02 Agustus 2016

Pengertian Pers dan Jurnalistik

Masyarakat masih sering dibingungkan dengan istilah jurnalistik, media dan pers. Bukan hanya orang awam, kalangan wartawan sendiri masih banyak yang tidak paham membedakan ketiga istilah itu. Sejak blog ini diluncurkan, ada pengunjung yang langsung bertanya tentang hal itu. Saya coba menuliskan artikel ini sesederhana mungkin agar mudah dipahami.


Tapi sebelumnya, mari kita teropong sejumlah istilah yang mungkin membingungkan masyarakat itu. Ada istilah 'jumpas pers', ada 'temu media'.

Istilah lain yang juga sering kita dengar adalah 'insan pers', 'insan media'. Seorang tokoh publik dalam acara resmi ketika menyampaikan salam dalam pidatonya juga sering mengatakan: "rekan-rekan pers' atau 'rekan-rekan media' atau 'rekan-rekan jurnalis'.

Intinya, seluruh istilah itu seolah-olah menyatakan bahwa pengertian media, pers, dan jurnalistik sama. Padahal, ketiga istilah itu memiliki pengertian yang sangat berbeda, meskipun sama-sama berkutat pada dunia kepenulisan dan kewartawanan.

Sebenarnya, ada banyak artikel yang khusus menjelaskan topik ini, mulai dari yang praktis hingga yang akademis. Berikut saya coba menjelaskan dengan gaya saya, gaya bercerita.

JURNALISME

Teman saya, sebut saja namanya Batakov, bekerja sebagai wartawan di sebuah suratkabar. Kebetulan suratkabar itu menganut manajemen modern. Maka, setiap pagi pukul 08.00 WIB, Batakov sudah ke kantor mengikuti rapat proyeksi. Rapat itu bisa dipimpin kordinator liputan, redaktur pelaksana, atau bahkan pemimpin redaksi. Di rapat itulah tugas-tugas wartawan diproyeksikan sesuai dengan pos (bidang) masing-masing.

Usai rapat, Batakov bergegas ke lapangan. Dia mengerjakan tugas-tugasnya. Maka dia memasang telinga, mendengar sana-sini siapa tahu ada isu yang perlu ditindak lanjuti. Dia memasang mata, melihat sana-sini siapa tahu ada bahan perlu digali. Dia keliling sana-sani, siapa tahu ada hal-hal penting untuk ditulis.

Dan, ketika dia menemukan sebuah peristiwa, dia mulai bekerja. Mengumpulkan bahan-bahan sebanyak mungkin. Mewawancarai orang-orang yang terkait, melakukan cek dan ricek agar tidak ada kesalahan atau kesimpangsiuran. Terkadang ia juga memotret objek informasi itu untuk memperkuat laporannya. Setelah beres, dia menuliskan seluruh data dan informasi yang diperolehnya. Tugasnya selesai. Selanjutnya, editor atau redaktur memeriksa tulisannya. Jika layak, tulisan itu  dipublikasikan menjadi berita.

Adakalanya Batakov pergi ke tempat-tempat jauh, melewati jalan-jalan berbatu, melintasi gunung, menyusuri dusun-dusun terpencil, sebab ia gemar menulis kehidupan penduduk miskin di pedesaan. Yang tak kalah seram, Batakov juga sering memasuki 'sarang mafia' ketika menulis peredaran narkoba di kotanya.

Lalu seorang lagi bernama Tarodon, tapi ini bukan teman saya. Dia wartawan sebuah stasiun televisi. Kerjanya lari sana lari sini, cari informasi sana-sini, tidak boleh ketinggalan kalau ada peristiwa.Sama seperti Batakov, Tarodon juga harus melengkapi laporannya dengan gambar, data, hasil wawancara, lalu menuliskan narasi untuk selanjutnya disunting editor sebelum disiarkan di layar kaca. Jika ia diminta melaporkan peristiwa secara langsung, maka ia harus melaporkannya dari lokasi kejadian.

Cerita cukup sampai di situ. Sekarang mari kita rumuskan. Jurnalisme atau jurnalistik adalah kegiatan yang lebih mengarah pada aktivitas atau proses kerja wartawan dalam peliputan dan penulisan. Jurnalistik juga mencakup penyuntingan oleh redaktur atau editor, dan berakhir pada proses publikasi atau penyiaran. Silahkan cari sendiri pengertian jurnalistik menurut para ahli, pasti berputar-putar sekitar itu juga.

MEDIA

Sekarang mari kita lanjutkan cerita tentang Batakov dan Tarodon. Batakov ini termasuk wartawan cerewet. Ia sering protes kalau tulisannya terlalu banyak diobok-obok editor. Sering memang begitu, tulisan wartawan menjadi berbeda setelah terbit di koran. Pun begitu, Batakov termasuk orang yang menghargai karya. Ia menyimpan rapi koran-koran berisi tulisannya. Ia bundel koran-koran itu.

Sesekali, ia menerima pujian dari pembaca yang dikirimkan melalui sms. "Bagus tulisanmu. Senang aku membaca koran hari ini," ujar temannya suatu kali. Dan hal-hal seperti ini selalu membuat Batakov terharu. Semangatnya bangkit berlipat-lipat.

Lain lagi dengan Tarodon. Mahluk satu ini agak degil. Juga sangat narsis. Kalau hasil liputannya tayang di media yang mempekerjakannya, ia memotret lagi siaran TV berisi liputannta itu. Lalu diunggahnya jadi profil BlackBerry Mesanger dan jejaring sosial miliknya.

Baiklah. Kisah tentang dua wartawan ini tak akan habis kalau dipanjang-panjangkan. Sekarang lebih baik kita membuat kesimpulan tentang pengertian media. Media adalah wadah, tempat atau saluran tulisan Batakov dipublikasikan, atau produk liputan Tarodon disiarkan. Dan kita mengenal banyak jenis media. Ada media cetak (surat kabar, majalah, buletin, dll), media elektronik (televisi, radio, dll), dan sekarang sedang heboh media digital (streaming, epaper, portal, dll).

Maka, menurut saya, istilah 'temu media' dan 'rekan-rekan media', menjadi janggal dalam konteks pengertian itu. Sebab, pertemuan itu bukan diikuti 'media', melainkan dihadiri perwakilan 'media' yang dalam hal ini adalah wartawan atau jurnalis. Tapi jika disebut 'rekan-rekan dari media', itu baru benar. Selanjutnya, biarlah para ahli bahasa memikirkan dan menjelaskan hal ini.

PERS

Sekali lagi, kita bercerita tentang Batakov dan Tarodon. Batakov dan Tarodon bekerja sebagai wartawan, ada aturannya. Ada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan dilindungi undang-undang, yaitu Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Mereka bekerja untuk sebuah perusahaan. Perusahaan pers namanya. Kebetulan, Batakov dan Tarodon bekerja di perusahaan berbentuk PT (Perseroan Terbatas). PT inilah lembaga yang menerbitkan surat kabar atau penyelenggara penyiaran.

Dengan demikian, pers adalah lembaga atau perusahaan yang melakukan usaha penerbitan media cetak, atau penyelenggara penyiaran media elektronik, atau penayang media-media online. Maka, pers mencakup keseluruhan pengertian mulai dari jurnalisme/jurnalistik dan media.

Menurut UU Pers, pengertian pers adalah lembaga sosial atau wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi, mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak atau media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dengan demikian, istilah 'temu pers', 'insan pers', atau 'rekan-rekan pers', menurut saya lebih tepat digunakan ketimbang 'temu media', 'insan media' atau 'rekan-rekan media'. Demikian cerita saya, semoga bermanfaat! ***
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar