17 April 2017

Ini Buku-buku Sastra Berbahasa Batak, Halak Hita Harus Tahu...


Dalam upaya mempertahankan kelestarian Bahasa Toba, belakangan ini sejumlah sastrawan Batak mulai menulis dalam bahasa ibu, yaitu Bahasa Batak Toba. Sejauh ini, karya-karya masih terbatas pada torsa-torsa atau cerpen. Ke depan, kita tentu berharap agar para penyair Batak juga menulis puisi dalam bahasa Batak.

Berikut antara lain buku-buku sastra berbahasa Batak yang dapat dinkmati oleh semua Bangso Batak:

1. Tumoing Manggorga Ari Sogot, karya Saut Poltak Tambunan  
Sampul buku Tumoing.
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) dan dianggap sebagai cikal-bakal kebangkitkan sastra Batak modern. Secara tematik, buku ini mengetengahkan berbagai kearifan lokal dan nilai luhur tradisional etnis Batak Toba.

Manggorga Ari Sogot jika diterjemahkan artinya menatap masa depan, boleh ditafsirkan sebagai seruan mengajak para sastrawan terus melahirkan karya sastra Batak bermutu.

Sang pengarang, Saut Poltak Tambunan, dalam suatu kesempatan mengaku prihatin dengan perkembangan karya sastra Batak yang semakin menurun dewasa ini, bahkan dianggap kurang mampu bersaing di tataran nasional. Sebab, apresiasi terhadap bahasa Batak itu dinilai cukup rendah, sehingga salah satu cara untuk menyelamatkannya adalah menuliskan bahasa Batak dalam bentuk karya sastra.

Buku ini memuat 15 hikayat setebal 169 halaman yang merupakan kumpulan cerita rakyat tentang kehebatan atau kepahlawanan tokoh-tokohnya.

2. Mangongkal Holi, karya Saut Poltak Tambunan

Buku Mangongkal Holi diterbitkan mengetengahkan banyaknya kearifan lokal dan nilai luhur tradisional etnis Batak. Sebagaimana kita tahu, mangongkal holi merupakan tradisi membongkar kembali tulang-belulang dan menempatkannya ke suatu tempat (batu napir) atau bangunan yang lebih tinggi dan mewah dari makam sebelumnya.

"Sebagai seorang penulis, saya merasa bertanggungjawab untuk menulis karya sastra berbahasa Batak," ujar pengarangnya.


3. Mandera Na Metmet, karya Saut Poltak Tambunan.

Novel ini diterbitkan Selasar Pena Talenta tahun 2012 dengan tebal 143 halaman. Mandera na Metmet membawa kita untuk membayangkan kondisi anak-anak Batak yang ikut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan jiwa kekanak-kanakan mereka.


Cerita Mandera na Metmet mengambil setting perjuangan kemerdekaan sekitar agresi militer Belanda I sekitar tahu 1947–1948, yang dituturkan oleh tokoh Ompung yang begitu akrab, komunikatif dan dirindukan oleh cucu-cucunya Batara, Uli dan Hasian. dan kemungkinan besar terjadi di sekitar Onanrunggu Sipahutar, agak mirip dengan gambar yang dibuat menjadi cover dari novel ini.

Kepiawaian menyusun struktur cerita dalam buku ini, membuat kita berada pada posisi Batara, Hasian dan Uli yang selalu penasaran untuk segera tahu kelanjutan cerita tokoh Ompung. Rasa penasaran ini selalu terbentur dalam keterbatasan waktu dan disiplin yang ditetapkan oleh orangtua mereka.

Jeremia dan Jekjek kita temukan menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Anak-anak berumur sekitar 12–14 tahun, tidak bersekolah. Mereka memahami arti merdeka, penjajahan, makna keberanian, kesetiakawanan dan nilai-nilai perjuangan, bukan dari bangku sekolah, melainkan dari persoalan-persoalan kehidupan yang mereka saksikan masa itu.

4. Embas Sian Dakdanak

Buku ini merupakan kumpulan cerpen karangan berbagai penulis Batak Toba. Secara keseluruhan, karya Saut Poltak Tambunan masih tampil dominan dalam buku. Sejumlah pengarang lain yang ikut menyumbangkan karya dalam buku ini antara lain Erika Pardede, S Mida Silaban, Rose Lumbantoruan dan Seri Swanty Hutahaean.

5. Manigat Sihol, karya S. Mida Silaban

Buku ini berisi 10 cerpen berbahasa Batak Toba karya Nai Pasca (S Mida Silaban). Isi cerita antara lain memotret kehidupan seseorang yang tumbuh dan dibesarkan di alam desa tradisional, hingga berhasil di ibukota, dan mendapatkan tantangan untuk merawat dan mewariskan nilai-nilai luhur habatahon kepada generasi muda yang dikepung budaya kota yang berbeda.

Pada cerpen pembuka Maronan misalnya, terlihat bagaimana seorang gadis kecil lugu digembleng mengemban sebagian tanggung jawab ekonomi keluarga, namun tetap dapat menikmati kehangatan siraman kasih dan interaksi sosial yang bersahabat dan sportif.

Sementara ada cerpen berjudul Martandang, potret romantika pergaulan teruna zaman dulu sebelum era TV masuk desa mengkonfirmasi bahwa hatomanon dan sopan santun seorang gadis belia mampu merontok luluhkan panah asmara pemuda idola, tanpa si gadis harus perlu gintal dan bergaya ria. Kegalauan orang tua yang membesarkan anak-anak di kota metropolitan, di tengah kesibukan masing-masing, tersiasati dengan baik dalam interaksi nenek–anak–cucu.

6. Sonduk Hela, karya Tansiswo Siagian

Ini buku kumpula cerpen karya Tansiswo Siagian atau alias Palambok Pusupusu. Buku Sonduk Hela terbit 225 halaman, diterbitkan Selasar Pena.

Sampul buku Sonduk Hela.
Ada sepuluh cerita pendek di dalam Sonduk Hela, yaitu Sonduk Hela, Marguru tu Datu, Martuhan do Hami Jala Marta­ngiang, Mar-Medan, Bondar Pa­ridian, Di Tonga ni Dua Ina, Ma­sisagak, Holong Pamuhai, Mago Pusaha dan Ingonghu Sidua Marga.

Dari ke sepuluh cerpen ini, penulisnya memilih Sonduk Hela menjadi judul bukunya. Tentu saja penulis memiliki pendapat, kenapa judul buku itu harus Sonduk Hela. (Panda MT Siallagan/bbs/int)
 
Bagikan:

14 April 2017

Puisi-puisi Penyair Indonesia tentang Paskah

Gerson Poyk

Via Dolorosa


makin terasa ada kesementaraan
berbunga dalam dada
bila kematian tadi di bayang sendiri
tanah kelahiran selalu menerima kepedihan umur
sampai pun suara seru: aku pun pergi tua selalu tersua
matahari pasir

aku pun ingin kembali, wahau matahari mawar
tinggal kini seberkas cahaya di mesin desis
dalam keinginan berjaga keinginan membela
mata yang kulalui genangan rawa tepi kota yang bengis
dengan sisa iman yang terkikis oleh tangis
kuterbang dari jiwa yang mengambang di rawa kota yang jauh
sebab sayatan ratap pedih diri sendiri
dosa dan binasa pernah padanya berkecup ramah
mengajak kembali ke tanah lahir yang menerima kepediman umur

wahai udara yang berdarah pengorbanan
dalam segala ruang, detik dan ketiadaan
sampai pun terbongkar hancur satu elektron oleh pencari
engkau masih buat apa bagi yang belum puas terima

Sumber: Dari Rote ke Iowa (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2016)

Ilustrasi.

Sitor Situmorang

CHATEDRALE DE CHARTRES


Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih

Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat

Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata

Ketika malam itu sebebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
TErsedu ia dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis

Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu

Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah kisah hari Pasah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan siteri yang setia
Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
BErsatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lamabaian cinta setia dan pelukan perempuan

.....Demikianlah
.....Cerita Pasah
.....Ketika tanah basah
.....Air mata resah
.....Dan bunga-bunga merekah
.....Di bumi Perancis
.....Di bumi manis
.....Ketika Kristus disalibkan

1953


Joko Pinurbo

Celana Ibu


Maria sangat sedih
menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati,
pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa
celana yang dijahitnya sendiri
dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas!” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

(2004)


Chairil Anwar

ISA


          kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar Tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

12 November 1943

Bagikan:

13 April 2017

Begini Cara Mulajadi Nabolon Menciptakan Bumi dan Segala Isinya


SolupL - Seluruh bangsa di muka bumi mempercayai adanya Kekuasaan di luar dirinya. Kekuasaan itulah yang dipercaya sebagai Maha Pencipta, yang menjadikan langit, bumi dan segala isinya. Bangsa Batak juga termasuk puak yang percaya adanya Maha Pencipta, yang mereka sebut Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Raja Mula-mula atau Ompu Raja Mulajadi atau Ompu Mulajadi.

Ilustrasi.
Kepercayaan orang Batak terhadap eksistensi Mulajadi Nabolon tersiar secara jelas melalui mitos atau silsilah. Menurut silsilah, seluruh alam raya, manusia dan mahluk penghuninya diciptakan oleh Mulajadi Nabolon, dan tampak adanya kesamaan dengan ajaran agama modern: bahwa segalanya diciptakan dengan firman. Bagaimanakah proses penciptaan menurut mitos dan silsilah? Berikut disarikan dari berbagai sumber:

1. Langit Tujuh Lapis

Hal pertama yang diciptakan Mulajadi Nabolon adalah langit. Di dalam mitos dikisahkan, langit ini terdiri dari tujuh lapis (langit sipitu lampis). Mulajadi Nabolon menciptakan tingkatan langit ini sebagai tempat roh-roh sesuai dengan status dan martabat. Dan setiap lapis ada penjaganya. (BACA: LANGIT 7 LAPIS DAN PARA PENGHUNINYA).  Menurut mitos itu, langit diciptakan berdasarkan firman. Jadilah, maka jadilah.

2. Sistem Cahaya

Setelah menciptakan langit, Mulajadi Nabolon kemudian menciptakan sistem cahaya, yaitu matahari, bulan dan bintang. Uniknya, mitos Batak menyebutkan bahwa matahari memiliki anak yang disebut dengan angkalau. Ada juga kisah bahwa matahari dan bulan tidak akur sejak diciptakan. Pernah terjadi perkelahian hebat antara keduanya. Bintang-bintang juga demikian. Disebutkan bahwa bintang-bintang itu diberi nama Ilala, Sijombut, Sigaraniapi, Sidondong, Sialapariama, Sialasungsang, Marihur, Martimus, Bianu, Borma, Sori, dan masih banyak lagi. Antara bintang-bintang ini, sering terjadi perkelahian.

3. Penghuni Benua Atas (Dewa-dewa)

Disebutkan bahwa langit adalah banua ginjang (benua atas). Setelah benua atas lengkap dengan sistem tata surya, Mulajadi Nabolon kemudian menciptakan para penghuni banua ginjang. Mahluk benua atas yang pertama kali diciptakan adalah Manuk-manuk Hulambujati. Manuk-manuk Hulambujati ini kemudian bertelur, dan dari masing-masing telur menetaslah dewa-dewa. Dari telur pertama, menetas Dewa Bataraguru dan Raja Odap-odap. Dari telur kedua menetas Dewa Debata Sori dan Tuan Dihurmajati. Dari Telur ketiga menetas Dewa Bala Bulan dan Raja Padoha.

Bataraguru, Debata Sori, dan Bala Bulan kemudian dikenal sebagai Dewata Tri Tunggal atau debata na tolu. Dari dewa-dewa inilah kemudian muncul ciptaan-ciptaan berikutnya seperti bumi yang dalam silsilah disebut banua tonga (benua tengah) dan banua toru (benua bawah).

4. Bumi/Tanah

Mitos mengisahkan, Bataraguru memiliki satu putra dan 6 putri. Putri bungsunya bernama Siborudeakparujar. Pada masanya, Siborudeakparujar dijodohkan dengan Raja Odap-odap, tapi Deakparujar menolak karena Raja Odap-odap buruk rupa. Singkat kisah, ia minggat dari langit dan meluncur ke lautan yang kosong dan hampa. Mulajadi Nabolon kemudian memberikan segumpal tanah karena Deakparujar tak sudi lagi pulang ke langit. Segumpal tanah itu kemudian bertambah luas dan jadilah daratan.

5. Mahluk Hidup

Mulajadi Nabolon kemudian menciptakan tumbuh-tumbuhan, mahluk-mahluk di bumi dan burung-burung yang bisa terbang.

6. Manusia

Setelah alam raya lengkap, pada akhirnya Deakparujar setuju menikah dengan Raja Odapodap. Lahirlah Ihatmanusia. Ihatmanusia kemudian memperanakkan Raja Miok-miok. Raja Miok-miok memperanakkan Engbanua. Eng Banua memperanakkan Raja Bonang-bonang. Raja Bonang-bonang memperanakkan Raja Tantandebata. Raja Tantandebata memperanakkan Si Raja Batak, manusia pertama di Tanah Batak. (bbs/berbagai sumber)

Bagikan:

12 April 2017

Aktris Cantik Maudy Ayunda Ketagihan Baca Puisi

 
Maudy Ayund.

SolupL - Aktris cantik Maudy Ayunda membacakan salah satu surat Kartini dalam Panggung Para Perempuan Kartini dengan penuh penghayatan pada Selasa (11/4/17) di Museum Bank Indonesia, Jakarta.

Maudy mengatakan, ia memang ketagihan membacakan puisi dan karya sastra lainnya. "Saya memang ketagihan membacakan puisi, kutipan ataupun surat karena sedikit mengingatkan saya pada dunia teater. Soalnya dulu saya suka banget main teater musikal yang sekarang sudah jarang banget," katanya.

Pelantun lagu Untuk Apa ini juga mengaku sudah beberapa kali tampil membacakan puisi dan karya sastra lain, salah satunya dengan tema Kemerdekaan pada tahun lalu yang juga digelar oleh Media Tempo.

Menurutnya, menjadi salah satu pengisi acara seperti ini termasuk caranya untuk memperingati hari Kartini.

"Kalau misalnya tidak ada undangan acara seperti ini, ya saya memperingati hari Kartini dengan membaca karya-karya atau kutipan Kartini yang banyak dan inspiratif banget," tutup lulusan Universitas Oxford ini. (bbs/int)
Bagikan:

10 April 2017

Chairil Anwar Diusulkan jadi Pahlawan Nasional


SolupL - Forum Inisiator Pengusulan Chairil Anwar menjadi Pahlawan Nasional yang terdiri dari sejumlah wartawan dan budayawan, menggelar rapat di Sarikayo Kopi, Payakumbuh, Sumbar, Sabtu (8/4/17). Mereka menggagas sekaligus mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk sang pujangga Chairil Anwar.

Tembok bertulis penggalan Chairil Anwar. [Foto: Inernet)
Ketua Forum Inisiator Pengusulan Chairil Anwar menjadi Pahlawan Nasional, Gus TF  Sakai,  mengatakan, Chairil Anwar sudah sangat pantas diberi gelar pahlawan nasional. Hal itu karena lewat karya-karyanya, sastra menjadi bukti sebagai alat perjuangan.

"Kemudian, Chairil punya hubungan erat dengan pejuang sekelas Sutan Syahrir, Sukarni dan Khairul Saleh," tutur Gus TF dalam rilisnya kepada media, Minggu (9/4/17).

Selain Gus TF, sastrawan dan budayawan lain yang tergabung dalam forum adalah Khairul Jasmi (peraih Press Card Number One/pemimpin redaksi Harian Singgalang), Iyut Fitra, Yulfian Azrial, Yudilfan Habib, Rayfoster WM, Muhammad Bayu Vesky dan Yusra Maiza, Fajar Rillah Vesky, Adri Sandra, Nasrul Azwar, Dr Yusril serta Ade Suhendra.

Penyair Iyut Fitra menambahkan, dalam waktu dekat, Forum ini berencana menggelar serangkaian kegiatan dalam mewujudkan gelar pahlawan nasional untuk Chairil Anwar. "Kita akan segera laporkan hasil pertemuan ini secara berjenjang. Bupati Limapuluh Kota juga ikut mensupport," ujarnya.

Selain menggandeng Pemkab Limapuluh Kota, Forum nantinya akan meneruskan hasil rekomendasi Pemkab kepada Gubernur Sumbar untuk kemudian diusulkan ke Pemerintah Pusat, melalui Kementerian Sosial RI.

Adapun susunan pengurus dan anggota Forum Inisiator yakni, Ketua Gus TF Sakai, Wakil Ketua Iyut Fitra, Sekretaris Yulfian Azrial, Wakil Sekretaris Rayfoster WM dan Bendahara Yusra Maiza.

Sementara itu, wartawan senior Khairul Jasmi menyebut, wacana gelar pahlawan untuk Chairil Anwar bukanlah muluk-muluk. "Kita serius soal ini," kata KJ, sapaan akrab Khairul Jasmi.

Setali tiga uang, Yulfian Azrial menyebut, jika WR Supratman dinobatkan sebagai pahlawan nasional lewat lagu Indonesia Raya, maka Chairil Anwar juga berjuang lewat karya-karya puisinya yang monumental.

Selain itu, karya puisi Chairil Anwar, menurut Rayfoster WM, banyak menjadi bahan diskusi di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi sebagai karya sastra yang menggugah nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun. Ia dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" yang diambil dari karyanya yang berjudul Aku. Dia seorang penyair terkemuka Indonesia dan diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh HB Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, dll. (bbs/int)

Simak video kisah hidup Chairil Anwar di bawah ini:


 
Bagikan:

08 April 2017

Sinamot, Sebuah Ujung Kisah


Oleh Panda MT Siallagan

Akhirnya, gelisah itu berujung. Pukul 06.00 WIB, kabar itu tiba. Getar ponsel seperti sengat listrik di kepala. Dadaku sesak, sekaligus lega. Dengan hati kosong, kukemas pakaian ke dalam tas. Hanya beberapa potong. Lalu berlari kecil ke kamar mandi mengambil sikat dan pasta gigi. Memungut ponsel dari atas meja. Memakai sepatu. Keluar dari rumah. Memanggil taksi. Berangkat pukul 09.00 WIB dari Bandara Hang Nadim Batam. Tiba di Polonia Medan pukul 10.00 WIB. Menyewa taksi. Pukul 13.00 WIB akan tiba di desa.

Ilustrasi.
Belum begitu lama sebenarnya. Masih empat bulan. Tapi aku tahu peristiwa itu telah menghabiskan seluruh kebahagiaan dan harapan bapak. Semua berawal dari sebuah Minggu pagi yang berhujan di bulan Maret. Aku pulang disambut hangat. Seekor ayam dipotong. Ngobrol usai makan. Dan aku disuguhi sejarah pedih perjalanan keluarga, yang harus kupedomani. Ibu, adakah sejarah orang desa menyerlah bagai cahaya. Semua menderita, bukan?

Tiba-tiba, “Sudah Maret. Juli kan rencana kalian? Bagaimana kabarnya? Harus disiapkan matang-matang. Bapak dan ibu memang tak ada uang, tapi akan berusaha untuk itu. Cari pinjaman sana sini kan masih bisa. Tak mundur lagi kan?” tanya ibu.

Ibu sepertinya tak siap mendengar kalau rencana itu gagal, seperti telah terjadi berkali-kali hanya karena ketiadaan biaya. Bapak diam, terbatuk untuk sisa sakit paru yang dideritanya sekian lama. Bapak sendiri telah bersusah payah dengan segala tenaga, tapi hasil dari kebun kakao tersedot untuk biaya perobatan yang tak sedikit selama beberapa tahun terakhir.

"Ibu, sepertinya kita harus bersabar lagi,” kataku.

“Maksudmu. Apa kau membawa kabar buruk lagi?” Bapak yang bertanya.

“Bapak, mungkin belum rezeki. Orangtuanya gagal memahami kita. Mereka minta sinamot Rp 50 Juta. Jadi untuk sementara aku berencana ke Batam. Banyak teman yang bisa membantu memberikan pekerjaan lebih layak di sana. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama, bisa kukumpul-kumpul biaya untuk itu. Bapak setuju?”

Bapak diam. Tertunduk. Tangannya agak gemetar meraih gelas berisi jamu di hadapannya. Di sampingnya, ibu menatapku dengan mata kosong, juga meraih gelas berisi air putih hangat, meneguknya dengan tenang. “Ya sudah, tak usah kau sedih karenanya,” berat suara ibu.

“Orang kecil itu memang susah. Dia ini yang tak tahu diri. Kau pikir gampang cari istri anak orang kaya. Coba kalau dulu kau mau dengan pariban-mu itu,” Bapak mengarahkan telunjuknya ke pelipisku.

Perdebatan malam itu berakhir. Ibu beranjak ke kamar. Sebelum tidur, ditembangkannya dua judul kidung jemaat yang sudah dihapalnya. Aku tahu dia sedih dan menangis. Bapak membaca di ruang tengah, sesekali terbatuk. Aku merenung di dapur. Meneteskan airmata. Sudah lama aku tak pernah menangis. Malam itu kesedihan benar-benar tidak tertanggung.

Tiga hari kemudian, aku berangkat. Bapak agak kaku, tapi ibu melepas kepergian itu dengan sesunggukan. Setua itu mereka harus menderita untuk ketidakpastian hidupku. Dan perempuan yang selama 7 tahun mengaku mencintaiku, selalu yakin dengan semua ukuran dan standar hidup yang ditentukannya. Dia membiarkanku pergi tanpa bertanya dan tidak berkata apa-apa tentang rencana pernikahan yang gagal karena angka. “Pergilah, semoga kau bisa,” katanya.

Tertikam duri rasa jantungku mendengar ucapan itu. Sama sakitnya ketika dia jatuh cinta pada rekan kerjanya dan bercerita betapa hebat laki-laki itu. Wajah bersih. Mobil bagus. Gaji besar. Lalu memvonis aku sebagai laki-laki bodoh dan pemalas.

Kini aku berada di dalam taksi yang meluncur cepat. Hampir menetes juga airmata. Tapi kutahan, kuraih bungkus rokok dan aku merokok setelah minta ijin dari supir taksi. Kuisap rokok sambil geleng-geleng kepala.

“Gelisah kayaknya, Bang. Apa buru-buru, biar kita tambahi kecepatan,” kata si Supir taksi.

“Oh tidak. Santai saja. Aku juga perlu menata hati. Aku sesak. Bapakku meninggal subuh tadi.”

“Oh maaf…”

“Tak apa. Semua orang akan kehilangan,” kataku.

Taksi menderu. Angin berhembus kencang dari kaca yang sedikit terbuka. Aku dan supir taksi diam hingga akhirnya aku tiba di desa. Tapi diam itu pecah ketika tangis ibu dan saudara-saudara yang lain meledak sebaik aku tiba. Jenazah ayah terbujur dengan tenang. Kuhidupkan rokok sekedar menenangkan hati yang berkecamuk.

Teringat aku pada Aida. Aku tak tahu apakah dia bersedih dengan kepergian bapak. Tapi kuputuskan tak memberitahu. Setelah pemakaman berakhir, aku cukup menemuinya dan mengatakan bahwa bapak sudah pergi dan tak ada lagi hal yang harus direncanakan secara buru-buru.

Dia mungkin akan tercekat dan memohon maaf untuk beberapa hal. Tapi kukatakan aku sudah lelah bersedih. Kutinggalkan dia dan kukatakan aku tidak akan kembali. Aku sangat sedih dan tiba-tiba tak ingat apa-apa lagi. Ketika siuman, pemakaman sudah berakhir. Kudengar orang bicara samar-samar.

“Gara-gara sinamot, tak ditunggunya lagi anaknya itu. Manalah memang dia sanggup membayar 50 juta.”

Aku diam mendengar perkataan itu. Tapi aku terkejut saat kulihat Aida ada dalam rombongan keluarga sepulang dari pemakaman. Aku makin sedih. Aku sesungguhnya mencintainya. Mungkin juga dia. ***

Pematangsiantar, 2006

Bagikan:

28 Maret 2017

HPI 2017, Lomba Buku Puisi Berhadiah Rp50 Juta Kembali Digelar


SolupL - Untuk menyemarakkan perayaan Hari Puisi Indonesia Tahun 2017, YAYASAN HARI PUISI INDONESIA kembali SAYEMBARA BUKU PUISI ANUGERAH HARI PUISI 2017. Berikut persyaratannya:

- Terbuka bagi para penyair Indonesia yang tinggal di dalam dan di luar negeri.
- Mengumpulkan kumpulan buku puisi terbitan terbaru, Oktober 2016 s/d 10 September 2017.
- Memiliki ISBN dan melampirkan bukti tanda bukti terdaftar.
- Boleh mengirimkan lebih dari satu judul buku kumpulan puisi, masing-masing judul sebanyak 5 (lima) eksemplar.
- Buku tersebut belum pernah mendapat penghargaan sastra dari lembaga manapun.
- Dikirimkan ke Yayasan Hari Puisi dengan alamat PDS HB Jassin, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330, dengan menyertakan alamat lengkap alamat lengkap & telepon peserta. Paling lambat diterima panitia tanggal 20 September 2017.
- Dewan juri akan memilih 1 (satu) buku kumpulan puisi terbaik dan dan 5 (lima) buku puisi pilihan.
- Buku Kumpulan Puisi Terbaik mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 50.000.000,- dan 5 (lima) Buku Puisi Pilihan, masing-masing Rp. 10.000.000,- beserta trofi dan piagam penghargaan dari Yayasan Hari Puisi.
- Hadiah pemenang diserahkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia pada 4 Oktober 2017 di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Informasi: 0817 9883 592 (Ariany Isnamurti), 0813 11197048 (Nel ), +62 8528 999 4003 (Mustafa Ismail)

Dewan Juri:
Abdul Hadi WM
Sutardji Calzoum Bachri
Maman S. Mahayana


Selain sayembara buku puisi di atas, Yayasan Hari Puisi Indonesia juga akan menyelenggarakan PENERBITAN BUKU APA DAN SIAPA PENYAIR INDONESIA. Penyusunan buku ini akan dilakukan secara ‘teliti dan hati-hati’ dengan pertimbangan sebagai berikut:

- Punya buku puisi tunggal yang diterbitkan secara nasional dan memiliki ISBN.
- Puisi-puisinya dimuat dalam sejumlah buku antologi bersama yang diseleksi atau dikuratori oleh salah seorang penyair nasional Indonesia yang dipublikasikan secara nasional.
- Puisi-puisinya pernah dimuat sejumlah surat kabar atau majalah nasional.
- Puisi-puisinya pernah menjadi bahan penelitian dan tercatat dalam sejumlah buku ilmiah.
- Pertimbangan lain akan diuraikan dalam bentuk pertanggungjawaban Tim Penyusun.
- Mengirim biodata lengkap (tidak lebih dari 600 kata) yang disusun dalam bentuk esai dan lampirkan foto ‘santai’ terbaru ke e-mail: bukupenyair@gmail.com cc ke rliamsipku@gmail.com (deadline minggu kedua September 2017).

Buku ini akan diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia pada 4 Oktober 2017 di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Informasi: 082111239665 (Maman S Mahayana), 0813832244788 (Sihar Ramses Simatupang), 082332932276 (Sofyan RH. Zaid).

Maman S. Mahayana (Editor)
Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Hasan Aspahani, Rida K Liamsi, dan Sutardji Calzoum Bachri (Kurator)


Kontributor: 
Amin Wangsitalaja (Samarinda), Anwar Putra Bayu (Palembang), Badaruddin Amir (Barru), D. Kemalawati dan Helmi Has (Aceh), Dino Umahuk (Ternate), Doddy Ahmad Fawzi (Bandung), Fakhrunnas MA Jabbar dan Kunni Marohanti (Riau), Goenawan Monoharto dan Aslan Abidin (Makassar), Gunoto Sapari (Semarang), Hasta Indrayana (Yogyakarta), Isbedy Stiawan (Lampung), Iverdixon Tinungki (Manado), Iyut Fitra (Padang), Jamal T Suryanata dan Zulfaisal Putra (Banjarmasin), Kurniawan Junaedhie (Jakarta), Nurel Javissyarqi (Lamongan), Ramayani Riance (Jambi), Ramon Damora (Batam), Syaifuddin Gani (Kendari), Tauheed Supratman (Madura), Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Tri Astoto Kodarie (Pare-pare), Wayan Sunarta (Bali), Suyadi San (Medan) dan lain-lain. (rel)

Bagikan:

04 Maret 2017

Tansiswo Siagian dan Grup Tortor Sangombas Raih Hadiah Rancage 2017


SolupL - Hadiah sastera Rancagé 2017  kembali diumumkan. Untuk karya dalam Bahasa Batak diberikan kepada Tansiswo Siagian untuk karyanya yang berjudul “Sonduk Hela” berupa kumpulan 10 cerpen terbitan SPT Jakarta tahun 2016. Untuk Hadiah  Sastera Rancagé 2017  bidang  jasa dalam sastra Batak diberikan kepada Grup Tortor Sangombas.

Sementara, pengarang yang juga dikenal sebagai wartawan senior Aan Amilia dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Sastera Rancagé 2017 melalui karyanyaa yang berjudul “Di Antara Tilu  Jaman”.  Karya berupa kumpulan cerpen ini berhasil mengalahkan dua karya sastra lain yang berbahasa Sunda yaitu kumpulan sajak berjudul “Lengkah” karya Ari Andriansyah dan  kumpulan cerpen berjudul “Jeruk” karya Lugiena De.

Ketua Yayasan Kebudayaan Rancagé Rahmat Taufik Hidayat mengatakan, karya Aam dinilai juri sebagai karya yang menggambarkan Jaman sebagai pelaku utamanya, bukanlah tokoh yang tragis tetapi tokoh yang berhasil mencari jalan keluar dari persoalan hidup yang dihadapinya. Seperti  dikisahkan tentang pasangan suami isteri dalam cerpen berjudul “Kupat keur Lebaran” (Ketupat untuk  Lebaran).  Kedua pasangan suami isteri ini  masih  dapat  berkumpul  bersama dengan tetangga yang sama-sama  hidup hanya berdua, walaupun anak cucunya tidak dapat berkumpul saat lebaran karena kesibukannya masing-masing.  Atau dalam kisah lain tentang seorang bapak yang memilih  kampret putih murah pemberian si bungsu yang  hidupnya  paspasan daripada  memakai  kampret  bagus  dan mahal hadiah dari anak sulung dan yang  tengah karena si bungsu lebih  hormat tilawat kepada orang tua daripada  kedua  kakaknya.

Menurut Rahmat, Aam Amilia sudah menulis karya sastera berbahasa Sunda lebih dari  setengah abad.  Karya-karyanya berupa cerpen maupun roman. Pada waktu muda Aam banyak  menulis cerita tentang tokoh-tokoh  remaja atau  kehidupan kaum  remaja tetapi  sekarang  dia banyak  menulis tentang  kehidupan  orang-orang  yang sudah tua. Untuk karyanya ini, Aam akan mendapatkan uang sebesar Rp 5 juta dan piagam penghargaan dari Yayasan Kebudayaan Rancagé.

Selain untuk karya, Yayasan Kebudayaan Rancagé juga memberikan hadiah untuk jasa.  Hadiah Rancagé Sastera Sunda untuk  jasa tahun ini diberikan kepada Komunitas “Ngejah” Sukawangi,  Singajaya, Kabupaten Garut,  Jawa  Barat. Komunitas  ini merupakan wadah kegiatan  literasi yang dibangun dan dihidupkan oleh sejumlah anak  muda yang kelihatan hasilnya serta  mendapat sambutan dari pemerintah maupun masyarakat  luas.

Komunitas  Ngejah didirikan  tanggal 15 Juli 2010. Bertujuan untuk memajukan kampung halaman baik dari sisi pendidikan, kebudayaan, keagamaan, perekonomian dan sendi  kehidupan lainnya.

Awalnya kegiatan Komunitas Ngejah berupa diskusi, khususnya  mengenai  buku atau  bidang tulis-menulis.  Kemudian kegiatannya meluas, terutama  dalam  bidang  literasi  atau kegiatan membaca  dan menulis. Kegiatan komunitas ini  dibagi  menjadi  beberapa  bidang,  yaitu peningkatan budaya baca tulis, literasi  media, pelestarian seni budaya, ekonomi mandiri dan pelestarian lingkungan hidup.

Komunitas ini telah berhasil memperkenalkan buku, baik yang dalam bahasa Indonesia maupun yang dalam bahasa Sunda kepada orang-orang yang tinggal di kampung. Aktif mendirikan perpustakaan dan  mendatangkan instruktur untuk membimbing  anak-anak membaca  dan  menggemari  buku dan bacaaan. Kepada Presiden Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah yang sehari-hari disebut Opik, akan diberikan Hadiah  Sastera  Rancagé 2017 untuk jasa dalam  Sastra Sunda  berupa  piagam  dan uang Rp 5 juta.

Hadiah Sastera Rancagé 2017 juga diberikan kepada pengarang berbahasa daerah Jawa, Bali, Lampung, Batak, dan Banjar. Untuk karya sastra berbahasa Jawa diberikan kepada Moh. Syaiful untuk karyanya yang berjudul “Agul-agul Belambangan” (terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi, 2016). Sedangkan Hadiah Sastera Rancage 2017  jasa dalam sastra Jawa diberikan kepada H. Abdullah Purwodarsono.

Hadiah Sastera Rancagé 2017 untuk  karya  dalam sastra Bali diberikan kepada Dewa Ayu Carma Citrawati untuk Kumpulan cerpen berjudul “Kutang Sayang Gemel Madui”. Untuk Hadiah Sastera Rancagé 2017 bidang jasa dalam sastra Bali diberikan kepada I Putu Supartika.

Hadiah Sastera Rancagé untuk karya dalam sastra Lampung tahun 2017 diberikan kepada Udo Z. Karzi untuk karyanya yang berjudul “Negarabatin” terbitan Pustaka LaBRAK, Lampung. Sedangkan untuk bidang jasa sastra Lampung tidak ada pemenang.

Khusus tahun ini Yayasan Kebudayaan Rancagé juga memberikan piagam penghargaan terhadap karya yang bukan buku, melainkan ccerita  pendek  yang  dimuat dalam buku kumpulan bersama. Penghargaan khusus ini diberikan kepada Ir. H. Soekirman Ompu Abimanyu, Bupati Serdang-Bedagai, seorang Jawa yang menulis karya berbahasa daerah Batak.

Hadiah  Sastera  Rancagé 2017 untuk karya dalam sastera  Banjar  diberikan kepada Jamal T Suryanata dengan karyanya yang berjudul “Pembatangan” berupa kisah roman. Untuk sastera bahasa Lampung tidak ada hadiah untuk bidang jasa.

Hadiah  “Samsoedi”  diberikan kepada Darpan untuk karyanya yang berjudul “Nala”. Nala mengisahkan tentang  anak perempuan  yang hidup berdua dengan  ibunya yang membuat  kueh untuk  dijual  di  warung.  Nala cerdas, dapat menyelesaikan ulangan  matematika  dalam  10 menit. Suka menolong  kawan, misalnya karena sepatunya  rusak,  atau menolong tunanetra yang  hendak menyeberangi  jalan. Apa yang dialami oleh Nala dalam buku  itu lebih  merupakan sketsa  kehidupan anak  sekolah baik  di sekolah, di rumah ataupun  di  tempat  lain.

Pembina Yayasang Kebudayaan Kebudayaan Rancagé, Ajip Rosidi meminta maaf karena untuk pertama kalinya pada tahun yang ke-28 ini  keputusan  Hadiah Sastera Rancagé yang biasanya disiarkan pada tanggal 31 Januari, sekarang diumumkan terlambat kurang lebih satu bulan. Hal itu disebabkan karena Ajip Rosidi sakit. Masalah lain yang menyebabkan pengambilan keputusan ini terlambat karena dalam tahun 2016 ini banyak sekali buku dalam bahasa-bahasa daerah yang terbit. Bukan hanya dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Batak, melainkan juga dalam bahasa-bahasa daerah yang sebelumnya tidak pernah disediakan Hadiah Rancagé. (bbs/int)
Bagikan: