11 Desember 2016

Sapardi Djoko Damono Raih Penghargaan dari Iluni FIB

SolupL - Sapardi Djoko Damono, sastrawan Indonesia terkemukan, meraih penghargaan dari Ikatan Alumni (Iluni) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Penghargaan itu diberikan atas dedikasi dan karya yang dihasilkan Sapardi sepanjang hidupnya.

Sapardi Djoko Damono
Ketua Iluni FIB UI Ratu Febriana Erawati mengatakan penghargaan tersebut merupakan yang pertama kepada sastrawan terbaik sekaligus alumnus UI. "Penghargaan ini bentuk kepedulian dan apresiasi Iluni FIB UI kepada mereka yang bekerja untuk sastra dan kebudayaan, sekaligus memotivasi lahirnya generasi sastrawan baru dari Universitas Indonesia," ujar Ratu dalam siaran tertulis, Sabtu (10/12/16).

Penghargaan kepada Sapardi diberikan Sabtu (10/12/16) malam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, dalam rangka Dies Natalis ke-76 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI pada Desember 2016.

Selama hidupnya sebagai pengarang, Sapardi telah menerima banyak penghargaan, antara lain Anugerah SEA Write Award pada 1986, dan penghargaan Achmad Bakrie pada 2003.

Pria kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 itu dikenal melalui puisi-puisinya yang populer di kalangan sastrawan dan masyarakat umum. Tak hanya puisi, cerita pendek, terjemahan karya penulis asing, esei, dan tulisan di kolom atau artikel surat kabar juga populer. Bahkan, buku nonfiksi seputar sastra dan kebudayaan ciptaannya banyak digunakan sebagai bahan ajar kuliah mahasiswa.

Sapardi memperoleh pendidikan sastra tingkat sarjana di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1964. Kemudian, dia melanjutkan studi di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat, pada 1970-1971, dan meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia pada 1989.

Sejak 1974, Sapardi mengajar di FSUI (kini FIB) hingga pensiun. DI FIB UI Sapardi meraih predikat guru besar, menjadi dekan FSUI, sebelum pensiun. Selama menjadi dosen Sapardi juga tercatat menjadi redaktur di sejumlah majalah. (bbs/int)
Bagikan:

Bob Bylan Tak Hadiri Acara Penyerahan Hadiah Nobel, Hanya Kirim Pidato Tertulis


SolupL - Musisi legendaris Bob Dylan tidak menghadiri acara Nobel Prize Award Ceremony and Banquet di Stockholm, Swedia, Sabtu (10/12/16). Dylan seharusnya menerima Hadiah Nobel Sastra yang dianugerahkan kepadanya pada malam itu.
Bob Dylan
Dylan mengirimkan sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Duta Besar AS untuk Swedia, Azita Raji. Pria yang lahir dengan nama Robert Allen Zimmerman itu meminta maaf karena tidak menghadiri acara tersebut.

"Saya merasa terhormat mendapat hadiah yang sangat bergengsi ini. Saya tidak pernah membayangkan bakal mendapat Hadiah Nobel Sastra," kata Dylan dalam sambutannya.

Ia mengatakan, sejak kecil ia sudah membaca karya para penerima Hadiah Nobel Sastra seperti Kipling, Pearl S Buck, Thomas Mann, dan Bernard Shaw, Camus, Hemingway. Karya-karya mereka meninggalkan kesan yang dalam.

"Sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata "sekarang nama saya disandingkan dengan mereka," ucap Dylan, yang lahir 24 Mei 1941 itu.

Ia sempat dikecam dan dianggap tidak sopan oleh banyak orang karena tidak memberi komentar apapun ketika namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel pada Oktober lalu.

"Saya sedang menjalani tur ketika mendapat kabar yang mengejutkan itu. Butuh waktu beberapa menit untuk mencernanya," lanjut musisi yang irit bicara itu.

Ia tidak menyangka bakal mendapat penghargaan sebesar Nobel karena tidak pernah memikirkan apakah lagu-lagunya merupakan karya sastra.

Ketika mulai menulis lagu di usia remaja, bahkan saat kemampuannya sudah mulai diakui, Dylan hanya ingin karya-karyanya dimainkan di kafe atau bar, atau Carnegie Hall dan London Palladium.

Ketika itu, lanjut Dylan, kalau bisa disebut mimpi, ia dulu membayangkan bisa membuat album dan lagu-lagunya diputar di radio.

"Membuat album dan mendengarkan lagu Anda di radio berarti Anda berhasil meraih pemirsa yang luas dan Anda bisa melanjutkan hal yang ingin Anda inginkan," papar Dylan.

Ia mengaku sudah mencapai hal itu. Ia sudah mengeluarkan puluhan album dan tampil di ribuan konser di seluruh dunia.

"Tetapi lagu sayalah yang menjadi bagian terpenting dari apapun yang selama ini saya lakukan. Lagu-lagu saya tampaknya diterima masyarakat dari berbagai budaya. Saya bersyukur karena itu," lanjut dia.

"Tidak sekali pun terlintas pertanyaan di benak saya 'apakah lagu-lagu saya karya sastra," ia menegaskan.

"Jadi saya berterima kasih kepada Swedish Academy karena meluangkan waktu untuk memikirkan pertanyaan itu  dan memberikan jawaban yang indah," pungkas Dylan.

Berikut pidato lengkap Bob Dylan sebagaimana ditampilkan di laman nobelprize.org:

Good evening, everyone. I extend my warmest greetings to the members of the Swedish Academy and to all of the other distinguished guests in attendance tonight.

I'm sorry I can't be with you in person, but please know that I am most definitely with you in spirit and honored to be receiving such a prestigious prize. Being awarded the Nobel Prize for Literature is something I never could have imagined or seen coming. From an early age, I've been familiar with and reading and absorbing the works of those who were deemed worthy of such a distinction: Kipling, Shaw, Thomas Mann, Pearl Buck, Albert Camus, Hemingway. These giants of literature whose works are taught in the schoolroom, housed in libraries around the world and spoken of in reverent tones have always made a deep impression. That I now join the names on such a list is truly beyond words.

I don't know if these men and women ever thought of the Nobel honor for themselves, but I suppose that anyone writing a book, or a poem, or a play anywhere in the world might harbor that secret dream deep down inside. It's probably buried so deep that they don't even know it's there.

If someone had ever told me that I had the slightest chance of winning the Nobel Prize, I would have to think that I'd have about the same odds as standing on the moon. In fact, during the year I was born and for a few years after, there wasn't anyone in the world who was considered good enough to win this Nobel Prize. So, I recognize that I am in very rare company, to say the least.

I was out on the road when I received this surprising news, and it took me more than a few minutes to properly process it. I began to think about William Shakespeare, the great literary figure. I would reckon he thought of himself as a dramatist. The thought that he was writing literature couldn't have entered his head. His words were written for the stage. Meant to be spoken not read. When he was writing Hamlet, I'm sure he was thinking about a lot of different things: "Who're the right actors for these roles?" "How should this be staged?" "Do I really want to set this in Denmark?" His creative vision and ambitions were no doubt at the forefront of his mind, but there were also more mundane matters to consider and deal with. "Is the financing in place?" "Are there enough good seats for my patrons?" "Where am I going to get a human skull?" I would bet that the farthest thing from Shakespeare's mind was the question "Is this literature?"

When I started writing songs as a teenager, and even as I started to achieve some renown for my abilities, my aspirations for these songs only went so far. I thought they could be heard in coffee houses or bars, maybe later in places like Carnegie Hall, the London Palladium. If I was really dreaming big, maybe I could imagine getting to make a record and then hearing my songs on the radio. That was really the big prize in my mind. Making records and hearing your songs on the radio meant that you were reaching a big audience and that you might get to keep doing what you had set out to do.

Well, I've been doing what I set out to do for a long time, now. I've made dozens of records and played thousands of concerts all around the world. But it's my songs that are at the vital center of almost everything I do. They seemed to have found a place in the lives of many people throughout many different cultures and I'm grateful for that.

But there's one thing I must say. As a performer I've played for 50,000 people and I've played for 50 people and I can tell you that it is harder to play for 50 people. 50,000 people have a singular persona, not so with 50. Each person has an individual, separate identity, a world unto themselves. They can perceive things more clearly. Your honesty and how it relates to the depth of your talent is tried. The fact that the Nobel committee is so small is not lost on me.

But, like Shakespeare, I too am often occupied with the pursuit of my creative endeavors and dealing with all aspects of life's mundane matters. "Who are the best musicians for these songs?" "Am I recording in the right studio?" "Is this song in the right key?" Some things never change, even in 400 years.

Not once have I ever had the time to ask myself, "Are my songs literature?"

So, I do thank the Swedish Academy, both for taking the time to consider that very question, and, ultimately, for providing such a wonderful answer.

My best wishes to you all,

Bob Dylan

(berbagaisumber/int)
Bagikan:

Sajak Pulang


Oleh Panda MT Siallagan

Ilustrasi.
Ketika bulan pecah di kaca jendela, kuputuskan jaga. Meski malam mengapung, kukemasi sisa sunyi dari kolong ranjang dan mengepak semua luka dan derita. Kubersihkan kamar agar tak ada kenangan tertinggal. Aku akan pergi meski menggigil raga disiksa hujan. Kubawa foto-foto, surat-surat, pakaian bekas, juga sisa parfum agar rumah tak sedih mengenang aroma peluh dan lapuk tubuh, agar ada pintu kelak untuk masuk dan bermain-main dengan kenangan itu. Perlahan kubuka pintu meski malam semakin koyak dicabik dingin. Kupakai sepatu dan baju terbaru, sejenak menyapa diri di muka cermin, dan kulihat mataku sudah buta dikerat rindu, kutahu kepulangan adalah obat paling manjur. Akan kutinggalkan rumah itu meski malam hancur dicambuk petir dan jalanan tenggelam. Sejenak aku beku di depan pintu mengingat apakah masih ada masa lalu yang harus dibawa atau apakah masih ada kenangan yang perlu dirawat sehingga aku perlu membatalkan kepulangan. Tapi tidak, semua sudah tanpa masa depan dan aku harus meninggalkan waktu meski malam sangat sembab dan hujan menyerbu tubuhku dengan ribuan jarum. Tak apa, aku harus berangkat. Aku berjalan sambil berperang dengan ingatan sambil berkhayal tentang masadepan sambil tersenyum membayangkan betapa bahagia tiba di tanah asal. Aku akan bercanda dengan harum bukit dan lembah-lembah. Aku berjalan mengganti malam dengan subuh dan mengusir subuh jadi rembang tapi hujan tak kunjung kering sampai kutahu akulah yang menangis antara sedih meninggalkan masalalu dan riang menuju rumah lama demi kehidupan baru. Pagi pun tiba. Aku mulai bertanya seberapa jauh telah mengembara sebab terlalu lelah aku berkelana. Matahari memercikkan api di mana-mana. Kuputuskan tidur. Meski panas menyengat, kupanggil semua suara dan keriuhan masa lalu agar aku tahu seberapa beku hatiku pada kerusuhan dan aku akan bermimpi di antara hujatan orang-orang. Kuhirup warna kota-kota dalam mimpi meski matahari makin tajam menikam tanah meski raungan kendaraan menyayat-nyayat peradaban, aku terus bermimpi dan tidur membunuh pagi, menghidupkan siang dan memanggil senja. Kini aku bangun dan kembali berjalan membawa tubuh yang telah berlalu menuju asal dan perjalanan berakhir ketika bulan pecah di atas nisan bertulis namaku. Selamat rehat!

Pematangsiantar, Juni 2009

Bagikan:

09 Desember 2016

Novelis Indonesia Eka Kurniawan Memukau di Amerika


SolupL - Seorang novelis atau sastrawan Indonesia yang saat ini sedang naik daun, Eka Kurniawan, memukau warga Amerika Serikat di Washington DC, melalui karyanya, Cantik Itu Luka. Di ruang seminar dan toko buku ini, Eka menyapa peminat Sastra Indonesia dengan diskusi mendalam tentang sastra dan proses kreafitnya dalam menulis.
Eka Kurniawan. (Foto/int)
Tahun lalu, dua buku Eka, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau dialihbahasakan ke bahasa Inggris dan menerima sambutan hangat di kalangan penikmat sastra di Amerika. Tak sedikit kolom ulasan literatur ternama di Amerika, seperti The New York Times book review, membahas bukunya.

Beberapa penghargaan literatur internasional memasukkan karyanya sebagai finalis, seperti Man Booker Prize. Eka bahkan memenangkan World Reader’s Award. Kunjungannya ke Amerika kali ini juga untuk menerima penghargaan Emerging Voice 2016 kategori fiksi.

Namun tak jarang, ia dibandingkan dengan penulis Indonesia angkatan sebelumnya, Pramudya Ananta Toer. “Selama beberapa waktu, orang hanya mengenal Pramudya, jadi ketika ada penulis Indonesia baru, mereka tentu saja membandingkannya dengan seseorang mereka kenal. Terlepas dari itu, Pramudya penulis berpengaruh untuk saya, dia salah satu favorit saya,” ujar Eka.

Ia mengakui sastra Indonesia punya banyak hambatan untuk dikenal komunitas internasional. “Pertama, harus kita akui, bahasa Indonesia bukan bahasa yang populer di dunia, karena itu masih susah untuk memperoleh penerjemah yang baik. Selain itu, dorongan kebijakan pemerintah atau lembaga pendukung lainnya harus sangat aktif,” jelasnya.

Namun, Eka optimistis sastra Indonesia bisa mendobrak batasan kultural yang sebelumnya ada. Bart Thanhauser, pernah tinggal di Indonesia mendapati buku Eka sebagai ekspresi jujur Indonesia. “Saya suka sekali dengan caranya menggabungkan sejarah, seni dan percintaan. Bukunya tidak beraturan dan itu alasan saya suka membacanya,” kata Bart.

Bagi mereka belum pernah mengunjungi Indonesia, mengenal Indonesia lewat tulisan Eka adalah pengalaman menarik. Seperti dikatakan Sarah Baline. “Menurut saya Eka hebat, ia sangat lucu dan bukunya berisi humor gelap dan ia menceritakan isi bukunya pada kami malam ini.”

Pengakuan internasional ini diikuti keprihatinan Eka terhadap rendahnya tingkat minat baca masyarakat Indonesia. Menurut survei UNESCO pada 2016, Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei tentang minat membaca mereka.

“Lemahnya tradisi membaca kita lebih bersifat struktural, memang keberadaan buku sangat susah untuk diperoleh terutama di luar daerah kota besar. Saya rasa kita harus berpikir dengan cara yang terbalik, kita dekatkan buku kepada mereka, bukan mereka yang harus datang,” jelas Eka dilansir dari VOA Indonesia.

Saat ini Eka sedang menanti penerbitan bukunya seperti ‘Dendam’, ‘Rindu Harus Dibayar Tuntas’ dalam bahasa Inggris. Eka belum berencana menulis buku lagi setelah novel terbarunya ‘O’ terbit dalam bahasa Indonesia. (bbs/int)
Bagikan:

08 Desember 2016

Khasiat Andaliman atau Merica Batak Terhadap Kesehatan


SolupL - Setiap orang Batak pasti mengenal andaliman. Sebab, makanan-makanan khas mereka selalu tak luput dari andaliman. Di balik selera makanannya yang pedas, ada sensasi andaliman di belakangnya.
Andaliman kering.
Nama ilmiah andaliman adalah Zanthoxylum acanthopodium dan lebih dikenal sebagai Merica Batak. Bentuknya bulat-buat kecil berwarna hijau jika masih muda kemudian berubah merah jika sudah tua dan hitam dalam kondisi kering. Rasa pedasnya awet di lidah. Aromanya pun sangat khas dan menggiurkan. Andaliman menjadi rempah wajib bagi setiap masakan Batak.

Sesuai data yang dari Kementerian Kesehatan, andaliman ternyata kaya akan senyawa terpenoid yang berperan sebagai antioksidan sangat baik untuk kesehatan. Senyawa terpenoid juga berperan penting dalam mempertahankan mutu produk pangan dan sebagai anti mikroba. Hal inilah yang menyebabkan masakan khas Batak tidak gampang basi dan berubah warna.

Beberapa manfaat andaliman untuk kesehatan antara lain sebagai antioksidan, penambah darah, melancarkan peredaran darah dan menghindari penggumpalan, menyehatkan mata dan menjernihkan pandangan, menguatkan tulang dan gigi, menjaga kinerja otak, mencegah kulit wajah pucat, melancarkan menstruasi, dan bisa jadi bahan untuk aroma terapi.

Berdasarkan hasil penelitian, setiap 100 gram (1 ons) andaliman mengandung nutrisi atau gizi dengan komposisi sebagai berikut: energi 99 kilo kalori, protein 4,6 gr, lemak 1 gr, karbohidrat 18 gr, kalsium     383 mg, fosfor 107 mg, zat besi 2,9 mg, vitamin A, Vitamin B1 3 mg, dan vitamin C 14,7 mg.

Di Indonesia, rempah ini umum digunakan oleh masyarakat Batak dan sunda. Tapi jangan salah, andaliman juga dikonsumsi di beberapa Negara di Asia seperti Thailand, Nepal, India, China, Jepang, Korea, Tibet dan Bhutan. Di Tibet dan sekitarnya, Andaliman dimanfaatkan sebagai bahan aromatic, tonik, perangsang nafsu makan dan obat sakit perut. (bbs/int)
Bagikan:

07 Desember 2016

Kemerdekaan: Meraut Bambu dengan Airmata


Oleh: Aiyuni Salis Utami Tanjung

Kita semua tahu, merdeka adalah kebebasan hak meraih kendali penuh atas seluruhwilayah. Kisah perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia yang digadangkan dengan senjatanya “Bambu runcing”, masih mengisahkan cerita pedih di masa kini. Meskipun yang dilihat oleh masyarakat Indonesia bahwa negeri ini sudah merdeka.

Ilustrasi.
Karya-karya sastra salah satunya puisi, masih banyak yang mengisahkan kepedihan akan jajahan. Salah satunya puisi Panda MT Siallagan yang berjudul “Setelah Bambu Meruncing Lagi Diraut Airmata”. Berikut bait pertama: a/ setelah bambu-bambu itu meruncing lagi diraut airmata, kami menunggal tanah-tanah yang telah terbakar di dalam jantung kami. kami tanami harapan-harapan, dan membesar jadi pohon-pohon di sepanjang usia kami…”

Indonesia berjuang sangat lama dengan senjata “Bambu runcing” mengharapkan kebebasan meski hanya dalam mimpi. Tapi kesan semangat juang dan pantang menyerah terus mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan hanyalah perintah semata. Seolah-olah negeri ini memang merdeka. Apakah demikian? Sampai sekarang pun yang paling utama adalah penguasa dan dikuasai.

Pengungkapan puisi Panda MT Siallagan dalam bait ke-dua: b/ setelah pada bambu dan pohon-pohon yang terbakar itu kami kibarkan bendera, kampung kami memancarkan warna merah dan putih. kami takjub, dan berpawai merayakan kemenangan itu. tapi kami tiba-tiba tersentak. kami ternyata sedang berjalan di atas genangan darah, tulang-tulang  saudara kami berserakan di halaman. kami ternyata tidak sedang mengibarkan bendera untuk memugar hutan, tapi melukis tanah dengan darah. dan menyusun serakan tulang-tulang jadi jalan raya”.

Seperti menggambarkan kemenangan sementara. Seperti halnya tercatat dalam sejarah (sumber: https://id.m.wikipedia.org, Konferensi Malino-Terbentuknya “Negara” Baru), pada bulan Juli 1946 terjadi suatu krisis dalam pemerintahan Indonesia, keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang telah menguasai sebelah Timur Nusantara. Di bawah Dr. Van Mook, organisasi-organisasi di seluruh Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian; Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Timur Raya. Latar belakang konferensi ini dalam rangka SEAC setelah Perang Dunia II, Australia menyerahkan kembali Indonesia Timur kepada Belanda (NICA) pada 15 Juli 1946.

Bait kedua seperti mengisahkan sebuah penyesalan, menang dalam perang tapi masih jadi budak di bawah perintah federasi Belanda. Semua orang tentu harus menikmati haknya dengan berusaha dan berdoa. Tapi pada masa penjajahan dulu (Belanda-Jepang), kematian adalah harga mati dari merdeka. Segala janji kebahagiaan pada masa itu sangat mudah dikhianati dan kembali menderita. Dalam bait ketiga pun bermakna demikian; c/ lalu kami berjalan di atasnya, mencoba membunuh ketakutan dengan ketajaman doa-doa. kami jelajahi jalan-jalan menuju kebebasan. tapi kami tersesat…”

Penulis sangat apik mendeskripsikan kewajaran fisik manusia, maksudnya setelah bekerja keras tentu akan mengalami kelelahan dan tentunya membutuhkan istirahat. Perjalanan panjang tentang perjuangan pun sama yang tercantum pada bait ke-empat: d/ akhirnya kami putuskan untuk rehat, lelap memeluk duka sendiri, tidur di kamar yang kami tukangi dengan airmata kami sendiri. dan di dalam mimpi kami, anak-anak bernyanyi: indonesia raya...merdeka...merdeka…"

Berakhir memasuki dunia mimpi sambil menghayati, memahami, memaknai kemerdekaan masa kini dengan masa lampau. Mendeskripsikan perjuangan yang lelah dan tertidur lalu bermimpi sambil menghayati nada-nada lagu kebangsaan dalam bait ke-lima: e/ kami menghayati nadanya dengan jiwa yang berdarah, dan menjadi kian tak paham memaknai kemerdekaan".

Penulisan puisi yang sangat kental dengan narasi dan deskripsi waktu sangat baik. Menggambarkan perasaan akan jajahan masa lalu. Membacanya seperti memutar film dokumentasi nasional tentang peperangan dengan senjata bambu runcing. Perincian puisi yang sangat apik membuat orang merasa bernostalgia akan sejarah kelam Indonesia.

Dalam khasanah sastra, kita perlu menggali sejarah sebagai bukti nyata yang relevan dalam dunia kepenulisan. Bukan hanya menulis tentang apa yang dirasa. Mengingat masalalu adalah kunci sukses sebuah karya sastra dalam hal menyadarkan akan masa-masa kelam yang mungkin akan punah ditelan zaman. Tapi sastra mendokumentasikan perjalanan sejarah. Apalagi perjuangaan Indonesia untuk merdeka.

Puisi karya Panda MT Siallagan, merupakan puisi-puisi yang mengkisahkan betapa pedihnya perjuangan di masa lalu, dan masih bisa dirasakan di masa sekarang. Bahkan pada masa sekarang, puisi ini memiliki makna tak paham dengan kemerdekaan yang berlangsung. Apakah negeri ini memang merdeka sungguhan. Atau masih saja ada kata “penjajah” di dalamnya dengan konteks berbeda (baca: penguasa)? Ataukah memang benar bahwa arti kemerdekaan adalah meraut bambu dengan airmata?

Segala kata-kata yang ditulis dalam puisi tentunya banyak memiliki makna dengan persepsi yang berbeda serta analisisnya. Semoga, analisis ini mendekati kebenaran tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sumber puisi: https://solup.blogspot.co.id 

Catt: Artikel ini dimuat di Solup Literal atas seizin penulisnya.
Bagikan:

04 Desember 2016

Mengenang Dewi Sartika, Pelopor Pendidikan Wanita Nusantara


SolupL - Dulu pada masa kemerdekaan, penetapan tanggal lahir Kartini sebagai hari besar dan penobatannya sebagai Pahlawan Nasional, juga menuai perdebatan, sebab kebijakan itu dianggap pilih kasih. Nyata memang, Indonesia memiliki wanita-wanita hebat lain melebihi Kartini, sebutlah Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain.
Ilustrasi.
Apakah Kartini mengenal Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain? Mengapa Mengapa Kartini tidak menulis surat kepada perempuan-perempuan pejuang nusantara pada masa itu? Tapi kita tidak hendak membahas itu.

Kita hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini tanggal 4 Desember adalah ulang tahun Dewi Sartika ke-132. Bangsa Indonesia seolah lupa, tapi Google merayakannya.

Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1966 karena jasa-jasanya memajukan pendidikan pada kaum wanita di Indonesia pada masanya.

Google Indonesia pun memajang doodle yang menggambarkan sosok Dewi Sartika bersama enam gadis kecil. Mereka semua memakai kebaya. Tampak Dewi Sartika sedang mengajar keenam murid perempuan mungil tersebut.

Jika doodle tersebut diklik, langsung muncullah beragam informasi mengenai Dewi Sartika. Ia adalah pahlawan dan inspirasi bagi kaum wanita, seperti sosok Kartini.

Orang tuanya adalah kalangan bangsawan, Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Meski bertentangan dengan adat pada waktu itu, Dewi Sartika sempat mengenyam pendidikan di sekolah yang didirikan Belanda. Ia pun tergerak memajukan kaum wanita.

Pada 16 Januari 1904, dia mendirikan sebuah sekolah untuk kaum perempuan bernama Sekolah Isteri di Bandung. Sekolah tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri.

Sekolah tersebut cepat berkembang dan pada 1912, ada sekitar sembilan Sekolah Kaoetamaan Isteri yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Tahun 1924, sekolah itu berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Dewi Sartika meninggal dunia pada tahun 1947.

Keluarga pun berharap hari lahir Raden Dewi Sartika tiap 4 Desember diperingati secara nasional seperti Raden Ajeng Kartini. Hingga kini peringatan hari lahir pejuang emansipasi wanita itu dirayakan secara lokal di Jawa Barat saja, tempat kelahirannya.

"Beliau (Dewi Sartika) dan Kartini sama-sama perintis emansipasi wanita. Tetapi hanya Kartini yang diperingati secara nasional, sehingga Dewi Sartika kurang dikenal," kata cucu menantu Dewi Sartika Deddy Rukadi di SMP Dewi Sartika, Jalan Kautamaan Istri, Minggu (4/12/16).

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat agar hari lahir sang pahlawan nasional dirayakan oleh segenap bangsa Indonesia masih kurang. "Selama ini kami tidak menunggu pemerintah (pusat), tapi merayakan secara mandiri dengan bantuan Pemkot Bandung dan masyarakat Tatar Sunda," terang Deddy.

Dengan dirayakan secara nasional, kata Deddy, Dewi Sartika sebagai perempuan yang menginginkan kesetaraan pendidikan bagi kaum hawa, bisa dikenal masyarakat luas.

"Bidang pendidikan yang akan kami tonjolkan untuk generasi penerus dari sosok Raden Dewi Sartika yaitu cageur, bageur, pinter, wanter (sehat, baik, pintar, berani)," sebut Deddy.

Kabid Kepemudaan Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Kota Bandung Sony Teguh Prasetya menyebut Dewi Sartika dan Kartini sama-sama pejuang wanita. Untuk itu tidak ada salahnya hari lahir Dewi Sartika juga dirayakan secara nasional.

"Dua pahlawan nasional emansipasi wanita itu Ibu Kartini dan Dewi Sartika. Ini harus menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Harapannya perlu ada hari Dewi Sartika juga nantinya," ungkap Sony. (bbs/int)

Baca Juga: Mengenang Gagasan-gagasan Indah RA Kartini


Bagikan:

Ini Manfaat Facebook untuk Kesehatan


SolupL - Setiap orang hampir mengenal Facebook, jejaring sosial paling populer sejagad. Mulai dari remaja hingga orangtua, mulai dari warga desa hingga perkotaan, media ini sangat akrab dengan kehidupan masing-masing pribadi.
Ilustrasi.
Mereka yang memiliki akun Facebook, pasti sering mengunggah banyak hal di Facebook. Ketika mereka sedih dan tentunya status dan jenis gambar yang Anda unggah pasti juga berubah. Ternyata, Facebook sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Menurut sebuah studi baru, status Facebook dan sejenisnya bisa membantu dalam mendeteksi dini adanya gangguan jiwa yang menunjukkan bahwa jaringan sosial bisa membantu memberikan dukungan dan intervensi.

"Facebook sangat populer dan bisa memberikan Anda banyak data untuk meningkatkan pengetahuan tentang gangguan kesehatan mental seperti depresi dan skizofrenia," kata peneliti bernama Dr. Becky Inkster, sebagaimana dilansir India Times, baru-baru ini.

Michal Kosinski, co-author dari Stanford Graduate Business School di AS, mengatakan bahwa data Facebook cenderung lebih bisa diandalkan.

Dengan menganalisis bahasa, emosi dan topik yang digunakan dalam update status, para peneliti mengatakan bahwa mereka bisa mencari gejala atau tanda-tanda awal dari penyakit mental.

Bahkan foto-foto pengguna Facebook mungkin memberikan wawasan baru. Informasi yang dikumpulkan dari media sosial bisa membantu mendeteksi tahap awal depresi.

"Facebook bisa membantu memberikan pendampingan bagi individu yang terisolasi secara sosial. Kita tahu bahwa remaja yang terisolasi secara sosial lebih mungkin untuk menderita depresi dan memiliki pikiran untuk bunuh diri, sehingga online melalui Facebook bisa mendorong pasien untuk mereformasi hubungan sosial offline mereka," demikian Inkster.(bbs/int)

Baca Juga: KETIKA WANITA BATAK BERGAYA DI FACEBOOK


Bagikan: