28 Juli 2016

Citizen Journalism, Warga Bikin Berita

Mungkin Anda pernah mendengar di sebuah radio, terjadi percakapan antara penyiar dengan seorang warga melalui sambungan telepon. Warga itu melaporkan bahwa di Jalan A terjadi kemacetan akibat kecelakaan lalu-lintas baru saja terjadi di kawasan itu.


Si Penyiar biasanya bertanya lebih lanjut tentang situasi di lapangan, dan si penelepon menjelaskan seluruh informasi sesuai dengan pengamatannya. Akhir cerita, baik si penelepon maupun si penyiar menyarankan pengendara atau masyarakat agar sebaiknya menghindari jalur itu agar terhindar adri jebakan macet.

Atau, pada kesempatan lain, Anda mungkin pernah membaca rubrik interaktif di sebuah surat kabar. Rubrik itu berisi pesan pendek (sms) warga dari berbagai tempat, memberitahu berbagai informasi tentang kondisi pelayanan dan fasilitas publik. Misalnya, di daerah B jalan rusak parah, perlu diperbaiki. Di daerah C, praktek judi togel marak, diharap penegak hukum melakukan penertiban. Di daerah D, tiang listrik tumbang, parit sumbat, drainase penuh tumpukan sampah, dll. Seluruh informasi itu disampaikan dan dimuat di surat kabar dengan harapan agar bisa segera ditanggulangi pihak berwenang.

Atau, siapapun Anda dan dari kalangan manapun berasal, saat ini pastilah sangat familiar dengan smartphone. Dan hampir setiap hari bersentuhan dengan media sosial. Dan hampir setiap hari pula Anda bisa membaca atau mengetahui informasi yang dituliskan rekan-rekan lain melalui status maupun postingan-postingan yang sifatnya informatif. Bahkan Anda sendiri turut melakukannya.

Jika terjadi bencana, para pemilik akun medsos akan ramai-ramai menuliskan peristiwa itu sehingga seperti spiral, langsung meliuk-liuk ke segala penjuru. Jika terjadi peristiwa heboh, informasi awal seringkali muncul terlebih dahulu melalui status-status medsos, lalu tak lama kemudian muncullah informasi lebih lengkap melalui berita di media-media internet, yang ditulis atau dilaporkan jurnalis profesional.

Penjelasan di atas kiranya dapat memudahkan kita untuk memahami apa yang disebut dengan citizen journalism atau jurnalisme warga. Jurnalisme warga adalah partisipasi masyarakat (warga) dalam hal pengumpulan,  analisis dan penyampaian sebuah peristiwa atau informasi menjadi sebuah berita.

Seperti kita ketahui, peralatan-peralatam canggih seperti kamera digital, video handphone, sekarang ini sangat memungkinkan siapapun bisa menulis atau membuat berita dan mendistribusikannya secara cepat melalui media internet. Produk (karya) jurnalisme warga yang dapat dikenali pada saat ini antara lain partisipsi pemirsa seperti komentar dalam berita online, foto atau video. Intinya, jurnalisme warga dapatlah dipahami sebagai bentuk media untuk warga, oleh warga dan dari warga.

Sekedar diketahui, jurnalisme warga mulai berkembang luas di Indonesia ketika terjadi Tsunami Aceh tahun 2004. Waktu itu, gambar-gambar atau tayangan video bencana dasyat itu justru berasal dari warga, bukan dari jurnalis profesional. Laporan-laporan langsung sesaat setelah terjadi bencana, justru didapat dari warga yang bisa dihubungi media.

Sejak itu, jurnalisme warga makin populer. Jika terjadi bencana, media segera mencari warga yang bisa dihubungi di lokasi, atau media langsung menyiapkan line telepon agar warga yang ingin memberi laporan bisa menghubungi nomor telepon itu.

Lalu, dalam perkembangannya kemudian, muncul berbagai situs yang khusus menyiarkan jurnalisme karya warga, bukan karya jurnalis profesional. Dan sejalan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, jurnalisme warga menemukan substansinya yang pas pada medsos. Maka, ribuan bahkan jutaan pemilik akun bisa langsung menjadi 'jurnalis-jurnalis' yang melaporkan berbagai peristiwa dari daerah masing-masing.

Maka, di era digital ini, siapa saja bisa menjadi jurnalis. Zaman dulu, persoalan utama penyampaian informasi kepada masyarakat adalah keterbatasan media. Hanya ada surat kabar, radio dan televisi, sehingga sumber informasi juga terbatas dari wartawan-wartawan media itu. Kini media penyampai informasi sudah sangat beragam dan aksesnya juga sangat mudah dan murah.

Namun, perlu diingat bahwa informasi harus benar, tidak boleh bohong, tidak boleh dikarang-karang, tidak boleh mengandung fitnah, tidak boleh menuduh. Sebab informasi yang tidak benar akan akan menyesatkan masyarakat, dan itulah sesungguhnya inti dari jurnalisme konvensional. Nah, silahkan Anda belajar jadi jurnalis atau wartawan digital. ***
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar