20 September 2017

Lirik Lagu 'ATIK' dan Artinya...


ATIK
Cipt. Jhoni S Manurung

Atik...
Atik na on ma pajumpang
Di hita on namarsihaholongan
Jalang ma au
Jalang ma au da hasian

(Barangkali...
Barangkali ini pertemuan terakhir
Di antara kita yang saling mengasihi
Jabatlah tanganku
Jabatlah tanganku, kekasih)

Molo...
Molo masihol ho di au
Tu bulan i tu bulan i tatap ma au
Pasombu sihol ni roham da hasian

(Jika...
Jika kau rindu padaku
Pada bulan, pada bulan tataplah aku
Tuntaskan rindumu, kekasih)

Atik naon nama
Hita pajumpang muse
Jalang ma tanganhon
Jalang ma au da hasian
Tangiangmi ma bahen ito
Paborhat au

(Barangkali ini terakhir
Kita bertemu
Jabatlah tanganku
Jabatlah aku kekasihku
Biarlah doamu tulusmu
Memberangkatkan aku)

Anggiat...
Sai anggiat ma nian
Pittor hatop
Pittor hatop
hamu mangihut
Anggiat ma tibu hamu
Dapotan rokkap

(Semoga...
Semoga kiranya
Segera
Segera
Kalian mengikut
Semoga kalian segera
Bertemu jodoh)

Atik na on nama
Hita pajumpang muse
Jalang ma tanganhon
Jalang ma au da hasian
Tangiang mo ma bahen ito, paborhat au
Tangiang mo ma bahen ito, paborhat au

(Barangkali ini terakhir
Kita bertemu
Jabatlah tanganku
Jabatlah aku kekasihku
Biarlah doamu tulusmu, Memberangkatkan aku
Biarlah doamu tulusmu, Memberangkatkan aku)

Frans Sirait - Atik


Bagikan:

19 September 2017

Lirik Lagu Dang Hurippu Ho Siose Padan dan Artinya - New Lasidos Trio


Dang Hurippu Ho Siose Padang

Cipt. Bunthora Situmorang

Dang hurippu ho ito marsidalian
Dang hurippu ho ito si ose padan
Hata naung ni undukmi ito
Dietong ho do meam meam
Muba do roham



dung tamat ho sikkola bidan
(Tak kusangka kau mencari alasan
Tak kusangka kau mengingkar janji
Ikrar yang telah kau setujui
Kau perlakukan seperti sandiwara
Hatimu berpaling
Setelah kau tamat sekolah bidan)

Sundat do au manongos tu da inang
Molo ro hatam mandokhon hahurangan
Molo so adong ito
Topet hepeng di tangan hasian
Loja do pamatanghi
Mandiori parsalian

Ilustrasi

(Kutunda mengirim uang kepada ibu
Kalau kau mengeluh kekurangan
Jika uang kebetulan tak ada di saku
Lelah aku ke sana kemari
Mencari pinjaman)

Aut tibu huboto ma nian ito
Holongmi tu au parsatokkinan do
Ra dang songon i pakhophop i tu ho ito
Suda na niomo passarianki tu ho

(Andai dari awal kutahu
Cintamu padaku hanya sesaat
Tidak akan seperti itu kuperjuangkan kau
Habis jerih payahku untuk dirimu)

Alai tung sojadi hu tonggohon ho
Manang husumpahon asa sega ho
Singot singot ma diau di ngolukhon ito
Dainang hulupahon holan alani ho

(Tapi tak akan kusumpahi kau
Tak akan kudoakan hancur hidupmu
Akan kuanggap ini pelajaran dalam hidupku
Ibuku kulupakan demi dirimu)

Horas maho ito
Horas ma nang au
Gabe ma ho ito
Gabe nang au

(Damai sejahteralah kau
Damai sejahtera juga aku
Kiranya engkau sukses
Sukses juga aku)

*****
Bagikan:

Lirik Lagu Ro Do Au dan Artinya


Ro Do Au


Ro Do Au
Cipt. Tilhang Gultom

Ro do au
Sian luat nadao i
Lao mandapothon ho
O ito na uli lagu
Holom potpot hutaon do i
Udan ambolas husuruk do i
Holom potpot hutaon do i
Udan ambolas husuruk do i

(Aku datang
Dari rantau yang jauh
Oh kekasihku yang cantik
Kelam pekat kutahankan
Hujan badai kulintasi
Kelam pekat kutahankan
Hujan badai kulintasi)

Unang ho
Gulut di arta sian au
Unang ho
Cinta di rupa sian au
Ai arta  na sinari doi
Nang rupa pe satokkin doi
Ai arta  na sinari doi
nang rupa pe satokkin doi

(Jangan kiranya engkau
berharap harta dariku
Jangan kiranya engkau
Cinta akan wajah terhadapku
Sebab harta bisa dicari
Wajah juga tidak kekal
Sebab harta bisa dicari
Wajah juga tidak kekal)

Ilustrasi.

Boha roham tu au
ai na manukkun ma au
Hapogosonki nga hupaboa i tu ho
Beha roham tu au
Alusi au

(Bagaimana hatimu padaku
Aku bertanya padamu
Kemiskinanku sudah kuberitahu padamu
Bagaimana hatimu padaku
Jawablah aku...)
Bagikan:

04 Agustus 2017

Sastrawan Batak Bokor Hutasuhut Tutup Usia


SolupL - Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya, Bokor Hutasuhut. Sastrawan angkatan 50 ini tutup usia pada Jumat dinihari 4 Agustus 2017. Kabar itu disampaikan sastrawan Suyadi San melalui Grup WA Ruang Sastra yang anggotanya terdiri dari ratusan sastrawan Indonesia.

"Innalillahi Wa Innailahi roji'un. Telah meninggal dunia sastrawan Indonesia asal Sumatera Utara Bokor Hutasuhut Jumat dinihari 4 Agustus 2017. Jenazah disemayamkan di rumah duka Gang Mandailing, Medan. Dimakamkan siang ini," demikian Suyadi San mengabarkan, Jumat (4/8/17).

Nama Bokor Hutasuhut tidak setenar Chairil Anwar atau Sitor Situmorang. Tapi ia sangat penting dalam sejarah sastra Indonesia. Ia bernama asli Buchari Hutasuhut, lahir pada 2 Juni 1934 di Balige, Tapanuli Utara (kini menjadi Toba Samosir).

Bokor menjadi salah seorang sastrawan yang turut menandatangani Manifes Kebudayaan bersama Gunawan Mohamad dan Wiratmo Sukito sebagai konseptor yang merupakan bentuk perlawanan 20 seniman Indonesia terhadap Lekra.
Sebagai sastrawan Indonesia angkatan 1950-1960-an, Bokor turut peduli pada kehidupan masyarakat, dan itulah yang menjadi alasan kuat ketika itu untuk ikut menandatangani Manifes Kebudayaan. Apalagi saat itu Lekra menuduh Hamka melakukan plagiat dan rencana pemberangusan buku-buku budaya dan sastra kaum penulis yang digolongkan sebagai pemaklumat Manifes.

Suatu ketika HB. Jassin menulis surat kepada Bokor, meminta pertimbangan Bokor agar dicari jalan keluar lewat kenalan-kenalan politik suaya kaum Manifes tidak terus “dianiaya” oleh lawan-lawan “politik”nya, yakni Lekra yang berlindung di balik Pemimpin Besar Revolus waktu itu. Bokor dan Pram saling serang dalam perang wacana tentang orang revolusioner atau bukan. Bokor memang tak sekedar sastrawan sebab dia juga terlibat dalam politik ideologi.

Bokor Hutasuhut menikah dengan D. Sari Afni Siregar pada 11 Maret 1969 di Sipirok, Tapanuli Selatan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Irma Bulan Hutasuhut (perempuan), Samsul Wahidin Hutasuhut (laki-laki), Tama Alamsyah Hutasuhut (laki-laki), dan Muhammad Layan (laki-laki). Bokor Hutasuhut terlahir dari keluarga Islam, ayahnya bernama H. Abdul Manaf Mangaraja Gende Hutasuhut, seorang mubaliq, dan ibunya bernama Ompuni Arifin Siregar.

Bokor dalam bahasa Batak Toba yang dilafaskan (bokkor) artinya kobokan atau mangkuk tempat mencuci tangan di kala makan. Mangkuk ini berukuran besar. Nama ini diberikan oleh kawan-kawannya waktu sekolah dulu karena anak-anak Batak sulit mengucapkan (Buckhori). Abang-abangnya juga memanggilnya dengan nama bokor karena Bukhori kecil senang minum air dengan mangkuk yang besar dan isinya juga lebih banyak. Nama Bokor tetap dipakainya hingga akhir.

Bokor Hutasuhut menyelesaikan pendidikannya mulai HIS (Holland Inlandse School) setingkat Sekolah Rakyat di Soposurung, Balige tahun 1946. Kemudian, dia menyelesaikan SMP Excelcior di Medan tahun 1953 dan masuk SMA Setia Budi Bagian C (jurusan bahasa dan sastra) di Medan tahun 1954, tetapi tidak sampai tamat hanya kelas satu dan naik kelas dua dia pindah ke SMA Pembaruan Bagian A di Medan.

Saat kelas tiga dia tidak lulus di ujian akhir tahun 1957, karena nilai Bahasa Indonesianya tidak mencukupi standar kelulusan pada waktu itu. Padahal di tahun yang sama cerpennya yang berjudul Datang Malam yang pernah dimuat dalam majalah Kisah terbitan Jakarta No. 1 Tahun V, 1957, dijadikan pemerintah bahan mata ujian akhir Bahasa Indonesia bagi siswa SMA Bagian B-I di seluruh Indonesia.

Setelah meninggalkan bangku SMA tahun 1957, Bokor Hutasuhut bekerja sebagai PNS di Kantor Penerangan Agama Provinsi Sumatera Utara (Kapenapsu). Dengan mempunyai gaji tetap tentu saja dia tidak terlalu pusing memikirkan keuangannya untuk tinggal di Medan hingga waktunya bisa digunakan untuk menulis karya sastra. Dia juga merangkap bekerja sebagai wartawan lepas di beberapa surat kabar di Medan. Di majalah Waktu dan Pelangi, dia mengasuh dan menyelenggarakan Lembar Sastra-Budaya pada tahun 1955-1962.

Kegiatan sastra sangat menyita waktunya hingga dia minta berhenti sebagai PNS. Di tahun 1950-an ini juga Bokor dan teman-temannya mendirikan Gabungan Sastrawan Muda (GSM) di Medan dan membuka cabang di setiap kota dan kabupaten di Sumatera Utara. Dia duduk sebagai Ketua Umum. GSM giat menggelar pertunjukan teater dan kegiatan sastra lain di Sumatera Utara.

Tahun 1962 Bokor hijrah ke Jakarta. Jiwa kesastraannyalah yang mengantarkan langkahnya sampai ke tanah Betawi itu. Ia terlibat aktif dalam organisasi dan kegiatan sastra. Tahun 1962-1967 bekerja di Balai Pustaka. Bahkan, Bokor sempat menjadi sekretaris Yayasan Sastra atau Penerbit Majalah Sastra yang diketuai oleh HB. Jassin hingga majalah ini mengalami kebangkrutan.

Kesastrawanan Bokor bermula sejak dia meninggalkan kampung halaman menuju Medan pada tahun 1952 untuk melanjutkan pendidikannya. Pertama kali menulis sekitar tahun 1953 di Medan pada surat kabar Mimbar Umum Minggu dalam rubrik Syarahan berupa sajak, esei, cerpen, dan reportase budaya. Ini diperjelas dengan keterangan Jakob Sumardjo di Horison (September 2003) yang menyatakan bahwa sastrawan muda yang muncul lewat Kisah tahun 1953, yang berasal dari Batak, hanyalah Bokor.

Nama Bokor Hutasuhut muncul sebagai sastrawan angkatan baru dalam majalah Kisah dengan pengasuh HB. Jassin, Idrus, dan M.Balfas. Majalah Kisah banyak memuat karya sastra Bokor. Rekan-rekan seangkatannya yaitu Trisnoyuwono, A.A. Navis, Muhammad Diponegoro, Ajip Rosidi, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, dan lain-lain. Pada zaman ini kebanyakan sastrawan menulis karya sastra dengan latar belakang daerah asal yang sangat kental, tidak terkecuali Bokor Hutasuhut.

Bokor juga menulis pada majalah Waktu dan Pelangi. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah terbitan Jakarta seperti Konfrontasi, Indonesia, Mimbar Indonesia, Kisah, Cerpen, Siasat, dan Sastra. Di Yogyakarta karya-karya Bokor Hutasuhut terbit dalam majalah Budaya dan Minggu Pagi. Bokor Hutasuhut juga diorbitkan oleh Majalah Cerita bersamaan dengan Budi Darma, sastrawan dari Surabaya.

Karya-karya Bokor Hutasuhut banyak yang menceritakan tentang latar budaya Batak, kehidupan masyarakat Batak sehari-hari, dan pandangan hidup masyarakat Batak. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari tempat tinggal dan silsilah kehidupannya yang memang asli keturunan Batak dan tinggal di wilayah Tapanuli Utara. Tapanuli Utara adalah kabupaten yang suku aslinya adalah Batak Toba dan mayoritas penduduknya beragama Kristen, jadi budaya dan adat-istiadat di sana masih terjaga sebagaimana aslinya. Sedangkan bila di daerah lain atau komunitas masyarakatnya beragama Islam tentu saja adat-istiadat Batak Toba akan disesuaikan dengan ajaran Islam.

Penakluk Ujung Dunia adalah novel karya Bokor Hutasuhut yang dirampungkan tahun 1960 dan diterbitkan pertama kali tahun 1965 dan cetakan kedua tahun 1988 diterbitkan oleh PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta. Dalam novel inilah terbentang pengalaman Bokor di desanya dan bagaimana masyarakatnya menjalani kehidupan. Novel ini merupakan karya sastra modern yang mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Batak Toba menurut penghayatan manusia modern, yaitu Bokor Hutasuhut sebagai pengarangnya. Novel ini banyak mendapat tanggapan dan dikaji oleh ilmuan dan penggiat sastra, di antaranya HB. Jassin, Jacob Sumardjo, Totok Amin Soefiyanto, Shafwan Hadi Umry, Taufik Abriasyah, Saksono Priyanto, Damiri Mahmud, Jonner Sianipar, Darma Lubis, dan M. Yunus Rangkuti. Bokor berterima kasih kepada ayahandanya, HAM Mangaraja Gende Hutasuhut dan Partahi H. Sirait yang turut merangsangsang daya kerja untuk menyelesaikan novelnya ini.

Sebelum Penakluk Ujung Dunia, tahun 1963 telah terbit kumpulam cerpennya yang berjudul Datang Malam yang diterbitkan oleh N.V. Nusantara. Kumpulan cerpen ini berisi tujuh cerpen yang berjudul Bebas, Bayonet, Datang Malam, Djiarah, Bonbon, dan Matahari. Tahun 1965 terbit juga novelnya yang berjudul Tanah Kesayangan. Novel ini diterbitkan PT Pembangunan, Jakarta. Sebenarnya novel ini sudah selesai ditulisnya sekitar tahun 1954. Tahun 1958 sempat disetujui PT Pembangunan untuk diterbitkan tetapi lima tahun menunggu barulah diterbitkan setelah Bokor menulis ulang novel Tanah Kesayangan ini.

Karya-karya:
– Datang Malam (1960), kumpulan cerpen
– Penakluk Ujung Dunia (1964), Novel
– Tanah Kesayangan (1965), Novel
– Pantai Barat (1988), Novel


(berbagai sumber/int)
 
Bagikan:

Siantarman Diantara 128 Km Medan, 50 Km Danau Toba


SolupL - Sekelompok anak-anak muda akan menggelar festival seni di Kota Pematangsiantar, Siantarman Arts Festival (SAF). Kegiatan itu mengambil tema ‘128 Km Medan, 50 KM Danau Toba’, akan diselenggarakan Agustus mendatang di Kampus Universitas Nommensen.

Acara Pra Even SAF di Cafe Braga.
Berbagai komunitas bergabung melaksanakan Siantarman Arts Festival (SAF) untuk memberikan ruang bagi kawula muda Siantar mengekspresikan kemampuan di bidang seni dan budaya.

Ketua Panitia Siantarman Arts Festival Andi Damanik mengatakan, sejak dahulu Kota Siantar terkenal sebagai gudang generasi bertalenta di bidang seni baik vokal maupun permainan alat musik tradisional dan modern. Acara yang akan digelar 4-5 Agustus tersebut khusus untuk pelajar menguji kemampuan di bidang seni foto, vokal solo, peragaan busana, menggambar dan mewarnai.

“Sebelum puncak acara, dilaksanakan kegiatan pra event sebagai media promosi ke seluruh masyarakat. Minggu lalu dilaksanakan di DL Cafe dan semalam Rabu (19/7) di Braga Café,” kata Adi Damanik.

Dijelaskan Adi, dalam acara yang dihadiri ratusan masyarakat Siantar tersebut, hadir dan berpartisipasi Identitiy Band, Punxgoaran, Superheroes, Maju Jaya Band, Yuni Panjaitan, Rika dan Standup Comedy Siantar serta Siantar Sketcher.

Sementara Manajer Program Siantarman Arts Festival Tumpak Winmark Hutabarat menjelaskan, acara SAF ini didukung berbagai komunitas yang ada di Siantar, baik teater, musik, tari dan seni rupa.

“Acara ini juga bertujuan untuk mengisi ruang kreatif kawula muda yang minim di Siantar. Mendekatkan seni dan budaya serta pengetahuan kepada kawula muda dan masyarakat, lewat pagelaran dan lomba bertajuk seni dan budaya,”katanya.

Siantarman Arts Festival diharapkan menjadi ruang baru bagi seluruh komunitas untuk mengembangkan dan mementaskan bakat serta kapasitas. SAF juga diharapkan bisa menjadi acara rutin setiap tahun, seperti Oktober Festival di Jerman, Java Jazz Festival dan festival tahunan yang tenar lainnya.

Wilmark mengatakan, tema 128 Km Medan, 50 Km Danau Toba, melambangkan posisi strategis Siantar menyambut gemerlap pariwisata Danau Toba setelah ditangani Badan Otorita Danau Toba. Siantar harus bisa mempersiapkan dirinya dengan sejumlah pengembangan ruang seni budaya untuk bisa dilirik menjadi tujuan wisata.

Jika tidak, Siantar hanya akan menjadi perlintasan. Jadi lewat kegiatan ini, Siantar bisa berbenah diri, menambah ruang kreatif, sehingga orang akan datang untuk melihatnya. Potensi kota Siantar adalah wisata heritage.

“Kami undang partisipasi seluruh anak muda dan masyarakat agar hadir di acara puncak. Sebab, Siantar adalah kotaku, kotamu dan kota kita. Mari kita isi kota ini dengan ruang seni, budaya dan kreativitas,”pungkasnya. (SL/rel)
 
Bagikan:

03 Agustus 2017

Karya Sastra Negara-negara ASEAN Dipamerkan di Kota Tua


SolupL - Festival sastra negara-negar ASEAN atau The 4th ASEAN Literary Festival (ALF) diselenggarakan di kawasan Kota Tua Jakarta, mulai Kamis (3/8/17) hari ini hingga 6 Agustus 2017. Festival ini merupakan ajang untuk menyatukan masyarakat ASEAN melalui sastra.

Kota Tua Jakarta.
Festival yang dilaksanakan sejak 2014 ini, menjadikan budaya dan sastra sebagai unsur penting keberlangsungan ASEAN dan telah mendeklarasikan dirinya menjadi komunitas. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan 50 tahun ASEAN.

Direktur Program ALF Oki Madesari mengutarakan, festival ini pun menjadi wadah untuk memperkenalkan pencapaian dan produk sastra penulis ASEAN ke tingkat global, serta usaha-usaha dalam meningkatkan kecintaan membaca di kalangan anak muda dan anak-anak Indonesia, dan kawasan ASEAN di era media sosial.

Penyelenggaraan AFL tahun ini digelar di Kawasan Kota Tua Jakarta, guna mengangkat potensi wisata Kota Tua, mengingat banyak di tempat ini merupakan kawasan dengan gedung-gedung tua bersejarah Indonesia. Kota Tua dinilai merupakan lokasi yang sangat tepat untuk mendiskusikan dan memamerkan literatur berbagai budaya.

Kepala Bidang Nilai Seni Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jakarta, Supriyatin, mengatakan penyelangaraan AFL di Kota Tua secara tidak langsung akan memperkenalkan potensi budaya Jakarta, sekaligus pariwisata nusantara. Ajang ini diperkirakan akan mendatangkan banyak masyarakat ASEAN.

Kegiatan ini akan menghadirkan penulus-penulis dan jurnalis yang berpengaruh dan kritis di Asia Tenggara dengan berbagai tema diskusi, dan kuliah umum mulai dari demokrasi, radikalisme, persekusi, feminisme, kebebasan berkespresi hingga penistaan agama. Selain itu, akan ada Jambore Nasional Sastra yang akan diikuti oleh 500 pelajar dari tingkat SD hingga SMA tiap harinya.

Selain itu digelar Asean Food Festival, yang akan diikuti oleh kedutaan-kedutaan di Asia Tenggara. Mereka akan menampilkan makanan khas dari masing-masing negara, hingga festival budaya panji. Kegiatan ini akan dibuka mulai besok malam pada pukul 19.00 WIB di halaman depan Museum Fatahilah. (bbs/int)

Bagikan:

26 Juli 2017

Jenis-jenis Media Massa


SolupL - Pers atau media massa merupakan suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk menjangkau masyarakat luas, atau yang bersifat massal. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Ilustrasi.
Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber atau ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

Fungsinya media massa adalah alat/media perantara untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber kepada khalayak umum dalam jumlah yang banyak (massa). Jadi media massa adalah bagian dari komunikasi massa. Jenis-jenis media massa ada 3, yaitu media cetak, media elektronik dan media internet.

1. Media Cetak (printed media)

Surat kabar adalah contoh media cetak, merupakan media massa pertama kali yang muncul di dunia pada tahun 1920 an. Pada awalnya media massa digunakan pemerintah untuk mendoktrin masayarakat, sehingga masyarakat pembaca dapat mengetahui sesutu dengan tujuan tertentu pula. Namun saat ini kebebasan pers sudah sangat dijunjung, sehingga ada timbal balik kebutuhan antara surat kabar dengan audiens. Contoh-contoh media cetak: surat kabar, majalah dan tabloid.

2. Media Elektronik (electronic media)

Radio dan Televisi adalah contoh media elektronik. Setelah media cetak muncullah media elektronik pertama yaitu radio. Yaitu sebagai media audio yang menyampaikan pesan lewat suara. Kecepetatan dan ketepatan waktu dalam penyampain pesan radio tentu lebih cepat dengan menggunakan siaran langsung. Pada waktu penyebaran informasi Proklamasi Kemerdekaan media massa radio berperan utama dalam penyebaran berita. Setelah itu muncul Televisi yang lebih canggih bisa menayangkan gambar. Yaitu sebagai media massa audio visual.

3. Media Massa Internet (cyber media/online media)

Contoh media massa internet atau media online. Baru populer di abad 21, google lahir pada tahun 1997. Media internet bisa melebihi kemampuan media cetak dan elektronik. Apa yang ada pada kedua media tersebut bisa masuk dalam jaringan internet melalui website. Banyak kelebihan media maassa internet dibanding media yang lain.

Namun akses internet yang masih terbilang bebas bisa berbahaya bagi pengguna yang belum mengerti. Misalnya penipuan, pornografi dsb. Media internet tidak harus dikelola sebuah perusahaan layaknya media cetak dan elektronik,  melainkan bisa juga dilakukan oleh individu. (bbs/int)
Bagikan:

09 Juli 2017

Sastrawan Sumbar Raih SEA Write Award 2017 di Thailand


SolupL - Rusli Marzuki Saria (RMS) menerima banyak panggilan telepon dan pesan singkat pada Senin (3/7) malam yang mengonfirmasi bahwa benarkah RMS terpilih sebagai  penerima South East Asean (SEA) Write Award 2017. Di antara orang-orang yang bertanya, ada pula yang meragukan kabar bahwa RMS menjadi penerima anugrah sastra dari Kerajaan Thailand itu karena pada 1997, RMS juga dikabarkan menerima SEA Write Award, tetapi ternyata hanya masuk nominasi.

Papa Rusli
RMS menceritakan hal itu kepada Haluan di rumahnya, Jalan Bangka No. 13, Wisma Warta, Ulak Karang, Padang, Selasa (4/7). Ia membenarkan bahwa ia dinyatakan sebagai penerima SEA Write Award 2017.

“Sebenarnya saya mengetahui bahwa saya ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award pada 7 Juni. Pemberitahuan itu saya terima melalui email dari Badan Bahasa. Bahkan, sehari sebelumnya, sudah ada teman yang mengabarkan informasi itu kepada saya melalui SMS. Namun, saya belum memberi tahu siapa pun karena nanti pasti akan ribut-ribut. Pada Senin (3/7), saya mengirim SMS kepada Dasril Ahmad untuk memberi tahu soal itu karena dia saya rekomendasikan sebagai narasumber yang akan diwawancarai Badan Bahasa pada 7 Juli ini,” ujar penyair yang kini berusia 81 tahun itu.

Setelah mendapatkan informasi dari RMS, Dasril Ahmad, dosen Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta (UBH), memberitahukan informasi tersebut kepada publik melalui status Facebook-nya pada Senin malam.

RMS mengatakan, dalam surel yang diterimanya, ia dinyatakan meraih SEA Write Award atas buku puisinya One by One Line by Line (Kabarita, 2014). Ia mengirim buku itu ke Badan Bahasa tidak lama setelah diterbitkan. Namun, ia tidak mengirimkan buku itu dengan maksud dimasukkan sebagai nomine penerima SEA Write Award, tetapi hanya sebagai dokumentasi untuk Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya tidak menyangka mendapatkan SEA Write Award pada tahun ini. Dulu, pada tahun 1997, buku puisi saya Sembilu Darah, masuk nominasi penerima penghargaan itu. Namun, buku puisi saya hanya nomor tiga sehingga hanya menerima penghargaan dari Pusat Bahasa. Pada tahun itu, Seno Gumira Ajidarma ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award. Dari tahun 1997 hingga 2017, berarti sudah dua puluh tahun saya menunggu penghargaan itu,” tutur pria Kamang, Kabupaten Agam, 26 Februari 1937 itu.

Sebelum berangkat ke Bankok, Thailand, pada Oktober 2017 untuk menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand, RMS akan diwawancarai oleh tim dari Badan Bahasa pada 7 Juli ini. RMS menyebutkan, selain mewawancarai RMS, Badan Bahasa juga akan meminta komentar dari orang yang mengenal puisi-puisi RMS selama ini. RMS lalu merekomendasikan Dasril Ahmad dan Yusrizal KW kepada Badan Bahasa untuk diwawancarai.

“Saya merekomendasikan Dasril karena skripsinya tentang saya, dan Yusrizal KW karena buku One by One Line by Line diterbitkan Kabarita, penerbit miliknya,” ucap anggota DPRD Padang periode 1985-1991 itu.

RMS menambahkan, buku One by One Line by Line (sendiri-sendiri, sebaris-sebaris), berisi 90 puisi pilihannya sejak 1960-2010, dan 4 esai.

Anggota Staf Subbidang Penghargaan, Badan Bahasa, Luh Anik Mayani, melalui keterangan tertulisnya kepada Haluan, mengatakan, sastrawan Indonesia yang ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award adalah sastrawan yang pernah menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa. Akan tetapi, tidak semua sastrawan yang memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa secara otomatis ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award karena masih ada kriteria lain yang harus dipenuhi.

Ia membeberkan, ada beberapa kriteria seseorang ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award, antara lain, pernah menerima senghargaan sastra dari Badan Bahasa; menghasilkan karya secara konsisten dalam kurun waktu lima tahun terakhir; memiliki karya yang berdampak dan tersebar luas, baik berskala nasional maupun internasional; memiliki karya yang menonjolkan ciri khas keindonesiaan yang dapat dibanggakan di dunia internasional; dan memiliki karya yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban dan perdamaian dunia; danberperan aktif dalam pengembangan dan pembinaan sastra Indonesia, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

“Pak Rusli Marzuki Saria tercatat sebagai penerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) pada tahun 1997 melalui karyanya yang berjudul Sembilu Darah (1995). Beliau ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award karena beliau masih berkarya secara konsisten dan masih menghasilkan karya baru dalam lima tahun terakhir,” tuturnya.

Sementara itu, sastrawan lain yang terpilih sebagai penerima penghargaan sastra dari Badan Bahasa pada tahun ini adalah A. Mustofa Bisri (kumpulan puisi), Sungging Raga (kumpulan cerpen), dan M. Ibrahim Ilyas (naskah drama). Nama terakhir yang disebutkan adalah sastrawan yang sehari-hari beraktivitas di Padang.

RMS adalah sastrawan Sumatra Barat keempat yang menerima SEA Write Award. Sastrawan Sumbar pertama yang meraih penghargaan itu adalah A. A Navis pada 1992 atas buku Bertanya Kerbau pada Pedati, kemudian Wisran Hadi pada 2000 atas naskah drama Cindua Mato, dan Gus TF Sakai pada 2004 atas buku kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta.

Sementara itu, Dasril Ahmad mengatakan, ia menulis skripsi tentang puisi-puisi RMS saat kuliah pada Jurusan Sastra Indonesia di UBH pada 1986. Judul skripnya adalah "Pengaruh Kaba Minangkabau terhadap Puisi-Puisi Rusli Marzuki Saria".

Menurutnya, puisi-puisi RMS adalah puisi sederhana. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kerinduan, keresahan, napas keagamaan, dan kritik sosial. Beberapa nilai dalam puisi itu ditemukan adanya pengaruh dari kaba Minangkabau. Di samping itu, puisi-puisi RMS adalah puisi lirik-romantik-puisi yang berisi curahan perasaan.

“Puisi-puisi RMS adalah jenis puisi yang bertolak dari nilai-nilai budaya Minangkabau, yakni sastra lisan kaba. Struktur puisi-puisi RMS mempunyai persamaan dengan struktur kaba, yakni dari segi plot, latar, dan penokohan. Karena itu, puisi RMS patut dibaca dan diteliti lebih dalam sebagai upaya menggali, membina, dan mengembangkan budaya Minangkabau,” ucapnya.

Yusrizal KW, mengatakan, ia menerbitkan One by One Line by Line karena buku itu merupakan kumpulan puisi terbaik RMS yang dipilih oleh penyairnya sendiri sepanjang karier kepenyairannya. Karena itu, orang-orang yang tidak memiliki semua buku-buku RMS, bisa melihat puisi-puisi RMS pada buku tersebut.

“Kabarita hanya menerbitkan buku-buku berkualitas. Pada 2014, salah satu buku puisi yang diterbitkan Kabarita, yakni Odong-Odong Fort De Kock karya Deddy Arsya, meraih penghargaan buku puisi terbaik Tempo. Menurut kami, puisi-puisi Papa Rusli juga pantas kami terbitkan karena Papa memiliki orininalitas diksi dalam puisinya. Kabarita menerbitkan buku One by One Line by Line juga sebagai penghargaan kepada Papa dalam dunia kepenyairannya. Kami bangga Kabarita menjadi jembatan karya papa kepada pembaca,” tutur pendiri rumah baca Tanah Ombak.

Selain sebagai sastrawan, RMS merupakan wartawan di Padang. Ia menjadi wartawan Haluan pada 1969—1999. Di Haluan, ia mengelola rubrik Budaya, yakni Budaya Minggu Ini yang terbit tiap selasa, dan Remaja Minggu Ini yang terbit tiap Minggu. Dari tangannya di rubrik Budaya Haluan “lahir” banyak penulis yang berasal dari Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan daerah lainnya. (holy adib/harianhaluan.com) 
Bagikan: