10 Agustus 2016

Koran The New Day Mati Muda

Tertawa sekaligus sedih ketika membaca berita itu. The New Day, suratkabar Nasional Inggris yang baru saja terbit, langsung mati lagi. Usianya cuma 10 Minggu. The New Day terbit 29 Februari dan berhenti terbit 6 Mei 2016.


Munculnya harian ini boleh dikata fenomenal dan menyedot perhatian publik. Sebab, ia berani hadir ketika hampir seluruh surat kabar di dunia mengalami kesulitan akibat gempuran media digital atau media online. Jutaan pembaca suratkabar di seluruh dunia kini beralih ke media online dan tidak lagi membaca suratkabar sehingga banyak suratkabar terancam gulung tikar.

Adalah Trinity Mirror, kelompok perusahaan yang berani menerbitkan The New Day itu. Awalnya mereka memiliki keyakinan bahwa suratkabar bisa hidup dan tumbuh berdampingan dengan media internet, asalkan diramu dengan konten yang tampil beda. Maka hadirlah The New Day dengan konten khusus menyasar segmen pembaca perempuan usia 18-35 tahun. Perwajahan koran itu juga tampil segar dengan warna-warni cerah dan cemerlang.

Yang tak kalah menarik, The New Day hadir tanpa website (versi online) meskipun tetap aktif di media sosial. Strategi ini tentu saja bertujuan agar pembaca tidak punya akses ke internet, dan hanya punya pilihan membeli koran itu jika ingin membacanya. Banyak kalangan mengacungi jempol atas strategi itu.

"The New Day akan aktif di media sosial, namun tidak akan memiliki website," kata Simon Fox, kepala eksekutif Trinity Mirror.

Dia mengakui bahwa jumlah pembeli suratkabar telah turun, namun menegaskan industri cetak masih jauh dari selesai. "Lebih dari 1 juta orang telah berhenti membeli suratkabar dalam dua tahun terakhir, tapi kami yakin sangat banyak dari mereka yang bisa dibujuk kembali dengan produk yang tepat," ujarnya.

Salah seorang editor The New Day, Alison Phillips, mengatakan bahwa New Day dikembangkan atas dasar pendapat pelanggan dan merupakan suratkabar pertama yang dirancang untuk gaya hidup masyarakat modern. The New Day akan menjadi suratkabar yang sepenuhnya baru, bukan versi ringan atau berbagi konten dengan Daily Mirror.

Para penganut gagasan kuno yang tetap yakin dan percaya pada masa depan suratkabar, sempat terbuai dan kembali meneguhkan keyakinan mereka. Tapi setelah berjalan 10 Minggu, The New Day hanya mampu meraih 40 ribu pembaca, jauh dari target yang diinginkan agar keberlangsungan bisnisnya dapat berjalan. Petinggi-petinggi Mirror Day akhirnya memutuskan berhenti menerbitkan koran itu.

"Kami sudah mencoba segala cara yang kami bisa, namun kami tidak bisa meraih target penjualan yang dibutuhkan untuk membuat koran ini bekerja secara keuangan," ujar Editor The New Day, Alison Phillips, terkait penutupan harian itu.

Trinity Mirror merupakan salah satu perusahaan media besar di Inggris, yang menerbitkan kurang lebih 150 koran di negara itu hingga ke Irlandia. Tapi jaringan luas koran itu tak banyak membantu penetrasi The New Day menggapai pasar.

Fenomena The New Day ini menegaskan ulang kepada seluruh stakeholders pers dan media bahwa sekuat apapun niat melawan zaman, agak koran-koran di seluruh dunia harus memulai mengembangkan bisnis digital sembari tetap menjaga keberadaan suratkabar yang masih eksis. Media digital, dengan demikian, adalah keniscayaan yang semakin nyata dan terus mendekat dan melekat di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern.

Di Indonesia, sejumlah media cetak baik harian maupun mingguan, sebelumnya sudah banyak bertumbangan, termasuk koran legendaris Sinar Harapan. Suara Karya, koran milik Partai Golkar yang sudah eksis puluhan tahun, beberapa waktu lalu sempat diterpa isu akan tutup, tapi pembaca boleh lega karena isu itu tidak benar dan Suara Karya masih terbit hingga meski kondisinya sudah terseok-seok dan kesulitan membayar gaji karyawan. ***
Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar