21 Agustus 2016

Pulang


Cerpen Panda MT Siallagan

Malam ketika wahyu itu mendekat, dia memutuskan tidur lebih awal. Ia pamit kepada istrinya, menyingkir dari lapo yang masih riuh dipenuhi bual hampa para peminum tuak. Ia berjalan gontai menuju kamar di bagian belakang lapo yang hanya dipisahkan selasar pendek. Begitu masuk kamar, ia hempaskan tubuhnya di ranjang kayu berlapis kasur kapuk, rebahan, dan mencoba menenteramkan hatinya yang galau. Ia melirik jam dinding, masih pukul duapuluh satu lewat beberapa menit, berarti masih ada sekitar delapan jam.


Ia mencoba memejamkan mata, tapi ia tahu rasa kantuk justru menjauh. Suara-suara lantang dari mulut peminum tuak, merambat dari ruang depan, seperti turut mengusir kantuk dari kepalanya. Sesungguhnya, ia memang tidak mengantuk. Dia hanya lelah, ingin rebahan sembari mencoba mengingat-ingat kapan persisnya ia mulai meyakini wahyu itu. Tapi ia tidak ingat. Ia hanya selalu yakin, suatu saat dia akan pergi menemui seseorang tepat pada hari dan jam yang ia pikirkan.

Lalu, ia mulai berpikir mengapa malam itu ia tiba-tiba ingin minum tuak, sehingga batuknya kambuh dan perutnya melilit-lilit. Ia tidak sedang menghadapi suatu persoalan, tapi ia ingin sekali membakar dadanya dengan alkohol, agar ia mampu melupakan kesedihan. Tetapi, ia juga tidak tahu apakah ia benar-benar sedang bersedih atau justru riang. Istrinya mengingatkan dengan keras agar ia jangan minum, sebab jauh lebih baik tuak yang diteguknya pindah ke perut pelanggan,  lebih mendatangkan untung. Tapi ia tidak peduli. Ia ingin waktu yang ia pikirkan segera tiba, lalu pergi menemui seseorang itu.

Tetapi, di atas ranjang, dia mulai bertanya-tanya, siapa sesungguhnya orang yang akan ditemuinya itu? Mengapa keanehan itu merasuki pikiran dan begitu kuat diyakininya? Apakah karena ia mabuk? Apakah ia mulai tidak waras? Tidak, ia tidak mabuk, ia yakin ia masih waras, dan ia memang sudah sejak lama ingin menemui seseorang itu. Tapi di manakah dia akan menemui seseorang itu? Adakah petunjuk yang akan menuntunnya menuju sebuah tempat di mana seseorang itu menunggunya? Sedemikian gilakah aku? Ia mulai merasa tidak tenang.

Untunglah, saat ia dikepung kekalutan itu, sayup-sayup ia dengar istrinya menutup pintu dan jendela lapo. Tuak tentu sudah tandas dan semua parmitu berarti telah pulang. Tiba-tiba ia merasa aneh lagi. Jika sebelumnya ia tidak pernah berpikir ke mana parmitu pergi setelah mabuk, malam itu ia mulai memikirkannya. Beberapa mungkin pulang ke rumah, lalu membentak-bentak istrinya karena terlambat membuka pintu atau menghidangkan makanan. Sebagian berkeliaran di jalanan, berteriak-teriak menganggarkan dada. Dan sisanya mungkin pergi ke rumah-rumah bordil, bermesum ria dengan lonte kelas kuli. Ia mulai merasa bersalah.

“Belum tidur, Bang?” suara istrinya saat masuk kamar.

Ia tidak menjawab. Ia memang ingin mengatakan sesuatu kepada istrinya, tapi ia ragu. Ia tidak ingin istrinya sedih. Tiba-tiba ia rindu sesuatu, tapi ia tidak tahu apakah sesuatu itu sebuah tempat di masa lalu atau sebuah cita-cita yang gagal diraih. Ia tahu, sudah sangat lama pikirannya tidak pernah cengeng serupa itu, sudah sangat lama ia berhenti berhasrat dan bermanja dengan angan-angan. Tapi ia juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Saat istrinya turun ke ranjang, merebahkan tubuh di sisinya, dan bergayut manja di lengannya, dia akhirnya bicara sambil terbatuk-batuk.

“Sayangku, besok subuh aku harus pergi.”

“Ke mana?”

“Menemui seseorang.”

Istrinya diam. Sesungguhnya ia ingin istrinya bertanya siapa seseorang yang akan ditemuinya. Tapi ia mahfum, selama mereka hidup bersama, ia selalu mengajari istrinya tidak campur urusan lelaki. Ia melarang istrinya banyak bertanya tentang hal-hal yang dilakukannya. Maka wajar, hingga malam itu, istrinya tidak pernah tahu siapa sesungguhnya lelaki yang dianggapnya suaminya itu.

“Besok subuh kalau kau sedang lelap, aku mungkin tidak akan pamit,” katanya.

Lagi-lagi istrinya diam. Sebab sudah sering begitu. Jangankan subuh, suaminya bahkan kerap pergi tengah malam atau dinihari jika tiba-tiba ponselnya berdering. Dan istrinya tidak pernah peduli, sebab beberapa hari kemudian, suaminya pasti pulang dengan selamat, membawa uang untuk bekal kehidupan mereka. Tapi malam itu, ia sungguh berharap istrinya peduli, terlebih setelah beberapa tahun terakhir, hal seperti itu tidak pernah terjadi lagi. Sudah tiga tahun, tepatnya, ia tidak pernah lagi pergi, sejak mereka membuka lapo tuak dan hidup dari untung dagang yang tak seberapa. Ia ingin istrinya bertanya kenapa dan untuk apa dia pergi. Tapi ia tidak mendapatkan pertanyaan itu. Beberapa menit kemudian, ia lihat istrinya sudah mendengkur.

Malam itu ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus bergerak, memikirkan satu hal ke hal lain, mengingat satu kenangan ke kenangan lain, tapi ia tidak bisa menyimpulkan hal penting apa yang dapat ia petik dari kekacauan jiwa yang berlangsung sepanjang malam itu. Ia benar-benar gelisah. Untunglah subuh tiba, ia lirik jam menunjuk pukul 05.00 WIB.

“Sudah waktunya,” ia bergumam sembari mengecup kening dan bibir istrinya, lalu beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar, membuka pintu secara perlahan, lalu pergi tanpa mandi dan cuci muka apalagi sikat gigi. Ia juga tidak membawa sepotong pakaianpun sebagaimana biasa ia lakukan setiap kali pergi.


Begitu keluar dari rumah, ia berjalan menyusuri gang menuju jalan besar di mana dia bisa menyetop angkutan. Suasana masih sepi. Angin subuh terasa sangat dingin. Dari dapur beberapa rumah, ia mendengar gelas dan piring-piring berdenting, juga suara berisik penggorengan. Dari tempat-tempat yang jauh, kokok ayam bersahut sambung menyambung, sesekali anjing menggonggong di ujung gang.

Setelah berjalan beberapa menit, ia tiba di persimpangan jalan besar. Ia berdiri sejenak menunggu angkutan, tapi tak ada satupun yang melintas. Ia heran kenapa sepagi itu opelet belum muncul. Ia sedikit jengkel, sebab dia ingin segera bertemu seseorang itu. Ia lalu mendekat ke sebuah warung di mana tukang ojek biasa mangkal. Ia menepuk pundak seorang tukang ojek yang tertidur telungkup memeluk tanki sepedamotornya. Lelaki paruh baya itu terkejut.

“Tolong antar aku,” katanya sembari menyebut alamat.

Lalu, sepedamotor meluncur dengan tenang menembus subuh. Tiba-tiba ia merasa sangat riang, mencoba mengingat kapan pertama kali ia naik sepedamotor. Ia ingat, saat itu ia masih sangat kecil, saat harga jahe melambung tinggi. Satu hektare kebun jahe ayahnya tembus. Tapi, keadaan baik itu hanya berlangsung sekejap, musim tanam berikutnya penyakit menyerang, dua hektare jahe milik ayahnya membusuk saat akan panen dan menyebarkan aroma tahi di sekeliling ladang. Penyuluh pertanian tak berkutik, ayah tumpur, sepedamotor kembali dijual. Ayah lalu banting stir jadi bandar togel, tapi tiba-tiba ditangkap dan dipenjarakan. Juga tak berapa lama, bapak meninggal di penjara. Ia sedih mengenang itu dan tiba-tiba ingin pulang.

Lalu, tanpa pikir panjang, ia menawarkan sejumlah harga kepada tukang ojek agar bersedia mengantarnya ke kampung. Tukang ojek setuju. Jarak antara desa dan kota kecil di mana ia tinggal, memang hanya 70 kilometer. Ia mendadak tidak peduli pada tujuannya menemui seseorang, ia benar-benar ingin pulang, ingin ziarah ke kuburun bapak, juga ibu yang juga segera meninggal menyusul ayah. Ia tahu ibu tak tahan menderita didera sepi. Ia ingin minta maaf kepada bapak dan ibu.

Sepedamotor terus meluncur. Setelah melewati pinggiran kota, mereka masuk ke tanah-tanah kosong penuh semak, lalu melintasi areal perkebunan kelapa sawit. Saat menatap keteraturan barisan pohon-pohon sawit, ia sedih dan menyesal mengingat semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Ia ingat istrinya yang mungkin masih lelap di ranjang. Ia sedih telah membohongi perempuan cantik itu selama bertahun-tahun. Ia sering meninggalkan perempuan itu tengah malam dengan berbagai alasan, tapi sesungguhnya, bersama komplotannya, ia pergi mencuri buah sawit. Dan ia bersyukur, sepanjang karir memalukan itu, ia tidak pernah tertangkap. Ia ingin menceritakan kehebatannya kepada tukang ojek, tapi keinginan itu segera menguap, sebab mereka mulai memasuki perkampungan kecil. Hari mulai terang. Satu dua angkutan desa mulai melintas. Ia merasa perutnya keroncongan. Tapi ketika ia ingin mengajak tukang ojek singgah untuk sarapan dan minum kopi di salahsatu warung, ia ingat lagi kampung halaman, ingin cepat-cepat tiba di sana, maka niat minum kopi dibatalkannya.

Setelah satu jam sepedamotor meluncur, mereka masuk ke jalanan berbatu. Kenangan masa kanak-kanaknya bersinar. Ia ingat, dulu jalanan itu penuh lumpur. Ia harus jalan kaki sepanjang lima kilometer jika kebetulan diajak ayah ke kota. Truk pengangkut hasil pertanian warga sering terperosok selama berhari-hari. Jika truk kebetulan terperosok tak jauh dari rumah mereka, ia kerap menonton, bahagia melihat roda truk berputar-putar di dalam lumpur. Ia bahagia mendengar mesin meraung-raung. Ia bahagia melihat supir dan kernet bus mencongkel-congkel lumpur, memecah batu-batu cadas, lalu memasukkan pecahan-pecahan batu itu bersama sekam ke lubang lumpur agar roda menggigit. Ia bahagia mengenang masa itu.

Kini ia mulai masuk ke jalanan yang menanjak. Mesin sepedamotor mulai meraung-raung. Di kejauhan, bukit-bukit mulai tampak membentang. Hari benar-benar sudah terang. Ia yakin, sebelum pukul tujuh, ia sudah tiba di desa. Ia tatap ladang-ladang jagung yang menghampar di sisi kiri dan kanan jalan. Ia tatap sawah yang menguning di kejauhan. Lalu ia teringat, sewaktu kecil, ia sering meniup seruling ketika menjaga burung, kerap dibayar mengangon kerbau oleh orang kaya desa, dan ia senang bisa menunggang kerbau sambil bernyanyi menyongsong senja dan berebut tempat dengan burung-burung gagak. Ia kini seperti tenggelam dan kembali larut dalam pusaran kenangan itu.

Akhirnya ia tiba di desa. Tapi ia heran, tukang ojek yang disewanya dari kota, mendadak pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya. Ia memandang sekeliling, tapi tukang ojek itu benar-benar telah pergi. Ia merinding. Ia ingat seorang temannya pernah bercerita dijemput kakeknya dengan mobil, lalu membawanya ziarah ke kuburan nenek. Kakek membantah kejadian itu, tapi temannya bersikeras telah pergi ziarah bersama kakek ke makam neneknya. Apakah ia mengalami hal yang sama? Ia mencubit lengannya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dan sakit. Ia berpikir, mungkin tukang ojek itu pergi mencari sarapan. Dan ia tidak resah, sebab ia masih bisa menemui tukang ojek itu di pangkalan di persimpangan menuju rumahnya, jika seandainya ia pergi dan lupa meminta tarif seperti disepakati.

“Pulang, Bang?” tanya penghuni rumah peninggalan bapak.

“Iya, mau ziarah.”

Tak ingin ia berbasa-basi. Ia segera ke ladang di belakang rumah di mana bapak dan ibunya dikuburkan. Di makam bapak dan ibunya, ia menangis. Tapi ia tidak tahu untuk apa dia menangis, sebab sesungguhnya ia sedang bahagia dapat bertemu lagi dengan bapak dan ibu, meski tanpa istri dan anak-anak. Anak-anak? Barangkali itulah yang membuatnya menangis. Sepuluh tahun hidup bersama Mauly, istrinya itu, dia belum mendapatkan momongan. Ia bersimpuh di bawah nisan, tapi ia tidak meminta restu agar ia diberi anak, sebab ia tahu segalanya telah terlambat. Dan ia tahu, bapak dan ibu masih marah kepadanya dan tidak akan pernah setuju ia hidup bersama Mauly.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan. Ia telah kehilangan ayah dan ibu ketika usianya 12 tahun. Setelah itu, dia selalu hidup dari satu tempat ke tempat lain. Ia tidak pernah berpikir jadi pengembara, tapi ia telah hidup jadi pengembara. Ia ingat, ia pertama kali tiba di sebuah kota pelabuhan. Ia bekerja sebagai kuli  bongkar muat kapal, lalu sesekali melaut bersama nelayan yang diakrabinya. Ia senang bermain-main dengan gelombang, makan ikan mentah jika kelaparan di tengah laut. Malam hari, bersama kuli-kuli pelabuhan, ia tenggelam dalam mesum warung remang-remang, mabuk menenggak alkohol, diajari onani oleh kuli-kuli berumur, digoda pelacur-pelacur pelabuhan dan dijanjikan gratis jika ia mau bersetubuh. Ia diperolok-olok secara maksiat, dan selama beberapa waktu, ia bergetar hebat merenungkan kegilaan yang mendadak muncul dalam kehidupannya. Hingga suatu malam, ketika dendam dan getar menyulut liar, ia tak tahan. Ia menyeret seorang pelacur ke baraknya. Ia setubuhi perempuan itu dalam bauran hasrat dan rasa takut yang berlangsung getir. Ia ingat perempuan itu tertawa-tawa, tapi ia tidak patah arang menuntaskan dendam. Ia ingat, pelacur itu akhirnya terkapar dan malam-malam berikutnya adalah milik mereka.

Ia kemudian bosan, dan pergi meninggalkan bandar. Ia masuk ke kota besar dan mulai terpukau pada keramaian. Ia senang tidur di emper toko-toko, mampir di warung-warung kopi pada siang hari. Awalnya jadi tukang semir, lalu nakal lagi setelah berkenalan dengan pelacur jalanan di tengah malam-malam buta. Ia bekerja siang hari, lalu membuang hasil peluh bersama perempuan-perempuan yang ia sukai. Bertahun-tahun ia hidup dalam kekacauan itu. Lalu, ia mulai bercita-cita. Ia ingin jadi lelaki tampan, punya rumah, mobil dan bisa melakukan apapun ia inginkan. Ia ingat kampung, tapi entah kenapa, ia tidak suka tinggal di desa. Ia sama sekali tidak tertarik jadi petani. Ia lalu pulang kampung. Ia sewakan rumah dan tanah peninggalan orangtuanya. Uangnya ia bawa ke kota. Ia ingin berusaha. Tapi pertarungan tak semudah ia duga. Ia kalah.

Dan, kini ia bersimpuh di makam orangtuanya, dan tiba-tiba merasa malu untuk semua hal yang telah ia lakukan. Ia menangis dan berkata, sesungguhnya ia ingin mengunjungi seseorang, tapi entah kenapa ia malah pulang ke desa. Ia terisak, memohon ampun pada bapak dan ibu, minta restu agar ia diizinkan menemui seseorang itu. Ia mengatakan, seseorang yang ingin ditemuinya itu bukanlah orang jahat, yang kembali akan menyeretnya ke dalam kegelapan. Setelah bertemu seseorang itu, dia berjanji akan pulang, merawat makam bapak dan ibu, dan selamanya akan tinggal di desa. Ia akan mengajak  Mauly, memperkenalkan perempuan seksi itu sebagai istrinya kepada seluruh warga desa.

Tapi ia ragu, apakah Mauly bersedia hidup di desa? Ya, ya, ia akan menjelaskan bahwa hidup di desa jauh lebih tenang. Ia akan membujuk istrinya agar mereka menjual saja rumah dan lapo, lalu membangun kehidupan yang baru di desa. Setiap pagi mereka akan bangun ditingkahi kokok ayam dan kicauan burung-burung. Di kejauhan akan terdengar lenguhan kerbau, berangkat ke ladang dengan hati dan jiwa bersih, sarapan di saung beratap ilalang, lalu bekerja di ladang sembari menikmati hembusan angin yang turun dari bebukitan. Sore hari sepulang kerja, mandi di pancuran, lalu malam hari bercengkerama sebelum tidur, mendengar bunyi jangkrik-jangkrik. Pada hari-hari tertentu, meraka pergi memancing ke sungai di tepi kampung, tertawa riang ketika ikan jurung tersangkut di mata kail, mengelepar-gelepar ketika joran ditarik. Ai, indah sekali hidup di desa. Ia tidak perlu lagi pusing menghadapi celoteh para peminum tuak, juga tak perlu cemburu ketika duda-duda jalang menatap genit bokong Mauly, dan tak perlu marah menghadapi pria-pria pengangguran yang mampu menenggak tuak hingga belasan gelas, tapi selalu meninggalkan utang. Di desa, segalanya akan berlangsung tenang. Dan ia yakin, penyakit paru-paru yang dideritanya selama dua tahun terakhir, akan sembuh disiram angin segar desa. Ia tahu, istrinya sudah sangat menderita mendengar batuknya setiap malam, lelah mencari empedu kambing setiap hari di pusat pasar, bahkan sesekali mengeluarkan uang banyak membeli liur walet. Ia mendadak punya harapan, di desa sakitnya akan sembuh.

Sekali lagi ia bersimpuh di makam orangtuanya. Ia kembali terisak, lalu beranjak gontai meninggalkan makam. Sebelum kembali ke kota, ia ingin menemui penghuni rumah peninggalan bapak dan ibunya, menegaskan kembali bahwa dalam waktu dekat ia dan istrinya akan kembali ke desa, dan memohon agar rumah itu segera dikosongkan. Tapi ia mengurungkan niat itu. Ia merasa, hal yang sama tak perlu disampaikan secara berulang dan bahwa hal itu sudah dibicarakan beberapa waktu lalu, ia kira sudah cukup.

Matahari mulai meninggi. Ia merasa lapar, tapi ia bertahan. Ia ingin mengejar angkutan menuju kota, sebab seperti biasa, hanya ada satu angkutan umum yang berangkat dari desa itu setiap hari, berangkat pukul 10.00 WIB. Ia tidak ingin ketinggalan, maka ia mempercepat langkah menuju sebuah simpang, sekira satu kilometer di hilir desa. Di simpang itulah biasanya angkutan menunggu penumpang, sebab sulit naik ke desa karena kondisi jalannya sangat buruk. Dan saat berjalan itu, dia kembali terbatuk-batuk, perutnya terasa melilit. Ia keringatan.

Maka, selama di bus, ia memilih tidur. Tapi ia tidak benar-benar tidur. Ia kembali mengingat setiap peristiwa yang pernah dilaluinya. Ia seperti kembali melihat dirinya bekerja di pelabuhan, bertengkar dengan kuli-kuli berumur yang kerap memperdaya dan menilap upahnya. Semua itu seperti kembali dikunjunginya, juga ketika ia mengembara dari kota ke kota, hidup sebagai tukang semir, pengemis, buruh bongkar muat di toko-toko orang Tionghoa, lalu terjebak di lingkungan kumuh bersama anak-anak jalanan, cekikan bersama pelacur-pelacur kelas teri yang gagal masuk bar dan kafe karena kalah cantik. Ia terkenang pada semuanya. Dan membuatnya lelah. Dan membuatnya sunyi. Tapi ia tetap berusaha tidur.

Ia mungkin bermimpi, sebab kesuraman demi kesuraman terus berlanjut memenuhi ingatan dan benaknya. Ia nyaman ketika bayangan kejahatannya melintas. Ia ingat bagaimana ia bertemu Ordo, preman terminal yang kemudian mengajarinya merampok. Ia melakukan aksi pertama di sebuah mesim ATM. Ia memakai topeng karet  yang warnanya persis seperti kulit. Ordo yang merancang semua itu untuk kemudahan aksinya. Ia berhasil menodong nasabah di pintu ATM sebuah bank dan membawa lari uang tak lebih dari tiga juta pada aksi pertamanya dan itu membuatnya sangat bahagia. Ia tidak ingin mengingat semua itu, tapi segalanya seperti dipaksa hadir dalam mimpinya. Ia ingat, setelah itu hidupnya berkalang kejahatan. Bersama komplotannya, ia pernah merampok toko emas, merampok truk ekpedisi barang-barang elektronik, menyikat gaji karyawan kebun, menipu pejabat dengan kekuatan hipnotis, hingga memanen sawit perkebunan negara pada malam hari. Dia kemudian berpoya-poya dari bar ke bar. Bercinta dengan banyak perempuan-perempuan yang ia sukai hingga akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Mauly, istrinya itu. Ia ingat suatu hari, ketika ia jatuh sakit dan muntah darah, perempuan itulah yang membawanya ke rumah kontrakannya yang sempit, merawatnya hingga sembuh, lalu mereka menikah menurut cara mereka. Ia menganggap Mauly istrinya, Mauly mengganggap ia suaminya. Begitu saja, dan sejak itu mereka hidup serumah.

Bus terus melaju dan mulai memasuki wilayah kota. Ia mulai tak nyaman dengan mimpi-mimpinya. Ia berpikir, mungkin tidak benar ia tidur dan tidak benar ia bermimpi, sebab masa lalu itu benar-benar nyata berlintasan dalam kepalanya. Tapi ia tidak ingin memikirkannya. Ia kembali menyandarkan lehernya di bantalan kursi bus yang mengeras. Ia menghayal, setibanya di rumah, ia akan makan lahap, sebab istrinya mungkin sudah menyiapkan makanan lezat menyambut kedatangannya. Tapi ia sadar, hal itu tidak mungkin, sebab ia tidak mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan pulang hari itu juga. Ia sedikit kecewa tidak meninggalkan pesan kepada istrinya. Dan makin kecewa bahwa sesungguhnya ia pergi untuk menemui seseorang, tapi ia belum menemuinya. Sesungguhnya, selama dalam dalam perjalanan, dia sudah tahu siapa seseorang yang akan ditemuinya itu. Dan seseorang itu sangat ia kenal. Seseorang itulah yang telah membuatnya berubah dan pergi meninggalkan dunia kejahatan. Seseorang itulah yang senantiasa membuatnya penuh harapan dan bertahan hidup bersama Mauly yang mandul. Seseorang itulah yang mengajarinya mencintai Mauly secara kekal.

Baiklah, bus sudah tiba di kota. Ia turun di persimpangan itu. Sejenak dia mencari tukang ojek yang pagi tadi mengantarnya ke desa. Ia ingin membayar tarif sebagaimana mereka sepakati. Ia yakin, tukang ojek itu sudah pusing memikirkan ketololannya. Tapi ia tidak menemukan tukang ojek itu. Mungkin sedang mengantar penumpang, pikirnya.

Ia kemudian memutuskan pulang ke rumah, sebab sore nanti ia masih bisa datang ke simpang itu dan menunggu tukang ojek tolol itu sembari minum kopi. Tapi sejenak ia ragu, apakah yang harus dikatakannya pada istrinya? Ya, ya, jika istrinya bertanya apakah dia sudah bertemu dengan seseorang itu, dia akan menjawab belum. Dia akan berkata bahwa seseorang itu adalah orang baik, sehingga dia ingin mengajak istrinya untuk ikut bersamanya. Dia akan berkata bahwa Mauly harus mendampinginya menemui seseorang itu. Sebab aku mencintaimu, sayangku, kita harus pergi bareng menemui orang itu, dia akan berkata demikian. Hatinya sangat riang memikirkan adegan romantis itu.

Tapi berapa meter menjelang rumah, mendadak tubuhnya gemetar. Jantungnya berdenyut cepat. Nafasnya menderu dasyat. Ia melihat banyak orang berada di rumahnya. Sayup-sayup ia mendengar tangisan menguar dari dalam rumah. Ia panik, ada apa dengan Mauly? Apakah Mauly meninggal? Ia berlari, tapi begitu tiba di halaman rumah, langkahnya terhenti, sebab ia mendengar, raungan itu adalah raungan Mauly, tangisan itu adalah tangisan Mauly. Ia lega, sekaligus sedih. Ia dengar dalam tangisnya Mauly menyeru-nyeru namanya. Pandangannya mendadak gelap. Dia merasa seperti tidur dalam lindap, sementara raungan Mauly terus menggema: Kau bilang kita akan ke desa. Kau bilang di desa sakitmu akan sembuh. Kenapa kau pergi, kenapa, kenapa, kenapa...?

Ia tak ingin menjawab pertanyaan istrinya. Ia tatap jasadnya sejenak, lalu pergi menemui seseorang itu.

Pematangsiantar, Juni 2008

* Cerpen ini pertama kali dimuat di Majalah Sastra Horison, Edisi November 2008

Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar