06 November 2017

Lirik Lagu 'Goyang Manula' dan Artinya...


GOYANG MANULA

Cipt. Robert Marbun
Voc. Putri Ayu Silaen
Back Voc. Robert Marbun

Mensano in corporesano
Dalam tubuh yang sehat
terdapat tubuh yang kuat
Oppung among inong...

Manortor ma di son marembas ma di son
Hei...ee... na matua dohot na satonga tua
Goyang manula songon na marsenam
Sonang pikkiran sehat pamatang
Pangkilalaan pe lumbang

(Menarilah di sini bergoyang di sini
Hei...ee...yang tua dan setengah tua
Goyang manula seperti senam
Pikiran senang tubuh pun sehat
Perasaan pun ringan)

Unang sai kumat asam urat
Unang lam parah gula darah
Denggan ma dirawat diallang ma ubat
Asa unang sangat peak o...o...
Sotung laos tungkap singgalak

(Agar asam urat tidak kumat
Agar gula darah tak kian parah
Dirawatlah baik-baik dikonsumsilah obat
Agar tidak sempat terkapar o...o...
Jangan sempat jatuh tak berkutik)

Molo sai bukbak ma tarottok
Molo sai sukkot utok-utok
Denggan ma dikontrol dicek ma kolesterol
Asa unang sanga tol-tol o..o...
Sotung so marhosa songgot

(Kalau jantung selalu berdegup
Kalau otak selalu sumpek
Dikontrollah baik-baik dicek kolesterol
Jangan sempat tegang
Mendadak tak bernafas)

Manortor ma di son marembas ma dison
Hei...ee... na matua dohot na satonga tua
Goyang manula songon na marsenam
Sonang pikkiran sehat pamatang
Pangkilalaan pe lumbang

(Menarilah di sini bergoyang di sini
Hei...ee...yang tua dan setengah tua
Goyang manula seperti senam
Pikiran senang tubuh pun sehat
Perasaan pun ringan)

Unang sai ngendul dugul-dugul
Unang sai ngilut hau tanggurung
Jot-jot ma diurut dohot miak kusuk
Asa unang sanga stroke
Sotung gabe lumpu toppu

(Agar lutut tidak beku
Agar tulang punggung tak kaku
Seringlah diurut dengan minyak kusuk
Agar tidak sampai stroke
Agar tidak lumpuh secara mendadak)

Molo magurbak simanjojak
Molo humalon pardompakan
Parose ma ginjal parose ma mudar
Asa unang gagal total o...o...
Sotung sude badan bal-bal

(Jika telapak kaki gemetar
Jiwa wajah selalu kaku
Periksa ginjal periksa darah
Agar jangan gagal total o...o...
Agar tidak seluruh badan hancur)

Manortor ma di son marembas ma dison
Hei...ee... na matua dohot na satonga tua
Goyang manula songon na marsenam
Sonang pikkiran sehat pamatang
Pangkilalaan pe lumbang

(Menarilah di sini bergoyang di sini
Hei...ee...yang tua dan setengah tua
Goyang manula seperti senam
Pikiran senang tubuh pun sehat
Perasaan juga jadi ringan)

Mensano in corporesano
Dalam tubuh yang sehat
terdapat tubuh yang kuat
Oppung among inong...

Bagikan:

04 November 2017

Pensil Ompung

PENSIL OMPUNG
Cerpen Panda MT Siallagan

"Ibu, ceritakanlah kepadaku tentang kenyataan!" kata anakku suatu malam. Hatiku terasa retak. Kenyataan, kata sendu penuh kepasrahan ini, bagiku selalu terdengar seperti bunyi ledakan. Ledakan yang menggetarkan seisi jiwa.

“Aku bosan mendengar dongeng tentang kancil, kupu-kupu, kunang-kunang, burung-burung ajaib, bunga-bunga, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Aku mau cerita tentang kenyataan,” berkata lagi anakku sembari aku menata hati yang menyerpih.

Ilustrasi.
“Kenyataan?” sebuah tanya mengulur waktu. Aku butuh berpikir, kenyataan seperti apakah yang diinginkan Nia Dong kukisahkan padanya? Aku belum siap jika kenyataan yang ia inginkan adalah cerita tentang ayahnya. Aku belum mampu menjadi ibu yang jujur jika ia bertanya mengapa tak punya ayah, seperti kerap ia tanyakan belakangan.

“Tentang apa?”

“Pokoknya kenyataan.”

Baiklah. Ini tentang lelaki tua. Simak baik-baik, sebab pangkal cerita agak semak. Bayangkan terlebih dahulu sebuah sekolah. Sebab lelaki tua itu selalu muncul di kompleks sekolah setiap pagi. Di hadapannya, ada meja lipat tempat pisau dan batu gosok tergeletak. Ia selalu tiba di sekolah itu pagi-pagi sekali, menunaikan tugas sebagai tukang raut pensil. Ketika anak-anak itu tersedot ke dalam ruangan mematuhi bunyi lonceng, ia menikmati kesendiriannya sambil membaca.

Lalu, pada siang hari, saat anak-anak hambur dari ruangan menikmati kebebasan yang disuarakan lonceng, lelaki tua itu juga bersiap pulang. Ia mengemasi barang-barangnya ke dalam tas: batu gosok, pisau, meja lipat, kotak kayu dan buku, lalu beranjak pelan meninggalkan kompleks sekolah, merayap di jalanan yang dibakar terik.  Anak-anak itu sesekali melambai dari bus, “Oppung, duluan ya! Hati-hati ya, Oppung.” Ia balas lambaian itu, riang penuh senyum.

Ia selalu berjalan kaki, tak pernah datang dan pulang menumpang opelet. Berjalan kaki, seperti tersirat dari ayunan langkahnya, agaknya ia pilih sebagai alat menikmati irama kesepian yang merambat. Adakah sesungguhnya cercah esok yang masih diidam dan diyakininya? Sudah terlalu tua ia bercita-cita. Tapi memang, selalu ada harapan dalam setiap hal yang rapuh. Lihatlah, ada sahaja di peci yang dikenakannya, di dalam kemeja lusuhnya. Sepasang kaki kurus beralas sandal jepit masih kuat menapaki aspal, lalu tas ransel yang menggandul naik-turun di punggung yang membungkuk, seolah bicara tentang pasang surut perjalanan hidupnya.

“Ibu, aku tak mengerti. Kenapa ceritanya membingungkan?”

“Nak, tidak seperti cerita kancil dan buaya, tidak seperti hikayat Danau Toba, yang gampang dimengerti dan mudah dicerna, kenyataan memang sulit dipahami.”

“Baiklah, teruskanlah, Ibu!”

Nama lelaki tua itu Ompung Pensil. Selama kehadirannya yang mengesankan, Ompung Pensil adalah korban ketidakpedulian. Tidak seorang pun tahu dari mana ia muncul di pagi hari dan ke mana ia pergi, atau pulang, setelah meninggalkan sekolah pada siang hari. Tidak seorang pun ingin tahu siapa ia, apakah ia punya keluarga, apakah ia seseorang yang menderita atau bahagia, atau mengapa ia muncul di kompleks sekolah itu menjadi tukang raut pensil. Tapi, bagi sebagian anak-anak, ia adalah kekasih jiwa, sebagaimana ia juga menerima anak-anak itu jadi pusat kebahagiaanya. Jika ia sedih, anak-anak itulah yang bertanya mengapa matanya dikepung murung. Maka ia selalu bahagia meraut pensil anak-anak itu. Ia juga meraut jiwa. Jiwa yang tumpul ditabrak zaman. Jiwa yang ronyok dilindas waktu.

Sungguh, tidak ada yang tahu siapa nama lelaki itu. Ia mungkin memang tak penting dikenal, atau dipedulikan, sama seperti tidak pentingnya profesi yang ia pilih: tukang raut pensil. Anak-anak senang memanggilnya Ompung Pensil, sebab ia senang bicara tentang pensil. Pensil, katanya, selalu butuh penajaman, maka ia diraut. Tak perlu disesali kayu pembalut karbon yang terbuang saat diraut, sebab bagian yang berguna adalah inti, yang diraut menjadi mata pensil. Pensil adalah alat memahami rasa sakit, sebab ia selalu diraut. Maka anak-anak itu pun mulai paham, setiap orang harus pandai memahami rasa sakit, bahkan ada masanya harus habis demi catatan dan gambar-gambar. Bukankah hidup adalah buaian catatan dan sergaman gambar-gambar?

Ia sangat bangga jadi tukang raut pensil. Sesekali ia memang menggerutu, saat bicara tentang pensil rias pemalsu garis alis dan bibir, alat ketololan perempuan kini, tapi ia segera sadar dan gegas menyingkirkan topik genit itu dari pendengaran anak-anak. Ia tidak ingin anak-anak jatuh cinta pada pensil palsu. Jika sudah begini, ia mendadak jadi orang yang muluk-muluk, menginginkan anak-anak itu belajar cinta dari pensil, ingin anak-anak itu menyelamatkan masa depan dengan pensil. Maka mudah dipahami mengapa ia senang anak-anak itu memanggilnya Ompung Pensil.

Sampai di sini, aku lihat Nia Dong sudah lelap. Aku tatap matanya memejam dalam damai. Sudah sangat lama aku tak menatapnya selekat malam itu. Sepi merayap. Aku sedih. Anakku yang baik, usianya kini sebelas tahun, dan selama itu aku disaput rasa sakit mendampingi pertumbuhan dan perkembangannya. Aku lupa sejak kapan aku mulai mendongeng mengantar tidurnya. Juga, aku tak ingin mengingat sejak kapan ia mulai bertanya tentang ayahnya. Apakah ia punya ayah? Aku tahu, selamanya pertanyaan ini akan menggayut berat di pundaknya, juga di pundakku. Tapi, pada saatnya nanti, akan kukisahkan luka itu. Luka yang seperti dongeng: kekasihku hilang saat aku hamil, mungkin diculik, dan tak pernah kembali sejak kerusuhan itu. Ayahnya, calon mertuaku, kehilangan diri sejak kejadian itu. Kini, aku remuk dalam dunia tanpa siapa-siapa. Hanya Nia Dong satu-satunya milikku. Tapi, ya, tentang Mursal, calon suamiku itu, tentang ayahnya, tentang aku yang terbuang dari keluarga demi Nia Dong, suatu saat harus kukisahkan.

Untuk menghibur diri, izinkanlah kulanjutkan cerita tentang Ompung Pensil, sebagaimana aku akan mengisahkan cerita ini secara berulang kepada Nia Dong selama beberapa malam, sebab ia memintanya dengan alasan  belum paham. Begitulah, tidak ada seorang pun yang tahu sejak kapan Ompung Pensil muncul di sekolah itu. Dan barangkali, kehadirannya tidak akan pernah disadari para guru, orangtua dana anak-anak lain, jika seandainya Motu, siswa kelas empat, tidak merautkan pensil kepadanya, suatu hari pada jam istirahat sekolah. Tapi...

“Siapa itu, Motu?” Bu Lidya, wali kelas, bertanya penuh curiga.

“Tukang raut pensil, Ibu.”

“Hati-hati. Banyak penculik anak berkeliaran.”

“Iya, Ibu!”

Tapi anak-anak itu tak peduli. Sebaliknya, terdorong oleh kasih yang memancar lembut dari mata dan cara tangannya meraut pensil, Ompung Pensil meraih ketenaran di sekolah itu.  Begitu jam istirahat, anak-anak akan berdatangan memintanya meraut pensil. Anak-anak itu senang pensil hasil rautan Ompung Pensil, katanya indah dan cantik. Betapa tidak, lelaki tua itu meraut pensil bukan dengan alat raut buatan pabrik, tapi  dengan pisau kecil berwarna putih. Pisau yang berkilat-kilat memantulkan cahaya dan tampak sangat berbahaya. Siapa pun tahu, pisau itu sangat tajam, sebab selalu diasah Ompung Pensil dengan batu gosok. Ia tidak mau meraut pensil dengan pisau majal. Maka lihatlah, rautan pada ujung pensil itu tampak seperti motif bunga matahari, rapi dan berseni, tidak menggerucut polos seperti hasil rautan buatan pabrik. Ada keajaiban kreativitas di situ.

Tentu tidak ada yang gratis. Lelaki tua itu memungut biaya seratus rupiah untuk sekali raut. Tapi, kelak akan kau tahu, sesungguhnya bukan pecahan receh itu yang diinginkan Ompung Pensil. Ia mengutip biaya itu agar anak-anak belajar menghargai kerja orang lain, sesederhana apa pun bentuknya. Demikianlah ia juga menunjukkan penghargaan terhadap kepedulian dan semangat anak-anak itu. Ia sesekali bertanya tentang PR dan nilai ulangan harian, lalu memberi rautan gratis bagi anak yang memperoleh nilai delapan ke atas. Ia dicibir gila, tapi ia makin semangat meraut pensil. Ia meraut pensil seolah-olah mencari sesuatu yang hilang, mungkin kebahagiaan.

Baiklah, sekarang kukatakan, aku tahu cerita tentang Ompung Pensil karena di sekolah itulah dulu Mursal sekolah, calon suamiku yang hilang, atau mungkin diculik atau dibunuh. Sering aku berharap menemukan jejak masa kecilnya, sehingga kerap berkunjung ke sekolah itu, menemui guru-gurunya yang sudah tua sekedar mencari tahu seperti apa ia ketika kecil. Di sanalah aku bertemu Ompung Pensil. Dan itulah alasan mengapa aku mengirimkan Nia Dong ke sekolah itu. Dan kelak, selama beberapa waktu, kisah tentang Ompung Pensil mulai merasuki hati anakku. Lamunan dan mimpi mulai mendayu sekacau sepi, menggayuti instink dan nuraninya. Selama beberapa waktu, setiap bangun pagi, Nia Dong mulai senang bercerita bahwa tidurnya berlangsung damai, sebab ia bertemu Ompung Pensil.

Suatu kali ia mengatakan bahwa Ompung Pensil berubah menjadi pendeta, tapi tidak berkotbah di gereja, melainkan mengembara dari kota ke kota, bicara tentang harapan kepada anak-anak gelandangan. Di pagi hari yang lain, ia berkata bahwa Ompung Pensil adalah pengembara suci, yang punya kelembutan tanpa batas hingga tak tega membunuh seekor nyamuk. Dan suatu pagi, hatiku terasa retak. Nia Dong menyakini mimpinya: Ompung Pensil adalah bekas tentara, lalu selamanya menderita mengenang desingan-desingan peluru dan muncratan darah. Bagaimana kebenaran itu muncul ke dalam pikiran Nia Dong? Empat puluh tiga tahun lalu, sebagaimana kutahu kemudian, Ompung Pensil lari dari tugas ketentaraan, tak tega menggorok leher “orang-orang yang terlibat”.

Demikianlah, beberapa hari sebelum meninggal, Ompung Pensil diusir dari sekolah itu. “Dahulu kala, ada seoarang anak bernama Budi, hidup di negeri yang sedang dilanda perang. Budi dilarang berteman dengan orang asing. Tapi, ia membantah nasihat. Akhirnya Budi diculik. Lehernya digorok. Krek. Tewas !” kata guru-guru mengingatkan anak-anak. Tapi, Ibu, negeri ini tidak sedang perang.

Dan para ibu menyebar penyakit: “Duh, honey, nggak takut ya diserang TBC. Si tua bangka itu batuk-batuk. Lihat, pakaiannya jorok dan bau tikus. Mama nggak mau kamu sakit, sayang. Mulai besok papa yang meraut pensilmuya, duhh…!” Tapi, Mama, ompung itu selalu wangi.

Sejak itu, anak-anak itu tidak lagi bisa menyaksikan Ompung Pensil mengasah pisau, meraut pensil dan bicara tentang pensil demi pensil. Pensil adalah...

Cerita kembali terhenti pada suatu malam yang hujan. Nia Dong menyela dan bertanya, “Bu, kapan kita menemui Ompung Pensil. Aku ingin ompung itu bicara padaku, bicara tentang pensil. Aku sekolah di sana saja!”

Aku menangis, “Nak, andai ayahmu tak hilang, kisah tentang Ompung Pensil tidak akan pernah ada. Ompung Pensil sudah meninggal. Calon kakekmu!”

Pematangsiantar, 4 Juli 2008

* Cerpen ini pertama kali dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Desember 2009, hal. 56-58

Bagikan:

02 November 2017

RIP! Raja Sulim Batak Poster Sihotang, Kini Telah Tiada


SolupL - Musisi Batak Poster Sihotang, yang sangat dikenal dengan albumnya seruling maut, telah meninggal dunia pada Kamis (2/11/17). Kepergian si Raja Seruling Batak ini diinformasikan ratusan netizen di facebook. Dari informasi ini, diketahui almarhum sempat dirawat di RS Tugu Tanjungpriok.
Poster Sihotang.
Akun Facebook Willy Wahyu Sihotang menuliskan:

Berita Dukacita.... 
Telah berpulang ke rumah Bapa di surga,, Abang kami,, saudara kami terkasih , salah satu komposer besar lagu2 Batak.,, Si Raja Seruling.. Abang POSTER SIHOTANG ,,,,
Kepergianmu begitu menyesakkan hati kami abangku,, semua serba tiba2,,, kita masih sering bertemu diacara Arisan Sihotang Jakarta Utara dan Acara2 Sihotang SEJABODETABEK,, sehat dan bugar.. rasanya tdk percaya dengan kepergianmu ini.... 
Tapi Tuhan lebih berhak.. Dia lebih menginginkan Abang kami Poster Sihotang kembali kepangkuanNya.. kami hanya bisa meratap abang.. semua harus kami ikhlaskan.. semoga Kakak dan semua anak2 dirmg kuat dan sabar menerima kenyataan ini...
Selamat jalan Abangku.. berbahagialah Engkau di sisi Bapa Sang Pencipta.. 
#sekedar informasi.. Jenazah sementara ini masih di RS BPP TUGU PELABUHAN, Jakarta Utara.

Sementara Waren Sihotang menulis: Toppunai bapa par monding mon.POSTHER SIHOTANG (Trio Relasi)?????????? nga di tinggal hon ho be hami...tu keluarga nang akka dongan..on ma boa2 ku tuhamu ate..dangadong tikki manelepon.


Vica Sihotang Coit menulis:  Telah dipanggil Bapa disurga musisi sang RAJA SERULING batak,.. Bpk. POSTER SIHOTANG , saat ini masih di RS tugu Tanjung Priok... Untuk teman2 boleh diberitahukan kepada teman2 lainnya... Saya baru dapat kabar dari keluarga beliau. Mauliate.''

Poster Sitohang juga menjadi personel Trio Relasi, piawai meniup seruling dan memainkan senar kecapi. Album instrumentalia suling dan kecapinya sangat membekas di hati pencinta musik Batak. (berbagai sumber/int)


Bagikan:

24 Oktober 2017

Benny Panjaitan Sang Legendaris 'Panbers' Meninggal Dunia


 
 SolupL - Musisi legendaris Benny Pandjaitan dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (24/10/17). Hal itu dibenarkan oleh anak Benny, Roesland saat dihubungi wartawan, Selasa pagi. "Benar meninggal jam 09.50 WIB karena sakit stroke sudah lama. Ini saya sedang on the way ke rumah duka," ujar Roesland.

Benny Panjaitan.
Sebelumnya, pesan berantai lebih dulu menyebar di kalangan wartawan. Pesan tersebut menyebutkan bahwa Benny Pandjaitan telah meninggal dunia.

"Om benny panjaitan barusan meninggal dunia. Alamat duka: Jalan Prof DR Hamka Komplek Panbers (Taman Asri) no 14, Ciledug Larangan," tulis pesan tersebut.

Benny sempat dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (22/10/2017) kemarin. Namun hal itu disangkal putranya.

Benny Panjaitan dikenal sebagai anggota Panjaitan Bersaudara (Panbers), satu nama kelompok pemusik yang merupakan singkatan dari Pandjaitan Bersaudara.

Kelompok musik ini didirikan pada 1969 di Surabaya, terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs JMM Pandjaitan SH (alm) dengan Bosani SO Sitompul. Mereka adalah Hans Panjaitan pada lead guitar, Benny Panjaitan sebagai vokalis dan rhythm guitar, Doan Panjaitan pada bas dan keyboard, serta Asido Panjaitan pada drum.

Dalam perkembangannya formasi band ini berubah dan bertambah sejak tahun 1990-an dengan kehadiran Maxi Pandelaki sebagai bassist, Hans Noya sebagai lead guitar, dan Hendri Lamiri pada biola. (berbagaisumber/int)
Bagikan:

22 Oktober 2017

Jenis-jenis Wawancara dan Pengertiannya


SolupL - Wawancara adalah tanya jawab yang bertujuan memperoleh informasi atau keterangan akan suatu hal. Singkatnya, wawancara merupakan teknik pengumpulan data secara langsung. Orang yang mencari data disebut pewawancara, sedang sumber yang diwawancarai disebut narasumber.

Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara nantinya akan diubah menjadi laporan tertulis, yaitu laporan tulisan jurnalistik (berita) atau data dalam bentuk ringkasan (resume). Berikut jenis-jenis wawancara dan pengertiannya:

Ilustrasi.
* Wawancara Berita (News Interview)

Wawancara berita adalah wawancara untuk bahan berita. Dalam hal ini yang melakukan wawancara adalah wartawan atau jurnalis. Informasi yang ingin diperoleh wartawan dalam wawancara ini bisa berupa tanggapan atau konfirmasi seorang ilmuwan, pejabat dan narasumber lain tentang informasi yang berkaitan dengan berita yang akan atau telah ditulis.

* Wawancara Pribadi (Personal Interview)

Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang seseorang tokoh atau figur publik. Wartawan akan mendatangi tokoh tersebut dan mewawabcarainya untuk mendapatkan pendapat atau informasi tentang sesuatu yang perlu dijelaskan secara panjang lebar. Untuk wawancara model ini, wartawan perlu mempersiapkan gambaran masalah dan butir pertanyaannya. Ini penting untuk mendapatkan informasi dan pendapat yang diinginkan. Dengan persiapan itu, wartawan dapat mengendalikan pembicaraan sehingga tidak melebar ke mana-mana.

* Wawancara Jalanan (Man in The Street Interview)

Jenis wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan gagasan dari berbagai individu, paguyuban maupaun komunitas masyarakat. Hasil dari wawancara ini biasanya diturunkan dalam bentuk laporan mengenai tanggapan masyarakat atas sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan publik, misalnya apa pendapat (mereka) tentang kenaikan harga BBM dan sembako.

* Wawancara Kelompok (Discussion Interview)

Nara sumber duduk dan dikelilingi puluhan wartawan. Mereka berkumpul mengajukan pertanyaan kepada nara sumber  di depan. Dan si nara sumber menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan tadi.

* Wawancara Sambil-lalu (Casual Interview)

Melakukan wawancara, namun secara tidak sengaja, artinya tidak direncanakan sebelumnya atau tanpa persiapan. Contohnya ketika kita jalan-jalan, tiba-tiba ketemu tokoh penting atau peristiwa unik. Lalu kita langsung melakukan wawancara ada apa kok pejabat penting itu datang dan peristiwa apa yang sedang berlangsung.

* Wawancara Telepon (Telephone Interview)

Ini adalah jenis wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon. Lazim digunakan dalam keadaan mendesak. (Pada wawancara via telepon, wartawan tak menangkap suasana orang yang diwawancarai). Contohnya saat berita kita kurang lengkap, sedangkan besoknya harus terbit, maka cara yang satu ini sangat ampuh.

* Wawancara Tertulis (Written Interview)

Pertanyaan itu disampaikan langsung oleh wartawan tapi berupa tulisan di kertas pada nara sumber,  atau ditinggalkan sehingga sumber berita bisa membaca dan menjawab sendiri pertanyaan tersebut.

* Wawancara Online (Online Interview)

Sama halnya seperti wawancara biasa, namun kali ini menggunakan media maya yaitu internet. Wartawan bisa bertanya lewat email, facebook, atau apapun terkait internet, yang nantinya akan dijawab oleh si nara sumber. (bbs/int)
Bagikan:

20 Oktober 2017

Lirik Lagu 'Dang Boi Tarlupahon Au' dan Artinya


Dang Boi Tarlupahon Au

Voc: Putri Siagian
Cipt: Bob Benny Tambunan


Putri Siagian.
Tikki i uju rap au dohot ho
Dang boi hutariashon holongki
Hurippu do na so adong roham tu au
Dung marhasohotan au
Dipaboa ho mai holongmi tu au

(Dulu saat kita bersama
Tak mampu kunyatakan cintaku padamu
Kupikir kau tak ada hati untukku
Tapi setelah aku berumah tangga
Kau katakan cintamu padaku)


Rohakki sai tu ho do hasian
Holongki dang marna muba sian ho
Sahat ro di namatua hasian
Dang boi tarlupahon au
dang boi tarpasiding au sian ngolukki

(Hatiku memang selalu padamu
Cintaku padamu takkan berubah
Hingga nanti usia menua
Tak akan bisa kulupakan
Tak bisa kusingkirkan dari hidupku)


Reff...

Tung mansai buni do i holongmi
Tanom bagas di ate-atekki
Nang pe so boi husiram i hasian,
Tarsongon bunga na mangingani rohakki
Di tangiangki ma da ito
Huboan goarmi...

(Cintamu tersimpan rapi
Tertanam dalam-dalam di jiwaku
Meski tak bisa kusiram, kekasih
Seperti bunga yang tumbuh di hati8
Biarlah dalam doa-doa
Kubawa namamu selalu...)


Anggiat ma dipasu-pasu Tuhan i
Denggan parsaripeonmi
Tangiangkon ma nang au hasian,
Denggan parsaripeonki

(Semoga Tuhan memberkati
Semoga bahagia rumah tanggamu
Kiranya engkau doakan jua aku
Bahagia rumah tanggaku)
Bagikan:

Lirik Lagu 'Marsak Au Ito' dan Artinya...

Hurippu holan au dihaholongi ho
Hurippu holan au di bagas rohami
Hape mardua dalan holongmi
Na salelengon

(Kupikir hanya aku kau sayangi
Kupikir hanya aku ada di hatimu
Nyatanya cintamu terbagi jalan
Selama ini)


Jotjot tarjaha au ito
sms di henpone mi
Na mandok sayang tu ho

(Kerap terbacaku sms
di ponselmu
Bilang sayang padamu)


Molo dao ito ho sian lambunghi
Masihol au ito naeng pajumpang
hape dung jonok ho da hasian
Gabe hambar do

(Jika kau jauh dariku
Aku rindu ingin bertemu
Tapi setelah kau berada di sampingmu
Semua jadi hambar)


Naeng huhalupahon ho
Naeng do ho hupasiding
Alai dang tarbahen au

(Ingin aku melupakanmu
Ingin aku menyingkirkanmu
Tapi aku tidak mampu)


Reff..

Marsak au ito
Mamikkiri ho
Sega ni rohakki
Di baen ho ito

(Resah aku
Memikirkanmu
Hancur hatiku
Karenamu)


Sugari dang hutanda ho ito na ujui
Dang taonon hu songonon
Boasama.... Boasa hasian
Ikkon hutanda ho ito

(Andai dulu aku tidak mengenalmu
Takkan kumenderita begini
Mengapa...mengapa kekasih
Aku harus mengenalmu)
Bagikan:

11 Oktober 2017

Lirik Lagu 'Satipis Bulung Sangge-sangge' dan Artinya...

Satipis Bulung Sangge-sangge

Cipt: Herman Sihotang dan Herianto Sihotang
Voc: Herianto Sihotang


Di bulan sappulu i
I ma bogas partumpolon i
Naung sahata hita
na mangunduk padan
Lao manopot pesta i

(Pada bulan sepuluh
Momen pertunangan kita
Yang telah sepakat berjanji
Menyambut pesta pernikahan)

Balik do panghirimanhi
Dua ari sidung partumpolon i
Ro ma poda sian natua-tuami
Poda siboan ilu i

(Tapi mimpi-mimpiku hancur
Dua hari setelah pertunangan itu
Kuterima petuah orangtuamu
Petuah yang mencucurkan airmata)

Ha...aaa...
Talu do hape holonghi
Talu dibaen arta
Ha...aaa...
Monang do hape ho hasian
Mambaen au manarita

(Ha...aaa...
Cintaku ternyata kalah
Kalah karena harta
Ha...aaa...
Kau ternyata menang
Membuatku menderita)

Ingkon kalunghon nama hasian
Kalung na tipis on
Kalung satipis bulung sangge-sangge i
Ido pandok ni namboru i

(Harus kalungku ini ternyata, kekasih
Kalung yang teramat tipis
Kalung setipis daun serai
Seperti kata bibi)

Ingkon dohot rok na hupakke i
Dang suman didok tu au
So huboto be mangalusi i
Sude hata ni namboru i

(Dan rok yang kukenakan itu
Disebut tak pantas bagiku
Tak tahu aku hendak menjawab apa
Semua perkataan bibi)

Hasian Partumpolon i ma
Tanda ni parsirangan i

(Kekasih, pertunangan itu
Menjadi awal perpisahan selamanya)


BACA JUGA: Kisah Sangge-sangge, Kisah Budaya

Bagikan: