadi hamba setan, mengagungkan diri sebagai selebritas religius. 

Contoh nyata dalam kehidupan bergereja hari ini adalah relasi antara pendeta dan penatua. Idealnya, relasi ini adalah simfoni pelayanan: saling melengkapi, saling menegur dalam kasih, dan bersama-sama menanggung beban jemaat. 

Namun relasi itu seringkali berubah menjadi medan perebutan kekuasaan. Pendeta merasa otoritasnya terancam oleh suara kritis penatua. Atau sebaliknya, penatua menganggap dirinya 'pemilik gereja,' karena jabatan struktural yang dipegangnya. Di sini integritas diuji: apakah kita rela ditegur demi kebenaran, atau kita memilih membangun tembok pertahanan ego? 

Alkisah, seorang pendeta selalu ditahbiskan dengan penuh harapan. Tapi dalam perjalanan pelayanannya, justru lebih sering mengunci diri di ruang kerja daripada turun ke ladang penggembalaan. Rapat-rapat gereja berubah menjadi ajang orasi, bukan diskusi. Ketika seorang penatua mencoba menyampaikan keprihatinan jemaat, pendeta itu menanggapinya sebagai serangan pribadi. Alih-alih berdialog, ia menanam pengaruh untuk menyingkirkan sang penatua dari jabatannya. 

Akibatnya, gereja bukan menjadi rumah kasih, melainkan panggung drama politik rohani. Umat yang haus akan kebenaran harus menyaksikan perpecahan yang menyakitkan, dan nama Tuhan dipermalukan di ruang publik. 

Filsafat mengajarkan kita bahwa akuntabilitas adalah bentuk tertinggi dari tanggung jawab moral. Dalam konteks pelayanan, akuntabilitas bukanlah alat untuk saling menjatuhkan, melainkan cermin yang memantulkan kebenaran tentang diri kita. 

Tanpa akuntabilitas, integritas hanyalah slogan kosong. Dan tanpa integritas, iman kehilangan akar. Sebab iman sejati bukan tentang seberapa fasih kita berdoa di atas mimbar, melainkan seberapa setia kita hidup dalam kebenaran ketika tidak ada yang melihat. 

Nilai iman dalam pelayanan gereja justru paling terang ketika kita bersedia untuk tidak menjadi pusat perhatian. Yesus adalah teladan utama: Ia yang adalah Allah, justru mengambil rupa hamba, membasuh kaki murid-murid-Nya, dan mati tanpa sorak-sorai pengakuan. 

Di taman Getsemani, tidak ada panggung. Hanya ada tanah, keringat, dan darah. Di sanalah pelayanan sejati dilahirkan, bukan di atas panggung kemuliaan, tetapi di lembah penghambaan. Bukan di dalam jubah mewah, tapi di lebur dalam kerendahan hati. 

Relasi sesama pelayan yang buruk bukan hanya melukai pribadi yang terlibat, tetapi juga mengguncangkan iman banyak orang. Seorang penatua yang tersingkir karena konflik pribadi, sering kali menjadi saksi bisu bagi jemaat:  bahwa kasih bisa mati di dalam gereja. 

Padahal, panggilan gereja adalah menjadi komunitas alternatif, sebuah ruang dimana kekuasaan dilucuti, status disamakan, dan setiap orang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi di hadapan Tuhan. Di sinilah ironinya: gereja yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan justru berubah menjadi ruang pengadilan, tempat para pelayan saling menuduh demi mempertahankan citra dan kemuliaan diri. 

Di era digital, godaan untuk memamerkan kesalehan semakin mengaburkan makna pelayanan. Unggahan kegiatan rohani, potongan khotbah yang dikemas sinematik, hingga foto-foto pelayanan sosial yang dirancang sedemikian rupa, semua itu bisa menjadi alat untuk membangun citra, bukan untuk memuliakan Tuhan. 

Terkadang, menjenguk jemaat sakit pun dijadikan momen panjat sosial dengan menyebarkannya ke ruang-ruang digital. Padahal, secara etika, kita harus minta izin jika ingin menyebarkan foto orang sakit. 

Sebab tindakan itu dianggap kurang sopan dan melanggar privasi. Kondisi sakit adalah momen rentan di mana seseorang harus dihargai dan biasanya tidak ingin memperlihatkan penampilannya yang sedang lemah kepada publik. 

Menjenguk seharusnya bertujuan memberikan dukungan moral dan kesembuhan, bukan untuk dibagikan ke grup perpesanan. 

Virtue signaling menggantikan pertobatan. Kita lebih sibuk menampilkan kebaikan daripada hidup dalam kebaikan itu sendiri. Kita ingin dilihat berdoa, tetapi lupa tujuan dan makna doa. Kita ingin dianggap rendah hati, tetapi tidak rela kehilangan tempat, kepanasan saat diberi masukan. 

Seorang filsuf Prancis, Jean Baudrillard, mengatakan bahwa dunia modern dipenuhi oleh simulacra, yaitu simulasi atau citra dari sesuatu yang tidak lagi memiliki realitas asli. Gereja yang terjebak dalam simulakra akan menjadi museum simbol tanpa kuasa transformasi. Ia tampak megah secara visual, tetapi kering secara spiritual. Maka, panggilan untuk kembali kepada altar adalah panggilan untuk mengoyak tirai kepalsuan, membiarkan terang kebenaran membongkar setiap topeng kita. 

Akuntabilitas yang sehat menuntut kerendahan hati untuk menerima koreksi, dan keberanian untuk mengakui kesalahan. Dalam relasi pendeta dan penatua, ini berarti membangun kultur transparansi dan saling menghormati. Saling menghormati, itulah standar profesionalisme ala Kristus. Dan saling menghormati bukan berarti diam dalam pusaran kebusukan. Kemunafikan harus dilawan, itulah  persekutuan sejati para hamba. 

Ketika seorang pendeta bersedia mendengar kritik penatua, dan seorang penatua tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk menjatuhkan, di sanalah gereja menjadi saksi hidup dari kerajaan yang akan datang. 

Pada akhirnya, pelayanan bukanlah tentang seberapa tinggi kita dihormati dan diakui, tetapi seberapa dalam kita bersedia merendah. Merendah bukan untuk dilihat. Sebab altar tidak butuh panggung. Ia hanya butuh hati yang hancur dan roh yang menyesal. Maka, mari menatap cermin itu itu lagi, bukan untuk mengagumi diri, melainkan bertanya: sudahkah aku melayani tanpa ingin dilihat? Sudahkah aku mengasihi tanpa berharap dibalas? Sudahkah aku setia dalam yang kecil, ketika tidak ada yang memuji? 

Sebab di balik tirai yang tersingkap, Tuhan tidak memandang jubah, jabatan, atau jumlah penonton. Ia memandang hati. Dan di dalam keheningan itu, pelayanan sejati lahir bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai persembahan, sebagai ucapan syukur atas nyawa yang diberikanNya. ***
Bagikan: