30 Agustus 2016

Kisah Parmahan, Meniup Seruling di Punggung Kerbau


Oleh Panda MT Siallagan

Sekarang sudah sulit menemukan kerbau di desa-desa. Pemanfaatan tenaga hewan itu untuk mengelola lahan pertanian memang sudah tersingkir sedemikian sempurna oleh hadirnya teknologi modern bernama traktor yang sangat praktis, efisien dan efektif.

Ilustrasi. Foto/Internet
Takdir modernisme mungkin memang begitu. Kita dimudahkan di satu ruang, tapi di ruang lain, kita merasa banyak kehilangan. Kenangan-kenangan terhapus secara lembut tanpa pernah disertai daya penolakan. Tapi pada jiwa yang lelah dan sunyi, kita kadang merasa trenyuh menyadari bahwa ada banyak hal yang tak mungkin kembali.

Sungguh, sekarang sudah sulit menemukan kerbau di desa-desa. Di sejumlah tempat, generasi baru yang lahir tahun 2010-an, bahkan mungkin takkan lagi bisa menyaksikan wujud kerbau di kelak hari, apalagi menyentuh dan bersahabat dengannya.

Saya terkenang masa kanak yang jauh, masa yang penuh keakraban dengan kerbau. Kita tahu, kerbau memunculkan banyak tradisi indah pada kehidupan lampau. Membajak sawah, misalnya, akan selalu terkenang keriuhannya. Si pembajak sawah yang berada di belakang kerbau menarik luku, sungguh pemandangan indah, meski terbersit juga rasa sakit ketika kerbau dicambuk manakala lamban atau malas bergerak.

Dan saya akrab dengan suara-suara lantang mengarahkan kerbau, "Housss...etah...husss, eta...!" Itu suara pembajak memerintah kerbau menarik bajak. "Siamun.....siamun....! Birrrang...birrrrang!" Itu teriakan pembajak mengarahkan kerbau ke kanan atau ke kiri. Dalam bahasa Batak, siamun artinya  kanan,  hambirang artinya kiri. Dalam aktivitas membajak, hambirang lebih sering diteriakkan 'birrrrang' untuk memudahkan pelafalan.

Aktivitas membajak ini berlangsung pada pagi dan berakhir menjelang tengah hari. Selanjutnya, kerbau dihantarkan ke areal penuh rerumputan, biasanya di dekat areal persawahan atau daerah yang tersedia air. Setelah kerbau berhasil mengumpulkan banyak rumput di salah satu kantong perutnya, dia harus istirahat di kubangan berair sambil mengeluarkan lagi rumput-rumput itu, mengunyah hingga lumat, lalu ditelan.

Di sinilah pentingnya peran pengangon (parmahan). Bentuk kata kerja parmahan adalah marmahan (mengangon). Dalam melaksanakan tugasnya, parmahan akan menggiring kerbau ke tempat-tempat yang penuh rerumputan. Setelah kenyang, kerbau dituntun untuk minum ke tempat yang tersedia air, dan dibiarkan mengaso.

Saat mengangon ini, tak jarang kerbau dibawa ke tempat yang sangat jauh di pinggiran desa. Lazim juga para pengangon bergerombol ke suatu padang membawa kerbau angonan masing-masing. Sambil mengangon, saat kerbau ditambatkan merumput atau sedang mengaso, anak-anak itu lazim pula melakukan berbagai aktivitas, misalnya mencari buah senduduk matang, lalu memakannya. Atau menguras saluran air atau ngarai-ngarai kecil mencari ikan, memancing, nengambil buah-buah alam dan lain-lain. Dulu, di mana ada air, di situ peluang ikan beragam spesies hampir selalu ada. Alam masih menawarkan banyak makanan dan buah-buahan.

Lalu, ketika senja tiba, para parmahan itu pulang. Mereka akan menunggang kerbau masing-masing. Hasil tangkapan ikan, jika ada, akan digantungkan di leher atau di tanduk kerbau. Dan, selalu ada anak yang mahir meniup seruling dengan bakat alam. Dan akan terdengarlah lantunan seruling bertalu-talu dari tiupan anak di punggung kerbau. Sungguh lengkingan seruling yang syahdu, mewarnai senja, menemani orang-orang pulang dari ladang.

Demikianlah kisah itu tertinggal jadi kenangan yang indah. Dan bagaimanapun, sebuah kisah lain tentang kerbau terkait juga dengan status sosial masyarakat Batak. Para pemilik kerbau selalu memiliki status sosial yang lebih tinggi. Mereka adalah kalangan atas desa. Dan parmahan, umumnya, adalah anak-anak dari kelompok kurang mampu yang diberi upah sebagai pengangon. Memang tak seluruhnya. Ada juga anak-anak itu marmahan kerbau milik ayahnya. Dan adakalanya, bunyi seruling yang mendayu menggigit jiwa itu lahir tiupan seorang anak miskin, yang sangat paham memaknai pedih dan sunyi hati.

Dan uniknya, di desa kami misalnya, status sosial soal kerbau tak selalu utuh sebagai satuan ekor. Artinya, orang tak hanya dinilai dari jumlah kerbau miliknya. Sudah pasti orang yang memiliki kerbau satu ekor, dua ekor, tiga ekor dan seterusnya, adalah orang berada. Tapi orang yang memiliki seperempat atau setengah kerbau juga sudah memiliki status dan kebanggaan tersendiri.

Bagaimana maksudnya memiliki seperempat kerbau? Inilah uniknya. Satu kerbau bisa dimiliku 2, 3 atau 4 orang. Satuan ukuran pembagiannya adalah paha kerbau, yang dalam bahasa Batak disebut hae. Jadi, seekor kerbau dinilai dengan 4 paha (4 hae). Seseorang bisa memiliki 1 hae kerbau (sahae/sakkae), sedangkan sisanya milik orang lain.

Dan, saya ingat dengan jelas, ketika saya anak-anak, ayah saya pernah punya prestasi memiliki 2 hae kerbau. Demikianlah...! ***
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar