17 April 2017

Ini Buku-buku Sastra Berbahasa Batak, Halak Hita Harus Tahu...


Dalam upaya mempertahankan kelestarian Bahasa Toba, belakangan ini sejumlah sastrawan Batak mulai menulis dalam bahasa ibu, yaitu Bahasa Batak Toba. Sejauh ini, karya-karya masih terbatas pada torsa-torsa atau cerpen. Ke depan, kita tentu berharap agar para penyair Batak juga menulis puisi dalam bahasa Batak.

Berikut antara lain buku-buku sastra berbahasa Batak yang dapat dinkmati oleh semua Bangso Batak:

1. Tumoing Manggorga Ari Sogot, karya Saut Poltak Tambunan  
Sampul buku Tumoing.
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) dan dianggap sebagai cikal-bakal kebangkitkan sastra Batak modern. Secara tematik, buku ini mengetengahkan berbagai kearifan lokal dan nilai luhur tradisional etnis Batak Toba.

Manggorga Ari Sogot jika diterjemahkan artinya menatap masa depan, boleh ditafsirkan sebagai seruan mengajak para sastrawan terus melahirkan karya sastra Batak bermutu.

Sang pengarang, Saut Poltak Tambunan, dalam suatu kesempatan mengaku prihatin dengan perkembangan karya sastra Batak yang semakin menurun dewasa ini, bahkan dianggap kurang mampu bersaing di tataran nasional. Sebab, apresiasi terhadap bahasa Batak itu dinilai cukup rendah, sehingga salah satu cara untuk menyelamatkannya adalah menuliskan bahasa Batak dalam bentuk karya sastra.

Buku ini memuat 15 hikayat setebal 169 halaman yang merupakan kumpulan cerita rakyat tentang kehebatan atau kepahlawanan tokoh-tokohnya.

2. Mangongkal Holi, karya Saut Poltak Tambunan

Buku Mangongkal Holi diterbitkan mengetengahkan banyaknya kearifan lokal dan nilai luhur tradisional etnis Batak. Sebagaimana kita tahu, mangongkal holi merupakan tradisi membongkar kembali tulang-belulang dan menempatkannya ke suatu tempat (batu napir) atau bangunan yang lebih tinggi dan mewah dari makam sebelumnya.

"Sebagai seorang penulis, saya merasa bertanggungjawab untuk menulis karya sastra berbahasa Batak," ujar pengarangnya.


3. Mandera Na Metmet, karya Saut Poltak Tambunan.

Novel ini diterbitkan Selasar Pena Talenta tahun 2012 dengan tebal 143 halaman. Mandera na Metmet membawa kita untuk membayangkan kondisi anak-anak Batak yang ikut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan jiwa kekanak-kanakan mereka.


Cerita Mandera na Metmet mengambil setting perjuangan kemerdekaan sekitar agresi militer Belanda I sekitar tahu 1947–1948, yang dituturkan oleh tokoh Ompung yang begitu akrab, komunikatif dan dirindukan oleh cucu-cucunya Batara, Uli dan Hasian. dan kemungkinan besar terjadi di sekitar Onanrunggu Sipahutar, agak mirip dengan gambar yang dibuat menjadi cover dari novel ini.

Kepiawaian menyusun struktur cerita dalam buku ini, membuat kita berada pada posisi Batara, Hasian dan Uli yang selalu penasaran untuk segera tahu kelanjutan cerita tokoh Ompung. Rasa penasaran ini selalu terbentur dalam keterbatasan waktu dan disiplin yang ditetapkan oleh orangtua mereka.

Jeremia dan Jekjek kita temukan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Anak-anak berumur sekitar 12–14 tahun, tidak bersekolah. Mereka memahami arti merdeka, penjajahan, makna keberanian, kesetiakawanan dan nilai-nilai perjuangan, bukan dari bangku sekolah, melainkan dari persoalan-persoalan kehidupan yang mereka saksikan masa itu.

4. Embas Sian Dakdanak

Buku ini merupakan kumpulan cerpen karangan berbagai penulis Batak Toba. Secara keseluruhan, karya Saut Poltak Tambunan masih tampil dominan dalam buku. Sejumlah pengarang lain yang ikut menyumbangkan karya dalam buku ini antara lain Erika Pardede, S Mida Silaban, Rose Lumbantoruan dan Seri Swanty Hutahaean.

5. Manigat Sihol, karya S. Mida Silaban

Buku ini berisi 10 cerpen berbahasa Batak Toba karya Nai Pasca (S Mida Silaban). Isi cerita antara lain memotret kehidupan seseorang yang tumbuh dan dibesarkan di alam desa tradisional, hingga berhasil di ibukota, dan mendapatkan tantangan untuk merawat dan mewariskan nilai-nilai luhur habatahon kepada generasi muda yang dikepung budaya kota yang berbeda.

Pada cerpen pembuka Maronan misalnya, terlihat bagaimana seorang gadis kecil lugu digembleng mengemban sebagian tanggung jawab ekonomi keluarga, namun tetap dapat menikmati kehangatan siraman kasih dan interaksi sosial yang bersahabat dan sportif.

Sementara ada cerpen berjudul Martandang, potret romantika pergaulan teruna zaman dulu sebelum era TV masuk desa mengkonfirmasi bahwa hatomanon dan sopan santun seorang gadis belia mampu merontok luluhkan panah asmara pemuda idola, tanpa si gadis harus perlu gintal dan bergaya ria. Kegalauan orang tua yang membesarkan anak-anak di kota metropolitan, di tengah kesibukan masing-masing, tersiasati dengan baik dalam interaksi nenek–anak–cucu.

6. Sonduk Hela, karya Tansiswo Siagian

Ini buku kumpula cerpen karya Tansiswo Siagian atau alias Palambok Pusupusu. Buku Sonduk Hela terbit 225 halaman, diterbitkan Selasar Pena.

Sampul buku Sonduk Hela.
Ada sepuluh cerita pendek di dalam Sonduk Hela, yaitu Sonduk Hela, Marguru tu Datu, Martuhan do Hami Jala Marta­ngiang, Mar-Medan, Bondar Pa­ridian, Di Tonga ni Dua Ina, Ma­sisagak, Holong Pamuhai, Mago Pusaha dan Ingonghu Sidua Marga.

Dari ke sepuluh cerpen ini, penulisnya memilih Sonduk Hela menjadi judul bukunya. Tentu saja penulis memiliki pendapat, kenapa judul buku itu harus Sonduk Hela. (Panda MT Siallagan/bbs/int)
 
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar