13 November 2015

Akhir dari Pelarian Sergio Batakov


Cerpen Panda MT Siallagan

Barangkali, inilah akhir dari pelarian Sergio Batakov, saat didengarnya pintu rumah diketuk. Dan ia tidak akan pernah tahu kapan persisnya kengerian itu bergetar di pintu rumahnya. Apakah di pagi hari ketika ia sedang mandi, di siang hari ketika ia sedang bersantap, atau pada malam hari ketika mata dan pikirannya sedang terpaku pada sebuah buku. Dan, mungkinkah ketukan itu terjadi pada dini hari ketika ia kepanasan membolak-balik badannya seperti ikan di penggorengan, demi menunggu kantuk sambil mengutuk insomnia akut?

Ilustrasi.
Ia benar-benar tidak tahu, tapi ketika ketukan itu berdebam-debam, ia merasa otaknya penuh, sesak oleh banyak ingatan. Tangan dan kakinya bergetar, dan nafasnya sumbat seolah tenggorokannya disumpal sesuatu. Lalu, seperti dihampiri maut, ia terkapar di ranjangnya dengan punggung kaku yang sulit digerakkan, hatinya disusupi semacam perasaan sedih dan menyesal yang menghancurkan. Dan ia berteriak, meraung-raung minta tolong, sebab ia yakin setan sedang mengganggunya. Tetapi, ia rasa, suaranya tercekat, tak bisa keluar dari kerongkongannya.

Kengerian yang menyayat itu terjadi pada dini hari, sekitar pukul tiga ketika kokok ayam pertama mulai bergaung merusuhi subuh yang segera tiba. Orang-orang dipaksa bangun karena tersentak mendengar teriakan dan jeritan dari rumah Sergio Batakov yang sunyi. Mula-mula mereka abai, mengira suara-suara itu berasal dari mulut setan yang memanggil-manggil dari mimpi yang jauh. Tetapi, makin lama suara itu makin jelas, bahkan semakin beragam. Kadang serupa tangisan pilu dari seorang ibu yang kehilangan anak, kadang seperti tawa sepasang kekasih yang bercinta di malam buta, kadang serupa teriakan marah dari mulut kucing yang berebut makanan dengan anjing. Orang-orang mulai gerun, lalu berkeluaran dari rumah mencari sumber suara itu sambil berteriak satu sama lain, “Ada orang kesurupan…bangun…ada orang kesurupan...”

Mereka lalu bergegas menuju rumah tempat dari mana suara-suara itu hambur, menggedor pintu berkali-kali, tetapi tak ada tanda-tanda bahwa Sergio Batakov akan membuka pintu. Dan sesaat kemudian, suara-suara itu lenyap, dan kembali senyap. Orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing, dan aroma subuh yang diruapkan udara basah kembali mengambang, berdesakan dengan kokok ayam yang saling bersahutan dari tempat-tempat yang jauh. Dan hanya ada satu kepastian yang mengendap di hati orang-orang perihal peristiwa itu: “Penghuni rumah itu pasti sedang bermimpi diperkosa iblis.”

Tetapi, Sergio Batakov tidak sedang bermimpi. Dan ia bukan tidak peduli, tapi petaka itu membuatnya tidak bisa beranjak membuka pintu dan meminta orang-orang itu menolongnya. Kaki dan tangannya serasa diborgol. Dan, ketika ketukan itu berakhir, ia merasa jatuh, terlempar ke sebuah lembah, sebuah tempat yang begitu asing. Sebuah tempat di mana dia barangkali akan tertangkap, lalu dijebloskan ke dalam penjara.

NAMAKU SOADA RIA

Saudara-saudara, namaku Soada Ria. Umur 28 tahun. Tinggi 165 cm. Rambut panjang lurus. Kulit putih mulus. Hidung mancung. Hanya satu kata dari orang-orang untukku: CANTIK. Dan hanya satu kata dariku untuk Sergio Batakov: TAMPAN. Aku tinggal persis di samping rumah lelaki itu. Mulanya kami tidak saling mengenal. Beri maklumlah, aku seorang penyanyi bar yang setiap malam harus bekerja. Oleh sebab itu, siang hari selalu kuhabiskan dengan tidur, tak pernah saling menegur atau bertukar gosip dengan para tetangga, termasuk dengan lelaki itu.

Tapi, suatu hari, bar tempatku bekerja digerebek aparat karena diduga sebagai tempat berlangsungnya transaksi jual-beli obat, juga sarang perek. Kecelakaan itu membuatku harus berhenti bekerja untuk sementara waktu, dan itu tentu memaksa aku harus berada di rumah pada siang hari. Pada saat itulah aku kaget menyaksikan rumah Sergio Batakov tertutup rapat sejak pagi sampai sore hari. Oh, dia mungkin berangkat kerja pada subuh karena tak ingin terjebak macet. Tapi, ketika menjelang maghrib kudengar musik rock melantun dari rumahnya, aku kaget sebab tak kulihat ada seseorang yang pulang. Aku berpikir, mungkin saja sebenarnya lelaki itu tidak pergi ke mana-mana, melainkan tidur sepanjang hari.

Apakah ia juga bekerja pada malam hari seperti aku, misalnya? Tapi tidak, hingga malam hari tiba, lelaki itu tidak pergi ke mana-mana. Kusimpulkan, ia tidak bekerja pada malam hari. Menjelang tengah malam, lagi-lagi kudengar alunan musik menjalar dari rumahnya. Kali ini Beethoven, atau mungkin Mozart, sulit bagiku membedakannya. Dan barangkali, karena sudah terbiasa bekerja di malam hari, aku sangat kesulitan untuk tidur. Begitulah, kudengar musik itu terus saja mengalir dari rumah lelaki itu dan baru berhenti di pagi hari. Setelah itu, aku tidur. Juga ia, barangkali.

Beberapa hari kejadian serupa terulang, lelaki itu mungkin terusik. Ia bertamu ke rumahku suatu malam. Ia berkata bahwa ia tahu aku tak pernah tidur pada malam hari, dan meminta kesediaanku menemaninya berbincang-bincang sepanjang malam itu. Kukatakan itu tidak mungkin, karena kami baru saja berkenalan. Lagipula, penduduk di sekitar perumahan itu bisa marah, lalu menggerebek kami karena dikira berbuat mesum. Sebab kami belum menikah. Tetapi, terhipnotis oleh sesuatu yang ganjil, kubiarkan lelaki itu berada di rumahku. Sebagai solusi, kami sepakat untuk berbincang dengan cara berbisik-bisik, agar tetangga tidak mendengar.

Maklum, rumah sangat sederhana tidak sama dengan rumah megah bertembok kokoh yang bisa meredam suara. Saat itulah aku tahu bahwa berbicara dengan berbisik-bisik sangat melelahkan, membuat nafas tersengal-sengal. Itu mungkin sebabnya mengapa orang hanya berbisik untuk hal-hal yang penting, bersifat rahasia. Tetapi tidak ada rahasia malam itu. Segalanya ia ceritakan padaku.

Sebagaimana ia berkisah, kumulai dari peristiwa dua tahun lalu, ketika ia membeli rumah itu dengan uangnya sendiri. Ini tentu tidak aneh, seandainya lelaki itu memiliki pekerjaan yang mapan, atau kebetulan mempunyai orangtua yang kaya. Nyatanya tidak. Ayahnya hanya seorang kuli pelabuhan, meningggal beberapa tahun lalu karena terserang TBC. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di rumah orang-orang kaya. Puji dan syukur kepada Tuhan atas berkatnya, wanita malang itu bisa mengirimkan Sergio Batakov hingga ke universitas, di kota ini. Kota di mana lelaki itu terdampar sebagai pengembara yang ganjil.

Setamat dari universiti, ia tidak berusaha mencari pekerjaan, tapi memilih mencemplungkan diri ke dunia seni. Mula-mula ia aktif berteater, tapi berhenti karena kemudian ia lebih tertarik mengamen di jalanan. Ini juga tidak berlangsung lama, sebab jalan raya kehidupan yang dilintasinya membuat ia ingin berbicara, menyuarakan luka. Dan ia memilih sastra sebagai terminal terakhir. Di terminal itulah suatu malam ia terkejut menatap kertas yang ditulisinya. Bukan sebuah sajak atau cerita yang tertulis sebagaimana ia rancang, tapi halaman kertas itu penuh dengan goretan angka: 1303…1303…1303.

Saudara-saudara, namaku Soada Ria. Aku tidak pernah percaya pada apa-apa di luar realitas, sebab itu harus kulanjutkan seperti apa yang kisahkan Sergio Batakov. Keesokan harinya, limapuluh ribu rupiah ia tukar untuk nomor itu. Dan tembus. Bandar togel mampus. Sekarang, tentu tidak aneh lagi bagimu bagaimana Sergio Batakov bisa membeli rumah itu. Beri tabik padanya, seseorang yang diberkati dunia dengan cara yang berbeda, tapi dipermalukan takdir dengan kekejaman tak bertara. Sebab setelahnya, dengan menangis, inilah yang dikisahkannya:

Ia menerima kartu undangan. Akan dilangsungkan pernikahan antara Tokka Dihita dengan Tarida Ila. Tapi, saudara-saudara, namaku Soada Ria. Pada banyak hal, aku bukan perempuan yang jujur, tapi untuk melanjutkan kisah ini dengan kebohongan, aku tak punya keberanian. Sebab tangis lelaki itu makin meledak, hingga ia tak sanggup lagi bercerita. Jika saja tidak kuingatkan bahwa kami bisa saja digerebek tetangga, ia mungkin sudah meraung-raung sekeras ia mau.

KEMATIAN SEPASANG PENGANTIN

Rumah tua itu dibangun pada jaman kolonial, dan sejauh ini belum pernah direnovasi, atau dicat ulang, hingga tembok bagian luarnya sebagian telah menghijau diselimuti lumut. Di dalamnya hidup keluarga kaya, tapi buta pada sejarah. Tuan pemilik rumah, seorang lelaki yang gagah, berbahagia dengan karir yang mantap sebagai pejabat tinggi di perusahaan perminyakan ternama. Sebab itu ia tak pernah punya kendala memanjakan perempuan-perempuan simpanannya dengan limpahan materi.

Istrinya, perempuan yang diberkahi kesetiaan tanpa batas, tak pernah membiarkan hatinya dimasuki iblis dengan bercuriga. Ia rawat dua putrinya yang cantik-cantik dengan kecintaan yang mengagumkan. Ia cintai suaminya dengan kepolosan yang menjerumuskan. Dan satu-satunya hal yang tak pernah diragukan orang-orang tentang keluarga itu adalah pahamnya yang liberal.

Sinta Uli dan Tarida Ila nama kedua putri pemilik rumah itu. Sinta Uli menonjol dengan karakternya yang penyayang, bertanggung jawab, cocok untuk melindungi adiknya Tarida Ila yang introvert, mudah depresi dan selalu ragu pada diri sendiri dan kehidupan. Tapi ia tak kalah cantik dengan kakaknya. Dan kakaknya tak kalah cerdas dibanding dia. Mereka menyelesaikan studi masing-masing dengan prestasi gemilang, dari universiti yang juga pantas terbilang. Dan adalah kebingungan besar bagi orang-orang kenapa dua gadis sempurna itu berada di rumah orangtuanya tanpa bekerja. Ah, ya, ini pendapat yang tak berbobot. Bukankah ada jutaan pengganggur di negeri ini karena lapangan pekerjaan yang ada tak sangup menampung mereka?

Demikianlah, setelah hampir dua tahun mereka menganggur, gagasan untuk menikahkan Sinta Uli muncul di benak suami-istri pemilik rumah itu. Maka ditentukanlah hari dan tanggal yang terberkati. Dan pacar Sinta Uli, seorang lelaki gagah, segera tinggal di rumah mereka menunggu hari pernikahan. Tapi pernikahan itu tak pernah terjadi, sebab mendadak setelah itu Sinta Uli dipanggil untuk bekerja di sebuah bank suasta. Itu merupakan penantian yang panjang dan melelahkan setelah bertahun-tahun berjuang ke sana ke mari memburu pekerjaan.

Maka, pernikahan antara Sinta Uli dan kekasihnya ditunda, sebab perusahaan mensyaratkan tidak boleh menikah minimal selama setahun sejak mulai bekerja. Untung saja undangan belum sempat disebar, sehingga tak ada sesuatu yang perlu dirisaukan. Kelak, Sinta Uli tak henti-henti mengutuk kebijakan semacam itu sebagai amoral. Dan dari sinilah mekanisme paham liberal itu mulai bekerja dengan kejutannya yang menyakitkan.

Ya, meski pernikahan ditunda, lelaki gagah kekasih Sinta Uli itu tetap tinggal di rumah mereka. Dan ada alasan rasional untuk itu: tenaganya dibutuhkan untuk mengelola warung yang diberikan ayahnya kepada mereka selama menganggur. Lelaki itu sangat menyenangkan, penuh humor, dan tak pernah membiarkan pikirannya rumit oleh kehidupan yang menyesakkan.

Oleh sebab itu, calon ibu mertuanya sangat sayang padanya. Dan terhadap Tarida Ila , ia menyuguhkan keakraban yang anggun, hangat, dan mendamaikan. Tarida Ila bahagia mendapatkan calon ipar seperti lelaki itu, yang kepadanya ia sering berbagi kisah tentang cita-cita, harapan, juga tentang kekasihnya yang tinggal di kota lain. Kekasihnya yang aneh karena kecintaannya yang ganjil pada kesenian. Terkejut melihat keakraban mereka, Sinta Uli pernah berkata pada kekasihnya, “Kamu pacaran dengan adikku atau dengan aku?”

Mereka bertiga tertawa. Tapi keakraban itu terus berlangsung, terutama ketika Sinta Uli bekerja sementara mereka berdua larut dalam bincang yang panjang sambil menjaga. Lalu, peristiwa itu pun meledak: Tarida Ila hamil. Satu-satunya hal yang mendesak untuk dilakukan pada waktu itu adalah menjadikan pernikahan itu sebagai sesuatu yang wajar dan pantas dirayakan. Tetapi, kekasih Tarida Ila muncul pada hari pernikahan dan menikami sepasang pengantin itu dengan belati, berkali-kali. Sepasang pengantin itu tersungkur dengan darah yang muncrat ke mana-mana, hingga burung-burung yang melintas di angkasa, berhenti mencium aroma darah itu.

TANGISAN PILU SOADA RIA

Namaku Soada Ria. Hanya satu kata dari orang-orang untukku: CANTIK. Dan hanya satu kata dariku untuk Sergio Batakov: TAMPAN. Sebab kami mungkin saja bukan orang baik. Aku sesungguhnya telah mencintai Sergio sejak ia tinggal di samping rumahku, tapi aku berusaha menghormatinya dengan sikap diam. Aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik baginya, meskipun hanya beberapa malam. Dan aku tak selalu kuat mendengar kisah sedihnya. Aku benar-benar menangis ketika ia berkisah tentang harapan ibunya yang ingin melihat dia menikah, tapi itu tidak pernah terjadi sebab ibunya keburu meninggal, dua bulan sebelum ia menerima kartu undangan pernikahan dari kekasihnya. Sejak kematian ibunya itulah kekecewaannya pada Tarida Ila mulai menggelegak, sebab perempuan itu tidak datang melayat.

Sunguh, aku benar-benar makin mencintainya sejak kami berkenalan, sejak ia mulai berkisah tentang hidupnya, meskipun hanya beberapa malam. Tapi, aku selalu memendam perasaan itu karena aku menghargai cintanya pada kekasihnya. Terimakasih pada Tuhan yang telah mengantarkan ia padaku setelah membunuh, meski kutahu ia akan segera tertangkap. Terimakasih padanya untuk ciuman dan pelukan yang sempat diberikannya, meski ia tidak pernah berkata mencintaiku, bahkan mungkin sampai ia dihukum mati.

Namaku Soada Ria. Dalam banyak hal, aku bukanlah orang yang jujur, tapi seperti caranya berkisah, dengarlah jerit tangisku sebagai kisah. Sungguh, Sergio Batakov tidak tahu kapan ketukan itu bergetar di pintu rumahnya. Ia hanya tahu bahwa otaknya seolah penuh disesaki banyak peristiwa, tangan dan kakinya bergetar. Dan kengerian itu terjadi pada dini hari, sekitar pukul tiga ketika kokok ayam pertama mulai bergaung merusuhi subuh yang segera tiba.

Dan ketika ketukan itu berakhir, ia merasa jatuh, terlempar ke sebuah lembah, sebuah tempat yang begitu asing. Ia menemukan dirinya sebagai anak kecil dengan seruling bambu di tangannya. Ia meniup seruling itu dan mengalirlah lagu-lagu sedih yang mengingatkannya pada kejenakaan masa kanak-kanak. Ia tertawa. Dan ketika ia tertawa, ia melihat sebuah bus yang dipenuhi penumpang sedang parkir di sebuah persimpangan. Ia segera menghentikan tawanya yang ngakak, sebab ibunya tiba-tiba berkata, “Pergilah, supir bus itu tentu tidak mau menunggumu lebih lama. Penumpangnnya bisa marah, sebab beberapa dari mereka mungkin akan bepergian untuk urusan penting.”

Di samping ibunya, ayahnya hanya mematung. Ia tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi ketika ia sudah berada di dalam bus yang mulai merangkak, ia ingat pesan ayahnya, “Jadilah anak yang santun di tanah rantau, selesaikan sekolahmu baik-baik dan berkirim suratlah sesekali ke bona pasogit tempat abah dan emak kau merindukanmu.”

Ketika ia menangis di dalam bus, ia merasa jemari lembut seorang perempuan menggenggam jemarinya. “Tak usah bersedih,” kata perempuan itu, “Karena kau beruntung. Aku terima cintamu.”

Sejenak ia merasa sadar, bertanya-tanya apakah memang benar ia menangis ketika dulu gadis itu menerima cintanya? Ia lalu ingat, ia memang menangis. Peristiwa itu terjadi di perpustakaan kampus, pada suatu siang. Tapi ia menangis bukan karena cintanya diterima, tapi karena ia baru saja menerima kabar luka tentang kematian ayahnya. Tangisnya makin keras, dan ia lihat lagi sebuah bus baru saja berangkat dari sebuah terminal. Di dalam bus itu, seorang gadis melambai ke arahnya, dan ia ingat ucapan gadis itu, “Kurasa, satu-satunya hal yang ingin kudapatkan di kota ini adalah ijasah, juga titel sarjana. Dan itu sudah kudapatkan, sekarang aku ingin kembali ke rumah, sebab bapaku sudah berjanji membantuku mencarikan pekerjaan.”

Suatu kali ia pergi mengunjungi kekasihnya itu di kotanya, dan ia kaget menemukan seorang lelaki muda berada di rumah kekasihnya. Ketika ia bertanya siapa lelaki itu, kekasihnya berkata bahwa lelaki itu adalah pacar kakaknya. Ia bertanya mengapa pacar kakaknya tinggal di rumah mereka. Kekasihnya berkata bahwa semestinya mereka sudah menikah, tapi ditunda karena tiba-tiba kakaknya dipanggil sebuah perusahaan untuk bekerja.

Pikiran Sergio Batakov kembali berantakan, ia berusaha mengingat-ingat tapi tengkuknya terasa panas, di telinganya berdengung suara-suara bising. Dadanya berdegup, darahnya terpacu, seolah akan muncrat dari lubang hidungnya. Ia tiba-tiba teringat pada Tuhan. Ia berdoa, tapi bukan karena percaya pada nubuat nabi-nabi palsu itu, melainkan karena ia tidak ingin mati. Dan ia memang tidak mati, sebab ia masih bisa mendengar kokok ayam bersahut-sahutan dari tempat yang jauh. Ia masih bisa menangkap sekilas kenangan dari kokok ayam itu: sebuah kampung, jalanan mendaki dan berbatu, sawah yang terbentang luas, hutan yang menghampar hijau, ayahnya, ibunya, adik-adiknya. Di mana mereka sekarang, dan seperti apa? Ia tiba-tiba merasa rindu, dan kembali mampu menguasai pikirannya.

Ia ingat lelaki yang berada di rumah kekasihnya. Ia bertanya kepada lelaki itu mengapa ia tidak merantau saja ke kota lain. Lelaki itu berkata bahwa ia juga ingin, tapi Sinta Uli tidak memberi ijin karena mereka sudah melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan suami-istri. Lelaki itu mengatakan hal itu sambil tertawa. Tawa lelaki itu membuatnya murka. Ia ingat ia menikami tubuh lelaki bernama Tokka Dihita itu berkali-kali. Darah muncrat ke mana-mana, membuat burung-burung yang melintas di udara berhenti, megap mencium aromanya.

Saudara-saudara, namaku Soada Ria. Aku bukan seorang pencerita seperti Sergio Batakov. Tapi begitulah kisah yang diigaukannya padaku ketika aku menemaninya di rumah sakit jiwa. Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur, sebab aku tak tahu apakah penjara atau hukuman mati lebih menyakitkan dibanding rumah sakit jiwa. Aku hanya bisa menangis. ***

Pematangsiantar, 2006

Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar