07 Agustus 2016

Karya Jurnalistik Sesungguhnya Adalah Kisah

Ketika mendengar istilah jurnalistik, pikiran orang segera terbayang pada sesuatu yang rumit. Sesuatu yang profesional.  Sehingga jurnalistik itu seolah-olah ‘mahluk sakral’ yang hanya bisa disentuh orang-orang tertentu. Padahal, jurnalistik itu sangat sederhana, gampang, dan bisa dikerjakan siapapun.


Alkisah, suatu siang, seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 3 SD, membuat ibunya terkejut dan khawatir. Sebab, si anak tampak tersengal-sengal begitu tiba di rumah.

"Ada apa, Nak? Kenapa kamu?" tanya si ibu resah, suaranya penuh kasih sayang.

"Sebentar dulu, Mak. Nanti kuceritakan," kata si anak sambil melepas sepatu, lalu menaruh tas sekolahnya pada tempat yang sudah ditentukan.

Sebelum kembali ditanya si ibu, si anak langsung bercerita, katanya: "Bu, tadi ada kecelakaan. Kreta (sepedamotor, pen) nabrak nenek-nenek."

"Dimana?" tanya ibunya tak sabaran.

"Di Jalan Merdeka itu, dekat sekolahku."

"Terus gimana ceritanya?" tanya si ibu lagi.

"Nenek itu lagi nyeberang. Trus datang kreta,  ya ditabrak. Sempat macet jalannya. Banyak orang datang. Polisi juga. Nenek yang ditabrak itu jatuh ke jalan, trus dibawa. Kudengar dibawa ke rumah sakit. Ngeri, Mak. Kulihat berdarah-darah.”

Anak sekecil itu menyaksikan darah. Si ibu segera sadar bahwa situasi itu tak baik bagi anaknya, maka ia berhenti bertanya. "Ya sudah, tak perlu dipikirkan," ujar si ibu sembari mendekap anaknya. Ia dapat merasakan betapa terguncangnya si anak ketika menyaksikan peristiwa itu.

Dan benar, keesokan harinya, si ibu membaca di surat kabar perihal kecelakaan itu. Peristiwanya persis seperti cerita si anak. Hanya saja, di suratkabar itu ada informasi tambahan, yaitu: nama si nenek, usia, dan kediamannya. Rupanya, menurut surat kabar itu, korban dilarikan ke rumah sakit, tapi nahas, si nenek meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Sementara, pengendara sepedamotor yang menabrak sudah diamankan polisi. Selesai.

Sesungguhnya, ketika bercerita itu, si anak sudah melakukan mekanisme jurnalistik, menyampaikan informasi kepada pihak lain (ibunya). Kalau seandainya si anak mengetahui nama korban dan akhir ceritanya, bukankah dia sudah sama dengan wartawan profesional?

Demikianlah, jurnalistik itu sesungguhnya cerita. Atau kisah. Tapi cerita yang benar. Kisah yang sungguh-sungguh terjadi. Tidak dikarang-karang. Lalu, oleh orang-orang yang merasa dirinya intelektual, bahasanya dibuat ketat: karya jurnalistik harus faktual, akurat, aktual dan berintegritas. Bah...! Rumit kali bahasanya.

Itulah sebabnya kenapa dalam tulisan ini saya korbankan seorang anak menjadi tokoh. Sebab, anak seusia itu tak mungkin berbohong. Dia akan bercerita apa adanya. Sangat tipis kemungkinannya mengada-ada. Itulah yang mereka maksud dengan integritas. Integritas ini sudah mencakup keseluruhan aktivitas kewartawanan.

Dan ini tentang kisah yang lain. Seorang siswi SMA mengikuti acara penyuluhan tentang bahaya narkoba. Sebut saja nama siswi itu Siswi. Maksudnya? Namanya Siswi, pakai S kapital. Kalau siswi pakai s, itu statusnya. Artinya pelajar. Jadi sekali lagi, nama tokoh kita ini adalah Siswi. Tak usah bingung, ini urusan jurnalistik juga. Kan aneh kalau seorang wartawan tak tahu urusan-urusan EYD. Hehe...!

Kita lanjut kisahnya. Pada acara penyuluhan narkoba itu hadir orang-orang top sebagai narasumber. Ada dari kepolisian, BNN, akademisi, aktivis dan lain-lain. Yang tak kalah menarik, hadir juga walikota. Nah, ini yang bikin rusak suasana. Kenapa? Sebab pada umumnya orang hanya ingin mendengar kata sambutan dari walikota. Pemaparan dari narasumber lain biasanya diperlakukan kurang penting. Padahal, pemaparan dari pihak-pihak yang lebih berkompeten itulah sesungguhnya paling penting dicatat (diliput) sebab substansinya pasti lebih relevan. Tapi dasar wartawan, begitu walikota selesai menyampaikan sambutan, mereka juga berbondong-bondong mengikuti rombongan walikota, meninggalkan lokasi.

Tapi rupanya, Siswi memiliki minat tinggi terhadap isu narkoba ini. Maka ia ikuti keseluruhan acara dengan seksama, ia catat poin-poin penting, ia aktif bertanya dalam sesi diskusi. Dan....

Singkat cerita, Siswi menuliskan seluruh hal tentang acara itu. Ia buat judul tulisannya seperti ini: Hanya Satu Kata: Lawan!  Ternyata, Siswi adalah pengagum Widji Tukul, penyair yang hilangitu. Dan selanjutnya, Siswi menuliskan ini:

Tak ada kata lain untuk narkoba, hanya satu kata: lawan. Puisi Widji Tukul itu rasanya sangat tepat menggambarkan betapa pentingnya perang nyata terhadap narkoba. Hal itu terungkap dalam acara penyuluhan yang diadakan kemarin dst...dst…

Dalam tulisannya itu, Siswi menceritakan jalannya acara, mulai dari pemaparan makalah oleh para narasumber. Siswi menuliskan ulang pernyataan-pernyataan para narasumber. Segala yang ia nilai perlu, ia catat dengan rapi. Tentang walikota, ia hanya menulis begini: beliau datang sebentar dan menyampaikan kata sambutan.

Tapi keesokan harinya, tertulis besar-besar di beberapa suratkabar: Walikota Komit Berantas Narkoba. Dan ada juga yang menulis begini: Walikota Komitmen Berantas Narkoba. Jika judul seperti ini muncul, saya capek berpikir, kok bisa ya mulai dari wartawan, redaktur, redaktur pelaksana hingga ke pemimpin redaksi tak tahu membedakan makna kata 'komit' dengan 'komitmen'?

Baiklah, demikian kisah saya kali ini. Sayangnya, tulisan atau laporan Siswi terlalu panjang jika saya catat ulang di sini. Atau tepatnya, saya malas mengarangnya, sebab tokoh kita ini kan imajiner. Hehe...! Tapi menurut saya, meski hanya tokoh imajiner, Siswi sudah berhasil menjadi pencerita yang baik, sudah berhasil melakukan aktivitas jurnalistik yang sesungguhnya. Soal imajiner, saya katakan: harapan juga abstrak. Dan kita tentu tak boleh berhenti berharap, semoga profesionalitas jurnalistik kita semakin baik. ***
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar