05 Juni 2016

Nabokov dan Peri-peri Asmara

Oleh Panda MT Siallagan

Peri-peri asmara
Ilustrasi/Internet
Tahun ini kita dikejutkan sejumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak yang menggelinding hingga ke istana. Ulasan tentang hukuman terhadap pelaku bergulir amat panjang. Dan, kebiri menjadi tema lazim. Betapa memalukan sebetulnya: pemotongan alat kelamin diperbincangkan sedemikian vulgar.

Saya ringkaskan sebuah kisah: Humbert Humbert (selanjutnya disebut H.H) dan Annabel saling jatuh cinta pada usia yang sangat belia. H.H berusia 13 tahun, lebih tua beberapa bulan dari Annabel, sang peri asmara. Betapapun rapuh kisah-kisah hati permulaan semacam ini, tapi ia bisa sangat gila dan mengetengahkan dua jalur berbahaya: kehancuran atau kedewasaan.

Seperti itulah pengakuan H.H, perasaan saling memiliki itu telah membuat mereka gila dan hanya bisa dihentikan dengan perbauran seluruh jiwa dan raga antara keduanya. Gampang diduga, H.H dan Anabella kemudian terjebak dalam percobaan-percobaan liar tentang bagaimana gelegak yang merusakkan jiwa itu diekspresikan. Dan secara alami, Humbert dan Anabella sampai pada pengalaman spiritual, tentang bagaimana dan mengapa mereka hadir di dunia yang penuh misteri ini.

Singkat simpul, mereka seolah tiada lagi terpisahkan dan hanya akan mampu menatap dunia dalam kebersamaan yang sesunggguhnya tiada harapan. Sebab, pertemuan emosional yang mereka perankan itu adalah neraka bagi orang-orang yang melihat pasangan itu sebagai bocah. Dan demikian adanya: mereka memang bocah yang baru saja menemukan alamnya yang mengerikan, sekaligus membahagiakan, dan kita menyebut mereka sebagai monyet dengan cap ‘cinta monyet’.

Di tengah ekstase yang membubung itu, otak dan jiwa H.H tiba-tiba pecah dan retak, sebab Anabella meninggal diserang tifus, empat bulan sejak mereka saling jatuh cinta. H.H tertinggal, terdampar dalam sepi yang gerun sebagai pangeran kecil yang tak punya pijakan untuk sekedar menjerit atau berteriak. Siapapun dapat memahami, betapa tak tertanggungkan luka itu. Dan H.H tumbuh dalam rasa sakit yang tak bisa dipahaminya selama-lamanya.

Sejak itu hingga H.H dewasa, retakan itu terus membayang-bayangi hidupnya dan sesosok hantu mengerikan lahir secara alami dalam jiwanya: ia terobsesi pada Annabel yang bocah, dan ia tak bisa lagi mencintai wanita dewasa. Ia bisa merasa jijik pada pada wanita-wanita anggun berbau parfum, tapi setiap menyaksikan gadis kecil seusia Annabel, jiwanya menyala seperti api yang siap menggilas segala yang mungkin terbakar. Meski sekuat-kuat kesadaran ia meredam dosa memalukan itu, tapi pada akhirnya ia kalah, remuk dan tak berdaya, dan ia tahu: eksistensinya sebagai manusia terjerembab dalam getaran-getaran dasyat setiap bertemu dengan gadis-gadis kecil, yang kemudian ia namai: peri-peri asmara.

Maka kita kemudian mahfum, alangkah bahagia H.H menyaksikan gadis-gadis kecil itu bergerombol ketika pergi dan pulang sekolah, betapa rindunya ia pada Annabel yang anggun dalam ingatannya yang penuh derita. Ia sempat menikah dengan seorang wanita bernama Valeria, tapi rumah tangga itu segera berakhir karena Valeria memilih pergi bersama pria lain.

Ketika usia H.H menginjak 40 tahun, ia bermigrasi ke Amerika, dan malapetaka Annabel itu sepertinya tak akan berakhir. Ia jatuh cinta kepada gadis bocah bernama Lolita, putri induk semangnya. Sementara di lain pihak, induk semangnya yang sudah janda itu jatuh cinta padanya dan baginya itu sangat memuakkan. Tapi, agar selalu bisa berdampingan dengan Lolita pujaan hatinya, H.H bersedia menikahi ibu gadis itu. Dan takdir berpihak padanya, ibu si gadis meninggal dalam sebuah kecelakaan.

H.H menemukan impiannya yang sesungguhnya, dan membawa anak tiri sekaligus kekasihnya itu berkelana mengelilingi Amerika, menikmati cinta terlarang yang getir, kontroversial, dan penuh dengan saputan rasa takut. Selama dua tahun H. H bersama Lolita berkelana dari satu tempat ke tempat lain, hidup dihantui rasa cemburu yang tak tertanggulangi, hingga gadis itu akhirnya melarikan diri.

Dua tahun lebih H.H menghabiskan waktu mencari gadis itu. Dan ketika mereka bertemu lagi, Lolita sudah menikah dan sedang mengandung anak pertamanya. Pada bagian inilah H.H sadar bahwa ia tidak hanya mencintai Lolita sebagai anak kecil berusia dua belas tahun, tapi benar-benar mencintai Lolita tanpa hitung-hitungan usia.

Kisah berakhir dengan sebuah aksi pembunuhan. Ya, H.H membunuh suami Lolita yang menyia-nyiakan kekasihnya. Tapi bagaimanapun, H.H bukan seorang hipokrit berhati keji. Ia mengakui dirinya sebagai pengidap pedofilia buas yang sewaktu-waktu dapat merusak kehidupan gadis-gadis kecil, dan untuk menahan kebuasan itu, ia sudah berpengalaman menanggung derita, seperti diakuinya: Aku tahu benar apa yang kulakukan dan bagaimana melakukannya tanpa menodai kesucian seorang bocah. Aku yang berpengalaman dalam kehidupan pedofiliaku, yang angan-angannya terasuki peri-peri asmara yang bertebaran di taman-taman, telah menahan kuat-kuat kebuasanku di sudut sebuah trem yang paling panas dan paling padat disesaki anak-anak sekolah.

Pengakuan H.H terkisah secara menakjubkan dalam novel berjudul Lolita, gubahan Vladimir Nabokov, sastrawan dua negara yang sangat bertentangan. Nabokov lahir di St Petersburg, Rusia, dan menjalani hidupnya sebagai putra pejabat kaya pengikut Kaisar. Proses kreatif kesastraan Nabokov jauh-jauh hari sudah terbentuk secara mapan di Rusia, lalu ia hijrah ke Amerika. Lolita ditulis setelah ia berada di Amerika. Novel kontroversial ini sempat dilarang beredar di Amerika, tapi pada akhirnya, Lolita dianggap menjadi salah satu novel terbaik di dunia.

H.H, tokoh utama dalam novel itu, saya ketengahkan untuk direnungkan dan nyatalah bagi kita: pedofilia dilatari peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa dan sesungguhnya, perasaan cinta yang senantiasa menggebu pada gadis-gadis cilik tidak lahir bersama hasrat kekerasaan. Tapi, sebagaimana bisa kita tangkap dalam kisah ini, pengidap pedofilia yang ditolak secara membabi-buta di tengah-tengah masyarakat, telah menjadikan mereka jadi pecinta yang dipenuhi rasa takut, mahluk amoral yang gila dan harus disingkirkan dari muka bumi ini.

Maka ketika tak ada jalan dan ruang pembenaran bagi cinta mereka atas gadis-gadis cilik, mereka melakukannya dengan kekerasan yang dipenuhi rasa putus asa: menunaikan cinta sekaligus mengakhirinya dengan kepasrahan pada maut. Maut pada kekasih hati, sekaligus maut pada diri sendiri.  Sekarang mari bertanya, mengapa Negara mewacanakan kebiri sebagai hukuman bagi mereka? Mengapa tak ada upaya menghormati kenangan traumatis yang menyebabkan gangguan kejiwaan itu muncul? Mengapa diskusi tentang hal itu serasa tersingkir?

Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1955 di Paris, Perancis, dan itu menunjukkan kepada kita bahwa Pedofilia sudah ada sejak setengah abad atau bahkan ratusan tahun silam, dan Indonesia baru saja digemparkan dampaknya yang mengerikan beberapa bulan belakangan ini. Pada akhirnya, saya ingin mengatakan hal sederhana: andai para elit dan tokoh-tokoh bangsa membaca sastra, barangkali tak perlu ada wacana memalukan soal kebiri, kita barangkali hanya perlu membentuk ruang-ruang yang lebih manusiawi untuk mengenal dan menyiasati ihwal kejiwaan tiap-tiap warga. ***

Sumber: Sumut Pos, 5 Juni 2016
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar