19 September 2017

Lirik Lagu Ro Do Au dan Artinya


Ro Do Au


Ro Do Au
Cipt. Tilhang Gultom

Ro do au
Sian luat nadao i
Lao mandapothon ho
O ito na uli lagu
Holom potpot hutaon do i
Udan ambolas husuruk do i
Holom potpot hutaon do i
Udan ambolas husuruk do i

(Aku datang
Dari rantau yang jauh
Oh kekasihku yang cantik
Kelam pekat kutahankan
Hujan badai kulintasi
Kelam pekat kutahankan
Hujan badai kulintasi)

Unang ho
Gulut di arta sian au
Unang ho
Cinta di rupa sian au
Ai arta  na sinari doi
Nang rupa pe satokkin doi
Ai arta  na sinari doi
nang rupa pe satokkin doi

(Jangan kiranya engkau
berharap harta dariku
Jangan kiranya engkau
Cinta akan wajah terhadapku
Sebab harta bisa dicari
Wajah juga tidak kekal
Sebab harta bisa dicari
Wajah juga tidak kekal)

Ilustrasi.

Boha roham tu au
ai na manukkun ma au
Hapogosonki nga hupaboa i tu ho
Beha roham tu au
Alusi au

(Bagaimana hatimu padaku
Aku bertanya padamu
Kemiskinanku sudah kuberitahu padamu
Bagaimana hatimu padaku
Jawablah aku...)
Bagikan:

04 Agustus 2017

Sastrawan Batak Bokor Hutasuhut Tutup Usia


SolupL - Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya, Bokor Hutasuhut. Sastrawan angkatan 50 ini tutup usia pada Jumat dinihari 4 Agustus 2017. Kabar itu disampaikan sastrawan Suyadi San melalui Grup WA Ruang Sastra yang anggotanya terdiri dari ratusan sastrawan Indonesia.

"Innalillahi Wa Innailahi roji'un. Telah meninggal dunia sastrawan Indonesia asal Sumatera Utara Bokor Hutasuhut Jumat dinihari 4 Agustus 2017. Jenazah disemayamkan di rumah duka Gang Mandailing, Medan. Dimakamkan siang ini," demikian Suyadi San mengabarkan, Jumat (4/8/17).

Nama Bokor Hutasuhut tidak setenar Chairil Anwar atau Sitor Situmorang. Tapi ia sangat penting dalam sejarah sastra Indonesia. Ia bernama asli Buchari Hutasuhut, lahir pada 2 Juni 1934 di Balige, Tapanuli Utara (kini menjadi Toba Samosir).

Bokor menjadi salah seorang sastrawan yang turut menandatangani Manifes Kebudayaan bersama Gunawan Mohamad dan Wiratmo Sukito sebagai konseptor yang merupakan bentuk perlawanan 20 seniman Indonesia terhadap Lekra.
Sebagai sastrawan Indonesia angkatan 1950-1960-an, Bokor turut peduli pada kehidupan masyarakat, dan itulah yang menjadi alasan kuat ketika itu untuk ikut menandatangani Manifes Kebudayaan. Apalagi saat itu Lekra menuduh Hamka melakukan plagiat dan rencana pemberangusan buku-buku budaya dan sastra kaum penulis yang digolongkan sebagai pemaklumat Manifes.

Suatu ketika HB. Jassin menulis surat kepada Bokor, meminta pertimbangan Bokor agar dicari jalan keluar lewat kenalan-kenalan politik suaya kaum Manifes tidak terus “dianiaya” oleh lawan-lawan “politik”nya, yakni Lekra yang berlindung di balik Pemimpin Besar Revolus waktu itu. Bokor dan Pram saling serang dalam perang wacana tentang orang revolusioner atau bukan. Bokor memang tak sekedar sastrawan sebab dia juga terlibat dalam politik ideologi.

Bokor Hutasuhut menikah dengan D. Sari Afni Siregar pada 11 Maret 1969 di Sipirok, Tapanuli Selatan. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Irma Bulan Hutasuhut (perempuan), Samsul Wahidin Hutasuhut (laki-laki), Tama Alamsyah Hutasuhut (laki-laki), dan Muhammad Layan (laki-laki). Bokor Hutasuhut terlahir dari keluarga Islam, ayahnya bernama H. Abdul Manaf Mangaraja Gende Hutasuhut, seorang mubaliq, dan ibunya bernama Ompuni Arifin Siregar.

Bokor dalam bahasa Batak Toba yang dilafaskan (bokkor) artinya kobokan atau mangkuk tempat mencuci tangan di kala makan. Mangkuk ini berukuran besar. Nama ini diberikan oleh kawan-kawannya waktu sekolah dulu karena anak-anak Batak sulit mengucapkan (Buckhori). Abang-abangnya juga memanggilnya dengan nama bokor karena Bukhori kecil senang minum air dengan mangkuk yang besar dan isinya juga lebih banyak. Nama Bokor tetap dipakainya hingga akhir.

Bokor Hutasuhut menyelesaikan pendidikannya mulai HIS (Holland Inlandse School) setingkat Sekolah Rakyat di Soposurung, Balige tahun 1946. Kemudian, dia menyelesaikan SMP Excelcior di Medan tahun 1953 dan masuk SMA Setia Budi Bagian C (jurusan bahasa dan sastra) di Medan tahun 1954, tetapi tidak sampai tamat hanya kelas satu dan naik kelas dua dia pindah ke SMA Pembaruan Bagian A di Medan.

Saat kelas tiga dia tidak lulus di ujian akhir tahun 1957, karena nilai Bahasa Indonesianya tidak mencukupi standar kelulusan pada waktu itu. Padahal di tahun yang sama cerpennya yang berjudul Datang Malam yang pernah dimuat dalam majalah Kisah terbitan Jakarta No. 1 Tahun V, 1957, dijadikan pemerintah bahan mata ujian akhir Bahasa Indonesia bagi siswa SMA Bagian B-I di seluruh Indonesia.

Setelah meninggalkan bangku SMA tahun 1957, Bokor Hutasuhut bekerja sebagai PNS di Kantor Penerangan Agama Provinsi Sumatera Utara (Kapenapsu). Dengan mempunyai gaji tetap tentu saja dia tidak terlalu pusing memikirkan keuangannya untuk tinggal di Medan hingga waktunya bisa digunakan untuk menulis karya sastra. Dia juga merangkap bekerja sebagai wartawan lepas di beberapa surat kabar di Medan. Di majalah Waktu dan Pelangi, dia mengasuh dan menyelenggarakan Lembar Sastra-Budaya pada tahun 1955-1962.

Kegiatan sastra sangat menyita waktunya hingga dia minta berhenti sebagai PNS. Di tahun 1950-an ini juga Bokor dan teman-temannya mendirikan Gabungan Sastrawan Muda (GSM) di Medan dan membuka cabang di setiap kota dan kabupaten di Sumatera Utara. Dia duduk sebagai Ketua Umum. GSM giat menggelar pertunjukan teater dan kegiatan sastra lain di Sumatera Utara.

Tahun 1962 Bokor hijrah ke Jakarta. Jiwa kesastraannyalah yang mengantarkan langkahnya sampai ke tanah Betawi itu. Ia terlibat aktif dalam organisasi dan kegiatan sastra. Tahun 1962-1967 bekerja di Balai Pustaka. Bahkan, Bokor sempat menjadi sekretaris Yayasan Sastra atau Penerbit Majalah Sastra yang diketuai oleh HB. Jassin hingga majalah ini mengalami kebangkrutan.

Kesastrawanan Bokor bermula sejak dia meninggalkan kampung halaman menuju Medan pada tahun 1952 untuk melanjutkan pendidikannya. Pertama kali menulis sekitar tahun 1953 di Medan pada surat kabar Mimbar Umum Minggu dalam rubrik Syarahan berupa sajak, esei, cerpen, dan reportase budaya. Ini diperjelas dengan keterangan Jakob Sumardjo di Horison (September 2003) yang menyatakan bahwa sastrawan muda yang muncul lewat Kisah tahun 1953, yang berasal dari Batak, hanyalah Bokor.

Nama Bokor Hutasuhut muncul sebagai sastrawan angkatan baru dalam majalah Kisah dengan pengasuh HB. Jassin, Idrus, dan M.Balfas. Majalah Kisah banyak memuat karya sastra Bokor. Rekan-rekan seangkatannya yaitu Trisnoyuwono, A.A. Navis, Muhammad Diponegoro, Ajip Rosidi, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, dan lain-lain. Pada zaman ini kebanyakan sastrawan menulis karya sastra dengan latar belakang daerah asal yang sangat kental, tidak terkecuali Bokor Hutasuhut.

Bokor juga menulis pada majalah Waktu dan Pelangi. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah terbitan Jakarta seperti Konfrontasi, Indonesia, Mimbar Indonesia, Kisah, Cerpen, Siasat, dan Sastra. Di Yogyakarta karya-karya Bokor Hutasuhut terbit dalam majalah Budaya dan Minggu Pagi. Bokor Hutasuhut juga diorbitkan oleh Majalah Cerita bersamaan dengan Budi Darma, sastrawan dari Surabaya.

Karya-karya Bokor Hutasuhut banyak yang menceritakan tentang latar budaya Batak, kehidupan masyarakat Batak sehari-hari, dan pandangan hidup masyarakat Batak. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari tempat tinggal dan silsilah kehidupannya yang memang asli keturunan Batak dan tinggal di wilayah Tapanuli Utara. Tapanuli Utara adalah kabupaten yang suku aslinya adalah Batak Toba dan mayoritas penduduknya beragama Kristen, jadi budaya dan adat-istiadat di sana masih terjaga sebagaimana aslinya. Sedangkan bila di daerah lain atau komunitas masyarakatnya beragama Islam tentu saja adat-istiadat Batak Toba akan disesuaikan dengan ajaran Islam.

Penakluk Ujung Dunia adalah novel karya Bokor Hutasuhut yang dirampungkan tahun 1960 dan diterbitkan pertama kali tahun 1965 dan cetakan kedua tahun 1988 diterbitkan oleh PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta. Dalam novel inilah terbentang pengalaman Bokor di desanya dan bagaimana masyarakatnya menjalani kehidupan. Novel ini merupakan karya sastra modern yang mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Batak Toba menurut penghayatan manusia modern, yaitu Bokor Hutasuhut sebagai pengarangnya. Novel ini banyak mendapat tanggapan dan dikaji oleh ilmuan dan penggiat sastra, di antaranya HB. Jassin, Jacob Sumardjo, Totok Amin Soefiyanto, Shafwan Hadi Umry, Taufik Abriasyah, Saksono Priyanto, Damiri Mahmud, Jonner Sianipar, Darma Lubis, dan M. Yunus Rangkuti. Bokor berterima kasih kepada ayahandanya, HAM Mangaraja Gende Hutasuhut dan Partahi H. Sirait yang turut merangsangsang daya kerja untuk menyelesaikan novelnya ini.

Sebelum Penakluk Ujung Dunia, tahun 1963 telah terbit kumpulam cerpennya yang berjudul Datang Malam yang diterbitkan oleh N.V. Nusantara. Kumpulan cerpen ini berisi tujuh cerpen yang berjudul Bebas, Bayonet, Datang Malam, Djiarah, Bonbon, dan Matahari. Tahun 1965 terbit juga novelnya yang berjudul Tanah Kesayangan. Novel ini diterbitkan PT Pembangunan, Jakarta. Sebenarnya novel ini sudah selesai ditulisnya sekitar tahun 1954. Tahun 1958 sempat disetujui PT Pembangunan untuk diterbitkan tetapi lima tahun menunggu barulah diterbitkan setelah Bokor menulis ulang novel Tanah Kesayangan ini.

Karya-karya:
– Datang Malam (1960), kumpulan cerpen
– Penakluk Ujung Dunia (1964), Novel
– Tanah Kesayangan (1965), Novel
– Pantai Barat (1988), Novel


(berbagai sumber/int)
 
Bagikan:

Siantarman Diantara 128 Km Medan, 50 Km Danau Toba


SolupL - Sekelompok anak-anak muda akan menggelar festival seni di Kota Pematangsiantar, Siantarman Arts Festival (SAF). Kegiatan itu mengambil tema ‘128 Km Medan, 50 KM Danau Toba’, akan diselenggarakan Agustus mendatang di Kampus Universitas Nommensen.

Acara Pra Even SAF di Cafe Braga.
Berbagai komunitas bergabung melaksanakan Siantarman Arts Festival (SAF) untuk memberikan ruang bagi kawula muda Siantar mengekspresikan kemampuan di bidang seni dan budaya.

Ketua Panitia Siantarman Arts Festival Andi Damanik mengatakan, sejak dahulu Kota Siantar terkenal sebagai gudang generasi bertalenta di bidang seni baik vokal maupun permainan alat musik tradisional dan modern. Acara yang akan digelar 4-5 Agustus tersebut khusus untuk pelajar menguji kemampuan di bidang seni foto, vokal solo, peragaan busana, menggambar dan mewarnai.

“Sebelum puncak acara, dilaksanakan kegiatan pra event sebagai media promosi ke seluruh masyarakat. Minggu lalu dilaksanakan di DL Cafe dan semalam Rabu (19/7) di Braga Café,” kata Adi Damanik.

Dijelaskan Adi, dalam acara yang dihadiri ratusan masyarakat Siantar tersebut, hadir dan berpartisipasi Identitiy Band, Punxgoaran, Superheroes, Maju Jaya Band, Yuni Panjaitan, Rika dan Standup Comedy Siantar serta Siantar Sketcher.

Sementara Manajer Program Siantarman Arts Festival Tumpak Winmark Hutabarat menjelaskan, acara SAF ini didukung berbagai komunitas yang ada di Siantar, baik teater, musik, tari dan seni rupa.

“Acara ini juga bertujuan untuk mengisi ruang kreatif kawula muda yang minim di Siantar. Mendekatkan seni dan budaya serta pengetahuan kepada kawula muda dan masyarakat, lewat pagelaran dan lomba bertajuk seni dan budaya,”katanya.

Siantarman Arts Festival diharapkan menjadi ruang baru bagi seluruh komunitas untuk mengembangkan dan mementaskan bakat serta kapasitas. SAF juga diharapkan bisa menjadi acara rutin setiap tahun, seperti Oktober Festival di Jerman, Java Jazz Festival dan festival tahunan yang tenar lainnya.

Wilmark mengatakan, tema 128 Km Medan, 50 Km Danau Toba, melambangkan posisi strategis Siantar menyambut gemerlap pariwisata Danau Toba setelah ditangani Badan Otorita Danau Toba. Siantar harus bisa mempersiapkan dirinya dengan sejumlah pengembangan ruang seni budaya untuk bisa dilirik menjadi tujuan wisata.

Jika tidak, Siantar hanya akan menjadi perlintasan. Jadi lewat kegiatan ini, Siantar bisa berbenah diri, menambah ruang kreatif, sehingga orang akan datang untuk melihatnya. Potensi kota Siantar adalah wisata heritage.

“Kami undang partisipasi seluruh anak muda dan masyarakat agar hadir di acara puncak. Sebab, Siantar adalah kotaku, kotamu dan kota kita. Mari kita isi kota ini dengan ruang seni, budaya dan kreativitas,”pungkasnya. (SL/rel)
 
Bagikan:

03 Agustus 2017

Karya Sastra Negara-negara ASEAN Dipamerkan di Kota Tua


SolupL - Festival sastra negara-negar ASEAN atau The 4th ASEAN Literary Festival (ALF) diselenggarakan di kawasan Kota Tua Jakarta, mulai Kamis (3/8/17) hari ini hingga 6 Agustus 2017. Festival ini merupakan ajang untuk menyatukan masyarakat ASEAN melalui sastra.

Kota Tua Jakarta.
Festival yang dilaksanakan sejak 2014 ini, menjadikan budaya dan sastra sebagai unsur penting keberlangsungan ASEAN dan telah mendeklarasikan dirinya menjadi komunitas. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan 50 tahun ASEAN.

Direktur Program ALF Oki Madesari mengutarakan, festival ini pun menjadi wadah untuk memperkenalkan pencapaian dan produk sastra penulis ASEAN ke tingkat global, serta usaha-usaha dalam meningkatkan kecintaan membaca di kalangan anak muda dan anak-anak Indonesia, dan kawasan ASEAN di era media sosial.

Penyelenggaraan AFL tahun ini digelar di Kawasan Kota Tua Jakarta, guna mengangkat potensi wisata Kota Tua, mengingat banyak di tempat ini merupakan kawasan dengan gedung-gedung tua bersejarah Indonesia. Kota Tua dinilai merupakan lokasi yang sangat tepat untuk mendiskusikan dan memamerkan literatur berbagai budaya.

Kepala Bidang Nilai Seni Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jakarta, Supriyatin, mengatakan penyelangaraan AFL di Kota Tua secara tidak langsung akan memperkenalkan potensi budaya Jakarta, sekaligus pariwisata nusantara. Ajang ini diperkirakan akan mendatangkan banyak masyarakat ASEAN.

Kegiatan ini akan menghadirkan penulus-penulis dan jurnalis yang berpengaruh dan kritis di Asia Tenggara dengan berbagai tema diskusi, dan kuliah umum mulai dari demokrasi, radikalisme, persekusi, feminisme, kebebasan berkespresi hingga penistaan agama. Selain itu, akan ada Jambore Nasional Sastra yang akan diikuti oleh 500 pelajar dari tingkat SD hingga SMA tiap harinya.

Selain itu digelar Asean Food Festival, yang akan diikuti oleh kedutaan-kedutaan di Asia Tenggara. Mereka akan menampilkan makanan khas dari masing-masing negara, hingga festival budaya panji. Kegiatan ini akan dibuka mulai besok malam pada pukul 19.00 WIB di halaman depan Museum Fatahilah. (bbs/int)

Bagikan:

26 Juli 2017

Jenis-jenis Media Massa


SolupL - Pers atau media massa merupakan suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk menjangkau masyarakat luas, atau yang bersifat massal. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Ilustrasi.
Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber atau ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

Fungsinya media massa adalah alat/media perantara untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber kepada khalayak umum dalam jumlah yang banyak (massa). Jadi media massa adalah bagian dari komunikasi massa. Jenis-jenis media massa ada 3, yaitu media cetak, media elektronik dan media internet.

1. Media Cetak (printed media)

Surat kabar adalah contoh media cetak, merupakan media massa pertama kali yang muncul di dunia pada tahun 1920 an. Pada awalnya media massa digunakan pemerintah untuk mendoktrin masayarakat, sehingga masyarakat pembaca dapat mengetahui sesutu dengan tujuan tertentu pula. Namun saat ini kebebasan pers sudah sangat dijunjung, sehingga ada timbal balik kebutuhan antara surat kabar dengan audiens. Contoh-contoh media cetak: surat kabar, majalah dan tabloid.

2. Media Elektronik (electronic media)

Radio dan Televisi adalah contoh media elektronik. Setelah media cetak muncullah media elektronik pertama yaitu radio. Yaitu sebagai media audio yang menyampaikan pesan lewat suara. Kecepetatan dan ketepatan waktu dalam penyampain pesan radio tentu lebih cepat dengan menggunakan siaran langsung. Pada waktu penyebaran informasi Proklamasi Kemerdekaan media massa radio berperan utama dalam penyebaran berita. Setelah itu muncul Televisi yang lebih canggih bisa menayangkan gambar. Yaitu sebagai media massa audio visual.

3. Media Massa Internet (cyber media/online media)

Contoh media massa internet atau media online. Baru populer di abad 21, google lahir pada tahun 1997. Media internet bisa melebihi kemampuan media cetak dan elektronik. Apa yang ada pada kedua media tersebut bisa masuk dalam jaringan internet melalui website. Banyak kelebihan media maassa internet dibanding media yang lain.

Namun akses internet yang masih terbilang bebas bisa berbahaya bagi pengguna yang belum mengerti. Misalnya penipuan, pornografi dsb. Media internet tidak harus dikelola sebuah perusahaan layaknya media cetak dan elektronik,  melainkan bisa juga dilakukan oleh individu. (bbs/int)
Bagikan:

09 Juli 2017

Sastrawan Sumbar Raih SEA Write Award 2017 di Thailand


SolupL - Rusli Marzuki Saria (RMS) menerima banyak panggilan telepon dan pesan singkat pada Senin (3/7) malam yang mengonfirmasi bahwa benarkah RMS terpilih sebagai  penerima South East Asean (SEA) Write Award 2017. Di antara orang-orang yang bertanya, ada pula yang meragukan kabar bahwa RMS menjadi penerima anugrah sastra dari Kerajaan Thailand itu karena pada 1997, RMS juga dikabarkan menerima SEA Write Award, tetapi ternyata hanya masuk nominasi.

Papa Rusli
RMS menceritakan hal itu kepada Haluan di rumahnya, Jalan Bangka No. 13, Wisma Warta, Ulak Karang, Padang, Selasa (4/7). Ia membenarkan bahwa ia dinyatakan sebagai penerima SEA Write Award 2017.

“Sebenarnya saya mengetahui bahwa saya ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award pada 7 Juni. Pemberitahuan itu saya terima melalui email dari Badan Bahasa. Bahkan, sehari sebelumnya, sudah ada teman yang mengabarkan informasi itu kepada saya melalui SMS. Namun, saya belum memberi tahu siapa pun karena nanti pasti akan ribut-ribut. Pada Senin (3/7), saya mengirim SMS kepada Dasril Ahmad untuk memberi tahu soal itu karena dia saya rekomendasikan sebagai narasumber yang akan diwawancarai Badan Bahasa pada 7 Juli ini,” ujar penyair yang kini berusia 81 tahun itu.

Setelah mendapatkan informasi dari RMS, Dasril Ahmad, dosen Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta (UBH), memberitahukan informasi tersebut kepada publik melalui status Facebook-nya pada Senin malam.

RMS mengatakan, dalam surel yang diterimanya, ia dinyatakan meraih SEA Write Award atas buku puisinya One by One Line by Line (Kabarita, 2014). Ia mengirim buku itu ke Badan Bahasa tidak lama setelah diterbitkan. Namun, ia tidak mengirimkan buku itu dengan maksud dimasukkan sebagai nomine penerima SEA Write Award, tetapi hanya sebagai dokumentasi untuk Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya tidak menyangka mendapatkan SEA Write Award pada tahun ini. Dulu, pada tahun 1997, buku puisi saya Sembilu Darah, masuk nominasi penerima penghargaan itu. Namun, buku puisi saya hanya nomor tiga sehingga hanya menerima penghargaan dari Pusat Bahasa. Pada tahun itu, Seno Gumira Ajidarma ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award. Dari tahun 1997 hingga 2017, berarti sudah dua puluh tahun saya menunggu penghargaan itu,” tutur pria Kamang, Kabupaten Agam, 26 Februari 1937 itu.

Sebelum berangkat ke Bankok, Thailand, pada Oktober 2017 untuk menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand, RMS akan diwawancarai oleh tim dari Badan Bahasa pada 7 Juli ini. RMS menyebutkan, selain mewawancarai RMS, Badan Bahasa juga akan meminta komentar dari orang yang mengenal puisi-puisi RMS selama ini. RMS lalu merekomendasikan Dasril Ahmad dan Yusrizal KW kepada Badan Bahasa untuk diwawancarai.

“Saya merekomendasikan Dasril karena skripsinya tentang saya, dan Yusrizal KW karena buku One by One Line by Line diterbitkan Kabarita, penerbit miliknya,” ucap anggota DPRD Padang periode 1985-1991 itu.

RMS menambahkan, buku One by One Line by Line (sendiri-sendiri, sebaris-sebaris), berisi 90 puisi pilihannya sejak 1960-2010, dan 4 esai.

Anggota Staf Subbidang Penghargaan, Badan Bahasa, Luh Anik Mayani, melalui keterangan tertulisnya kepada Haluan, mengatakan, sastrawan Indonesia yang ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award adalah sastrawan yang pernah menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa. Akan tetapi, tidak semua sastrawan yang memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa secara otomatis ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award karena masih ada kriteria lain yang harus dipenuhi.

Ia membeberkan, ada beberapa kriteria seseorang ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award, antara lain, pernah menerima senghargaan sastra dari Badan Bahasa; menghasilkan karya secara konsisten dalam kurun waktu lima tahun terakhir; memiliki karya yang berdampak dan tersebar luas, baik berskala nasional maupun internasional; memiliki karya yang menonjolkan ciri khas keindonesiaan yang dapat dibanggakan di dunia internasional; dan memiliki karya yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban dan perdamaian dunia; danberperan aktif dalam pengembangan dan pembinaan sastra Indonesia, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

“Pak Rusli Marzuki Saria tercatat sebagai penerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) pada tahun 1997 melalui karyanya yang berjudul Sembilu Darah (1995). Beliau ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award karena beliau masih berkarya secara konsisten dan masih menghasilkan karya baru dalam lima tahun terakhir,” tuturnya.

Sementara itu, sastrawan lain yang terpilih sebagai penerima penghargaan sastra dari Badan Bahasa pada tahun ini adalah A. Mustofa Bisri (kumpulan puisi), Sungging Raga (kumpulan cerpen), dan M. Ibrahim Ilyas (naskah drama). Nama terakhir yang disebutkan adalah sastrawan yang sehari-hari beraktivitas di Padang.

RMS adalah sastrawan Sumatra Barat keempat yang menerima SEA Write Award. Sastrawan Sumbar pertama yang meraih penghargaan itu adalah A. A Navis pada 1992 atas buku Bertanya Kerbau pada Pedati, kemudian Wisran Hadi pada 2000 atas naskah drama Cindua Mato, dan Gus TF Sakai pada 2004 atas buku kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta.

Sementara itu, Dasril Ahmad mengatakan, ia menulis skripsi tentang puisi-puisi RMS saat kuliah pada Jurusan Sastra Indonesia di UBH pada 1986. Judul skripnya adalah "Pengaruh Kaba Minangkabau terhadap Puisi-Puisi Rusli Marzuki Saria".

Menurutnya, puisi-puisi RMS adalah puisi sederhana. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kerinduan, keresahan, napas keagamaan, dan kritik sosial. Beberapa nilai dalam puisi itu ditemukan adanya pengaruh dari kaba Minangkabau. Di samping itu, puisi-puisi RMS adalah puisi lirik-romantik-puisi yang berisi curahan perasaan.

“Puisi-puisi RMS adalah jenis puisi yang bertolak dari nilai-nilai budaya Minangkabau, yakni sastra lisan kaba. Struktur puisi-puisi RMS mempunyai persamaan dengan struktur kaba, yakni dari segi plot, latar, dan penokohan. Karena itu, puisi RMS patut dibaca dan diteliti lebih dalam sebagai upaya menggali, membina, dan mengembangkan budaya Minangkabau,” ucapnya.

Yusrizal KW, mengatakan, ia menerbitkan One by One Line by Line karena buku itu merupakan kumpulan puisi terbaik RMS yang dipilih oleh penyairnya sendiri sepanjang karier kepenyairannya. Karena itu, orang-orang yang tidak memiliki semua buku-buku RMS, bisa melihat puisi-puisi RMS pada buku tersebut.

“Kabarita hanya menerbitkan buku-buku berkualitas. Pada 2014, salah satu buku puisi yang diterbitkan Kabarita, yakni Odong-Odong Fort De Kock karya Deddy Arsya, meraih penghargaan buku puisi terbaik Tempo. Menurut kami, puisi-puisi Papa Rusli juga pantas kami terbitkan karena Papa memiliki orininalitas diksi dalam puisinya. Kabarita menerbitkan buku One by One Line by Line juga sebagai penghargaan kepada Papa dalam dunia kepenyairannya. Kami bangga Kabarita menjadi jembatan karya papa kepada pembaca,” tutur pendiri rumah baca Tanah Ombak.

Selain sebagai sastrawan, RMS merupakan wartawan di Padang. Ia menjadi wartawan Haluan pada 1969—1999. Di Haluan, ia mengelola rubrik Budaya, yakni Budaya Minggu Ini yang terbit tiap selasa, dan Remaja Minggu Ini yang terbit tiap Minggu. Dari tangannya di rubrik Budaya Haluan “lahir” banyak penulis yang berasal dari Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan daerah lainnya. (holy adib/harianhaluan.com) 
Bagikan:

05 Juli 2017

Melihat Kekacauan Zaman dari Lirik Lagu-lagu Batak


Oleh: Panda MT Siallagan

Sebuah simpul masih dipercaya hingga kini: karya yang bagus pasti tahan lama. Ia kekal melintasi waktu. Dan, adakalanya sebuah karya hadir menjawab dinamika sosial dari masa ke masa.

Karya dimaksud tidak terbatas pada satu bidang. Karya para intelektual dalam bentuk buku, karya para ilmuan, arsitek, para seniman dan budayawan, semua akan abadi oleh mutunya. Dan sering kali, kualitas sebuah karya tampak dari relevansinya terhadap perkembangan zaman.

Ilustrasi.
Bangsa Batak banyak melahirkan para ahli yang mumpuni di bidangnya. Dan mereka telah menyumbangkan karya-karya besar untuk kemaslahatan puaknya, bahkan untuk bangsa dan negara.

Kita ambil contoh di bidang musik. Batak telah melahirkan musisi-musisi legendaris seperti Nahum Situmorang, Tilhang Gultom, Cornel Simanjuntak, Bill Saragih dan lain-lain yang tak mungkin disebut satu per satu.

Sebagian karya-karya mereka kini diakui dunia bahkan ada yang menjadi lagu kebangsaan. Namun artikel ini tak akan membahas itu secara luas, tapi hanya ingin melihat sejenak bahwa lagu-lagu Batak sudah sejak dulu memperingatkan kita akan kekacauan zaman.

Kekacauan zaman yang dimaksud adalah situasi sosial yang kita hadapi pada masa ini, terutama tingkah-pola generasi muda secara sosial. Makin mudah kita saksikan generasi muda Batak sudah kehilangan jati diri. Mereka tidak lagi memahami apalagi manganut nilai-nilai budayanya.

Tatakrama pergaulan makin krisis, bahkan sebagian tak malu memamerkan diri dengan pose-pose erotis, terutama kaum perempuan. Kaum pria suka bicara kotor dengan kata-kata yang tidak pantas. Bahkan, antara laki-laki dan perempuan yang bersaudara dalam ikatan marga, sudah kerap bercanda-ria tanpa rasa sungkan. Dan itu antara lain bisa kita saksikan di media sosial atau sarana hiburan atau tempat nongkrong dalam dunia nyata.

Sebuah lagu berjudul Tinitip Sanggar, ciptaan Tilhang Gultom, kondisi itu ada digambarkan, demikian cuplikan liriknya:

... Nungnga godang di tikkion 
Akka baoa dang sipatihon
Pangalohana ai nungnya sipat
Naung maralo tu adat Batak
Ai dang tanda be na mariboto
Dohot mardalan marsigoitan...

(Sudah banyak pada masa ini
Para lelaki tak pantas ditiru
Perilakunya sudah terlalu
Bertentangan dengan adat Batak
Tiada beda saudara
Sambil berjalan bebas bergenit ria)

Lagu ini diciptakan jauh beberapa dekade di belakang. Tapi relevansinya bisa kita saksikan sekarang ini. Pada zaman yang rasanya kian gila digempur jejaring sosial atau medsos.

Nahum Situmorang menciptakan lagu Sega Nama Ho, kutipan liriknya sebagai berikut:

...Sega na maho
Namarbaju nasomalo
Ai molo sega ho ito
Sumolsol bagi nama ho

Tuntun lomomi o namarbaju
Sai namanggila doho
Na matua do ro manggoda ho...

Lagu menggambarkan rusaknya moral seorang perempuan, yang diistilahkan sebagai perempuan bodoh (namarbaju na so malo). Perempuan mengikuti kegilaannya, tergoda pada pria-pria tua. Dan lagu ini menegaskan: perempuan seperti ini akan terbuang, penuh penyesalan dalam hidupnya.

Di lagu lain, Tilhang Gultom menyampaikan kritik yang lebih keras, tentang seorang wanita menantu pendeta, yang bergaya menor, membuat rusak banyak orang. Tilhang seolah ingin mengatakan bahwa anak atau menantu dari pendeta pun bisa saja melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Seperti si Jamila dalam lirik lagu itu:

Oh...Jamilah...
Boru ru ni kalibat parumaen ni pandita
ai tung godang do halak sega dibahen ho da Jamilah
dirippu anak boru hape naung ina-ina,  oh jamilah

Anak-anak muda zaman sekarang cukup akrab dengan istilah cinta palsu, cinta palsu, obral kasih sayang, atau istilah lain yang mengacu pada makna itu. Dan memang, betapa gampangnya anak-anak muda kini mengatakan cinta. Lagu Antar Didongkon ciptaan Addimar Panjaitan yang populer tahun 80-an sudah mengingatkan itu.

...nungnga be huboto rohami.
ale ito da pargabus.
lao ma ho ito lao ma ho ito.
sian jabu nami on

mulak ma jo ho, mulak ma jo ho ale ito.
sotung sanga muruk, sotung sanga muruk au annon.

Itulah beberapa lagu Batak yang menggambarkan kekacauan zaman terutama kehidupan generasi muda. Lagu-lagu lama itu selamanya akan penting bagi zaman karena substansi atau ajaran moralnya selalu hidup dari masa ke masa. Demikianlah! Semoga bermanfaat. (***)


Bagikan:

02 Juli 2017

Pesona Puitis Bukit Simarjarunjung: Pohon Cinta, Desis Angin, dan Kopi


Belakangan ini, Dolok Simarjarunjung mendadak tenar. Sebab sejumlah foto sempat viral di media sosial: tentang rumah pohon atau rumah cinta. Rumah yang dicantolkan ke batang pohon pinus, dengan lansekap Danau Toba terhampar luas sebagai latar. Alangkah indah!

Rumah Pohon Bukit Simarjarunjung
Sebenarnya, ia tak tepat dikatakan rumah. Konsep 'rumah pohon' agaknya lahir dari inspirasi dangau berbentuk rumah panggung yang lazim ditemukan di areal persawahan desa-desa lama. Di sebagian desa, rumah semacam itu dinamai passa-passa. Gunanya: sarana berlindung bagi pemilik sawah dari cuaca ketika menjaga burung. Dari passa-passa ini lazim pula dibentang tali panjang untuk menggerakkan orang-orangan pengusir burung. Passa-passa ini kerap didesain di sebuah pohon yang berfungsi sekaligus sebagai tiang atau penyanggah.

Demikianlah 'rumah cinta' di Bukit Simarjarunjung itu. Kreatif. Bersandar pada sumber daya yang disediakan alam, yang selama ini belum tersentuh. Saat menaiki 'rumah cinta' ini, saya terkenang pada Ruma Bolon, rumah adat Batak. Ada tangga pada bagian depan untuk naik, dan kepala harus disurukkan untuk naik ke lantai. Hmm...!

Pada sore Sabtu 1 Juli 2017 itu, lokasi wisata yang diberi nama Bukit Indah Simarjarunjung (BIS), ini ramai disesaki pengunjung. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara, sehingga untuk naik dan berfoto ke rumah pohon itu harus antre berjam-jam. Duduk di bawah pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, angin mendesis kencang dari hamparan danau yang tenang, dingin tapi sejuk. Syahdu.

Iseng-iseng saya memesan segelas kopi yang disiapkan pengelola. Jujur: citarasa kopinya sedap. Saya jadi mahfum, sepanjang jalan menuju Tigaras, ladang-ladang kopi terbentang di sisi kiri-kanan jalan. Nikmat segelas kopi itu menguap jadi rasa syukur, sebab alangkah mengecewakan andai tersuguh kopi tak bercita-rasa di daerah penghasil kopi semacam itu. Harga juga sedap, cuma Rp5.000 per gelas.

Untuk naik dan berfoto di rumah pohon juga tergolong murah, Rp5.000 per orang. Biaya foto Rp10.000 untuk 5 kali jepret, atau Rp20.000 untuk 10 jepret. Fotografernya sudah tersedia, inilah agaknya salah satu cara pengelola untuk menghasilkan uang dari objek wisata itu.

Selain 'pohon cinta', sarana lain yang bisa dinikmati adalah ayunan yang juga dicantolkan ke pohon pinus. Pengunjung bisa sepuasnya berayun-ayun dengan menghadap langsung ke lembah terjal dan hamparan danau. Tak semua orang bernyali menikmati ayunan ini. 

Lesehan untuk bersantai juga tersedia, semacam joglo-joglo dengan aneka makanan yang masih terbatas. Dalam hal ini, perlu kiranya pengelola menyediakan menu-menu khas, atau kuliner tradisional untuk meneguhkan kekayaan budaya di daerah itu. Atau mungkin, perlu panggung atau ruang khusus untuk menggelar pertunjukan budaya. Sehingga sarana hiburan lebih variatif, tidak sebatas berfoto ria lalu pulang. 

"Ini prospeknya bagus, tapi harus dikelola secara profesional. Harus ditata sesuai standar pariwisata modern tanpa meninggalkan kearifan lokal," kata Hanna Panjaitan, istri saya, yang tampak kedinginan diterpa angin danau.

Rumah Pohon Simarjarunjung
Inilah persoalaannya. Standar keamanan lokasi itu masih jauh dari harapan. Sarana pembatas sepanjang tepi bukit ke lembah curam masih terbuat dari pagar kayu alakadarnya. Rasa was-was akan menghantui terlebih ketika anak-anak balita bermain bebas dan berlari-lari. 

Bukit Indah Simarjarunjung, Kecamatan Dolok Pardamean, Simalungun, betapapun telah menyajikan kesejukan sederhana. Dengan jarak tak lebih 40 kilometer dari Kota Pematangsiantar, lokasi itu bisa ditempuh dengan dua jalur: via Sidamanik, kota perkebunan yang murung. Atau via Simpang Raya, melewati desa-desa tua seperti Sipoldas, Simantin Tolu, Sibuntuon dan berujung di Sipintu Angin. 

Demikianlah, di Dolok Simarjarunjung yang dingin, pohon-pohon pinus menjulang tinggi, angin mendesis menyibak kulit, dan kopi menawarkan kehangatan yang tepat. Jauh di lembah sana, Pantai Tigaras menawarkan godaan air danau. Danau Toba yang terberkati. (Panda MT Siallagan)
Bagikan: