Puisi-puisi Panda MT Siallagan
Tualang
Pernah kita sepakat mengembara ke arah berbeda. Serupa sungai, kau dan dirimu mengalir menuju samudera, menunggang gelombang, menggembalakan badai. Kau dan dirimu berhantam-hantam luka. Hingga kau...
Cerpen Panda MT Siallagan
Tiba-tiba pukul tiga dini hari itu hujan turun. Di luar, angin mendesis, dan daun-daun akasia terdengar menggelepar. Aku dapat membayangkan beberapa daunnya gugur, meliuk-liuk diputar angin hingga akhirnya jatuh, tersadai...
Cerpen Panda MT Siallagan
Diterima kabar duka pada 26 Desember 2004: Telah terbang ribuan nyawa, telah hilang berlaksa jiwa, lesap disapu bencana. Mari menundukkan kepala, berdoa untuk jiwa-jiwa yang hilang, juga untuk jiwa-jiwa yang kehilangan....
Oleh Panda MT Siallagan
Dinamika sastra Indonesia pernah menghangat dengan munculnya beberapa istilah penamaan. Ada sastra buku, sastra majalah, sastra koran, sastra saiber, sastra komunitas, sastra facebook dan sastra-sastra lainnya. Bahkan, sempat...
Oleh Panda MT Siallagan
Syahdan, segerombolan generasi baru berhimpun menikmati malam di sebuah kafe di sudut kota. Anak-anak muda itu, dengan segala atribut kekinian, juga bicara hal-ihwal kekinian: musik, fashion, gadget-gadget mutakhir, cita-cita,...
Cerpen Panda MT Siallagan
Suatu petang ketika Somba tidak
lagi menemukan pengemis tua pemetik kecapi itu di persimpangan lampu merah
dekat Taman Makam Pahlawan, hatinya mendadak kosong. Dia merasa semua lagu di
atas bumi sudah usai dinyanyikan...
Cerpen Panda MT Siallagan
Ilustrasi.
Akhirnya, bibi meninggal. Syukurlah, sudah terlalu lama dia menderita. Memang, tak banyak hal kuketahui tentang bibi. Saat aku kecil, pernah beberapa kali dia berkunjung ke Pekanbaru, tapi ingatanku hanya...
Tragedi
Sambal atau cabe giling mencatat luka batu di rongga mulut, lidah, tenggorokan dan usus. Maka senantiasa lambung meradang, ganjil meminang dengus bibir. Uhfs.
Tak hanya lorong pedas, tapi juga kisah perut yang mulas. Ini pasal luka batu...