05 Juli 2017

Melihat Kekacauan Zaman dari Lirik Lagu-lagu Batak


Oleh: Panda MT Siallagan

Sebuah simpul masih dipercaya hingga kini: karya yang bagus pasti tahan lama. Ia kekal melintasi waktu. Dan, adakalanya sebuah karya hadir menjawab dinamika sosial dari masa ke masa.

Karya dimaksud tidak terbatas pada satu bidang. Karya para intelektual dalam bentuk buku, karya para ilmuan, arsitek, para seniman dan budayawan, semua akan abadi oleh mutunya. Dan sering kali, kualitas sebuah karya tampak dari relevansinya terhadap perkembangan zaman.

Ilustrasi.
Bangsa Batak banyak melahirkan para ahli yang mumpuni di bidangnya. Dan mereka telah menyumbangkan karya-karya besar untuk kemaslahatan puaknya, bahkan untuk bangsa dan negara.

Kita ambil contoh di bidang musik. Batak telah melahirkan musisi-musisi legendaris seperti Nahum Situmorang, Tilhang Gultom, Cornel Simanjuntak, Bill Saragih dan lain-lain yang tak mungkin disebut satu per satu.

Sebagian karya-karya mereka kini diakui dunia bahkan ada yang menjadi lagu kebangsaan. Namun artikel ini tak akan membahas itu secara luas, tapi hanya ingin melihat sejenak bahwa lagu-lagu Batak sudah sejak dulu memperingatkan kita akan kekacauan zaman.

Kekacauan zaman yang dimaksud adalah situasi sosial yang kita hadapi pada masa ini, terutama tingkah-pola generasi muda secara sosial. Makin mudah kita saksikan generasi muda Batak sudah kehilangan jati diri. Mereka tidak lagi memahami apalagi manganut nilai-nilai budayanya.

Tatakrama pergaulan makin krisis, bahkan sebagian tak malu memamerkan diri dengan pose-pose erotis, terutama kaum perempuan. Kaum pria suka bicara kotor dengan kata-kata yang tidak pantas. Bahkan, antara laki-laki dan perempuan yang bersaudara dalam ikatan marga, sudah kerap bercanda-ria tanpa rasa sungkan. Dan itu antara lain bisa kita saksikan di media sosial atau sarana hiburan atau tempat nongkrong dalam dunia nyata.

Sebuah lagu berjudul Tinitip Sanggar, ciptaan Tilhang Gultom, kondisi itu ada digambarkan, demikian cuplikan liriknya:

... Nungnga godang di tikkion 
Akka baoa dang sipatihon
Pangalohana ai nungnya sipat
Naung maralo tu adat Batak
Ai dang tanda be na mariboto
Dohot mardalan marsigoitan...

(Sudah banyak pada masa ini
Para lelaki tak pantas ditiru
Perilakunya sudah terlalu
Bertentangan dengan adat Batak
Tiada beda saudara
Sambil berjalan bebas bergenit ria)

Lagu ini diciptakan jauh beberapa dekade di belakang. Tapi relevansinya bisa kita saksikan sekarang ini. Pada zaman yang rasanya kian gila digempur jejaring sosial atau medsos.

Nahum Situmorang menciptakan lagu Sega Nama Ho, kutipan liriknya sebagai berikut:

...Sega na maho
Namarbaju nasomalo
Ai molo sega ho ito
Sumolsol bagi nama ho

Tuntun lomomi o namarbaju
Sai namanggila doho
Na matua do ro manggoda ho...

Lagu menggambarkan rusaknya moral seorang perempuan, yang diistilahkan sebagai perempuan bodoh (namarbaju na so malo). Perempuan mengikuti kegilaannya, tergoda pada pria-pria tua. Dan lagu ini menegaskan: perempuan seperti ini akan terbuang, penuh penyesalan dalam hidupnya.

Di lagu lain, Tilhang Gultom menyampaikan kritik yang lebih keras, tentang seorang wanita menantu pendeta, yang bergaya menor, membuat rusak banyak orang. Tilhang seolah ingin mengatakan bahwa anak atau menantu dari pendeta pun bisa saja melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Seperti si Jamila dalam lirik lagu itu:

Oh...Jamilah...
Boru ru ni kalibat parumaen ni pandita
ai tung godang do halak sega dibahen ho da Jamilah
dirippu anak boru hape naung ina-ina,  oh jamilah

Anak-anak muda zaman sekarang cukup akrab dengan istilah cinta palsu, cinta palsu, obral kasih sayang, atau istilah lain yang mengacu pada makna itu. Dan memang, betapa gampangnya anak-anak muda kini mengatakan cinta. Lagu Antar Didongkon ciptaan Addimar Panjaitan yang populer tahun 80-an sudah mengingatkan itu.

...nungnga be huboto rohami.
ale ito da pargabus.
lao ma ho ito lao ma ho ito.
sian jabu nami on

mulak ma jo ho, mulak ma jo ho ale ito.
sotung sanga muruk, sotung sanga muruk au annon.

Itulah beberapa lagu Batak yang menggambarkan kekacauan zaman terutama kehidupan generasi muda. Lagu-lagu lama itu selamanya akan penting bagi zaman karena substansi atau ajaran moralnya selalu hidup dari masa ke masa. Demikianlah! Semoga bermanfaat. (***)


Bagikan:

02 Juli 2017

Pesona Puitis Bukit Simarjarunjung: Pohon Cinta, Desis Angin, dan Kopi


Belakangan ini, Dolok Simarjarunjung mendadak tenar. Sebab sejumlah foto sempat viral di media sosial: tentang rumah pohon atau rumah cinta. Rumah yang dicantolkan ke batang pohon pinus, dengan lansekap Danau Toba terhampar luas sebagai latar. Alangkah indah!

Rumah Pohon Bukit Simarjarunjung
Sebenarnya, ia tak tepat dikatakan rumah. Konsep 'rumah pohon' agaknya lahir dari inspirasi dangau berbentuk rumah panggung yang lazim ditemukan di areal persawahan desa-desa lama. Di sebagian desa, rumah semacam itu dinamai passa-passa. Gunanya: sarana berlindung bagi pemilik sawah dari cuaca ketika menjaga burung. Dari passa-passa ini lazim pula dibentang tali panjang untuk menggerakkan orang-orangan pengusir burung. Passa-passa ini kerap didesain di sebuah pohon yang berfungsi sekaligus sebagai tiang atau penyanggah.

Demikianlah 'rumah cinta' di Bukit Simarjarunjung itu. Kreatif. Bersandar pada sumber daya yang disediakan alam, yang selama ini belum tersentuh. Saat menaiki 'rumah cinta' ini, saya terkenang pada Ruma Bolon, rumah adat Batak. Ada tangga pada bagian depan untuk naik, dan kepala harus disurukkan untuk naik ke lantai. Hmm...!

Pada sore Sabtu 1 Juli 2017 itu, lokasi wisata yang diberi nama Bukit Indah Simarjarunjung (BIS), ini ramai disesaki pengunjung. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara, sehingga untuk naik dan berfoto ke rumah pohon itu harus antre berjam-jam. Duduk di bawah pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, angin mendesis kencang dari hamparan danau yang tenang, dingin tapi sejuk. Syahdu.

Iseng-iseng saya memesan segelas kopi yang disiapkan pengelola. Jujur: citarasa kopinya sedap. Saya jadi mahfum, sepanjang jalan menuju Tigaras, ladang-ladang kopi terbentang di sisi kiri-kanan jalan. Nikmat segelas kopi itu menguap jadi rasa syukur, sebab alangkah mengecewakan andai tersuguh kopi tak bercita-rasa di daerah penghasil kopi semacam itu. Harga juga sedap, cuma Rp5.000 per gelas.

Untuk naik dan berfoto di rumah pohon juga tergolong murah, Rp5.000 per orang. Biaya foto Rp10.000 untuk 5 kali jepret, atau Rp20.000 untuk 10 jepret. Fotografernya sudah tersedia, inilah agaknya salah satu cara pengelola untuk menghasilkan uang dari objek wisata itu.

Selain 'pohon cinta', sarana lain yang bisa dinikmati adalah ayunan yang juga dicantolkan ke pohon pinus. Pengunjung bisa sepuasnya berayun-ayun dengan menghadap langsung ke lembah terjal dan hamparan danau. Tak semua orang bernyali menikmati ayunan ini. 

Lesehan untuk bersantai juga tersedia, semacam joglo-joglo dengan aneka makanan yang masih terbatas. Dalam hal ini, perlu kiranya pengelola menyediakan menu-menu khas, atau kuliner tradisional untuk meneguhkan kekayaan budaya di daerah itu. Atau mungkin, perlu panggung atau ruang khusus untuk menggelar pertunjukan budaya. Sehingga sarana hiburan lebih variatif, tidak sebatas berfoto ria lalu pulang. 

"Ini prospeknya bagus, tapi harus dikelola secara profesional. Harus ditata sesuai standar pariwisata modern tanpa meninggalkan kearifan lokal," kata Hanna Panjaitan, istri saya, yang tampak kedinginan diterpa angin danau.

Rumah Pohon Simarjarunjung
Inilah persoalaannya. Standar keamanan lokasi itu masih jauh dari harapan. Sarana pembatas sepanjang tepi bukit ke lembah curam masih terbuat dari pagar kayu alakadarnya. Rasa was-was akan menghantui terlebih ketika anak-anak balita bermain bebas dan berlari-lari. 

Bukit Indah Simarjarunjung, Kecamatan Dolok Pardamean, Simalungun, betapapun telah menyajikan kesejukan sederhana. Dengan jarak tak lebih 40 kilometer dari Kota Pematangsiantar, lokasi itu bisa ditempuh dengan dua jalur: via Sidamanik, kota perkebunan yang murung. Atau via Simpang Raya, melewati desa-desa tua seperti Sipoldas, Simantin Tolu, Sibuntuon dan berujung di Sipintu Angin. 

Demikianlah, di Dolok Simarjarunjung yang dingin, pohon-pohon pinus menjulang tinggi, angin mendesis menyibak kulit, dan kopi menawarkan kehangatan yang tepat. Jauh di lembah sana, Pantai Tigaras menawarkan godaan air danau. Danau Toba yang terberkati. (Panda MT Siallagan)
Bagikan:

13 Juni 2017

Seniman dan Sastrawan Tolak Hak Angket KPK


SolupL - Sejumlah seniman dan sastrawan Indonesia yang juga pegiat anti-korupsi menyatakan tekadnya untuk menolak penggunaan hak angket KPK oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka menolak hak angket tersebut karena dinilai akan menghancurkan bangsa.

Ilustrasi.
Kegiatan yang dinamai 'Maklumat Budaya Tolak Angket KPK' itu diinisiasi Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns alias Sys NS dan Harry Tjahjono. Ada juga nama Arswendo Atmowiloto.

Mereka menggalang dukungan melalui pesan berantai di WhatsApp Grup dan jejaring media sosial. "Kami Rakyat Indonesia, yang tidak mewakilkan diri, dengan ini menyatakan penolakan Hak Angket DPR RI atas KPK. Karena kami memilih tetap waras!" begitu bunyi kalimat pembuka pesan berantai tersebut yang dikutip detikcom, Minggu (11/6/2017).

Menurut Sys NS, Pansus angket KPK sengaja dibuat oleh DPR untuk melemahkan lembaga anti-rasuah tersebut. Rakyat tak boleh diam dan harus mengambil langkah untuk membatalkan niatan sejumlah politikus di DPR itu.

"Gerakan yang mau dibuat oleh DPR adalah proses penghancuran bangsa. Sementara KPK dan pemerintah tengah membangun dan giat melakukan pemberantasan korupsi, ini ada upaya pelemahan KPK oleh DPR," kata Sys saat berbincang Minggu (11/6/2017).

"Rakyat sebagai silent majority tak boleh silent harus ada perlawanan untuk menghantam DPR agar membatalkan niatan yang mengkerdilkan independensi KPK," tambah Sys.

Saat sejumlan seniman dan artis telah menyatakan dukungan atas kegiatan ini. Selain Sys NS, Harry Tjahjono dan Arswendo Atmowiloto ada juga Butet Kartaredjasa.

Butet mengakui mendukung kegiatan 'Maklumat Budaya Tolak Angket KPK'. "Saya ikut karena memang ini panggilan hati nurani," kata Butet saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (11/6).

Berbagai grup media sosial di berbagai kota masih terus mengedarkan daftar pendukung penolakan hak angket KPK ini. (dtk/ns/int)
Bagikan:

28 Mei 2017

Arti Batak, Tempat Awal-mula Siborudeakparujar?


SolupL - Arti, makna dan asal-usul kata Batak hingga saat ini belum tuntas dibahas dan disimpulkan para ahli dan peneliti sejarah. Kini malah berkembang spekulasi bahwa kata Batak adalah ciptaan kolonial. Dan sebagian sub-etnis Batak seperti Karo, Simalungun, Dairi, dan Mandailing bahkan mulai melakukan resistensi dengan menolak disebut Batak.

Ulos Batak.
Memang, dalam catatan beberapa sumber sejarah, Batak memiliki makna yang terkesan negatif. Ada yang menyebut bahwa Batak adalah sebutan orang-orang Melayu pesisir kepada suku pegunungan yang dikenal dengan sikap buas dan ganas. Mereka adalah bangsa pemburu yang dianggap keras dan kasar.

Sebagian mengatakan bahwa Batak adalah bangsa pagan, si penyembah berhala, atau dalam bahasa Toba disebut sipelebegu atau parbegu. Seorang intelektual Batak yang hidup di zaman kolonial, WM. Hutagalung, juga menyinggung hal ini dalam bukunya berjudul Pustaha Batak, Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak. 

Menurut Hutagalung, Batak sebagai parbegu muncul dari orang Melayu pesisir yang sudah memeluk agama Islam. Bahkan dalam perjalanannya, orang Batak yang memeluk Islam akhirnya menyebut dirinya sebagai Melayu, tidak lagi Batak.

Pada akhirnya, hingga zaman modern, stereotip bahwa Batak=parbegu tetap melekat dan terpelihara. Tapi Hutagalung membantahnya, "Ndada i hasintonganna (bukan seperti itu kebenarannya)," katanya.

Menurut Hutagalung, Batak adalah nama yang terhormat dan sama sekali tidak terkait dengan kepercayaan. Andai kata 'batak' terkait dengan kepercayaan, tentu nama Batak tidak akan disebut sebagai nama suku atau nama leluhur orang Batak, yaitu Si Raja Batak.

Selain itu, dalam tonggo-tonggo (doa-doa pujaan) para ahli supranatural Batak kepada Sang Pencipta, kata Batak sudah ada muncul, misalnya dalam doa ini: Sian Ho do mulani bisuk, sian Ho mula ni roha, sian Ho mula ni gabe, sian Ho mula mamora, mambaen hami Batak tonga-tonga on, na sinaturanmu (Engkaulah sumber kebijaksanaan, Engkaulah sumber jiwa, Engkaulah sumber kejayaan, Engkaulah sumber kekayaan, menjadikan kami Batak di benua ini, dengan segenap kuasamu)

Jadi, sudah sejak zaman kuno nama Batak itu. Itu jelas nama suku bangsa. Demikian Hutagalung.

Di buku ini juga disebutkan bahwa nama Si Raja Batak mengacu pada nama tempat pertama atau kampung pertama yang ditempati Siborudeakparujar. Siborudeakparujar adalah dewi atau mahluk langit yang diutus Mulajadi Nabolon menjadikan bumi dan segala isinya.

Tempat awal mula Siborudeakparujar ini disebut 'batakna'. Ketika proses penciptaan manusia berlangsung, dinamailah manusia pertama dengan Si Raja Batak mengacu tempat tersebut. Itulah nama bangsa Batak, nama persatuan suku bangsa.

Memang, kata Hutagalung, para leluhur orang Batak sangat ahli menunggang (mamatak) kuda. Sehingga ada sebagian berpendapat, karena keahlian mamatak itu, maka disebutlah suku itu sebagai Batak.

"Asa manang na dia i na sumintong, ndang binoto, holan on nama haputusanna: sai adong do alana umbaen i goar parsadaan ni bangso Batak dibahen nasida (kita tidak tahu mana yang benar, tapi kesimpulannya: pasti ada alasan mengapa komunitas itu diberi nama Batak)," tutup Hutagalung dalam bukunya. (Panda MT Siallagan)

Bagikan:

12 Mei 2017

Sastra adalah Ibu Kandung Indonesia


SOPO - Sastra adalah bidang penting dalam kehidupan Indonesia yang saat ini harus dikembangkan dengan baik untuk tujuan revolusi mental. Sebab sastra adalah ibu kandung yang melahirkan bangsa Indonesia.
Ilustrasi.
 Hal itu dikatakan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan daerah Dr. James Modouw di Aula Balai Bahasa Papua, Kamis (27/4/17), pada seminar sehari dengan tema Merawat Kebinekaan Melalui Sastra. Seminar itu diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Bahasa Papua.

James Modouw mengatakan, sastra adalah ibu dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena menurutnya sastra hadir sebelum negara ini terbentuk.

“Sastra ini ibarat ibu kandung dan Indonesia adalah anak kandungnya. Sastra adalah satu kekayaan budaya kita di Indonesia yang sangat baik dan penting pada era saat ini, untuk dijadikan bahan yang harus dikembangkan menjadi agenda pemerintah dalam melakukan revolusi mental,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua ini menambahkan, sastra sendiri selain menjadi alat untuk mengembangan literasi juga sebagai alat untuk mengembangkan karakter.

“Sastra adalah dasar kapasitas atau mutu manusia dalam kehidupan ke depan yang membentuk seseorang menjadi kreatif dan mempunyai kemampuan berpikir kritis yang tinggi. Untuk itu, kegiatan ini sangat baik untuk digali dan perdalam agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang merasa memiliki. Selain itu potensi masyarakat yang kaya harus kita kembangkan,” ujarnya.

Terkait perkembangan sastra di Papua, Modouw menambahkan, sastra di Papua sangat kaya, namun demikian banyak pemilik kekayaan pusaka budaya merasa bahwa hal tersebut adalah barang lapuk yang tidak penting dibicarakan dan diperdebatkan.

“Saya berharap dengan seminar ini, kesadaran tersebut kita buka dan bisa dijelaskan bahwa pusaka budaya bukan barang lapuk, tetapi mengandung nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan di dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Kepala Balai Bahasa Papua, Toha Machsum menambahkan perkembangan sastra di Papua belum menggembirakan, untuk itu pihaknya mencoba mengembalikan orang pada kebebasan pluralisme adalah karya sastra multikulturalisme di dunia pendidikan.

“Ini yang akan didiskusikan secara singkat beberapa hal yang bisa dilakukan melalui sastra multibudaya yang diharapkan akan memperlihatkan dan menyadarkan para siswa bahwa E Pluribus Unum itu memang alamiah dan alami," katanya. (bbs/int)
Bagikan:

01 Mei 2017

Indonesia Bangsa yang Rugi karena Tak Punya Minat Baca


SolupL - Taufiq Ismail mengaku miris dengan menurunnya tingkat literasi pelajar Indonesia dewasa ini. Taufiq bercerita, saat ia masih muda, siswa SMA sederajat diwajibkan menamatkan 25 judul buku dan membuat 108 karangan selama tiga tahun masa sekolah.

Taufiq Ismail dan Arif.
Hal itu disampaikan sastrawan legendaris itu pada acara Cangkrungan Multidisipliner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Gazebo Forum yang digelar di area gazebo perpustakaan pusat UMM, Sabtu (29/4/17).

Taufiq Ismail mengeluarkan ‘unek-uneknya’ tentang dunia literasi sastra. Menurutnya, Indonesia sudah separuh abad menderita akibat miskin membaca. “Paradigma baru yang berkembang sekarang mengarahkan pelajar lebih banyak gandrung pada media sosial. Kebijakan terbaru, siswa SD diwajibkan menamatkan 3 judul buku sastra selama masa sekolah, SMP 6 judul buku, dan SMA 15 judul buku. Tapi nyatanya, ini jauh dari tercapai, bahkan 0 buku yang dibaca siswa. Ini menyedihkan sekali,” ujarnya.

Padahal, katanya, melalui sastra manusia tak hanya menuliskan untaian kata-kata, tapi juga pengungkapan isi pikiran. Pikiran akan terbarukan dengan menulis dan membaca karya sastra, puisi misalnya. Puisi sarat akan nilai-nilai moral, intelegensi, dan estetika. Puisi masuk dalam tiap ruang kehidupan. “Definisi, sejarah, dan teori sastra itu bukan yang utama, tapi minat membaca dan nilai yang didapatnya,” tukas Taufiq.

“Bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang rugi karena mengalami penurunan yang jauh dalam hal literasi sastra. Pelajar mesti mengembalikan hal ini melalui transformasi literasi. Mulailah membaca dan menulis sastra. Melalui kebiasaan menulis buku harian, ini akan memupuk semangat menulis. Membaca, membaca, membaca. Mengarang, mengarang, mengarang,” pesan Taufiq pada para pelajar.

Narasumber lain, Dr Arif Budi Wurianto mengisahkan tentang Kartini yang dipingit pada zamannya. Kakak kandung Kartini, Sosrokartono miris melihat adiknya tak bisa mengenyam pendidikan seperti dirinya akibat terbelenggu budaya yang mengimani bahwa perempuan harus dipingit sampai menikah.

“Tubuhmu boleh dipingit, tapi yang bebas adalah pikiranmu. Bebaskan pikiranmu dengan membaca,” pesan Sosrokartono pada Kartini disampaikan Arif Budi di hadapan ratusan siswa SMA se-Malang Raya dan mahasiswa yang hadir.

Sastra di mata Arif yang juga kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) adalah sebuah gejala kebudayaan. Berbicara budaya berarti berbicara nilai humanisme dan pengharkatan manusia. Melalui aktivitas membaca dan menulis sastra, manusia akan terhalau untuk menjadi insan bermartabat.  Menulis sastra adalah peluang mengekspresikan diri tanpa tekanan. (bbs/int)
Bagikan:

28 April 2017

Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi


Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Februari, 1943


Itulah salah sajak Chairil Anwar yang sangat legendari dan bertenaga. Kini, Chairil banyak diperbincangkan sejalan dengan rencana pengusulan namanya menjadi pahlawan nasional. Wacana itu terus bergulir dan mendapat sambutan cukup kuat dari publik.

Nukilan sajak Chairil di acara Parade Puisi Chairil.
Sepanjang Jumat (28/4/2017), ratusan pengagum Chairil Award dari kota dan kabupaten di Sumbar, Riau hingga Sumut, memadati halaman rumah gadang sang pujangga itu, di Parik Dalam, Nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumbar Mereka berkumpul, untuk menyukseskan Parade Puisi Chairil yang dihelat Forum Inisiator Chairil Anwar Menuju Pahlawan Nasional.

Wakil Ketua Forum Inisiator Iyut Fitra menyebut, Parade Puisi ini dimulai dengan kegiatan diskusi publik dengan tajuk "Chairil Anwar di Antara Pemuda Pergerakan Kemerdekaan". “Diskusi itu menampilkan pembicara  Yudilfan Habib dengan moderator Nasrul Azwar alias Mak Naih,” kata Iyut Fitra seperti dilansir Republika.co.id, Jumat (28/4/17).

Acara dibuka secara resmi  Bupati Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Irfendi Arbi. Kegiatan ini diawali dengan musik tradisi gugus II Taeh Baruah dengan judul "Mandapek".

Selain diisi dengan penampilan dan pembacaan puisi oleh sederet budayawan, sastrawan serta utusan komunitas sastra di Sumatera Barat, acara juga menampilkan puisi pelajar di Limapuluh Kota. "Sampai Jumat malam, ada kegiatan penampilan puisi, pemutaran film dokumenter dan sirompak Taeh," ujar Iyut Fitra.

Karya-karya puisinya selalu menggelorakan perlawanan atau pun pemberontakan dalam bentuk karya sastra. Mungkin dipengaruhi oleh suasana perjuangan ketika itu, puisi-puisi Chairil Anwar seolah menginspirasi banyak orang untuk melawan penjajah.

Dia dikenal sebagai pelopor sastra angkatan 45 dan sekaligus sastra modern. Pengetahuannya yang luas atas banyak bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, dan Jerman membuat karyanya tersebar luas. Karyanya pun terus dikenang dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan hingga sekarang puisi-puisinya yang khas terus diminati.

Seperti salah satu karya puisinya Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi, Chairil Anwar pun seolah benar-benar hidup sampai sekarang dan entah benar sampai seribu tahun ke depan.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun. Dia dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, di mana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis.

Puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau.

Ia masih punya pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.Sebagai anak tunggal, orangtuanya selalu memanjakannya.

Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orangtuanya. Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda.

Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.

Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orangtuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) di mana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahi Chairil dan ibunya.

Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.

Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia. Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. (berbagai sumber/int)

BACA JUGA: Chairil Anwar Diusulkan jadi Pahlawan Nasional
Bagikan:

25 April 2017

Cinta Ajip Rosidi-Nani Wijaya akan Hadir dalam Bentuk Karya Sastra


SolupL - Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di area Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, menjadi saksi bisu pernikahan tokoh penting sastra Indonesia Ajip Rosidi dan aktris senior Nani Wijaya pada Minggu (16/4/17) lalu.

Ajip menikah dengan Nani Wijaya
Kedua keluarga dan kerabat dekat mereka pun turut hadir menyaksikan pernikahan usia senja pasangan Ajip Rosidi dan Nani Wijaya. Prosesi pernikahan yang berlangsung selama satu jam ini berjalan lancar.

"Saya tidak akan memberikan batasan kepada istri saya untuk terus beraktivitas sesuai profesinya sebagai aktor. Tapi, saya tetap akan mengingatkan untuk memperhatikan keluarga," ucap Ajip Rosidi usai menjalani prosesi akad nikah.

Keduanya memutuskan menikah di Masjid Sang Cipta Rasa karena masjid tersebut memiliki sejarah penting dalam perkembangan Cirebon. Selain itu, keduanya merupakan warga asli kawasan timur Jawa Barat.

Ajip Rosidi berasal dari Kabupaten Majalengka, sedangkan Nani Wijaya dari Cirebon. Bahkan, lanjut Ajip, kisah pernikahan mereka yang berada di usia senja tersebut akan dibukukan dalam karya sastra Ajip Rosidi.

Setelah resmi menikah, keduanya saling melempar pujian. Ajip mengakui Nani Wijaya sebagai perempuan yang cantik dan istimewa. Begitu juga Nani yang menilai Ajip merupakan suami yang baik dan istimewa. "Kami berharap pernikahan kami langgeng sampai akhir hidup kami," Ajip berdoa.

Pernikahan mereka pun disaksikan langsung oleh Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadingrat. Sultan mengatakan, pernikahan Ajip Rosidi dan Nani Wijaya ini menjadi momen yang penting untuk Cirebon dan sekitarnya.

"Ini sebagai contoh saja bagi yang muda khususnya diambil kisahnya yang kakek nenek saja masih saling menyayangi ingin hidup bersama apalagi yang muda," ujar Arief.

Dari pernikahan usia senja ini, Arief mengambil hikmah jika kasih sayang, kebersamaan, rasa saling berbagi itu sepanjang waktu dan selalu ada dalam benak manusia seutuhnya.

Sebelum keduanya menikah, Arief mengatakan keluarga dari Ajip Rosidi maupun Nani Wijaya sering berkunjung ke Keraton Kasepuhan. Tanpa diketahui media, mereka sering berbincang dan diskusi soal tanah perkembangan kelahirannya di pantura ini.

"Mereka memang sudah dekat dengan kami lama sekali dan kita kaget dong kok sudah sepuh jadi menikah. Ya, karena selama ini, mereka masing-masing enggak pernah bareng," dia mengungkapkan.

Arief pun mengaku pernikahan keduanya terbilang unik. Karena sosok Nani Wijaya sibuk dengan dunia akting dan seni peran, sedangkan Ajip Rosidi sosok yang sibuk dengan menulis.

"Rumahnya Pak Ajip Rosidi saja pilihnya di tengah sawah agar bisa fokus nulis. Kami doakan semoga langgeng dan bahagia selamanya," Sultan Arief mendoakan. (berbagaisumber/int)
Bagikan: