13 November 2015

Serangan Fajar dan Jas Pinjaman


Hal pertama yang mereka hancurkan adalah makna. Lalu dusta menjadi sesuatu yang lumrah. Entah bagaimana, pesona gagasan dan pemikiran kehilangan tempat sejak itu, menjadi retorika yang menguap jadi asosiasi buruk. Percakapan-percakapan yang baik seolah telah lama kehilangan substansinya. Dan memang, tahu apa kita soal politik dan politisi?

Ilustrasi.
Di zaman orde baru, kita ‘hanya’ diizinkan memahami politik lewat satu warna. Atau setidaknya 3 warna, tapi kita tahu sebuah manipulasi selalu terjadi di situ: formalitas keberagaman. Tapi sejak reformasi, warna itu berkibar-kibar melampaui hembusan angin, melebihi kemampuan kita menduga.

Demikianlah dua atau lebih generasi mengenang, setiap momentum pemilu adalah semarak kuning, merah dan hijau. Lalu semarak janji-janji. Warna apakah janjimu?

Dari sanalah proses penghancuran itu bermula. Jika partai X menang, jalan-jalan akan mulus, harga sembako terjangkau, pendidikan akan gratis, layanan kesehatan akan bermutu. Lalu, isu-isu penegakan hukum menjadi santapan retorika mutakhir, termasuk pemberantasan korupsi.

Praktis, pesta demokrasi menjadi produksi isu dan para politisi menjadi mahir menabur janji. Tapi, segalanya menguap tak lama setelah itu, dan si legislator yang terpilih itu selanjutnya melenggang sebagai mahluk bermartabat dan secara sosial masuk ke kelas eksklusif. Mereka seolah tak ada urusan dengan rakyat.

Mengapa rakyat? Sebab demikian memang diajarkan kepada kita, atau diteruskan dari generasi ke generasi. Bahwa demokrasi memang dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat, sebagaimana dikandung etimologinya: demos dan kratos, pemerintahan rakyat. Tapi pernahkah sistem pemerintahan kita dikendalikan rakyat?

Faktanya, rakyat hanya alat. Dan itu dipertegas aib-aib politik, terutama politik uang, yang kian merajalela. Rakyat dibeli. Maka kelak, penguasa akan merasa sah ketika ia tak perlu peduli pada rakyat. Dan memang ironis, sebagian besar masyarakat justru antusias menyambut bola dari serangan fajar itu.

Inilah puncak pesimisme itu: siapapun penguasa dan legislator, rakyat tetap cari makan sendiri. Dan memang, sejak dulu, tak ada alasan untuk percaya pada janji-janji. Visi misi partai politik dan para politisinya, betatapun disajikan dengan hebat, selalu berakhir menjadi sebuah kebohongan yang kosong. Segala sesuatu berakhir tanpa makna. Serangan fajar menyelesaikan skenarionya.

Dan entah kenapa aksi bagi-bagi uang ini dinamai serangan fajar. Kita tahu, Serangan Fajar adalah judul sebuah film dokumenter yang disutradarai Arifin C Noer. Sejak diproduksi tahun 1982, film ini pernah ditetapkan sebagai tontonan wajib.

Tapi setelah Soeharto lengser, film ini tidak lagi menjadi tontonan wajib. Sebab, film ini dinilai sarat manipulasi sejarah dan merupakan pengultusan terhadap Soeharto. Selain Serangan Fajar, film Pemberontakan G30/S PKI dan Janur Kuning, belakangan dinilai juga sebagai propaganda.

Serangan fajar, yang sesungguhnya dimaksudkan menegakkan nilai-nilai kesejarahan dan perjuangan bangsa, berakhir jadi hal-ihwal politik yang licik dan manipulatif.

Dan ya, serangan fajar adalah puncak hegemoni modal. Jauh sebelum itu, fragmen-fragmen lucu sudah terlebih dahulu berlangsung. Bayangkan caleg wanita mematut diri di depan cermin, berputar-berputar, melotot pada busana, menata rambut, mengoles bedak ke pipi, memoles lipstik ke bibir. Lalu blitz-blitz kamera menyerang.

Dan syahdan, ada seorang caleg meminjam jas untuk tujuan solek-molek seperti di atas. Bukan karena ia tidak mampu beli jas, tapi ia tak suka jas. Jas adalah moralitas borjuis, sedangkan caleg kita ini adalah bandit jalanan. Ia ingin sisa hidupnya dilalui dengan penuh martabat. Dan menjadi anggota dewan adalah solusi. Betapa rumitnya ritual hias diri itu.

Dan kita bahagia menatap foto-foto mereka tersenyum di sepanjang jalan dan gang, meski kemarin foto-foto itu diturunkan dan mungkin sebagian dibenamkan ke dalam lumpur atau sebagian lagi lebur bersama sampah domestik yang dikerubungi belatung di TPS (tempat pembuagan sampah).

Benarkah mereka setampan dan secantik foto di baliho, poster dan spanduk-spanduk itu? Uang memang memungkinkan segalanya berjalan dengan apik. Kulit keriput bisa diolah menjadi serupa pualam, hidung rata bisa ‘dipompa’ jadi mancung.

Dan bibir yang tersenyum itu, atau mata yang menatap lembut itu, sungguh gampang dikreasikan dengan aplikasi teknologi di era digital komputer sekarang. Tebalkan bedak dan lipstik, cantik urusan kecil. Apalagi massa, cukup selesaikan dengan uang! Oh, serangan fajar!

Menyedihkan memang menyaksikan tingkah para elit partai dan politisi itu dalam riuh pesta demokrasi ini. Sayangnya, yang menonjol adalah pertarungan personal semacam adu solek itu.

Inilah politik pencitraan yang sesungguhnya tak terkait dengan visi dan gagasan pembangunan. Mestinya para calon mampu mengedepankan politik padat isi dan gagasan ketimbang politik padat modal atifisial.

Jika pertarungan pemilu legislatif dikemas jadi pertarungan visi, ide dan gagasan, maka siapapun yang terpilih, itu hanya persoalan teknis politik. Itulah esensi demokrasi sesungguhnya. Tetapi, hal pertama dan terakhir yang mereka hancurkan adalah makna. Dan jangan-jangan, pemilu ini tak penting bagi rakyat, sebab keberadaan lembaga legislatif dan partai politik hampir tak bisa dirasakan masyarakat secara konkret.

Meski slogan itu dipampang besar-besar, bahwa suara rakyat akan menentukan masa depan bangsa, maka sesungguhnya rakyat tetaplah rakyat. Tapi mereka yang terpilih, sudah pasti jadi ‘pejabat’.’ Tapi baiklah, mari bersiap, sejenak bersolek di depan cermin, lalu ramai-ramai ke tempat pemungutan suara. (Panda MT Siallagan)

Bagikan:

Akhir dari Pelarian Sergio Batakov


Cerpen Panda MT Siallagan

Barangkali, inilah akhir dari pelarian Sergio Batakov, saat didengarnya pintu rumah diketuk. Dan ia tidak akan pernah tahu kapan persisnya kengerian itu bergetar di pintu rumahnya. Apakah di pagi hari ketika ia sedang mandi, di siang hari ketika ia sedang bersantap, atau pada malam hari ketika mata dan pikirannya sedang terpaku pada sebuah buku. Dan, mungkinkah ketukan itu terjadi pada dini hari ketika ia kepanasan membolak-balik badannya seperti ikan di penggorengan, demi menunggu kantuk sambil mengutuk insomnia akut?

Ilustrasi.
Ia benar-benar tidak tahu, tapi ketika ketukan itu berdebam-debam, ia merasa otaknya penuh, sesak oleh banyak ingatan. Tangan dan kakinya bergetar, dan nafasnya sumbat seolah tenggorokannya disumpal sesuatu. Lalu, seperti dihampiri maut, ia terkapar di ranjangnya dengan punggung kaku yang sulit digerakkan, hatinya disusupi semacam perasaan sedih dan menyesal yang menghancurkan. Dan ia berteriak, meraung-raung minta tolong, sebab ia yakin setan sedang mengganggunya. Tetapi, ia rasa, suaranya tercekat, tak bisa keluar dari kerongkongannya.

Kengerian yang menyayat itu terjadi pada dini hari, sekitar pukul tiga ketika kokok ayam pertama mulai bergaung merusuhi subuh yang segera tiba. Orang-orang dipaksa bangun karena tersentak mendengar teriakan dan jeritan dari rumah Sergio Batakov yang sunyi. Mula-mula mereka abai, mengira suara-suara itu berasal dari mulut setan yang memanggil-manggil dari mimpi yang jauh. Tetapi, makin lama suara itu makin jelas, bahkan semakin beragam. Kadang serupa tangisan pilu dari seorang ibu yang kehilangan anak, kadang seperti tawa sepasang kekasih yang bercinta di malam buta, kadang serupa teriakan marah dari mulut kucing yang berebut makanan dengan anjing. Orang-orang mulai gerun, lalu berkeluaran dari rumah mencari sumber suara itu sambil berteriak satu sama lain, “Ada orang kesurupan…bangun…ada orang kesurupan...”

Mereka lalu bergegas menuju rumah tempat dari mana suara-suara itu hambur, menggedor pintu berkali-kali, tetapi tak ada tanda-tanda bahwa Sergio Batakov akan membuka pintu. Dan sesaat kemudian, suara-suara itu lenyap, dan kembali senyap. Orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing, dan aroma subuh yang diruapkan udara basah kembali mengambang, berdesakan dengan kokok ayam yang saling bersahutan dari tempat-tempat yang jauh. Dan hanya ada satu kepastian yang mengendap di hati orang-orang perihal peristiwa itu: “Penghuni rumah itu pasti sedang bermimpi diperkosa iblis.”

Tetapi, Sergio Batakov tidak sedang bermimpi. Dan ia bukan tidak peduli, tapi petaka itu membuatnya tidak bisa beranjak membuka pintu dan meminta orang-orang itu menolongnya. Kaki dan tangannya serasa diborgol. Dan, ketika ketukan itu berakhir, ia merasa jatuh, terlempar ke sebuah lembah, sebuah tempat yang begitu asing. Sebuah tempat di mana dia barangkali akan tertangkap, lalu dijebloskan ke dalam penjara.

NAMAKU SOADA RIA

Saudara-saudara, namaku Soada Ria. Umur 28 tahun. Tinggi 165 cm. Rambut panjang lurus. Kulit putih mulus. Hidung mancung. Hanya satu kata dari orang-orang untukku: CANTIK. Dan hanya satu kata dariku untuk Sergio Batakov: TAMPAN. Aku tinggal persis di samping rumah lelaki itu. Mulanya kami tidak saling mengenal. Beri maklumlah, aku seorang penyanyi bar yang setiap malam harus bekerja. Oleh sebab itu, siang hari selalu kuhabiskan dengan tidur, tak pernah saling menegur atau bertukar gosip dengan para tetangga, termasuk dengan lelaki itu.

Tapi, suatu hari, bar tempatku bekerja digerebek aparat karena diduga sebagai tempat berlangsungnya transaksi jual-beli obat, juga sarang perek. Kecelakaan itu membuatku harus berhenti bekerja untuk sementara waktu, dan itu tentu memaksa aku harus berada di rumah pada siang hari. Pada saat itulah aku kaget menyaksikan rumah Sergio Batakov tertutup rapat sejak pagi sampai sore hari. Oh, dia mungkin berangkat kerja pada subuh karena tak ingin terjebak macet. Tapi, ketika menjelang maghrib kudengar musik rock melantun dari rumahnya, aku kaget sebab tak kulihat ada seseorang yang pulang. Aku berpikir, mungkin saja sebenarnya lelaki itu tidak pergi ke mana-mana, melainkan tidur sepanjang hari.

Apakah ia juga bekerja pada malam hari seperti aku, misalnya? Tapi tidak, hingga malam hari tiba, lelaki itu tidak pergi ke mana-mana. Kusimpulkan, ia tidak bekerja pada malam hari. Menjelang tengah malam, lagi-lagi kudengar alunan musik menjalar dari rumahnya. Kali ini Beethoven, atau mungkin Mozart, sulit bagiku membedakannya. Dan barangkali, karena sudah terbiasa bekerja di malam hari, aku sangat kesulitan untuk tidur. Begitulah, kudengar musik itu terus saja mengalir dari rumah lelaki itu dan baru berhenti di pagi hari. Setelah itu, aku tidur. Juga ia, barangkali.

Beberapa hari kejadian serupa terulang, lelaki itu mungkin terusik. Ia bertamu ke rumahku suatu malam. Ia berkata bahwa ia tahu aku tak pernah tidur pada malam hari, dan meminta kesediaanku menemaninya berbincang-bincang sepanjang malam itu. Kukatakan itu tidak mungkin, karena kami baru saja berkenalan. Lagipula, penduduk di sekitar perumahan itu bisa marah, lalu menggerebek kami karena dikira berbuat mesum. Sebab kami belum menikah. Tetapi, terhipnotis oleh sesuatu yang ganjil, kubiarkan lelaki itu berada di rumahku. Sebagai solusi, kami sepakat untuk berbincang dengan cara berbisik-bisik, agar tetangga tidak mendengar.

Maklum, rumah sangat sederhana tidak sama dengan rumah megah bertembok kokoh yang bisa meredam suara. Saat itulah aku tahu bahwa berbicara dengan berbisik-bisik sangat melelahkan, membuat nafas tersengal-sengal. Itu mungkin sebabnya mengapa orang hanya berbisik untuk hal-hal yang penting, bersifat rahasia. Tetapi tidak ada rahasia malam itu. Segalanya ia ceritakan padaku.

Sebagaimana ia berkisah, kumulai dari peristiwa dua tahun lalu, ketika ia membeli rumah itu dengan uangnya sendiri. Ini tentu tidak aneh, seandainya lelaki itu memiliki pekerjaan yang mapan, atau kebetulan mempunyai orangtua yang kaya. Nyatanya tidak. Ayahnya hanya seorang kuli pelabuhan, meningggal beberapa tahun lalu karena terserang TBC. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di rumah orang-orang kaya. Puji dan syukur kepada Tuhan atas berkatnya, wanita malang itu bisa mengirimkan Sergio Batakov hingga ke universitas, di kota ini. Kota di mana lelaki itu terdampar sebagai pengembara yang ganjil.

Setamat dari universiti, ia tidak berusaha mencari pekerjaan, tapi memilih mencemplungkan diri ke dunia seni. Mula-mula ia aktif berteater, tapi berhenti karena kemudian ia lebih tertarik mengamen di jalanan. Ini juga tidak berlangsung lama, sebab jalan raya kehidupan yang dilintasinya membuat ia ingin berbicara, menyuarakan luka. Dan ia memilih sastra sebagai terminal terakhir. Di terminal itulah suatu malam ia terkejut menatap kertas yang ditulisinya. Bukan sebuah sajak atau cerita yang tertulis sebagaimana ia rancang, tapi halaman kertas itu penuh dengan goretan angka: 1303…1303…1303.

Saudara-saudara, namaku Soada Ria. Aku tidak pernah percaya pada apa-apa di luar realitas, sebab itu harus kulanjutkan seperti apa yang kisahkan Sergio Batakov. Keesokan harinya, limapuluh ribu rupiah ia tukar untuk nomor itu. Dan tembus. Bandar togel mampus. Sekarang, tentu tidak aneh lagi bagimu bagaimana Sergio Batakov bisa membeli rumah itu. Beri tabik padanya, seseorang yang diberkati dunia dengan cara yang berbeda, tapi dipermalukan takdir dengan kekejaman tak bertara. Sebab setelahnya, dengan menangis, inilah yang dikisahkannya:

Ia menerima kartu undangan. Akan dilangsungkan pernikahan antara Tokka Dihita dengan Tarida Ila. Tapi, saudara-saudara, namaku Soada Ria. Pada banyak hal, aku bukan perempuan yang jujur, tapi untuk melanjutkan kisah ini dengan kebohongan, aku tak punya keberanian. Sebab tangis lelaki itu makin meledak, hingga ia tak sanggup lagi bercerita. Jika saja tidak kuingatkan bahwa kami bisa saja digerebek tetangga, ia mungkin sudah meraung-raung sekeras ia mau.

KEMATIAN SEPASANG PENGANTIN

Rumah tua itu dibangun pada jaman kolonial, dan sejauh ini belum pernah direnovasi, atau dicat ulang, hingga tembok bagian luarnya sebagian telah menghijau diselimuti lumut. Di dalamnya hidup keluarga kaya, tapi buta pada sejarah. Tuan pemilik rumah, seorang lelaki yang gagah, berbahagia dengan karir yang mantap sebagai pejabat tinggi di perusahaan perminyakan ternama. Sebab itu ia tak pernah punya kendala memanjakan perempuan-perempuan simpanannya dengan limpahan materi.

Istrinya, perempuan yang diberkahi kesetiaan tanpa batas, tak pernah membiarkan hatinya dimasuki iblis dengan bercuriga. Ia rawat dua putrinya yang cantik-cantik dengan kecintaan yang mengagumkan. Ia cintai suaminya dengan kepolosan yang menjerumuskan. Dan satu-satunya hal yang tak pernah diragukan orang-orang tentang keluarga itu adalah pahamnya yang liberal.

Sinta Uli dan Tarida Ila nama kedua putri pemilik rumah itu. Sinta Uli menonjol dengan karakternya yang penyayang, bertanggung jawab, cocok untuk melindungi adiknya Tarida Ila yang introvert, mudah depresi dan selalu ragu pada diri sendiri dan kehidupan. Tapi ia tak kalah cantik dengan kakaknya. Dan kakaknya tak kalah cerdas dibanding dia. Mereka menyelesaikan studi masing-masing dengan prestasi gemilang, dari universiti yang juga pantas terbilang. Dan adalah kebingungan besar bagi orang-orang kenapa dua gadis sempurna itu berada di rumah orangtuanya tanpa bekerja. Ah, ya, ini pendapat yang tak berbobot. Bukankah ada jutaan pengganggur di negeri ini karena lapangan pekerjaan yang ada tak sangup menampung mereka?

Demikianlah, setelah hampir dua tahun mereka menganggur, gagasan untuk menikahkan Sinta Uli muncul di benak suami-istri pemilik rumah itu. Maka ditentukanlah hari dan tanggal yang terberkati. Dan pacar Sinta Uli, seorang lelaki gagah, segera tinggal di rumah mereka menunggu hari pernikahan. Tapi pernikahan itu tak pernah terjadi, sebab mendadak setelah itu Sinta Uli dipanggil untuk bekerja di sebuah bank suasta. Itu merupakan penantian yang panjang dan melelahkan setelah bertahun-tahun berjuang ke sana ke mari memburu pekerjaan.

Maka, pernikahan antara Sinta Uli dan kekasihnya ditunda, sebab perusahaan mensyaratkan tidak boleh menikah minimal selama setahun sejak mulai bekerja. Untung saja undangan belum sempat disebar, sehingga tak ada sesuatu yang perlu dirisaukan. Kelak, Sinta Uli tak henti-henti mengutuk kebijakan semacam itu sebagai amoral. Dan dari sinilah mekanisme paham liberal itu mulai bekerja dengan kejutannya yang menyakitkan.

Ya, meski pernikahan ditunda, lelaki gagah kekasih Sinta Uli itu tetap tinggal di rumah mereka. Dan ada alasan rasional untuk itu: tenaganya dibutuhkan untuk mengelola warung yang diberikan ayahnya kepada mereka selama menganggur. Lelaki itu sangat menyenangkan, penuh humor, dan tak pernah membiarkan pikirannya rumit oleh kehidupan yang menyesakkan.

Oleh sebab itu, calon ibu mertuanya sangat sayang padanya. Dan terhadap Tarida Ila , ia menyuguhkan keakraban yang anggun, hangat, dan mendamaikan. Tarida Ila bahagia mendapatkan calon ipar seperti lelaki itu, yang kepadanya ia sering berbagi kisah tentang cita-cita, harapan, juga tentang kekasihnya yang tinggal di kota lain. Kekasihnya yang aneh karena kecintaannya yang ganjil pada kesenian. Terkejut melihat keakraban mereka, Sinta Uli pernah berkata pada kekasihnya, “Kamu pacaran dengan adikku atau dengan aku?”

Mereka bertiga tertawa. Tapi keakraban itu terus berlangsung, terutama ketika Sinta Uli bekerja sementara mereka berdua larut dalam bincang yang panjang sambil menjaga. Lalu, peristiwa itu pun meledak: Tarida Ila hamil. Satu-satunya hal yang mendesak untuk dilakukan pada waktu itu adalah menjadikan pernikahan itu sebagai sesuatu yang wajar dan pantas dirayakan. Tetapi, kekasih Tarida Ila muncul pada hari pernikahan dan menikami sepasang pengantin itu dengan belati, berkali-kali. Sepasang pengantin itu tersungkur dengan darah yang muncrat ke mana-mana, hingga burung-burung yang melintas di angkasa, berhenti mencium aroma darah itu.

TANGISAN PILU SOADA RIA

Namaku Soada Ria. Hanya satu kata dari orang-orang untukku: CANTIK. Dan hanya satu kata dariku untuk Sergio Batakov: TAMPAN. Sebab kami mungkin saja bukan orang baik. Aku sesungguhnya telah mencintai Sergio sejak ia tinggal di samping rumahku, tapi aku berusaha menghormatinya dengan sikap diam. Aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik baginya, meskipun hanya beberapa malam. Dan aku tak selalu kuat mendengar kisah sedihnya. Aku benar-benar menangis ketika ia berkisah tentang harapan ibunya yang ingin melihat dia menikah, tapi itu tidak pernah terjadi sebab ibunya keburu meninggal, dua bulan sebelum ia menerima kartu undangan pernikahan dari kekasihnya. Sejak kematian ibunya itulah kekecewaannya pada Tarida Ila mulai menggelegak, sebab perempuan itu tidak datang melayat.

Sunguh, aku benar-benar makin mencintainya sejak kami berkenalan, sejak ia mulai berkisah tentang hidupnya, meskipun hanya beberapa malam. Tapi, aku selalu memendam perasaan itu karena aku menghargai cintanya pada kekasihnya. Terimakasih pada Tuhan yang telah mengantarkan ia padaku setelah membunuh, meski kutahu ia akan segera tertangkap. Terimakasih padanya untuk ciuman dan pelukan yang sempat diberikannya, meski ia tidak pernah berkata mencintaiku, bahkan mungkin sampai ia dihukum mati.

Namaku Soada Ria. Dalam banyak hal, aku bukanlah orang yang jujur, tapi seperti caranya berkisah, dengarlah jerit tangisku sebagai kisah. Sungguh, Sergio Batakov tidak tahu kapan ketukan itu bergetar di pintu rumahnya. Ia hanya tahu bahwa otaknya seolah penuh disesaki banyak peristiwa, tangan dan kakinya bergetar. Dan kengerian itu terjadi pada dini hari, sekitar pukul tiga ketika kokok ayam pertama mulai bergaung merusuhi subuh yang segera tiba.

Dan ketika ketukan itu berakhir, ia merasa jatuh, terlempar ke sebuah lembah, sebuah tempat yang begitu asing. Ia menemukan dirinya sebagai anak kecil dengan seruling bambu di tangannya. Ia meniup seruling itu dan mengalirlah lagu-lagu sedih yang mengingatkannya pada kejenakaan masa kanak-kanak. Ia tertawa. Dan ketika ia tertawa, ia melihat sebuah bus yang dipenuhi penumpang sedang parkir di sebuah persimpangan. Ia segera menghentikan tawanya yang ngakak, sebab ibunya tiba-tiba berkata, “Pergilah, supir bus itu tentu tidak mau menunggumu lebih lama. Penumpangnnya bisa marah, sebab beberapa dari mereka mungkin akan bepergian untuk urusan penting.”

Di samping ibunya, ayahnya hanya mematung. Ia tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi ketika ia sudah berada di dalam bus yang mulai merangkak, ia ingat pesan ayahnya, “Jadilah anak yang santun di tanah rantau, selesaikan sekolahmu baik-baik dan berkirim suratlah sesekali ke bona pasogit tempat abah dan emak kau merindukanmu.”

Ketika ia menangis di dalam bus, ia merasa jemari lembut seorang perempuan menggenggam jemarinya. “Tak usah bersedih,” kata perempuan itu, “Karena kau beruntung. Aku terima cintamu.”

Sejenak ia merasa sadar, bertanya-tanya apakah memang benar ia menangis ketika dulu gadis itu menerima cintanya? Ia lalu ingat, ia memang menangis. Peristiwa itu terjadi di perpustakaan kampus, pada suatu siang. Tapi ia menangis bukan karena cintanya diterima, tapi karena ia baru saja menerima kabar luka tentang kematian ayahnya. Tangisnya makin keras, dan ia lihat lagi sebuah bus baru saja berangkat dari sebuah terminal. Di dalam bus itu, seorang gadis melambai ke arahnya, dan ia ingat ucapan gadis itu, “Kurasa, satu-satunya hal yang ingin kudapatkan di kota ini adalah ijasah, juga titel sarjana. Dan itu sudah kudapatkan, sekarang aku ingin kembali ke rumah, sebab bapaku sudah berjanji membantuku mencarikan pekerjaan.”

Suatu kali ia pergi mengunjungi kekasihnya itu di kotanya, dan ia kaget menemukan seorang lelaki muda berada di rumah kekasihnya. Ketika ia bertanya siapa lelaki itu, kekasihnya berkata bahwa lelaki itu adalah pacar kakaknya. Ia bertanya mengapa pacar kakaknya tinggal di rumah mereka. Kekasihnya berkata bahwa semestinya mereka sudah menikah, tapi ditunda karena tiba-tiba kakaknya dipanggil sebuah perusahaan untuk bekerja.

Pikiran Sergio Batakov kembali berantakan, ia berusaha mengingat-ingat tapi tengkuknya terasa panas, di telinganya berdengung suara-suara bising. Dadanya berdegup, darahnya terpacu, seolah akan muncrat dari lubang hidungnya. Ia tiba-tiba teringat pada Tuhan. Ia berdoa, tapi bukan karena percaya pada nubuat nabi-nabi palsu itu, melainkan karena ia tidak ingin mati. Dan ia memang tidak mati, sebab ia masih bisa mendengar kokok ayam bersahut-sahutan dari tempat yang jauh. Ia masih bisa menangkap sekilas kenangan dari kokok ayam itu: sebuah kampung, jalanan mendaki dan berbatu, sawah yang terbentang luas, hutan yang menghampar hijau, ayahnya, ibunya, adik-adiknya. Di mana mereka sekarang, dan seperti apa? Ia tiba-tiba merasa rindu, dan kembali mampu menguasai pikirannya.

Ia ingat lelaki yang berada di rumah kekasihnya. Ia bertanya kepada lelaki itu mengapa ia tidak merantau saja ke kota lain. Lelaki itu berkata bahwa ia juga ingin, tapi Sinta Uli tidak memberi ijin karena mereka sudah melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan suami-istri. Lelaki itu mengatakan hal itu sambil tertawa. Tawa lelaki itu membuatnya murka. Ia ingat ia menikami tubuh lelaki bernama Tokka Dihita itu berkali-kali. Darah muncrat ke mana-mana, membuat burung-burung yang melintas di udara berhenti, megap mencium aromanya.

Saudara-saudara, namaku Soada Ria. Aku bukan seorang pencerita seperti Sergio Batakov. Tapi begitulah kisah yang diigaukannya padaku ketika aku menemaninya di rumah sakit jiwa. Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur, sebab aku tak tahu apakah penjara atau hukuman mati lebih menyakitkan dibanding rumah sakit jiwa. Aku hanya bisa menangis. ***

Pematangsiantar, 2006

Bagikan:

11 November 2015

Kupu-kupu Bersayap Mawar


Cerpen Panda MT Siallagan

Seorang lelaki bertubuh liat, sedang bersedih di kedainya yang lengang, duduk di kursi paling pojok. Matanya memandang sayu pada semburat matahari senja yang bersilangan dari arah barat. Di hadapannya, segelas kopi hangat mengepulkan uap sedap, berbaur dengan asap rokok yang nyaris memuntung di sela-sela jemarinya. Sesekali, ia menghisap dalam-dalam asap rokoknya, lalu menghempaskan nafasnya seperti ingin membebaskan beban dari dadanya.

Ilustrasi.
“Masih terkenang juga padanya, Bang?” Soada Ria, gadis cantik pelayan kedai menghampirinya. Ia melirik sekilas-lewat pada gadis itu, lalu kembali menatap matahari. Ia mendesah.

“Tahukah kau seberapa sakit rasa kehilangan?” katanya kepada gadis itu, tanpa menoleh. Ia melakukan hisapan terakhir pada rokoknya, dan melemparkan puntung rokoknya ke halaman, lalu menyalakan lagi batang yang baru.

Soada Ria, gadis bertubuh kecil dan berambut panjang itu, menepuk pundaknya dengan sangat lembut, seperti tahu bahwa obat menyembuhkan kesedihan adalah kasih sayang.

“Kehilangan,” katanya bergetar, “Adalah milik semua orang. Hidupku berwarna justru karena kehilangan demi kehilangan.”

Lelaki itu menatapnya, “Kupu-kupuku pernah berkata begitu,” katanya, “Kau membuatku makin sedih.”

Soada Ria, gadis bermata telaga itu tak tahan memandang mata sedih lelaki itu. “Maafkan aku, Bang,” katanya, berlalu meninggalkan lelaki itu. Dan ia tidak tahu, Soada Ria menangis di bilik kedai.

Lelaki itu kembali larut, hanyut diseret ingatan, terkenang pada saat pertama kali bertemu dan menangkap kupu-kupunya. Persis pada saat senja seperti sekarang. Waktu itu, ia sedang asyik menghitung lembaran uang kertas yang menebal di kantongnya, uang yang diperolehnya dari judi togel. Ya, empat angka yang ditebaknya tembus sebanyak sepuluh lembar. Ia lalu mengajak teman-temannya sesama kuli berpesta, mabuk, bersenang-senang, berjalan-jalan di seluruh bandar sambil berteriak, “Hidup lelaki kuli! Hidup judi! Sejarah kuli tetap pedih, hanya layak jadi pemimpi, penjudi.”

Seusai pesta yang mirip unjuk rasa itu, ia melunasi utang-utang yang menumpuk di banyak kedai, tapi uang yang tersisa masih tetap cukup banyak. Sisa uang itulah yang dihitung-hitungnya pada senja itu, ketika ia merenung hendak dikemanakan uang itu. Dan ketika ia berpikir apakah ia akan bersenang-senang dengan seorang pelacur, seekor kupu-kupu muncul menghampirinya.

“Dapat rejeki ni yeee, bagi dong,” kata kupu-kupu. Ia tersentak. Ia menyerbu sekeliling dengan matanya kalau-kalau seseorang sedang berada di dekatnya. Tapi, tidak ada sesiapa pun selain kupu-kupu itu. Ia berpikir, ini pasti halusinasi. Bagaimana mungkin kupu-kupu bisa bicara? Ia lalu sadar bahwa sudah dua hari dua malam ia tidak tidur karena asyik bersenang-senang. Maka yakinlah ia bahwa kupu-kupu yang bicara itu hanya halusinasi.

Tapi ia terkejut ketika didengarnya lagi sebuah suara, “Sombong sekali Anda, Tuan?”

Ia menoleh ke arah kupu-kupu, dan ia melihat seorang gadis cantik, tersenyum, berdiri di hadapannya.

Busyet, otakku tak beres, pikirnya.

“Yah, aku memang kupu-kupu. Lihat, sayapku sangat indah,” kata perempuan itu mengepak-ngepakkan sayapnya, seperti tahu pikiran lelaki itu. Ia melihat perempuan itu berubah jadi peri, dan sayapnya mengembang seperti mawar raksasa. Aroma mawar meruap dari kibasannya.

“Lihat, aku juga bisa terbang,” kata perempuan itu lagi sambil terbang berkitar-kitar di sekitar taman. Lalu, lelaki itu melihat mahluk di hadapannya berubah-ubah wujud mulai dari kupu-kupu, peri, perempuan cantik, lalu kembali lagi jadi kupu-kupu, peri, perempuan cantik dan seterusnya. Ia terpesona. Ia bergetar.

“Kau sangat indah. Sudikah kau menemaniku malam ini?” katanya kepada kupu-kupu.

“Bukan hanya malam ini, aku bersedia menemanimu kapan pun,” kata peri.

“Tapi aku hanya kuli.”

“Juga penjudi.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Dari mana lelaki kuli bisa mendapat uang sebanyak itu jika tidak dari berjudi?”

Mereka berdua tertawa. Orang-orang memandang tak senang. Bahkan, seorang lelaki tua malah berkata, “Tak tahu adat. Tahukah kalian, tawa kalian terdengar ke seluruh kota.”

Mereka berdua tertawa. Orang-orang memandang tak senang. Bahkan, seorang lelaki tua malah berkata, “Tak tahu adat. Tahukah kalian, tawa kalian terdengar ke seluruh kota.”

Mereka tertawa lagi. “Tak tahu adat?” kata mereka berpandangan, “Tahu adatkah dia yang sudah tua bangka tapi masih keluyuran di tempat seperti ini?”

Mereka lalu bergegas dari tempat itu, berjalan menyusuri senja, bergandengan tangan di jalan yang dihimpit gedung-gedung tua, kelelawar-kelelawar berlintasan di udara yang pengap oleh asin laut, dan di bibir mereka terkulum senyum bahagia.

Dari sebuah persimpangan, mereka memasuki gang sempit becek, bocah-bocah pengemis melantunkan syair sambil memukul kaleng-kaleng bekas, lelaki-lelaki tak berduit duduk di teras mengenakan sarung yang meruapkan apak nasib, perempuan-perempuan tua menimbun kedamaian dalam khayalan.

“Petang ini usang benar,” kata lelaki itu.

Perempuan itu terkejut. “Kata-katamu seperti puisi,” katanya.

“Aku memang suka puisi.”

“Jika begitu,” kata perempuan itu setelah mereka tiba di sebuah rumah petak yang dindingnya ditumbuhi lumut, “Kita akan berpesta puisi malam ini.”

Lelaki itu takjub. Di kamar perempuan itu terdapat sebuah rak yang di dalamnya tersusun rapi banyak buku.

“Wah, kau mengingatkan aku pada masa-masa sekolah dulu,” katanya sambil mengambil sebuah buku dari rak: Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Lalu diperhatikannya buku-buku yang lain, dan ia sangat akrab dengan beberapa nama: Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sitor Situmorang…

“Sudahlah,” kata perempuan itu mengganggu keasyikannya, “Lupakan buku-buku itu. Itu adalah sisa kenakalanku pada masa kanak-kanak. Semua buku itu kucuri dari perpustakaan sekolah. Sekarang, mari kita berpesta, berpesta puisi.” Perempuan itu melepas pakaiannya, lalu berubah wujud jadi kupu-kupu.

“Ayo, naiklah ke punggungku, kita akan terbang.”

Lelaki itu naik ke punggung kupu-kupu, memeluk tubuhnya erat agar tidak terjatuh. Mereka terbang. “Apa yang kau rasakan dari deru angin ini,” tanya perempuan itu ketika mereka mengarungi angkasa.

“Gairah hidup, surga yang kuangan-angankan ketika aku masih remaja dan jatuh cinta pada putri seorang penyair.”

“Apa yang kau rasakan ketika merasakan kepakan sayapku?”

“Aroma rumput basah.”

Tiba-tiba kuku-kupu itu menukik, “Kita sedang melintas di atas hamparan padang rumput yang luas. Kita singgah dulu,” katanya.

Mereka bergulingan di padang, pendaratan yang dilakukan kupu-kupu tidak sempurna, “Kau sih, memeluk sayapku terlalu kuat,” katanya menyalahkan lelaki itu. Dengan tubuh yang berhimpitan, mereka berdekapan, saling menggali sesuatu di dalam tubuh masing-masing. Aroma mawar dari sayap kupu-kupu itu membuat birahi lelaki itu menggelegak.

“Ayo sayang, gumamkanlah puisi untuk getar ini,” kupu-kupu merintih.

“Kukayuh jiwa menyusuri luka nasibmu. Kucecap segala derita yang melekat di tubuhmu. Di gubuk ini, kita adalah orang terbuang yang tak pernah percaya pada takdir, meski cinta selalu mengajari kita memahami maknanya,” gumam lelaki itu.

Lalu, ada yang terasa tuntas. Ada yang terasa terbebaskan. Lelaki itu menangis.

“Kenapa?”

“Aku terkenang petang rembang di kampungku. Pada waktu kanak-kanak, aku sering menikmati senja sambil bermain dengan deburan ombak. Tubuhmu mengembalikan semua ingatan. Tubuhmu menyentakkan sadarku bahwa ada petang yang hilang dari ingatanku. Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu.”

Kupu-kupu itu mengembangkan sayapnya. “Ayo, tidurlah dalam pelukanku. Sayapku akan menghangatkan hatimu.”

Maka tidurlah sepasang kupu-kupu di padang beraroma rumput. Lelaki itu tidak tahu bahwa ia sudah menjelma jadi kupu-kupu jantan.

Tak berapa lama kemudian, sepasang kupu-kupu itu menikah. Mereka membangun kedai tempat para lelaki kuli minum kopi, main domino, juga berjudi. Mungkin, karena aroma sayap kupu-kupu betina itu selalu meruapkan mawar, lelaki-lelaki kuli berdatangan ke kedai itu. Kedai itu menjadi primadona. Dan, karena sepasang kupu-kupu itu mulai kewalahan melayani para lelaki kuli yang datang untuk minum kopi, berjudi, dan menyantap mie rebus atau goreng, mereka kemudian mempekerjakan seekor kupu-kupu indah yang lain di kedai mereka. Dan kedai itu makin ramai saja. Sepasang kupu-kupu pemiliknya makin jaya. Tapi, luka itu tiba-tiba datang. Kupu-kupu betina pergi menghadap sang khalik. Dan virus herpeslah yang merenggut nyawanya.

Tetapi, kupu-kupu jantan tidak tahu apa yang terjadi antara istrinya dengan gadis pelayan kedai. “Soa,” kata kupu-kupu betina itu kepada pelayan kedainya, “Aku melihat sinar cerah di matamu setiap kali kau memandang suamiku.”

Gadis bermata telaga itu terkejut, merasa seperti kepergok sedang bersetubuh dengan lelaki. “Tidak, itu tidak benar,” katanya. Dan majikannya menangis. “Jangan bohong. Aku tahu kau mencintai suamiku. Dan aku bersuyur untuk itu. Lelaki sebaik itu tak pantas disia-siakan. Ayolah Soa, rawatlah cintamu untuknya, sebab kelak kaulah yang akan merawatnya. Aku merasa ajalku sudah dekat. Lihatlah, aku sekarang sakit-sakitan, tubuhku selalu lemas, perutku sering mulas dan melilit, susah bernafas, sakit pinggang. Aku pasti akan mati. Kelaminku juga sudah rusak. Kau tahu, sudah setahun ia tak bersetubuh denganku. Aku tidak mau dia pergi lagi mencari kupu-kupu lain. Kaulah saat ini yang harus bisa jadi kupu-kupu baginya.”

Mereka berdua menangis. Majikan karena lukanya. Pelayan karena tak tahu harus bersyukur atau tidak. Sebab ia memang sudah sejak lama mencintai tuannya.

***

Suatu hari, berbincang-bincanglah Soada Ria dengan majikan perempuannya, “Aku kehilangan seluruh keluargaku. Dulu, ayah dan ibuku punya tanah yang luas. Tapi sejak perampok itu datang dan membangun perusahaaan raksasa di kampung kami, segalanya kemudian habis. Ayahku bukan orang bodoh yang dengan mudah mau menyerahkan tanah kami berikut kayu-kayunya kepada perampok itu. Tapi sikap ayah itu membawa maut. Ia kemudian tewas ketika berhadapan secara frontal dengan orang-orang perusahaan. Mereka memberi ganti rugi atas tanah-tanah kami, tapi ibuku menolak. Ibu membakar uang itu di hadapan mereka. Tak lama kemudian, ibuku sakit, dan meninggal. Aku dan adikku terlontang-lantung sejak itu. Dalam usia yang masih sangat belia, kami merantau ke kota. Aku di bandar ini, adikku di bandar lain. Sungguh, tak pernah terpikirkan olehku untuk memasrahkan diri jadi pelacur, tapi demi kelangsungan hidup dan pendidikan adik-adikku, aku terpaksa melakukannya. Sekarang aku bersyukur adik-adikku sudah bisa menghidupi diri dengan bekal ilmu yang mereka dapat. Tapi aku selalu sedih, sejak mereka tahu bahwa pekerjaanku adalah melacur, mereka tak sudi lagi menerimaku sebagai kakak, sebagai orang yang berjuang mati-matian membiayai mereka. Terimakasih telah menyelamatkanku dari pekerjaan nista itu, dan mempekerjakan aku di kedai ini.”

Mendengar penuturan itu, kupu-kupu betina trenyuh, airmata menetes di pipinya. Ia merasa bertemu dengan teman senasib. Ia juga tidak tahu bagaimana kilang-kilang, pompa angguk dan pipa-pipa itu tiba-tiba menjulur seperti ular, memanjang dan melilit kampung, hingga akhirnya mereka menyingkir. Ia sedih mengenang kematian ayahnya yang misterius karena selalu bertentangan dengan kepala desa yang ingin menjual tanah mereka kepada kapitalis-kapitalis jahat. Ia tidak tahan mengingat perjuangan ibunya setelah itu, hingga akhirnya meninggal didera penyakit.

Semua ingatan itu hadir seperti setan-setan seram dalam mimpi buruk. Lalu, semuanya memang begitu gampang lepas, terbang tanpa bekas, seolah-olah segala sesuatu telah berlangsung dengan sempurna. Demi pembangunan. Demi kemaslahatan orang banyak. Dan, jika di sudut-sudut hutan dan kampung ratapan-ratapan sebenarnya masih terus menggema, anggaplah itu suara-suara binatang. Dan jika orang-orang tempatan terusir dan harus menjadi pelacur, kuli dan pengemis di tanah sendiri, anggaplah itu sejarah sukses dari sebuah bangsa yang biadab. Sebab segalanya telah berlangsung dengan sempurna, igauan dan keluhan tiada guna.

Dan kupu-kupu yang terusir dari habitatnya itu terus saja meneteskan airmata. “Soa, akan bergerak ke mana sejarah ini? Nyatanya kita perempuanlah yang selalu jadi korban. Kita sering punya kemampuan, punya potensi, tapi selalu menjadi bulan-bulanan jaman. Kau lihat, di mana-mana di seluruh dunia perempuan yang paling menderita, mereka dieksploitasi, direndahkan martabatnya, dilecehkan kemanusiaannya. Untuk itu, jika nanti aku mati, jangan kembali lagi ke jalan itu, rawatlah kedai kita ini, cintai suamiku sepenuh hatimu.”

Itulah kalimat terakhir yang meluncur dari mulut kupu-kupu, ketika ia terbang untuk tak kembali. Dan Soada Ria, gadis pelayan kedai yang cantik itu terus saja mengenang majikannya, juga pesannya untuk merawat lelaki itu. Ya, aku harus merawatnya, pikirnya. Ia keluar dari bilik kedai, berjalan dengan langkah lambat, menghampiri lelaki yang sedang bersedih di kursi di pojok kedai.

“Abang harus melupakannya,” katanya menepuk pundak lelaki itu, “Lihatlah, sejak kakak pergi sebulan lalu, Abang terus-terus saja begini. Orang-orang takut melihat Abang. Lihat, kedai kita selalu sepi karena tingkah Abang.”

Lelaki itu menatapnya, “Ini kali kedua kau berkata persis seperti kupu-kupuku. Dulu ia berkata seperti itu karena aku suka mabuk. Soa, ke sinilah,” katanya merengkuh gadis itu dalam dekapannya, “Kau seperti istriku. Mulai saat ini, rawatlah kedai kita. Ini satu-satunya milik dan alat kita mempertahankan hidup dari kepedihan.”

Tiba-tiba lelaki dan gadis pelayan itu berubah jadi sepasang kupu-kupu. Dari punggung mereka terkembang sayap berbentuk mawar raksasa. Mereka terbang mengarungi angkasa dan hinggap di sebuah taman penuh mawar. Mereka bersidekap, mendesahkan luka, memaknai hidup yang masih terus akan berlangsung.***

Bagikan:

09 November 2015

Arti dan Asal Mula Kata Batak


Apa sebenarnya arti kata Batak? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online mencatat dua makna kata Batak. Pertama, Batak adalah suku bangsa di daerah Sumatera Utara. Kedua, Batak adalah petualang, pengembara. Yang agak negatif, lema pembatak diberi arti perampok dan penyamun. Bagaimana sesungguhnya asal-usul Batak hingga menjadi nama suku?

Ilustrasi.
Tahun 2010 lalu, sebuah hasil penelitian kontroversial datang dari Sejarahwan Universitas Negeri Medan Phill Ichwan Azhari. Hasil penelitian itu dilakukan di Jerman terkait etimologi (asal-usul kata) dan genealogi (asal-usul garis turunan) Batak. Kesimpulannya: nama suku Batak bukan berasal dari Batak, tapi dikonstruksi musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Benarkah?

Ilmuwan Batak yang juga Guru Besar Departemen Sejarah Unimed Prof Bungaran A Simanjuntak sedikit ‘gerah’ dengan publikasi Ichwan itu. Menurut Bungaran, tak perlu terlalu meyakini arsip-arsip di Jerman. “Belum tentu arsip-arsip di sana merupakan arsip yang valid, perlu dikonfirmasi ulang. Saya rasa kita tidak perlu terlalu menghebat-hebatkan arsip yang ada di sana,” katanya.

Bungaran menegaskan, asal-usul nama etnik Batak merupakan hasil dari budaya maupun sejarah di Sumut. “Batak merupakan satu kata dari bahasa Batak sendiri yang artinya penunggang kuda. Dari sisi inilah nama Batak ini muncul. Nama ini sudah sejak lama ada,” katanya.

Menurutnya, etnis Batak merupakan ras Mongolia Mansuria. “Awalnya kurang lebih 5000 tahun lalu, tentara Mongol berperang dengan bangsa Tar-tar, terpojok dan kemudian lari menuju Indonesia Bagian Timur melalui China. Para tentara Mongol ini pada saat itu mengendarai kuda, dan masyarakat di daerah Indonesia Bagian Timur (saat itu belum beretnis Batak) menamai tentara Mongol ini dengan 'Batak'. Itulah awal nama etnik Batak,” tutur Bungaran.

Bukan Hal Baru

Bagi sebagian orang, hasil penelitian Ichwan itu mungkin mengejutkan. Tapi bagi sebagian lain, ini polemik yang sudah ‘basi’, sebab sudah sejak awal abad ke-20 pengertian dan asal kata Batak dipolemikkan. Sebutan atau perkataan Batak sebagai nama satu etnis di Indonesia, misalnya, sudah dibicarakan dalam beberapa penerbitan surat kabar pada tahun 1900-an. Sejumlah penulis ketika itu sudah berdebat, apa sesungguhnya pengertian kata (nama) Batak dan dari mana asal muasal kata itu?

Di suratkabar Pewarta Deli Nomor 82 tahun 1919, misalnya, polemik terjadi antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J Simanjutak. Polemik yang sama terjadi di surat kabar keliling mingguan yang diterbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Immanuel Edisi 17 Agustus 1919, akhirnya tampil sebagai penengah di antara silang pendapat yang ada. JS mengutip buku berjudul Riwayat Poelaoe Soematra karangan Dja Endar Moeda yang terbit tahun 1903, ada halaman 64 menulis: 

Adapoen bangsa yang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : oerang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…"

Berdasarkan sejumlah referensi, umumnya kata Batak menyiratkan defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Menurut Ambrosius Hutabarat dalam catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938, pengertian Batak adalah orang yang mahir menaiki kuda, memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang berjiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan menghadapi bahaya/rintangan.

Bahkan, salah seorang pemikir Batak ketika itu, Drs. DJ. Gultom Raja Marpodang menulis teori bahwa suku Batak adalah sai-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal-usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda (sekitar Asia Tenggara sekarang), masuk ke pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia.

Drs DJ Gultom bahkan bersusah payah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak dengan membaca sejarah, legenda, mitologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat. Beberapa perkataan “batak” antara lain ditemukan dalam hampir seluruh bahasa sub etnis Batak mulai Pak-pak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Toba, yang pada umumnya bermakna heroik, tidak negatif. 

Berbagai penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan anggapan seolah-olah ‘Batak’ adalah suatu aliran/kepercayaan tentang suatu agama yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak ketika itu.

Dalam pemeriksaan Ichwan terhadap arsip-arsip di Jerman, penelusuran data di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde atau The Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda, sama sekali tidak ada penjelasan tentang defenisi Batak sebagai penunggang kuda, yang kemudian diplesetkan sehingga menjadi sangat peyoratif terhadap identitas kebatakan.

Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. 

Tak mengherankan peneliti Batak asal Belanda bernama Van der Tuuk, pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan Batak untuk nama etnik karena imej negatif pada kata itu.

“Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

Dalam peta-peta kuno itu, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat. kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

Bermula dari Daniel Perret

Menurut salah seorang pengamat Kebatakan, Thompson Hs, penelitian Ichwan Azhari itu terkait dengan isu tentang Batak yang dilontarkan Daniel Perret dalam bukunya berjudul Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Buku tersebut sudah diseminarkan oleh PUSSIS pimpinan Ichwan Azhari sendiri.

Dalam buku Daniel Perret, semua istilah Batak dicatat dalam tanda petik dan identifikasi “batak” dalam setting kolonial waktu itu merupakan bagian dari dikotomi antara melayu yang dianggap beradab melalui kesultanan dan keislamannya dan posisi orang-orang “batak” yang belum menganut Islam yang dianggap stereotip dari orang-orang yang tidak beradab. 

“Peta dikotomi ini saya kira yang ingin diungkapkan kembali oleh Ichwan Azhari tanpa mengungkap posisi Melayu di Sumatera Utara. Kita tunggu saja sambungan penelitiannya,” ujar Thompson.

Menurut Thompson, hasil penelitian Ichwan itu juga terkait dengan kepentingan isu Batak yang diperdebatkan lagi oleh sebagian orang Karo belakangan ini. Dalam sebuah diskusi di Padangbulan baru-baru ini, identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan muncul dari seorang antroplog Karo, Juara Ginting. Juara mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak disematkan pada suku Karo. 

Menurut Juara, tak ada kaitan antara Batak dengan Karo. Juara tak setuju jika Karo dianggap Batak, sebab Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan tidak bisa langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi.

“Tentu saja orang Karo tidak harus menjadi Batak. Itulah mungkin dasar lain di samping argumen Juara Rimanta Ginting yang mengambil catatan-catatan lama secara umum. Lalu orang Toba sendiri juga bisa juga menganggap dirinya bukan orang Batak. Mamun masalahnya bukan di situ,” kata Thompson.

Masyarakat Mandailing juga menolak disebut Batak. Sebab Mandailing sudah diketahui sejak abad ke-14, menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing. Nama Mandailing tercatat dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M.

Tapi ‘Batak’ sama sekali tidak disebut dalam kitab tersebut. Nama Batak itu sendiri tidak diketahui asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun.

Ketika Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu, mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, tapi juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Belandalah yang kemudian membatakkan bangsa/umat Mandailing dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda.

Kembali ke hasil penelitian Ichwan. Menurutnya, konsep Batak dari misionaris Jerman semula digunakan kelompok masyarakat di kawasan Tapanuli Utara, tapi lebih lanjut dipakai Belanda menguatkan cengekraman ideologi kolonial.

Perlahan-lahan konsep Batak itu meluas dipakai Belanda termasuk sebagai pernyataan identitas oleh penduduk di luar daerah Toba. Peneliti Belanda kemudian merumuskan konsep sub suku batak dalam antropologi kolonial yang membagi etnik Batak dalam beberapa sub suku seperti sub suku Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun serta Batak Pakpak. (Panda MT Siallagan/Sumut Pos)

Bagikan:

06 November 2015

Antara Selat Bosphorus dan Pesona Tapian Nauli


Sebuah desa, kota atau wilayah selama-lamanya akan dikenang atas seluruh karakter dan keunikannya. Alam, tradisi, sejarah, budaya, adat-istiadat, kuliner dan capaian modernisasi selalu menjadi referensi tentang mengapa seseorang datang, pergi dan rindu  pada sebuah tempat.

Senja di Pantai Bosur, Pandan, Tapanuli Tengah.
Saya selalu terharu membaca buku memoar berjudul Istanbul, Kenangan Sebuah Kota karya Orhan Pamuk, sastrawan Turki peraih Hadiah Nobel Sastra pada 2006. Buku ini mengisahkan secara menakjubkan perenungan-perenungan yang lembut tentang Kota Istanbul.

Masa kejayaan Kesultanan Usmani, jalan-jalan yang menyedihkan usai keruntuhan imperium itu, acara makan dan pesta-pesta masyarakat borjuis dengan daging panggang, roti keju, coklat dan tetek bengek etika di meja makan dan seni dapur.

Orhan juga secara sentimentil membicarakan Bosphorus, selat yang memisahkan Turki dengan bagian Eropa. Jika Istanbul bicara tentang kekalahan, kehancuran, kehilangan dan kesedihan, tapi Bosphorus menghidangkan kehidupan dan kesenangan.

Selama berabad-abad, Bosphorus hanya dikenang sebagai jalan air, tapi kemudian para pejabat Usmani mulai membangun vila dan rumah-rumah musim panas di kawasan itu. Dan Istanbul kemudian mendapatkan kekuatannya dari selat itu.

Lalu segalanya menjadi rahasia dan keajaiban yang hangat. Dinamika pantai, perahu-perahu, kafe, vila dan rumah-rumah peristirahatan disemangati oleh udara laut yang berhembus riuh. Buku ini cemerlang mengisahkan hal-hal sederhana dari sejarah masa silam hingga masa modern. Orhan menghubungkan benda-benda, lanskap, penanda kota, bangunan kuno, sungai, pantai dan seluruh intrik politik menjadi sajian yang menyentuh.

Dan setiap membaca itu, pikiran saya selalu mengembara ke Samosir, Toba, jalanan berkelok penuh bahaya menuju lembah Silindung, terus membelah gunung hingga tiba di Tapian Nauli yang syahdu. Atau mungkin memanjangkan tualang ke Barus, peninggalan kesultanan besar di masa lalu. Betapa ajaibnya. Betapa menggetarkan merenungkan bagaimana alam yang terberkati ini terhidang penuh energi dan tak akan habis jika diletakkan dalam penggambaran-penggambaran detail.

Dan kita menjadi kurang waktu mempelajari seluruh sejarah, geografi, kekayaan tradisi dan budaya, juga keseluruhan hal-hal menakjubkan di dalamnya. Tetapi, adakah seseorang diantara kita yang mampu merekam kesyahduan Tapian Nauli itu dalam bentuk buku, biografi, memoar atau lukisan-lukisan? Adakah seseorang berkenaan menuliskan memoar tentang hidupnya di tengah kegemilangan sejarah dan masa depan Toba dan Tapian Nauli.

Ketika seorang Tionghoa bernama Sio Hong Wai menulis buku Tionghoa di Tarutung, muncul gelombang protes karena buku itu dinilai melecehkan Batak. Sekilas saya baca, buku ini mengisahkan sejarah perjumpaan Tionghoa dengan Batak, yang diawali dengan pengisahan Lembah Silindung tempo dulu, yang di dalamnya disinggung kisah kanibalisme yang entah bagaimana menjadi momok kepada generasi baru.

Saya lebih tertarik membahas, apa sesungguhnya kanibalisme dalam konteks sejarah Batak? Ia tidak serta merta serupa dengan kanibalisme yang dirumuskan Barat, sebab ada konsep hukum (uhum) yang berlaku dan tak bisa dilepas dari konteks itu. Buku ini subjektif, maka sebaiknya ia didudukkan dalam dialektika yang menjunjung tinggi etika intelektualitas.

Baiklah, dalam suatu perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman menuju Tapian Nauli, segalanya merangsek dan menggoda untuk dicatat. Tapi karena begitu banyak hal berseliweran, saya pilih satu topik untuk saya akhiri di catatan ini: kuliner!

Berangkat dari Pematangsiantar menjelang senja, roti Ganda sepertinya sudah wajib jadi oleh-oleh. Sesungguhnya, produk toko Asli lebih dikenal pada masa lalu, tapi popularitas produk itu kini mulai raib. Tiba di Parapat, kopi dan telur asin menjadi ‘terpaksa’, sebab Kota Turis itu tak menjanjikan apa-apa soal kuliner. Di jantung Lembah Silindung, kota Tarutung yang lembut itu, kecewa kembali mendera sebab sebuah rumah makan tetap menawarkan menu kering sebagaimana bisa ditemukan di rumah-rumah makan di manapun.

Di Sibolga, rumah-rumah makan banyak menawarkan kuliner bahan dasar ikan laut. Tapi seni masak itu masih menganut bumbu-bumbu nasional dan internasional. Mana bumbu khas?

Bonaran Situmeang, mantan Bupati Tapteng yang pengacara kondang itu, ketika itu menawarkan menu tradisional khas Tapteng di sebuah rumah makan Tapian Nauli dekat jembatan. Di bawah jembatan itu, mengalir arus air menuju muara untuk selanjutnya berakhir di laut. Di situ ada lokan gulai, daun ubi santan, ikan bakar, udang goreng alami dan masakan-masakan lain yang masih menganut bumbu tradisional. Konon, Tapteng memiliki kekayaan kuliner seperti panggang pacak, badar, gulai sale dll.

Tapteng memang telah dicanangkan sebagai Negeri Wisata Sejuta Pesona mulai tahun 2012. Bonaran sepertinya ingin masyarakat dunia melihat keindahan dan keunikan alam maupun sejarah di Tapteng dengan secara kontinue melakukan publikasi, mengundang artis hingga Tapteng dikenal dunia internasional, termasuk kekayaan kulinernya. Hmm……! (Panda MT Siallagan)

Bagikan:

04 November 2015

Kita dan Kiper


Seluruh tikungan sejarah dan peradaban manusia akan berakhir pada jalan lurus bernama kematian. Dan setiap yang ngeri selalu mengguncangkan jiwa. Bagi pikiran, kematian dan kengerian akan menjadi penantian getir yang berlangsung selama-lamanya.

Ilustrasi.
Tentang kematian, saya terguncang hebat ketika pertama kali membaca novel berjudul The Outsider, buah karya Albert Camus. Kalimat pembuka novel itu menggambarkan situasi psikologis yang betul-betul kacau. Camus mengawali novelnya dengan kalimat: Ibu meninggal hari ini. Atau, mungkin kemarin, aku tak yakin.

Dalam kisah selanjutnya, kita mengetahui bahwa tokoh yang kehilangan ibu ini tidak pernah menangis. Lalu, tokoh dalam cerita ini pulang ke kampungnya di Aljazair untuk menjenguk jenazah ibunya.

Ia seperti bermimpi sepanjang perjalanan. Dan tergambar di novel itu, setibanya di depan jenazah ibu, tokoh kita yang bohemian ini tak tahu bagaimana mengekspresikan kesedihan. Ia hanya merokok di depan jenazah.

Terlalu jauh mengkaji novel ini secara mendalam, sebab selain pembacaan kita harus menyeluruh terhadap seluruh teks dan latar belakang kehidupan masa itu, kita juga memerlukan perangkat teori bahkan psikoanalisis untuk membahasnya. Tapi mari kita sederhanakan: betapa memang segala hal tak perlu ditangisi, bahkan kematian.

Lalu, kematian sering menjadi analogi untuk menyatakan kehancuran sesuatu. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal frasa mati suri. Ketika dunia sepak bola di Indonesia tak kunjung berkembang dan tak bisa menyamai kejayaan pada tahun 50-an, kita menyebutnya mati suri.

Ketika bulu tangkis kita pernah jadi kebanggaan yang tak terkalahkan di seluruh dunia lalu surut lagi, orang menyebutnya mati suri. Tentu, ini hanya idiom. Makna denotatifnya adalah optimisme: boleh mati, tapi harus hidup kembali.

Albert Camus mungkin menyadari betul situasi kehilangan itu. Kematian tak perlu ditangisi, sebab ada hal-hal yang harus berlalu dan ada yang harus lahir. Tapi mengapa Albert Camus? Sebab selalu ada histeria sepak bola dalam berbagai ajang bergengsi.

Di Indonesia sendiri, bahkan hingga pelosok-pelosok, kejuaraan sepak bola selalu ditunggu dan dirayakan bak pesta massa paling membahagiakan. Ada euforia, judi dalam beragam bentuk, atau pemujaan-pemujaan yang kadang tak rasional pada sebuah tim (negara) atau para pemain. Tentu, pusat seluruh goncangan jiwa, harapan, kekecewaan, akan tumpah di lapangan ajaib yang sangat dinamis selama 2 x 45 menit itu.

Dalam beberapa catatan, Albert Camus disebut pernah menjadi kiper klub bola kampung semasa muda, saat ia masih tinggal di pemukiman miskin di Aljazair. Panggilan hidup menggerakkannya hijrah ke Perancis dan kemudian kita mengenalnya sebagai filsuf, penyair, sastrawan dan wartawan. Tahun 1957, ia dianugerahi hadiah Nobel bidang sastra. Maka barangkali, Camus adalah sosok yang paling paham arti kesepian. Kesepian seorang kiper, kesepian pemikir yang tak pernah henti mencari.

Demikian adanya: ketika bola digiring ke arah gawang lawan, darah kita mulai dipacu. Jantung terasa riuh dan pikuk. Ketika bola diolah dengan beragam teknik dan estetika permainan, kita juga disuguhi semacam rasa nikmat dan harapan. Pernahkah kita teringat pada kiper? Lalu ketika segalanya meledak dengan gol, kita tersentak. Kita berteriak hebat, mengalami puncak bahagia tiada tara.

Tapi kiper lebih sering terlupa. Kita tak melihatnya dalam eforia itu. Dia berteriak sendirian. Sebaliknya, ketika tim favorit dan kesayangan kita dibobol, kita terhempas, harapan terampas, dan kita memaki kiper. Apa salahnya? Bayangkanlah, betapa sepinya.

Sebagaimana tampak dalam karya-karyanya, Camus adalah orang yang paling jeli melihat kenyataan, juga kebesaran hati untuk menerima sesuatu yang pantas, atau menolak sesuatu yang bukan miliknya. Baiklah, pada akhirnya bola bukan sekedar bola. Ia bisa merepresentasi segala ihwal, segala kenyataan. Tentang kehidupan, bisnis, industri, sportivitas, bahkan bisa diambil nilai-nilainya menjabarkan kematian.

Ketika dunia diukur dan ditentukan produktivitas, maka sesungguhnya bola adalah model yang pas untuk proyeksi setiap unit usaha dan bisnis. Tak perlu mempersoalkan siapa dan bagaimana, kecakapan mutlak jadi syarat utama, lalu tim work. Satu mengumpan yang lain, yang lain menyambut untuk kemudian memberi lagi umpan yang lain. Begitu tanpa henti, tanpa ada waktu untuk lalai. Dan tujuan itu, goal itu, akan mempertemukan kita dalam kebanggaan yang solid dan penuh persaudaraan.

Maka kadang-kadang, kita heran mengapa para politisi dan elit pemerintahan sangat suka dan sebagian gila bola, tapi mereka gagal membangun semangat dan kebersamaan mengharukan? Entahlah! (Panda MT Siallagan)

Bagikan:

02 November 2015

Balada Bawang


Tiba-tiba sebuah pemahaman dan keresahan baru muncul dari balada terbaru itu. Balada atau badai, entahlah. Selama ini kita seolah tak berjarak dengannya. Tapi pengetahuan kita tentangnya ternyata sangat jauh. Sangat sepi.

Ilustrasi.
Judul balada itu, atau badai itu: bawang merah dan bawang putih. Segera, kita mungkin terkenang dongeng itu. Atau balada itu. Atau badai itu. Entahlah. Dan dongeng itu begitu familiar, begitu dekat dengan rasa kita. Bawang merah dan bawang putih.

Dikisahkan, tokoh kita si bawang merah selalu berkarakter jahat, licik, egois, ingin menang sendiri. Ia adalah representasi karakter negatif. Representasi masyarakat kebanyakan. Tapi kita tahu, bawang goreng adalah kerapuhan yang nikmat dan wangi, yang tiada tara rindu bagi lidah.

Engkau mengenalnya dalam riak rasa sop, atau lelehan sate beragam nama. Betapa jauh dan kontras situasi ini. Tapi begitulah, khalayak banyak memang sangat gampang memahami hal-hal yang lezat dan nikmat. Tapi sangat sedikit orang yang benar-benar paham memaknai luka. Dan seperti tokoh kita bernama bawang merah, marilah menonton teater ketika seorang ibu atau wanita mulia memasak di dapur. Bawang merah selalu lebih banyak digunakan ketimbang bawang putih.

Dan engkau tahu, pribadi-pribadi berkarakter bawang merah, seperti ditegaskan kenyataan, memang lebih eksis di dunia yang fana ini. Tapi ya, bawang adalah sumber sejuta kisah. Ia rekat dengan makanan, rekat dengan perkembangan gastronomi atau yang karib kita namai kuliner.

Segalanya tak pernah lepas dari bawang. Belakangan, dunia yang jauh, dunia sastra Indonesia, juga berpadu-paut dengan kuliner. Banyak cerpen-cerpen bisa kita baca bertemakan makanan. Terhitung sejak 2008, tema-tema kuliner boleh dikata sangat menonjol pada karya-karya sastra Indonesia, baik pada genre cerpen maupun puisi.

Tentu, fenomena itu tak lepas dari program-program kuliner di berbagai media massa. Dan kini, seperti sebuah kejutan yang menyakitkan sekaligus geli, bawang mendobrak pentas politik nasional.

Jika selama ini kita mengenal komoditi politik hanyalah sebatas beras, pupuk, minyak dan kelapa sawit, kini bawang hadir sebagai ‘pemain baru’. Dulu, cabai juga pernah menghebohkan situasi nasional dan memaksa parlemen bersidang.

Tetapi, apakah para elit pemerintah dan politisi terlambat memahami seluruh potensi benda-benda dapur ini? Saya tiba-tiba berpikir usil, jangan-jangan bawang ini sudah belajar dari sahabat-sahabat mereka di dapur. Pisau dan talenan, atau batu giling yang cadas bersama cabai.

Dan memang sudah saatnya mereka bicara tentang situasi kebangsaan kita yang tak kunjung berujung baik. Dan demikianlah, para budayawan dan sastrawan sudah bisa mencium geliat bawang dan bumbu-bumbu sejak jauh-jauh hari, sementara para elit tak peka dan baru sibuk setelah sebuah peristiwa meledak.

Bermula dari harga bawang yang melejit tinggi dan menghempaskan ekonomi masyarakat bawah. Lalu api mulai begulir, hingga muncul tudingan bahwa menteri pertanian ikut bermain bawang. Bah! Kabar terakhir dari Batubara, Sumut, sebanyak 35 ton bawang bombay diselundupkan.

Bawang-bawang itu dikemas dalam tujuh unit truk, diduga berasal dari Malaysia dan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Tiram. Sebuah sajak pernah saya tulis, berjudul Tragedi, terbit di Kompas 4 Oktober 2009.

Demikian nukilan beberapa baitnya:

Cabai terbaring bugil di atas batu pipih. Maaf, jerit batu bulat, pasrah ditunggang telapak tangan penggiling. Bawang mengerang untuk siung kering yang dibuang ke tong. Pasrah, sebab berlapis-lapis waktu usang serupa sampah.

Meluncur jahe, lengkuas dan kunyit: terperas membasahi lumatan cabai dan lendir bawang. Dan inilah tragedi itu. Budaya kehancuran. Kita seolah disiapkan memainkan peran-peran menghancurkan, mencari nikmat dan untung dari setiap penghancuran.

Dan bila kita mengupas bawang merah dan mengirisnya, mata berkaca-kaca karena panas, bukankah itu sebuah keyakinan bahwa setelah itu kita akan memperoleh nikmat? Karakter tokoh kita si bawang bawang merah mungkin harus membuat kita menangis.

Dan pernahkah kita ingat, tokoh kita si bawang putih yang tidak membiarkan airmata menetes? Tokoh ini sebetulnya sangat baik hati, penyabar dan rendah hati. Maka secara filosofis, bawang putih adalah jelmaan hati dan jiwa mulia yang sedikit itu.

Dan bawang merah adalah jelmaan para elit, para walikota dan bupati, para penyulundup, juga masyarakat banyak yang serakah itu. Maka, kenanglah para petani bawang di desa-desa yang jauh itu, kenanglah kesepian mereka, hayati ketulusan mereka mencintai tanah dan tanaman. Dan engkau harus mafhum, selama-lamanya mereka tak akan mengenalmu. Tak akan mengenal politik. (Panda MT Siallagan)

Bagikan: