09 November 2015

Arti dan Asal Mula Kata Batak


Apa sebenarnya arti kata Batak? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online mencatat dua makna kata Batak. Pertama, Batak adalah suku bangsa di daerah Sumatera Utara. Kedua, Batak adalah petualang, pengembara. Yang agak negatif, lema pembatak diberi arti perampok dan penyamun. Bagaimana sesungguhnya asal-usul Batak hingga menjadi nama suku?

Ilustrasi.
Tahun 2010 lalu, sebuah hasil penelitian kontroversial datang dari Sejarahwan Universitas Negeri Medan Phill Ichwan Azhari. Hasil penelitian itu dilakukan di Jerman terkait etimologi (asal-usul kata) dan genealogi (asal-usul garis turunan) Batak. Kesimpulannya: nama suku Batak bukan berasal dari Batak, tapi dikonstruksi musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Benarkah?

Ilmuwan Batak yang juga Guru Besar Departemen Sejarah Unimed Prof Bungaran A Simanjuntak sedikit ‘gerah’ dengan publikasi Ichwan itu. Menurut Bungaran, tak perlu terlalu meyakini arsip-arsip di Jerman. “Belum tentu arsip-arsip di sana merupakan arsip yang valid, perlu dikonfirmasi ulang. Saya rasa kita tidak perlu terlalu menghebat-hebatkan arsip yang ada di sana,” katanya.

Bungaran menegaskan, asal-usul nama etnik Batak merupakan hasil dari budaya maupun sejarah di Sumut. “Batak merupakan satu kata dari bahasa Batak sendiri yang artinya penunggang kuda. Dari sisi inilah nama Batak ini muncul. Nama ini sudah sejak lama ada,” katanya.

Menurutnya, etnis Batak merupakan ras Mongolia Mansuria. “Awalnya kurang lebih 5000 tahun lalu, tentara Mongol berperang dengan bangsa Tar-tar, terpojok dan kemudian lari menuju Indonesia Bagian Timur melalui China. Para tentara Mongol ini pada saat itu mengendarai kuda, dan masyarakat di daerah Indonesia Bagian Timur (saat itu belum beretnis Batak) menamai tentara Mongol ini dengan 'Batak'. Itulah awal nama etnik Batak,” tutur Bungaran.

Bukan Hal Baru

Bagi sebagian orang, hasil penelitian Ichwan itu mungkin mengejutkan. Tapi bagi sebagian lain, ini polemik yang sudah ‘basi’, sebab sudah sejak awal abad ke-20 pengertian dan asal kata Batak dipolemikkan. Sebutan atau perkataan Batak sebagai nama satu etnis di Indonesia, misalnya, sudah dibicarakan dalam beberapa penerbitan surat kabar pada tahun 1900-an. Sejumlah penulis ketika itu sudah berdebat, apa sesungguhnya pengertian kata (nama) Batak dan dari mana asal muasal kata itu?

Di suratkabar Pewarta Deli Nomor 82 tahun 1919, misalnya, polemik terjadi antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J Simanjutak. Polemik yang sama terjadi di surat kabar keliling mingguan yang diterbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Immanuel Edisi 17 Agustus 1919, akhirnya tampil sebagai penengah di antara silang pendapat yang ada. JS mengutip buku berjudul Riwayat Poelaoe Soematra karangan Dja Endar Moeda yang terbit tahun 1903, ada halaman 64 menulis: 

Adapoen bangsa yang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : oerang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…"

Berdasarkan sejumlah referensi, umumnya kata Batak menyiratkan defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Menurut Ambrosius Hutabarat dalam catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938, pengertian Batak adalah orang yang mahir menaiki kuda, memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang berjiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan menghadapi bahaya/rintangan.

Bahkan, salah seorang pemikir Batak ketika itu, Drs. DJ. Gultom Raja Marpodang menulis teori bahwa suku Batak adalah sai-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal-usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda (sekitar Asia Tenggara sekarang), masuk ke pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia.

Drs DJ Gultom bahkan bersusah payah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak dengan membaca sejarah, legenda, mitologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat. Beberapa perkataan “batak” antara lain ditemukan dalam hampir seluruh bahasa sub etnis Batak mulai Pak-pak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Toba, yang pada umumnya bermakna heroik, tidak negatif. 

Berbagai penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan anggapan seolah-olah ‘Batak’ adalah suatu aliran/kepercayaan tentang suatu agama yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak ketika itu.

Dalam pemeriksaan Ichwan terhadap arsip-arsip di Jerman, penelusuran data di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde atau The Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda, sama sekali tidak ada penjelasan tentang defenisi Batak sebagai penunggang kuda, yang kemudian diplesetkan sehingga menjadi sangat peyoratif terhadap identitas kebatakan.

Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. 

Tak mengherankan peneliti Batak asal Belanda bernama Van der Tuuk, pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan Batak untuk nama etnik karena imej negatif pada kata itu.

“Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

Dalam peta-peta kuno itu, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat. kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

Bermula dari Daniel Perret

Menurut salah seorang pengamat Kebatakan, Thompson Hs, penelitian Ichwan Azhari itu terkait dengan isu tentang Batak yang dilontarkan Daniel Perret dalam bukunya berjudul Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Buku tersebut sudah diseminarkan oleh PUSSIS pimpinan Ichwan Azhari sendiri.

Dalam buku Daniel Perret, semua istilah Batak dicatat dalam tanda petik dan identifikasi “batak” dalam setting kolonial waktu itu merupakan bagian dari dikotomi antara melayu yang dianggap beradab melalui kesultanan dan keislamannya dan posisi orang-orang “batak” yang belum menganut Islam yang dianggap stereotip dari orang-orang yang tidak beradab. 

“Peta dikotomi ini saya kira yang ingin diungkapkan kembali oleh Ichwan Azhari tanpa mengungkap posisi Melayu di Sumatera Utara. Kita tunggu saja sambungan penelitiannya,” ujar Thompson.

Menurut Thompson, hasil penelitian Ichwan itu juga terkait dengan kepentingan isu Batak yang diperdebatkan lagi oleh sebagian orang Karo belakangan ini. Dalam sebuah diskusi di Padangbulan baru-baru ini, identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan muncul dari seorang antroplog Karo, Juara Ginting. Juara mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak disematkan pada suku Karo. 

Menurut Juara, tak ada kaitan antara Batak dengan Karo. Juara tak setuju jika Karo dianggap Batak, sebab Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan tidak bisa langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi.

“Tentu saja orang Karo tidak harus menjadi Batak. Itulah mungkin dasar lain di samping argumen Juara Rimanta Ginting yang mengambil catatan-catatan lama secara umum. Lalu orang Toba sendiri juga bisa juga menganggap dirinya bukan orang Batak. Mamun masalahnya bukan di situ,” kata Thompson.

Masyarakat Mandailing juga menolak disebut Batak. Sebab Mandailing sudah diketahui sejak abad ke-14, menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing. Nama Mandailing tercatat dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M.

Tapi ‘Batak’ sama sekali tidak disebut dalam kitab tersebut. Nama Batak itu sendiri tidak diketahui asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun.

Ketika Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu, mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, tapi juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Belandalah yang kemudian membatakkan bangsa/umat Mandailing dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda.

Kembali ke hasil penelitian Ichwan. Menurutnya, konsep Batak dari misionaris Jerman semula digunakan kelompok masyarakat di kawasan Tapanuli Utara, tapi lebih lanjut dipakai Belanda menguatkan cengekraman ideologi kolonial.

Perlahan-lahan konsep Batak itu meluas dipakai Belanda termasuk sebagai pernyataan identitas oleh penduduk di luar daerah Toba. Peneliti Belanda kemudian merumuskan konsep sub suku batak dalam antropologi kolonial yang membagi etnik Batak dalam beberapa sub suku seperti sub suku Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun serta Batak Pakpak. (Panda MT Siallagan/Sumut Pos)

Bagikan:

06 November 2015

Antara Selat Bosphorus dan Pesona Tapian Nauli


Sebuah desa, kota atau wilayah selama-lamanya akan dikenang atas seluruh karakter dan keunikannya. Alam, tradisi, sejarah, budaya, adat-istiadat, kuliner dan capaian modernisasi selalu menjadi referensi tentang mengapa seseorang datang, pergi dan rindu  pada sebuah tempat.

Senja di Pantai Bosur, Pandan, Tapanuli Tengah.
Saya selalu terharu membaca buku memoar berjudul Istanbul, Kenangan Sebuah Kota karya Orhan Pamuk, sastrawan Turki peraih Hadiah Nobel Sastra pada 2006. Buku ini mengisahkan secara menakjubkan perenungan-perenungan yang lembut tentang Kota Istanbul.

Masa kejayaan Kesultanan Usmani, jalan-jalan yang menyedihkan usai keruntuhan imperium itu, acara makan dan pesta-pesta masyarakat borjuis dengan daging panggang, roti keju, coklat dan tetek bengek etika di meja makan dan seni dapur.

Orhan juga secara sentimentil membicarakan Bosphorus, selat yang memisahkan Turki dengan bagian Eropa. Jika Istanbul bicara tentang kekalahan, kehancuran, kehilangan dan kesedihan, tapi Bosphorus menghidangkan kehidupan dan kesenangan.

Selama berabad-abad, Bosphorus hanya dikenang sebagai jalan air, tapi kemudian para pejabat Usmani mulai membangun vila dan rumah-rumah musim panas di kawasan itu. Dan Istanbul kemudian mendapatkan kekuatannya dari selat itu.

Lalu segalanya menjadi rahasia dan keajaiban yang hangat. Dinamika pantai, perahu-perahu, kafe, vila dan rumah-rumah peristirahatan disemangati oleh udara laut yang berhembus riuh. Buku ini cemerlang mengisahkan hal-hal sederhana dari sejarah masa silam hingga masa modern. Orhan menghubungkan benda-benda, lanskap, penanda kota, bangunan kuno, sungai, pantai dan seluruh intrik politik menjadi sajian yang menyentuh.

Dan setiap membaca itu, pikiran saya selalu mengembara ke Samosir, Toba, jalanan berkelok penuh bahaya menuju lembah Silindung, terus membelah gunung hingga tiba di Tapian Nauli yang syahdu. Atau mungkin memanjangkan tualang ke Barus, peninggalan kesultanan besar di masa lalu. Betapa ajaibnya. Betapa menggetarkan merenungkan bagaimana alam yang terberkati ini terhidang penuh energi dan tak akan habis jika diletakkan dalam penggambaran-penggambaran detail.

Dan kita menjadi kurang waktu mempelajari seluruh sejarah, geografi, kekayaan tradisi dan budaya, juga keseluruhan hal-hal menakjubkan di dalamnya. Tetapi, adakah seseorang diantara kita yang mampu merekam kesyahduan Tapian Nauli itu dalam bentuk buku, biografi, memoar atau lukisan-lukisan? Adakah seseorang berkenaan menuliskan memoar tentang hidupnya di tengah kegemilangan sejarah dan masa depan Toba dan Tapian Nauli.

Ketika seorang Tionghoa bernama Sio Hong Wai menulis buku Tionghoa di Tarutung, muncul gelombang protes karena buku itu dinilai melecehkan Batak. Sekilas saya baca, buku ini mengisahkan sejarah perjumpaan Tionghoa dengan Batak, yang diawali dengan pengisahan Lembah Silindung tempo dulu, yang di dalamnya disinggung kisah kanibalisme yang entah bagaimana menjadi momok kepada generasi baru.

Saya lebih tertarik membahas, apa sesungguhnya kanibalisme dalam konteks sejarah Batak? Ia tidak serta merta serupa dengan kanibalisme yang dirumuskan Barat, sebab ada konsep hukum (uhum) yang berlaku dan tak bisa dilepas dari konteks itu. Buku ini subjektif, maka sebaiknya ia didudukkan dalam dialektika yang menjunjung tinggi etika intelektualitas.

Baiklah, dalam suatu perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman menuju Tapian Nauli, segalanya merangsek dan menggoda untuk dicatat. Tapi karena begitu banyak hal berseliweran, saya pilih satu topik untuk saya akhiri di catatan ini: kuliner!

Berangkat dari Pematangsiantar menjelang senja, roti Ganda sepertinya sudah wajib jadi oleh-oleh. Sesungguhnya, produk toko Asli lebih dikenal pada masa lalu, tapi popularitas produk itu kini mulai raib. Tiba di Parapat, kopi dan telur asin menjadi ‘terpaksa’, sebab Kota Turis itu tak menjanjikan apa-apa soal kuliner. Di jantung Lembah Silindung, kota Tarutung yang lembut itu, kecewa kembali mendera sebab sebuah rumah makan tetap menawarkan menu kering sebagaimana bisa ditemukan di rumah-rumah makan di manapun.

Di Sibolga, rumah-rumah makan banyak menawarkan kuliner bahan dasar ikan laut. Tapi seni masak itu masih menganut bumbu-bumbu nasional dan internasional. Mana bumbu khas?

Bonaran Situmeang, mantan Bupati Tapteng yang pengacara kondang itu, ketika itu menawarkan menu tradisional khas Tapteng di sebuah rumah makan Tapian Nauli dekat jembatan. Di bawah jembatan itu, mengalir arus air menuju muara untuk selanjutnya berakhir di laut. Di situ ada lokan gulai, daun ubi santan, ikan bakar, udang goreng alami dan masakan-masakan lain yang masih menganut bumbu tradisional. Konon, Tapteng memiliki kekayaan kuliner seperti panggang pacak, badar, gulai sale dll.

Tapteng memang telah dicanangkan sebagai Negeri Wisata Sejuta Pesona mulai tahun 2012. Bonaran sepertinya ingin masyarakat dunia melihat keindahan dan keunikan alam maupun sejarah di Tapteng dengan secara kontinue melakukan publikasi, mengundang artis hingga Tapteng dikenal dunia internasional, termasuk kekayaan kulinernya. Hmm……! (Panda MT Siallagan)

Bagikan:

04 November 2015

Kita dan Kiper


Seluruh tikungan sejarah dan peradaban manusia akan berakhir pada jalan lurus bernama kematian. Dan setiap yang ngeri selalu mengguncangkan jiwa. Bagi pikiran, kematian dan kengerian akan menjadi penantian getir yang berlangsung selama-lamanya.

Ilustrasi.
Tentang kematian, saya terguncang hebat ketika pertama kali membaca novel berjudul The Outsider, buah karya Albert Camus. Kalimat pembuka novel itu menggambarkan situasi psikologis yang betul-betul kacau. Camus mengawali novelnya dengan kalimat: Ibu meninggal hari ini. Atau, mungkin kemarin, aku tak yakin.

Dalam kisah selanjutnya, kita mengetahui bahwa tokoh yang kehilangan ibu ini tidak pernah menangis. Lalu, tokoh dalam cerita ini pulang ke kampungnya di Aljazair untuk menjenguk jenazah ibunya.

Ia seperti bermimpi sepanjang perjalanan. Dan tergambar di novel itu, setibanya di depan jenazah ibu, tokoh kita yang bohemian ini tak tahu bagaimana mengekspresikan kesedihan. Ia hanya merokok di depan jenazah.

Terlalu jauh mengkaji novel ini secara mendalam, sebab selain pembacaan kita harus menyeluruh terhadap seluruh teks dan latar belakang kehidupan masa itu, kita juga memerlukan perangkat teori bahkan psikoanalisis untuk membahasnya. Tapi mari kita sederhanakan: betapa memang segala hal tak perlu ditangisi, bahkan kematian.

Lalu, kematian sering menjadi analogi untuk menyatakan kehancuran sesuatu. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal frasa mati suri. Ketika dunia sepak bola di Indonesia tak kunjung berkembang dan tak bisa menyamai kejayaan pada tahun 50-an, kita menyebutnya mati suri.

Ketika bulu tangkis kita pernah jadi kebanggaan yang tak terkalahkan di seluruh dunia lalu surut lagi, orang menyebutnya mati suri. Tentu, ini hanya idiom. Makna denotatifnya adalah optimisme: boleh mati, tapi harus hidup kembali.

Albert Camus mungkin menyadari betul situasi kehilangan itu. Kematian tak perlu ditangisi, sebab ada hal-hal yang harus berlalu dan ada yang harus lahir. Tapi mengapa Albert Camus? Sebab selalu ada histeria sepak bola dalam berbagai ajang bergengsi.

Di Indonesia sendiri, bahkan hingga pelosok-pelosok, kejuaraan sepak bola selalu ditunggu dan dirayakan bak pesta massa paling membahagiakan. Ada euforia, judi dalam beragam bentuk, atau pemujaan-pemujaan yang kadang tak rasional pada sebuah tim (negara) atau para pemain. Tentu, pusat seluruh goncangan jiwa, harapan, kekecewaan, akan tumpah di lapangan ajaib yang sangat dinamis selama 2 x 45 menit itu.

Dalam beberapa catatan, Albert Camus disebut pernah menjadi kiper klub bola kampung semasa muda, saat ia masih tinggal di pemukiman miskin di Aljazair. Panggilan hidup menggerakkannya hijrah ke Perancis dan kemudian kita mengenalnya sebagai filsuf, penyair, sastrawan dan wartawan. Tahun 1957, ia dianugerahi hadiah Nobel bidang sastra. Maka barangkali, Camus adalah sosok yang paling paham arti kesepian. Kesepian seorang kiper, kesepian pemikir yang tak pernah henti mencari.

Demikian adanya: ketika bola digiring ke arah gawang lawan, darah kita mulai dipacu. Jantung terasa riuh dan pikuk. Ketika bola diolah dengan beragam teknik dan estetika permainan, kita juga disuguhi semacam rasa nikmat dan harapan. Pernahkah kita teringat pada kiper? Lalu ketika segalanya meledak dengan gol, kita tersentak. Kita berteriak hebat, mengalami puncak bahagia tiada tara.

Tapi kiper lebih sering terlupa. Kita tak melihatnya dalam eforia itu. Dia berteriak sendirian. Sebaliknya, ketika tim favorit dan kesayangan kita dibobol, kita terhempas, harapan terampas, dan kita memaki kiper. Apa salahnya? Bayangkanlah, betapa sepinya.

Sebagaimana tampak dalam karya-karyanya, Camus adalah orang yang paling jeli melihat kenyataan, juga kebesaran hati untuk menerima sesuatu yang pantas, atau menolak sesuatu yang bukan miliknya. Baiklah, pada akhirnya bola bukan sekedar bola. Ia bisa merepresentasi segala ihwal, segala kenyataan. Tentang kehidupan, bisnis, industri, sportivitas, bahkan bisa diambil nilai-nilainya menjabarkan kematian.

Ketika dunia diukur dan ditentukan produktivitas, maka sesungguhnya bola adalah model yang pas untuk proyeksi setiap unit usaha dan bisnis. Tak perlu mempersoalkan siapa dan bagaimana, kecakapan mutlak jadi syarat utama, lalu tim work. Satu mengumpan yang lain, yang lain menyambut untuk kemudian memberi lagi umpan yang lain. Begitu tanpa henti, tanpa ada waktu untuk lalai. Dan tujuan itu, goal itu, akan mempertemukan kita dalam kebanggaan yang solid dan penuh persaudaraan.

Maka kadang-kadang, kita heran mengapa para politisi dan elit pemerintahan sangat suka dan sebagian gila bola, tapi mereka gagal membangun semangat dan kebersamaan mengharukan? Entahlah! (Panda MT Siallagan)

Bagikan:

02 November 2015

Balada Bawang


Tiba-tiba sebuah pemahaman dan keresahan baru muncul dari balada terbaru itu. Balada atau badai, entahlah. Selama ini kita seolah tak berjarak dengannya. Tapi pengetahuan kita tentangnya ternyata sangat jauh. Sangat sepi.

Ilustrasi.
Judul balada itu, atau badai itu: bawang merah dan bawang putih. Segera, kita mungkin terkenang dongeng itu. Atau balada itu. Atau badai itu. Entahlah. Dan dongeng itu begitu familiar, begitu dekat dengan rasa kita. Bawang merah dan bawang putih.

Dikisahkan, tokoh kita si bawang merah selalu berkarakter jahat, licik, egois, ingin menang sendiri. Ia adalah representasi karakter negatif. Representasi masyarakat kebanyakan. Tapi kita tahu, bawang goreng adalah kerapuhan yang nikmat dan wangi, yang tiada tara rindu bagi lidah.

Engkau mengenalnya dalam riak rasa sop, atau lelehan sate beragam nama. Betapa jauh dan kontras situasi ini. Tapi begitulah, khalayak banyak memang sangat gampang memahami hal-hal yang lezat dan nikmat. Tapi sangat sedikit orang yang benar-benar paham memaknai luka. Dan seperti tokoh kita bernama bawang merah, marilah menonton teater ketika seorang ibu atau wanita mulia memasak di dapur. Bawang merah selalu lebih banyak digunakan ketimbang bawang putih.

Dan engkau tahu, pribadi-pribadi berkarakter bawang merah, seperti ditegaskan kenyataan, memang lebih eksis di dunia yang fana ini. Tapi ya, bawang adalah sumber sejuta kisah. Ia rekat dengan makanan, rekat dengan perkembangan gastronomi atau yang karib kita namai kuliner.

Segalanya tak pernah lepas dari bawang. Belakangan, dunia yang jauh, dunia sastra Indonesia, juga berpadu-paut dengan kuliner. Banyak cerpen-cerpen bisa kita baca bertemakan makanan. Terhitung sejak 2008, tema-tema kuliner boleh dikata sangat menonjol pada karya-karya sastra Indonesia, baik pada genre cerpen maupun puisi.

Tentu, fenomena itu tak lepas dari program-program kuliner di berbagai media massa. Dan kini, seperti sebuah kejutan yang menyakitkan sekaligus geli, bawang mendobrak pentas politik nasional.

Jika selama ini kita mengenal komoditi politik hanyalah sebatas beras, pupuk, minyak dan kelapa sawit, kini bawang hadir sebagai ‘pemain baru’. Dulu, cabai juga pernah menghebohkan situasi nasional dan memaksa parlemen bersidang.

Tetapi, apakah para elit pemerintah dan politisi terlambat memahami seluruh potensi benda-benda dapur ini? Saya tiba-tiba berpikir usil, jangan-jangan bawang ini sudah belajar dari sahabat-sahabat mereka di dapur. Pisau dan talenan, atau batu giling yang cadas bersama cabai.

Dan memang sudah saatnya mereka bicara tentang situasi kebangsaan kita yang tak kunjung berujung baik. Dan demikianlah, para budayawan dan sastrawan sudah bisa mencium geliat bawang dan bumbu-bumbu sejak jauh-jauh hari, sementara para elit tak peka dan baru sibuk setelah sebuah peristiwa meledak.

Bermula dari harga bawang yang melejit tinggi dan menghempaskan ekonomi masyarakat bawah. Lalu api mulai begulir, hingga muncul tudingan bahwa menteri pertanian ikut bermain bawang. Bah! Kabar terakhir dari Batubara, Sumut, sebanyak 35 ton bawang bombay diselundupkan.

Bawang-bawang itu dikemas dalam tujuh unit truk, diduga berasal dari Malaysia dan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Tiram. Sebuah sajak pernah saya tulis, berjudul Tragedi, terbit di Kompas 4 Oktober 2009.

Demikian nukilan beberapa baitnya:

Cabai terbaring bugil di atas batu pipih. Maaf, jerit batu bulat, pasrah ditunggang telapak tangan penggiling. Bawang mengerang untuk siung kering yang dibuang ke tong. Pasrah, sebab berlapis-lapis waktu usang serupa sampah.

Meluncur jahe, lengkuas dan kunyit: terperas membasahi lumatan cabai dan lendir bawang. Dan inilah tragedi itu. Budaya kehancuran. Kita seolah disiapkan memainkan peran-peran menghancurkan, mencari nikmat dan untung dari setiap penghancuran.

Dan bila kita mengupas bawang merah dan mengirisnya, mata berkaca-kaca karena panas, bukankah itu sebuah keyakinan bahwa setelah itu kita akan memperoleh nikmat? Karakter tokoh kita si bawang bawang merah mungkin harus membuat kita menangis.

Dan pernahkah kita ingat, tokoh kita si bawang putih yang tidak membiarkan airmata menetes? Tokoh ini sebetulnya sangat baik hati, penyabar dan rendah hati. Maka secara filosofis, bawang putih adalah jelmaan hati dan jiwa mulia yang sedikit itu.

Dan bawang merah adalah jelmaan para elit, para walikota dan bupati, para penyulundup, juga masyarakat banyak yang serakah itu. Maka, kenanglah para petani bawang di desa-desa yang jauh itu, kenanglah kesepian mereka, hayati ketulusan mereka mencintai tanah dan tanaman. Dan engkau harus mafhum, selama-lamanya mereka tak akan mengenalmu. Tak akan mengenal politik. (Panda MT Siallagan)

Bagikan: